Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 7 Nomor 2, Februari 2024 ISSN: 27342488 PENGARUH METODE PEMBELAJARAN AUDITORY, INTELLECTUAL AND REPETITION (AIR) TERHADAP ADVERSITY QUOTIEN Theresia Avila Thaal1 Email: theresiaavilathaal@gmail.com1 Universitas Mercu Buana Yogyakarta ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran Auditory, Intellectual and Repetition (AIR) terhadap adversity quotien. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode Quasi Eksperimen. Populasi dan sampel penelitian diperoleh dengan menggunakan teknik purpose sampling. Instrumen yang digunakan adalah angket adversity quotien yang telah memenuhi kriteria valid dan reliabel dan lembar observasi. Populasi dan sampel penelitian yang digunakan adalah siswa/I kelas Xl F8 sebagai kelas eksperimen dan kelas Xl F6 sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner (Angket), Teknik Analisis data yang digunakan terdiri dari uji prasyarat analisis dan pengujian hipotesis menggunakan statistik non parametrik yaitu Uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) nilai uji normalitas pada pre-test adversity quotien kelas eksperimen memperoleh nilai hitung sebesar 0,199 > 0,05, maka pada pre-test adversity quotien data berdistribusi dengan normal sedangkan pada post-test memperoleh nilai hitung sebesar 0,017 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan data tidak berdistribusi normal, sedangkan pada kelas kontrol, data pre-test adversity quotien memperoleh nilai hitung sebesar 0,000 < 0,05 dan post-test memperoleh nilai hitung sebesar 0,000 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan data tidak berdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji normalitas pada kelas eksperimen dan kelas kontrol hasilnya lebih kecil dari 0,05 maka uji selanjutnya menggunakan statistik non paramterik yaitu uji Mann Whitney dan memperoleh beberapa hasil sebagai berikut :(1) Menunjukkan bahwa nilai sig. (2-tailed) yang dihasilkan dari pengujian menggunakan uji Mann-Whitney pada post-test adversity quotien adalah sebesar 0,005 . Nilai signifikansi yang dihasilkan pada variabel adversity quotien 0,012 < 0,05. Dapat disimpulkan bahwa Maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, terdapat perbedaan nilai ratarata posttest antara kelas yang menggunakan metode Auditory, Intellectual and Repetition (AIR) dan kelas kontrol dengan metode konvensional dan terdapat pengaruh penggunaan metode Auditory, Intellectual and Repetition (AIR) terhadap adversity quotien. Kata Kunci: metode auditory,intellectual and repetition, adversity quotien. ABSTRACT The purpose of this study is to determine the effect of Auditory, Intellectual and Repetition (AIR) learning methods on adversity quotien. The Research Method used is the QuasiExperimental method. The population and study sample were obtained using purpose sampling techniques. The instruments used are adversity quotien questionnaires that have met valid and reliable criteria and observation sheets. The population and research sample used were students of class Xl F8 as an experimental class and class Xl F6 as a control class. The data collection techniques used are questionnaires (questionnaires) and observation sheets, the data analysis techniques used consist of prerequisite analysis tests and hypothesis testing using non-parametric statistics, namely the Mann Whitney Test. The results showed that (1) the normality test value in the experimental class pre-test adversity quotien obtained 85 Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 7 Nomor 2, Februari 2024 ISSN: 27342488 a calculated value of 0.199 > 0.05, then in the pre-test adversity quotien the data was normally distributed while in the post-test obtained a calculated value of 0.017 < 0.05, so it can be concluded that the data is not normally distributed, while in the control class, the pretest adversity quotien data obtained a calculated value of 0.000 < 0.05 and post-test obtained a calculated value of 0.000 < 0.05, so it can be concluded that the data is not normally distributed. Based on the results of the normality test in the experimental class and the control class, the results are smaller than 0.05, then the next test uses non-paramteric statistics, namely the Mann Whitney test and obtained several results as follows: :(1) Mshows that the value of sig. (2-tailed) resulting from testing using the Mann-Whitney test at the posttest adversity quotien is 0.005. The significance value produced in the adversity quotien variable 0.035 < 0.05..It can be concluded that then H0 is rejected and H1 is accepted That is, there is a difference in the average posttest score between the class using the Auditory, Intellectual and Repetition (AIR) method and the control class with conventional methods and there is an influence on the use of the Auditory, Intellectual and Repetition (AIR) method against adversity quotien. Keyword: auditory,intellectual and repetition method, adversity quotient . 86 PENDAHULUAN Belajar merupakan suatu proses dimana individu mengalami transformasi perilaku secara menyeluruh setelah berinteraksi dengan lingkungannya dan memperoleh pengalaman baru. Proses belajar tidak sekadar berkaitan dengan akuisisi informasi, tetapi juga melibatkan pengalaman langsung dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar (Slameto 2015:2). Belajar juga diartikan sebagai sebuah tindakan di mana respons seseorang meningkat setelah memperoleh pengetahuan atau keterampilan baru. Ini menunjukkan bahwa belajar tidak hanya tentang memperoleh informasi, tetapi juga tentang perubahan positif dalam perilaku sebagai hasil dari proses pembelajaran. (Juniati, E. 2017, 283-291). Belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang terjadi karena pengalaman dan latihan. Ini mencakup perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta aspek lain dari individu atau organisme secara keseluruhan. Dengan kata lain, belajar melibatkan transformasi dalam perilaku yang meliputi berbagai dimensi individu atau organisme. Adversity Quotient (AQ) atau ketahanan terhadap kesulitan merupakan kemampuan seseorang untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dan mengubahnya menjadi peluang (Nurlaelah, A., & Ilyas, M. 2021: 89 – 97). Adversity Quotient kemampuan seseorang dalam menghadapi tantangan atau masalah, serta mencari solusi untuk mengatasinya, dikenal sebagai AQ atau Adversity Quotient. Selain itu, AQ juga dianggap sebagai ukuran kemampuan seseorang dalam menetapkan tujuan hidup dan strategi yang mereka gunakan untuk mengatasi berbagai tantangan, sesuai dengan penjelasan (Nurlaelah, A., & Ilyas, M. 2021: 89 – 97). Penggunaan metode pembelajaran membutuhkan kompetensi pendidik dalam menentukan metode yang tepat dan sesuai (Ningrum, A. S.2022: 166-177). Salah satu cara yang dapat membuat peserta didik aktif dalam proses pembelajaran adalah dengan menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi sehingga sebagai pendidik, guru perlu memilih model yang tepat untuk menyampaikan sebuah konsep kepada anak didiknya (Juraid,S.,&Yusaerah,N.2023:22-29). Salah satunya adalah dengan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (Luthfiana, M., & Wahyuni, R. 2019: 50-57). Metode pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang menitikberatkan pada tiga aspek utama, yaitu Auditory (mendengar), Intellectually (berpikir), dan Repetition (pengulangan). Dalam konteks ini, siswa lebih cenderung menggunakan indera pendengarannya dalam proses belajar dan memperkuat informasi yang diperoleh melalui pengulangan. Metode pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) menekankan pentingnya mendengarkan, pemikiran secara intelektual, dan pengulangan sebagai strategi untuk memperdalam pemahaman materi pelajaran(Rajagukguk,D.C.A.,Sinaga,C.V.R.,&Tambunan,L.O.2023). Model pembelajaran Auditory, Intellectualy, Repetition (AIR) adalah model pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan alat indra yang dimiliki siswa (Luthfiana, M., & Wahyuni, R. 2019 :50-57). Model pembelajaran AIR menekankan tiga elemen, yaitu auditory, intellectuallly and repetition. Menurut Suherman (Shoimin, 2014:29), auditory bermakna bahwa belajar harus melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi", Intellectual menunjukkan apa yang dilakukan pembelajaran dalam pemikiran suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut" Meier (dalam Shoimin, 2014:29). Intellectually juga bermakna belajar harus menggunakan kemampuan berpikir, harus dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengonstruksi, memecahkan masalah dan menerapkan (Shoimin, 2014). Selain itu menurut Meier (Huda, 2013) menyebutkan bahwa belajar intelektual adalah bagian untuk merenung, menciptakan, memecahkan masalah dan membangun makna. 87 Repetition artinya pengulangan, dengan tujuan memperdalam dan memperluas pemahaman siswa yang perlu dilatih melalui pengerjaaan soal, pemberian tugas, dan kuis. Menurut Suherman (dalam Shoimin, 2014) pengulangan dalam kegiatan pembelajaran dimaksudkan agar pemahaman siswa lebih mendalam. Pengulangan dapat diberikan secara teratur, pada waktu-waktu tertentu atau setelah tiap unit yang diberikan, maupun ketika dianggap perlu pengulangan. Huda (2003) mengungkapkan bahwa pelajaran yang diulang akan memberikan tanggapan yang jelas dan tidak mudah dilupakan, sehingga dapat digunakan oleh siswa untuk memecahkan masalah. Berdasarkan uraian di atas maka metode AIR yang dimaksud dalam pembelajaran adalah pembelajaran dengan memberikan hukum latihan, pemberian latihan ini dimaksudkan agar siswa lebih menguasai, memperluas pemahaman siswa. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode Quasi Experimental. Quasi Eksperimen adalah suatu metode yang mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Pada penelitian kali ini desain yang akan digunakan adalah non tes yaitu suatu pengukuran yang terdapat angket sebelum diberi perlakukan, dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Pada penelitian ini, peneliti hanya ingin mengetahui seberapa berpengaruhnya model pembelajaran Audiotory, Intelectually, and Repetition (AIR) terhadap kedisiplinan adversity quotien, sehingga pemakai rancangan ini dapat mengukur pengaruh kemampuan pada materi lingkaran dengan cara membandingkan kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Tabel 1.1 Desain Penelitian Awal Perlakuan Y2 E Y2 K Akhir Y2 Y2 dimana: E = Kelas Eksperimen K = Kelas Kontrol Y2 = Angket Adversity Quotien Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data adalah siswa-siswi kelas Xl F8 dan kelas Xl F6. Xl F8 dengan jumlah siswa/I 36 orang menjadi kelas eksperimen atau kelas yang mendapat perlakuan dengan metode pembelajaran Auditory, Intellectual and Repetition (AIR). Sedangkan Xl F6 menjadi kelas kontrol dengan jumlah siswa 36 orang yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Penelitian ini meneliti keterkaitan satu variabel terikat dengan satu variabel bebas. Variabel terikat pada penelitian ini adalah adversity quotien sedangkan model pembelajaran auditory, intellectual and repetition merupakan variabel bebas . Instrumen penelitian yang digunakan sebagai alat mengumpulkan data adalah kuesioner(Angket). Analisis data untuk tes hasil adversity quotien diukur dengan 20 item mempunyai 4 jawaban yang telah memenuhi tahap validitas dan reliabel. Sebelum dilakukan uji hipotesis, dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Adapun langkah-langkahnya Hipotesis statistiknya sebagai berikut: 1. Hipotesis a) Pengaruh metode pembelajaran Auditory, Intellectual and Repetition (AIR) (X) terhadap adversity quotien (Y2). 88 H0: Terdapat pengaruh metode pembelajaran Auditory, Intellectual and Repetition (AIR) terhadap adversity quotien H1: Tidak terdapat pengaruh metode pembelajaran Auditory, Intellectual and Repetition (AIR) terhadap adversity quotien 2. Taraf Signifikan (𝛼) = 0,05 3. Statistik Uji (Uji Signifikansi) Pengujian dilakukan dengan menggunakan SPSS HASIL DAN PEMBAHASAN Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran Auditory, Intellectual, Repetition (AIR) terhadap adversity quotien. Data penelitian tersebut diperoleh dari hasil angket pretest dan angket posttest, yaitu menggunakan alat tes angket adversity quotien memuat pertanyaan yang sudah di validasi dan reliabel. Berikut data hasil penelitian yang diperoleh dari kelas kontrol dan eksperimen: Data hasil posttest yang diperoleh pada kelas eksperimen dan kelas kontrol pertama di uji terlebih dahulu normalitasnya. Uji normalitas yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan aplikasi SPSS 25. Data hasil posttest dapat dikatakan berdistribusi normal apabila Sig > α. Berikut hasil uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov disajikan pada tabel 1.2 di bawah ini. Tabel 1.2 Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen Pre-test Adversity Quotien Post-test Adversity Quotien Kelas Kontrol Pre-test Adversity Quotien Post-test Adversity Quotien Statistic .948 .920 Shapiro-Wilk df 36 36 Sig. .093 .013 .733 .776 36 36 .000 .000 Berdasarkan hasil dari tabel 1. 2 dapat dilihat bahwa hasil uji normalitas kelas eksperimen pre-test sebesar 0,199 > 0,05, sehingga pada pre-test adversity quotien berdistribusi normal, sedangkan post-test sebesar 0,017 sehingga post-test lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan data tidak terdistribusi dengan normal. Sedangkan pada kelas kontrol pre-test sebesar 0,000 dan post-test sebesar 0,000 maka dapat disimpulkan bahwa data tidak terdistribusi dengan normal. Lalu, diakukannya uji hipotesis. Berdasarkan uji normalitas yang telah dilakukan pada hasil post test kelas eksperimen dan kelas kontrol diketahui data tidak berdistribusi dengan normal. Oleh karena itu, uji hipotesis dilakukan dengan uji statistik non-parametrik menggunakan uji Mann-Whitney karena uji hipotesis non-parametrik ini tidak mengharuskan data berdistribusi normal (MUKADDAR, K. A.2022). Berikut hasil uji hipotesis data hasil posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol menggunakan uji Mann-Whitney disajikan pada tabel 1.3 Tabel 1.3 Hasil Uji Mann Whitney Tes Mann whitney Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2- tailed) Pretest dan Posttest Adversity Quotien Kelas Eksperimen 425.000 1091.000 -2,520 0,012 Kedisiplinan Berdasarkan tabel 1.3 uji mann whitney pada pretest dan posttest adversity quotien kelas eksperimen didapat nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,012 < 0,05. Sehingga H0 ditolak artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest adversity quotien. 89 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran Auditory, Intellectual and Repetition (AIR) memberikan pengaruh terhadap adversity quotien . Hal ini didasari dari hasil uji hipotesis data posttest siswa menggunakan uji Mann Whitney yang menunjukkan bahwa nilai Asymp.Sig (2-tailed) sebesar 0,012 < 0,05 pada pretest dan posttest adversity quotien, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, terdapat pengaruh metode pembelajaran Auditory, Intellectual and Repetition (AIR) terhadap adversity quotien. Metode pembelajaran Auditory, Intellectual and Repetition (AIR) ini dapat memberikan pengalaman belajar yang berarti bagi siswa, karena siswa terlibat aktif dalam proses belajar melalui pembelajaran kelompok, proses menstransfer pengetahuan dilakukan secara kelompok dalam mengikuti pembelajaran. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti memberikan beberapa saran sebagai bahan pertimbangan penelitian selanjutnya berlandaskan hasil temuan serta analisis data yang telah dilaksanakan, diantaranya: 1. Proses pembelajaran menggunakan Metode pembelajaran Auditory, Intellectual and Repetition (AIR membutuhkan waktu yang cukup lama. Guru hendaknya mempersiapkan alokasi waktu dan dapat mengatur waktu sebaik-baiknya agar setiap langkah dalam dapat berjalan dengan maksimal. 2. Peneliti selanjutnya dapat menggunakan Metode pembelajaran Auditory, Intellectual and Repetition (AIR). 3. Peneliti selanjutnya dapat membandingkan Metode pembelajaran Auditory, Intellectual and Repetition (AIR) dengan metode lainnya. DAFTAR PUSTAKA Rajagukguk, D. C. A., Sinaga, C. V. R., & Tambunan, L. O. (2023). PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN AUDITORY INTELLECTUALLY REPETITION (AIR) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 7 PEMATANG SIANTAR. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP), 6(4), 1567-1582. Patriana, M. P. (2022). Penerapan Metode Pembelajaran Resitasi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Muatan IPS Tema 7 Subtema 1 Pembelajaran 3 Siswa Kelas IV SDN 3 Sumberbening. Nurlaelah, A., & Ilyas, M. (2021). Pengaruh Adversity Quotient terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SD. Proximal: Jurnal Penelitian Matematika Dan Pendidikan Matematika, 4(2), 89-97. Ningrum, A. S. (2022). Pengembangan perangkat pembelajaran kurikulum merdeka belajar (metode belajar). Prosiding Pendidikan Dasar, 1(1), 166-177. MUKADDAR, K. A. (2022). Hubungan Rasa Syukur Dan Stres Akademik Pada Mahasiswa Di Masa Pandemi Covid-19. Luthfiana, M., & Wahyuni, R. (2019). Penerapan Model Pembelajaran Auditory, Intellectually, Jurnal Pendidikan Matematika: Judika Education, 2(1), 50-57. Juraid, S., & Yusaerah, N. (2023). PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS VIII 5 SMP NEGERI 1 PAREPARE MATERI ZAT ADITIF DAN ZAT ADIKTIF. Edukimbiosis: Jurnal Pendidikan IPA, 22-29. Juniati, E. (2017). Peningkatkan hasil belajar matematika melalui metode drill dan diskusi kelompok pada siswa kelas VI SD. Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 7(3), 283-291. 90