AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Kearifan Lokal Di Era Digital Dalam Pelestarian Pakaian Adat Suku Kui Kecamatan Alor Barat Daya Maria Delia B. Tukan1 . Intan P. Lema Madde2 . Clara D. S Sally3 . Lala Moilegi4 ,Salmon Weni Gati5 . Jerosion E. Blegur6 . Petrus Mau Tellu Dony7. 1,2,3,4,5,6,7 Universitas Tribuana Kalabahi Email: delyatukan@gmail. Intanpermatasarilemmadde@gmail. com 2, klarasally21@gmail. com3, lalamoilegi@gmai. com4, wenigatisalmon@gmail. blegurexel@gmail. com6, petrusdony2@gmail. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mempertahankan kearifan lokal Pakaian adat, yang merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, sosial, dan ekonomi yang Peneliti menggunakan metode kualitatif. Teknik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan di Suku Kui. Kecamatan Alor Barat Daya. Informan dalam penelitian ini adalah kepala adat Suku Kui. Hasil penelitian menunjukan bahwa: ada beberapa alasan mengapa kearifan lokal yang ada di Suku Kui Perlu di pertahankan, yaitu: . Sejarah: kulit kayu menjadi tenunan kain sarung . Religius/Kepercayaan: kepercayaan terhadap leluhur atau arwah nenek moyang . Budaya: cerminan jati diri masyarakat Kui. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Pakaian adat merupakan bagian integral dari identitas budaya Indonesia yang kaya dan Meskipun menghadapi berbagai tantangan di era modern. Kata Kunci : Kearifan Lokal Diera Digital PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara besar yang mempunyai banyak ragam budaya, dari Sabang sampai Merauke (Lisnawati, 2016: . Kebudayaan adalah kompleks keseluruhan yang meliputi: pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, kebiasaan, dan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat (Sir Edward Burnet Tylo. Peran budaya dalam kehidupan masyarakat di Indonesia sangat penting, sehingga kebudayaan sangat erat hubugannya dengan manusia yang dinobatkan sebagai penggeraknya. Setiap daerah memiliki ciri khas kebudayaan yang berbeda, baik dari hasil karya masyarakat, maupun hasil kebudayaan yang meliputi rumah adat, tarian, lagu, alat musik, pakaian dan sebagainya (Rosyadi, 2012: . Kekhasan budaya lokal yang ada disetiap daerah memiliki kekuatan Misalnya pakaian adat, mempunyai suatu daya tarik yang kuat karena memiliki corak, ragam dan warna yang unik sehingga dapat mencirikan identitas suatu daerah atau suku bangsa. Kearifan Lokal merupakan bagian dari sebuah budaya yang ada didalam suatu masyarakat yang tidak dapat dijauhkan dari masyarakat itu sendiri. Kearifan lokal tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah nilai-nilai yang hidup dimasyarakat. Di Indonesia sudah terbukti ikut menentukan atau berperan dalam suatu kemajuan masyarakatnya. Menurut Sibarani . alam Dania. Local Wisdom adalah suatu bentuk pemahaman yang ada dalam yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 masyarakat untuk mengatur kehidupan masyarakat atau yang biasa disebut dengan kearifan lokal . ocal wisdo. Pakaian adat merupakan representasi seni tenun yanng sudah ada sejak zaman dahulu dan menjadi bagian esensial dari kehidupan budaya disuatu komunitas Pakaian adat juga merupakan salah satu elemen budaya yang memegang peran penting dalam mencerminkan identitas suatu bangsa atau kelompok masyarakat. Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku dan budaya, pakaian adat menjadi simbol kebanggaan dan jati diri masing-masing kelompok. Salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh masyarakat sebagai upaya menghadapi dampak buruk globalisasi dengan tetap berpedoman pada nilai-nilai kearifan lokal sebagai suatu kekuatan. Kearifan lokal dapat berfungsi menjadi penyaring bagi nilai-nilai yang berasal dari luar yang kurang sesuai dengan kultur budaya bangsa (Kurnia, 2018:. Kearifan lokal merupakan hasil dari pengalaman masyarakat dalam lingkup wilayah tertentu dan belum tentu digunakan oleh masyarakat di wilayah lain. Nilai-nilai tersebut akan melekat sangat kuat pada prinsip hidup masyarakat tertentu, keberadaannya telah melalui perjalanan waktu yang panjang, sepanjang keberadaan masyarakat tersebut (Fajarini, 2014:. Masyarakat yang merupakan keseluruhan dari entitas sosial dari struktur eksistensi memiliki peranan dalam pencerdasan emosional, dengan kata lain masyarakat merupakan wadah pencerdasan emosional dalam membentuk karakter warga masyarakat pada umumnya (Dewi, 2017: . Sejarah desa masih menarik sejarahwan untuk ditelusuri karena hampir semua peristiwa sejarah berawal atau terjadi didaerah pedesaan. Desa sebagai kesatuan terkecil di Indonesia, memiliki karakter tersendiri. Hal ini disebabkan karena masing-masing wilayah di Indonesia terbentuk melalui proses sejarah panjang dan berbeda-beda. Petrus mau Tellu Dony . Demikian juga dengan Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor. Peneliti tertarik dengan pakaian adat Suku Kui, karena dari pengamatan peneliti selama ini, pakaian adat tersebut merupakan salah satu pakaian adat yang cukup terkenal dan banyak peminat serta nilai jualnya sangat tinggi di Kabupaten Alor. Hal tersebut di karenakan sarung yang di tenun oleh masyarakat Suku Kui menggunakan baha-bahan Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan alasan mengapa pakaian adat masih dipertahankan oleh masyarakat suku Kui Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor dan untuk mendeskripsikan aksesoris yang ada pada pakaian adat suku Kui Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor METODE PENGABDIAN Penelitian ini mengunakan metode kualitatif. Analisis data mengunakan analisis deskriptif kualitatif. Data yang diggunakan dalam penelitian ialah data kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu opservasi lapangan dan wawancara. Wawancara dilakukan dengan Kepala Adat Suku Kui Desa Morba, yaitu Bapak Meliyanus Aloulaka. HASIL PENELITIAN DAN PENGABDIAN Sesuai dengan apa yang dilakukan oleh peneliti dalam masa pengumpulan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi, berikutnya peneliti akan menganalisis dan menjelaskan lebih lanjut tentang pakaian adat di Suku Kui. Adapun untuk yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 dapat mengetahui dan memahami pakaian adat Suku Kui tentunya harus mengetahui tata cara proses penenunan kain dan memahami makna dari simbol pada pakaian adat Suku Kui. Pakaian Adat Masih Dipertahankan Oleh Masyarakat Suku Kui Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor. Pakaian adat masih dipertahankan oleh masyarakat Suku Kui Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan peneliti dengan informan, maka didapatkan hasil sebagai berikut : Opa Melianus Aloulaka Selaku kepala adat yang diwawancarai pada tanggal 21 November pukul 10:30, dengan pertanyaan mengapa pakaian adat masih diipertahankan oleh suku kui Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor? Dinyatakan Bahwa : Pakaian Adat Suku Kui Terdapat lima alasan utama yang mendasari sehingga pakaian adat masih dipertahankan oleh masyarakat Suku Kui Kecamatan Alor Barat Daya. Sejarah Pakaian adat masyarakat Suku Kui masih dipertahankan oleh masyarakat setempat hingga saat ini karena, berdasarkan sejarahnya, pakaian adat tersebut telah ada dari zaman dahulu kala. Dimana pada awalnya orang-orang hanya mengenakan kulit kayu yang telah diproses seadanya untuk digunakan sebagai penutup dan pelindung bagi tubuh, yang bahkan pada saat itu tidak digunakan untuk menutupi seluruh tubuh, tetapi hanya digunakan untuk menutupi area tubuh yang dianggap yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 vital saja, sedangkan area tubuh yang tidak dianggap vital akan dibiarkan tetap terbuka tanpa penutup apapun. Tidak semua kulit kayu dapat diproses mnjadi pakaian kulit kayu. Biasanya hanya pohon tertentu saja yang dapat digunakan kulitnya, umumnya menggunakan kulit kayu dari pohon Ka. Pohon yang sudah cukup umur biasanya ditebang kemudian diambil kulitnya lalu dijremur sebentar dan akan langsung dipukul-pukul menggunakan kayu hingga kulit kayu tersebut menjadi lembek, setelah itu barulah kulit kayu tersebut akan dijemur hingga benar-benar kering dan selanjutnya akan digunakan sebagai pelindung tubuh. Namun seiring berjalannya waktu orang-orang mulai lebih memiliki akal yang tinggi sehingga mereka telah mempelajari bagaimana cara mengolah apa yang ada disekitar untuk dijadikan sesuatu yang lebih berguna lagi. Sehingga orang-orang mulai mengetahui bagaimana caranya menenun untuk menghasilkan tenunan yang mulai dipakai sebagai pengganti dari kulit kayu yang digunakan hingga saat ini dan dilengkapi dengan berbagai aksesoris- aksesoris, baik bagi kaum laki-laki maupun kaum perempuan yang memiliki makna tersendiri dalam tiap-tiap aksesoris tersebut. Tetapi ada juga untuk aksesorisnya sendiri terbagi untuk laki-laki dan perempuan, memiliki namanya masing-masing yang menjadikannya sebagai pembeda. Religius/kepercayaan Pakaian adat masih dipertahankan oleh masyarakat Suku Kui juga didasari oleh alasan religius atau kepercayaan masyarakat setempat, dimana masyaraka Suku Kui merupakan masyarakat adat yang masih sangat lekat dengan kepercayaan akan leluhur atau arwah nenek moyang. Hal ini dapat dilihat langsung dari adanya mesbah persembahan di tengah-tengah kampung yang biasa digunakan untuk upacara adat. Dalam upacara adat apapun, pakaian adat wajib dikenakan karena dianggap cukup sakral dan memiliki nilai luhur yang tinggi. Budaya Pakaian Adat Masyarakat Suku Kui Kecamatan Alor Barat Daya masih dipertahankan oleh masyarakat setempat hingga saat ini. Hal tersebut tidak terlepas dari budaya yang telah mendarah daging dalam masyarakat tersebut. Pakaian adat merupakan salah satu budaya dalam masyarakat Suku Kui dimana pakaian adat tersebut mencerminkan jati diri dari masyarakat setempat. Aksesoris-aksesoris yang dibuat sangatlah menggambarkan kehidupan masyarakat setempat yang memang masih sangat bersahabat dengan alam dan menggantungkan kehidupan mereka pada hasil alam, sehingga benar-benar pakaian adat merekapun diproses dari bahan-bahan alam yang ada di sekitar mereka. Hal ini mendasari sangat tidak mungkin bagi mereka untuk meninggalkan pakaian adat mereka. Terlepas dari pemikiran bahwa pakaian adat telah ada dari zaman dahulu, pakaian adat juga masih tetap dipertahankan hingga saat ini oleh masyarakat Suku Kui dikarenakan pesan leluhur yang selalu diingat dan dijadikan pedoman oleh mereka yaitu Auadat adalah dasar dari hidup, lebih baik mati dari pada meninggalkan adatAy. Itulah sebabnya masyarakat masih benar-benar menjunjung tinggi budaya yang mereka miliki, bukan hanya pakaian adat saja tetapi juga rumah, bahasa, tarian, penyembahan dan bahkan cara yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 hidup mereka yang benar-benar masih sangat tradisional. Aksesoris-Aksesoris Pada Pakaian Adat Suku Kui Di Desa Morba Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan peneliti dengan informan, maka didapatkan hasil sebagai berikut : Opa Melianus Aloulaka Selaku kepala adat di Desa Morba yang diwawancarai pada tanggal 21 November pukul 10:30, dengan topik Aksesoris-aksesoris yang dimiliki masyarakat suku kui Desa Morba Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor? Dinyatakan Bahwa : Aksesoris pada pakaian adat laki-laki: Ruwol Biak (Bulu Aya. merupakan sebuah mahkota kepala yang diperuntukkan bagi laki-laki. Terbuat Dari Bulu Ayam dan daun lontar. Nowang (Kain Selimu. merupakan sebuah kain selimut yang biasanya digunakan oleh kaum laki-laki untuk menutupi tubuh dari bahu hingga bagian Basak (Ikat pinggan. merupakan Ikat pinggang yang digunakan untuk mengikat kain selimut agar tidak berantakan dan benar-benar kuat menutupi yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 badan dengan sempurna. Kafuring (Anak Pana. Ada tiga jenis yaitu : Anak panah untuk perang. Anak panah untuk berburu. dan Anak panah biasa untuk cakalele. Ketiga jenis anak panah ini terbuat dari bambu dan dipasang mata panah yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dari si pengguna. Peti (Busu. merupakan sebuah kayu yang dilengkapi dengan sebuah tali dari tanaman tali. Aksesoris pada pakain adat perempuan: Awering (Kalung Mut. Pada pakaian adat masyarakat Suku Kui umumnya mengenakan mahkota kepala dan gelang tangann yang terbuat dari muti. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Keti (Sisir Bamb. merupakan sisir yang terbuat dari bambu yang diperuntukan bagi perempuan dan merupakan salah satu pelengkap dalam pakaian adat masyarakat Suku Kui. Keng (Sarun. merupakan sarung tenun yang diperuntukan bagi perempuan. Fuilak (Tempat Sirih Pinan. merupakan tempat sirih pinang yang dipakai oleh perempuan. Awai Bahata (Tempat Kapu. merupakan tempat kapur yang biasanya terdapat di dalam tempat sirih pinang. Dampak Digital Terhadap Budaya Kearifan Lokal Pakaian adat Pada zaman modern ini, teknologi dan pengetahuan menjadi hal yang sangat penting yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 untuk dibahas. Hal ini karena dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan manusia tidak terlepas dari teknologi. Namun, di tengah perkembangan teknologi yang pesat, masih ada individu yang mempertahankan budaya tradisional mereka. Salah satu contohnya adalah penggunaan pakaian adat. Pakaian adat adalah pakaian tradisional yang biasanya dikenakan oleh masyarakat setempat contohnya di Suku Kui Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor Meskipun kini banyak pilihan busana modern, pakaian adat tetap digunakan dalam berbagai acara penting seperti pernikahan, upacara adat, dll. Pakaian adat Sebagai identitas kebudayaan masyarakat Suku Kui yang sampai saat ini masih digunakan. Di tengah perkembangan zaman dan globalisasi yang pesat, keberadaan pakaian adat menghadapi berbagai tantangan, antara lain: Modernisasi dan Globalisasi: Masyarakat modern yang lebih cenderung mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan sering kali meninggalkan penggunaan pakaian adat. Pakaian adat dianggap tidak sesuai dengan gaya hidup kontemporer yang lebih simpel dan praktis. Keterbatasan Pengetahuan Generasi Muda: Banyak generasi muda yang tidak lagi memahami makna di balik pakaian adat dan lebih tertarik pada tren fashion Hal ini berpotensi menyebabkan hilangnya penghargaan terhadap pakaian adat sebagai bagian dari identitas budaya. Kurangnya Produksi dan Inovasi: Pakaian adat sering kali dianggap sulit diproduksi karena melibatkan keterampilan tradisional yang membutuhkan waktu dan keahlian khusus. Kurangnya inovasi dalam memodernisasi pakaian adat agar lebih sesuai dengan kebutuhan zaman menjadi salah satu alasan mengapa pakaian adat kurang diminati. Digital memiliki dampak yang negatif bagi kesenian, dimana masyarakat modern semakin banyak kebutuhannya. Dalam masyarakat yang semakin maju ini menyebabkan banyak tuntutan dan kebutuhan baru yang membuat orang cenderung kurang memperhatikan atau menghargai kesenian tradisional. Akibatnya, kesenian kurang mendapat perhatian. Selain itu untuk mempertahankan keberadaan pakaian adat, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan komunitas budaya, antara lain: Edukasi dan Sosialisasi: Meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya pakaian adat sebagai warisan budaya. Sekolah-sekolah dan lembaga budaya dapat menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan pakaian adat dalam bentuk lomba atau pameran. Kolaborasi dengan Industri Fashion: Para desainer dan pelaku industri fashion dapat berkolaborasi untuk memodernisasi desain pakaian adat agar lebih menarik bagi generasi muda, tanpa mengurangi esensi budaya yang terkandung di dalamnya. Penyelenggaraan Acara Budaya: Festival dan acara budaya yang melibatkan pakaian adat sebagai bagian dari ritual dan perayaan dapat membantu yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap pakaian adat. Pemanfaatan Teknologi: Digitalisasi dan promosi melalui media sosial atau platform digital dapat membantu mengenalkan pakaian adat kepada masyarakat luas. Video tutorial dan informasi tentang cara membuat atau mengenakan pakaian adat dapat dengan mudah diakses oleh semua kalangan. KESIMPULAN Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Objek kebudayaan lokal merupakan bentuk realisasi dari adanya kearifan lokal yang masih terjaga di Suku Kui. Dengan adanya objek-objek budaya lokal, maka berpotensi bagi adanya wisata budaya lokal. Objek kebudayaan lokal pada masyarakat Suku Kui Kecamatan Alor Barat Daya muncul sebagai akibat dari terjaganya adat istiadat dan tradisi yang melekat dalam kehidupan masyarakat Adapun objek-objek kearifan budaya lokal yang terdapat di Suku Kui diantaranya, . Sejarah: kulit kayu menjadi tenunan kain sarung dan sudah ada sejak zaman kuno . Religius/Kepercayaan: kepercayaan terhadap leluhur atau arwah nenek moyang . Budaya: cerminan jati diri masyarakat Kui. Sehingga dengan adanya objek-objek kearifan budaya lokal yang terdapat di Suku Kui dapat menjadi faktor pendorong adanya suatu kawasan wisata budaya. SARAN Dengan memperhatikan hasil analisis dan simpulan penelitian sebagaimana dijelaskan terdahulu, maka penulis sampaikan beberapa rekomendasi sebagai berikut: Kepada Masyarakat Adat Suku Kui Kecamatan Alor Barat Daya Dari hasil penelitian tentang kearifan lokal di masyarakat adat Kui ditemukan memiliki nilai-nilai a n t a r a lain: nilai kebersamaan, nilai ketaatan, dan nilai religius. masyarakat adat Kui ditemukan pendidikan karakter yang dapat melestarikan adat istiadat leluhur masyarakat adat Kui. Masyarakat adat Kui dapat terus menjaga independensi dan keterlibatannya dalam mengajak seluruh warga Kampung untuk menjalankan adat istiadat seperti amanat leluhur mereka. Kepengurusan masyarakat adat hendaknya lebih memberikan porsi kepada masyarakat asli Kui sehingga keberlangsungan komunitas dan kegiatan-kegiatan adatnya lebih maksimal bisa Kepada Pemerintah Dari hasil penelitian ditemukan, diharapkan pemerintah dapat ikut mendukung pelestarian budaya lokal masyarakat adat, karena di dalam aktivitas mereka yang mengandung kearifan lokal mengandung nilai-nilai positif yang dapat diambil untuk diterapkan atau diedukasi kepada masyarakat lainnya, sehingga tercapai budaya kewarganegaraan . ivic cultur. masyarakat Indonesia yang diharapkan. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Petrus Mau Tellu Dony selaku Dosen Pengasuh Mata Kuliah atas bimbinganya yang diberikan kepada penulis. Ucapan terimakasih juga kepada opa Melianus Aloulaka Selaku kepala adat Suku Kui yang sudah meluangkan waktu dan bersedia untuk diwawancarai dalam penelitian ini. Kontribusi tersebut memungkinkan penulis untuk mengumpulkan data dan menganalisis temuan yang yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 telah disajikan dalam artikel ini. Penelitian ini tidak akan berhasil tanpa dukungan dari teman-teman kelompok. Ucapan terima kasih yang disertakan dalam jurnal ilmiah ini tidak hanya sekedar formalitas, namun juga menjadi cara yang baik untuk menghargai kontribusi para pihak terkait dalam kesuksesan penelitian. Dengan menyampaikan ucapan terima kasih, diharapkan hubungan baik antara peneliti dan pihak lain dapat terjaga dan terus berkembang di masa mendatang. DAFTAR PUSTAKA