Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. DOI: https://doi. org/10. 55606/jurrikes. Tersedia: https://prin. id/index. php/JURRIKES Hubungan Adversity Quotient dengan Work Readiness pada Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Psikologi Universitas Negeri Padang Jeni Fadhila1* . Zulian Fikry2 Universitas Negeri Padang. Indonesia Email: jenifadhila03@email. Alamat: Jln. Prof. Dr. Hamka. Air Tawar Padang. Sumatera Barat. Indonesia *Penulis Korespondensi Abstract. Competition in the job market has been increasing every year, demanding high-quality human resources who are capable of adapting to rapid changes in the era of Industry 5. However, recent findings indicate that many graduates, particularly those from the class of 2024, still lack sufficient work readiness, contributing to a relatively low work readiness rate in Indonesia. Work readiness is a crucial attribute that determines the extent to which graduates can transition smoothly from academic settings into professional environments. One of the psychological constructs believed to influence this readiness is the Adversity Quotient (AQ), which reflects an individualAos ability to withstand, adapt, and grow in the face of challenges and difficulties. The purpose of this research is to analyze the relationship between adversity quotient and work readiness among 174 final-year students of the Psychology Faculty at Universitas Negeri Padang. This study employed a quantitative research design with a purposive sampling technique. The Work Readiness variable was measured using a scale developed by the researcher based on Caballero et al. , while the Adversity Quotient was measured using the adapted Adversity Response Profile scale from Stoltz . Based on the results of product moment correlation analysis, findings show that the adversity quotient has a strong and positive correlation . = 0. with work readiness. These results highlight the importance of strengthening resilience and adversity management skills to ensure that students are better prepared to enter the workforce with confidence and competence. Keywords: Adversity Quotient. Career Readiness. Final Year Student. Graduate Employability. Work Readiness Abstrak. Persaingan di pasar kerja semakin meningkat setiap tahunnya, menuntut sumber daya manusia berkualitas tinggi yang mampu beradaptasi dengan perubahan cepat di era Industri 5. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa banyak lulusan, terutama dari angkatan 2024, masih kurang siap bekerja, yang berkontribusi pada tingkat kesiapan kerja yang relatif rendah di Indonesia. Kesiapan kerja merupakan atribut penting yang menentukan sejauh mana lulusan dapat beralih dengan lancar dari lingkungan akademik ke lingkungan Salah satu konstruksi psikologis yang diyakini mempengaruhi kesiapan ini adalah Adversity Quotient (AQ), yang mencerminkan kemampuan individu untuk bertahan, beradaptasi, dan berkembang di hadapan tantangan dan kesulitan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara Adversity Quotient dan kesiapan kerja di antara 174 mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi Universitas Negeri Padang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan teknik sampling purposif. Variabel Kesiapan Kerja diukur menggunakan skala yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan Caballero et al. , sementara Adversity Quotient diukur menggunakan skala Adversity Response Profile yang diadaptasi dari Stoltz . Berdasarkan hasil analisis korelasi momen produk, temuan menunjukkan bahwa Adversity Quotient memiliki korelasi yang kuat dan positif . = 0. dengan kesiapan kerja. Hasil ini menyoroti pentingnya memperkuat ketahanan dan keterampilan manajemen kesulitan agar siswa lebih siap memasuki dunia kerja dengan percaya diri dan Kata kunci: Kecerdasan Kesulitan. Kesiapan Kerja. Mahasiswa Tingkat Akhir. Kesiapan Kerja Lulusan. Kesiapan Karier LATAR BELAKANG Persaingan di dunia kerja mengalami peningkatan setiap tahunnya sehingga menuntut sumber daya manusia yang bermutu terutama dalam menghadapi industri 5. 0 pada saat ini (Siagian et al. , 2. Pendidikan menjadi landasan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, terampil dan memiliki ketangguhan mental terutama pada lembaga perguruan Naskah Masuk: 11 Agustus 2025. Revisi: 25 Agustus 2025. Diterima: 08 September 2025. Tersedia: 22 September 2025 Hubungan Adversity Quotient dengan Work Readiness pada Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Psikologi Universitas Negeri Padang tinggi atau universitas. Perguruan tinggi bertanggung jawab dalam menyiapkan lulusan terbaik yang memiliki pengetahuan yang mendalam, integritas serta siap untuk memasuki dunia kerja (Latif et al. , 2. Kebutuhan untuk mengartikulasi, memahami dan merefleksikan berbagai keterampilan yang dipelajari di universitas merupakan hal yang penting agar mahasiswa dapat sukses dari fase transisi studi menuju dunia kerja terutama pada mahasiswa tingkat akhir (Schweinsberg et al. , 2. Mahasiswa tingkat akhir berada pada fase emerging adult yaitu berkisar dari usia 18 hingga 24 tahun (Jing & Ee, 2. Salah satu tugas perkembangan pada fase ini yaitu identity exploration, yaitu individu mengeksplorasi berbagai jenis pekerjaan, menemukan minat dan kemampuan serta mengalami perubahan penting dalam identitas (Arnett, 2. Selain itu. Sawitri dan Dewi . , menyatakan bahwa individu yang berada pada fase emerging adult akan mampu menilai kemampuan yang dimiliki dalam mengkualifikasi pekerjaan yang diinginkan. Setiap tahunnya terdapat peningkatan lulusan perguruan tinggi yang tidak memperoleh pekerjaan (Pratama et al. , 2. Hal ini yang menjadi kesenjangan didalam masyarakat berupa individu dengan latar belakang pendidikan tinggi sekalipun tidak menjamin untuk memiliki kualifikasi yang sesuai dengan lapangan pekerjaan sehingga meningkatkan angka pengangguran di Indonesia (Agusta, 2. Berdasarkan data dari intelligent. ketidaksiapan kerja juga ditemukan di luar negeri, terdapat hampir 1. 000 pemimpin AS menemukan kekurangan dari lulusan tahun 2024 bahkan sebagian besar perusahaan menyatakan terdapat keraguan selama proses rekrutmen dan merasa tidak puas dengan hasil kerja hingga menyatakan bahwa lulusan perguruan tinggi tidak siap memasuki dunia kerja. Selain itu. Kementerian Ketenagakerjaan. Anwar Sanusi . juga menyatakan bahwa tingkat kesiapan kerja . ork readiness rat. Indonesia dinyatakan rendah. Oleh karena itu, untuk bersaing di dunia kerja seharusnya mahasiswa tingkat akhir sudah mampu untuk menggali potensi diri, menentukan bidang pekerjaan yang ingin ditekuni hingga memiliki work readiness yang tinggi (Jing & Ee, 2. Berdasarkan data BPS pada tahun 2024 menyatakan bahwa lulusan Diploma IV. S1. S2 dan S3 pada tahun 2022 hingga 2024 hanya 12,82% yang terserap di dunia kerja. Bahkan persentase tertinggi penduduk bekerja menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan berada pada kelompok SD ke bawah yaitu 35,80%. Hal ini juga diklasifikasi berdasarkan tingkat pengangguran dari lulusan pendidikan universitas pada tahun 2022 mencapai 4,80% dan pada tahun 2023 mengalami peningkatan hingga mencapai 5,18%. Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sumatera Barat untuk lulusan perguruan tinggi pada tahun 2024 mencapai 6,73 persen. Hal inilah yang menyebabkan mahasiswa akhir dituntut untuk Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan - Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. memiliki work readiness yang tinggi karena individu akan memasuki dunia kerja setelah lulus dari universitas (Baiti et al. , 2. Caballero. Walker & Fuller . , menyatakan bahwa work readiness merupakan persepsi individu terhadap sikap dan kompetensi yang dibutuhkan untuk kesuksesan individu di dunia kerja. Clarke . , juga menekankan bahwa lulusan perguruan tinggi diharapkan memasuki dunia kerja sebagai lulusan yang siap kerja . ork read. Work readiness sangat penting bagi mahasiswa semester tingkat akhir karena kurangnya persiapan kerja akan menyebabkan individu tidak mampu bersaing dalam dunia kerja. Selain itu, mahasiswa yang tidak memiliki work readiness yang baik pada saat memasuki dunia kerja maupun melanjutkan studi akan mengalami tingkat stres yang tinggi, kelelahan, hingga resign dari pekerjaan maupun putus kuliah (Orr et al, 2. Santrock . , juga menyatakan bahwa agar menjadi individu yang berkualitas didalam karir dan menghadapi dunia kerja dimasa depan, seharusnya sudah memiliki tingkat work readiness yang tinggi pada semester akhir. Berdasarkan survei awal yang dilakukan kepada 50 mahasiswa akhir psikologi, sebanyak 82% mahasiswa memilih untuk bekerja setelah lulus dari universitas. Sedangkan 18% lainnya memilih untuk melanjutkan studi. Meskipun mayoritas mahasiswa memilih untuk bekerja namun hanya 46% mahasiswa yang merasa siap untuk memasuki dunia kerja. Adapun alasan mahasiswa tingkat akhir belum siap bekerja karena masih ingin berada di zona nyaman, masih belum memiliki mental pekerja dan memiliki ketakutan untuk memasuki dunia kerja, belum memiliki problem solving yang baik, belum memiliki bidang atau rencana karier yang ingin ditekuni, belum memikirkan pekerjaan dan belum menyiapkan diri untuk bekerja. Selain itu, hanya 48% mahasiswa tingkat akhir yang merasa memiliki pengalaman kerja. Azky dan Mulyana . menyatakan bahwa salah satu faktor yang membentuk work readiness pada mahasiswa yaitu faktor adversity quotient. Individu yang memiliki adversity quotient yang tinggi memiliki daya juang dalam menghadapi dan bertahan saat mengalami kesulitan di dunia kerja. Adversity quotient akan membantu individu dalam meningkatkan kemampuan dan komitmen dalam menghadapi tantangan dan menemukan peluang menuju kesuksesan (Violinda, et al. , 2. Adversity quotient pertama kali dikemukakan oleh Paul G Stolz. Stolz . , mengemukakan adversity quotient sebagai kemampuan individu dalam mempersepsikan kesulitan dan menyelesaikan kesulitan dengan kecerdasan yang dimiliki sehingga menjadi sebuah tantangan yang dapat diselesaikan. Selain itu Stoltz . , juga menyatakan bahwa kesuksesan individu dapat diukur dari tingkat adversity quotient yang dimiliki oleh individu. Hubungan Adversity Quotient dengan Work Readiness pada Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Psikologi Universitas Negeri Padang Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa akhir membutuhkan adversity quotient yang tinggi agar memiliki work readiness yang baik sehingga individu dapat beradaptasi pada saat memasuki dunia kerja. Berdasarkan fenomena diatas mengenai adversity quotient dan work readiness maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuHubungan antara Adversity Quotient dengan Work Readiness pada Mahasiswa Tingkat Akhir Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Negeri PadangAy KAJIAN TEORITIS Work readiness dapat dimiliki apabila individu memiliki keahlian yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang diinginkan, kepribadian, kecerdasan, pengetahuan, keterampilan dan perasaan nyaman saat bekerja terutama dibidang dunia kerja (Pool & Sewel, 2. Menurut Caballero et al. menyatakan bahwa work readiness adalah bagian dari kemampuan kerja dan mengacu pada tingkat keterampilan dan sikap yang dirasakan individu sehingga individu dapat didefinisikan sebagai orang yang siap untuk sukses di tempat kerja. Work readiness menjadi salah satu konsep untuk memprediksi potensi dari lulusan suatu universitas. Adversity quotient dikemukakan kali pertama oleh Stoltz . , yang menyatakan bahwa kemampuan individu dalam mengendalikan dan memanfaatkan hambatan menjadi sebuah peluang untuk berhasil mencapai tujuan. Adversity quotient dipandang sebagai kecerdasan individu yang mampu meramalkan kemampuan dalam bertahan menghadapi kesulitan serta cara mengatasinya, kesanggupan seseorang bertahan dalam menjalani hidup (Leonard & Amanah, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi Universitas Negeri Padang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu purposive sampling dengan kriteria Mahasiswa tingkat akhir yang mengambil mata kuliah skripsi di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Padang, tidak bekerja dan tidak mengikuti organisasi ekstra kampus. Populasi pada penelitian ini sebanyak 307 mahasiswa dan sampel dihitung berdasarkan rumus slovin yaitu sebanyak 174 mahasiswa. Data penelitian ini dikumpulkan menggunakan kuesioner yang disebarkan secara online menggunakan google Variabel work readiness diukur menggunakan skala work readiness yang disusun oleh peneliti dengan mengacu pada aspek work readiness dari Caballero et al. sedangkan variabel adversity quotient diukur menggunakan skala Adversity Response Profile dari Stoltz Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan - Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. yang telah diadaptasi. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis product moment, dengan melakukan uji normalitas, uji linearitas dan uji hipotesis. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini terkait hubungan antara adversity quotient dengan work readiness yang melibatkan 174 orang mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi Universitas Negeri Padang. Berdasarkan deskripsi diketahui skor hipotetik dan skor empirik pada tabel berikut Tabel 1. Rerata Hipotetik dan Empirik Adversity Quotient dan Work Readiness. Variabel Hipotetik Empirik Min Max Mean Min Max Mean Adversity Quotient Work Readiness Pada tabel diatas telah diketahui nilai rata-rata . hipotetik dan empiris pada masingmasing variable adversity quotient dan work readiness. Diketahui bahwa skor mean empiris pada variabel adversity quotient lebih rendah dibandingkan dengan skor mean hipotetiknya, sehingga adversity quotient yang terjadi di lapangan lebih rendah dari pada asumsi awal. Pada Variabel work readiness memiliki skor empiris yang lebih tinggi dibanding dengan skor hipotetiknya sehingga pada kajian ini menunjukkan bahwasanya work readiness yang terjadi di lapangan lebih tinggi daripada asumsi awal. Tabel 2. Uji Hipotesis. Adversity Quotient Pearson Correlation Adversity Quotient Work Readiness Sig. -taile. Work Readiness Pearson Correlation Sig. -taile. Berdasarkan hasil output correlations product moment diketahui bahwa nilai sig . antara adversity quotient dengan work readiness sebesar 0,000 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara adversity quotient dengan work readiness pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi di Universitas Negeri Padang. Selain itu, ditemukan bahwa nilai koefisien korelasi bernilai positif yang menunjukkan bahwa arah hubungan kedua variabel bersifat positif artinya semakin tinggi adversity quotient maka Hubungan Adversity Quotient dengan Work Readiness pada Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Psikologi Universitas Negeri Padang work readiness pada mahasiswa tingkat akhir juga mengalami peningkatan dan sebaliknya. Berdasarkan nilai pearson correlation yaitu 0,691 yang diperoleh maka kriteria kekuatan hubungan antara variabel adversity quotient dengan work readiness mempunyai hubungan yang kuat. Pembahasan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara adversity quotient dengan work readiness pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi Universitas Negeri Padang. Hasil uji analisis korelasi product moment menunjukkan bahwa adversity quotient memiliki hubungan yang signifikan dengan work readiness. Hal ini dapat dilihat dari nilai sig . -taile. antara adversity quotient dengan work readiness sebesar 0,000 < 0,05. Selain itu, nilai r product moment yaitu sebesar 0,691. Artinya adversity quotient memiliki hubungan yang kuat dengan work readiness. Selain itu, ditemukan bahwa nilai product moment bersifat positif sehingga arah korelasi antara variabel adversity quotient dengan work readiness bersifat positif atau searah. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi adversity quotient maka semakin tinggi tingkat work readiness yang dimiliki oleh mahasiswa tingkat akhir. Hal ini didukung dengan penelitian dari Aprilia dan Arfina . dan penelitian dari Wibowo dan Suroso . yang menyatakan bahwa semakin tinggi adversity quotient maka semakin tinggi pula kemampuan individu dalam meningkatkan work readiness sebelum memasuki dunia kerja terutama untuk mengetahui kemampuan dan pemahaman terhadap dunia Adversity quotient yang tinggi dapat meningkatkan kemampuan untuk mengubah hambatan, menjadi sebuah peluang untuk mencapai kesuksesan (Hariyati & Dewi, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adversity quotient dapat mendorong individu untuk mengembangkan kemampuan dalam menghadapi tantangan dan tetap fokus terhadap tujuannya terutama dalam menyiapkan diri untuk memasuki dunia kerja. Adversity quotient memiliki hubungan positif yang kuat dengan work readiness karena adversity quotient mampu untuk memperkuat kemampuan individu terutama dalam menghadapi tekanan pekerjaan tanpa kehilangan motivasi atau arah (Zhao & Sang, 2. Secara umum Stoltz . , menyatakan adversity quotient berperan bagi individu untuk memahami dan meningkatkan semua aspek kesuksesan. Hal ini ditunjukkan oleh individu dengan adversity quotient yang tinggi dalam dunia kerja akan memiliki kinerja, kreativitas, produktivitas, ketekunan, daya tahan, kesehatan dan vitalitas yang lebih tinggi dibandingkan individu dengan adversity quotient yang rendah akan memiliki sedikit ambisi, tidak kreatif, kurang bersemangat dan memiliki kemampuan dibawah standar (Stolz, 2. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan - Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Spesifik pada mahasiswa tingkat akhir adversity quotient memiliki hubungan langsung dengan work readiness karena adversity quotient mencakup kualifikasi yang dibutuhkan dari dunia kerja terutama dalam ketahanan mental, kemampuan bekerja dibawah tekanan dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan serta ketekunan dalam menghadapi tantangan sehingga mahasiswa tingkat akhir akan siap untuk menghadapi tantangan dunia kerja, mulai dari mengatasi tingkat stres kerja, masa transisi hingga kegagalan di dunia kerja (Jasak et al. Adversity quotient juga berhubungan dengan penyesuaian karier yang dibutuhkan oleh mahasiswa tingkat akhir agar siap memasuki dunia kerja (Yan Tian, 2. Selanjutnya berdasarkan hasil penelitian ditemukan adversity quotient memiliki hubungan dengan work readiness pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi karena adversity quotient dapat menentukan bagaimana individu akan merespons dalam situasi tertentu terutama pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi yang dituntut untuk mampu menyeimbangkan pengetahuan dan keterampilan secara profesional (Schweinsberg, 2. Mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi akan menghadapi dunia kerja yang berkaitan dengan keterhubungan langsung dengan kehidupan orang lain yang dapat berdampak positif maupun negatif karena nantinya individu akan merasakan beragam emosi yang dirasakan klien di tempat kerja (Saxena & Rathore, 2. Oleh karena itu, adversity quotient akan membantu mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi untuk memprediksi tingkat kesuksesan atau kelelahan berdasarkan pada respons individu terhadap kesulitan di dunia kerja maupun dikehidupan sehari-hari. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan temuan penelitian maka dapat kita simpulkan bahwa, adversity quotient memiliki hubungan yang signifikan dan positif dengan work readiness pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi Universitas Negeri Padang dengan nilai product moment sebesar 69,1. Artinya semakin tinggi adversity quotient maka semakin tinggi tingkat work readiness yang dimiliki oleh mahasiswa tingkat akhir. Adapun saran penelitian kepada universitas untuk membagi kurikulum kedalam dua kelompok yaitu kurikulum praktisi dan kurikulum akademisi agar universitas dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi untuk siap kerja karena mayoritas mahasiswa tingkat akhir ingin langsung memasuki dunia kerja setelah lulus dari universitas. Universitas terutama fakultas psikologi diharapkan untuk menyiapkan lebih banyak program-program peningkatan kompetensi kerja dengan tujuan membantu mahasiswa tingkat akhir dalam Hubungan Adversity Quotient dengan Work Readiness pada Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Psikologi Universitas Negeri Padang meningkatkan keterampilan agar menjadi lulusan yang memiliki keterampilan yang memadai untuk memasuki dunia kerja. DAFTAR REFERENSI Agusta. Hubungan antara orientasi masa depan dan daya juang terhadap kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di DI Universitas Mulawarman. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 2. , 133Ae141. Aprilia. , & Arfina. Adversity quotient and employability in fresh graduate. In Proceedings of the 1st International Conference on Psychology . 82Ae. Arnett. Emerging adulthood: What is it, and what is it good for? Society for Research in Child Development, 1. , 68Ae73. Azky. , & Mulyana. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja mahasiswa: Literature review. INNOVATIVE: Journal of Social Science Research, 4. , 3178Ae3192. Baiti. Abdullah. , & Rochwidowati. Career self-efficacy dan kesiapan kerja pada mahasiswa semester akhir. Jurnal Psikologi Integratif, 5. , 128Ae141. Caballero. Walker. , & Fuller-Tyszkiewicz. The Work Readiness Scale (WRS): Developing a measure to assess work readiness in college graduates. Journal of Teaching and Learning for Graduate Employability, 2. , 41Ae54. Clarke. Rethinking graduate employability: The role of capital, individual attributes Studies Higher Education, 43. , 1923Ae1937. https://doi. org/10. 1080/03075079. Hariyati. , & Dewi. Hubungan antara optimisme dengan adversity quotient pada fresh graduate Universitas Negeri Surabaya. Character Jurnal Penelitian Psikologi, 8. , 153Ae164. Intelegensi. Survei: Lulusan perguruan tinggi tidak siap kerja. Retrieved from https://w. com/uang/survei-lulusan-perguruan-tinggi-tidak-siapkerja204709-mvk. Jasak. Sugiharsono. , & Sukidjo. The role of soft skills and adversity quotient on work readiness among students in university. Dinamika Pendidikan, 15. , 26Ae39. Jing. , & Ee. Life satisfaction, academic achievement and work readiness among undergraduate students. International Journal of Education. Psychology and Counseling, 7. , 527Ae535. https://doi. org/10. 35631/ijepc. Latif. Yusuf. , & Efendi. Hubungan perencanaan karier dan efikasi diri Konselor, 6. , 29Ae38. https://doi. org/10. 24036/02017616535-0-00 Leonard. , & Amanah. Pengaruh adversity quotient (AQ) dan kemampuan berpikir kritis terhadap prestasi belajar matematika. Perspektif Ilmu Pendidikan, 28. , 55Ae64. Orr. Forsyth. Caballero. Rosenberg. , & Walker. A systematic review of Australian higher education studentsAo and graduatesAo work readiness. Higher Education Research Development, 42. , 1714Ae1731. https://doi. org/10. 1080/07294360. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan - Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Pool. , & Sewell. The key to employability: Developing a practical model of graduate employability. Studies in Higher Education, 49. , 277Ae289. Pratama. Nio. Dwatra. , & Guspa. Hubungan self-efficacy dengan work readiness pada mahasiswa semester tingkat akhir strata sarjana di Kota Padang. CAUSALITA: Journal Psychology, 1. , https://jurnal. com/index. php/cs Santrock. Life-span development . th ed. NY: McGraw-Hill. Sawitri. , & Dewi. Aspirasi karir, regulasi diri, dan self-perceive employability pada mahasiswa. Jurnal Psikologi, 17. , 68Ae76. Saxena. , & Rathore. Adversity quotient as determining factor of mental health and professional quality of life among healthcare professionals: A systematic review. Annals of Neurosciences, 32. , 58Ae65. Schweinsberg. Mundy. Dyer. , & Garivaldis. Psychology education and work readiness integration: A call for research in Australia. Frontiers in Psychology, 12, 1Ae9. https://doi. org/10. 3389/fpsyg. Siagian. Rahmadana. Purba. Nugroha. Siregar. Marit. Prasetya. , & Purba. Ekonomi dan Bisnis Indonesia (J. Simarmata & A. Rikki. Eds. Yayasan Kita Menulis. Stoltz. Adversity quotient: Turning obstacles into opportunities. John Wiley & Sons. Violinda. Wahyuningsih. , & Meiriyanti. Pengaruh career planning, selfefficacy dan adversity quotient terhadap kesiapan kerja mahasiswa S1 di Semarang. Jurnal Aplikasi Bisnis Dan Manajemen, 9. , 639Ae648. https://doi. org/10. 17358/jabm. Wibowo. , & Suroso. Adversity quotient, self-efficacy dan kesiapan kerja siswa kelas XII program keahlian multimedia SMKN 1 Kabupaten Jombang. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 5. , 174Ae180. Yan Tian. Adversity quotients, environmental variables and career adaptability in student nurses. Journal of Vocational Behavior, 85. , 251Ae257. https://doi. org/10. 1016/j. Zhao. , & Sang. The role of emotional quotients and adversity quotients in career Frontiers in Psychology, 14, 1128773.