Agama dan Sekularisme Di Indonesia (Hybriditas dan Komoditas Agam. Markus Meran1 Abstrak Sekularisme adalah sebuah konsep atau pemahaman yang memisahkan negara dan agama . tate and religio. Agama selalu dihubungkan dengan ketuhanan, mengurus relasi yang bersifat spiritual dengan Tuhan. Sedangkan negara adalah lembaga yang mengurusi tatatanan hidup yang bersifat duniawi. Pemahaman ini yang mempengaruhi setiap orang untuk membedakan keduanya dan bersikap terhadapnya. Agama dan sekularisme perlu dipahami secara benar karena keduanya ada dalam kehidupan masyarakat. Sekularisasi agama sekarang ini merupakan situasi kekinian . sebagai akibat dari berkembangnya zaman dan ideologi. Peran sentral agama semakin terkikis oleh peran negara dan berbagai aliran modernisme sehingga tidak terjadi sinergi antara agama dan negara. Agama juga mengalami hibriditasi berdasarkan pesan tradisional yang dibawa sejak awal dan kebudayaan atau konteks tumbuhnya agama di suatu tempat. Berger mengartikan hibriditasi sebagai suatu usaha sengaja untuk menyintesiskan sifat-sifat kebudayaan asing dan lokal. Agama yang berjumpa dengan aneka macam kebudayaan baru dan mengalami perkembangan baik itu perkembangan yang semakin menggembirakan tetapi juga ada pergeseran mentalitas yang membuat agama menjadi sangat diragukan pernannya. Akibatnya dalam beragama terjadi banyak penafsiran yang tidak berdasar dan bahkan sangat keliru. Oleh karena itu agama mesti hadir menawarkan keunggulan-keunggulan religi yang dijadikan pedoman hidup bersama Allah, sesama dan alam semesta. Agama mesti menawarkan nilai-nilai luhur keberadaban yang membuat setiap orang merasa memiliki kekuatan, untuk mengekpresikan keimanannya secara sadar dan Kata Kunci: Agama. Sekularisme. Hybriditas. Komoditas Pengantar Indonesia adalah sebuah negara kesatuan yang terdiri dari berbagai keberagaman. Keberagaman itu meliputi aneka pulau, suku bangsa, bahasa, kebudayaan, pluralitas agama, dan sebagainya. Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, perbincangan mengenai peran agama dalam negara ini masih selalu relevan dan dinamis. Sejak sebelum berdirinya negara ini, agama memainkan peranan yang penting, baik itu menyangkut tokoh-tokoh pemikir bangsa, maupun ideologi yang hendak ditawarkan guna dijadikan dasar negara. Zaman berganti, persoalan seputar agama pun sedikit mengalami Dewasa ini, selain masih adanya usaha untuk membelokkan ideologi bangsa ke arah negara-agama, kemajuan peradaban dunia juga mendatangkan persoalan baru. Persoalan yang baru adalah menyangkut eksistensi dan daya tarik agama bagi segenap rakyat Indonesia. Segelintir orang mulai meragukan peran agama dan bahkan Dosen Tetap Sekolah Tinggi Katolik St. Yakobus Merauke. Saat ini sedang melanjutkan studi doktoral di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 103 ada yang secara de facto memilih untuk tidak beragama. Hal tersebut sedikit banyak dipengaruhi ideologi baru seperti modernisme, humanisme, dan sekularisme. Kaum berpendidikan mulai melihat agama sebagai sesuatu yang tidak begitu penting lagi. Pertanyaannya, apakah agama masih bisa dipertahankan di tengah arus sekularisasi yang semakin marak? Apakah agama masih harus mempertahankan identitasnya yang begitu tertutup? Dan apakah agama masih bisa menarik banyak orang pada tujuannya yang sejati, demi kebahagiaan di dunia dan akhirat? Tulisan ini hendak menyelami perkembangan agama di Indonesia serta posisinya dalam arus sekularisme sekarang. Penulis akan berusaha memperdalam pembahasan mengenai urgensitas agama dalam tatanan hidup manusia Indonesia serta sikap agama dalam eksistensinya yang hidup berdampingan dengan arus sekularisasi yang masih akan terus berlanjut. Harapannya, agama masih terus dibutuhkan di Indonesia, serta memiliki peran yang berdampak pada kelangsungan hidup bangsa ini. Agama yang hidup di Indonesia pada dasarnya adalah agama yang menyadari diri berada dan hidup bersama agama lain serta berjuang untuk dapat diterima oleh para penganutnya, sebagai sebuah agama yang aktual dan berprinsip serta berakar kuat pada asasnya. II. Agama dan Sekularisme: Sebuah Pengertian Agama Pengikut Durkheim mengartikan agama sebagai a system of beliefs and practices relative to the sacred that unite those who adhere to them in a moral 2 Pengertian ini menarik bagi Bellah karena memuat unsur Aothe sacredAo. Yang kudus, keramat dan suci ini merupakan pengalaman khas manusia beragama, karena menghubungkan diri penganutnya dengan yang Ilahi. Pengalaman ini khas, karena bukan semata pengalaman relasi antar-manusia, melainkan pengalaman manusia imanen dengan Tuhan yang transendens. Pengalaman religius pemeluk agama tersusun dalam sistem kepercayaan dan teraktualisasikan melalui tindakan moral para penganut yang tergolong dalam komunitas tertentu. Bila Bellah menitikberatkan perhatiannya pada unsur suci dan keramat dari sebuah agama. Klemm dan Schweiker melihatnya dari perasaan manusia. Mereka mendefinisikan, religion is the human longing for and awareness of the divine . hat is taken to be unsurpassable in importance and realit. experienced and expressed within the concrete cultural life of particular historical traditions. 3 Dalam hidup manusia, terdapat hasrat manusia yang hidup dalam sejarah untuk mengalami dan mengekspresikan pengalaman yang bukan manusiawi. Hasrat itu muncul karena kesadaran adanya pengalaman akan kehadiran kekuatan lain yang melampaui dirinya. Robert N. Bellah. Religion in Human Evolution, (London: The Belknap Press of Harvard University Press, 2. , hlm. David E. Kleem dan William Schweiker . Religion and the Future: an Essay to Theological Humanism, (UK: Blackwell Publishing, 2. , hlm. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 104 Pengalaman itu bukanlah sebuah pengalaman subyektif, sehingga kesadaran akan pengalaman itu terlembagakan dalam sebuah institusi yang disebut sebagai agama. Sekularisasi Secara umum, sekularisasi berasal dari kata dasar sekuler . Lorens Bagus mengartikan kata sekuler sebagai . temporal, duniawi, . berkaitan dengan benda-benda yang tidak dianggap sakral, jauh dari muatan keagamaan, tidak rohani. Sekuler berdasarkan beberapa kategori ini dimaksud untuk mengartikan situasi di mana otonomitas duniawi dipisahkan dari pengaruh agama. Sejak lama, peran agama terlalu besar dalam kehidupan manusia. Akibat dari situasi ini, berbagai urusan negara diterangi dan bahkan mengikuti berbagai kaidah yang ada dalam ajaran agama. Berbagai pemikir zaman modern melihat tendensi yang kurang baik dari situasi dominasi agama tersebut. Untuk itu, mereka mendesak agar urusan negara dan agama Proses untuk memisahkan kedua hal ini dinamakan sekularisasi yang terus berlangsung hingga kini. Sekularisme adalah ideologi yang mengandung paham penidak-keramatan alam dan mendekonsekrasikan nilai-nilai. 5 Hal tersebut dilakukan agar agama dapat ditempatkan sesuai dengan tujuan aslinya, yakni memenuhi kebutuhan iman dan moral pemeluknya, tanpa mengganggu jalannya kehidupan bernegara yang mengutamakan nasionalisme, keberagaman, dan kebebasan. Menurut Turner, sekularisasi adalah teori yang menjelaskan penyusutan kekuasaan institusi gereja dan otoritasnya dalam hubungan dengan institusi sekular . ation-stat. , dan keyakinan sekular . atural scienc. Proses sekularisasi sejak awal mula dilihat sebagai musuh dari agama. Bagi sebagian orang, sekularisasi merupakan tantangan yang memperkecil peran agama. Kemapanan agama yang pernah dialami agama dalam hidup bernegara ditantang. Bagi kaum fundamentalis, situasi ini bukan saja memperkecil peran agama, melainkan juga dapat menghilangkan agama dan perannya dalam dunia. Sekularitas memiliki beberapa segi masalah seperti . keterasingan agama dalam kehidupan publik, . kemunduran dalam hal kepercayaan dan penerapannya, . perubahan cara beriman. Lorens Bagus. Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1. , hlm. Haedar Nashir. AuSekularisme Politik dan Fundamentalisme AgamaAy, dalam UNISIA NO. 45/XXV/II/2012, hlm. Bryan S. Turner. Religion and Modern Society: Citizenship. Secularisation and the State, (New York: Cambridge University Press, 2. , hlm. Rusli Karim. Agama. Modernisasi dan Sekularisasi, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1. AuHere we enter onto the terrain of Ausecularization theoryAy. This has been mainly concerned with explaining various facets of secularity 1 . he retreat of religion in public lif. and 2 . he decline in belief and practic. , but obviously, there is going to be a lot of overlap between these and secularity 3 . he change in the conditions of belie. In particular, the relation of this latter with secularity 2 is bound to be close. This is not because the two changes are identical, or even bound to go together. But the change I am interested in here, . , involves among other things the arising of a humanist alternative. This is a precondition for . the rise of actual unbelief, which in turn often contributes to . the decline of practice. Nothing makes these consequences ineluctable, but they cannot happen at all unless the original pluralization of alternatives occurs. Ay (Charles Taylor. A Secular Age, . , hlm. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 105 Konsep sekularisme pertama kali didefinisikan oleh George Holyoake pada 1846 sedangkan ide masyarakat sekular berkembang pada masa kesadaran masyarakat sekular Britania pada 1880-an. Bagi Holyoake, sekularisme mengacu pada tatanan sosial yang dibedakan dari agama tanpa mencampur-adukannya ke dalam masalah agama. 9 Secara ekstrim, sekularisasi mendewakan peran sentral manusia sebagai penentu hidup di dunia Seperti yang dikatakan Banchoff, prinsip dasar penganut sekularisasi adalah bahwa dengan menguasai teknologi dan pengetahuan, manusia dapat menentukan tujuan 10 Situasi seperti ini tentu saja dilatari oleh kekecewaan manusia akibat keterkungkungan dunia pada kekuatan agama yang terlampau kuat. Berdasarkan berbagai pengertian yang ada ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa sekularisasi agama adalah situasi baru akibat perkembangan zaman dan ideologi di mana peran sentral agama semakin terkikis oleh peran negara dan berbagai aliran globalisasi demi menjaga otonomitasnya masing-masing sehingga tidak terjadi pembauran yang merusak cita-cita agama dan negara sekaligus. Posisi Agama di Indonesia: Hybernitas Beridentitas Perkembangan dunia melalui modernisasi mendatangkan dampak positif dan negatif bagi manusia, serta suatu bangsa atau komunitas tertentu. Aspek dari modernisasi, menurut Daniel Lerner terimplikasikan dalam proses urbanisasi, industrialisasi, sekularisasi, demokratisasi, pendidikan, serta partisipasi media. 11 Melalui modernisasi, manusia mendapatkan dan mengalami berbagai pergeseran kehidupan dalam aspek-aspek yang disebutkan Lerner ini. Di antara berbagai aspek itu, terdapat sekularisasi yang menjadi bagian kajian tulisan ini. Sekularisasi, seperti pengertian yang telah dipaparkan di atas, mengubah orientasi berpikir dan bertindak manusia. Manusia tidak lagi melihat agama dan berbagai ajarannya sebagai pedoman ketat dalam menata kehidupan. Manusia secara jeli menempatkan agama pada tempatnya. Agama adalah sesuatu yang bersifat pribadi, dan tidak boleh dijadikan acuan kunci dalam kehidupan. Terdapat berbagai cara untuk mencapai hidup baik, maju, dan dapat bersaing dalam kehidupan, bukan semata karena mengikuti ajaran agamanya. Sekularisasi membuat manusia memiliki pembagian yang jelas antara beragama dan bernegara. Agama menjalankan perannya dalam meningkatkan iman dan moral pemeluknya, hanya secara pribadi. Manusia yang hidup dalam sekularisasi menjalankan hidupnya sesuai dengan aturan-aturan sekuler yang ada, seperti dalam dunia politik dan Hal ini berbeda sekali dengan kehidupan pada masa kejayaan agama . Turner, hlm. AuOnce people, armed with knowledge and technological prowess, take their destinies into their own hands, religion will disappear. This is, very roughly, the basic content of the socalled secularization thesis. The secularization thesisAy (Miroslav Volf. A Voice of OneAos Own: Public Faith in a Pluralistic World, dalam Thomas Banchoff . Democracy and the New Religious Pluralism. New York: Oxford University Press, 2007, hlm. Dikutip dari M. Rusli Karim. Agama. Modernisasi dan Sekularisasi. , hlm. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 106 sejak abad pertengahan yang menempatkan agama sebagai pengatur segala sisi kehidupan manusia. Manusia modern melihat bahwa dunia dan agama perlu dipisahkan agar manusia semakin maju dan berkembang secara baik. Tidak dapat disangkal bahwa kehadiran agama dalam sejarah manusia terkadang menimbulkan kesan yang tidak begitu baik. Agama yang bagi para penganut dan pemimpinnya sejak dahulu dilihat sebagai jalan yang benar pada kebahagiaan dunia dan akhirat, pada saat ini lebih dilihat sebagai sebuah Masih ada ideologi atau praktik lain yang dilakukan manusia untuk Pada awal milenium, banyak filsuf yang mulai meragukan peran agama. Bagi mereka, agama hanya mendatangkan perpecahan, serta membuat orang tidak berusaha untuk hidup secara otentik. Pendapat ini setidaknya berasalan, karena mereka menemukan banyaknya kekacauan yang disebabkan oleh kehadiran agama. Kekecewaan terhadap agama membuka mata manusia modern untuk memilih cara hidup dan berpikir yang lebih canggih demi eksistensi manusia dan masyarakat itu sendiri. Dengan berbagai masalah yang ada, apakah agama tergerus oleh sekularisasi? Penelitian Turner menunjukkan bahwa di tengah arus dunia dewasa ini, agama malahan terlihat tetap eksis bahkan semakin menunjukkan pengaruhnya. 12 Agama sama sekali tidak tergerus oleh perkembangan zaman, apalagi dihapuskan oleh sekularisasi. Agama masih dihidupi oleh para penganutnya, baik penduduk setempat, maupun oleh para migran yang hidup di perantauan. Hal senada juga diungkapkan Volf. Baginya, sekularisasi, khususnya humanis sekuler mungkin pernah berjaya. Namun ia hanya berjaya di negara yang memiliki sistem otoriter dan tidak bisa disamakan ke seluruh Ia bahkan menyatakan bahwa. AuIn fact, the fastest-growing worldviews today are religious - Islam and Christianity. And for the most part, they are propagated not by being imposed from above but by a groundswell of enthusiasm to pass the faith on and a thirst to receive it. Ay13 Dalam era globalisasi ini, posisi agama tetaplah sentral. Posisi agama tidak terhapuskan oleh globalisasi. Bahkan dikatakan bahwa globalisasi membawa dampak AuOf course, the salience of religion in modern culture depends a great deal on which society we are looking at. While northern Europe has been associated with secularisation in terms of declining participation in church life and with the erosion of orthodox belief, religious vitality has been seen as a consistent aspect of AoAmerican exceptionalismAo (Torpey, 2. It is, in any case, more accurate to talk about the Aode-ChristianisationAo of Europe rather than its secularisation, and hence about a Aopost-Christian EuropeAo rather than a secular Europe (Davie, 2006. Outside Europe. Pentecostalism, charismatic movements and religious revivalism are important social developments, and such movements have challenged the historical hegemony of the Catholic Church in Latin America (Lehmann, 1. In Europe, the growth of diasporic communities with large religious minorities has also changed the cultural map of what were thought to be predominantly secular societies. In Britain, while the Church of England declines, migration from former African colonies has brought African fundamentalism into the predominantly secular culture of British cities, where it facilitates transnational networks and provides a haven for new The Assemblies of God for migrants from Zimbabwe is one example (Lehmann, 2. Pentecostalism, having transformed much of African Christianity, is now having an impact on European and American congregations, not only through migration, but also through their evangelical outreach and reverse missionary activity (Adogame, 2. Ay . alam Turner. Religion. , hlm. Miroslav Volf. A Voice of OneAos Own. , hlm. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 107 baik bagi agama. 14 Sudah sejak dahulu, pemerintah . an penjaja. melancarkan globalisasi ke seluruh dunia dengan menggandeng agama. Proses westernisasi dan globalisasi yang dijalankan pemerintah dinikmati juga oleh agama. Hal tersebut juga berlaku ketika sebuah negara mayoritas agama tertentu lebih mengedepankan kepentingan rakyat mayoritas. Ini adalah bentuk globalisasi sederhana. Untuk semuanya itu, tidak bisa dikatakan bahwa agama membenci globalisasi. Dalam hidup bernegara ini, kita mengenal sistem demokrasi Pancasila, sebuah rumusan demokrasi yang berasas pada kearifan nusantara. Bagi Mahfud MD, pendirian kita ini telah final, tak diganggu-gugat. Para founding fathers telah meletakkan dasar yang kokoh, suatu ideologi bangsa yang briliant. Setelah melewati proses yang panjang, ideologi demokrasi Pancasila menjadi dasar berjalannya negara kita. 15 Dengan demikian, persoalan terbesar bangsa kita bukan menyibukkan diri mencari ideologi negara yang tepat, melainkan berjuang bersama melawan musuh bangsa yang terbesar, yakni korupsi. Pernyataan Mahfud MD ini menyiratkan kepada setiap pemeluk agama bahwa ia berada dalam hidup bersama sebagai penganut agama dan warna negara demokrasiPancasila. Agama tetap sentral bagi setiap penganutnya namun bukan untuk dipaksakan bagi penganut agama lain. Dalam negara demokrasi-Pancasila, setiap warga dijamin haknya untuk beragama, memiliki kewajiban untuk menghargai kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan seluruh komponen bangsa, musyawarah untuk mufakat, serta keadilan bagi semuanya. Peradaban telah membentuk cara pandang dan cara berada manusia. Manusia dalam berbagai dimensi hidupnya berkembang ke arah yang lebih canggih dan sempurna. Konsep tentang agama pun berubah. Sejak abad pertengahan dan memuncak pada masa pencerahan (Aufklyrung/enlightmen. , peran agama dipertanyakan kembali. Agama perlu dimasukan ke dalam ruang privat setiap pemeluknya dan bukan sebagai alat pengukur segala aspek hidup manusia dan hidup bermasyarakat. Dalam dunia modern, kaum partikularis melihat bahwa setiap kultur adalah unik. Keunikan itu tidak serta merta harus diglobalkan dan bahkan dipaksakan untuk berlaku secara umum. 16 Kultur yang Globalisation has been significant in the development of diffuse religious civilisations into formal and specific religious systems. There has been a historical process in which ancient religious cultures have been reconstructed as religious systems. This process of institutional reification has transformed local, diverse and fragmented cultural practices into recognisable systems of religion. Globalisation has had the paradoxical effect of making religions, through their religious intellectuals . heir theologians, philosophers and religious leader. , more selfconscious of themselves as Aoworld religionsAo. Ay . alam Turner. Religion. Mahfud MD. Visi Kebangsaan Indonesia Raya: Antara Keislaman dan Keindonesiaan (Orasi Kebangsan yang diselenggarakan Vox Point Indonesia. Kamis 31/7/2. , dalam Gita Sang Surya. Vol. 13 No. 4 Juli-Agustus 2018, hlm. AuThe particularist view is that each cultural tradition is unique, and that its uniqueness is lost when we subsume that culture under general categories. According to the particularists, we falsify the data, we lose the particular meanings of cultural events and developments, when we coin general theories of such things as Aureligion,Ay especially where representatives of the living traditions do not recognize the concept. The denial of any shared religious quality to existence is, as we will see, crucial to the outlook of religious They insist on the religious dimension of life, but too easily stunt the scope of moral concern to their communities. Ay (David E. Kleem dan William Schweiker . Religion and the Future. , hlm. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 108 dimaksudkan golongan ini adalah agama. Pandangan kaum partikularis ini menantang agama untuk melihat dirinya sebagai sebuah lembaga yang eksklusif ataukah inklusif serta menantang caranya berada di dunia ini. Agama, sudah sejak lama mengalami proses globalisasi pada dirinya sendiri. Studi Juergens Meyer menyatakan bahwa setidaknya terdapat tiga ciri globalisasi agama yakni: global diasporas, transnational religions dan the religion of plural societies. Pertama, ciri diaspora agama sudah ditunjukkan dalam sejarah agama awal mula ketika bangsa Yahudi mengalami dua tahap pembuangan ke luar negerinya, dan selanjutnya berekspansi ke Eropa serta menyebar ke seluruh dunia. Kristianitas pun mengalami hal demikian, ketika pewartaan Injil menyebar dari Yerusalem ke seluruh dunia. Muslim pun Penganut muslim Pakistan keluar dari negerinya dan menetap di New Jersey. Di Jerman, kita bisa menemukan kehadiran penganut Budha Tibet. Ketika para penganut agama-agama ini berada di luar daerahnya, tidak dapat disangkal bahwa mereka menemukan bentuk baru dari perjumpaan dengan kebudayaan tempatnya berada. Kedua, kehadiran agama-agama di berbagai belahan dunia memungkinkan ketertarikan bagi banyak orang. Banyak orang dari berbagai wilayah di dunia tertarik dan memilih untuk memeluk agama yang ada tersebut. Para penganut agama tidak hanya disandang oleh pemeluk aslinya saja, melainkan terbuka pada semua orang dan dari berbagai bangsa. Hal ini menjadikan agama sebagai agama yang melampaui batasan negara asalnya . ransnational religion. Ketiga, pertemuan dengan kebudayaan lain menuntut agama-agama untuk beradaptasi dan mengambil nilai-nilai positif dari kebudayaan setempat. Dalam bentuknya yang sudah mapan kini, dapat diperhatikan bahwa banyak praktek dan kekayaan agama-agama yang sebenarnya diambil alih dari kebudayaan setempat. Semua ini dilakukan untuk mempertegas identitasnya masingmasing, serta agar bisa diterima secara universal oleh semakin banyak orang dari berbagai latar belakang budaya. Pandangan Juergens Meyer ini menegaskan identitas setiap agama. Tidak ada agama yang AumurniAy. Semuanya telah berproses dan mengalami perubahan yang signifikan hingga memperoleh bentuknya kini. Agama mengalami hibriditasi berdasarkan pesan tradisional yang dibawa sejak awal dan kebudayaan atau konteks tumbuhnya agama di suatu tempat. Berger mengartikan hibriditasi sebagai suatu usaha sengaja untuk menyintesiskan sifat-sifat kebudayaan asing dan lokal. 18 Agama-agama telah melewatinya hingga pada saat ini dan masih akan terus berlanjut. Keberlanjutan hibriditasi agama-agama membutuhkan kejelian setiap agama untuk tetap bertahan dan beridentitas. Hal ini diperlukan karena agama hidup di dalam dunia yang bergerak maju. Klemm, mengikuti alur pikiran JJ Rousseau yang menandaskan bahwa agama yang benar adalah agama yang merangkul pengalaman Mark Juergensmeyer. Global Religions: an Introduction, (New York: Oxford University Press, 2. Authe deliberate effort to synthesize foreign and native cultural traits. Ay dalam Peter L. Berger. Samuel Huntington . Many Globalization: Cultural Diversity in the Contemporary World, (New York: Oxford University Pres. , hlm. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 109 pribadi manusia . atural religio. serta setia pada agama wahyu yang dianutnya . evealed religio. Keduanya ini akan membuat pemeluknya untuk beridentitas secara Tidak berhenti di situ, agar agama tetap bisa eksis dalam dunia. Klemm menawarkan usulan bagi setiap agama guna melihat posisi agama kekinian . ctual 19 Actual religion adalah pengalaman iman manusia pada zaman ini yang sangat beragam serta memiliki berbagai cara melihat dan menginterpretasikan realitas. Ketiga jalan yang ditawarkan Klemm ini perlu dihidupi setiap agama agar tidak menjadi fundamentalis . ypertheism dan overhumanis. melainkan memiliki nilai jual yang tinggi dalam dunia sekular ini. IV. Agama Sebagai Komoditas Hidup di Indonesia Sejak berkembangnya ilmu pengetahuan, agama terus menerus mendapatkan Agama bahkan dianggap sebagai khayalan, candu, obat penghibur bagi mereka yang mengalami kesulitan dan penderitaan. Menurut beberapa sosiolog pun, agama tidak lebih dari sebuah organisasi sosial. Pada zaman ini, sebagian orang, khususnya pada akademis melihat agama sebagai sebuah fenomena historis yang terjadi dalam perjalanan hidup manusia semata. 20 Sisi transendens agama diabaikan. Agama dilihat semata dari segi manfaat-gunanya. Dalam kehidupan manusia, agama juga banyak kali disalahkan. Ia disalahkan karena berbagai praktek hidup pemeluknya yang Kebanyakan para filsuf . begitu kecewa dengan praktek keagamaan yang ada sehingga memilih tidak beragama dan berTuhan. Mereka lebih memilih menjadi humanis murni daripada menjadi agamis. Dalam sejarah, kemunculan sekularis juga dilatari oleh kekecewaan terhadap kehadiran dan peran agama dalam kehidupan bernegara. Agama seringkali menekan dan dijadikan landasan pijak berpikir dan bertindak manusia. Sekularisasi membuka mata agama akan pentingnya pembagian porsi yang seimbang dalam kehidupan di dunia ini. Sekularisasi ini tentu saja mendapatkan tantangan dari kaum fundamentalis agama. Kaum fundamentalis beranggapan bahwa ajaran agama perlu ditegakkan dan tidak boleh terkontaminasi dengan hal-hal duniawi. Bagi mereka, masalah iman tidak bisa dipercayakan pada daya nalar manusia melainkan hanya pada pernyataan diri . Tuhan. Mereka mengultimkan peran agama dan ajarannya di atas nilai kebangsaan mana pun, dengan ideologi negara masing-masing. Mereka menentang kaum liberal yang memilih berseberangan dengan mereka. Kaum liberal yang mengambil langkah dialogis dengan situasi dunia dianggap mereka sebagai heresi humanis-sekular. Perdebatan ini coba dijembatani oleh beberapa tokoh demi menemukan titik temu dan peran sentral agama dan negara dalam hidup manusia. Nicholas Wolterstorff menekankan bahwa agama dan negara berada bersama dalam ruang dan waktu. David E. Kleem dan William Schweiker . Religion and the FutureA, hlm. Au. many current scholars concentrate on the particular religions as historical phenomena occurring within human cultures. Ay David E. Kleem dan William Schweiker. Religion and the Future, (UK: Blackwell Publishing, 2. , hlm. David E. Kleem dan William Schweiker . Religion and the Future. , hlm. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 110 Keduanya berbeda namun tidak untuk dipertentangkan. Keduanya diakui dalam negara demokrasi, namun perlu dipilah fungsi dan peranannya. Ia menawarkan sebuah model atau cara berada agama dalam negara demokrasi liberal, yakni AuconsocialAy. 22 Model consocial memiliki dua ciri utama yakni: . menanggalkan ajaran moral dan alasan agamis dalam kehidupan bernegara agar benar-benar independen. negara bersikap netral dalam menghormati kehadiran perspektif religius dalam diri masyarakatnya. Ide ini mengedepankan sikap tidak berat sebelah . dan bukannya pemisahan . Ketiadaan peran agama dalam kancah urusan negara bukan berarti sekularisasi murni, melainkan lebih pada prinsip keadilan dan kenetralan demi obyektifitas cara berpikir dan keputusan yang dihasilkannya. Selain konsep consocial dari Wolterstroff. Mahfud MD mempertegas keindonesiaan kita sebagai prismatic society. 23 Model prismatic society sebenarnya telah dipopulerkan oleh FW Riggs untuk menyebut masyarakat yang masih tercampur antara unsur tradisional dan unsur modern dalam perjalanannya menuju ke arah modern. Mahfud menekankan model prismatik ini untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai demokrasi Pancasila yang dihidupi, sebenarnya merupakan hasil ekletikasi antara model demokrasi modern dan kearifan lokal nusantara. 24 Demokrasi Pancasila mendukung peradaban bangsa untuk bersaing dengan negara lain sambil tetap mempertahankan identitas agama para warganya. Dari pembahasan ini, khususnya dengan berbicara tentang demokrasi Pancasila yang hidup di Indonesia, kita mengetahui bahwa agama masih memainkan peran penting bagi pertumbuhan bangsa ini. Pendukung ideologi bangsa, yakni Pancasila merupakan bukti peran agama dalam menentukan arah perjalanan bangsa. Para pemuka agama, tentu saja karena ditopang tokoh-tokoh nasional telah meletakkan dasar kepada bangsa ini bahwa walaupun agama memiliki peran penting, tetapi ia tidak egois, tidak menjadikan negara ini sebagai negara-agama. Dalam dunia sekular seperti saat ini, peran agama tetap menonjol. Dalam kajian Bellah, setiap manusia memiliki dan membutuhkan pengalaman religius. Pengalaman ketika manusia tidur sebenarnya merupakan pengalaman religius sederhana, yang membawa manusia keluar dari realitas harian sementara. Di sini, dibedakan antara aktifitas manusia sehari-hari . aily lif. dengan pengalaman religius manusia beragama. Aktifitas harian AuAs an alternative. Wolterstorff suggests a form of liberal democracy he describes as AoAoconsocial. AoAo It has two main features. First. AoAoit repudiates the quest for an independent source and it places no moral restraint on the use of religious reason. And second, it interprets the neutrality requirement, that the state be neutral with respect to the religious and other comprehensive perspectives present in society, as requiring impartiality rather than separationAy . alam Miroslav Volf. A Voice of OneAos Own. Mahfud MD. Visi Kebangsaan Indonesia Raya: Antara Keislaman dan Keindonesiaan (Orasi Kebangsan yang diselenggarakan Vox Point Indonesia. Kamis 31/7/2. , dalam Gita Sang Surya. Vol. 13 No. 4 Juli-Agustus 2018, hlm. pembahasan AuGenesis Demokrasi PancasilaAy dalam Subiakto Tjakrawerjaja. Soedarno. PS. Lenggono. Demokrasi Pancasila, (Jakarta: Penerbit Universitas Trilogi, 2. , hlm. Au. filsafat etnik Nusantara dipilih-dipilah sebelum diambil manfaatnya. Aspek-aspek lama yang mendukung sistem kenegaraan yang baru, diambil dan dipadukan dengan aspek-aspek Barat modern. Islam, dan lainnya. Ay (Ibid. , hlm. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 111 manusia seperti rekreasi, menonton, dan sebagainya, dilakukan untuk menghilangkan kecemasan secara temporal. Tindakan ini mensubstitusi situasi namun tidak mengubah signifikansi waktu. Agama, melalui ritualnya menciptakan momen dalam waktu, dan pada saat yang sama menyatukan yang imanen dan transenden. Momen itu melampaui ruang dan 26 Kepuasan yang dicari manusia dalam kehidupan sebenarnya berpuncak pada suatu event di mana ia dapat melebur di dalam ruang dan waktu. Klemm meyakini bahwa setiap pemeluk agama yang benar akan mencapai integritas spiritual. Integritas spiritual bukan sekedar usaha keras untuk pemenuhan diri, melainkan lebih untuk mendedikasikan diri guna bertanggung-jawab dan mempertinggi integritas hidup. 27 Peran agama adalah berusaha membantu para pemeluknya untuk mencapai integritas spiritual. Ketika para pemeluk agama telah mencapai identitas spiritual seperti yang dimaksud, kehidupan bernegara akan menjadi semakin baik, karena semuanya hidup secara bertanggung jawab dan berkomitmen penuh. Penutup Ideologi bangsa Indonesia telah final. Indonesia menganut demokrasi, dengan berlandas pada Pancasila dan UUD 1945-nya. Landasan ini adalah dasar pijak dan penggerak kehidupan bangsa Indonesia, termasuk juga semua agama yang hidup di Indonesia. Apakah kehadiran agama tak berperan sama sekali? Agama adalah organisme beridentitas dalam universalitas. Ia bergerak secara dalam multiplisitas etnis, kebudayaan, dan zaman. Agama memiliki daya tarik yang khas yang sukar untuk diabaikan, bahkan ketika diperhadapkan pada proses sekularisasi. Agama masih sangat bermakna bagi manusia, di samping adanya berbagai alasan penolakan pribadi-pribadi pada kehadiran agama. Tantangan agama dewasa ini yakni bagaimana ia bisa tetap berada dalam hati manusia modern dan menawarkan nilai lebihnya demi membawa manusia pada tujuan hidup yang sesungguhnya. Sampai pada tahap ini, kita dapat mengatakan bahwa agama harus tetap bersosialisasi dengan dunia untuk menentukan keunikannya serta dari keunikannya itu, ia menarik manusia dengan penuh kekaguman. Agama telah bertahan hidup dalam sejarah manusia. Ia dibawa, bersosialisasi, dan mendapatkan bentuknya dalam sejarah. Agama adalah sesuatu yang cibernetis. Daya kehadiran agama dalam dunia ini tetap diperhitungkan, dan bahkan tetap menjadi komoditas utama bagi manusia. Terdapat berbagai kekayaan agama yang mampu memuaskan hasrat dan identitas manusia. Dan itu tidak dapat dimiliki dari dunia ini. Ciri hybrid agama-agama sebenarnya merupakan komoditas terbesar dalam mengarungi peradaban zaman. Dunia modern menuntut setiap pihak untuk bersikap Agama telah membuktikan bahwa dirinya plastis sehingga masih bertahan kini dan di sini. Ciri agama ini merupakan nilai jual agama dalam dunia sekuler. Ketika terdapat banyak hal yang berubah-ubah tanpa identitas, agama tetap hadir secara dinamis dengan identitasnya yang unik. Robert N. Bellah. Religion in Human Evolution. , hlm. David E. Kleem dan William Schweiker . Religion and the Future. , hlm. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. Daftar Pustaka