SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 PENINGKATAN KEMAMPUAN WUDHU SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA GAMBAR PADA MATERI WUDHU KELAS II SD Siti Rukhana Sekolah Dasar Negeri 020 Kemang Manis Rengat Barat Indragiri Hulu. Riau. Indonesia e-mail: sitirukhanaaja1234@gmail. Abstrak Pembelajaran wudhu dengan menggunakan media alat peraga gambar ini merupakan inovasi baru yang dilakukan di sekolah ini karena biasanya hanya disampaikan dengan metode Akhirnya hasil belajar siswa kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: . Kemampuan siswa kelas II SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu tahun ajaran 2017/2018 dalam melakukan wudhu. Dengan media gambar dalam meningkatkan kemampuan wudhu siswa kelas II SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu tahun ajaran 2017/2018. Dilihat dari perbandingan hasil praktik siswa antara pra siklus yaitu 63,33, sedangkan pada hasil praktik wudhu pada siklus I adalah 69,71, dan hasil praktik wudhu pada siklus II adalah 77,6. Dari hasil ini membuktikan bahwa hipotesis yang diajukan diterima yang berbunyi bahwa kemampuan wudhu siswa kelas II pada bahasan wudhu akan meningkat jika diterapkan dengan menggunakan media alat peraga gambar di SDN 020 Kemang Manis Kata kunci: media gambar, alat peraga, wudhu Abstract Learning ablution using the media of visual aids is a new innovation carried out in this school because it is usually only delivered by the lecture method. Finally student learning outcomes are less than optimal. This study aims to determine: . The ability of Grade II students of SDN 020 Kemang Manis. Rengat Barat District. Indragiri Hulu District, 2017/2018 school year to perform . By drawing media in improving the ablution ability of students in grade II at SDN 020 Kemang Manis. Rengat Barat District. Indragiri Hulu District, the 2017/2018 school year. Judging from the comparison of student practice results between pre-cycle that is 63. 33, while the results of ablution practice in the first cycle was 69. 71, and the results of ablution practice in the second cycle was 77. From these results prove that the proposed hypothesis is accepted which reads that the ablution ability of the second grade students in the ablution discussion will increase if applied using the media of visual aids in SDN 020 Kemang Manis. Keywords : image media, props, ablution Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 PENDAHULUAN Kita sebagai manusia diciptakan oleh Allah hanyalah untuk beribadah. Berbagai macam kegiatan ibadah yang diperintahkan Allah kepada kita supaya kita Ibadah yang sudah ditentukan oleh Allah kepada kita yang tertera di dalam Al QurAoan merupakan ibadah mahdhah, seperti halnya ibadah shalat wajib lima waktu, ibadah puasa bulan ramadhan, kewajiban zakat bagi yang sudah memenuhi, ibadah haji bagi yang sudah mampu dan lain sebagainya. Sedangkan ibadah yang belum tercantum di dalam Al QurAoan adalah ibadah ghairu mahdhah, seperti halnya menyingkirkan gangguan dari jalan dan lain sebagainya. Ibadah pada sejatinya merupakan rasa syukur kita sebagai sikap penghambaan kepada Allah yang telah menciptakan kita, memberi kesehatan dan segala macam nikmat yang telah kita rasakan, kemudian kita menjalankan perintahNya. Karena semisal kita tidak melakukan perintah beribadah kepada Allah. Allah pun tidak akan berkurang sifat kuasanyaNya, apalagi merugi. Tetapi kita sendiri yang rugi, karena akan tergolong termasuk orang-orang yang merugi, orang-orang yang telah melanggar perintahNya, dan akan mendapat balasan yang sangat mengerikan yaitu di neraka. Dipandang dari arah kita beribadah bisa dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu amal ibadah langsung kepada Allah . ablu min Alla. , dan juga amal ibadah kita terhadap sesama makhluk . ablu min an na. Amal ibadah yang langsung kepada Allah diharapkan supaya kita dalam kondisi yang bersih, baik dari hadats maupun najis, baik jasmani maupun rohaninya. Salah satu usaha kita untuk membersihkan jasmani kita dari hadats yaitu dengan Wudhu merupakan kunci kita ketika kita akan melaksanakan shalat maupun ibadah yang ada ketentuan bersih dari hadats. Semisal saja ibadah shalat, kita harus bersih dari hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar. Wudhu kita mempengaruhi sah tidaknya shalat kita. Tidak hanya shalat kita tetapi semua amalan ibadah yang membutuhkan suatu keadaan suci dari hadats kecil, semuanya kuncinya adalah Jadi wudhu merupakan suatu langkah awal yang benar-benar harus sempurna sebelum kita melangkah pada amalan ibadah yang lainnya. Kita sebagai orang beriman diperintahkan untuk shalat, tetapi sebelum shalat kita diperintahkan untuk berwudhu dulu. Dalam berwudhu, sesuai yang disebutkan ayat Al QurAoan di atas, ada bagian-bagian tubuh yang harus dibasuh dan diusap, yaitu membasuh muka, kedua tangan sampai siku, dan mengusap sebagian kepala, dan membasuh kaki sampai mata kaki. Berwudhu pada prinsipnya menggunakan air, walaupun ketika kesulitan air bisa diganti dengan debu untuk bertayamum. Di dalam Al QurAoan pun telah dijelaskan tentang tata cara berwudhu yaitu : Karena begitu pentingnya wudhu, maka peneliti mencoba mengajarkan pada siswa tentang wudhu dengan metode gambar sedini mungkin yaitu di kelas II, karena selama peneliti lihat, wudhu anak-anak lebih-lebih pada siswa kelas II, untuk berwudhu saja belum begitu bisa, masih banyak yang salah tidak sesuai dengan tata urutan rukun maupun belum memenuhi kesempurnaan gerakannya, karena cara membasuhnya masih asal-asalan saja. Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti tentang wudhu ini dengan harapan nantinya siswa bisa melakukan wudhu dengan benar yang nantinya ibadah-ibadah yang lain bisa sempurna. Penegasan Istilah Untuk menghindari kesalah pahaman dalam mengartikan apa yang penulis bahas nantinya maka penulis jelaskan dulu tentang istilah-istilah yang terkandung didalam tulisan ini. Kemampuan Wudhu Siswa Kemampuan berarti kesanggupan, kecakapan, kekuatan. Sedangkan wudhu dalam pengertian luas ialah: "membersihkan diri dari kotoran dan najis. menghilangkannya dari badan, atau tempat yang terkena dengan alat-alat bersuciAy. Adapun wudhu adalah sebuah ibadah yang dilakukan guna mensucikan diri dari hadast kecil untuk melakukan ibadah yang lain yang ada syarat untuk suci dari hadast kecil sehingga ibadah tersebut bisa sah. Media Gambar Kata media didalam kamus umum bahasa Indonesia diartikan sebagai suatu alat atau sarana untuk menyebarluaskan informasi seperti radio, surat kabar. TV, dll. Kemudian dalam bahasa arab yang dikutip dari bukunya Azhar Arsyat kata media diartikan sebagai perantara wasailun, atau sebuah pengantar pesan kepada penerima. Sedangkan kata media secara garis besar adalah : manusia, materi, atau kejadian, yang dapat membangun kondisi dan membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Sedangkan kata gambar dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah tiruan barang seperti orang, dll, yang dibuat dengan coretan pensil pada sebuah kertas, kayu. Atau menurut Mukhtar gambar merupakan segala sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi sebagai curahan perasaan atau fikiran. Jadi media gambar adalah suatu yang digunakan untuk mencapai pesan dalam bentuk gambar, untuk mencapai sebuah pembelajaran. Pada penelitian ini peneliti menyajikan gambar orang wudhu, yang dilaksanakan pada kelas II di SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu tahun ajaran 2017/2018. Rumusan Masalah Berdasarkan judul dan latar belakang masalah di atas, maka penulis bisa merumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimana kemampuan wudlu siswa kelas II SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu tahun ajaran 2017/2018 ? Apakah melalui penggunaan alat peraga gambar pada materi wudlu kelas II siswa SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu dapat meningkatkan kemampuan wudlu siswa ? Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Researc. Penelitian tindakan merupakan suatu proses yang memberikan kepercayaan pada pengembangan kekuatan berpikir reflektif, diskusi, penentuan keputusan dan tindakan oleh orangorang biasa, berpartisipasi penelitian kolektif mengatasi kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi kegiatannya. Mengutip definisi yang dikemukakan oleh Stephen Kemmis seperti dikutip dalam Hopkins dalam bukunya yang berjudul A TeacherAos Guide To Classroom Reaserch. Bristol. PA. Open University Press, 1993, halaman 44 dapat dijelaskan pengertian PTK adalah sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, memperbaiki kondisi di mana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan serta dilakukan secara kolaboratif. Penelitian ini menurut Kurt Lewin menggambarkan penelitian tindakan sebagai suatu proses siklikal spiral yang meliputi beberapa langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu. Penelitian ini berlangsung selama satu bulan . Pada minggu pertama digunakan untuk kegiatan persiapan, yaitu dengan melakukan penentuan siswa yang diteliti, mengkondisikan tempat untuk praktik, dan persiapan administrasi, dan juga digunakan untuk kegiatan pembelajaran siswa tentang wudhu . iklus I), yaitu melaksanakan pembelajaran oleh guru di kelas dengan menggunakan metode ceramah kemudian dilengkapi dengan menggunakan alat peraga gambar orang berwudhu, pertama menggunakan gambar secara satu-satu atau satu gambar dengan satu bagian kegiatan orang wudhu. Contohnya satu gambar hanya saat sedang cara berkumur atau saat orang sedang membasuh muka. Minggu kedua melaksanakan evaluasi siklus I, yaitu dengan mengadakan tes praktik wudhu secara bersama-sama kemudian dilanjutkan dengan praktik secara individu. Minggu ketiga pelaksanaan pembelajaran siklus II, yaitu guru melakukan proses pembelajaran dengan materi wudhu. Tetapi lebih meningkatkan pada penggunaan media Dan juga siswa diberi buku pantauan untuk memantau kegiatan di rumah, ketika habis melaksanakan wudhu diharap mengisi buku pantauan siswa. Jadi nantinya akan kelihatan bagi siswa yang aktif melaksanakan wudhu di rumah dan yang jarang melakukannya. Minggu keempat evaluasi untuk siklus II. Evaluasi berupa tes praktik wudhu dimulai dari bersama-sama kemudian tes secara individu. Pada pelaksanaannya nanti akan direfleksi pada setiap siklus berjalan Teknik Pengumpulan data Metode pengumpulan data dilakukan secara terjadwal. Pengumpulan data menggunakan multi metode yakni : Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Metode Pengamatan . Metode pengamatan . cara pengumpulan data terjun langsung ke lapangan terhadap objek yang diteliti . opulasi atau sampe. Metode pengamatan ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan alat peraga gambar dalam pembelajaran wudhu dan untuk mengamati praktik wudhu siswa yang dilakukan di SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu kelas II semester II tahun ajaran 2017/2018. Metode Test Metode evaluasi yang digunakan adalah jenis test. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan penguasaan materi maupun bentuk praktiknya yang diperoleh siswa dari pembelajaran yang telah dilaksanakan yaitu tentang wudhu. Jenis tesnya adalah tes praktik, yaitu mempraktikkan gerakan wudhu sekalian bacaanbacaan ketika berwudhu di setiap siklusnya untuk mengukur kemampuan wudhu Metode Wawancara . Metode Wawancara . Yaitu metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematik dan berlandaskan pada tujuan Maksud metode ini mengadakan komunikasi langsung terhadap peserta didik yang sedang belajar. Untuk mengetahui dari beberapa kesulitan yang dialami siswa, baik dari dalam belajar, kesulitan memahami gambar, ketika melaksanakan di sekolah ketika mau shalat berjamaah dhuhur, sampai kesulitan-kesulitan yang dialami siswa di rumah masing-masing guna memperoleh informasi dari semua siswa tentang kesulitan yang dihadapi, sehingga sebagai bahan masukan untuk memperbaiki pada siklus Metode Dokumentasi Sumber dokumentasi pada dasarnya ialah segala bentuk sumber informasi yang berhubungan dengan dokumen baik resmi maupun tidak resmi. Metode dokumentasi ini digunakan untuk mengumpulkan data fisik yang berbentuk tulisan maupun artifact, foto dan sebagainya. Yaitu pada penelitian ini untuk mengumpulkan data berupa gambar siswa sedang praktik wudhu. Teknik Analisis Data Analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola kategori dan satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan ide yang disarankan oleh data. Sebagaimana dalam pelaksanaan PTK, analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Analisis kualitatif digunakan untuk memberikan informasi yang menggambarkan peningkatan hasil belajar dan aktivitas belajar peserta didik. Data kualitatif ini berupa kata-kata atau simbol. Data kualitatif yang berbentuk kata-kata tersebut disisihkan sementara, karena akan sangat berguna untuk menyertai dan melengkapi gambaran yang diperoleh dari analisis data kuantitatif. Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Analisis Kuantitatif digunakan untuk menganalisis nilai hasil belajar peserta didik dan perolehan skor aktivitas belajar pada pembelajaran melalui alat peraga Dalam hal ini peneliti menggunakan statistik deskripif dengan mencari nilai rata-rata dan prosentase dari hasil belajar maupun aktivitas belajar peserta didik, sebagaimana rumus: Keterangan = jumlah skor peserta didik = Jumlah skor keseluruhan = Jumlah skor dalam persen Indikator Pencapaian. Indikator keberhasilan dari penelitian ini apabila terjadi peningkatan pada prestasi belajar siswa tentang materi yang sudah diajarkan pada tiap-tiap siklus, yaitu tentang Dimulai dari definisi, rukun, syarat air, sunnah, dan hikmahnya. Untuk besaran kualitas nilai yaitu 70 dilihat dari hasil tes praktik siswa secara individu. HASIL DAN PEMBAHASAN Pra Siklus Selama ini pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sebenarnya menyambung dan meluas dari tingkat pendidikan yang lebih rendah, namun begitu kondisi siswa dalam praktiknya belum mampu mengaplikasikan strategi pembelajaran yang berorientasi dalam kehidupan sehari-hari melalui penanaman nilai pada diri peserta didik. Serta masih terjadi komunikasi satu arah artinya peserta didik cenderung pasif dan kurang mempunyai pengalaman belajar dalam pembelajaran. Sehingga peserta didik kurang menyukai pelajaran PAI dan menyebabkan hasil belajar rendah. Hal ini terbukti dengan rata-rata hasil belajar dan prosentase ketuntasan belajar peserta didik yaitu hasil dari evaluasi pra siklus peserta didik kelas II pada tahun ajaran 2017/2018 semester I belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Pada pelaksanaan pra siklus ini peneliti belum memberikan metode yang akan ditawarkan pada para siswa sehingga pengajaran yang digunakan masih murni belum tercampur oleh metode yang akan diterapkan pada penelitian ini, peneliti masih menggunakan metode yang konvensional yaitu menjelaskan materi wudhu kepada peserta didik dengan detail atau menyeluruh sedangkan aktivitas peserta didik hanya mendengarkan penjelasan guru dan mencatat dari tempat duduk mereka masingmasing. Setelah guru menjelaskan materi wudhu maka dilanjutkan dengan memberikan contoh sedangkan peserta didik menyalinnya di buku tulis mereka masing-masing. Laporan pra siklus dilakukan dengan mengambil evaluasi dari pembelajaran pada materi sebelumnya. Berdasarkan evaluasi pembelajaran diperoleh nilai rata-rata. Sedangkan observasi pada tahap pra siklus menggunakan instrumen observasi yang dipegang oleh peneliti. Observasi ini bertujuan untuk mengetahui keaktifan peserta Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 didik sebelum penerapan menggunakan media gambar. Adapun hasil belajar dan keaktifan peserta didik pada tahun lalu dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 1. Hasil belajar dan Keaktifan peserta didik pra siklus Rata-rata Hasil belajar Ketuntasan Belajar Keaktifan peserta didik Berdasarkan data di atas dapat diperoleh nilai evaluasi pada tahap pra siklus adalah 63,33 dengan ketuntasan belajar 58,33%. Dokumentasi ini diperoleh dari Guru Kelas II di SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu. Berkaitan dengan keaktifan peserta didik, diperoleh berdasarkan wawancara guru kelas II, dengan prosentase keaktifan peserta didik adalah 56,5%. Berdasarkan hasil wawancara dengan Guru Kelas II di SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu menyatakan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran belum menggunakan strategi PAIKEM, metode yang digunakan masih menggunakan metode konvensional dan masih terjadi komunikasi satu arah artinya peserta didik cenderung pasif dan kurang mempunyai pengalaman belajar dalam pembelajaran. Sehingga peserta didik kurang menyukai pelajaran PAI dan menyebabkan hasil belajar rendah. Hal ini terbukti berdasarkan tabel diatas diperoleh KKM di bawah 7,0. Kondisi seperti ini tentunya berakibat pada nilai mid semester atau semester rendah karena materi tersebut berkaitan. Adanya hal tersebut bisa disimpulkan pembelajaran tahun-tahun lalu masih terpaku dengan guru dan peserta didik kurang aktif dalam pembelajaran, hal ini menjadikan pembelajaran ini belum sesuai dengan apa yang dikatakan dengan pembelajaran aktif karena pembelajaran masih menggunakan metode konvensional yaitu ceramah menjadikan penanaman konsep dalam materi kurang. Mengkaji pembelajaran konvensional yang belum mampu menghasilkan nilai diatas rata-rata sesuai KKM, maka dapat disimpulkan bahwa masalah yang terjadi adalah guru dan model pembelajaran yang perlu dirubah, untuk itu perlu adanya metode yang spesifik yang baru yang mampu meningkatkan prestasi belajar dan keaktifan peserta didik, salah satunya metode yang ditawarkan oleh peneliti yaitu menggunakan media gambar Hasil Siklus I Hasil pengamatan yang didapatkan oleh peneliti terhadap aktifitas peserta didik pada siklus pertama, adalah sebagai berikut: Penelitian siklus I ini dilaksanakan satu minggu setelah diajukannya surat ijin risert kepada kepala sekolah tetapi Lembar Kerja Siswa (LKS) belum dibagikan kepada peserta didik sehingga pembelajaran mengalami kesulitan karena peserta didik belum memiliki pedoman tentang materi. Keaktifan peserta didik dalam pembelajaran di kelas masih rendah, peserta didik yang aktif masih sedikit. Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Peserta didik kurang berani bertanya, maupun maju ke depan ketika ditawarkan kedepan untuk menunjuk mengurutkan gambar yang sudah disediakan guru, bahkan masih malu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Peserta didik belum bisa memaksimalkan waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tugas kelompok ketika diberi kesempatan bagi yang belum bisa pada satu kelompok untuk belajar atau minta diajari teman satu kelompoknya. Peserta didik yang duduk di belakang masih banyak yang berbicara sendiri atau ngobrol dengan teman sebangkunya saat guru menyampaikan materi. Meskipun keaktifan peserta didik pada siklus I masih rendah tetapi kemampuan peserta didik telah mengalami peningkatan dari tahap prasiklus, dimana kemampuan siswa pada tahap pra siklus hanya 56,5% meningkat menjadi 62,5%. Tabel 2. Perbandingan Prosentase Kemampuan pada Tahap Prasiklus dan Siklus I No. Pelaksanaan Siklus Prosentase (%) Prasiklus Siklus 1 Sebagaimana telah penulis paparkan pada sebelumnya bahwa pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pelaksana kegiatan pembelajaran, hal ini terjadi karena guru sebagai kolaborator merasa belum siap untuk melaksanakan pembelajaran menggunakan penerapan alat peraga gambar dikarenakan guru belum pernah menerapkan metodemetode aktif tersebut sehingga takut apabila terjadi kesalahan atau tidak sesuai prosedur yang ditentukan. Oleh karena itu peneliti yang melaksanakan proses pembelajaran. Hal ini sah-sah saja baik peneliti maupun guru boleh menjadi pelaksana pembelajaran, asalkan menjalankan pembelajaran sesuai dengan rancangan yang dibuat dengan metode pembelajaran yang dibuat oleh Adapun aspekaspek yang diamati terhadap aktifitas guru adalah: Mengamati guru memberikan apersepsi tentang materi pembelajaran yang akan . Mengamati guru memotivasi dan membangkitkan semangat peserta didik untuk . Mengamati guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya. Mengamati guru menyuruh mempelajari materi yang akan dibahas pada pertemuan mendatang. Hasil observasi terhadap aktifitas guru dalam pembelajaran pada siklus I yang telah dilakukan menghasilkan hal-hal sebagai berikut: Dalam memberikan apersepsi, guru menerangkan terlalu lama. Sehingga waktu untuk kegiatan inti menjadi berkurang. Guru kurang memberikan motivasi serta membangkitkan semangat peserta didik, sehingga peserta didik malas dalam mengikuti belajar. Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Guru lupa menyampaikan kepada peserta didik agar mempelajari materi yang akan datang. Prosentase kegiatan guru masih kurang optimal, hal ini terbukti dengan adanya beberapa langkah penerapan pembelajaran yang belum terlaksana. Tabel 2. Prosentase Keaktifan Siswa Tahap Siklus I No. Pelaksanaan Siklus Prosentase (%) Siklus I 67,18 Berkaitan dengan hasil tes akhir yang dilakukan di akhir pembelajaran pada siklus I didapat bahwa rata-rata hasil belajar pada tahap siklus I yaitu 69,71 yang berada di bawah standar yang ditentukan yaitu di bawah 70 dan dengan ketuntasan klasikal sebesar 66,66% dan ini masih dibawah indikator yang ditetapkan sebesar Tabel 3. Perbandingan Rata-rata Tes Akhir Pada Tahap Prasiklus dan siklus I Pelaksanaan Siklus Rata-rata Prosentase (%) Prasiklus 63,33 58,33 Siklus I 69,71 64,71 Dilihat dari tabel di atas perbandingan keaktifan dan hasil tes akhir pada tahap pra siklus yang masih menggunakan metode ceramah dan penugasan pada Lembar Kerja Siswa (LKS) dan siklus 1 yang menggunakan alat peraga gambar menunjukkan adanya peningkatan meskipun nilai yang dihasilkan masih di bawah kriteria minimal. Refleksi Pelaksanaan tindakan dan pengamatan terhadap aktifitas guru dan peserta didik saat pembelajaran berlangsung akan diperoleh informasi tentang hasil observasi. Hasil observasi itu kemudian dianalisis dan didiskusikan bersama dengan guru sebagai bahan refleksi. Refleksi ini dilakukan dengan: Menganalisis hasil pengamatan untuk membuat simpulan sementara terhadap pelaksanaan pengajaran pada siklus I. Mengetahui seberapa jauh tindakan yang dilaksanakan itu sesuai dengan tujuan yang diinginkan dalam proses pembelajaran tersebut. Mendiskusikan hasil analisis untuk tindakan perbaikan pelaksanaan kegiatan pada penelitian siklus II. Adapun hasil-hasil yang diperoleh dari tahap refleksi siklus I ini adalah: Pada minggu pertama pembelajaran. Lembar Kerja Siswa (LKS) belum dibagikan kepada peserta didik. oleh karena itu, untuk memudahkan pembelajaran. Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 LKS harus dibagikan agar bisa dibaca terlebih dahulu materi yang akan dibahas oleh peserta didik. Keaktifan peserta didik masih rendah disebabkan peserta didik belum terbiasa dengan kelompok. Oleh karena itu guru harus lebih sering menggunakan alat peraga jika materi yang dibahas baik untuk diterapkan dengan media gambar. Peserta didik yang kurang aktif bertanya diberikan kesempatan diberi pertanyaan terlebih dahulu untuk melatih keterampilan peserta didik dan mendorong siswa mengkonstruk sendiri pengetahuannya dengan bimbingan guru. Manajemen waktu harus lebih diperhitungkan lagi, sebab dalam belajar kelompok untuk kelas rendah seperti pada kelas II lebih membutuhkan waktu yang panjang dan lebih dibutuhkan tenaga dan kesabaran yang ekstra untuk mampu memahami karakteristik siswa dalam kelompoknya. Karena ada beberapa murid yang mengobrol sendiri saat pelajaran, maka dapat ditangani secara khusus oleh guru atau peneliti. Misalnya dengan wawancara non formal diluar jam pelajaran. Guru harus pandai memberikan motivasi serta membangkitkan semangat peserta . Guru agar menyampaikan bahasan yang akan dibahas pada pertemuan mendatang, agar peserta didik dapat mempelajari materi sebelum pelajaran Aktifitas guru masih rendah . 18%) disebabkan berbagai faktor seperti waktu yang singkat, kondisi sebagian peserta didik yang ramai dan lain-lain. Siklus II Hasil pengamatan aktifitas peserta didik dalam pembelajaran adalah: Lembar Kerja Siswa (LKS) sudah dibagikan kepada peserta didik, sehingga semakin memudahkan proses pembelajaran. Pada siklus II ini peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran yaitu sebesar 77,08% seperti berani bertanya, berkomentar serta menjawab soal dari guru walaupun jawaban itu salah. Tabel 3. Perbandingan Prosentase Kemampuan pada Tahap Siklus I dan Siklus II No. Pelaksanaan Siklus Prosentase (%) Siklus I Siklus II 77,08 Antusias peserta didik dalam bertanya, menjawab, sudah mulai nampak. Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan tes individu sudah cukup. Sehingga tidak perlu menyita jam istirahat peserta didik. Peserta didik yang duduk dibelakang masih banyak yang berbicara sendiri atau ngobrol dengan teman sebangkunya saat guru menyampaikan materi. Tidak berbeda dengan pembelajaran saat siklus I. Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 . Motivasi dan semangat sudah diberikan guru diantaranya dengan memberikan pujian serta memberikan nilai tambah bagi peserta didik yang aktif, sehingga banyak peserta didik terpancing untuk aktif. Adapun aspek-aspek yang diamati terhadap aktifitas guru pada siklus II adalah: Mengamati guru memberikan apersepsi tentang materi pembelajaran yang akan . Mengamati guru memotivasi dan membangkitkan semangat peserta didik untuk . Mengamati guru menanggapi hasil belajar siswa. Mengamati guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya. Hasil pengamatan aspek-aspek aktifitas guru dalam pembelajaran di atas adalah: Manajemen waktu sudah tertata dengan rapi. Baik dalam apersepsi, kegiatan inti, maupun dalam pelaksanaan tes individu. Pemberian motivasi dan semangat kepada peserta didik sudah sampaikan dengan baik. Guru telah memberikan bimbingan secara merata ketika membimbing peserta didik belajar. Guru banyak memberikan pujian terhadap peserta didik yang aktif dalam pembelajaran, serta terhadap semua ketua kelompok yang telah membantu para anggotanya utuk bisa. Tabel 4. Perbandingan Prosentase Keaktifan Siswa pada Tahap Siklus I dan Siklus II No. Pelaksanaan Siklus Prosentase (%) Siklus I 67,18 Siklus II 89,06 Berkaitan dengan hasil tes akhir yang dilakukan di akhir pembelajaran pada siklus II didapat bahwa rata-rata hasil belajar pada tahap siklus II yaitu 77,6 yang berada di atas standar yang ditentukan yaitu diatas 70 dan dengan ketuntasan klasikal sebesar 82,4% dan ini sudah di atas indikator yang ditetapkan sebesar 70%. Tabel 5. Perbandingan Rata-rata Tes Akhir Pada Tahap siklus I dan siklus II No Pelaksanaan Siklus Rata-rata Prosentase (%) Siklus I 69,71 64,71 Siklus II Dilihat dari tabel di atas perbandingan aktifitas belajar dan hasil tes akhir pada siklus I dan siklus II menunjukkan adanya sebuah peningkatan dari tiap-tiap siklus. Refleksi . Tes evaluasi pembelajaran wudhu menggunakan alat peraga gambar di sekolah. Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 . Menganalisis Hasil pengamatan untuk memperoleh gambaran bagaimana dampak dari tindakan yang dilakukan, hal apa saja yang perlu diperbaiki sehingga diperoleh hasil refleksi kegiatan yang telah dilakukan. Pembahasan Penelitian tindakan tahap prasiklus dilakukan untuk mengetahui hasil belajar peserta didik sebelum menggunakan media gambar. Tahap ini menggunakan nilai hasil belajar peserta didik sebelum penelitian dilaksanakan Yang mana menunjukkan bahwa prosentase ketuntasan belajar pada materi penyembelihan adalah 58,33% dengan nilai rata-rata 63,33. Data yang diperoleh tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar peserta didik pada tahap prasiklus dalam pembelajaran PAI materi pokok wudhu masih banyak terdapat nilai peserta didik dibawah rata-rata ketuntasan minimum yang telah diterapkan yaitu 70 . ujuh pulu. Kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran siklus I yang mana diketahui bahwa nilai rata-rata pada siklus I meningkat dibandingkan pada tahap prasiklus dari rata-rata 63,33 menjadi 69,71 pada siklus I denga prosentase sebesar 64,71%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada tahap siklus I ini hasil belajar peserta didik kelas II SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu dalam pembelajaran menggunakan media gambar ada peningkatan. Tetapi masih harus dilaksanakan siklus ke 2 untuk mendapatkan nilai diatas kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran PAI di SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu. Kemudian dilanjutkan lagi pada siklus kedua yang mana dapat diambil kesimpulan bahwa pada tahap siklus II hasil belajar peserta didik kelas II SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu dalam pembelajaran menggunakan media gambar ada peningkatan drastis, dari semula jumlah ketuntasan 64,71 % dengan nilai rata-rata 69,71 pada siklus I menjadi 82,4 % dengan nilai rata-rata 77,6 pada siklus II. Yang akhirnya bisa kita lihat bahwa dalam pembelajaran pada siklus I menghasilkan rata-rata 69,71, setelah di lakukan pembelajaran pada siklus II rata-rata naik menjadi 77,6. Jadi pembelajaran pada materi wudhu dengan menggunakan alat peraga gambar bisa meningkatkan prestasi belajar PAI siswa di SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu tahun pelajaran 2017/2018. Dan untuk melanjutkan kebiasaan siswa dalam berwudhu baik dari urutan tata cara maupun bacaan, peneliti masih melanjutkan penggunaan alat peraga gambar karena sudah terbukti bisa meningkatkan prestasi belajar siswa. Dengan demikian hipotesis tindakan dan indikator keberhasilan dapat dicapai sehingga tidak perlu dilakukan siklus berikutnya. Berdasarkan hasil tes praktik siklus II dengan rata-rata hasil belajar peserta didik 77,6 dan ketuntasan belajar 82,4%, maka dapat disimpulkan dengan penerapan model pembelajaran dengan menggunakan media gambar dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik kelas II SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu semester II tahun ajaran 2017/2018 pada materi pokok mempraktikkan wudhu. Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan, maka dapat . Pembelajaran PAI yang dilakukan di SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu pada semester II tahun pelajaran 2017/2018 dilakukan dengan beberapa proses yang disusun dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat langkah-langkah proses pembelajaran yaitu : . Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil . untuk memudahkan dalam pengawasan. Guru menunjuk ketua dan sekretaris untuk mengkondisikan anggota kelompoknya masing-masing, yaitu mencatat para . Guru menjelaskan pelajaran menggunakan media gambar untuk lebih mudah diingat oleh siswa yang kemudian dipraktikkan oleh masing-masing kelompok dengan gambar masih dipasang di depan kelas. Masing-masing kelompok melaksanakan praktikkan tanpa gambar. Guru mengamati pelaksanaan praktik siswa pada siklus I maupun siklus II. Guru memastikan siswa melaksanakan praktik wudhu dalam kondisi yang kondusif jadi siswa bisa fokus terhadap kegiatan pembelajaran. Setelah selesai setiap kelompok ditanya dimana kesulitannya dalam melaksanakan praktik wudhu, kemudian ketua kelompok membimbing anggotanya yang masih kesulitan memecahkan masalah dimana yang masih dianggap sulit. Pembelajaran PAI pada materi wudhu dengan media gambar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SDN 020 Kemang Manis Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu Semester II tahun ajaran 2017/2018. Ini terbukti pada penelitian pra siklus rata-rata hasil belajar masih 63,33. Mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 69,71 dan meningkat lagi pada penelitian tindakan siklus II sehingga dapat mencapai nilai diatas kriteria minimum 70 yaitu dengan nilai ratarata 77,08. Saran Mengingat pentingnya wudhu untuk umat Islam lebih-lebih untuk anak-anak, maka guru harus lebih giat dalam melaksanakan pembelajaran tentang wudhu untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya materi wudhu pada peserta didik, peneliti mengharapkan beberapa hal yang berhubungan dengan masalah tersebut diatas sebagai berikut. Kepada Guru PAI Hendaknya dalam proses belajar mengajar, guru harus benar-benar paham menyiapkan pembelajaran dengan sebaik mungkin, agar materi tersampaikan secara maksimal. Dalam pembelajaran PAI guru harus mampu memilih model dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan kepada peserta didik agar peserta didik merasa mudah dalam memahami materi. Hendaknya pembelajaran dirancang sedemikian rupa dan memperkaya variasi Hal ini untuk mengantisipasi kejenuhan yang dialami oleh peserta Jurnal Pendidikan Tambusai . SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 342-356 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Dan selalu memantau perkembangannya terutama dari perilaku, pemikiran dan pemahaman terhadap materi yang diajarkan. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga gambar pada mata pelajaran PAI materi wudhu agar dapat dilakukan tidak hanya sampai pada selesainya penelitian ini saja, akan tetapi dilanjutkan dan dilaksanakan secara kontinu sebagai program untuk meningkatkan semangat dan mengurangi kejenuhan pada waktu melaksanakan pembelajaran. Pihak sekolah Hendaknya seluruh pihak sekolah mendukung dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Memfasilitasi proses pembelajaran dengan melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Kepada semua pihak sekolah terutama para guru, sudah seharusnya meningkatkan kompetensi termasuk kompetensi professional serta membekali diri dengan pengetahuan yang luas, karena sesungguhnya kompetensi yang dimiliki oleh guru sangat mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran, yang akhirnya akan dapat menghasilkan peserta didik yang berprestasi, berbudi pekerti luhur, dan berakhlaqul karimah yang mampu berdampak positif pada perkembangan dan kemajuan sekolah. UCAPAN TERIMAKASIH Dengan terselesaikannya penulisan karya ilmiah ini, peneliti tak lupa mengucapkan puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas Rahmat. Taufiq dan Hidayah-Nya. Peneliti menyadari adanya kekurangan dan kelemahan yang ada dalam karya ilmiah ini, oleh karena itu saran dan kritik dari berbagai pihak tetap peneliti harapkan. Semoga karya ilmiah ini bisa bermanfaat bagi peneliti pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Akhirnya tak lupa peneliti sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sepenuhnya dalam menyelesaikan karya ilmiah ini, semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Amien. DAFTAR PUSTAKA