Jurnal Dunia Gizi. Vol. No. Juni 2026 : 20 - 29 E-ISSN : 2614-6479 Open Access https://doi. org/10. 33085/jdg. Journal of The World of Nutrition ORIGINAL ARTICLE ANALISIS HUBUNGAN ASUPAN LEMAK DENGAN KUALITAS TIDUR PADA REMAJA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Analysis of The Relationship Between Fat Intake and Sleep Quality Among Vacational High School Students Aulia Arina Salwa1*. Siti Zulaekah2. Nur Lathifah Mardiyati3 Program Studi Ilmu Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta. Indonesia *Penulis Korespondensi Abstrak Pendahuluan. Masalah kualitas tidur pada remaja menunjukkan pola yang berbeda daripada kelompok usia Pola makan tinggi lemak juga diduga memengaruhi struktur dan kontinuitas tidur melalui mekanisme inflamasi sistemik, perubahan hormon yang mengatur tidur yaitu leptin dan ghrelin serta dampak gastrointestinal seperti refluks, ketidaknyamanan malam hari yang mengganggu tidur. Tujuan. untuk mengetahui hubungan antara asupan lemak dengan kualitas tidur dan komponen kualitas tidur pada remaja di SMK Batik 2 Surakarta Metode. Penelitian ini merupakan penelitian dengan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional, menggunakan rancangan cross-sectional, jumlah sampel sebanyak 146 remaja dengan menggunakan Teknik Purposive. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu antara lain Siswa/I SMK Batik 2 Surakarta. Berusia 14 Ae 18 tahun dan Tidak dalam kondisi sakit, selain itu, untuk kriteria eksklusi diantara lain siswa yang sedang melakukan diet khusus, siswa vegetarian, dan siswa yang memiliki alergi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) untuk menganalisis konsumsi lemak, dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengevaluasi kualitas tidur. Hasil. Hasil analisis menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara konsumsi lemak dan kualitas tidur dengan nilai P= 0,560 (> 0,. Hasil analisis menggunakan uji Person Product Moment menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi lemak dengan seluruh komponen kualitas tidur . ualitas tidur subjektif p=0,532. latensi tidur p=0,194. durasi tidur p=0,452. efisiensi tidur p=0,760. gangguan tidur p=0,554. penggunaan obat tidur p=1,000. dan disfungsi aktivitas siang hari p=0,. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengkaji faktor-faktor lain yang memengaruhi kualitas tidur remaja Kesimpulan. bahwa tidak terdapat hubungan antara asupan lemak dengan kualitas tidur dan komponen komponen kualitas Kata Kunci: Asupan Lemak. Kualitas Tidur. Komponen Kualitas Tidur Abstract Background. Sleep quality problems in adolescents show different patterns than other age groups. A high-fat diet is also thought to affect sleep structure and continuity through systemic inflammatory mechanisms, changes in sleep-regulating hormones such as leptin and ghrelin, and gastrointestinal effects such as reflux and nighttime discomfort that disrupt sleep. Objectives. To determine the relationship between fat intake and sleep quality and sleep quality components in adolescents at SMK Batik 2 Surakarta in 2026. Method. This study is a quantitative study with an observational analytical approach, using a cross-sectional design, with a sample size of 146 adolescents using the simple random sampling technique. The inclusion criteria for this study were, among others, students of SMK Batik 2 Surakarta, aged 14-18 years and not sick. The exclusion criteria were, among others, students who were on a special diet, vegetarian students, and students with allergies. Data were collected using a Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) to analyze fat consumption and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) to evaluate sleep quality. Results. The study shows that there is no correlation between fat consumption and sleep quality with a P-value of 0. 560 (> 0. The results of the analysis showed no significant association between fat intake and any of the sleep quality components . ubjective sleep quality p=0. sleep latency p=0. sleep duration p=0. sleep efficiency p=0. disturbances p=0. use of sleep. Conclusion. It was found that there was no relationship between fat intake and sleep quality and components of sleep quality. Keywords: Fat Intake. Sleep Quality. Sleep Quality Components Aulia Arina Salwa: Program Studi Ilmu Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jalan Tromol. Pabelan No. Sukoharjo. Hp. Email: j310220124@student. Jurnal Dunia Gizi. Vol. No. Juni 2026 : 20 - 29 PENDAHULUAN Tidur adalah kebutuhan yang harus dipenuhi karena jika tidak terpenuhi, hal ini bisa berdampak pada kondisi biologis dan psikologis individu. Masalah kualitas tidur pada remaja menunjukkan pola yang berbeda daripada kelompok usia lainnya. Para remaja mengalami berbagai perubahan yang sering kali mengurangi durasi tidur. Remaja cenderung tidur lebih larut dan bangun lebih pagi karena tuntutan sekolah, sehingga mereka sering kali merasa sangat mengantuk pada siang hari . Tidur yang pendek di malam hari terkait dengan meningkatnya hormon ghrelin dan menurunnya hormon leptin, yang berkontribusi terhadap peningkatan nafsu makan di malam hari dan akibatnya berisiko menimbulkan obesitas. Semakin singkat waktu tidur, maka kemungkinan terjadinya overweight dan obesitas semakin meningkat . Berdasarkan informasi dari WHO (World Health Organizatio. , persentase individu yang mengalami permasalahan terkait kualitas tidur di berbagai belahan dunia berkisar antara 15,3% dan 39,2%. Hampir 86% populasi global menghadapi isu yang berhubungan dengan kebiasaan tidurnya. Lebih dari 86% masyarakat dunia mengalami kesulitan dalam pola tidurnya. Di sisi lain, gangguan tidur diperkirakan berdampak pada 10% total populasi di Indonesia. Dari data penelitian sebelumnya yaitu. Sahashika dan Setiyaningrum, 2024 menunjukkan bahwa mayoritas Siswi dari SMK 2 Batik Surakarta memiliki kualitas tidur yang buruk sebanyak 44 remaja putri . ,3%) dan kualitas tidur yang baik sebanyak 16 remaja putri . ,6%). data tersebut diketahui masih banyak siswi yang memiliki kualitas tidur buruk . Dalam masa remaja, mereka cenderung banyak berkembang dalam kebiasaan hidup, terutama kebiasaan dalam konsumsi makanan. Masa remaja rawan terpengaruh dari lingkungan luar karena remaja tidak mementingkan berapa kalori ataupun energi yang masuk dalam tubuh . Menurut WHO overweight dapat didefinisikan sebagai akumulasi lemak dalam tubuh yang berlebih dan mengakibatkan resiko pada Kesehatan tubuh. Peningkatan asupan lemak tubuh dapat mengakibatkan resikonya terjadi peningkatan berat badan dan overweight . Remaja lebih menyukai jajanan berlemak yang dapat berpengaruh pada Tingkat nafsu makan makanan yang bergizi pada remaja dan sering kali melewatkan waktu makan pagi dan makan siang. Berdasarkan data Riskesdas . menunjukan kebiasaan remaja 15-16 tahun mengkonsumsi makanan berlemak/berkolesterol/gorengan lebih dari 1 kali per hari sebanyak 43,8%. Menurut data dari United Nations ChildrenAos Fund . terdapat perubahan pola asupan makanan remaja di Indonesia yang mengalami peningkatan konsumsi lemak dan makanan hingga, dua kali lipat . Pola makan tinggi lemak juga diduga memengaruhi struktur dan kontinuitas tidur melalui mekanisme inflamasi sistemik, perubahan hormon yang mengatur tidur yaitu leptin dan ghrelin serta dampak gastrointestinal seperti refluks, ketidaknyamanan malam hari yang mengganggu tidur . Studi skala besar yang memakai data pada populasi dewasa menunjukkan bahwa komposisi makronutrien berkaitan dengan parameter tidur. asupan lemak lebih tinggi berhubungan dengan durasi tidur yang lebih pendek dan lebih banyak fragmentasi tidur, sedangkan serat dan protein cenderung terkait dengan tidur lebih lama dan latensi tidur lebih pendek . Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti bermaksud untuk mencari tahu dengan melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara asupan lemak dengan kualitas tidur pada remaja di wilayah sukoharjo. METODE Penelitian ini merupakan penelitian dengan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional, menggunakan rancangan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di SMK Batik 2 Surakarta. Jawa Tengah pada tanggal 5 Januari 2026. Penelitian cross-sectional dilakukan dengan cara mengamati variabel independen . ebiasaan makan tinggi lema. dan variabel dependen . ualitas tidu. secara bersamaan pada subjek penelitian, tanpa memberikan intervensi apapun. Sampel yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu 146 siswa dengan menggunakan Teknik Simple Random Sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu diantara lain Siswa/I SMK Batik 2 Surakarta. Berusia 14 Ae 18 tahun dan Tidak dalam kondisi sakit, selain itu, untuk kriteria eksklusi diantara lain siswa yang sedang melakukan diet khusus, siswa vegetarian, dan siswa yang memiliki alergi. Data diperoleh melalui kuesioner Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ- FFQ) Aulia Arina Salwa: Program Studi Ilmu Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jalan Tromol. Pabelan No. Sukoharjo. Hp. Email: j310220124@student. Jurnal Dunia Gizi. Vol. No. Juni 2026 : 20 - 29 untuk mengevaluasi konsumsi asupan lemak, dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur. Kuesioner SQ-FFQ diaplikasikan untuk mengumpulkan informasi mengenai asupan lemak responden. Instrumen ini mencakup jenis bahan makanan. Panduan porsi, pola konsumsi harian, mingguan, bulanan, dan tahunan, serta ukuran asupan makanan dalam gram dan URT (Ukuran Rumah Tangg. Selain itu, instrumen ini juga melampirkan informasi tentang metode pengolahan bahan makanan yang diaplikasikan. Variabel kualitas tidur diukur menggunakan instrumen Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang mencakup tujuh komponen, yaitu kualitas tidur subjektif, latensi tidur, durasi tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur, penggunaan obat tidur, serta disfungsi aktivitas pada siang hari. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian mengenai hubungan asupan zat gizi dengan kualitas tidur pada remaja di SMK Batik 2 Surakarta. Pengumpulan data dilakukan secara bersamaan pada responden yang sama, namun setiap penelitian memiliki fokus analisis variable yang berbeda. Dataset yang digunakan merupakan bagian dari penelitian terkait. Data dianalisis menggunakan program IBM dengan uji korelasi dengan tingkat signifikansi 0. 050 untuk mengidentifikasi hubungan antara asupan lemak dengan kualitas tidur. Kemudian, untuk mengkaji hubungan antara asupan lemak dengan tujuh komponen kualitas tidur yaitu meliputi kualitas tidur subjektif, latensi tidur, durasi tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur, penggunaan obat tidur, disfungsi aktivitas pada siang hari, pengujian Chi-Square Test guna menentukan adanya hubungan antara kategori. HASIL Berdasarkan Tabel 1 sebagian besar responden berusia 16 tahun, yaitu sebanyak 62 orang . ,4%). Berdasarkan jenis kelamin, responden didominasi oleh perempuan sebanyak 104 orang . ,2%). Selain itu, sebagian besar responden memiliki asupan lemak lebih, yaitu 67 orang . ,9%). Adapun berdasarkan kualitas tidur, responden dengan kualitas tidur baik lebih banyak dibandingkan kualitas tidur buruk, yaitu sebanyak 81 orang . ,5%). Tabel 1. Karakteristik Responden Variabel Usia . Jenis Kelamin Perempuan Laki Laki Asupan Lemak Defisit Normal Lebih Kualitas Tidur Baik Buruk Komponen Kualitas Tidur Kualitas Tidur Subjektif Cukup Kurang Latensi Tidur Cukup Kurang Durasi Tidur Cukup Kurang Aulia Arina Salwa: Program Studi Ilmu Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jalan Tromol. Pabelan No. Sukoharjo. Hp. Email: j310220124@student. Jurnal Dunia Gizi. Vol. No. Juni 2026 : 20 - 29 Efesiensi Tidur Cukup Kurang Gangguan Tidur Sedikit Banyak Penggunaan Obat Tidur Sedikit Banyak Disfungsi Aktivitas Pada Siang Hari Sedikit Banyak Berdasarkan Tabel 2 yang menunjukkan distribusi responden berdasarkan asupan lemak yang dikelompokkan menjadi kategori asupan defisit, normal, lebih dan kualitas tidur yang dibedakan menjadi baik dan buruk. Dalam kategori asupan lemak defisit sebagian besar memiliki kualitas tidur buruk yaitu dengan jumlah mencapai 25 orang . ,2%). Di sisi lain, dalam kategori asupan lemak lebih, lebih banyak responden yang tidur dengan kualitas buruk yaitu sebanyak 37 orang . ,2%). Secara deskriptif, proporsi kualitas tidur lebih buruk lebih banyak ditemukan pada kelompok dengan asupan lemak deficit dan lebih dibandingkan kelompok lainnya. Setelah dilakukan uji korelasi, diperoleh nilai koefisien korelasi . sebesar 0,049 dengan nilai p sebesar 0,560 . > 0,. Nilai koefisien korelasi yang mendekati nol menandakan bahwa hubungan antara asupan lemak dan kualitas tidur sangat lemah dan bersifat positif. Namun, karena nilai p lebih besar dari 0,05, maka secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan lemak dengan kualitas tidur dalam responden penelitian. Tabel 2. Analisis Hubungan Asupan Lemak dengan Kualitas Tidur Kualitas Tidur Buruk . (%) . (%) Defisit Normal Lebih Total *Uji pearson product moment . > 0,. Asupan Lemak Total Baik . (%) Person Korelasi P-Value 0,049 0,560 Berdasarkan tabel 3 yang dilakukan uji hubungan antara asupan lemak dengan komponen kualitas tidur pada 146 responden, sebagian besar responden pada setiap kategori asupan lemak memiliki kualitas tidur subjektif yang cukup, yaitu 80,9% pada asupan lemak defisit, 75,0% pada kategori normal, dan 71,6% pada kategori lebih. Pola yang relatif serupa juga terlihat pada komponen lainnya, dimana sebagian besar responden memiliki latensi tidur cukup . ,9% defisit. 62,5% normal. 71,6% lebi. , durasi tidur cukup . ,7% defisit. 68,8% normal. 68,7% lebi. , serta efisiensi tidur cukup . ,2% defisit. 84,4% normal. 89,6% lebi. Pada komponen gangguan tidur, mayoritas responden mengalami gangguan tidur sedikit . ,7% defisit. 87,5% normal. 79,1% lebi. Hampir seluruh responden juga tidak menggunakan obat tidur . ,9% defisit. 100% normal. 98,5% lebi. Selain itu, sebagian besar responden mengalami disfungsi aktivitas siang hari yang sedikit . ,1% 65,6% normal. 67,2% lebi. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan lemak dengan seluruh komponen kualitas tidur, dengan nilai p pada masing-masing komponen berturut-turut. Aulia Arina Salwa: Program Studi Ilmu Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jalan Tromol. Pabelan No. Sukoharjo. Hp. Email: j310220124@student. Jurnal Dunia Gizi. Vol. No. Juni 2026 : 20 - 29 Tabel 3. Analisis Hubungan Asupan Lemak dengan Komponen Kualitas Tidur Asupan Lemak Komponen Kualitas Tidur Defisit Kualitas Tidur Subjektif Cukup Kurang Latensi Tidur Cukup Kurang Durasi Tidur Cukup Normal Kurang Total Kurang Efesiensi Tidur Cukup Kurang Gangguan Tidur Sedikit Banyak Obat Tidur Sedikit Banyak Durasi Tidur Cukup Buruk P - Value 0,532 0,194 0,452 0,760 0,554 1,000 0,974 *Uji Chi Square PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan lemak dengan kualitas tidur pada remaja di SMK Batik 2 Surakarta. Masa remaja merupakan fase dimana tidak hanya melibatkan pertumbuhan biologis, tetapi juga berperan dalam perkembangan kognitif, sosial, dan emosional individu (WHO, 2. Saat remaja kebutuhan zat gizi meningkat, termasuk kebutuhan energi dan lemak, sementara pola tidur juga mengalami perubahan akibat faktor stres, makanan, dan aktivitas Kombinasi antara pola konsumsi tinggi lemak dan gangguan tidur berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap status gizi dan kesehatan metabolik remaja. Berdasarkan hasil analisis, sebagian besar responden memiliki asupan lemak dalam kategori Hasil ini menunjukkan bahwa konsumsi makanan tinggi lemak pada remaja masih cukup Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh kebiasaan konsumsi jajanan gorengan, fast food, serta makanan tinggi lemak yang mudah diakses di lingkungan sekolah. Pola konsumsi ini sejalan dengan data Riskesdas 2018 yang menunjukkan tingginya konsumsi makanan berlemak pada kelompok usia remaja di Indonesia. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa responden yang memiliki kualitas tidur dalam kategori buruk . ,5%), lebih banyak daripada dengan kategori baik . ,5%). Proporsi kualitas tidur buruk cukup tinggi, kondisi ini dapat dijelaskan oleh faktor beban akademik, penggunaan gadget sebelum tidur, serta kebiasaan tidur larut malam. Penelitian yang dilakukan oleh Sahashika dan Setiyaningrum pada siswi di SMK Batik 2 Surakarta menunjukkan bahwa 73,3% responden memiliki kualitas tidur buruk, yang memperlihatkan bahwa gangguan tidur pada remaja sekolah menengah kejuruan merupakan masalah yang cukup serius . Aulia Arina Salwa: Program Studi Ilmu Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jalan Tromol. Pabelan No. Sukoharjo. Hp. Email: j310220124@student. Jurnal Dunia Gizi. Vol. No. Juni 2026 : 20 - 29 Berdasarkan analisis dengan uji korelasi Pearson product moment didapatkan nilai koefisien korelasi . sebesar 0,049 dengan tingkat signifikansi . = 0,. Nilai r yang hampir mendekati nol mengindikasikan bahwa kekuatan hubungan yang sangat lemah antara asupan lemak dan kualitas tidur. Selain itu, karena nilai p lebih tinggi dari 0,05, maka secara statistik dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan lemak dengan kualitas tidur pada remaja SMK Batik 2 Surakarta. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara asupan lemak dan kualitas tidur tidak dapat diterima. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi pada kelompok mahasiswa oleh Sari dan Zulaekah . yang tidak menemukan hubungan signifikan antara asupan lemak dan kualitas tidur . >0,. , dimana pada kedua penelitian mayoritas responden memiliki kualitas tidur yang buruk. Namun demikian, terdapat perbedaan pada proporsi distribusi, dimana pada kelompok mahasiswa selisih antara kualitas tidur buruk dan baik lebih besar dibandingkan pada penelitian ini yang menunjukkan selisih yang relatif kecil. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat keparahan masalah kualitas tidur pada mahasiswa cenderung lebih tinggi. Hasil Penelitian ini juga didukung oleh penelitian diluar negeri yang menunjukkan bahwa hubungan antara asupan makronutrien, termasuk lemak, dengan kualitas tidur cenderung tidak konsisten. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kualitas tidur merupakan kondisi yang bersifat multifaktorial dan tidak hanya dipengaruhi oleh asupan lemak, tetapi juga oleh berbagai faktor lain seperti stres, pola aktivitas, serta kebiasaan penggunaan perangkat elektronik yang dapat memengaruhi ritme sirkadian. Selain faktor perilaku, kualitas tidur remaja juga dipengaruhi oleh faktor biologis seperti perubahan hormon dan tinnginya kebutuhan tidur pada masa pubertas, serta faktor lingkungan seperti kebisingan, suhu kamar, dan pencahayaan saat tidur. Faktor sosial dan kebiasaan seperti penggunaan media sosial yang berlebihan, jadwal sekolah yang terlalu pagi, dapat berkontribusi terhadap gangguan kualitas tidur pada remaja . Distribusi asupan lemak antar responden yang relatif tidak bervariasi juga dapat menyebabkan hubungan yang terbentuk menjadi sangat lemah. Nilai korelasi yang sangat kecil . = 0,. menunjukan bahwa terbatasnya kontribusi asupan lemak dalam menjelaskan variasi kualitas tidur. Selanjutnya, analisis berdasarkan komponen PSQI, hubungan asupan lemak paling terlihat pada tujuh aspek yaitu, kualitas tidur subjektif, latensi tidur, durasi tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur, penggunaan obat dan disfungsi pada siang hari. Pada komponen kualitas tidur subjektif, tidak ditemukan hubungan signifikan . = 0,. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi remaja terhadap kualitas tidurnya tidak dipengaruhi secara langsung oleh besaran asupan lemak. Persepsi tidur . ualitas tidur subjekti. pada remaja cenderung bersifat subjektif dan lebih dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan kondisi fisik harian . Pada responden penelitian ini, aktivitas sekolah yang padat serta kebiasaan penggunaan gadget malam hari berpotensi mempengaruhi persepsi tidur, sehingga pengaruh asupan lemak menjadi kurang terlihat. Pada komponen latensi tidur, hasil uji menunjukkan . = 0,. yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan lemak dan waktu yang dibutuhkan responden untuk mulai tertidur. Tidak ditemukannya hubungan pada penelitian ini mengindikasikan bahwa latensi tidur tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah asupan lemak, tapi juga oleh faktor lain seperti pola konsumsi makan secara keseluruhan dan waktu makan sebelum tidur. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa konsumsi makanan dengan komposisi makronutrien tertentu sebelum tidur dapat memengaruhi latensi tidur. Konsumsi makanan tinggi lemak dan karbohidrat sebelum periode tidur dapat meningkatkan latensi tidur. Sebaliknya, konsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi sekitar 4 jam sebelum tidur justru dapat menurunkan latensi tidur. Perbedaan hasil temuan tersebut menunjukan bahwa pengaruh asupan makanan terhadap latensi tidur tidak bersifat tunggal, melainkan dipengaruhi oleh jenis zat gizi, kombinasi makronutrien serta waktu konsumsi sebelum tidur . Pada komponen durasi tidur, hasil penelitian ini menunjukkan . = 0,. , yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan lemak dan lama tidur. Nilai korelasi yang sangat lemah menunjukkan bahwa variasi asupan lemak tidak memberikan kontribusi yang bermakna terhadap durasi tidur responden. Tidak adanya hubungan ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya Aulia Arina Salwa: Program Studi Ilmu Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jalan Tromol. Pabelan No. Sukoharjo. Hp. Email: j310220124@student. Jurnal Dunia Gizi. Vol. No. Juni 2026 : 20 - 29 yang menunjukan bahwa hubungan antara asupan makronutrien dengan durasi tidur cenderung tidak konsisten, terutama pada kelompok usia remaja. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh banyaknya faktor yang berperan dalam menentukan kualitas durasi tidur, seperti pola konsumsi makan . aktu makan dan distribusi energi haria. , pola aktivitas harian, kebiasaan tidur, serta waktu penggunaan gadget pada malam hari . Hal ini menunjukan bahwa durasi tidur tidak hanya dipengaruhi oleh satu jenis zat gizi tertentu melainkan merupakan hasil interaksi berbagai faktor perilaku dan gaya hidup. Pada komponen efisiensi tidur menunjukkan nilai p sebesar 0,760 . > 0,. , sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan lemak dengan efisiensi tidur. Hal ini menunjukan bahwa asupan lemak yang dikonsumsi responden tidak berkontribusi secara langsung terhadap efisiensi tidur. Penelitian tentang pengaruh lemak terhadap efisiensi tidur secara langsung masih Beberapa studi menunjukan bahwa hubungan antara asupan lemak dengan efisiensi tidur cenderung tidak signifikan setelah dikontrol dengan variabel lain. Hal ini mengindikasikan bahwa asupan lemak total saja belum cukup untuk menjelaskan efisiensi tidur. Asupan lemak total hanya menggambarkan asupan, namun tidak mencerminkan jenis lemak yang dikonsumsi, pola makan secara keseluruhan, maupun distribusi waktu makan. Padahal, faktor faktor tersebut memiliki peran penting dalam memengaruhi proses fisiologis tidur. Oleh karena itu, efisiensi tidur pada remaja dalam penelitian ini lebih memungkinkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor perilaku seperti tidur, frekuensi terbangun dimalam hari, aktivitas fisik, serta kebiasaan lainnya dibandingkan dengan asupan lemak secara tunggal. Pada komponen gangguan tidur nilai p sebesar 0,554 . > 0,. , yang menunjukan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan lemak dan gangguan tidur. Hal ini mengindikasikan bahwa variasi asupan lemak tidak berkontribusi secara langsung terhadap frekuensi gangguan tidur. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian mengenai komposisi makronutrien tertentu, termasuk lemak, belum menjadi fokus utama dan masih menunjukkan hasil yang beragam serta belum konsisten. Secara umum, berbagai studi lebih sering menemukan hubungan antara kualitas pola makan secara keseluruhan dengan kualitas tidur dibandingkan dengan satu jenis zat gizi secara terpisah. Oleh karena itu, tidak ditemukannya hubungan yang signifikan antara asupan lemak dan gangguan tidur dalam penelitian ini dapat dipahami, mengingat kualitas tidur cenderung dipengaruhi oleh pola diet secara menyeluruh daripada oleh konsumsi lemak saja . Pada komponen penggunaan obat tidur, penelitian ini menunjukkan korelasi negatif sangat lemah dan tidak signifikan . = 1,. , yang berarti tidak terdapat hubungan antara asupan lemak dengan penggunaan obat tidur dan mengindikasikan asupan lemak bukan faktor utama yang memengaruhi perilaku penggunaan obat tidur pada responden. penggunaan obat tidur sering kali lebih berkaitan dengan adanya gangguan tidur yang mendasar dan kondisi psikologis seperti kecemasan, depresi, atau insomnia kronis, bukan dipengaruhi oleh faktor nutrisi tertentu seperti konsumsi lemak. Studi lain juga melaporkan bahwa gejala depresi dan gangguan tidur saling berkaitan, dan individu dengan insomnia cenderung lebih sering menggunakan obat tidur, serta gejala psikologis seperti depresi memainkan peran penting dalam kebutuhan penggunaan obat Ini menunjukkan bahwa pengobatan sering dipicu oleh adanya gangguan psikologis dan kronisitas masalah tidur daripada oleh pola atau komposisi diet seseorang . Komponen disfungsi siang hari juga tidak menunjukkan hubungan signifikan . = 0,. Disfungsi siang hari pada remaja umumnya merupakan konsekuensi dari durasi tidur yang tidak adekuat dan kualitas tidur yang buruk secara keseluruhan. Hal ini mengindikasikan bahwa disfungsi siang hari pada remaja kemungkinan besar tidak dipengaruhi secara langsung oleh komposisi makronutrien tertentu, seperti asupan lemak, melainkan lebih berkaitan dengan kualitas tidur secara Penelitian menunjukkan bahwa durasi tidur yang pendek dan kualitas tidur global yang buruk merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya gangguan fungsi di siang hari, termasuk rasa kantuk berlebihan, penurunan konsentrasi, serta menurunnya performa akademik dan aktivitas harian . Aulia Arina Salwa: Program Studi Ilmu Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jalan Tromol. Pabelan No. Sukoharjo. Hp. Email: j310220124@student. Jurnal Dunia Gizi. Vol. No. Juni 2026 : 20 - 29 Secara fisiologis, konsumsi lemak tinggi, terutama lemak jenuh, dapat memengaruhi sekresi hormon leptin dan ghrelin. Peningkatan ghrelin dan penurunan leptin berkontribusi terhadap peningkatan rasa lapar pada malam hari serta gangguan ritme sirkadian. Selain itu, metabolisme lemak yang tinggi dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis sehingga memperpendek durasi tidur dan menurunkan efisiensi tidur . Mekanisme ini menjelaskan bagaimana pola makan tinggi lemak berpotensi memperburuk kualitas tidur remaja. Namun, pada penelitian ini, mekanisme tersebut tidak tercermin dalam hasil analisis statistik, sehingga menunjukan bahwa pengaruh asupan lemak terhadap kualitas tidur pada remaja tidak bersifat langsung atau dominan. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas tidur merupakan fenomena multifaktoral yang dipengaruhi oleh berbagai aspek, tidak hanya dari sisi asupan juga faktor perilaku dan lingkungan. Dengan demikian, hasil penelitian ini menggarisbawahi pentingnya melihat kualitas tidur sebagai fenomena yang dipengaruhi banyak faktor. Walaupun aspek gizi seperti asupan lemak tidak menunjukkan hubungan yang kuat dalam penelitian ini, interaksi antara pola makan, kebiasaan tidur, dan faktor perilaku lain perlu dikaji lebih dalam. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan desain longitudinal atau kontrol variabel perancu dianjurkan agar dapat mengevaluasi hubungan kompleks ini secara lebih komprehensif. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja di SMK Batik 2 Surakarta memiliki asupan lemak yang cenderung tinggi serta proporsi kualitas tidur yang cukup banyak berada pada kategori buruk. Namun demikian, hasil analisis menunjukkan bahwa asupan lemak tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kualitas tidur secara keseluruhan maupun dengan setiap komponen kualitas tidur yang diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas tidur remaja kemungkinan lebih dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti kebiasaan tidur larut malam, penggunaan gawai sebelum tidur, aktivitas fisik, serta kondisi psikologis dibandingkan oleh asupan lemak saja. Dengan demikian, kualitas tidur pada remaja merupakan fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor gaya hidup, perilaku, serta kondisi lingkungan. Bagi remaja, khususnya siswa di SMK Batik 2 Surakarta, disarankan untuk mulai memperhatikan pola makan yang seimbang serta menerapkan kebiasaan tidur yang sehat, seperti mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, menjaga jadwal tidur yang teratur, dan meningkatkan aktivitas fisik agar kualitas tidur dapat terjaga dengan baik. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk meneliti hubungan antara pola makan dan kualitas tidur dengan mempertimbangkan faktor lain yang dapat memengaruhi tidur, seperti tingkat stres, aktivitas fisik, durasi penggunaan gawai, serta waktu konsumsi makanan. Penelitian dengan desain longitudinal atau dengan pengendalian variabel perancu juga diperlukan agar hubungan antara faktor nutrisi dan kualitas tidur dapat dipahami secara lebih komprehensif. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak SMK Batik 2 Surakarta yang telah memberikan izin serta memfasilitasi pelaksanaan penelitian ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh responden yang telah bersedia berpartisipasi sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Selain itu, penulis menghargai dukungan dari berbagai pihak yang telah membantu selama proses pengumpulan data hingga penyusunan penelitian ini. KONFLIK KEPENTINGAN Tidak Ada Aulia Arina Salwa: Program Studi Ilmu Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jalan Tromol. Pabelan No. Sukoharjo. Hp. Email: j310220124@student. Jurnal Dunia Gizi. Vol. No. Juni 2026 : 20 - 29 DAFTAR PUSTAKA