Progressus Humanitatis Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora e-ISSN 3109-421X Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 DOI: https://doi. org/10. 70285/cb5pbv03 Analisis Prediksi Financial Distress dengan Menggunakan Metode Altman Z-Score dan Metode Springate pada Perusahaan PT Waskita Karya Tbk Periode 2021 Ae 2024 Lusy Syaidatul Nisa1*. Ferdina Watiningsih2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Pamulang1,2 lusysyn@gmail. com, dosen01641@unpam. Received 5 Juli 2025 | Revised 25 Juli 2025 | Accepted 31 Juli 2025 *Korespondensi Penulis Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi financial distress menggunakan metode Altman ZScore dan Springate pada PT Waskita Karya Tbk. Jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi yang digunakan adalah laporan keuangan PT Waskita Karya Tbk yang diakses melalui website Sampel penelitian ini adalah laporan keuangan tahun 2021 hingga 2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis yang menerapkan metode Altman Z-Score (Z-Scor. dan metode Springate (S-Scor. Hasil penelitian akhir ini yang menggunakan model Altam Z-Score bahwa perusahaan PT Waskita Karya Tbk pada tahun 2021 dengan nilai 1,1808 < 1,1 < 2,6 artinya berada dalam kategori zona kelabu . rey are. , pada tahun 2022 dengan nilai 0,8042 < 1,1 artinya bisa di kategorikan financial distress, di tahun 2023 menghasilkan nilai -0,3389 < 1,1 berada dalam kategori financial distress dan pada tahun 2024 dengan nilai -0,7206 < 1,1 dapat di kategorikan financial distress yang berpontesi kebangkrutan. Sedangkan hasil perhitungan menggunakan model Springate bahwa perusahaan PT Waskita Karya Tbk telah mengalami financial distress secara beruntun selama empat tahun berturut-turut. Pada tahun 2021 dengan nilai 0,2946 < 0,862, tahun 2022 sebesar 0,2146 < 0,862, di tahun 2023 dengan nilai -0,0461 < 0,862 dan pada tahun 2024 senilai -0,0747 < 0,862. Hasil ini menunjukkan bahwa kedua pendekatan tersebut secara akurat memprediksi kemungkinan PT Waskita Karya Tbk berada dalam financial distress dan berpontensi kebangkrutan. Kata Kunci: Financial Distress. Altman Z-Score. Springate Abstract This study aims to determine the potential for financial distress using the Altman Z-Score and Springate methods at PT Waskita Karya Tbk. The type of research is quantitative descriptive. The population used is the financial statements of PT Waskita Karya Tbk accessed through the website w. The sample for this study is the financial statements from 2021 to 2024. This study employs an analytical approach utilizing the Altman Z-Score (Z-Scor. method and the Springate (S-Scor. The final results of this study using the Altman Z-Score model indicate that PT Waskita Karya Tbk in 2021 with a value of 1. 1808 < 1. 1 < 2. 6 is in the grey area category, in 2022 with a value of 0. 8042 < 1. 1 can be categorized as financial distress, in 2023, it produced a value of -0. 3389 < 1. 1, indicating financial distress, and in 2024, with a value of -0. 7206 < 1. 1, it can be categorized as financial distress with the potential for bankruptcy. Meanwhile, the results of the calculation using the Springate model indicate that PT Waskita Karya Tbk has experienced financial distress consecutively for four consecutive years. In 2021, the value was 0. 2946 < 0. 862, in 2022 it was 0. 2146 < 0. 862, in 2023 it was -0. 0461 < 0. Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora e-ISSN 3109-421X Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 and in 2024 it was -0. 0747 < 0. These results indicate that both approaches accurately predict the likelihood of PT Waskita Karya Tbk being in financial distress and at risk of bankruptcy. Keywords: Financial Distress. Altman Z-Score. Springate PENDAHULUAN Industri konstruksi merupakan salah satu sektor kunci dalam pertumbuhan ekonomi nasional, karena secara langsung berkontribusi pada penyediaan infrastruktur publik. Saat ini, sektor jasa konstruksi menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah penurunan nilai tukar rupiah yang disertai dengan penguatan dolar AS secara signifikan, yang berdampak pada peningkatan biaya bahan baku impor yang digunakan dalam industri konstruksi. Seperti besi, baja, semen, dan peralatan berat yang diimpor akan mengalami kenaikan. Dampak lain yang dirasakan oleh pengusaha di sektor jasa konstruksi meliputi keterbatasan likuiditas, penundaan proyek, peningkatan risiko kredit, dan manajemen proyek semakin memburuk akibat kenaikan suku bunga, tekanan inflasi, dan berkurangnya minat investor terhadap industri konstruksi. Salah satu perusahaan terkemuka dalam sektor ini adalah PT Waskita Karya (Perser. Tbk, yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan portofolio proyek besar di berbagai bidang, termasuk jalan tol, jembatan, dan infrastruktur energi. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, kinerja keuangan PT Waskita Karya menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mengalami kinerja yang kurang memuaskan sepanjang tahun 2023. Kerugian perusahaan konstruksi ini meningkat drastis hingga 98,4%, mencapai Rp3,77 triliun pada 2023, dibandingkan dengan kerugian sebesar Rp1,89 triliun pada tahun 2022. Berdasarkan laporan keuangannya, peningkatan kerugian ini disebabkan oleh penurunan pendapatan bersih perusahaan yang merosot 28,41% menjadi Rp10,95 triliun pada tahun 2023, dari sebelumnya Rp15,30 triliun pada tahun 2022. Bersamaan dengan itu, beban keuangan WSKT meningkat 3,1% menjadi Rp4,41 triliun dari Rp4,28 triliun pada tahun 2022, sehingga kerugian sebelum pajak melonjak 204,29% menjadi Rp3,77 triliun di 2023 dibandingkan Rp1,24 triliun di tahun sebelumnya. Liabilitas dan ekuitas masing-masing sebesar Rp83,99 triliun dan Rp11,6 triliun, sementara aset per Desember 2023 sebesar Rp95,59 triliun, turun 2,68% dari Rp98,23 triliun pada Desember 2022. (CNBC Indonesia 2. Melanjutkan tekanan keuangan. Tim Riset CNBC Indonesia menerbitkan laporan berita pada 5 Mei 2023 berjudul AuJreng! Waskita Karya tidak mampu membayar bunga obligasi dan bangkrut?Ay WSKT mengakui ketidakmampuannya untuk membayar bunga obligasi ke-11 yang jatuh tempo pada 6 Mei 2023 kepada Bank Penitipan Efek Indonesia (KSEI). Obligasi PUB IV Fase 1 tahun 2020 Seri B senilai Rp135,5 miliar dengan suku bunga tetap 10,75% per tahun dan jangka waktu tiga tahun ini memiliki tanggal jatuh tempo pada 6 Agustus 2023. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat WSKT juga memiliki sejumlah obligasi lain seperti obligasi berkelanjutan tahun 2018 Seri B sebesar Rp941,75 miliar dengan jatuh tempo 28 September 2023 dan suku bunga tahunan 9,75%, yang mengharuskan pembayaran bunga mencapai Rp91,82 miliar. Secara keseluruhan, total liabilitas WSKT pada paruh pertama tahun 2023 melonjak sebesar 9,20% menjadi Rp84,31 triliun dari Rp77,2 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan utang ini menjadi beban tersendiri yang memperberat tekanan keuangan perusahaan. Dengan kinerja keuangan yang terus menurun dan beban utang yang membesar. PT Waskita Karya Tbk menghadapi tantangan besar dalam menjaga kelangsungan usahanya. Sehubung dengan kondisi tersebut, kewaspadaan terhadap financial distress menjadi hal penting bagi perusahaan, mengingat status pailit menunjukkan bahwa perusahaan telah berada dalam kondisi Selaku Founding Partner FKNK Law Firm. Martin Patrick Nagel, menegaskan bahwa mengenali tanda-tanda awal financial distress merupakan langkah penting untuk mencegah perusahaan Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora e-ISSN 3109-421X Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 terjerumus pada kondisi kebangkrutan. Financial distress sendiri merupakan fase awal penurunan kondisi keuangan yang dialami perusahaan sebelum mencapai tahap likuidasi. Tingginya beban utang, lemahnya kinerja operasional, dan kurangnya inovasi teknologi menjadi faktor penyebab lain yang memperburuk kondisi keuangan perusahaan. Tidak hanya itu, krisis ekonomi, ketidakmampuan memperoleh pendanaan, kegagalan dalam membangun bisnis baru turut memberikan dampak negatif terhadap stabilitas keuangan perusahaan. Menurut (Meiliawati & Isharijadi, 2. AuFinancial distress dapat diawali dengan ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibanya, terutama kewajiban yang sifatnya kewajiban lancar yaitu likuiditas dan solvabilitasAy. Menurut Francis Hutabarat . mengatakan bahwa AuFinancial Distress sebagai kesulitan keuangan adalah suatu tahap sebelum terjadinya kebangkrutan sebuah perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua perusahaan yang mengalami financial distress akan menjadi bangkrutAy. Mengenai hal tersebut ini pula perusahaan juga dituntut untuk mampu menentukan kinerja usaha yang baik, sehingga perusahaan dapat memenuhi kebutuhan eksternal dan internal agar dapat menjamin kelangsungan hidup. Selain itu, salah satu tugas terpenting perusahaan yaitu mengelola situasi keuangannya dengan baik. Posisi keuangan ini merupakan ukuran kinerja keuangan perusahaan dan digunakan untuk mengetahui adakah kemajuan atau perkembangan dalam perusahaan. Dengan demikian, status keuangan perusahaan dapat dilihat melalui laporan keuangannya yang terdiri dari neraca, laporan laba-rugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas. Laporan keuangan merupakan sarana penting untuk mengkomunikasikan informasi keuangan secara eksternal pelaporan keuangan dikomunikasikan dengan menggunakan teknik analisis rasio. Maka laporan keuangan harus disusun dengan sangat rapi dan akurat agar suatu perusahaan mempunyai gambaran yang jelas mengenai hasil dan pencapaian yang telah dicapai dalam jangka waktu tertentu. Terkait hal tersebut. Financial distress pada tahap awal dapat diidentifikasi melalui penerapan model sistem peringatan dini, yang berguna sebagai instrumen untuk mendeteksi potensi kesulitan keuangan sejak dini. Hal tersebut memungkinkan perusahaan untuk segera mengambil langkah korektif sebelum situasi keuangan mengalami kemerosotan lebih lanjut yang menyebabkan kebangkrutan. Sudah lama menjadi perhatian. Para peneliti telah merancang berbagai model prediktif untuk membantu investor dan kreditur dalam menentukan pilihan investasi yang aman dari risiko financial distress. Altman Z-Score dan Springate adalah dua model yang paling populer di antara model-model lainnya, masing-masing model ini menyediakan teknik analisis unik untuk memprediksi masalah keuangan yang mungkin dihadapi oleh suatu perusahaan. Untuk itu, menganalisis financial distress suatu perusahaan sangatlah penting bagi berbagai pihak. Tentunya semua perusahaan mengalami tantangan untuk menjalankan bisnis mereka yang akan mengakibatkan financial distress jika perusahaan tidak memperbaiki maka perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan. Oleh karena itu dalam penelitian menganalisis potensi financial distress akan sangat di butuhkan bagi perusahaan yang bersakutan dengan tanda-tanda kebangkrutan. Semakin dini pihak manajemen menyadari tanda-tanda tersebut, maka akan semakin baik bagi pihak manajemen perusahaan untuk melakukan perbaikan-perbaikan untuk mencegah perusahaan mengalami kebangkrutan. Edward L. Altman, seorang cendekiawan Amerika, menggunakan rasio keuangan untuk mengembangkan pendekatan Altman pada pertengahan 1960-an. Penggunaan Multiple Discriminat Analysis (MDA) diciptakan oleh Altman. Revisi terhadap model Altman dilakukan untuk memperluas penerapannya pada sektor publik maupun swasta. Hal ini disebabkan oleh tidak tersedianya harga pasar sebagai acuan nilai bagi perusahaan yang tidak go public. Oleh karena itu, pada tahun 1983 Altman melakukan pengujian ulang modelnya dengan mengganti variabel X4 dari nilai pasar ekuitas menjadi nilai buku ekuitas. Altman membuat model tersebut dapat diterapkan pada perusahaan publik maupun non-publik. (Kurniawan, 2. Rasio-rasionya adalah Net Working Capital to Total Asset. Retained Earning to Total Asset. Earning Before Interes and Tax to Total Asset. Book value Equity to Book Value Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis e-ISSN 3109-421X Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 of Debt. Model berikutnya yang menggunakan pendekatan dan strategi sampel yang sama dengan Altman . adalah model Springate . Metodologi ini menggunakan empat rasio keuangan, termasuk Net Working Capital to Total Asset. Earning Before Interes and Tax to Total Asset. Earning Before Tax to Current Liabilities. Sales to Total Asset. Mengacu pada permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, peneliti memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian mengenai analisis financial distress menggunakan dua metode, yaitu Altman Z-Score dan Springate. Sebagai upaya untuk mengetahui perkembangan kondisi keuangan perusahaan apakah perusahaan berada dalam kondisi financial distress dan sejauh mana tingkat kesehatan setiap tahunnya. Dalam hal ini financial distress dapat terjadi karena manajemen dalam perusahaan tersebut kurang dapat mengaloksikan aset untuk kegiatan operasional perusahaan. Maka cara yang dilakukan suatu perusahaan untuk memeriksa dan meminimalisir financial distress yang akan terjadi dengan selalu mengawasi kinerja keuangan dengan menggunakan analisis laporan keuangan. Dalam konteks penelitian ini, peneliti menggunakan data laporan keuangan PT Waskita Karya Tbk untuk periode 2021 hingga 2024 sebagai sumber utama. Data yang dimaksud masih berupa data asli sebagaimana yang tercantum dalam laporan keuangan resmi perusahaan dan belum melalui proses pengolahan atau perhitungan dengan metode Altman Z-Score maupun Springate. Data mentah ini nantinya akan diolah lebih lanjut untuk mendapatkan nilai dan indikator yang diperlukan sesuai rumus masing-masing metode. Penyajian data laporan keuangan dalam bentuk tabel dimaksudkan agar pembaca dapat melihat secara langsung posisi keuangan perusahaan dari tahun ke tahun, sehingga mempermudah proses analisis pada tahap selanjutnya. Hal ini dapat dilihat dari laporan keuangan pada tabel di bawah ini. Tabel 1. 1 Total Hutang. Laba Sebelum Bunga dan Pajak. Total Aset PT Waskita Karya Tbk Periode 2021-2024 . inyatakan dalam Rupia. Laba Sebelum Bunga dan Pajak Tahun Total Hutang (R. Total Aset (R. (R. 88,140,178,639,510 4,075,569,078,936 103,601,611,883,340 83,987,631,948,080 1,968,373,511,190 98,232,316,628,846 83,994,385,906,808 923,294,095,848 95,595,897,457,967 69,275,555,503,364 268,031,728,774 77,159,736,864,177 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat PT Waskita Karya Tbk. Total Aset ada peningkatan dan penurunan setiap tahunnya. Tahun 2022 hingga tahun 2024 Total aset perusahaan terlihat mengalami penurunan yang cukup tajam hingga mencapai Rp77. 177,- pada tahun 2022 total aset sebesar Rp98. 846,- ke tahun 2023 Rp95. 967,- dan pada tahun 2024 penurunan mencapai Rp77. 177,- . Hal yang sama berlaku untuk total utang setiap tahunnya terus meningkat. Namun pada tahun 2024 hutang mengalami penurunan hingga Rp69. jika tingkat laba yang dihasilkan dapat mengakibatkan laba bersih menjadi rendah, hal ini sangat berbahaya bagi perusahaan karena dikhawatirkan perusahaan tidak mampu membayar utang-utangnya. Dilihat dari tabel diatas jumlah hutang terus meningkat dari laba yang diperoleh setiap tahunnya. Maka jika total hutang terus meningkat setiap tahunnya dibandingkan dengan kenaikan laba setiap tahunnya maka perusahaan memiliki permasalahan serius terkait kesehatan keuangannya. Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora e-ISSN 3109-421X Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 Dari penelitian sebelumnya oleh Efi Resfitasari dkk. AuAnalisis Penggunaan Model Altman (Z-Scor. Untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress Pada Perusahaan PT WASKITA KARYA Periode 2019-2020Ay. Menyatakan bahwa perhitungan Altman Z-Score untuk perusahaan PT Waskita Karya periode 2019-2020 menunjukkan bahwa PT Waskita Karya Tbk diprediksi mengalami financial Distress dan kebangkrutan selama tahun 2019-2020. Pada tahun 2019, hasil Z-Score menunujukkan angka sebesar 0,72 dan pada tahun 2020 sebesar -0,08. Nilai Z-Score kedua tahun tersebut berada dibawah 1,81 dan dapat disimpulkan bahwa PT Waskita Karya Tbk di prediksi mengalami kebangkrutan atau bisa dikatakan financial distress. Berdasarkan penelitian sebelumnya, untuk memprediksi potensi financial distress, penelitian ini akan menggunakan metode Altman Z-Score modifikasi dan metode Springate serta dalam penelitian penulis memilih PT Waskita Karya Tbk, untuk menilai hasil analisis dari dua metode ini dan melihat kondisi tersebut terus berlanjut atau membaik. Hasil akhir penelitian diharapkan perusahaan dapat memilih dua metode atau satu metode yang dapat dijadikan alat penelitian untuk mengetahui kondisi Sehingga perusahaan dapat bisa mengetahui variabel-variabel manakah yang dapat mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan serta perusahaan dapat memperbaiki keuangan mereka agar tidak terjadinya kebangkrutan dalam perusahaan. METODE Jenis penelitian atau metode penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu penelitian analisis deskriptif kuantitatif. Untuk menentukan kemungkinan suatu perusahaan yang bergerak di bidang komtruksi dengan menggunakan metode Altman Z-score dan metode Springate yaitu PT Waskita Karya Tbk. Metode deskriptif kuantitatif pada penelitian ini yang meneliti dan mengumpulkan data keuangan perusahaan untuk dianalisis, sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai objek yang Analisis penulis data diperoleh dari neraca dan laporan keuangan berupa laba rugi periode berjalan 2021-2024. Tempat penelitian mengacu pada lokasi dimana penulis melakukan penelitian. Objek di dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan data yang diperoleh berupa laporan keuangan melalui website PT Waskita Karya Tbk. yaitu https://investor. Serta melalui website Bursa Efek Indonesia id, laporan yang diambil yaitu laporan keuangan periode 2021-2024. Menurut Prihadi . AuZ-Score merupakan suatu persamaan multivariabel yang digunakan oleh Altman dalam rangka memprediksi tingkat kebangkrutan. Altman menggunakan model statistik yang disebut dengan analisis diskrimi-nan, tepatnya adalah multiple discriminat analysis (MDA). MDA mulai digunakan pada penelitian biologi pada 1930-anAy. Ada empat rumus model prediksi Altman Z-Score dengan teknik pengelolaan sebagai berikut: yeA" = yi, yeyiycya yc, yayiycya yi, yiyaycyc ya, yayeycye Sumber : Prihadi . Keterangan : X1 : Net Working Capital To Total Asset X2 : Retained Earning to Total Asset X3 : Earning Before Interes and Tax to Total Asset X4 : Book Value Equity to Book Value of Debt Setelah dilakukan perhitungan rasio-rasio keuangan yang masuk kedalam model Altman Z-Score. Selanjutnya dapat diklarifikasikan berdasarkan kriteria prediksi sebagai berikut: Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora e-ISSN 3109-421X Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 Z < 1,1 . Perusahaan berpotensi mengalami kebangkrutan (Zona Distres. 1,1 < Z < 2,6: Perusahaan berada di zona Auabu-abuAy . idak dapat ditentukan apakah perusahaan sehat ataupun mengalami kebangkruta. Z > 2,6 : Perusahaan berada di zona AuamanAy Menurut Siswanto . Model Springate yang dikembangkan pada tahun 1978 menggunakan pendekatan Multiple Discriminant Analysis (MDA) dengan menyaring 19 rasio keuangan menjadi 4 rasio utama. Model ini mampu memprediksi kebangkrutan dengan akurasi hingga 92,5%, di mana perusahaan dengan S-score di bawah 0,862 dikategorikan berpotensi bangkrut. yc = ya, yaycycya yc, yayiycya ya, yiyiycyc ya, yeycye Sumber : Abadi dan Misidawati . Keterangan: X1 : Net Working Capital To Total Asset X2 : Earning Before Interes and Tax to Total Asset X3 : Earning Before Tax to Current Liabilities X4 : Sales to Total Asset Setelah dilakukan perhitungan rasio-rasio keuangan yang masuk kedalam model Springate. Selanjutnya dapat diklarifikasikan berdasarkan kriteria prediksi sebagai berikut: S < 0,862 = perusahaan diprediksi berpotensi bangkrut (Non Distres. S > 0,862 = perusahaan diprediksi tidak berpotensi mengalami bangkrut ( Distress ). HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Hasil Perhitungan Rasio Altman Z-Score Pada PT Waskita Karya Tbk X1 = Net Working Capital To Total Asset X1 = ycyenyeeyeeyeIyeayei ycyeiyeiyeIyei Oe ycyenyeeyeeyeIyeayei ycyeOyeCyeEyeOyesyeOyeiyeOyeIyei ycyeayeiyeCyes ycyeiyeiyeIyei Tabel 1. Nilai Rasio Net Working Capital to Total Assets PT Waskita Karya Tbk Periode 2021-2024 inyatakan dalam rupia. Tahun Aset Lancar Hutang Lancar Modal Kerja Bersih Total Aset WCTA 0,1485 0,1252 0,0124 0,0267 Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora e-ISSN 3109-421X Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 Sumber: Diolah oleh penulis . Berdasarkan tabel 4. 1, data tahun 2021 hingga 2024 menunjukkan hasil analisis rasio modal kerja bersih terhadap total aset (WCTA) sebagai salah satu unsur pendekatan Altman Z-Score. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas perusahaan. Pada tahun 2021, rasio WCTA mencapai 0,1485 dengan modal kerja Rp15. 628,- dan total aset Rp103. 340,-, yang mengindikasikan kondisi likuiditas cukup baik karena aset lancar masih jauh lebih tinggi dibandingkan kewajiban lancar. Namun, pada tahun 2022 terjadi penurunan rasio menjadi 0,1252 seiring turunnya modal kerja menjadi Rp12. 540,-, yang mencerminkan berkurangnya kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Kondisi semakin memburuk pada tahun 2023 ketika rasio WCTA turun ke angka negatif -0,0124 dengan modal kerja negatif Rp-1. 133,menandakan kewajiban jangka pendek telah melampaui aset lancar dan perusahaan berpotensi menghadapi tekanan likuiditas. Situasi ini semakin parah pada 2024 dengan modal kerja negatif Rp2. 177,- dan rasio WCTA -0,0267, yang menunjukkan kekurangan modal kerja semakin serius dan risiko kesulitan keuangan meningkat. Temuan ini mengindikasikan bahwa kondisi likuiditas PT Waskita Karya terus melemah dari tahun ke tahun, bahkan berpotensi menimbulkan financial distress apabila tidak segera dilakukan perbaikan. X2 = Retained Earning to Total Asset X2 = ycyeIyeiyeCyeOyeayeIyeI ycyeCyeeyeayeOyeayeO ycyeayeiyeCyes ycyeiyeiyeIyei Tabel 2. Nilai Rasio Retained Earning to Total Assets PT Waskita Karya Tbk Periode 2021-2024 inyatakan dalam rupia. Tahun Laba Ditahan Total Aset RETA -0,0743 -0,1012 -0,1434 -0,2111 Sumber: Diolah oleh penulis . Berdasarkan tabel 4. 2, data tahun 2021 hingga 2024 menunjukkan bahwa rasio RETA dalam model Altman Z-Score, yang mengukur laba ditahan terhadap total aset, berada pada kondisi negatif di seluruh periode dan terus menurun setiap tahunnya. Pada tahun 2021, laba ditahan tercatat sebesar Rp7. 145,- dengan rasio RETA -0,0743 dari total aset Rp103. 340,-, yang mengindikasikan perusahaan belum mampu menghasilkan laba berkelanjutan. Tahun 2022 kondisi semakin memburuk dengan rasio -0,1012 akibat defisit laba ditahan meningkat menjadi Rp9. 000,- atau lebih dari 10% dari total aset. Situasi semakin parah pada 2023, ketika laba ditahan turun menjadi Rp-13. 585,- dan rasio RETA -0,1434, sementara total aset Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis e-ISSN 3109-421X Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 perusahaan juga menurun menjadi Rp95. 967,-. Puncaknya, pada 2024 rasio RETA mencapai -0,2111 dengan defisit laba ditahan Rp-16. 048,-, yang menunjukkan perusahaan sangat bergantung pada dukungan eksternal dan tidak mampu menciptakan profitabilitas jangka Secara keseluruhan, tren negatif rasio RETA ini mencerminkan melemahnya profitabilitas dan ketahanan modal PT Waskita Karya Tbk, serta menjadi indikator serius adanya risiko financial distress. X3 = Earning Before Interes and Tax to Total Asset X3 = ycyeCyeeyeayeOyeayeO yeEyeIyeNyeayeeyeI yeOyeayeiyeIyeeyeIyeiyei yeCyeayeI yeiyeCyeo ycyeayeiyeCyes ycyeiyeiyeIyei Tabel 3. Nilai Rasio Earnings Before Interest and Tax to Total Assets PT Waskita Karya Tbk Periode 2021-2024 . inyatakan dalam rupia. Tahun Laba Sebelum Bunga Dan Pajak 0,0393 0,0200 0,0097 0,0035 Total Aset EBITTA Sumber: Diolah oleh penulis . Berdasarkan tabel 4. 3, rasio EBITTA PT Waskita Karya Tbk selama 2021Ae2024 menunjukkan tren penurunan tajam, menandakan melemahnya kemampuan aset perusahaan dalam menghasilkan laba operasional. Pada 2021 rasio EBITTA tercatat 0,0393 dengan EBIT Rp4,07 triliun dari total aset Rp103,60 triliun, kemudian turun menjadi 0,0200 pada 2022 seiring penurunan EBIT menjadi Rp1,96 triliun. Pada 2023 kondisi semakin memburuk dengan rasio 0,0097 dan EBIT Rp923 miliar, hingga pada 2024 merosot drastis ke 0,0035 dengan EBIT hanya Rp268 miliar dari total aset Rp77,15 triliun. Tren ini menunjukkan penurunan efisiensi operasional dan profitabilitas perusahaan, sekaligus mengindikasikan melemahnya daya saing serta meningkatnya risiko financial distress apabila tidak segera dilakukan perbaikan strategi. X4 = Book Value Equity to Book Value of Debt X4 = ycyeayeayeU ycyeCyesyenyeI ycyeeyenyeOyeiyeo ycyeayeayeU ycyeCyesyenyeI yeayeN ycyeIyeEyei Tabel 4. Nilai Rasio Book Value of Equity to Book Value of Debt PT Waskita Karya Tbk Periode 2021-2024 . inyatakan dalam rupia. Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis e-ISSN 3109-421X Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 Tahun Nilai Buku Ekuitas Total Hutang BVEBVD 0,1754 0,1696 0,1381 0,1138 Sumber: Diolah oleh penulis . Berdasarkan tabel 4. 4, rasio BVEBVD PT Waskita Karya Tbk selama 2021Ae2024 menunjukkan tren penurunan yang konsisten, mencerminkan semakin melemahnya struktur permodalan perusahaan. Pada 2021 rasio tercatat 0,1754 dengan ekuitas Rp15,46 triliun dan utang Rp88,14 triliun, lalu menurun menjadi 0,1696 pada 2022 akibat turunnya ekuitas menjadi Rp14,24 triliun. Kondisi memburuk pada 2023 dengan rasio 0,1381 seiring penurunan ekuitas ke Rp11,60 triliun, hingga mencapai titik terendah 0,1138 pada 2024 dengan ekuitas Rp7,88 triliun dan utang Rp69,27 triliun. Penurunan berkelanjutan ini menunjukkan dominasi utang terhadap ekuitas semakin besar, sehingga meningkatkan risiko gagal bayar dan memperlemah ketahanan keuangan perusahaan. Nilai Z-Score PT Waskita Karya Periode 2021-2024 yeA" = yi, yeyiycya yc, yayiycya yi, yiyaycyc ya, yayeycye Tabel 5. Nilai Perhitungan Model Altaman Z-Score PT Waskita karya Tbk Periode 2021-2024 yi, yeyi yc, yayi yi, yiya ya, yaye ycycycyc 0,9743 -0,2421 0,2644 0,8213 -0,3299 -0,0812 -0,1752 ZScore Kriteria ZScore 0,1842 11,808 Grey Area 0,1347 0,1781 0,8042 Financial Distress -0,4676 0,0649 0,1450 0,3389 Financial Distress -0,6882 0,0233 0,1195 0,7206 Financial Distress Tahun Sumber: Diolah oleh penulis . Berdasarkan tabel perhitungan di atas, hasil analisis Altman Z-Score terhadap kondisi keuangan PT Waskita Karya Tbk dari tahun 2021 hingga 2024, terlihat bahwa kondisi keuangan perusahaan tersebut secara bertahap semakin memburuk. Hal ini terlihat dari nilai Z-Score yang selalu berada < 1,1, bahkan mengalami penurunan setiap tahunnya. Pada tahun 2021, skor Z di angka 1,1808, yang Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora e-ISSN 3109-421X Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 menunjukkan bahwa perusahaan berada dalam zona abu-abu, meskipun masih dalam wilayah positif telah mulai menghadapi tekanan Keuangan. Namun, perusahaan tersebut belum menunjukkan tandatanda kebangkrutan yang jelas. Tahun berikutnya, skor Z turun menjadi 0,8042, yang mencerminkan kemerosotan dalam laba ditahan dan profil efisiensi operasional. Pada tahun 2023, situasinya bahkan semakin buruk, dengan Skor Z hanya -0,3389. Faktanya, sudah ada defisit modal kerja. Situasi ini berlanjut pada tahun 2024 dengan nilai -0,7206, menunjukkan risiko kebangkrutan meningkat karena semua indikator keuangan utama terus melemah. Secara keseluruhan. Skor Z menunjukkan bahwa kesehatan keuangan perusahaan menurun drastis Hasil Perhitungan Rasio Springate Pada PT Waskita Karya Tbk X1 = Net Working Capital To Total Asset X1 = ycyenyeeyeeyeIyeayei ycyeiyeiyeIyei Oe ycyenyeeyeeyeIyeayei ycyeOyeCyeEyeOyesyeOyeiyeOyeIyei ycyeayeiyeCyes ycyeiyeiyeIyei Tabel 6. Nilai Rasio Net Working Capital to Total Assets PT Waskita Karya Tbk Periode 2021-2024 . inyatakan dalam rupia. Tahun Aset Lancar Hutang Lancar Modal Kerja Bersih Total Aset WCTA 0,1485 0,1252 0,0124 0,0267 Sumber: Diolah oleh penulis . Berdasarkan tabel 4. 6, rasio WCTA PT Waskita Karya Tbk selama 2021Ae2024 menunjukkan penurunan signifikan yang mencerminkan melemahnya likuiditas perusahaan. Pada 2021 rasio tercatat positif 0,1485 dengan modal kerja Rp15,38 triliun dari total aset Rp103,60 triliun, namun turun menjadi 0,1252 pada 2022 seiring penurunan modal kerja ke Rp12,29 triliun. Tahun 2023 kondisi semakin memburuk dengan rasio -0,0128 akibat defisit modal kerja Rp-1,18 triliun, dan mencapai titik terendah pada 2024 dengan rasio -0,0267 serta defisit Rp-2,06 triliun. Tren ini menunjukkan bahwa aset lancar perusahaan tidak lagi mampu menutupi kewajiban jangka pendeknya, sehingga mengindikasikan masuknya perusahaan ke dalam kondisi kesulitan likuiditas. X2 = Earning Before Interes and Tax to Total Asset X2 = ycyeCyeeyeayeOyeayeO ycyeIyeNyeayeeyeI ycyeayeiyeIyeeyeIyeiyei yeCyea ycyeCyeo ycyeayeiyeCyes ycyeiyeiyeIyei Tabel 7. Nilai Rasio Earning Before Interest and Tax to Total Asset PT Waskita Karya Tbk Periode 2021-2024 . inyatakan dalam rupia. Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora e-ISSN 3109-421X Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 Tahun Laba Sebelum Bunga Dan Pajak Total Aset EBITTA 0,0393 0,0200 0,0097 0,0035 Sumber: Diolah oleh penulis . Berdasarkan tabel 4. 7, rasio EBITTA PT Waskita Karya Tbk selama 2021Ae2024 terus mengalami penurunan, mencerminkan melemahnya kemampuan aset dalam menghasilkan laba Nilai tertinggi tercatat pada 2021 sebesar 0,0393 dengan EBIT Rp4,07 triliun, namun turun menjadi 0,0200 pada 2022, 0,0097 pada 2023, hingga titik terendah 0,0035 pada 2024 dengan EBIT hanya Rp268 miliar. Tren ini menunjukkan penurunan efisiensi operasional yang signifikan dan menjadi sinyal perlunya evaluasi strategi agar perusahaan tidak semakin terjebak dalam risiko financial distress. X3 = Earning Before Tax to Current Liabilities X3 = ycyeCyeeyeayeOyeayeO yeEyeIyeNyeayeeyeI yeiyeCyeo ycyeayeiyeCyes ycyeOyeCyeEyeOyesyeOyeiyeOyeIyei Tabel 8. Nilai Rasio Earning Before Tax to Total Current Liabilities PT Waskita Karya Tbk Periode 2021-2024 . inyatakan dalam rupia. Tahun Laba Sebelum Pajak Hutang Lancar EBTCL -0,0399 -0,0578 -0,1649 -0,1718 Sumber: Diolah oleh penulis . Berdasarkan tabel 4. 8, rasio EBTCL PT Waskita Karya Tbk selama 2021Ae2024 menunjukkan tren negatif yang konsisten, mencerminkan lemahnya kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek melalui laba sebelum pajak. Pada 2021 rasio tercatat -0,0399 dengan kerugian Rp1,08 triliun, memburuk menjadi -0,0578 pada 2022, lalu anjlok ke -0,1649 pada 2023, dan tetap negatif di 2024 sebesar -0,1718 meskipun kerugian sedikit berkurang. Penurunan berkelanjutan ini menjadi sinyal kuat adanya risiko financial distress, sehingga perusahaan memerlukan langkah strategis untuk memulihkan profitabilitas dan memperbaiki likuiditas. Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis e-ISSN 3109-421X Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 X4 = Sales to Total Asset X4 = ycyeCyesyeIyei ycyeayeiyeCyes Aset Tabel 9. Nilai Rasio Sales to Total Asset PT Waskita Karya Tbk Periode 2021-2024 inyatakan dalam rupia. Tahun Penjualan Total Aset STA 0,1180 0,1558 0,1146 0,1387 Sumber: Diolah oleh penulis . Berdasarkan tabel 4. 9, rasio STA PT Waskita Karya Tbk selama 2021Ae2024 mengalami fluktuasi yang mencerminkan ketidakstabilan efisiensi aset dalam menghasilkan penjualan. Pada 2021 rasio tercatat 0,1180 dengan penjualan Rp12,22 triliun, meningkat menjadi 0,1558 pada 2022 seiring kenaikan penjualan Rp15,30 triliun. Namun, pada 2023 turun ke 0,1146 akibat penurunan penjualan menjadi Rp10,95 triliun, lalu kembali naik ke 0,1387 pada 2024 meskipun penjualan sedikit menurun karena penurunan signifikan pada total aset. Fluktuasi ini menunjukkan perusahaan belum mampu menjaga konsistensi efisiensi operasional, sehingga menjadi sinyal kelemahan dalam prospek keberlanjutan usaha. Nilai S-Score PT Waskita Karya Periode 2021-2024 yc = ya, yaycycya yc, yayiycya ya, yiyiycyc ya, yeycye Tabel 10. Nilai Perhitungan Model Springate PT Waskita Karya Tbk Periode 201-2024 ya, yayc yc, yayi ya, yiyi ya, ye WCTA EBITTA BTCL 0,1530 0,1208 -0,0264 0,1290 0,0615 -0,0128 -0,0275 SScore Kriteria SScore 0,0472 0,2946 Financial Disress -0,0382 0,0623 0,2146 Financial Disress 0,0297 -0,1088 0,0458 0,0461 Financial Disress 0,0107 -0,1134 0,0555 0,0747 Financial Disress Tahun Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora e-ISSN 3109-421X Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 Sumber: Diolah oleh penulis . Berdasarkan hasil perhitungan, nilai S-Score perusahaan dari tahun 2021 hingga 2024 secara konsisten berada di bawah ambang batas sehat. Pada tahun 2021. S-Score tercatat sebesar 0,2946, yang masih relatif lebih baik dibandingkan tahun-tahun berikutnya, meskipun tetap dikategorikan dalam kondisi financial distress. Pada tahun-tahun berikutnya, nilai S-Score terus mengalami penurunan, yakni mencapai 0,2146 pada tahun 2022, -0,0461 pada tahun 2023, dan mencapai titik terendah -0,0747 pada tahun 2024. Penurunan tersebut mencerminkan kondisi keuangan perusahaan yang semakin melemah dari tahun ke tahun, terutama disebabkan oleh menurunnya margin keuntungan dan ketidakmampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aset-asetnya. Nilai negatif untuk tahun 2023 dan 2024 dengan jelas menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya rentan, tetapi juga dalam situasi kritis secara financial. Secara keseluruhan. Skor S menunjukkan bahwa kesehatan keuangan perusahaan menurun drastis dalam kriteria financial distress. PEMBAHASAN Analisis Prediksi Financial Distress Menggunakan Model Altman Z-Score Pada PT Waskita Karya Tbk Periode 2021-2024 Dalam penelitian ini. Altman Z-Score digunakan untuk menganalisis tingkat kesehatan keuangan perusahaan dalam kondisi sehat atau menuju kebangkrutan pada PT Waskita Karya Tbk selama periode 2021 hingga 2024. Berdasarkan perhitungan Altman Z-Score dengan pendekatan empat variabel. Varibel yang pertama Working Capital to Total Asset pada tahun 2021 angka yang di peroleh 0,1485 di lanjut dengan tahun 2022 menghasilkan angka 0,1252 setelah itu pada tahun 2023 mengalami penurunan yang sangat signifikan menjadi -0,0124 dilanjut dengan penurunan di tahun 2024 yang menghasilkan angka -0,0267, meskipun ada kenaikan angka ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Dapat diartikan bahwa kemampuan aset menanggung modal kerja yang menurun pada tahun tersebut dan angka negatif ini bahkan menunjukkan adanya defisit modal kerja. Dengan kata lain, liabilitas jangka pendek perusahaan melebihi aset jangka pendeknya. Variabel kedua Retained Earnings to Total Assets. Pada tahun 2021 memperoleh nilai -0,0743, ditahun 2022 masih dengan angka minus yaitu -0,1012 meskipun ada kenaikan tipis, tahun 2023 masih berada pada angka yang negatif sebesar -0,1434, kemudian dilanjut pada tahun 2024 yang memperoleh nilai -0,2111. Dalam ini dapat di artikan bahwa perusahaan belum mencapai laba di tahan yang optimal dengan total aset yang dimiliki. Variabel yang ketiga yaitu Earnings Before Interest and Tax to Total Assets. Pada tahun 2021 nilai yang diperoleh dari perhitungan rasio ini sebesar 0,0393, dilanjut dengan adanya penurunan di tahun 2022 dengan nilai 0,0200 tahun 2023 mendapatkan hasil 0,0097, sampai ditahun 2024 menghasilkan nilai 0,0035. Berdasarkan peran total aset dalam mendapatkan laba sebelum bunga dan pajak bahwa produktivitas PT Waskita Karya dapat dikatakan belum maksimal hal tersebut berdampak pada penurunan nilai rasio di setiap tahun. Variabel yang keempat Book Value of Equity to Book Value of Debt. Pada tahun 2021 rasio ini mendapatkan nilai 0,1754, mulai mengalami penurunan di tahun 2022 dengan nilai sebesar 0,1696 secara konsinten pada tahun 2023 dan 2024 nilai mengalami penurunan sebesar 0,1381 dan 0,1138. Dengan demikian diartikan perusahaan memiliki proporsi utang yang lebih besar dibandingkan dengan modal sendiri. Setelah diperoleh hasil dari masing-masing variabel, nilai-nilai tersebut kemudian dapat dimasukan ke dalam rumus perhitungan model Altman Z-Score. Berdasarkan tabel perhitungan Altman Z-Score nilai yang diperoleh pada tahun 2021 1,1808, dalam artian perusahaan berada di 1,1 < ZAy < 2,6 yang masuk dalam kriteria grey area. Meskipun perusahaan dalam kondisi positif tapi tetap menjadi kekhawatiran dan kondisi ini sudah mecerminkan zona tidak aman yang menghadapi resiko Masuk tahun 2022 nilai Z-Score lebih menurun yang berada di angka 0,8042. Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora e-ISSN 3109-421X Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 menandakan kondisi profitabilitas dan likuiditas perusahaan memburuk yang di tandai laba menurun dan kewajiban jangka panjang yang terus meningkat. Laba ditahan yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan gagal mengumpulkan laba yang cukup sebagai sumber pembiayaan internal, sehingga mengurangi ketergantungan pada utang eksternal. Situasi semakin memburuk di tahun 2023, dimana angka yang di peroleh sudah berada dalam area negatif dengan nilai -0,3389. Nilai negatif ini menjadi tanda-tanda perusahaan berada dalam struktur negatif yang tidak sehat, kinerja negatif seperti laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) juga menunjukkan penurunan tajam serta dimana kewajiban lancar yang melebihi aset lancar perusahaan. Tahun 2024 menjadi nilai titik terendah Z-Score dengan nilai 0,7206, ini menandakan perusahaan sudah mengalami krisis keuangan secara menyeluruh dalam rumus Altman, termasuk efisiensi penggunaan aset dan struktur permodalan, menunjukkan kinerja negatif. Berdasarkan data tersebut hasil analisis metode Altman Z-Score perusahaan PT Waskita Karya tbk berada dalam kategori financial distress yang sangat beresiko menuju kebangkrutan apabila perusahaan tidak melakukan penanganan terkait kodisi saat ini dan membutuhkan langkah-langkah pemulihan yang cepat dan strategis untuk bisa keluar dari kondisi tersebut, restrukturisasi utang merupakan salah satu opsi utama, yang dapat dilakukan melalui negosiasi penurunan suku bunga atau perpanjangan jangka waktu. Mengingat posisi penting PT Waskita Karya dalam pembangunan infrastruktur nasional, langkah selanjutnya adalah mencari sumber pendanaan lain, termasuk dari investor swasta dan dukungan pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas. Dengan nilai Z-Score yang terus menurun secara signifikan dari tahun ke tahun. Maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan mengalami kondisi financial distress selama periode penelitian dengan menggunakan metode Altman Z-Score. Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Idi . C & Borolla. Jdkk. yang menyatakan bahwa perusahaan dengan nilai Z Score rendah atau dibawah 1,1 berada dalan kondisi financial distress yang beresiko menyebabkan kebangkrutan. Analisis Prediksi Financial Distress Menggunakan Model Springate Pada PT Waskita Karya Tbk Periode 2021-2024 Analisis dengan menggunakan metode Springate pada PT Waskita Karya Tbk periode 20212024 untuk memprediksi perusahaan dalam kondisi sehat atau menuju kebangkrutan yang menggunakan empat variabel. Pada variabel pertama yaitu Working Capital to TotaL Asset. Yang menunjukkan di tahun 2021 menghasilkan nilai 0,1485 selanjutnya pada tahun 2022 nilai mengalami penurunan menjadi 0,1252 serta di tahun 2023 menunjukkan nilai negatif -0,0124 dan pada tahun 2024 nilai masih menunjukkan negatif -0,0267. Dapat diartikan terdapat penurunan kemampuan aset dalam membiayai modal kerja pada periode tersebut. Variabel yang ke dua Earnings Before Interest and Tax to Total Assets. Ditahun 2021 rasio ini mendapatkan nilai 0,0393, dilanjut pada tahun 2022 nilai sebesar 0,0200 terus berlanjut mengalami penurunan tahun 2023 senilai 0,0097 dan tahun 2024 sebesar 0,0035. Dalam hal ini peran total aset dalam menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak menunjukkan bahwa tingkat produktivitas perusahaan belum mencapai kondisi yang maksimal, yang dapat dilihat dari penurunan di tahun 2021 laba sebelum bunga dan pajak perusahaan Rp4. 936,- menurun menjadi Rp268. 774,- di tahun 2024 sedangkan perusahaan memiliki total aset Rp103. 340,di tahun 2021 dan semakin menurun setiap tahunnya, pada tahun 2024 menjadi Rp77. Nilai rasio secara konsisten setiap tahunnya. Selanjutnya variabel yang ketiga yaitu Earning Before Tax to Total Current Liabilities. Dalam rasio ini empat tahun berturut-turut mencatat nilai negatif, tahun 2021 nilai yang di dapatkan oleh rasio ini senilai -0,0399 tahun 2022 sebesar -0,0578 dilanjut pada tahun 2023 senilai -0,1649 dan di tahun 2024 memperoleh nilai -0,1718. Dengan demikian ini rasio perusahaan mengalami penurunan berturut-turut di karenakan jumlah hutang lancar yang di dapatkan lebih tinggi pada tahun 2021 dengan Rp27. 697,- dibandingkan dengan jumlah laba yang di peroleh yang terus mengalami penurunan hingga negatif dan yang paling besar pada tahun 2024 sebesar Rp3. 928,-Variabel yang keempat yaitu Sales to Total Asset. Pada tahun 2021 memperoleh Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora e-ISSN 3109-421X Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 nilai 0,1180, di tahun 2022 ada kenaikan tipis sebesar 0,1558, namun mulai menurun kembali senilai 0,1146 di tahun 2023 dan pada tahun 2024 nilai sebesar 0,1387. Kondisi tersebut terjadi karena rendahnya kemampuan perusahaan dalam mengelola aset untuk menghasilkan penjualan secara optimal. Berdasarkan penelitian dengan metode Springate ini bahwa selama empat tahun berturut-turut mengalami penurunan yang signifikan. Pada tahun 2021 PT Waskita Karya Tbk menunjukan nilai 0,2946, meskipun nilai ini masih dalam positif namun nilai ini masih jauh dari nilai kriteria S < 0,862. Kondisi sangat rentan untuk menuju kebangkrutan. Dapat dilihat pada tahun 2022 penurunan terus berlanjut sampai memperoleh nilai 0,2146 yang menunjukkan penurunan hampir 27% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dapat diartikan perusahaan belum mampu maksimal kewajiban jangka pendek dan menghasilkan laba dengan memanfaatkan asetnya yang mengakibatkan penurunan dratis. Memasuki tahun 2023, keadaan keuangan perusahaan semakin memburuk dengan nilai yang negatif SScore -0,0461 membuktikan penurunan sangat exstrem. Dalam hal ini perusahaan sudah mengalami kesulitan keuangan, selanjutnya di tahun 2024 masih terlihat hasil yang negatif dengan memperoleh nilai sebesar -0,0747. Maka dari perhitungan metode springate dapat disimpulkan bahwa perusahaan PT Waskita Karya dalam kondisi financial distress. Dengan demikian, tindakan penyelamatan yang bersifat komprehensif, menyeluruh, dan terkoordinasi menjadi suatu kebutuhan yang mendesak bagi PT Waskita Karya Tbk untuk mengurangi dampak buruk dari situasi kesulitan finansial yang sedang dialami. Salah satu tindakan strategis yang harus dilakukan adalah restrukturisasi utang dengan kreditur dan institusi keuangan, yang meliputi negosiasi ulang syarat pembayaran, penyesuaian suku bunga, serta perpanjangan periode pelunasan, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap arus kas perusahaan dan memberi kesempatan untuk stabilisasi keuangan jangka pendek. Selanjutnya, dalam pandangan jangka panjang, perusahaan harus mencurahkan perhatian dan sumber daya lebih banyak untuk meningkatkan efektivitas manajemen proyek dan penerapan prinsip-prinsip tata kelola keuangan yang baik . ood corporate governanc. , melalui perencanaan yang terencana, pengawasan yang ketat, serta pelaporan yang akuntabel dan Strategi ini diharapkan mampu berkontribusi terhadap peningkatan margin keuntungan, pencapaian efisiensi biaya, serta penguatan daya saing perusahaan secara berkelanjutan dalam menghadapi dinamika industri konstruksi yang kompetitif Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan Suadnyana. M & Musmini. yang menyatakan bahwa perusahaan dengan nilai S- Score rendah atau dibawah S < 0,862 berada dalan kondisi financial distress yang beresiko menyebabkan kebangkrutan. SIMPULAN Kesimpulan berikut diperoleh berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan pada PT Waskita Karya Tbk periode 2021-2024 sebagai berikut: Berdasarkan hasil analisis Financial Distress pada PT Waskita Karya Tbk pada tahun 2021 hingga 2024 dengan menggunakan metode Altman Z-Score. Dapat diketahui selama empat tahun berturut- turut perusahaan PT Waskita Karya Tbk mengalami masalah keuangan yang menunjukkan penurunan yang signifikan. Pada tahun 2021 PT Waskita Karya Tbk berada dalam kategori zona abuabu . rey are. , artinya meskipun kondisi keuangannya tidak sepenuhnya stabil, namun juga tidak berada di ambang kebangkrutan. Namun, mulai tahun 2022 hingga 2024 mengalami penurunan yang mengindikasikan bahwa PT Waskita Karya Tbk dikategorikan dalam keadaan Financial Disterss. Dalam artian perusahaan harus meningkatkan kinerja keuangan dan menghindari resiko yang lebih besar dimasa yang akan datang. Berdasarkan hasil analisis Financial Distress pada PT Waskita Karya Tbk pada tahun 2021 hingga 2024 dengan menggunakan metode Springate. Dapat diketahui selama empat tahun berturutturut perusahaan PT Waskita Karya Tbk mengalami masalah keuangan yang berlanjut dengan nilai Progressus Humanitatis Copyright A pada Penulis Periode Terbit : April - Juli 2025 . Progressus Humanitatis Fokus Ekonomi. Manajemen dan Humaniora e-ISSN 3109-421X Volume : 01. Nomor : 01 . Tahun 2025 dibawah 0,862 jauh dari zona aman. Situasi ini mengindikasikan PT Waskita Karya Tbk berada dalam kondisi Financial Disterss. Hal ini dapat menggangu keberlangsungan bisnis perusahaan serta menyebabkan kebangkrutan jika tidak ada perbaikan perusahaan mengenai masalah keuangan. PENGHARGAAN penulis mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing atas arahan, bimbingan, serta masukan yang berharga selama proses penyusunan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada pihak perusahaan yang menjadi objek penelitian, khususnya PT Waskita Karya Tbk, yang telah menyediakan data serta informasi yang diperlukan dalam proses Dukungan dan keterbukaan dari pihak perusahaan sangat membantu penulis dalam memperoleh gambaran nyata terkait kondisi yang diteliti, sehingga penelitian ini dapat disusun dengan lebih komprehensif dan bermanfaat. DAFTAR PUSTAKA