Sophia dan Suhendah: Peran Firm Size dalam Memoderasi Determinan Cash Holding . PERAN FIRM SIZE DALAM MEMODERASI DETERMINAN CASH HOLDING Natasya Yohana Sophia dan Rousilita Suhendah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara Jakarta *Email: natasya. 125200192@stu. Abstract: The purpose of this study was to analyze the effect of profitability, liquidity, and net working capital on cash holding moderated by firm size. This study uses data on property and real estate sector companies listed on the IDX. This study used 44 company samples with 132 observations that met the purposive sampling criteria. The data used is secondary data from the company's financial statements. The data processing technique used uses moderation regression analysis with the help of Microsoft Excel 2016 and Eviews 12. The results obtained from this study are liquidity has a negative effect on cash holding, while profitability and net working capital do not have an effect on cash holding. Firm size cannot moderate the effect of profitability and net working capital on cash holding, while firm size can moderate the effect of liquidity on cash holding. Keywords: Profitability. Liquidity. Net Working Capital. Cash Holding, and Firm Size. Abstrak: Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh profitabilitas, likuiditas, dan net working capital terhadap cash holding dengan dimoderasi oleh firm size. Penelitian ini menggunakan data perusahaan sektor properti dan real estate yang terdaftar di BEI. Penelitian ini menggunakan 44 sampel perusahaan dengan 132 observasi yang memenuhi kriteria sampel purposive sampling. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari laporan keuangan perusahaan. Teknik pengolahan data yang digunakan menggunakan analisis regresi moderasi dengan bantuan Microsoft Excel 2016 dan E-views 12. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu likuiditas berpengaruh negatif terhadap cash holding, sedangkan profitabilitas dan net working capital tidak berpengaruh terhadap cash holding. Firm size dapat tidak dapat memoderasi pengaruh profitabilitas dan net working capital terhadap cash holding, sedangkan firm size dapat memoderasi pengaruh likuiditas terhadap cash holding. Kata kunci : Profitabilitas. Likuiditas. Net Working Capital. Cash Holding, dan Firm Size Pendahuluan Perekonomian Indonesia sempat terguncang pada saat awal munculnya pandemi COVID-19, pandemi yang hadir secara mendadak dan tidak terduga ini telah memberikan dampak yang siginifikan terhadap perekonomian Indonesia antara lain pada sektor properti dan real estate. Hal ini memaksa pemerintah untuk mengambil langkah-langkah tegas dengan memberlakukan pembatasan aktivitas ekonomi, sehingga menyebabkan penurunan tajam dalam aktivitas pasar properti dan real estate. Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1347-1357 Sophia dan Suhendah: Peran Firm Size dalam Memoderasi Determinan Cash Holding . Pada masa awal pandemi, terjadilah krisis keuangan. Maka dari itu perusahaan menekan pada pentingnya kepemilikan kas yang tercukupi. Keuangan perusahaan memiliki hubungan yang erat dengan cash holding dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan dan membayar kewajiban perusahaan. Cash holding merupakan kas dan ekuivalen kas yang dengan mudahnya dapat diubah menjadi uang tunai (Putri & Suhendah, 2. Sektor properti dan real estate memiliki hubungan erat dengan cash holding, tingkat cash holding pada perusahaan properti dan real estate akan mempengaruhi masuknya kas untuk mencukupi kebutuhan operasional perusahaan, serta untuk menarik para investor. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi cash holding suatu perusahaan seperti profitabilitas, likuiditas, dan net working capital. Pada penelitian ini, peneliti berupaya memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai hubungan antara profitabilitas, likuiditas, dan net working capital dengan cash holding sektor properti dan real estate dengan dimoderasi oleh firm size. Begitu beragamnya hasil penelitian terdahulu membuat peneliti melakukan pengujian kembali pengaruh profitabilitas, likuiditas, dan net working capital terhadap cash holding dengan dimoderasi oleh firm size pada sektor properti dan real estate tahun 2021-2023 yang terdaftar di BEI. Kajian Teori Trade-off Theory. Teori ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1963 oleh Modigliani dan Miller pada artikel American Economi Review 53. Teori ini menjabarkan mengenai keseimbangan yang harus terjadi antara biaya yang dikeluarkan dengan keuntungan yang diperoleh. Wirianata & Virianny . menyimpulkan bahwa dalam trade-off theory, perusahaan dapat memaksimalkan nilai yang diperoleh dengan menukar biaya marjinal dengan manffat marjinal dalam kepemilikan kas pada tingkat optimal. Menurut Rahman . , trade-of theory ialah manajer keuangan harus menemukan keseimbangan yang dapat diterima agar tidak memegang terlalu banyak atau sedikit kas. Keputusan yang tepat dan konsisten bertujuan untuk memaksimalkan nilai perusaahaan. Pecking Order Theory. Pertama kali dikemukakan pada tahun 1961 oleh Donaldson. Lalu pada tahun 1984. Myers dan Majluf melakukan penyempurnaan pada pecking order Teori ini menyatakan bahwa perusahaan mncari sumber pendanaan dengan risiko yang minim atau kecil. Elnathan & Susanto . perusahaan lebih menyukai dan akan memilih melakukan pendanaan menggunakan dana internal dibandingkan dana eksternal, karena perusahaan tidak perlu membuka diri dari sotoran pemodal luar. menurut Adha & Akmalia . pembiayaan yang menggunakan dana eksternal dapat menyulitkan perusahaan karena pendanaan menjadi lebih mahal. Cash Holding. Cash holding menjadi salah satu landasan untuk setiap manajer dalam pengelolaan keuangan kas perusahaan dengan baik, jika manajer perusahaan mampu mengelola kasnya dengan benar maka perusahaan tersebut dapat dinilai baik, menurut Adha & Akmalia . Cash holding merupakan salah satu komponen dari aktiva lancar yang paling likuid dan menjadi alat ukur kemampuan peusahaan dalam melunasi seluruh kewajibannya dengan tepat waktu Profitabilitas. Profitabilitas merupakan kemampuaan perusahaan dalam menghasilkan laba dari penjualan, aset, dan modal saham (Putri & Suhendah, 2. Ada pula menurut Rahman . , profitabilitas merupakan ukuran kemampuan perusahaan mengelola aset dan operasinya secara efisien untuk menghasilkan laba. Maka dari penjelasan yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa profitabilitas adalah ukuran kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba. Tingginya profitabilitas Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1347-1357 Sophia dan Suhendah: Peran Firm Size dalam Memoderasi Determinan Cash Holding . menunjukan banyaknya keuntungan yang dapat dihasilkan perusahaan (Adha & Akmalia Perusahaan yang memliki tingkat profitabilitas yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan dapat mengatur asetnya dengan baik dan memudahkan dalam memperoleh Sebaliknya perusahaan yang tingkat profitabilitas rendah maka perusahaan akan terus mengurangi uang tunai dan menggunakan utang sebagai sumber pendanaan mereka (Ridha, 2. Likuiditas. Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam melunasi utang jangka pendeknya, tingginya angka likuiditasnya mempengaruhi baiknya kemampuan perusahaan dalam pemenuhan kewajiban jangka pendeknya (Adha & Akmalia, 2. Sedangkan Wirianata & Viriany . menjelaskan bahwa likuiditas mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menggunakan atau memanfaatkan aset lancarnya untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya. Kemudian menurut Rahman Rahman . likuiditas merupakan rasio yang menunjukan hubungan antara kewajiban jangka pendek dengan kas dan aktiva lainnya. Semakin tinggi tingkat likuiditas perusahaan maka cash holding pada perusahaan tersebut akan semakin rendah. Net Working Capital. Modal kerja bersih (Net Working Capita. merupakan aset dan kewajiban lancar yang dapat menghasilkan modal kerja jika aset lancar lebih besar dari kewajiban lancar (Ross dkk, 2015 dalam Astuti dkk, 2. Lalu menurut Rahman . dan Agnesstyaningsih . dalam membiayai kegiatan operasional perusahaan tanpa mengganggu likuiditas, perusahaan dapat menggunakan Net Working Capital yang merupakan bagian dari aktiva lancar yang disediakan oleh perusahaan. Net working capital berperan penting dalam sebuah peusahaan. Apabila selisih antara aset dengan utang jangka pendek semain besar, maka dapat disimpulkan bahwa keuangan perusahaan dalam kondisi baik. Lalu sebaliknya, apabila jumlah utang lebih tinggi dibandingkan aset yang dimiliki, maka dapat disimpulkan bahwa keuangan perusahaan dalam kondisi tidak sehat dan di tengah ambang kebangkrutan. Firm Size. Menurut Agnesstyaningsih . Firm size ialah ukuran dari suatu perusahaan yang dapat dicerminkan dari total aktiva perusahaan tersebut. Sebuah perusahaan yang besar maka arus kas pada perusahaan akan lebih besar. Kemudian menurut Adha & Akmalia . , ukuran besar maupun kecil suatu perusahaan dapat dilihat dari toatal aset terpakai dalam usaha inti perusahaan tersebut. Perusahaan yang memiliki aset tinggi dapat dikatakan perusahaan yang besar, dan kepimilikan aset yang tinggi membuat keuangan perusahaan tersebut menjadi stabil (Putri & Suhendah, 2. Kaitan Antar Variabel Profitabilitas dan Cash Holding. Tingkat profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan untuk mendapatkab keuntungan dari aset yang dimilikinya. Profitabilitas merupakan ukuran tingkat keberhasilan atau kegagalan perusahaan untuk periode waktu tertentu (Kieso. Weygandt & Warfield, 2. Perusahaan yang memiliki nilai rasio profitabilitas yang tinggi artinya laba perusahaan semakin tinggi karena aset perusahaan dapat memenuhi kegiatan operasional perusahaan. Dalam kaitannya dengan pecking order theory, pecking order theory menjelaskan bahwa perusahaan lebih menyukai pendanaan internal dibandingkan dengan pendanaan eksternal. Azia & Naibaho . menyatakan bahwa perusahaan dengan tingkat perolehan keuntungan yang tinggi menandakan perusahaan mampu untuk melakukan pembayaran utang, dividen, dan penyimpanan kas. Perusahaan dengan tingkat perolehan keuntungan yang rendah menandakan kepemilian kas yang lebih sedikit sehingga memaksa perusahaan untuk menerbitkan saham maupun utang. Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1347-1357 Sophia dan Suhendah: Peran Firm Size dalam Memoderasi Determinan Cash Holding . Likuiditas dan Cash Holding. Perusahaan dengan tingkat likuiditas tinggi mampu melengkapi pemenuhan kebutuhan transaksi operasional dengan aset likuid yang Aset likuid sangat mudah diubah menjadi kas yang dimiliki perusahaan untuk membiayai kegiatan operasionalnya. Dalam kaitannya dengan pecking order theory, manajemen perusahaan lebih menyukai pendanaan internal dibandingkan dengan pendanaan eksternal. Perusahaan yang menguntungkan idealnya memiliki tingkat likuiditas yang tinggi. Perolehan keuntungan yang didapat oleh perusahaan dapat menjadi arus kas yang baik untuk pendanaan internal perusahaan (Wirianata & Viriany, 2. Pendanaan internal dari keuntungan perusahaan dapat digunakan untuk membiayai utang jangka pendek yang dimiliki perusahaan. Di satu sisi, terlalu sedikit kepemilikan kas perusahaan dapat meningatkan risiko likuiditas yang menyebabkan perusahaan tidak mampu membayar utang jangka pendek yang dimilikinya. Net Working Capital dan Cash Holding. Net working capital berperan menjadi pengganti kas perusahaan (Putri & Suhendah, 2. Net working capital menggambarkan aset perusahaan setelah kas yang mudah untuk dikonversi menjadi kas. Nilai modal kerja pada umumnya hanya digunakan untuk aktivitas operasi bukan untuk Dalam kaitannya dengan trade-off theory, teori tersebut menjelaskan bahwa kepemilikan kas berbanding terbalik dengan modal kerja bersih. Net working capital terdiri atas aset perusahaan yang likuid setelah kas dan setara kas karena dapat dengan cepat dikonversi menjadi kas dengan biaya konversi yang relatif rendah (Wirianata & Viriany, 2. Maka dari itu, secara tidak langsung semakin tinggi nilai modal kerja bersih maka akan semakin rendah kepemilikan kas perusahaan. Firm Size dan Cash Holding. Firm size menggambarkan besar kecilnya aset perusahaan (Putri & Suhendah, 2. Dalam kaitannya dengan pecking oder theory, perusahaan besar dengan akses pasar yang lebih luas dapat memaksimalkan keuntungan yang diperoleh sehingga dapat mengalokasikan dana lebih banyak untuk pendanaan aktivitas operasional dari arus kas yang positif (Wirianata & Viriany, 2. Kemudahan akses pasar memberikan fleksibelitas yang lebih besar bagi perusan (Rahman, 2. Maka dari itu firm size dapat berdampak secara positif terhadap kepemilikan kas Profitabilitas. Firm Size, dan Cash Holding. Dalam kaitannya dengan pecking order theory menggunakan firm size untuk memoderasi profitabilitas terhadap cash holding, semakin besar perusahaan maka kepemilikan kas perusahaan cenderung lebih banyak (Azia & Naibaho, 2. Hal ini dikarenakan perusahaan besar cenderung memiliki arus kas yang positif dan stabil dibandingkan perusahaan kecil. Sehingga secara tidak langsung, perusahaan besar mempunyai pendapatan yang besar, dapat dimanfaatkan dalam mendanai aktivitas operasi perusahaan maupun disimpan sebagai kas. Likuiditas. Firm Size dan Cash Holding. Dalam kaitannya trade off theory menggunakan firm size untuk memoderasi likuiditas terhadap cash holding, perusahaan yang besar cenderung menyimpan sedikit kas karena adanya dukungan utang yang kuat sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan kasnya guna keperluan investasi pada peluang yang ada (Rahman, 2. Secara implisit hal ini menandakan perusahaan yang semakin besar maka kepemilikan kas nya akan mengecil karena telah memiliki dukungan utang yang kuat. Semakin besar perusahaan, mungkin akan mengunakan kasnya untuk investasi untuk mendapatkan keuntungan. Net Working Capital. Firm Size dan Cash Holding. Net working capital dapat menjadi subsitusi kas pada perusahaan yang dapat dipengaruhi besar kecilnya perusahaan Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1347-1357 Sophia dan Suhendah: Peran Firm Size dalam Memoderasi Determinan Cash Holding . (Putri & Suhendah, 2. Dalam kaitan trade-off theory menggunakan firm size untuk memoderasi net working capital terhadap cash holding, perusahaan yang semakin besar cenderung memegang sedikit kas karena sudah memiliki subsitusi kas yaitu net working capital yang cukup (Azia & Naibaho, 2. Pengembangan Hipotesis Profitabilitas merupakan kemampuan sebuah perusahaan untuk menghitung seberapa besar keuntungan yang diperoleh perusahaan dari penggunaan aset yang dimiliki. Perusahaan menggunakan keuntungan yang dihasilkan untuk kepentingan pemegang saham dan operasional, maka semakin tinggi tingkat profitabilitas maka semakin tinggi jumlah kas yang dimiliki (Wirianata & Viriany, 2. Pecking order theory menjelaskan bahwa perusahaan yang lebih menguntungkan cenderung mengumpulkan uang tunai lebih banyak untuk kebutuhan masa depan (Sethi & Swain, 2. H1: Profitabilitas berpengaruh positif terhadap cash holding. Likuiditas mencerminan suatu perusahaan yang memiliki aset lancar yang cukup untuk melunasi kewajiban lancarnya. Tingkat likuiditas yang tinggi harus didukung dengan kepemilikan kas yang memadai, apabila kepemilikan kas terlalu sedikit dapat meningkatkan risiko gagal bayar dalam pelunasan kewajiban jangka pendeknya (Wirianata & Viriany, 2. Sejalan dengan pecking order theory bahwa perusahaan lebih menyukai pendanaan internal, maka semakin tinggi angka likuiditas maka semakin tinggi pula tingkat kepemilikan kas untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya. Maka dari itu perusahaan akan lebih dominan menggunakan pendanaan internal dengan menyimpan aset yang mudah likuid dan cenderung tidak menyimpan kas. H2: Likuiditas berpengaruh negatif terhadap cash holding. Net working capital merupakan alternatif selain uang tunai, semakin tinggi tingkat net wokring capital dapat menggantikan uang tunai dan aset likuid lainnya (Diaw, 2. Trade-off theory menjelaskan adanya hubungan negatif antara net working capital terhadap cash holding. Trade-off theory memberikan pengertian bahwa semakin tinggi net wroking capital dianggap akan cenderung memegang lebih sedikit kas. H3: Net working capital berpengaruh negatif terhadap cash holding. Firm size adalah sebuah ukuran yang menggambarkan besar atau kecilnya perusahaan yang dapat diukur dari total aset yang dimiliki perusahaan. Sejalan dengan pecking order theory yang menjelaskan firm size berpengaruh positif terhadap cash holding karena semakin besarnya perusahaan maka kas yang dimiliki perusahaan juga akan semakin Kas yang dipegang perusahaan cenderung dimanfaatkan untuk investasi. H4: Firm size berpengaruh positif terhadap cash holding. Mengacu pada pecking order theory, perusahaan yang lebih menyukai sumber dana internal akan berusaha untuk memperoleh kestabilan kas. Stabilitas sumber daya keuangan perusahaan dapat menghindarkan perusahaan dari kesulitan keuangan . inansial distres. , yang sulit dihadapi oleh perusahaan kecil (Azia & Naibaho, 2. Perusahaan yang besar dengan akses pasar yang luas membuat perusahaan lebih mudah dalam memperoleh profit yang nantinya akan disimpan sebagai kas dan lambat laun akan tercapai kondisi kestabilan kas tersebut. H5: Firm size dapat memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap cash holding. Mengacu pada trade-off theory, perusahaan yang besar dapat lebih mudah memperoleh dukungan kas dari kreditur sehingga perusahaan besar tidak kesulitan untuk mendapatkan kas. Hal ini membuat perusahaan cenderung tidak menyimpan kas. Rahman . , perusahaan besar memiliki kecenderunagn untuk melakukan investasi Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1347-1357 Sophia dan Suhendah: Peran Firm Size dalam Memoderasi Determinan Cash Holding . menggunakan kas nya pada growth opportunity yang ada dengan tidak mengkhawatirkan pemakaian kasnya. H6: Firm size dapat memoderasi pengaruh likuiditas terhadap cash holding. Mengacu pada trade-off theory, net working capital dapat digunakan untuk menjadi subsitusi kas sehingga semakin besar skala perusahaan maka dapat berpengaruh terhadap ketersediaan kas yang dimiliki perusahaan (Azia & Naibaho, 2. Putri & Suhendah . , perusahaan yang mengalami defisit modal net working capital cendeung membuat cadangan kas. Hal ini menandakan bahwa kas perusahaan dengan net working capital merupakan dua hal yang saling melengkapi, apabila net working capital H7: Firm size dapat memoderasi pengaruh net working capital terhadap cash holding. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini seperti digambarkan dibawah ini Firm Size (Z) Profitabilitas (X. Likuiditas Cash Holding (X. Net Working Capital (X. (Y) Gambar 1. Kerangka Pemikiran Metodologi Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Sugiyono . , metode penelitian kuantitatif adalah metode tradisional yang berlandaskan pada filsafat Peneltian ini menggunakan jenis data yaitu data panel. Azia & Naibaho . menjelaskan data panel mendefinisikan gabungan dari beberapa data berdasarkan time series dan cross section. Studi ini menerapkan penggunaan data sekunder yang di dapat dari laporan keuangan tahunan perusahaan sektor properti dan real estate yang ada di laman resmi BEI yaitu w. id dengan periode 2021-2023. kriteria sampel yang telah ditentukan peneliti : . Perusahaan sektor properti & real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2021-2023. Perusahaan sektor properti & real estate yang menyajikan laporan keuangan tahunan berturut-turut periode 2021-2023. Perusahaan sektor properti & real estate yang menggunakan mata uang Rupiah (IDR) dalam laporan keuangan tahunannya. Penelitian dilakukan terhadap 67 perusahaan sektor properti dan real estate yang terdaftar di BEI dengan total populasi 44 perusahaan dan 132 sampel data setelah dikurangi data outlier. Variabel operasional dan pengukuran yang digunakan adalah : Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1347-1357 Sophia dan Suhendah: Peran Firm Size dalam Memoderasi Determinan Cash Holding . Variabel Cash Holdings Tabel 1. Variabel Operasional Dan Pengukuran Sumber Ukuran Wirianata & Virianny . yaycaycEa yaycuycoyccycnycuyciyc = Skala yaycaycEa ycaycuycc yaycaycEa yaycycycnycycaycoyceycuyc ycNycuycycayco yaycycyceycyc Rasio Wirianata Profitabilitas & Virianny . Likuiditas Kieso. Weygandt, & Warfield Net Working Capital Wirianata & Virianny . ycAyceyc ycOycuycycoycnycuyci yaycaycyycnycycayco yaycycycyceycuyc yaycycyceycyc Oe yaycycycyceycuyc yaycnycaycaycnycoycnycycnyceyc Oe yaycaycEa ycaycuycc yaycaycEa yaycycycnycycaycoyceycuyc ycNycuycycayco yaycycyceycyc Rasio Firm Size Wirianata & Virianny . yaycnycyco ycIycnycyce = yaycu . cNycuycycayco yaycycycey. Rasio ycAyceyc yaycuycaycuycoyce ycNycuycycayco yaycycyceycyc Rasio yaycycycyceycuyc yaycycyceycyc yaycycycyceycuyc yaycnycaycaycnycoycnycycnyceyc Rasio ycIyceycycycycu ycuycu yaycycyceycyc = yaycycycyceycuyc ycIycaycycnycu = Sumber : data diolah Hasil Uji Statistik dan Kesimpulan Uji asumsi klasik dengan tujuan untuk mengetahui apakah data penelitian sudah memenuhi kriteria dasar. Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas. Hasil dari uji normalitas, dihasilkan nilai probabilitas Jarque-Bera sebesar 4,171015 yang lebih besar dari 0,05 sehingga data terdistribusi nornal. Hasil uji Multikolinieritas menunjukan nilai Variance Inflation Factor (VIF) berada kurang dari 10, maka model regresi terbebas dari multikolinieritas. Hasil uji Heteroskedastisitas diperoleh nilai probabilitas sebesar 0,0585 lebih kecil dari 0,05, sehingga model regresi tidak terdapat gejala heteroskedastisitas. Hasil uji Autokorelasi diperoleh nilai dL = 1,6696 dan dU = 1,7624. Menggunakan kriteria yang telah dijelaskan oleh Sahir . , dilakukan perhitungan sebagai berikut: dU < DW < 4 Ae dU berarti 1,7624 < 1,7656 < 2,2376. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, maka uji autokorelasi dikatakan lolos dan tidak terdapat autokorelasi antar variabel. Hasil uji pengaruh . dilakukan setelah keseluruhan uji asumsi klasik memenuhi syarat, dan hasilnya disajikan pada tabel dibawah ini: Tabel 2. Hasil Uji Analisis Regresi Data Panel dengan Moderasi Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob ROA Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1347-1357 Sophia dan Suhendah: Peran Firm Size dalam Memoderasi Determinan Cash Holding . NWC ROA. CR. NWC. Berdasarkan hasil pengujian pada tabel di atas, maka diperoleh persamaan regresi moderasi yang digunakan untuk penelitian ini, yaitu sebagai berikut: CH = 0,005934 1,733787 ROA Ae 0,028407 CR 0,030109 NWC 0,001085 FS Ae 0,040461 ROA. FS 0,001076 CR. FS Ae 0,002989 NWC. Berdasarkan hasil regresi moderasi, pada variabel profitabilitas . eturn on asset. , variabel net working capital, dan variabel firm size tidak berpengaruh signifikan terhadap cash holding. Pada variabel likuiditas . urrent rati. berpengaruh signifikan terhadap cash holding. Variabel firm size tidak dapat memoderasi pengaruh profitabilitas dan net working capital terhadap cash holding. variabel firm size dapat memoderasi pengaruh likuiditas terhadap cash holding. Nilai koefisien determinasi (Adjusted R. sebesar 0,784705 atau 78,47%. Maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan variabel independen dan moderasi penelitian . rofitabilitas, likuiditas, net working capital, dan firm siz. berkontribusi mempengaruhi variabel independen . ash holdin. sebesar 0,784705 atau 78,47%. Berdasarkan hasil regresi moderasi tersebut, diperoleh nilai probabilitas uji t sebesar 0,0609 > 0,05 untuk variabel independen yaitu profitabilitas . eturn on asset. Hal ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel profitabilitas . eturn on asset. tidak berpengaruh signifikan terhadap cash holding. Berdasarkan hasil regresi moderasi tersebut, diperoleh nilai probabilitas uji t sebesar 0,0284 < 0,05untuk variabel independen yaitu likuiditas . urrent rati. Hal ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel likuiditas . urrent rati. berpengaruh signifikan terhadap cash holding. Berdasarkan hasil regresi moderasi tersebut, diperoleh nilai probabilitas uji t sebesar 0,9273 > 0,05 untuk variabel independen yaitu net working capital. Hal ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel net working capital tidak berpengaruh signifikan terhadap cash holding. Berdasarkan hasil regresi moderasi tersebut, diperoleh nilai probabilitas uji t sebesar 0,2279 > 0,05 untuk variabel interaksi antara return on assets dengan firm size. Hal ini menunjukkan bahwa variabel firm size tidak dapat memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap cash holding. Berdasarkan hasil regresi moderasi tersebut, diperoleh nilai probabilitas uji t sebesar 0,0238 < 0,05 untuk variabel interaksi antara current ratio dengan firm size. Hal ini menunjukkan bahwa variabel firm size dapat memoderasi pengaruh likuiditas terhadap cash holding. Berdasarkan hasil regresi moderasi tersebut, diperoleh nilai probabilitas uji t sebesar 0,8039 > 0,05 untuk variabel interaksi antara net working capital dengan firm size. Hal Jurnal Multiparadigma Akuntansi. Volume VII No. 3/2025 Edisi Juli Hal: 1347-1357 Sophia dan Suhendah: Peran Firm Size dalam Memoderasi Determinan Cash Holding . ini menunjukkan bahwa variabel firm size tidak dapat memoderasi pengaruh net working capital terhadap cash holding. Diskusi Hasil analisis regresi moderasi menunjukan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap cash holding, maka H1 ditolak. Hal ini kemungkinan dikarenakan perusahaan cenderung mengalokasikan kas yang diperoleh dari keuntungan untuk diinvestasikan kembali sehingga kepemilikan kas perusahaan berada di angka yang sama dari waktu ke Hasil analisis regresi moderasi menunjukan bahwa likuiditas berpengaruh negatif terhadap cash holding, maka H2 diterima. Hal ini kemungkinan disebabkan karena perusahaan lebih suka untuk menyimpan persediaan dan aset lancar lainnya yang mudah untuk dikonversi menjadi kas dibandingkan menyimpan likuiditasnya dalam kas. Hasil analisis regresi moderasi menunjukan bahwa net working capital tidak berpengaruh terhadap cash holding, maka H3 ditolak. Hal ini kemungkinan dikarenakan modal kerja bersih yang disimpan oleh perusahaan merupakan aset yang mudah likuid sehingga perusahaan tidak perlu memikirkan kepemilikan kasnya. Perusahaan tidak mengkhawatirkan kepemilikan kasnya karena telah memiliki substitusi kas yaitu modal kerja bersihnya. Hasil analisis regresi moderasi menunjukan bahwa firm size tidak berpengaruh terhadap cash holding, maka H4 ditolak. Hal ini kemungkinan dikarenakan perusahaan yang besar belum tentu memiliki kas yang besar pula, perusahaan yang besar cenderung memiliki tingkat kepemilikan kas yang optimal dan tidak berlebih sehingga kas yang dimiliki perusahaan akan kembali diinvestasikan pada perusahaan. Hasil analisis regresi moderasi menunjukan bahwa firm size tidak dapat memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap cash holding, maka H5 ditolak. Hal ini kemungkinan dikarenakan semakin besarnya perusahaan belum tentu dapat menghasilkan tingkat profitabilitas yang tinggi yang kemudian menyebabkan perusahaan terpaksa menggunakan kas nya untuk mendorong kegiatan operasional perusahaan. Hasil analisis regresi moderasi menunjukan bahwa firm size dapat memoderasi pengaruh likuiditas terhadap cash holding, maka H6 diterima. Hal ini mungkin disebabkan oleh perusahaan yang besar cenderung memiliki kepemilikan kas yang tinggi, hal ini dikarenakan perusahaan besar menjaga tingkat kemampuannya dalam membayar utang jangka pendeknya. Hasil analisis regresi moderasi menunjukan bahwa firm size tidak dapat memoderasi pengaruh net working capital terhadap cash holding, maka H7 ditolak. Hal ini kemungkinan dikarenakan semakin besar perusahaan tidak menjamin tersedianya modal kerja bersih yang cukup yang dapat digunakan sebagai pengganti kepemilikan kas. Penutup keterbatasan yang dialami oleh peneliti, yaitu: . Subjek penelitian yang hanya terdiri dari satu sektor yaitu sektor properti dan real estate. Hal ini menyebabkan tidak dapat digeneralisasi untuk semua perusahaan go public yang terdaftar di BEI, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Periode waktu penelitian hanya terdiri dari tiga periode dari tahun 2021-2023. Pada penelitian ini hanya berfokus pada beberapa variabel independen, yaitu profitabilitas, likuiditas, net working capital, firm size. Saran