Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 Framework Pembelajaran Adaptif Berbasis Sosial Media pada Pembelajaran Berbasis Teknologi Lingkup Perguruan Tinggi Selvia Deviv1. Muthi Syahidah Arifuddin2. Sukarya Daud3 1,2,3 Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia. Indonesia selvia@nobel. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menyusun framework pembelajaran adaptif berbasis sosial media sebagai pedoman dalam mengintegrasikan teknologi digital ke dalam pembelajaran di perguruan tinggi. Penelitian menggunakan pendekatan research and development (R&D) dengan model ADDIE, namun pelaksanaannya difokuskan hanya sampai tahap Analysis dan Design. Tahap analisis dilakukan melalui sintesis temuan penelitian sebelumnya dan kajian literatur untuk mengidentifikasi kebutuhan mahasiswa, dosen, dan institusi terhadap pembelajaran adaptif berbasis media sosial. Tahap desain dilakukan dengan merumuskan struktur dokumen framework, mengembangkan lima komponen utama . urasi konten edukatif, integrasi CPMK . ktivitas, asesmen, jalur adaptif. SOP institusional, dan toolkit evaluas. , serta menyusun draft dokumen sebagai blueprint awal. Hasil penelitian berupa dokumen draft framework yang telah disusun secara sistematis dan dilengkapi dengan instrumen pendukung seperti rubrik penilaian, tabel pemetaan CPMK, serta draft SOP. Dokumen ini masih berada pada tahap working draft sehingga belum difinalisasi maupun diuji dalam konteks pembelajaran nyata. Meskipun demikian, framework yang dihasilkan telah memberikan kontribusi konseptual dan praktis dengan menawarkan solusi atas kebutuhan integrasi media sosial ke dalam pembelajaran berbasis teknologi di perguruan tinggi. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memasuki tahap Development. Implementation, dan Evaluation guna menguji efektivitas framework dalam meningkatkan kualitas pembelajaran adaptif. Kata kunci: framework, pembelajaran adaptif, sosial media, desain pembelajaran, perguruan tinggi Pendahuluan Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah dunia pendidikan di perguruan tinggi (Kulkarni, 2. , terutama melalui pemanfaatan sosial media sebagai sarana pembelajaran (Martoredjo, 2. Hal ini memungkinkan mahasiswa mengakses sumber belajar secara fleksibel, selain berfungsi sebagai alat komunikasi dan hiburan (Mundzir, 2. Meskipun sosial media memiliki potensi besar dalam pembelajaran berbasis teknologi, efektivitasnya masih diperdebatkan (Setiawati dkk. , 2. Faktor-faktor seperti preferensi mahasiswa, strategi pembelajaran, dan integrasi ke dalam pembelajaran formal memengaruhi keberhasilannya (Nurmalasari & Elmunsyah, 2. Tantangan utama adalah mengelola konten edukatif yang relevan dan terstruktur sesuai kurikulum (Pumyoch & Srikoon, 2. Pembelajaran adaptif menjadi fokus dalam pengembangan teknologi pendidikan, menyesuaikan konten, metode, dan pengalaman belajar dengan kebutuhan mahasiswa (Putra , 2. Dalam konteks perguruan tinggi, integrasi pembelajaran adaptif berbasis sosial media berpotensi meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar mahasiswa (Deviv & Lawa, 2. Tantangan utama dalam penerapan sosial media di perguruan tinggi adalah pengelolaan konten yang sesuai kebutuhan akademik (Apoko & Waluyo, 2. Konten edukatif sering tidak terstruktur, kurang mendukung kurikulum, dan bercampur dengan informasi tidak valid (Baidah https://jurnaldidaktika. Vol. 14 No. 4 November 2025 ISSN 2302-1330 | E-ISSN 2745-4312 , 2. Oleh karena itu, diperlukan framework yang dapat mengintegrasikan sosial media sebagai alat pembelajaran dan mengoptimalkan mekanisme adaptif untuk meningkatkan efektivitas pengalaman belajar mahasiswa. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mengenai integrasi sosial media dalam pendidikan mengalami peningkatan signifikan. Lebih dari 70% mahasiswa menyatakan bahwa sosial media membantu pemahaman materi (Kamsina, 2. , dan sekitar 65% dosen menyetujui bahwa platform ini memperkuat interaksi serta kolaborasi antar mahasiswa (Deviv dkk. , 2. Dengan dominasi generasi digital yang akrab dengan sosial media (Stahl & and Literat, 2. , penting untuk merancang framework yang tidak hanya mengoptimalkan penggunaannya dalam pembelajaran, tetapi juga memastikan bahwa konten yang disajikan tetap memenuhi standar Tanpa panduan yang jelas, penggunaan sosial media berpotensi kurang efektif dalam mendukung hasil belajar mahasiswa (Akrami dkk. , 2. Pemerintah Indonesia melalui RPJMN dan kebijakan Merdeka Belajar (Muliastrini, 2. , telah mendorong integrasi teknologi dalam pendidikan, termasuk pemanfaatan sosial media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di era. Dalam konteks ini, pengembangan framework pembelajaran adaptif berbasis sosial media menjadi sangat relevan dan mendesak untuk mendukung sistem pendidikan yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan zaman serta dunia kerja (Harini dkk. , 2. Meningkatnya penggunaan sosial media di kalangan mahasiswa menuntut adanya strategi pembelajaran yang terarah, agar tidak menjadi kurang efektif. Penelitian ini mendukung Asta Cita 4 dalam RPJMN 2025Ae2029 yang menekankan penguatan SDM di bidang Sains. Teknologi, dan Pendidikan (Kementerian Sekretariat Negara, t. ), dengan tujuan menghadirkan pembelajaran yang inovatif dan sesuai standar pendidikan tinggi di Indonesia. Makassar, dengan keberagaman mahasiswa dan adopsi teknologi yang tinggi, menjadi lokasi strategis untuk penelitian ini. Temuan dari dua PTN dan dua PTS mencerminkan dinamika pembelajaran yang khas (Deviv dkk. , 2. Dukungan kebijakan daerah terhadap integrasi teknologi semakin menegaskan urgensi pengembangan framework pembelajaran adaptif berbasis sosial media yang sesuai karakteristik lokal. Penelitian ini melanjutkan studi sebelumnya mengenai potensi sosial media dalam pendidikan dan merespons kebutuhan akan framework yang terstruktur, adaptif, dan aplikatif bagi institusi pendidikan tinggi. Hasilnya diharapkan mampu mendorong perubahan paradigma pembelajaran menuju model yang lebih relevan di era digital (Nanjundaswamy dkk. , 2. Penelitian ini dirancang untuk menjawab pertanyaan utama: bagaimana merancang framework pembelajaran adaptif berbasis sosial media yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik mahasiswa perguruan tinggi? Tujuannya adalah menyusun rancangan framework yang mampu menjawab tantangan integrasi teknologi dalam pembelajaran, berdasarkan analisis kebutuhan, preferensi penggunaan sosial media, serta kendala dalam pengelolaan konten Hasilnya diharapkan berkontribusi pada pengembangan model pembelajaran berbasis teknologi yang lebih relevan, efektif, dan adaptif (Wang dkk. , 2. , sekaligus menjadi referensi bagi dosen dan pengelola pendidikan tinggi dalam merancang sistem pembelajaran yang inovatif dan selaras dengan perkembangan teknologi dan kebijakan nasional. Penelitian ini mengembangkan framework pembelajaran adaptif berbasis sosial media yang belum banyak dikaji secara sistematis dalam konteks perguruan tinggi Indonesia. Keunggulan penelitian terletak pada desain yang mempertimbangkan kebutuhan dan kecenderungan penggunaan sosial media oleh mahasiswa. Penelitian mengenai sosial media dalam pembelajaran berbasis teknologi umumnya menyoroti peningkatan keterlibatan (Subroto , 2. , kolaborasi (Hamdi, 2. , dan efektivitas belajar (Putra dkk. , 2. Namun, sebagian besar masih terbatas pada fungsi sosial media sebagai alat komunikasi dan penyebaran https://jurnaldidaktika. Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 informasi, tanpa mempertimbangkan mekanisme adaptasi yang disesuaikan dengan kebutuhan individual mahasiswa. Penelitian ini menghadirkan pendekatan inovatif dengan mengembangkan framework pembelajaran adaptif berbasis sosial media. Framework tersebut mengintegrasikan fitur sosial media dengan sistem pembelajaran adaptif untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran teknologi di perguruan tinggi. Meskipun berbagai penelitian telah membahas peran sosial media dalam meningkatkan keterlibatan dan interaksi akademik mahasiswa, terdapat beberapa research gap yang belum terisi secara memadai. Pertama, dari sisi teoritis, sebagian besar penelitian hanya menyoroti manfaat sosial media sebagai media distribusi informasi atau alat komunikasi pendukung pembelajaran, namun belum banyak yang mengintegrasikan konsep pembelajaran adaptif ke dalam penggunaan sosial media sebagai lingkungan belajar utama. Dengan demikian, belum ada kerangka teoritis yang komprehensif yang menghubungkan pola interaksi mahasiswa di sosial media dengan mekanisme adaptasi pembelajaran yang bersifat personal dan kontekstual. Kedua, dari sisi metodologis, penelitian terdahulu lebih banyak menggunakan pendekatan deskriptif atau korelasional untuk menggambarkan pola penggunaan sosial media dalam Masih sangat terbatas penelitian yang melakukan analisis kebutuhan secara mendalam yang menjadi dasar penyusunan sebuah framework, terutama yang mempertimbangkan preferensi platform, jenis konten, gaya belajar, dan tingkat literasi digital Selain itu, belum terdapat metode yang secara sistematis mengevaluasi efektivitas integrasi sosial media dengan pendekatan pembelajaran adaptif dalam konteks perguruan tinggi Indonesia. Ketiga, dari sisi praktis, belum tersedia model atau framework yang dapat digunakan oleh dosen maupun institusi pendidikan tinggi dalam mengimplementasikan pembelajaran adaptif berbasis sosial media secara terarah. Banyak perguruan tinggi memanfaatkan sosial media untuk penyebaran informasi atau tugas, tetapi belum mengelolanya sebagai sistem pembelajaran yang terstruktur, terukur, dan selaras dengan kurikulum. Hal ini menimbulkan kesenjangan antara potensi sosial media sebagai alat pembelajaran dengan implementasinya di lapangan yang masih bersifat sporadis, tidak terstandar, dan tidak didukung mekanisme adaptasi yang memadai. Penelitian ini bertujuan menghadirkan metode pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan mahasiswa (Handayani dkk. , 2. , dengan fokus pada peningkatan keterlibatan, kolaborasi, dan pengalaman belajar yang lebih personal dan relevan. Selain itu, penelitian ini mengeksplorasi pemanfaatan elemen interaktif sosial media untuk mendorong motivasi belajar dan umpan balik konstruktif. Pendekatan ini diharapkan menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan berorientasi pada kebutuhan individu, sehingga dapat meningkatkan hasil pembelajaran secara keseluruhan Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (Research and Developmen. dengan mengadopsi model ADDIE (Analysis. Design. Development. Implementation. Evaluatio. Namun, penelitian ini dibatasi pada tahap Analysis dan Design, karena kedua tahap tersebut dianggap memadai untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai perancangan framework pembelajaran adaptif berbasis sosial media. Pemilihan desain ini dinilai sesuai, mengingat tujuan utama penelitian bukan hanya menggambarkan fenomena yang ada, tetapi juga menghasilkan rancangan awal . framework yang dapat diuji pada penelitian selanjutnya. Subjek penelitian melibatkan 44 orang yang terdiri dari 40 mahasiswa, 4 dosen yang terbagi dari 4 universitas/institusi pendidikan tinggi di Kota Makassar. Pemilihan subjek dilakukan https://jurnaldidaktika. Vol. 14 No. 4 November 2025 ISSN 2302-1330 | E-ISSN 2745-4312 secara purposif karena Makassar merupakan salah satu pusat pendidikan dengan tingkat adopsi teknologi yang cukup tinggi. Responden mahasiswa berasal dari dua perguruan tinggi negeri (UNM dan UIN Alauddi. serta dua perguruan tinggi swasta (Universitas Muhammadiyah Makassar dan ITB Nobel Indonesi. Mahasiswa dijadikan responden utama untuk menggali preferensi penggunaan sosial media dan kebutuhan pembelajaran adaptif, sedangkan dosen dan pihak institusi berperan memberikan perspektif tentang kurikulum, strategi pembelajaran, serta kebijakan institusional. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui survei, wawancara, dan Focus Group Discussion (FGD). Survei digunakan untuk memperoleh gambaran umum terkait pola penggunaan media sosial, preferensi konten, serta kendala yang dihadapi mahasiswa. Wawancara dilakukan kepada dosen untuk menggali lebih dalam tentang kebutuhan instruksional, tantangan validasi konten, serta harapan mereka terhadap penggunaan media sosial dalam pembelajaran. Sementara itu. FGD melibatkan perwakilan institusi guna membahas aspek kebijakan, standar mutu, serta regulasi yang mendukung integrasi media sosial ke dalam sistem pembelajaran. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner survei, pedoman wawancara, dan panduan FGD. Sebelum digunakan, instrumen tersebut divalidasi oleh pakar untuk memastikan kejelasan isi, relevansi, serta kesesuaian dengan tujuan penelitian. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik analisis tematik. Tahap awal analisis dilakukan dengan pemetaan data dari survei, wawancara, dan FGD untuk menemukan pola-pola umum terkait kebutuhan, kendala, dan peluang penggunaan sosial media dalam pembelajaran. Selanjutnya, hasil pemetaan dibandingkan dengan temuan penelitian sebelumnya . untuk memastikan konsistensi dan kesinambungan. Dari hasil analisis ini kemudian dirumuskan kebutuhan framework, yang menjadi dasar penyusunan rancangan desain. Prosedur penelitian disusun secara sistematisAidimulai dari persiapan instrumen, pengumpulan data, pengolahan, analisis, hingga perumusan blueprint framework sehingga dapat direplikasi pada penelitian selanjutnya. Dengan desain penelitian yang jelas, pengambilan sampel yang tepat, serta prosedur yang runtut, metode ini diyakini mampu menghasilkan rancangan framework adaptif berbasis sosial media yang relevan dan aplikatif untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi di perguruan tinggi. Hasil Tahap Analisis (Analysi. Tahap analisis pada penelitian ini dilakukan dengan meninjau kembali temuan penelitian tahun sebelumnya serta menelaah literatur dan kebijakan terkini. Analisis ini tidak lagi berupa pengumpulan data lapangan baru, melainkan analisis dokumen untuk memetakan kebutuhan yang harus dijawab oleh framework. Dari hasil sintesis, teridentifikasi beberapa poin utama: Tabel 1. Identifikasi Poin Temuan Penelitian Terdahulu Mahasiswa membutuhkan konten yang terkurasi, jalur pembelajaran yang sesuai tingkat kemampuan, serta ruang diskusi akademik yang terarah. Dosen membutuhkan pedoman kurasi, template pemetaan CPMKAeaktivitasAeasesmen, serta instrumen penilaian yang dapat menghubungkan aktivitas media sosial dengan hasil belajar. Institusi membutuhkan SOP resmi, standar mutu, serta instrumen evaluasi capaian pembelajaran yang jelas. Hasil Temuan Penelitian Terdahulu, 2024 https://jurnaldidaktika. Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 Tahap Desain (Desig. Tahap desain merupakan inti dari penelitian ini, karena pada bagian inilah seluruh temuan dari tahap analisis dioperasionalkan menjadi sebuah dokumen framework yang sistematis dan Jika pada tahap analisis fokus penelitian adalah mengidentifikasi kebutuhan, kendala, serta peluang integrasi media sosial dalam pembelajaran, maka pada tahap desain kegiatan penelitian diarahkan untuk merumuskan solusi dalam bentuk blueprint framework. Proses desain tidak sekadar menyusun rancangan secara teoritis, melainkan juga memastikan bahwa framework yang dikembangkan dapat berfungsi sebagai dokumen resmi yang siap diimplementasikan di perguruan tinggi. Oleh karena itu, penyusunan framework dilakukan melalui beberapa langkah yang berurutan: merumuskan struktur dokumen, mengembangkan komponen inti framework, serta menyusun dan memfinalisasi draft dokumen. Tahap ini menekankan prinsip keterhubungan langsung antara temuan analisis dengan rancangan framework. Misalnya, kebutuhan mahasiswa akan jalur pembelajaran yang adaptif diterjemahkan ke dalam skema beginner, intermediate, dan advanced. Begitu pula, kebutuhan dosen terhadap pedoman kurasi diwujudkan dalam bentuk rubrik kurasi konten, sementara kebutuhan institusi atas regulasi diterjemahkan menjadi draft SOP institusional. Dengan demikian, tahap desain memastikan bahwa framework tidak hanya menjawab kebutuhan secara konseptual, tetapi juga menyajikan instrumen praktis yang dapat diadopsi dalam praktik pembelajaran (Monika, 2. Berdasarkan alur tersebut, tahap desain dalam penelitian ini diuraikan ke dalam tiga bagian utama: . perumusan struktur dokumen framework, . pengembangan komponen framework, dan . drafting serta finalisasi dokumen framework. Perumusan Struktur Dokumen Framework Langkah awal dalam tahap desain adalah melakukan perumusan struktur dokumen Struktur ini penting agar dokumen yang dihasilkan tidak hanya menjadi kumpulan gagasan konseptual, tetapi dapat berfungsi sebagai pedoman praktis yang baku dan mudah diadopsi oleh berbagai pemangku kepentingan. Dengan kata lain, kerangka penyusunan dokumen menjadi fondasi yang menentukan arah, kelengkapan, dan keterbacaan framework. Dalam proses ini, tim peneliti menelaah terlebih dahulu berbagai contoh dokumen kebijakan dan panduan akademik yang sudah digunakan di lingkungan perguruan tinggi, seperti Rencana Pembelajaran Semester (RPS), standar OBE (Outcome Based Educatio. , serta dokumen SOP institusional. Analisis komparatif dilakukan untuk mengidentifikasi pola umum dalam penyusunan dokumen akademik, khususnya bagian-bagian yang secara konsisten diperlukan agar sebuah dokumen memiliki legitimasi formal. Berdasarkan hasil kajian tersebut, disusunlah kerangka dasar dokumen framework yang terdiri atas enam bab utama. Bab pendahuluan berisi latar belakang, tujuan, dan ruang lingkup agar pembaca memahami alasan dan cakupan framework ini dikembangkan. Bab landasan teoritis memberikan rujukan ke konsep-konsep kunci seperti pembelajaran adaptif, peran media sosial, serta keterkaitannya dengan OBE. CPL, dan CPMK. Bab inti framework menguraikan komponen utama yang telah ditetapkan dari hasil analisis, dilanjutkan dengan bab panduan implementasi yang berisi instruksi praktis untuk dosen, mahasiswa, dan institusi. Setelah itu, disusun pula bab instrumen evaluasi untuk memastikan ketercapaian capaian pembelajaran, serta bab SOP institusional yang menjamin keberlanjutan dan konsistensi implementasi. Struktur dokumen framework ini meliputi enam bab utama, dengan Bab IV sebagai inti yang berisi lima komponen pokok framework, serta dilengkapi bagian lampiran yang menyediakan instrumen pendukung. Secara visual, susunan bab dan subbab tersebut dapat digambarkan pada bagan berikut. https://jurnaldidaktika. Vol. 14 No. 4 November 2025 ISSN 2302-1330 | E-ISSN 2745-4312 Bab I: Pendahuluan Bab II: Landasan Teori & Konseptual Bab i: Analisis Kebutuhan (Analysi. Bab V: Rencana dan Evaluasi Bab VI: Penutup Lampiran (Rubrik. Pemetaan CPMK. Instrume. Bab IV: Desain Framework (Design Gambar 1. Struktur Dokumen Framework Perumusan struktur ini bukan hanya teknis penyusunan bab, tetapi juga strategi untuk memastikan setiap kebutuhan yang muncul dari tahap analisis memiliki tempat yang jelas dalam Misalnya, kebutuhan mahasiswa untuk jalur pembelajaran adaptif tertuang dalam bab komponen framework. kebutuhan dosen akan pedoman kurasi tercermin dalam instrumen dan rubrik evaluasi. sedangkan kebutuhan institusi terhadap regulasi dituangkan dalam SOP. Dengan demikian, struktur dokumen framework dapat dikatakan mewakili alur logis dari temuan lapangan hingga solusi operasional. Pengembangan Komponen Framework Tahap pengembangan komponen framework merupakan proses inti dalam perancangan, karena pada bagian inilah kebutuhan yang telah dipetakan pada tahap analisis diubah menjadi elemen-elemen konkret yang membentuk kerangka pembelajaran adaptif berbasis sosial media. Proses ini dilakukan dengan pendekatan sintesis, yaitu menghubungkan hasil analisis kebutuhan dengan teori pembelajaran adaptif, prinsip Outcome Based Education (OBE), serta praktik penggunaan media sosial dalam konteks pendidikan tinggi. Dengan demikian, komponen framework tidak hanya lahir dari temuan empiris, tetapi juga memiliki dasar konseptual yang Komponen framework yang dikembangkan terdiri dari lima bagian utama, sebagai berikut: Komponen Kurasi Konten Edukatif Integrasi CPMKAeAktivitasAe Asesmen Jalur Adaptif SOP Institusional Toolkit Evaluasi Tabel 1. Komponen Utama Framework Keterangan - Rubrik kurasi disusun untuk menilai validitas, relevansi, dan kredibilitas konten. - Dosen berperan sebagai kurator, mahasiswa diarahkan ke sumber resmi dan terpercaya. - Aktivitas mahasiswa di media sosial dipetakan secara langsung dengan CPMK. - Penilaian dilakukan melalui refleksi, proyek, dan rubrik. - Beginner: materi dasar, kuis singkat. - Intermediate: diskusi kasus, refleksi terarah. - Advanced: proyek konten edukatif, publikasi di media Draft SOP disusun untuk menjamin etika, privasi, dan konsistensi mutu implementasi framework di setiap mata Rubrik penilaian proyek video, rubrik diskusi daring, serta instrumen monitoring ketercapaian CP https://jurnaldidaktika. Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat pada poin: . Kurasi Konten Edukatif, berfungsi sebagai mekanisme seleksi agar hanya konten yang valid, relevan, dan kredibel yang digunakan dalam proses pembelajaran. Peran kurator di sini diemban oleh dosen dengan bantuan rubrik kurasi yang disusun secara terstandar. Integrasi CPMKAeAktivitasAeAsesmen, yang menjamin bahwa setiap aktivitas mahasiswa di media sosial memiliki kaitan langsung dengan capaian pembelajaran mata kuliah, serta dapat dinilai melalui instrumen asesmen yang sahih. Jalur Adaptif, memberikan diferensiasi pengalaman belajar sesuai tingkat kesiapan mahasiswa, mulai dari level pemula . hingga tingkat lanjut . SOP Institusional, menjadi pedoman resmi agar implementasi framework berjalan konsisten, etis, dan sesuai standar mutu dan . Toolkit Evaluasi, berfungsi menyediakan instrumen penilaian berupa rubrik proyek, rubrik diskusi daring, serta instrumen monitoring ketercapaian CPL. Pengembangan komponen ini dilakukan dengan prinsip koherensi, keterpaduan, dan Koherensi berarti setiap komponen saling terkait secara logis. keterpaduan berarti seluruh komponen membentuk satu kesatuan sistem yang utuh (HalimatussaAoDiyah, 2. sedangkan aplikabilitas berarti komponen yang dirancang dapat langsung diterapkan dalam praktik pembelajaran. Dengan adanya lima komponen ini, framework diharapkan mampu menjembatani antara dinamika penggunaan media sosial oleh mahasiswa dengan tuntutan capaian kurikulum formal di perguruan tinggi. Drafting dan Finalisasi Dokumen Tahap drafting dan finalisasi merupakan proses akhir dalam penyusunan framework, yaitu mengubah rancangan konseptual menjadi dokumen formal yang sistematis dan siap Drafting dimulai dengan menyusun naskah awal berdasarkan hasil analisis kebutuhan serta rumusan komponen framework. Pada tahap ini, setiap bab dan subbab yang telah dirancang dalam struktur dokumen diisi dengan uraian teoritis, deskripsi komponen, serta instrumen pendukung seperti tabel pemetaan CPMKAeaktivitasAeasesmen, rubrik penilaian, dan draft SOP institusional. Draft awal ini bersifat working document yang masih terbuka untuk ditinjau, disempurnakan, dan diperkaya. Setelah draft awal tersusun, dilakukan proses review internal oleh tim peneliti maupun pakar di bidang pendidikan teknologi. Review ini bertujuan untuk menilai konsistensi antara tujuan framework dengan isi dokumen, memeriksa kejelasan bahasa, serta mengevaluasi kelengkapan instrumen pendukung. Catatan dari proses review menjadi dasar bagi revisi yang perlu dilakukan, baik berupa penyempurnaan redaksi, penambahan uraian yang lebih detail, maupun penyesuaian format agar sesuai dengan standar penulisan dokumen akademik. Namun, perlu dicatat bahwa pada penelitian ini kegiatan masih berada pada tahap drafting dan review awal, sehingga dokumen framework yang dihasilkan baru berbentuk naskah kerja . orking draf. Proses finalisasi penuh yang mencakup validasi oleh pakar eksternal, pengesahan institusional, serta publikasi resmi dokumen belum dilakukan, karena direncanakan menjadi bagian dari penelitian lanjutan pada tahap Development. Implementation, dan Evaluation. Dengan demikian, luaran penelitian saat ini berupa dokumen draft framework yang siap dikembangkan lebih lanjut. Pembahasan Pengembangan draft framework pembelajaran adaptif berbasis sosial media ini berakar pada temuan penelitian sebelumnya mengenai pola interaksi mahasiswa dengan konten edukatif, namun diperkuat dengan kerangka teoritis yang lebih luas. Dalam konteks pendidikan digital, teori Connectivism oleh Siemens . memberikan landasan utama bahwa pembelajaran di era teknologi tidak hanya terjadi melalui transfer pengetahuan, tetapi melalui kemampuan https://jurnaldidaktika. Vol. 14 No. 4 November 2025 ISSN 2302-1330 | E-ISSN 2745-4312 individu membangun jejaring, mengidentifikasi informasi yang relevan, serta memilih sumber belajar yang kredibel. Framework yang dikembangkan dalam penelitian ini memperluas gagasan tersebut dengan menghadirkan mekanisme adaptif yang memastikan bahwa jejaring dan konten dalam sosial media dapat diarahkan untuk memenuhi capaian pembelajaran secara lebih Selain itu, pemanfaatan sosial media sebagai ruang pembelajaran juga selaras dengan Social Learning Theory oleh Bandura . , yang menekankan bahwa interaksi sosial, observasi, dan partisipasi aktif dapat meningkatkan proses belajar. Penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa mahasiswa lebih mudah memahami materi ketika melihat contoh, diskusi, dan praktik yang ditampilkan melalui platform sosial media (Almunawar, 2025. Halawa, 2. Framework ini kemudian memperdalam teori tersebut dengan mengintegrasikan jalur adaptif beginnerAeintermediateAeadvanced, sehingga mahasiswa tidak hanya belajar melalui observasi sosial, tetapi juga melalui lintasan belajar yang sesuai dengan tingkat kompetensi mereka. Dari perspektif motivasi belajar, penelitian ini menguatkan temuan dalam SelfDetermination Theory oleh Deci & Ryan . yang menyatakan bahwa otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial meningkatkan motivasi instrinsik mahasiswa. Media sosial menyediakan ketiga elemen tersebut: ruang berekspresi, komunitas belajar, dan kesempatan menunjukkan kompetensi. Framework adaptif yang dikembangkan memaksimalkan kondisi motivasional ini dengan memberikan jalur belajar yang fleksibel serta umpan balik terarah, sehingga mahasiswa merasa proses belajar relevan dan sesuai dengan kemampuan mereka. Secara konseptual, framework ini menguatkan pandangan bahwa media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran adaptif, bukan sekadar media komunikasi atau Hal ini mendukung teori adaptive learning yang menekankan pentingnya jalur belajar yang fleksibel sesuai dengan karakteristik peserta didik (Saragih, 2. Dengan adanya jalur beginner, intermediate, dan advanced, mahasiswa tidak diperlakukan homogen, melainkan diberi kesempatan untuk menyesuaikan dengan tingkat kompetensi masing-masing. Hal ini sesuai dengan temuan sebelumnya bahwa diferensiasi instruksi dapat meningkatkan motivasi dan kemandirian belajar. Dari sisi pedagogis, komponen Integrasi CPMK Ae Aktivitas Ae Asesmen yang dikembangkan dalam framework ini memperlihatkan relevansi dengan pendekatan Outcome Based Education (OBE). Setiap aktivitas mahasiswa di media sosial dipetakan langsung ke CPMK, sehingga pembelajaran tidak kehilangan arah akademik. Pendekatan ini sejalan dengan penelitian yang menekankan pentingnya keterkaitan antara aktivitas digital dengan capaian pembelajaran (Nabila dkk. , 2. Selain itu, pengembangan rubrik kurasi konten juga menjawab tantangan kualitas informasi di era digital. Dengan adanya rubrik, dosen memiliki instrumen yang terstandar untuk memilah konten, sehingga dapat meminimalisir risiko disinformasi. Hal ini menguatkan literatur mengenai peran dosen sebagai fasilitator sekaligus kurator dalam era banjir informasi (Adalah , 2. Dari sisi praktis, penyusunan draft SOP institusional dan toolkit evaluasi memiliki kontribusi nyata dalam mempersiapkan integrasi framework ke dalam kebijakan kampus. Meski masih dalam bentuk draft, keberadaan dokumen ini dapat menjadi bahan diskusi awal bagi pemangku kebijakan untuk merumuskan regulasi resmi. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berhenti pada tataran konseptual, tetapi juga memberikan arah implementasi jangka Namun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan penting. Tahap-tahap pengembangan berikutnya yakni Development. Implementation, dan Evaluation belum dilakukan. Artinya, kerangka kerja yang dihasilkan masih berada pada level konseptual dan belum teruji https://jurnaldidaktika. Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 dalam konteks pembelajaran nyata. Efektivitas jalur adaptif, kelayakan rubrik kurasi, maupun konsistensi penerapan CPMKAeaktivitasAeasesmen masih bersifat hipotetik. Selain itu, tanpa uji coba lapangan, belum dapat dipastikan apakah framework ini benar-benar mampu meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan hasil belajar mahasiswa sebagaimana diasumsikan dalam literatur. Keterbatasan ini membuka ruang luas untuk riset lanjutan, terutama pengujian empiris dan penyempurnaan framework berbasis data hasil implementasi. Dengan memperhatikan seluruh aspek tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan baik pada tataran teoretis, pedagogis, maupun praktis. Framework yang dihasilkan memperluas wacana tentang penggunaan media sosial bukan hanya sebagai media bantu, tetapi sebagai fondasi pembelajaran adaptif yang lebih sesuai dengan karakteristik generasi digital. Namun, penyempurnaan empiris tetap diperlukan agar kontribusi ini tidak berhenti pada ranah konseptual, melainkan berkembang menjadi model implementatif yang dapat memperkuat mutu pembelajaran di perguruan tinggi. Hasil penelitian ini memiliki implikasi yang penting baik secara teoretis maupun praktis. Secara teoretis, penyusunan framework pembelajaran adaptif berbasis sosial media memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pendidikan teknologi, khususnya dalam menjembatani konsep adaptive learning dengan praktik pemanfaatan media sosial di perguruan Framework yang dihasilkan menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi informal, melainkan dapat dirancang secara sistematis untuk mendukung capaian pembelajaran, asalkan dilengkapi dengan pedoman kurasi, pemetaan CPMK, serta instrumen evaluasi yang jelas. Secara praktis, dokumen draft framework yang dihasilkan dapat dijadikan acuan awal bagi dosen dalam merancang pembelajaran yang lebih kontekstual dengan kebiasaan digital Dosen dapat menggunakan rubrik kurasi, tabel pemetaan CPMKAeaktivitasAeasesmen, serta skema jalur adaptif untuk mengintegrasikan media sosial ke dalam kegiatan belajar Bagi institusi, keberadaan draft SOP dan toolkit evaluasi memberikan arah dalam menyusun kebijakan yang konsisten serta menjaga standar mutu implementasi pembelajaran berbasis teknologi. Dengan demikian, meskipun penelitian ini baru sampai pada tahap desain, framework yang disusun sudah memiliki nilai praktis sebagai pedoman kerja awal. Namun, perlu digarisbawahi bahwa implikasi dari penelitian ini masih terbatas karena dokumen framework yang dihasilkan belum melewati tahap finalisasi maupun implementasi di Oleh karena itu, penelitian lanjutan perlu difokuskan pada tahap Development. Implementation, dan Evaluation, sehingga efektivitas framework ini dapat diuji secara empiris. Dengan langkah tersebut, diharapkan framework yang telah disusun tidak hanya bernilai konseptual, tetapi juga terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran adaptif berbasis sosial media di perguruan tinggi. Kesimpulan Penelitian ini bertujuan untuk menyusun sebuah framework pembelajaran adaptif berbasis sosial media yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam mengintegrasikan teknologi digital ke dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. Melalui tahapan analisis dan desain, penelitian ini berhasil menghasilkan dokumen draft framework yang memuat lima komponen utama, yaitu: . kurasi konten edukatif, . integrasi CPMKAeaktivitasAeasesmen, . jalur adaptif, . SOP institusional, dan . toolkit evaluasi. Kesimpulan utama dari penelitian ini adalah bahwa framework yang disusun mampu menjawab kebutuhan mahasiswa, dosen, dan institusi terhadap pembelajaran adaptif berbasis media sosial yang lebih terarah dan terukur. Dokumen draft yang dihasilkan tidak hanya bersifat https://jurnaldidaktika. Vol. 14 No. 4 November 2025 ISSN 2302-1330 | E-ISSN 2745-4312 konseptual, tetapi juga dilengkapi dengan instrumen praktis berupa rubrik, tabel pemetaan, serta draft SOP, sehingga dapat menjadi acuan awal bagi pengembangan pembelajaran berbasis Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan karena baru sampai pada tahap Draft framework yang dihasilkan belum difinalisasi maupun diuji dalam konteks pembelajaran nyata. Oleh karena itu, penelitian lanjutan perlu diarahkan pada tahap Development. Implementation, dan Evaluation agar efektivitas framework dapat diuji secara empiris, sekaligus memastikan bahwa produk ini benar-benar bermanfaat dalam meningkatkan kualitas pembelajaran adaptif di perguruan tinggi. References