Bilangan: Jurnal Ilmiah Matematika. Kebumian dan Angkasa Volume. 3 Nomor. Desember 2025 e-ISSN : 3032-7113. p-ISSN : 3032-6389. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62383/bilangan. Tersedia: https://journal. id/index. php/Bilangan Studi Kehilangan Volume Batugamping pada Kegiatan Peledakan dan Crushing di PT. Yusrina Borneo Quantum Kecamatan Loakulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Provinsi Kalimantan Timur Muhammad Aji Satria Mandiri1*. Revia Oktaviani 2. Agus Winarno 3. Tommy Trides4. Windhu Nugroho5 Program Studi Teknik Pertambangan. Universitas Mulawarman. Indonesia Korespondensi penulis: ajisatria132123@gmail. Abstract: Blasting and crushing are essential stages in the limestone mining process. however, both stages may contribute to material volume loss due to technical factors and geological conditions. This study aims to analyze the blasted volume, crushed volume, and the amount of volume loss occurring throughout these processes. The research utilizes primary data including blasting geometry, blasting patterns, crushing production, and secondary data such as regional geology and equipment specifications. Based on 15 blasting activities conducted from October to December 2024, the total blasted volume reached 71,691 tons with an average powder factor of 0. kg/mA. Meanwhile, the total volume produced from secondary crushing was 71,575 tons. The comparison indicates volume loss influenced by suboptimal fragmentation, rock characteristics, work efficiency of the crushing unit, and operational constraints in the field. The results of this study are expected to serve as a reference for optimizing blasting design and crushing operations to minimize volume loss and improve overall mining productivity. Keywords: Blasting. Crushing. Limestone. Powder Factor. Volume Loss. Abstrak. Kegiatan peledakan dan crushing merupakan tahapan penting dalam proses penambangan batugamping. Namun, kedua tahapan ini berpotensi menyebabkan kehilangan volume material akibat faktor teknis maupun kondisi geologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis volume hasil peledakan, volume hasil crushing, serta besaran kehilangan volume yang terjadi pada rangkaian proses tersebut. Metode penelitian meliputi pengumpulan data primer berupa geometri peledakan, pola peledakan, produksi unit crushing, serta data sekunder seperti geologi regional dan spesifikasi alat. Dari 15 kali kegiatan peledakan selama periode OktoberAeDesember 2024, diperoleh total volume hasil peledakan sebesar 71. 691 ton, dengan nilai powder factor rata-rata 0,23 kg/mA. Sementara itu, total hasil secondary crushing adalah 71. 575 ton. Perbandingan kedua volume tersebut menunjukkan adanya kehilangan produksi yang disebabkan oleh faktor fragmentasi yang tidak optimal, kondisi batuan, efisiensi kerja unit crushing, serta hambatan operasional di lapangan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam optimasi desain peledakan dan pengaturan operasi crushing agar kehilangan volume dapat diminimalkan dan produktivitas tambang meningkat. Kata kunci: Batugamping. Peledakan. Crushing. Kehilangan Volume. Faktor Bubuk. LATAR BELAKANG Batugamping merupakan komoditas penting bagi industri semen, konstruksi, dan bahan bangunan, sehingga proses penambangannya harus dilakukan secara efisien. Pada tambang terbuka, peledakan menjadi metode utama pembongkaran batuan sebelum material diolah melalui proses crushing. Namun, ketidaktepatan rancangan peledakan, kondisi geologi, serta variasi karakteristik massa batuan dapat menghasilkan fragmentasi yang tidak optimal dan mempengaruhi kinerja unit crushing. Inefisiensi dalam kedua tahapan ini sering menimbulkan kehilangan volume produksi, baik akibat boulder yang tidak dapat diolah, material terbuang, maupun hambatan operasional alat. Kehilangan volume tersebut berdampak langsung pada produktivitas dan pencapaian target produksi perusahaan. Naskah Masuk: 29 Agustus 2025. Revisi: 30 September 2025. Diterima: 28 Oktober 2025. Terbit: 03 Desember Studi Kehilangan Volume Batugamping pada Kegiatan Peledakan dan Crushing di PT. Yusrina Borneo Quantum Kecamatan Loakulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Provinsi Kalimantan Timur KAJIAN TEORITIS Batugamping sebagai batuan sedimen karbonat memiliki sifat fisik dan mekanik yang memengaruhi proses pembongkaran dan pengolahannya, termasuk kekerasan, kuat tekan, serta struktur internal yang menentukan kualitas fragmentasi saat peledakan. Dalam kegiatan penambangan terbuka, peledakan merupakan metode utama untuk membongkar batuan, di mana keberhasilan proses tersebut dipengaruhi oleh rancangan geometri peledakan seperti burden, spasi, stemming, subdrilling, dan powder factor. Fragmentasi hasil peledakan menjadi faktor penting karena ukuran butir yang tidak seragam dapat menyebabkan hambatan pada proses loading maupun crushing. Proses crushing, baik primary maupun secondary, berfungsi mengecilkan ukuran material agar sesuai spesifikasi produksi, namun kinerjanya sangat dipengaruhi oleh ukuran umpan, kontinuitas pasokan material, dan efisiensi alat. Akibat ketidakefisienan pada tahapan peledakan dan crushing, kehilangan volume material sering terjadi, baik karena boulder, material terbuang, maupun hambatan operasional Beberapa penelitian sebelumnya memperkuat temuan tersebut: Anggraini . menegaskan bahwa performa crusher sangat bergantung pada kualitas fragmentasi. Ghanda . menunjukkan bahwa geometri peledakan menjadi faktor dominan dalam menentukan distribusi ukuran fragmentasi. Tiara Senja . menemukan bahwa stabilitas aliran material sangat memengaruhi produktivitas crushing plant. sedangkan Reksa Rafaldo . membuktikan bahwa fragmentasi buruk meningkatkan jumlah boulder dan menurunkan efisiensi alat. Dengan demikian, teori dasar peledakan, mekanika batuan, dan crushing serta temuan penelitian terdahulu menjadi landasan penting bagi penelitian ini untuk mengkaji hubungan antara hasil peledakan, hasil crushing, dan potensi kehilangan volume batugamping pada kegiatan penambangan. METODE PENELITIAN Tahap pengambilan data untuk memperoleh data-data yang akurat yang digunakan dan berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. Pengambilan data dan pengamatan dilakukan sebanyak 15 kali, dimana data yang diperoleh secara langsung dilapangan . ata prime. dan juga data yang diperoleh dari perusahaan . ata sekunde. Pengumpulan Data Data Primer Data primer adalah sumber data kajian teknis yang dikumpulkan dengan melakukan pengamatan di lapangan, meliputi: BILANGAN Ae VOLUME. 3 NOMOR. DESEMBER 2025 e-ISSN : 3032-7113. p-ISSN : 3032-6389. Hal. Data Geometri peledakan Data Pola peledakan Produksi unit Crushing Waktu kerja Data Sekunder Data sekunder merupakan data yang didapat secara tidak langsung dan sudah ada sebelumnya, biasanya merupakan hasil analisis dan interpretasi dari data primer penelitian sebelumnya yang berasal dari perusahaan. Adapun data primer pada penelitian ini yaitu: Kesampaian Daerah . Geologi Regional . Data IUP . Spesifikasi Alat Pengolahan Data Adapun lebih jelasnya, tahapan pengolahan dan analisis data penelitian yang akan dilakukan sebagai berikut : Penentuan geometri peledakan Geometri peledakan merupakan desain awal sebelum dilakukannya peledakan yang meliputi burden, spacing, stemming, powder column, subdrilling, diameter lubang ledak dan kedalaman lubang ledak. Produksi unit Crushing Kegiatan produksi pada unit crushing merupakan tahapan penting dalam proses pengolahan batugamping dari hasil peledakan . hingga menjadi material berukuran lebih kecil dan akan disimpan di stockpile area. Perhitungan persentase kehilangan Perhitungan ini dilakukan untuk mengetahui berapa persentase kehilangan material pada kegiatan crushing dari hasil peledakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian dilakukan di PT. Yusrina Borneo Quantum di kawasan penambangan Batugamping yang terdapat pada lokasi penambangan menunjukkan karakterisktik geologi yang cukup seragam, namun memiliki variasi tingkat kekerasan yang berpengaruh langsung terhadap desain dan efektivitas peledakan. Secara umum, satuan Studi Kehilangan Volume Batugamping pada Kegiatan Peledakan dan Crushing di PT. Yusrina Borneo Quantum Kecamatan Loakulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Provinsi Kalimantan Timur batugamping di area ini tersusun oleh material karbonat berwarna putih keabu-abuan dengan tekstur padat hingga berlapis tipis. Batugamping merupakan salah satu jenis bahan galian mineral industri yang komposisi utamanya adalah mineral karbonat. Mineral dapat berupa kalsit (CaCO. , dolomit (MgCO. dan beberapa mineral sekunder lain. Tingginya kandungan CaO pada batugamping disebabkan oleh komposisi batugamping tersebut yang didominasai oleh cangkang-cangkang fosil baik dari foraminifera bentonit maupun foraminifera planktonik. Volume Peledakan Data rancangan peledakan yang digunakan pada PIT 36, merupakan rancangan yang dibuat oleh PT. Yusrina Borneo Quantum, untuk ukuran burden dan spacing serta stemming sangat bervariasi karena menyesuaikan luas batuan yang akan diledakkan. Berikut adalah data geometri aktual peledakan selama penelitian yang berlangsung di lokasi PIT 36 disajikan dalam Tabel 1. Volume Hasil Peledakan Tanggal Burden Spasi Hole Powder Coloum Stemming Jumlah . Lubang Densitas Batuan Volume . /cm. 14/10/24 19/10/24 24/10/24 29/10/24 3/11/24 9/11/24 13/11/24 18/11/24 23/11/24 28/11/24 3/12/24 8/12/24 13/12/24 18/12/24 23/12/24 Rata-rata Total Selama periode Oktober hingga Desember 2024, kegiatan peledakan dilakukan sebanyak lima belas kali, dengan total volume hasil peledakan mencapai 71. 691 ton. Volume peledakan per periode berkisar antara 4. 256 hingga 5. 169 ton dengan densitas Batugamping 6 g/cm3. Setiap kegiatan diawali dengan tahap pengeboran . menggunakan pola BILANGAN Ae VOLUME. 3 NOMOR. DESEMBER 2025 e-ISSN : 3032-7113. p-ISSN : 3032-6389. Hal. tertentu yang disesuaikan dengan karakteristik batuan gamping, diikuti oleh proses pengisian bahan peledak . , pemasangan detonator, hingga kegiatan peledakan utama . Dalam kegiatan peledakan selama lima belas kali didapat nilai rata Ae rata burden 3,26 m, spasi 3,26 m, hole 6,04 m, powder coloum 2,78 m, stemming 3,26 m, powder factor 0,22 kg/m3 dan rata - rata lubang 52. Pada peledakan ke 1 dan 4 diperoleh nilai powder factor <0,20 kg/ton. Hal ini dikarenakan ada beberapa faktor yaitu faktor cuaca, kondisi geologi, tidak sesuainya pola dan kedalaman lubang ledak, jenis bahan peledak dan faktor cuaca. Faktor tersebut dapat mempengaruhi nilai powder factor yang tidak tercapai. Tabel 2. Geometri Peledakan Subdrilling . Loading Density . Bahan Pemakaian Peledak Bahan Perlubang Peledak . Powder Factor . g/m. Diameter . RataAy Total Berdasarkan data di atas didapat nilai rata - rata Subdrilling (J) 0,978 m. Nilai Loading Density . 4,97 kg/m . Bahan peledak perlubang (E) 14. 63 kg/m. Pemakaian bahan peledak (Q. 0,704 kg, dan Nilai powder factor (PF) sebesar 0. 23 kg/m3, dan Diameter yang digunakan 0,089 atau 3,5 inch. Studi Kehilangan Volume Batugamping pada Kegiatan Peledakan dan Crushing di PT. Yusrina Borneo Quantum Kecamatan Loakulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Provinsi Kalimantan Timur Volume Hasil Crushing Kegiatan Crushing di PT. Yusrina Borneo Quantum dilakukan dengan dua tahap, yaitu tahap Primary Crushing dan Secondary Crushing. Tahap ini merupakan tahapan pertama dalam proses pengolahan batugamping dari hasil kegiatan peledakan. Tujuan utama tahap ini adalah untuk mengecilkan ukuran batuan besar hasil peledakan agar sesuai dengan spesifikasi umpan untuk unit Secondary Crushing. Berikut adalah data hasil Crushing selama penelitian yang berlangsung di lokasi PIT 36 disajikan dalam bentuk Tabel 3. Tabel 3. Hasil Volume Secondary Crushing Peledakan Berat Total Volume (To. Total Dari hasil produksi Secondary Crusher dihitung dengan alat angkut muat menggunakan dump truk Isuzu Giga FVZ 34P dengan kapasitas bak rata rata 18 Ae 20 ton. Menggunakan 7 unit dump truk dan 7 trip perhari dan 8 jam kerja. Dari produksi bulan Oktober Ae Desember Secondary Crushing didapat volume sebesar 71. 575 ton. BILANGAN Ae VOLUME. 3 NOMOR. DESEMBER 2025 Volume (To. e-ISSN : 3032-7113. p-ISSN : 3032-6389. Hal. 10 11 12 13 14 15 Gambar 1. Grafik Volume Secondary Crushing Pada grafik di atas hasil produksi secondary crusing selama peledakan di lokasi tambang yang dilakukan belum mencapai produksi dari hasil peledakan, adapun beberapa faktor yang menjadi penghambat pada proses peremukan yaitu faktor cuaca, perbaikan alat dan terurainya menjadi debu. Kegiatan Primary Crushing Kegiatan Primary Crushing merupakan tahapan awal dalam proses pengolahan batugamping setelah material hasil peledakan dengan ukuran berkisar 100-300 mm. Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk mereduksi ukuran bongkahan batu gamping menjadi ukuran yang lebih kecil dan seragam agar dapat diproses lebih lanjut. Material hasil peledakan diangkut menggunakan Excavator Hitachi ZX350-H menuju hopper pada unit mobile crusher Strike JM1310. Hopper berfungsi sebagai tempat penampungan sementara material sebelum masuk ke unit penghancur utama. Proses penghancuran utama dilakukan oleh mobile crusher tipe JM1310, di mana material berukuran besar dihancurkan dengan gaya tekan antara dua plat rahang . ixed jaw dan swing ja. Ukuran produk hasil primary crusher berkisar antara 0Ae200 Proses ini dilakukan menggunakan alat Mobile Crusher Strike JM1310 yang bekerja dengan prinsip menjepit dan menekan batuan diantara dua rahang . aw plat. , yaitu rahang tetap dan rahang bergerak. Rahang bergerak menekan batuan ke rahang tetap sehingga material pecah menjadi ukuran yang lebih kecil. Produk keluaran dari alat ini berukuran sekitar 50 Ae 200 mm, tergantung pada setting bukaan . ischarge settin. yang digunakan. Adapun alat bantu yang digunakan untuk kegiatan Primary criushing yaitu alat Excavator Hitcahi ZX350H. Studi Kehilangan Volume Batugamping pada Kegiatan Peledakan dan Crushing di PT. Yusrina Borneo Quantum Kecamatan Loakulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Provinsi Kalimantan Timur Kegiatan Secondary Crushing Tahapan Secondary Crushing merupakan proses lanjutan dari kegiatan Primary Crushing, dengan tujuan memperkecil ukuran batuan gamping agar sesuai dengan standar produk akhir yang berada pada perusahaan PT. Yusrina Borneo Quantum. Material yang masuk ke secondary crusher mengalami proses penghancuran kembali melalui mekanisme benturan dan tekanan antar batu dan dinding penghancur. Ukuran pengumpan dari tahap ini berkisar 5075 mm. , sehingga siap untuk disimpan di stockpile. Proses kerja secondary crusher berlangsung secara kontinu, di mana aliran material diatur melalui feeder agar laju masuk ke crusher tetap stabil dan tidak menyebabkan Setelah melalui proses penghancuran, material yang sudah mencapai ukuran. Pada PT Yusrina Borneo Quantum, kegiatan secondary crushing menjadi bagian penting dalam menjamin kualitas produk akhir. Material yang berasal dari primary crusher dialirkan ke secondary crusher menggunakan sistem belt conveyor yang terhubung secara langsung, sehingga proses dapat berjalan kontinu dan efisien tanpa perlu penanganan manual. Efisiensi Kerja Unit Cushing Plant Perhitungan efisiensi kerja dihitung berdasarkan jumlah waktu tersedia dan jumlah waktu kerja produksi alat rata Ae rata pada saat penelitian. Efisiensi kerja pada unit peremukan diawali dengan menghitung waktu kerja efekktif pada unit peremukan. Waktu Kerja Efektif = Waktu Tersedia Ae Waktu Hambatan = 8. 85 jam Ae 1. 81 jam = 7. 04 jam Efisiensi Kerja ycycaycoycyc yceyceyceycoycycnyce . = ycycaycoycyc ycyceycycyceyccycnyca . ycu 100% = 531. 20 ycu 100% = 79. Ketersediaan Alat Unit Crushing Plant Ketersediaan alat merupakan faktor yang menunjukkan kondisi alat dalam melakukan pekerjaan (W) dengan memperhatikan kehilangan waktu selama kerja yang terdiri dari waktu perbaikan (R) dan waktu standby (S). Penilaian terhadap ketersediaan alat terdiri dari MA . echanical availabilit. PA . hysical availabilit. UA . sed of availabilit. dan EU . ffective utilizatio. BILANGAN Ae VOLUME. 3 NOMOR. DESEMBER 2025 e-ISSN : 3032-7113. p-ISSN : 3032-6389. Hal. Nilai ketersediaan alat pada unit crushing plant: Working hours (W) = 7,04 jam Repair hours (R) = 0,69 jam Standby hours (S) = 1,12 jam Adapun Rumus Perhitungan untuk ketersedian alat: Mechanical Availability (MA) ycO = ycO ycI ycu100% ycu100% = 91. Physical Availability (PA) ycO ycI = ycO ycI ycI ycu100% = 7. 12 ycu100% = 92. Use of Availability (UA) ycO = ycO ycI ycu100% = 7. 12 ycu100% = 86. Effective Utilization (EU) ycO = ycO ycI ycI ycu100% = 7. 12 ycu100% = 79. Berdasarkan hasil perhitungan, unit Crushing Plant menunjukkan tingkat ketersediaan alat yang baik, dengan MA dan PA berada di atas 90%. Namun tingkat EU yang berada pada kisaran 79,54% menunjukkan bahwa efektivitas pemanfaatan alat masih dapat ditingkatkan, terutama melalui pengurangan waktu tidak produktif seperti standby dan perbaikan. Optimalisasi jadwal kerja, peningkatan respons perawatan, serta pengendalian gangguan operasional dapat menjadi fokus perbaikan untuk meningkatkan performa keseluruhan unit. Studi Kehilangan Volume Batugamping pada Kegiatan Peledakan dan Crushing di PT. Yusrina Borneo Quantum Kecamatan Loakulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Provinsi Kalimantan Timur Analisis Persentase Kehilangan Produksi Dalam kegiatan penambangan dan pengolahan batu gamping di PT Yusrina Borneo Quantum, efisiensi produksi merupakan indikator penting untuk menilai kinerja setiap tahapan proses, mulai dari peledakan . hingga peremukan. Salah satu parameter yang digunakan untuk menilai efisiensi tersebut adalah persentase kehilangan material . pada setiap tahap proses produksi. Persentase kehilangan dihitung dengan membandingkan jumlah material yang masuk dan keluar dari masing-masing tahapan. Kehilangan material dapat terjadi akibat berbagai faktor seperti cuaca, debu hasil penghancuran, tumpahan material di conveyor, sisa batu di hopper, variasi pengukuran saat penimbangan atau alat yang tidak bekerja maksimal. Tabel 4, % Kehilangan Hasil Dari Kegiatan Peledakan (To. Secondary Crushing (To. Kumulatif Sisa Kehilangan Total Rumus Perhitungan : Persentase Kehilangan ycOycuycoycycoyce yaycycayco OeycOycuycoycycoyce yaycoEaycnyc ycOycuycoycycoyce yaycycayco x 100% Keterangan : Volume Awal = Volume Peledakan (To. BILANGAN Ae VOLUME. 3 NOMOR. DESEMBER 2025 e-ISSN : 3032-7113. p-ISSN : 3032-6389. Hal. Volume Akhir = Volume Secondary Crushing (To. Bisa dilihat dari Tabel. 4 bahwa terjadinya perbedaan volume dari hasil peledakan dan Hal ini di karenakan ada kegiatan yang menghambat hasil produksi crushing disebabkan terjadinya trouble pada alat crushing dan faktor cuaca sehingga produksi crushing tidak tercapaui dengan hasil volume peledakan. Dari hasil perhitungan data volume material yang hilang dari kegiatan peledakan hingga secondary crushing sekitar 0. 16 %, atau 116 ton. Produksi Kegiatan Volume (To. Peledakan Secondary Crushing Gambar 2. Perbandingan Kegiatan Produksi Dari data diatas dapat dilihat bahwa terdapat beberapa perbedaan produksi dari setiap kegiatan, hal ini di karenakan ada beberapa faktor penyebabnya produksi Secondary Crushing tidak terpenuhi yaitu adanya trouble pada alat crushing dan cuaca hujan. Adapun analisis persentase kehilangan dihitung berdasarkan selisih antara nilai peledakan dan nilai secondary crushing, sehingga nilai yang dihasilkan dapat berupa positif maupun negatif. Nilai positif menunjukkan adanya kehilangan . , sedangkan nilai negatif menunjukkan terjadinya surplus yang melebihi volume awal. Berikut grafik persentase kehilangan pada (Gambar. Studi Kehilangan Volume Batugamping pada Kegiatan Peledakan dan Crushing di PT. Yusrina Borneo Quantum Kecamatan Loakulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Provinsi Kalimantan Timur Nilai % Kehilangan 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Gambar 3. Grafik Presentase Kehilangan Berdasarkan Gambar 3, persentase kehilangan volume batugamping pada kegiatan peledakan dan crushing menunjukkan variasi yang cukup signifikan di antara titik-titik Pada beberapa titik, nilai kehilangan berada pada tingkat yang tinggi, seperti titik 1 . ,46%), titik 4 . ,82%), titik 6 . ,06%), titik 10 . ,11%), dan titik 15 . ,49%). Di antara titik-titik tersebut, titik 4 merupakan titik dengan kehilangan tertinggi yaitu 6,82%. Nilai ini mengindikasikan bahwa volume awal jauh lebih rendah dibandingkan nilai standar 0,20%. Kondisi ini dapat menggambarkan adanya ketidakefisienan proses peledakan, kehilangan material pada saat loading, proses crushing. Selain itu, terdapat titik pengamatan yang menunjukkan nilai kehilangan relatif kecil dan mendekati nol, seperti titik 8 . ,68%). Nilai kehilangan dalam kisaran ini dapat dikategorikan sebagai variasi normal yang umum terjadi pada proses peledakan dan pengolahan material. Variasi kecil tersebut tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja keseluruhan sistem karena masih berada dalam batas toleransi operasional. Pada grafik juga terlihat sejumlah titik yang menunjukkan nilai negatif, seperti titik 5 (Ae1,58%), titik 7 (Ae0,57%), titik 9 (Ae5,37%), titik 11 (Ae5,42%), titik 12 (Ae8,02%), dan titik 14 (Ae3,98%). Nilai negatif ini tidak menunjukkan kehilangan, tetapi justru menandakan terjadinya kelebihan volume, yaitu kondisi di mana volume awal lebih besar daripada volume akhir. Dari seluruh titik surplus tersebut, titik 12 merupakan yang paling ekstrem dengan nilai Ae8,02%. Kelebihan terbesar ini mengindikasikan bahwa pada titik tersebut volume hasil peledakan mengembang jauh lebih besar dibandingkan perhitungan teoritis. Meski tidak selalu merugikan, surplus yang berlebihan menunjukkan adanya ketidakkonsistenan proses, seperti energi peledakan yang terlalu tinggi, struktur batuan yang sangat rekahan, atau adanya material lepas yang tidak termasuk dalam perhitungan standar. Dengan demikian, grafik ini menegaskan perlunya evaluasi lebih lanjut terhadap parameter peledakan, kualitas fragmentasi, prosedur penanganan material, dan akurasi BILANGAN Ae VOLUME. 3 NOMOR. DESEMBER 2025 e-ISSN : 3032-7113. p-ISSN : 3032-6389. Hal. Konsistensi proses sangat penting untuk meminimalkan kehilangan volume dan memastikan bahwa hasil produksi batugamping berada dalam rentang yang sesuai dengan rencana penambangan. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kehilangan volume batugamping pada rangkaian proses peledakan dan crushing dipengaruhi oleh kombinasi faktor teknis, terutama kualitas fragmentasi hasil peledakan, efisiensi kerja unit crushing, serta hambatan operasional di Berdasarkan analisis terhadap 15 kegiatan peledakan selama periode pengamatan, volume hasil peledakan dan volume hasil secondary crushing memiliki selisih yang menghasilkan nilai kehilangan produksi yang terukur dan signifikan. Variabel powder factor, indeks fragmentasi, efisiensi crusher, dan downtime terbukti berkontribusi terhadap besarnya kehilangan volume, dengan fragmentasi dan performa crusher sebagai faktor yang paling Temuan ini menegaskan pentingnya optimasi desain peledakan dan peningkatan efisiensi crushing untuk meminimalkan kehilangan volume serta meningkatkan produktivitas penambangan batugamping di perusahaan. Penelitian ini juga memberikan dasar teknis yang dapat digunakan sebagai acuan dalam evaluasi berkelanjutan terhadap operasi peledakan dan pengolahan batuan. UCAPAN TERIMA KASIH