AL-MUHITH JURNAL ILMU AL-QURAoAN DAN HADITS E-ISSN: 2963-4024 . edia onlin. P-ISSN : 2963-4016 . edia ceta. DOI : 10. 35931/am. ILMU QIRAAT DAN DAMPAKNYA PADA KEMUNCULAN DAN PERKEMBANGAN ILMU NAHWU Akhmad Rusydi Sekolah Tinggi Ilmu QurAoan (STIQ) Amuntai jihadhanif212@gmail. Abstrak Ilmu nahwu menjadi elemen krusial dalam pemahaman teks berbahasa Arab, terutama dalam konteks keagamaan seperti Al-Quran Al-Karim dan hadis An-Nabawi. Keterampilan dalam ilmu ini merupakan fondasi utama bagi ahli tafsir dan ahli hadis untuk menafsirkan makna yang terkandung dalam ayat atau Ilmu Qiraat, dengan keterkaitannya yang erat terhadap ilmu nahwu, bahkan memengaruhi lahirnya ilmu tanda baca Al-Quran pertama kali oleh Abu Aswad Ad-Duali. Tulisan ini menyelidiki hubungan antara ilmu qiraat dan perkembangan ilmu nahwu melalui metode penelitian kepustakaan. Analisis mendalam terhadap kitab-kitab klasik tentang ilmu qiraat memberikan gambaran bagaimana praktik dan pengkajian qiraat memengaruhi pemahaman tata bahasa Arab pada masa lalu. Selain itu, penelitian ini menelusuri evolusi ilmu nahwu dalam konteks historis yang berkaitan dengan pengajaran dan praktik ilmu Perbandingan pandangan ulama dari berbagai era mengenai kedua bidang ini mengungkapkan dampak signifikan ilmu qiraat dalam pengembangan ilmu nahwu. Sejarah panjang kemunculan ilmu nahwu terdalam dipengaruhi oleh ilmu Qiraat dan Al-Quran itu sendiri. Dengan demikian, tulisan ini menyoroti pentingnya hubungan antara ilmu qiraat dan kemunculan serta perkembangan ilmu nahwu sebagai bagian integral dalam sejarah Al-Quran dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengannya. Kata Kunci : Ilmu Nahwu. Ilmu Qiraat. Hubungan Abstract Nahwu knowledge is a crucial element in understanding Arabic texts, especially in religious contexts such as Al-Quran Al-Karim and the An-Nabawi hadith. Skills in this science are the main foundation for commentators and hadith experts to interpret the meaning contained in a verse or hadith. The science of Qiraat, with its close connection to the science of nahwu, even influenced the birth of the first science of AlQuran punctuation by Abu Aswad Ad-Duali. This paper investigates the relationship between qiraat science and the development of nahwu science through library research methods. An in-depth analysis of classical books on the science of qiraat provides an overview of how the practice and study of qiraat influenced the understanding of Arabic grammar in the past. In addition, this research traces the evolution of nahwu science in a historical context related to the teaching and practice of qiraat science. A comparison of the views of scholars from various eras regarding these two fields reveals the significant impact of qiraat science in the development of nahwu science. The long history of the emergence of the deepest knowledge of nahwu was influenced by the knowledge of Qiraat and the Koran itself. Thus, this paper highlights the importance of the relationship between the science of qiraat and the emergence and development of the science of nahwu as an integral part of the history of the Koran and the sciences related to it. Keywords: Nahwu Science. Qiraat Science. Relationships PENDAHULUAN Ilmu nahwu ilmu yang sangat penting dalam memahami teks-teks berbahasa arab, terkhusus teks-teks keagamaan, seperti Al-Quran Al-Karim, dan hadis An-Nabawi. Tanpa menguasai ilmu tersebut, tentu akan sangat sulit bagi seorang ahli tafsir untuk menentukan makna yang terkandung dalam suatu ayat, begitu pula bagi seorang ahli hadis, bagaimana dia memahami Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Akhmad Rusydi: Ilmu Qiraat dan Dampaknya pada Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Nahwu sebuah hadis apabila dia tidak faham apa maksud dari sebuah kalimat, dan apa arti dari sebuah harakat . Ilmu Qiraat memiliki kaitan yang sangat erat dengan ilmu nahwu. Begitu pentingnya ilmu tersebut, bahkan kita dapatkan lahirnya ilmu nahwu sendiri berbarengan dengan lahirnya pemberian tanda baca Al-Quran untuk pertama kalinya di tangan Abu Aswad Ad-Duali. Tulisan sederhana ini akan berusaha untuk mencari hubungan ilmu Qiraat dengan perkembangan ilmu nahwu Sudah menjadi fitrah manusia, terdapat mungkin tidak satu, dua atau mungkin begitu banyak kesalahan dalam makalah yang ada di tangan para pembaca sekalian, oleh karena itu kami sangat berterima kasih kepada rekan sekalian atas saran dan kritik yang membangun. Akhirnya, dengan membaca bismillah kami persembahkan kepada pembaca sekalian makalah ini. METODE PENELITIAN Dalam menyelidiki hubungan antara ilmu qiraat dan perkembangan ilmu nahwu, metode penelitian kepustakaan menjadi fondasi yang kuat. Pendekatan ini memungkinkan para peneliti untuk menelusuri sumber-sumber teks klasik dan literatur terkait yang membahas korelasi antara kedua bidang ini. Pertama, melalui analisis mendalam terhadap kitab-kitab klasik yang mengulas ilmu qiraat, seperti karya-karya Imam Asy-Syafi'i. Imam Malik. Imam Abu Hanifah, dan lainnya, peneliti dapat mengidentifikasi bagaimana pengamalan dan pengkajian qiraat mempengaruhi pemahaman tata bahasa Arab pada masa itu. Dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai pandangan serta pendapat ulama tentang hubungan ini, akan terbuka wawasan tentang bagaimana ilmu qiraat memberikan sumbangan terhadap perkembangan ilmu nahwu. Kedua, metode penelitian kepustakaan memungkinkan peneliti untuk menelusuri evolusi ilmu nahwu dalam konteks historis yang berkaitan dengan pengajaran dan praktik ilmu qiraat. Dengan meneliti literatur klasik dan kontemporer yang membahas ilmu nahwu dari masa ke masa, peneliti dapat mengidentifikasi titik-titik perubahan dan pengaruh yang diakibatkan oleh pemahaman dan praktik ilmu qiraat. Perbandingan antara pandangan-pandangan ulama dari berbagai era terhadap kedua bidang ini dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang bagaimana ilmu qiraat memengaruhi cara pandang dan pemahaman dalam pengembangan ilmu nahwu. Dengan demikian, metode penelitian kepustakaan menjadi jendela utama untuk memahami dampak ilmu qiraat pada kemunculan dan perkembangan ilmu nahwu. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan tentang perkembangan ilmu nahwu serta hubungannya dengan ilmu Qiraat sangat luas, untuk itu kami selaku pemakalah pada kesempatan kali ini hanya akan berbicara Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Akhmad Rusydi: Ilmu Qiraat dan Dampaknya pada Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Nahwu tentang tiga pembahasan, yaitu hubungan ilmu Qiraat atas kelahiran ilmu nahwu, kemudian perkembangan ilmu nahwu. Berikut pembahasan yang akan kami sampaikan. Ilmu Qiraat bidani lahirnya ilmu nahwu Perkembangan Ilmu Nahwu tidak bisa dilepaskan dari sejarah Al-Quran serta qiraatnya. Al-Quran dulunya tidak berhakat dan tidak bertitik, akhirnya pada abad-abad berikutnya disempurnakan dengan harakat dan titiknya. 1 Penyempurnaan itu tidak lain untuk mempermudah umat untuk menelaah dan membacanya. Proses pemberian harakat dan titik pada Al-Quran tidak dapat dipungkiri merupakan terminal awal perkembangnya Ilmu Nahwu. Di samping itu. Ilmu Qiraat juga sangat berperan membidani ilmu tersebut. Sebab para ulama membagi ilmu qiraat menjadi dua periode. Episode tersebut merupakan peletakan pondasi pertama berkembangnya ilmu nahwu. Pertama, masa periwayatan Syafawiyah . eriwayatan melalui lisa. yaitu periode ini ditandai dengan talaqqi atau pertemuan langsung seorang murid dengan gurunya untuk membaca serta menyetorkan hafalannya secara lisan. Gaya periwayatan seperti ini sudah dimulai budayakan sejak Nabi Muhammad Saw hingga penyempurnaan mushaf Utsmani dengan pemberian tanda baca . oleh Abu Aswad Ad-Dualiy . pada tahun 60 Hijriah. Sampai sekarang pentransformasian ilmu dengan cara-cara demikian masih dapat dijumpai di sejumlah negaranegara Islam. Pemberian harakat Al-Quran hingga sempurna memakan waktu yang cukup lama mencapai sekitar satu abad. Sejak itulah sebenarnya Ilmu Nahwu dan Ilmu Balaghah mulai masuk kepada tahap proses hingga keluar menjadi sebuah disiplin ilmu yang mesti ditaati kita bersentuhan qiraat dan lafadz-lafazh berbahasa Arab. Sebab bagaimana pun kelahiran dan peran kedua cabang ilmu tersebut tidak bisa dilepaskan dari perkembangan qiraat. Sebab pada intinya kedua itu memang mencermati bagaimana membaca, melantunkan kalimat atau Al-Quran sehingga umat Islam bersatu padu dalam satu qaidah. Para ulama para qurun pertama yang membidani lahirnya kedua ilmu tersebut patut mendapatkan apresiasi, mengingat urgensitas kedua ilmu tersebut bagi umat Islam. Kedua, periode pembukuan Ilmu Qiraat sebenarnya telah dimulai sejak Abu Aswad adDualiy melakukan penyempunaan mushaf yang ditandai dengan pemberian tanda baca. Periode ini memakan waktu cukup lama, terhitung sejak 60 Hijriyah hingga tahun 255 hijriah. Pada masa itulah ilmu ini mengalami pematangan sehingga menjadi salah disiplin ilmu yang harus dirujuk Hasanuddin. Af. Anatomi Al-Quran: Perbedaan Qiraat dan Pengaruhnya Terhadap Istinbath Hukum Dalam Al-Quran, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1. Cet. Ke-1, h. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Akhmad Rusydi: Ilmu Qiraat dan Dampaknya pada Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Nahwu oleh setiap orang. Abu Ubad Ibnu Sallam . -224/744-. dianggap sebagai orang yang pertama kali melakukan kodifikasi terhadap Ilmu Qiraat yang terlihat dalam karyanya Al-Qira`at. Yahya ibnu Ya`mar . yang merupakan salah seorang murid Abu Aswad adDualiy juga dianggap banyak ulama sebagai penkodifikasi Ilmu Qiraat pertama. Karya beliau lebih banyak fokus pada pemberian harakat. Pada masa itulah ilmu Nahwu terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Abdullah ibn Amir . Abu Amr . Hamzah al-Zayyat juga dianggap berperan dalam perkembangan ilmu Nahwu. Kendati demikian, bertambah banyaknya umat Islam di berbagai suku, kabilah, bahasa dan negara turut mendorong lahirnya Ilmu Nahwu. Sebab ilmu itu lebih banyak berperan pada kaidah bahasa dan menyatukan umat Islam dalam membaca Al-Quran dan lafazh Arab. Kehadiran qaidah-qaidah yang tertuang dalam Ilmu Nahwu sangat tepat di tengah maju pesatnya perkembangan Islam ke berbagai daerah dan wilayah di zaman kekhalifahan. Masuk Islamnya sejumlah orang secara berbondong-bondong jika tidak difilter dengan ilmu tersebut maka akan terjadi banyak kekeliruan dan ketimpang-tindihan dalam melafazhkan Al-Quran yang ketika itu belum diberi harakat. Kekhawatiran akan terkontaminasinya Al-Quran dan bahasa Arab dengan bahasa asing maka dengan petunjuk Allah, ilmu Nahwu, dan ilmu kebahasaannya pun lahir di tengah-tengah bangsa Arab yang sudah mulai rusak kefitrahan berbahasa Arabnya. Terlebih lagi, kalangan sahabat dan tabiin tidak semuanya penuh mempelajari qiraat Al-Quran, maka kondisi inilah sangat signifikan mendorong lahirnya ilmu tersebut. Perkembangan ilmu nahwu Pengertian ilmu nahwu dan peletak pertamanya Ilmu nahwu apabila kita lihat dari aspek bahasa di ambil dari kata naha Ae yanhu - nahwan ( A IOA- A) I Ae OIOA, yang bermakna Qashada ( A) CAA. Ab`ada ( A ) Adan mala (A) IEA5, dan bisa di artikan menuju dan condong ke suatu arah. Dikatakan ( A ) I E INAatau menjauhkan sesuatu Sedangkan secara istilah ilmu nahwu adalah ilmu yang dengannya bisa kita ketahui bentuk dan baris akhir suatu kata dan kalam, serta bentuk I`rab dan bina`nya. Nabil ibn Muhammad Ibrahim, `Ilmu Al-QurAoyn NasyAoatuhu wa Athwyruhu fy al-`Ulymi asySyar`iyyah` (Riyadh: Maktabah Taubah, 1421 H). Cet. Ke-1, h. , lihat juga Subhy ash-Shahih. Mabyhist fy al-`Ulymi al-QurAoyn, (Bairut: Darul Ilm. Cet. ke-17, h. Nabil ibn Muhammad Ibrahim, `Ilmu Al-QurAoyn NasyAoatuhu wa Athwyruhu fy al-`Ulymi asySyar`iyyah`, (Riyadh: Maktabah Taubah, 1421 H). Cet. Ke-1, h. Muhamad Arif Ustman Musa al-Hardi, al-QiryAoyt al-Mutawytirah al-laty AoAnkarahy Ibnu Jaryr ath-Thabariy fy Tafsyrahi wa Raddu `Alaihi min awwali Al-QurAoyn ily Akhiri syrah at-Taubah, (Riyadh: Ma`had Al-Quran dan Ilmunya, 1. Cet. Ke-1, h. Lebih lengkap lihat juga: Muhammad Habsy. Asy-Syymil fy al-QiryAoyt al-Mutawytirah, (Bairut: Darul Kalami Thaib, 2. Cet. Ke-1, h. Majma`ul Lughah Al-`Arabiah. Al-Mu`jam Al-Wasith, juz 2, (Turki : Al-Maktabah Al-Islamiah, t. , hal 908 Majma`ul Lughah Al-`Arabiah. Al-Mu`jam Al-Wasith, juz 2, (Turki : Al-Maktabah Al-Islamiah, t. , hal 908 Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Akhmad Rusydi: Ilmu Qiraat dan Dampaknya pada Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Nahwu Adapun ilmu nahwu apabila kita lihat dari sejarah penyebutannya dengan kata Au nahwuAy ( A) IOA, maka para ahli sejarah berbeda pendapat tentang asal mulanya. Dr. Muhammad Khair AlHilwani menyebutkan bahwa penyebutan istilah nahwu sudah muncul pada masa Abu Aswad AdDuali, yaitu pada masa lahirnya ilmu nahwu itu sendiri. 7 adapun sebab penamaan ilmu ini dengan nama ilmu Nahwu, diceritakan bahwasanya ketika Abu Aswad Ad-Duali meletakan pandanganpandangan beliau tentang ilmu AuArabiahAy beliau mengucapkan : ( A) IO N EIOA, sehingga ilmu disebut sebagai AunahwuAy. Selain itu adapula yang berpendapat bahwasanya para ulama terdahulu sering menggunakan kata AunahwuAy untuk menjelaskan sebuah kaedah dengan menyebutkan misal yang fashih, maka bergeserlah penggunaan makna bahasa yang ada menjadi makna istilah, dan alasan yang kedua ini didukung dengan pemaknaan kata nahwu ( A ) IOAsebagai misal ( A) IEA, seperti perkataan Yunus bin Habib : Au ( A OIO EEAUA OAEAUA OIAEAUA AEA: AA. oI AO O AEA, dan banyak contoh seperti ini di kitab-kitab pada masa itu, dan seperti sudah disebutkan sebelumnya penggunaan makna bahasa akhirnya bergeser menjadi sebuah cabang ilmu dalam bahasa arab. Adapun peletak pertama ilmu nahwu, maka hampir tidak ada perbedaan pendapat antara para ahli bahasa arab . epengetahuan penuli. adalah Dzhalim bin `Amru yang lebih dikenal dengan sebutan Abul Aswad Ad-Duali9, namun terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang atas perintah siapa Abu Aswad Ad-Duali meletakan pondasi dasar ilmu nahwu tersebut? Ada riwayat yang menyebutkan atas peritah Umar bin Khattab lah Abu Aswad Ad-Duali meletakan dasar-dasar ilmu nahwu, adapula riwayat yang menyebutkan bahwa semua itu atas perintah Ali bin Abi Thalib, dan pendapat ketiga menyatakan perintah itu berasal dari Amir Bashrah Ziyad bin Abihi. Sebab munculnya ilmu nahwu Pada mulanya bangsa arab sama sekali tidak mengenal ilmu nahwu, dan tidak membutuhkan ilmu tersebut, sebab mereka mengucapkan bahasa arab yang fush-ha dengan naluri alamiah serta tabiat yang masih murni. Diceritakan pada suatu hari seorang kakek tua sedang membacakan hafalan surah Al-Masad di depan seorang anak kecil seraya membaca : ( A) OA dengan berwaqaf pada kalimat ( A) OAspontan anak kecil tersebut membaca : ( A) OIA, maka sang Khair. Muhammad Al-Hilwani. Almufashal fi tarikh nahw el-Arab, juz 1, (Bairut : Muassasah Risalah, 1399 H), cet pertama, hal 13 Khair. Muhammad Al-Hilwani. Almufashal fi tarikh nahw el-Arab, juz 1, hal 15-16 Lihat Khair. Muhammad Al-Hilwani. Almufashal fi tarikh nahw el-Arab, juz 1, hal 40, lihat juga Ali Muhammad Fakhir. Tarikh An-Nahw Al-`Arabi. Hal9. Syauqi Dhaif. Madaris Nahwiyah, hal 13, disebutkan dalam kitab ini, ada pendapat yang menyebutkan bahwa peletak pertama ilmu nahwu adalah nashr bin `Ashim, adapula yang menyebutkan `Abdurrahman bin Hurmuz lah peletak pertama ilmu nahwu, dan disebutkan dalam kitab al-Mufashal fi tarikh nahw `Arabi, bahwa ada di antara kaum oreantalis yang mengingkari penisbahan peletak pertama ilmu nahwu kepada Abu Aswad Ad-Duali, dengan beberapa alasan, namun sudah dibantah oleh syekh Muhammad Khair dalam kitab tersebut pada halaman 85. Ali Muhammad Fakhir. Tarikh An-Nahw Al-`Arabi, 9 Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Akhmad Rusydi: Ilmu Qiraat dan Dampaknya pada Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Nahwu kakek mengulang bacaan beliau dengan bacaan yang sama, dan si anak kecil tersebut juga mengulang dengan bacaan yang dia baca pertama kali, sampai pada akhirnya sang kakek membaca ayat tersebut secara sempurna : ( A ) O EN OAlalu sang anak kecil pun mengikuti bacaan sang kakek, dan sebab kenapa anak kecil tersebut membaca dengan huruf (A ) IAketika dia berwaqaf pada kalimat (A ) OIAkarena berwaqaf dengan kata bentuk mutsanna tanpa idhafah . harus disertai ( A) IA, ketika sang kakek menyambung bacaan beliau maka huruf ( A) IA yang ada dihapus dikarenakan bentuk mutsanna ketika di idhafahkan wajib dibuang huruf ( A) IA. Begitulah orang arab pada zaman dulu, mereka selalu mengucapkan bahasa arab secara alamiah. Sebab utama munculnya ilmu nahwu adalah tersebarnya kejanggalan atau kesalahan ( baca : laha. Yang menyebabkan semakin menjauhnya dari ke-fashihan dalam berbicara dan membaca pada umumnya, terlebih lagi ketika membaca Al-Quran12. Dr. khair Al-Hilwani membagi sebab peletakan ilmu nahwu kepada tiga aspek, yaitu : yn Aspek bahasa ( A) E EEOOA Para ahli bahasa menyatakan bahwa dasar ilmu bahasa adalah adanya pertentangan antara dua bahasa, atau antara dua dialek dalam satu bahasa, seperti dialek yang sudah umum pada masyarakat awam dengan dialek para pendahulu mereka pada masa awal dibentuknya suatu bahasa tertentu. Sebab ketika kita membandingkan pertentangan antara kedua dialek tersebut akan menimbulkan pertanyaan yang mendasar, yaitu yang manakah dialek yang benar . aca :fashi. ? Dan yang manakah dialek yang baru? Sehingga mendorong kaum terpelajar untuk mencari kebenaran. Adapun urutan bahasa arab pada masa peletakan pertama ilmu nahwu ada tiga, yaitu : Al-Lughah al-Mitsaliah : yaitu bahasa arab yang dipergunakan dalam syair-syair, khutbah, nasehat, dan sebagainya yang sepenuhnya menggunakan kaedah bahasa yang fush-ha. Al-Lughah al-badwiyah : yaitu bahasa arab yang digunakan oleh orang-orang suku pedalaman atau badui, bagian najed, hijaz dan tuhamah. Bahasa yang mereka pergunakan juga merupakan bahasa yang sangat menjaga kefashihan dan gramatikal yang asli. Mereka itulah yang disebut sebagai ahlu fashahah ( A) NE Ea. Oleh karena itu hampir tidak ada bedanya antara lughah mitsaliah dan lughah badwiyah. Lughahtul Hawadhir : yaitu bahasa yang digunakan didaerah perkotaan seperti Makkah. Madinah. Thaif dan sebagainya, dan lughah jenis ini tidak sama antara satu dan lainya, bahkan bisa dikatakan lughah ini bertingkat-tingkat, ada yang mendekati bahasa mitsaliah, adapula yang sangat jauh dari lughah mitsaliah dari sisi kefashihan. Ali Muhammad Fakhir. Tarikh An-Nahw Al-`Arabi, (Kairo : universitas Al-Azhar, kuliatul lughat, 1423 H), cet-2. Hal 8-9. Lihat Syauqi Dhaif. Madaris Nahwiyyah, (Kairo : Dar el-Ma`arif. cet-4, hal11-12, lihat juga Ali Muhammad Fakhir. Tarikh An-Nahw Al-`Arabi, hal 8-9. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Akhmad Rusydi: Ilmu Qiraat dan Dampaknya pada Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Nahwu yn Aspek masyarakat ( A) E EIOA Di antara sebab berkurangnya kualitas bahasa arab diperkotaan adalah bercampurnya bangsa arab dengan bangsa non arab, sebab dengan adanya pergesekan antara dua bahasa atau bahkan lebih dari dua bahasa yang ada, maka akan sangat berpotensi memberikan pengaruh kepada bahasa arab yang fush-ha. Sebagai contoh, di kota Makkah terdapat 3 golongan, yaitu : kaum Quraisy murni, bangsa arab non Quraisy, dan bangsa non arab yang terdiri dari kaum budak dan saudagar dari Persia dan Rum. Adapun bahasa yang paling dominan pergesekannya dengan bahasa arab ada dua bahasa, yaitu bahasa Persia, dan bahasa Suryaniah. yn Aspek agama ( A) E EOIOA Atau lebih tepatnya aspek Qurani. Al-Quran sebagaimana kita ketahui diturunkan dengan bahasa arab yang fush-ha, yaitu dengan bahasa mitsaliah yang terhindar dari segala jenis lahan dan kekurangan. Yang mana umat Islam yang ingin memahami Al-Quran, mau tidak mau harus mempelajari bahasa arab yang sesuai dengan bahasa mitsaliah yang tentu tidak semua orang menguasainya, apalagi sesudah masa ihtijaj bil lughah13, baik bangsa arab itu sendiri, maupun bangsa non arab. Perkembangan ilmu nahwu Syekh Ali Muhammad Fakhir menyebutkan bahwa perkembangan ilmu nahwu terbagi kepada empat periode, yaitu : Masa peletakan dan pembentukan ilmu nahwu Yaitu masa dimana ilmu nahwu dilahirkan untuk pertama kalinya, dikota Basrah ditangan dzhalim bin `Amru yang lebih dikenal dengan abu Aswad Ad-Duali, sekitar pertengahan abad pertama hijriah sampai pertengahan abad kedua, dimasa runtuhnya kerajaan umawiyah tahun 132 hijriah. Pada masa ini, terdapat beberapa nama yang terkenal seperti abu Aswad Ad-Duali . H). Nashir bin `Ashim Al-Laitsi . H), `Anbasah bin Ma`dan Al-Fil . Abdullah bin abi Ishaq Al-Hadrami . H). Abdurrahman bin Hurmuz . H). Yahya bin Umar Al-`Adwani . H), `Isa bin Umar Al-Tsaqafi . H). Abu `Amru bin `Ala . H). Abu Sufyan bin `Ala . H). Ciri khas pada masa ini adalah jarangnya musthalah-musthalah, serta pembagian bab-bab nahwu dan pengertian nahwiyah seperti yang kita lihat pada masa sekarang ini. Sebab masa Yang dimaksud dengan masa ihtijaj bil lughah adalah masa dimana percakapan bangsa arab dan bahasa yang keluar dari mulut mereka adalah bahasa yang bisa dijadikan syahid dalam penggunaan bahasa arab, ada yang mengatakan masa itu terjadi pada masa sebelum Islam sampai masa khulafa rasyidin. Khair. Muhammad Al-Hilwani. Almufashal fi tarikh nahw el-Arab, juz 1, (Bairut : Muassasah Risalah, 1399 H), cet pertama, hal 17-33. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Akhmad Rusydi: Ilmu Qiraat dan Dampaknya pada Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Nahwu mereka masih sangat jarang adanya lahan, serta sebagian masih masuk dalam masa ihtijaj bil Masa perkembangan dan pertumbuhan ilmu nahwu Tidak seperti masa sebelumnya yang hanya terfokus dan berpusat di kota Bashrah, pada masa ini, kota Kuffah juga ikut andil dalam perkembangan ilmu nahwu, dimulai dari pertengahan abad kedua hijriah yaitu pada masa Khalil bin Ahmad Al-Farahidy dan Sibawaihi, sampai pada awal abad ketiga hijriah. Di antara ahli nahwu yang terkenal dari bashrah adalah : Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidy . H). Akhfasy Akbar atau Abu Khattab . H). Abu Basyr Sibawaihi . H). Abu Muhammad Al-Yazidi . H). An-Nashr bin Syamil . H), dan Ya`qub bin Ishaq AlHadhramy . H). dan dari Kufah adalah : Abu Ja`far Ar-Ru`asi. Abu Muslim Mu`adz bin Muslim Al-Harra . H). Abu hasan Al-Kisai . H). Abu hasan Ahmar . H). Abu Zakaria Al-Farra . H). Hisyam bin Mu`awiyah Ad-Dharir . Al-Lihyani . H). Ciri khas pada masa ini adalah perkembangan ilmu nahwu yang sangat cepat, para nuhat15 pada masa ini lebih focus dalam penelitian mereka untuk mencari syawahid dan ihtijaj untuk memperkokoh argument dan aliran mereka. Diceritakan bahwasanya Khalil bin Ahmad dan Sibawaihi sengaja pergi kepedalaman suku-suku badui hanya untuk mempelajari lughah mereka, serta bertanya pada mereka tentang syawahid-syawahid yang ada. Pada masa ini juga banyak dikarang kitab-kitab yang khusus berbicara tentang ilmu nawhu, baik dari madrasah kufah, maupun dari madrasah bashrah yang saling bersaing dalam bidang Masa kesempurnaan dan kematangan ilmu nahwu Begitu juga pada masa ini, kota bashrah dan kota kufah tetap menjadi pusat perkembangan ilmu nahwu, pada akhir masa ini persaingan ketat antara kedua madrasah dihentikan setelah kedua belah pihak sepakat untuk menghentikan perdebatan dan persaingan antara mereka, itupun setelah meninggalnya kedua imam masing-masing pihak, yaitu Al-Mubarrid16 . H) dan Tsa`lab17 . H). Di antara ahli nahwu yang terkenal pada masa ini dari madrasah bashrah adalah : Abu `Amr Shalih bin Ishaq Al-Jurmy . H). Abu Muhammad Abdullah At-Tuzy . H). Al-Mizany . H). Abu Hatim As-Sajistani . H). Abu Fadhl Al-Riyasi . H). Abu Ala Muhammad Al-Bahily . H), sedangkan dari madrasah Kufah adalah : Abu Ja`far Ad-Dharir . H). Nuhat adalah jama dari nahwiy, yaitu istilah yang ditujukan untuk para ahli nahwu. Beliau adalah Abu `Abbas Muhammad bin Yazid bin Abdul Akbar Al-Azdi Al-Bashri. Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman Ad-Dzahabi. Siyaru A`lam Nubala, juz 13, (Beirut : Muassasah Risalah, 1402H), cet-2, hal 576 Beliau adalah Abul Abbas. Yahya bin Yazid As-Syaibani, lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman Ad-Dzahabi. Siyaru A`lam Nubala, juz 15, hal 5. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Akhmad Rusydi: Ilmu Qiraat dan Dampaknya pada Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Nahwu Abu Abdillah At_Thual . H). Abu Ja`far Muhammad Bin adim . H). Abu `Abbas Muhammad Tsa`lab . H). Ciri khas pada masa ini adalah dipisahnya antara ilmu nahwu dan Sharf yang pada masa sebelumnya masih dikarang dan digabung dalam satu pembahasan. Dan yang pertama kali mengarang khusus dalam ilmu sharaf adalah Abu `Utsman Al-Mizani18. Masa tarjih dan perluasan ilmu nahwu Pada masa-masa sebelumnya ilmu nahwu tumbuh subur dimadrasah Bashrah dan Kufah, maka pada masa ini, ilmu nahwu justru berkembang di tiga wilayah, yaitu Baghdad. Andalus, dan Mesir dan Syam19. Adapun madrasah Baghdad bertahan selama kurang lebih tiga setengah abad, yaitu pada abad keempat, sampai pertengahan abad ketujuh, sedangkan madrasah Andalus mengalami puncak kejayaannya selama 2 abad, yaitu pada abad keenam dan ketujuh Hijriah, sedangkan madrasah Mesir dan Syam mengalami puncak kejayaannya selama 3 abad, yaitu dari abad ketujuh, sampai abad kesembilan Hijriah, dan itu setelah runtuhnya Baghdad ditangan bangsa Tartar, serta jatuhnya Andalus ditangan kaum kristiani, lalu ulama-ulama dari kedua madrasah tersebut pindah ke Mesir dan Syam. Di antara ahli nahwu yang terkenal pada masa ini dari madrasah Baghdad adalah : Ibnu Kisan . H). Az-Zujaj . H). Ibnu Siraj . H). Ibnu Jinni . H). Az-Zamakhsyari . H). Al-Anbari . H), sedangkan dari madrasah Andalus di antaranya : Ibnu AtTharawah . H). As-Suhaili . H). Ibnu Ali As-Syalubin . H). Ibnu `Ushfur . H). Ibnu Abi Rabi` . H), dan Al-Maliqi . H), sedangkan dari madrasah Mesir dan Syam di antaranya adalah : Ibnu Ya`isy . H). Ibnu Hajib . H). Ibnu Malik . H). Abu Hayyan . H). Al-Muradi . H). Ibnu Hisyam . H). Ibnu `Aqil . H), dan Nadzhirul Jaisy . H). Pembagian madzhab Nahwu Di atas sudah kami sebutkan adanya 5 madrasah nahwu yang pernah muncul dan berkembang dalam sejarah ilmu nahwu, namun pada kesempatan kali ini pemakalah hanya akan mencoba berbicara tentang dua madrasah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu nahwu sampai saat ini. yaitu madzhab Bashrah dan madzhab Kufah. Pemakalah akan mencoba mengajak para pembaca untuk berkenalan sekilas dengan kedua madrasah tersebut, baik dari sejarah kemunculan kedua madzhab tersebut, tokoh-tokohnya, serta arah pemahaman dan ciri-ciri khas kedua madzhab tersebut. Berikut penjelasan tentang kedua madzhab nahwu. Bashrah dan Kufah : Beliau adalah Abu `Utsman, bakr bin Muhammad bin `Adi Al-Bashri, lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman Ad-Dzahabi. Siyaru A`lam Nubala, juz 12, hal 270 Kota mesir dan syam dikelompokkan menjadi satu wilayah. Ali Muhammad Fakhir. Tarikh An-Nahw Al-`Arabi. Hal 15-28. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Akhmad Rusydi: Ilmu Qiraat dan Dampaknya pada Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Nahwu Madzhab Bashrah Sejarah munculnya madrasah Bashrah Berbicara tentang sejarah munculnya madrasah Bashrah, maka sama saja ketika kita berbicara tentang sejarah munculnya ilmu nahwu itu sendiri, sebab di Bashrah lah untuk pertama kalinya pondasi dasar ilmu nahwu diletakan oleh Abu Aswad Ad-Duali, yaitu ketika Abu Aswad mendengar ada seseorang yang membaca ayat Quran ( AuI NEE OII EIEOIA A ) OOENAdengan menkasrahkan huruf lam, pada kata Rasul ( A) OEA, maka beliau berkata : Auaku tidak menyangka bahwa perkara lahan sudah mencapai batas yang tidak dapat ditoleransiAy lalu beliau meminta izin dari Ziyad bin Abihi yang waktu itu menjabat sebagai wali kota Bashrah untuk meletakan sebuah kaedah umum dalam bahasa arab. 21 Namun itupun masih terbatas pada beberapa bab dalam ilmu nahwu, seperti yang disebutkan oleh ibnu Salam : Au,maka beliau (Abu Aswad Ad-Dual. meletakan bab Fa`il, maf`ul, mudhaf, huruf Jar. Rafa`. Nashab dan JazamAy, setelah itu muncul lah Ibnu Abi Ishaq Al-Hadhrami yang disebut-sebut sebagai pendiri madrasah Bashrah dibidang nahwu, kemudian ada murid beliau yang bernama `Isa bin `Umar. Abu `Amru bin `Ala, dan Yunus bin Habib, kemudian muncul generasi berikutnya yaitu Khalil bin Ahmad Al-Farahidi yang terkenal dengan kecerdasannya dan keluasan ilmunya, setelah itu muncul lah murid Khalil yang nantinya akan menjadi imam ahli nahwu madrasah Bashrah. Abu Basyr `Amru bin Utsman bin Qanbar yang lebih dikenal dengan sebutan Sibawaihi. Tokoh-tokoh madzhab Tokoh-tokoh madrasah bashrah yang terkenal ada banyak, namun pemakalah hanya akan menyebutkan beberapa saja yang terkenal dan memiliki andil dalam kemajuan ilmu nahwu. Mereka itu adalah : Khalil bin Ahmad Al-Farahidi Beliau adalah orang arab dari suku Azd-Uman, dilahirkan pada tahun 100 H, dan meninggal pada tahun 175 H, beliau mempelajari nahwu dari kedua murid Ibnu Abi Ishaq, yaitu `Isa bin Umar dan Abu`Amru bin `Ala. Beliau memiliki otak yang sangat brilian, sehingga tidaklah beliau mengenal suatu ilmu, kecuali akan beliau kuasai dengan sedetail-detailnya. Beliau lah orang yang pertama kali menemukan dan meletakan ilmu `Arudh yang sangat fenomenal, dan beliau pula lah yang telah Lihat Syauqi Dhaif. Madaris Nahwiyah, hal 15, ada juga yang berpendapat bahwa beliau tergerak hatinya untuk menulis kaedah umum tersebut, ketika beliau mendengar putri beliau mengucapkan ( A) I I EIA, lalu beliau berkata, ( A) IOINA, namun putri beliau mengatakan sebenarnya dia tidak ingin bertanya, namun ingin menyatakan bahwa langit malam sangat indah. Dalam riwayat yang lain disebutkan beliau mengadukan lahan yang diucapkan putri beliau kepada Ali bin Abi Thalib, lalu beliau menuliskan ( A ) I N EIOAmaka lahirlah istilah ilmu nahwu. Lihat Syauqi Dhaif. Madrasah Nahwiyah, hal 17-85 Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Akhmad Rusydi: Ilmu Qiraat dan Dampaknya pada Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Nahwu mengarang mu`jam yang beliau namakan AuAl-`AinAy yang disusun berdasarkan urutan makharijul huruf23. Jasa beliau dalam ilmu nahwu, sangat banyak, di antaranya adalah penamaan tanda i`rab ( A ) EI uEAseperti rafa`, nashab, kahfadh dan sebagainya berasal dari beliau, diantaranya juga adalah penyebutan huruf alif ( A)EAA, waw ( A ) OOAdan ya` ( A) OA, pada ism tatsniah dan jama` mudzakkar salim adalah huruf i`rab. bahkan dikatakan kebanyakan kandungan dari Al-Kitab milik sibawaihi adalah penyempurnaan dari apa yang telah dikokohkan oleh guru beliau ini24. Sibawaihi Beliau adalah Abu Basyar `Amru bin `Utsman bin Qanbar. Sibawaihi adalah sebutan non arab dari Persia yang berarti aroma buah apel, kenapa beliau dijuluki seperti itu? disebutkan oleh Ad-Dhzahabi mengutip perkataan Ibrahim Al-harabi Audikarenakan beliau mempunyai pipi yang menyerupai apelAy. 25 dulunya beliau adalah budak bani Harits bin Ka`ab, beliau dilahirkan di sebuah kampung yang bernama AubaidhaAy, daerah syairaz, dan dari sana lah beliau memulai perjalanan menuntut ilmu, sampai ke Bashrah, dan saat itu beliau masih seorang bocah belia yang kemudian rajin mengikuti halaqahhalaqah Fiqh dan Hadits, sampai pada suatu hari beliau keliru dan melakukan lahan ketika membaca hadits Nabi, dan mulai saat itulah beliau bertekad untuk mempelajari nahwu dan lughah. Beliau berguru pada banyak masyayikh, di antaranya yang paling terkenal adalah Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Yunus bin Habib, `Isa bin Umar, dan Al-Akhfasy Al-Akbar. Kemudian beliau mengarang sebuah kitab fenomenal yang menjadi rujukan hampir semua kitab nahwu yang dikarang sesudahnya, dan merupakan kitab yang mencakup hampir semua pembahasan nahwu modern. Ciri khas madrasah Ada beberapa ciri khas madrasah Bashrah apabila dibandingkan dengan madrasah kufah, di antaranya yaitu : Konsisten dan berpegang teguh dengan kaedah-kaedah yang telah mereka letakan, sehingga siapapun yang ingin menggunakan bahasa arab, harus mengikuti kaedah yang telah mereka letakan, tidak peduli orang arab kah itu, atau non arab. Lebih berpijak pada riwayat dan pendengaran dalam menggunakan bahasa arab. Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman Ad-Dzahabi. Siyaru A`lam Nubala, juz 7, hal 430-431 Lihat Syauqi Dhaif. Madrasah Nahwiyah, hal 35-36 Lihat Muhammad bin Ahmad bin Utsman Ad-Dzahabi. Siyaru A`lam Nubala, juz 8, (Beirut : Muassasah Risalah, 1402H), cet-2, hal 352. Mahdi Al-Makhzumi. Madrasatul Kufah, hal 59-60 Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Akhmad Rusydi: Ilmu Qiraat dan Dampaknya pada Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Nahwu Suku-suku yang mereka jadikan sebagai referensi hanyalah dari bangsa arab khullas ( murn. terkhusus dari suku-suku badui pedalaman27. Madzhab kufah Sejarah berdirinya madzhab Pada mulanya daerah yang sekarang kita kenal dengan nama kufah belum dikenal dengan nama tersebut, begitu pula dengan penduduknya, belum ada bangsa arab yang mendiami kawasan tersebut, kecuali ada beberapa suku dari bangsa Aram. Di lembah yang subur ini, serta pedalaman yang begitu luas, yang terhampar dari negri Syam, sampai barat Oman. Itulah yang menyebabkan daerah tersebut menjadi tempat pertukaran barang bangsa Persia, dan berkumpulnya para pemilik onta dari berbagai penjuru. Sebagaimana sudah kita jelaskan sebelumnya, madrasah Bashrah terlebih dahulu maju dan berkembang dibidang nahwu dari pada madrasah Kufah, itu semua disebabkan Ulama-ulama mereka pada abad pertama Islam, lebih focus kepada peletakan Fiqh, ushul fiqh, serta periwayatan Qiraat, yang menjadikan Kufah salah satu kota tempat kelahiran salah satu madzhab terkenal dalam dunia fiqh, yaitu madzhab Abi Hanifah, begitu pula dibidang Ilmu Qiraat, dari Kufah lah, muncul tiga Qari yang masuk nominasi Qurra Sab`ah, yaitu : `Ashim. Hamzah, dan Kisa`i. lebih jauh dari itu ulama Kufah juga menaruh perhatian pada periwayatan syair dan pembuatan diwan Syair29, pada suatu kesempatan Abu Thayyib AlLughawi mengatakan : Ausyair-syair yang terdapat di Kufah lebih banyak dan beragam dibandingkan dengan syair-syair yang ada dikota Bashrah, namun sangat disayangkan kebanyakan dari syair tersebut tidak disandarkan kepada pemilik syair tersebutAy. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa orang yang disebut-sebut pertama kali membawa dan menyebarkan nahwu di Kufah adalah Abu Ja`far Ar-Ruwasi dan Mu`adz AlHarra`. Adapun Ar-Ruwasi maka diceritakan bahwa beliau mempelajari nahwu dari `Isa bin `Umar bin Abi `Amru bin `Ala, kemudian dia kembali ke Kufah dan seterusnya mengajar nahwu disana, begitu pula Al-Harra`, namun para sejarawan menyatakan bahwa ilmu mereka berdua tidaklah sehebat apa yang selama ini dibanggakan oleh beberapa oknum, bahkan AlImam As-Suyuti menyatakan bahwa pendapat-pendapat Al-Harra yang terdapat dalam kitab AuTashrifAy karangan Al-Mizani sama sekali tidak bernilai dan sangat lemah, beliau menambahkan keilmuan Al-Harra dibidang sharaf seperti keilmuan Ruwasi dibidang nahwu, yang bisa dikatakan masih jauh apabila dibandingkan dengan nahwu yang sudah berkembang Ali Muhammad Fakhir. Tarikh An-Nahw Al-`Arabi. Hal 35-40 Mahdi Al-Makhzumi. Madrasatul Kufah, (Mesir : Mushtafa Al-Baba, 1958 H), cet- 2, hal 1. Yang dimaksud dengan diwan, adalah kumpulan syair-syair yang dikumpulkan menjadi sebuah buku atau kitab. Syauqi Dhaif. Madrasah Nahwiyah, hal 153 Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Akhmad Rusydi: Ilmu Qiraat dan Dampaknya pada Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Nahwu di Bashrah. Adapaun nahwu Kufah bangkit dan mencapai puncak kejayaannya pada masa Al-Kisai dan Al-Farra`. Tokoh-tokoh madzhab Sebagaimana di madrasah Bashrah terdapat banyak tokoh ahli nahwu yang tidak diragukan keilmuannya, begitupula di Kufah, terdapat banyak ulama terkemuka dibidang nahwu, di antaranya adalah sebagai berikut. Al-Kisai Beliau adalah `Ali bin Hamzah, dari keturunan Persia, beliau dilahirkan pada tahun 119 H di kota Kufah. Beliau dijuluki Al-Kisa`I, karena pada suatu hari, beliau sedang berada di dalam masjid As-Sabi` sedang mengenakan Kisa . ama pakaian ara. berwarna hitam, dan kebetulan Hamzah bin Habib sedang mengajarkan Qiraat diHalaqah beliau, kemudian Hamzah pun shalat dan setelah itu bertanya kepada jamaah masjid tersebut. Ausiapa yang membaca Quran pertama?Ay maka ada yang mengusulkan agar laki-laki yang menggunakan Kisa ( yang dimaksud adalah Ali bin Hamza. lah yang membaca pertama, akhirnya beliau membaca surah Yusuf, sampai pada ayat ( A) AEEN EA, tanpa hamzah pada kalimat ( A) EA, lalu berkata lah Hamzah Aukalimat ( A ) EAmenggunakan hamzahAy, dan seterusnya terjadilah diskusi antara Hamzah dan Ali bin Hamzah, sampai akhirnya Hamzah mengakui keluasan ilmu yang dimiliki laki-laki yang menggunakan Kisa tersebut, sejak itulah beliau dikenal dengan nama Al-Kisa`I yang berarti laki-laki yang mengunakan kisa. 32 Selain terkenal sebagai imam dibidang nahwu, beliau juga masuk dalam nominasi Al-Qurra As-Sab`ah33. Cerita yang terkenal tentang beliau adalah ketika beliau sedang berdebat dengan Sibawaihi tentang gigitan tawon dan lebah, yang dikenal dengan Auperistiwa TawonAy( A) IE IOA34. Al-Farra` Beliau adalah Yahya bin Ziyad bin Abdillah, dari keturunan Persia, dilahirkan di Kufah pada tahun 144 H, dan besar di sana, dan beliau adalah salah satu murid Al-Kisa`I yang paling menonjol. Dan salah satu dari tokoh nahwu yang paling disegani dan dihormati di Kufah. Ada begitu banyak pujian ulama terhadapnya, di antaranya adalah perkataan Tsa`lab Auseandainya tidak ada Al-Farra, maka bahasa arab akan kacau, sebab beliau lah yang Syauqi Dhaif. Madrasah Nahwiyah, hal 154 Lihat Muhammad bin Manshur As-Sam`ani. Al-Ansab, juz 5, (Beirut : Darul AeJinan, 1408H), cet pertama, hal 66. Lihat juga Muhammad bin Ahmad bin Utsman Ad-Dzahabi. Siyaru A`lam Nubala, juz 9, hal 133, lihat juga Muhammad bin Abdurrahman Al-Anbari. Nuzhatul Al-baa fi Thabaqatil Udaba, (Urdun : Maktabatul Manar, 1405H), cet-3, hal 66. Muhammad bin Ahmad bin Utsman Ad-Dzahabi. Siyaru A`lam Nubala, juz 9, hal 133 Muhammad bin Ahmad bin Utsman Ad-Dzahabi. Siyaru A`lam Nubala, juz 8, hal 351-352. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Akhmad Rusydi: Ilmu Qiraat dan Dampaknya pada Kemunculan dan Perkembangan Ilmu Nahwu telah menyaring dan menyeleksinyaAy, dan perkataan Hannad Aukami dulu sering bersama Al-Farra ketika menuntut ilmu, namun tidak sekalipun kami melihatnya mencatat perkataan syekh, sehingga kami mengira bahwa beliau telah menghafal semua ituAy35. Ciri khas madzhab Setelah di atas sudah disebutkan ciri-ciri khas madrasah Bashrah, sekarang kita akan menyebutkan ciri-ciri khas madrasah Kufah, yaitu sebagai berikut : Madrasah Kufah cenderung agak longgar dalam menetapkan kaedah-kaedah mereka, mereka menghargai semua yang diriwayatkan dari orang arab. Madrasah Kufah lebih cenderung menggunakan Qiyas dalam bahasa arab, karena mereka jauh dari perkampungan arab Khullash, bahkan Al-Kisai pernah berkata : ( A ON AO EE I OIAA# A) uII EIO CO OA Madrasah Kufah tidak menggunakan Arab khullash dalam pengambilan syawahidsyawahid mereka. Tidak peduli apakah itu orang arab atau non arab. KESIMPULAN Sebagai penutup dari tulisan sederhana ini, bisa dipahami bersama bahwa sejarah munculnya nahwu tidak pernah lepas dari sejarah Al-Quran secara umum, dan sejarah ilmu qiraat secara khusus, sehingga bisa disimpulkan bahwa sejarah panjang kemunculan ilmu nahwu sejatinya dibidani langsung oleh ilmu Qiraat dan Al-Quran itu sendiri. DAFTAR PUSTAKA