Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik. Volume XI Nomor I Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 109-124 DOI: https://doi. org/ 10. 58374/sepakat. Available online at: https://ejurnal. id/index. php/Sepakat PERAYAAN IMAN DI USIA TUA: PENGEMBANGAN MODEL PASTORAL EDUKATIF DI PANTI JOMPO KATOLIK GRAHA WERDHA MARIE JOSEPH PONTIANAK Adi Ria Singir Meliyanto1 Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Indonesia Email: riaa6052@gmail. Abstract. This study aims to design a contextual and educational pastoral model, assess its level of acceptance, and analyze the positive impact it brings both to the elderly as the service recipients and to students as pastoral partners in the life of the Church. The background of this research lies in the need for a more personal, participatory pastoral approach that touches the emotional and spiritual dimensions of elderly individuals living in Catholic nursing homes. Elderly people often experience loneliness, isolation, and a decline in life Meanwhile. Catholic students need tangible opportunities to live out their faith values through real actions. The research method employed is Research and Development (R&D), comprising stages such as preliminary study, model design, expert validation, limited trials, and evaluation. The model developed consists of a contextual Liturgy of the Word involving students as Scripture readers, prayer leaders, musicians, and givers of symbolic gifts of love, such as rosaries, to the elderly. The results of the study show that the model was enthusiastically received by the elderly, who expressed joy, active participation in the service, and showed behavioral changes such as praying independently at night and increased social On the other hand, students experienced growth in faith, empathy, and a deeper awareness of the meaning of service. Therefore, this model is considered appropriate for implementation as part of pastoral care for the elderly and integrated faith formation for the younger generation within the broader context of the Church. Keywords: Celebration of Faith in Old Age. Educational Pastoral Ministry. Graha Werdha Marie Joseph Abstrak. Penelitian ini bertujuan merancang model pastoral yang kontekstual dan edukatif, mengukur tingkat keberterimaan model tersebut, serta menganalisis dampak positif yang muncul baik bagi lansia sebagai subjek pelayanan maupun siswa sebagai mitra pastoral dalam kehidupan Gereja. Latar belakang ini adalah kebutuhan akan pendekatan pastoral yang lebih personal, partisipatif, dan menyentuh sisi emosional serta spiritual lansia di panti jompo Katolik. Lansia kerap mengalami kesepian, keterasingan, dan penurunan semangat hidup. Sementara, siswa Katolik membutuhkan ruang konkret untuk menghayati nilai-nilai iman dalam tindakan nyata. Metode penelitian ini adalah Research and Development (R&D), dengan tahapan studi pendahuluan, perancangan model, validasi oleh pakar, uji coba terbatas, dan evaluasi. Model yang dikembangkan berupa ibadat sabda kontekstual yang melibatkan siswa sebagai pembaca Kitab Suci, pemimpin doa, pemusik, serta penyampai simbol kasih berupa rosario kepada lansia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ini diterima dengan antusias oleh lansia, yang menunjukkan ekspresi sukacita, keterlibatan aktif dalam ibadat, serta munculnya perubahan perilaku seperti doa malam mandiri dan peningkatan interaksi sosial. Di sisi lain, siswa mengalami pertumbuhan iman, empati, dan kesadaran akan makna pelayanan. Dengan demikian, model ini dinilai tepat untuk diterapkan sebagai bagian dari pelayanan pastoral lansia dan pembinaan iman generasi muda secara terpadu dalam konteks Gereja yang lebih luas. Kata kunci: Perayaan Iman di Usia Tua. Pastoral Edukatif. Graha Werdha Marie Joseph AKamus Besar Bahasa Indonesia Received: April 16, 2025. Revised: 28 April, 2025. Accepted: 30 April, 2025. Published: Mei 2025 PERAYAAN IMAN DI USIA TUA: PENGEMBANGAN MODEL PASTORAL EDUKATIF DI PANTI JOMPO KATOLIK GRAHA WERDHA MARIE JOSEPH PONTIANAK LATAR BELAKANG Usia lanjut bukan sekadar perjalanan menuju kelemahan, tetapi masa berharga untuk memaknai kehidupan secara lebih mendalam, khususnya dalam dimensi iman. Namun, kenyataannya banyak lansia yang tinggal di panti jompo mengalami kesepian, komunitas(Praptomo et al. , 2. Di tengah kondisi tersebut. Panti Jompo Katolik Graha Werdha Marie Joseph Pontianak hadir bukan hanya sebagai tempat perawatan jasmani, tetapi juga sebagai ladang pastoral yang menantikan sentuhan kasih dan perhatian rohani. Sayangnya, pelayanan pastoral yang ada masih bersifat rutin dan belum terstruktur dalam suatu model edukatif yang mampu menjawab kebutuhan spiritual para lansia secara utuh dan membangkitkan kembali semangat hidup mereka (Anggal et al. , 2017. Dalam konteks ini, keterlibatan siswa Katolik menjadi sangat relevan dan strategis, bukan hanya untuk memberikan semangat baru kepada para lansia melalui kunjungan, doa, ibadat sabda, dan simbol-simbol kasih seperti pemberian rosario, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter dan pertumbuhan iman bagi para siswa itu sendiri(Sandur et al. , n. Interaksi lintas generasi ini diyakini mampu membangun jembatan kasih yang memperkaya kedua belah pihak: lansia memperoleh dukungan rohani dan perasaan dihargai, sementara siswa belajar tentang makna hidup, nilai pelayanan, dan spiritualitas Kristiani (Ajai Rino et al. , n. Berdasarkan kenyataan tersebut, penelitian hendak menjawab pertanyaan: model pastoral edukatif seperti apa yang dapat dikembangkan dengan melibatkan siswa?, sejauh mana model ini tepat dan berdampak terhadap semangat hidup lansia?, dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan iman dan kepedulian siswa?. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model pastoral yang kontekstual dan edukatif, mengukur keberterimaan model tersebut, dan menganalisis dampak positif yang muncul baik pada lansia maupun siswa sebagai subjek dan mitra pastoral dalam kehidupan Gereja. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 109-124 KAJIAN TEORITIS Perayaan Iman di Usia Tua dalam Perspektif Katolik Perayaan iman di usia tua dalam perspektif Katolik merupakan wujud kedewasaan rohani yang telah dibentuk oleh perjalanan panjang hidup dalam terang kasih Allah(Arianto Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang Jl Terusan Rajabasa No et al. , 2. Gereja Katolik memandang usia lanjut bukan sebagai masa pasif, melainkan sebagai waktu yang kaya akan hikmat dan penuh rahmat. Para lansia adalah "penjaga akar dan penyampai nilai" yang memiliki peran sentral dalam mewariskan iman dan nilai-nilai Kristiani kepada generasi muda(Seuk & Hatmoko, 2. Dalam konteks ini, perayaan iman bukan hanya sebatas ritual, tetapi menjadi bentuk kesaksian hidup akan kesetiaan Allah sepanjang usia(Agustina Hutagalung & Rencan Carisma Marbun, 2. Hendaknya dibangun jembatan atau relasi antar generasi sehingga para lansia memiliki tempat yang wajar dalam hidup bermasyarakat(Sitepanus Zebua et al. , 2. Secara psikologis, tahap akhir kehidupan ditandai dengan konflik antara integritas versus despair . ntegritas versus keputusasaa. Seseorang yang mencapai tahap integritas akan menerima hidupnya secara utuh, dengan rasa syukur dan penerimaan terhadap realitas, termasuk kematian(Praptomo et , 2. Dalam terang iman Katolik, tahap integritas ini ditopang oleh kepercayaan akan penyelenggaraan ilahi (Ria & Meliyanto, 2. Penderitaan dan kelemahan pada usia lanjut dapat dipersatukan dengan penderitaan Kristus sebagai partisipasi dalam misteri penebusan. Maka, lansia yang hidup dalam iman dipanggil untuk merayakan kasih Allah melalui Ekaristi, doa harian, devosi, dan Sakramen Tobat serta Pengurapan Orang Sakit, sebagai bentuk kesatuan mereka dengan Kristus(Penelitian et al. , 2. Kitab Suci pun memberikan teladan akan pentingnya iman di usia tua yang menunjukkan ketekunan, harapan, dan kesetiaan menantikan Mesias. Paus Fransiskus menegaskan pentingnya mewartakan Injil dalam semua tahap kehidupan, termasuk pada masa tua, karena setiap tahap memiliki martabat dan perutusannya sendiri(Agustina Hutagalung & Rencan Carisma Marbun, 2. Oleh karena itu. Gereja dipanggil untuk memberikan perhatian pastoral bagi PERAYAAN IMAN DI USIA TUA: PENGEMBANGAN MODEL PASTORAL EDUKATIF DI PANTI JOMPO KATOLIK GRAHA WERDHA MARIE JOSEPH PONTIANAK para lansia, memberdayakan mereka dalam komunitas, serta mendukung mereka agar tetap aktif secara rohani dan sosial. Perayaan iman di usia tua, dalam kerangka ini, bukanlah penutupan, melainkan puncak dari kedewasaan spiritual dan persiapan penuh harapan akan hidup kekal(Ara, 2. Pastoral Edukatif Pastoral edukatif merupakan pendekatan dalam pelayanan pastoral yang mengintegrasikan fungsi pendidikan sebagai sarana pembinaan iman dan menyeluruh(Howard Clinebell. Pendekatan ini tidak hanya menekankan aspek spiritual, tetapi juga membentuk kesadaran kritis, etis, dan sosial melalui proses edukatif yang berkelanjutan(Chandra & Saputra, 2. Akar teologis pendekatan ini dapat ditemukan dalam misi Yesus sebagai Gembala yang mengajar dan membimbing umat-Nya(Dewan Editor JPPAK (Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Katoli. , n. Gereja, dalam mengikuti teladan Kristus, menjadikan pendidikan sebagai bagian integral dari misi evangelisasi(Raioan, 2. Pendidikan Kristen adalah bagian dari misi gereja untuk membina iman Prinsip-prinsip utama pastoral edukatif mencakup pendekatan yang humanis dan personal, bersifat dialogis dan partisipatif, serta kontekstual dalam menjawab kebutuhan nyata umat. Pendidikan yang membebaskan harus bersifat dialogis dan menempatkan peserta sebagai subjek aktif dalam proses belajar(Kwirinus, 2. Dalam konteks pastoral, hal ini berarti umat dilibatkan secara aktif dalam proses pertumbuhan iman. Peran pelayan pastoral dalam pendekatan edukatif ini tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping dan teladan hidup Kristiani(Anggal et al. , 2017. Pendekatan pastoral yang efektif harus melibatkan refleksi teologis, analisis konteks, dan tindakan nyata sebagai wujud pelayanan iman(Chandra Kurnia Saputra & Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak, 2. Tujuan utama pastoral edukatif adalah membentuk pribadi beriman yang matang, kritis, dan mampu menghadapi tantangan zaman. Implikasinya terlihat dalam peningkatan mutu katekese, penguatan komunitas basis, dan pemberdayaan umat melalui pendidikan iman yang kontekstual dan membumi. Dengan demikian, pastoral edukatif menjadi sarana transformatif dalam Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 109-124 pembinaan umat, yang menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilainilai iman yang mendasar(Natalia Sabu Kopong Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa & Flores, 2. Panti Jompo Katolik Graha Werdha Marie Joseph Pontianak Panti Jompo Katolik Graha Werdha Marie Joseph Pontianak merupakan representasi konkret dari wajah Gereja yang merawat, melayani, dan menghadirkan kasih Allah secara nyata bagi kaum lansia(Sumual et al. , 2. Didirikan dan dikelola oleh Kongregasi Suster-suster Fransiskan Sambas (KFS), panti ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar jasmani para penghuninya, tetapi lebih jauh, menjadi rumah spiritual di mana iman, harapan, dan cinta kasih terus dihidupi meskipun dalam keterbatasan fisik, usia lanjut, dan perasaan ditinggalkan(Eliman & Aris Elisa, 2. Di tengah realitas sosial di mana lansia sering kali dipandang sebagai beban atau menjadi korban pengabaian keluarga, panti ini menjadi oase pengharapan yang menjunjung tinggi martabat manusia lanjut usia, sebagaimana diajarkan bahwa manusia termasuk mereka yang telah lanjut usia tetap merupakan citra Allah dan pantas dihormati(Yentika, 2. Dalam terang teologi pastoral, pelayanan di Graha Werdha ini menghidupi kelima fungsi pastoral, yakni menyembuhkan . , mendukung . , membimbing . , memulihkan . , dan memelihara . (Howard Clinebell, 2. Para suster, awam pendamping, dan bahkan siswasiswi yang dilibatkan dalam kegiatan liturgi seperti ibadat sabda bersama, menjadi pelaku nyata pastoral yang memberdayakan dan membangkitkan semangat hidup Dalam konteks ini, pendekatan pastoral tidak semata-mata dilaksanakan dari atas ke bawah, tetapi bersifat relasional dan dialogis, sesuai dengan prinsip komunikasi dua arah dalam pendampingan lansia(Dokumen et al. , 2. Panti ini juga menjadi contoh dari teologi kontekstual yang menekankan bahwa pelayanan iman tidak boleh dipisahkan dari konteks sosial, budaya, dan psikologis umat. Di Pontianak sebuah kota dengan keberagaman etnis dan agama Graha Werdha Marie Joseph hadir sebagai ruang inkulturasi iman Katolik yang terbuka namun berakar kuat pada spiritualitas Injili (Minaratih et al. , 2. Pendekatan inklusif juga tercermin dari bagaimana para lansia non-Katolik tetap PERAYAAN IMAN DI USIA TUA: PENGEMBANGAN MODEL PASTORAL EDUKATIF DI PANTI JOMPO KATOLIK GRAHA WERDHA MARIE JOSEPH PONTIANAK disambut dan dilibatkan dalam suasana komunitas yang penuh kasih, tanpa tekanan religius, namun dengan semangat universal kemanusiaan. Dari sisi liturgis dan edukatif, panti ini mengembangkan sebuah model inovatif yaitu ibadat sabda kontekstual yang melibatkan siswa-siswi Katolik sebagai partisipan aktif(Chandra et al. , 2. Pendekatan ini tidak hanya menjadi sarana penghiburan rohani bagi lansia, tetapi juga menjadi ruang belajar lintas generasi bagi kaum muda tentang kepedulian, penghormatan terhadap lansia, dan kesadaran akan keterbatasan manusia. Dalam suasana doa, nyanyian, dan perayaan sabda, terjadi perjumpaan antar generasi yang memanusiakan dan memanaskan kembali semangat hidup para penghuni panti. Ini mengingatkan kita akan semangat yang menegaskan bahwa pewartaan iman sejati adalah perjumpaan yang mengubah dan menyembuhkan(Reba, 2. Maka. Graha Werdha Marie Joseph bukanlah sekadar Autempat tinggal sementaraAy bagi orang tua, melainkan sebuah komunitas persekutuan . yang menghadirkan Gereja sebagai ibu dan sahabat bagi mereka yang rentan. tempat ini, iman tidak dipadamkan oleh usia, melainkan terus dirayakan dan diwariskan menjadikan masa senja bukan sebagai akhir dari segalanya, tetapi sebagai puncak dari perjalanan batin menuju pertemuan penuh dengan Allah dalam kekekalan(Ara, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dalam upaya merancang dan mengembangkan model pastoral edukatif yang sesuai bagi lansia Katolik di Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph(Waruwu, 2. Pendekatan ini tidak hanya fokus pada penciptaan model pendampingan rohani yang kontekstual, tetapi juga melibatkan siswa sebagai agen pembaruan iman dan kasih Pelibatan siswa dalam ibadat sabda serta aktivitas spiritual lainnya memberikan dimensi edukatif yang kuat, membangun jembatan emosional antara generasi muda dan lansia. Kelebihan metode R&D terletak pada sistematika pengembangannya yang mencakup tahap perencanaan, uji coba, hingga evaluasi efektivitas model yang dikembangkan (Waruwu, 2. Hal ini memungkinkan peneliti mengevaluasi dampak langsung dari kegiatan pastoral terhadap peningkatan Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 109-124 semangat hidup lansia, sekaligus memberikan ruang partisipasi aktif bagi siswa dalam praktik pelayanan kasih. Penelitian ini berlangsung di Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph Pontianak. HASIL DAN PEMBAHASAN Model pastoral edukatif yang dikembangkan dengan melibatkan siswa. Model pastoral edukatif yang dikembangkan dalam penelitian ini dirancang sebagai sebuah pendekatan pelayanan rohani yang tidak hanya memenuhi kebutuhan spiritual lansia secara ritual, tetapi juga menjawab kebutuhan emosional dan relasional mereka melalui keterlibatan generasi muda (Agustina Hutagalung & Rencan Carisma Marbun, 2. Ibadat Sabda Intergenerasional hadir sebagai bentuk nyata dari pelayanan pastoral yang mengintegrasikan dimensi pendidikan, liturgi, dan relasi antargenerasi. Model ini mengajak siswa SMA Katolik untuk tidak hanya belajar tentang kasih dan pelayanan secara teoritis, tetapi langsung mempraktikkannya melalui pengalaman konkret berinteraksi dan melayani lansia dalam suasana ibadat yang sakral dan hangat. Dalam pelaksanaannya, siswa mengambil peran aktif sebagai pelayan Mereka membacakan Kitab Suci, memimpin doa-doa, mengiringi lagulagu rohani, serta menyampaikan simbol kasih berupa rosario kepada setiap lansia secara personal. Interaksi ini bukan sekadar bagian dari tata ibadat, tetapi menjadi momen spiritual yang dalam. Lansia tidak hanya menerima pelayanan rohani, tetapi juga menerima sapaan, senyuman, pelukan, dan tatapan penuh kasih dari anak-anak muda yang hadir bukan sebagai petugas, melainkan sebagai sahabat. Kehadiran siswa memberikan nuansa berbeda dari kegiatan ibadat rutin yang biasanya hanya dihadiri oleh petugas panti atau rohaniwan. Lansia merasa lebih dihargai, diperhatikan, dan kembali dipandang sebagai pribadi yang memiliki nilai, bukan sekadar objek pelayanan. Pembentukan model ini melalui proses yang sistematis: diawali dengan pengamatan terhadap kondisi spiritual dan psikososial lansia di panti jompo, disusul dengan perancangan naskah ibadat sabda yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan lansia, pelatihan siswa sebagai pelayan pastoral, hingga pelaksanaan PERAYAAN IMAN DI USIA TUA: PENGEMBANGAN MODEL PASTORAL EDUKATIF DI PANTI JOMPO KATOLIK GRAHA WERDHA MARIE JOSEPH PONTIANAK uji coba dan evaluasi berdasarkan hasil observasi dan wawancara. Selama proses uji coba, ditemukan bahwa pendekatan ini tidak hanya menyentuh batin lansia, tetapi juga menjadi ruang edukatif yang sangat efektif bagi siswa. Siswa tidak hanya dilibatkan dalam hal teknis ibadat, tetapi dibimbing untuk menyadari bahwa kehadiran mereka adalah bentuk konkret dari iman yang dihidupi mengasihi, melayani, dan mendengarkan dengan penuh hormat. Model ini bersifat kontekstual karena dibangun berdasarkan realitas kebutuhan yang nyata: para lansia membutuhkan ruang ibadat yang bersifat personal, emosional, dan membangun relasi. sementara generasi muda membutuhkan ruang aktualisasi iman yang hidup dan menyentuh. Kehadiran siswa dalam ibadat sabda membentuk jembatan di antara dua generasi yang berbeda: satu generasi yang sedang menapaki akhir hidup dengan berbagai kerentanan, dan satu generasi yang sedang bertumbuh dengan semangat dan Dalam perjumpaan itu, tumbuh saling pengertian, kasih, dan kekuatan spiritual yang memperkaya kedua belah pihak. Secara kontekstual, model ini juga menyesuaikan dengan situasi khas panti jompo Katolik, di mana pelayanan rohani menjadi bagian integral dari kehidupan harian penghuni. Kehadiran ibadat sabda yang sederhana, namun menyentuh secara personal, mampu menjangkau lansia yang mungkin sudah kesulitan mengikuti misa secara penuh, tetapi masih sangat terbuka terhadap pengalaman rohani yang akrab dan penuh makna. Lagu-lagu yang dipilih adalah lagu rohani yang familiar bagi mereka, bahasa yang digunakan dalam renungan disederhanakan, dan alur ibadat dipersingkat namun tetap sakral. Model pastoral edukatif ini tidak hanya menjadi metode pelayanan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter bagi siswa dan ruang perjumpaan spiritual yang menguatkan bagi lansia. Perpaduan antara tindakan kasih nyata dan spiritualitas yang hidup menjadikan ibadat sabda intergenerasional sebagai bentuk pelayanan pastoral yang menyentuh, mendalam, dan relevan dengan tantangan zaman(Studi et al. , 2. Ketepatan dan dampak model terhadap semangat hidup lansia Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 109-124 Model pastoral edukatif yang dikembangkan dalam bentuk Ibadat Sabda Intergenerasional terbukti tepat sasaran dalam menjawab kebutuhan batin dan spiritual lansia di Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph. Kegiatan ini tidak hanya menyentuh aspek liturgis, tetapi juga menyasar dimensi emosional, psikologis, dan relasional yang selama ini kurang tersentuh dalam praktik pastoral harian di panti jompo. Kehadiran siswa sebagai mitra pelayananAiyang membaca sabda, memimpin doa, menyanyikan lagu rohani, dan menyematkan rosario secara personal kepada tiap lansia membangkitkan suasana yang hangat dan penuh perhatian. Lansia tidak hanya menjadi peserta dalam sebuah ibadat, tetapi merasa benar-benar diperhatikan, dihargai, dan disayangi. Pelaksanaan ibadat sabda ini membuka ruang keterlibatan aktif bagi lansia(Batmyanik, n. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi ikut menyanyi, merespon doa, bahkan berbagi cerita setelah ibadat. Hal ini memberikan efek yang sangat kuat terhadap semangat hidup mereka. Salah satu lansia, yang sebelumnya jarang tersenyum, terlihat menangis haru ketika dipeluk oleh siswa sambil menerima rosario. Ia berkata, "Hari ini saya merasa seperti punya cucu yang mengasihi saya. " Ungkapan semacam ini menunjukkan bahwa pendekatan ibadat yang dikombinasikan dengan kehadiran generasi muda mampu menjembatani kesenjangan emosional yang kerap dirasakan para lansia. Dampaknya bukan hanya sesaat. Setelah kegiatan ibadat, para lansia menunjukkan perubahan perilaku: mereka tampak lebih ceria, lebih suka berkumpul, dan mulai memprakarsai doa malam secara mandiri di kamar atau ruang bersama. Lansia yang sebelumnya cenderung pasif dan menarik diri, mulai terlihat aktif mengajak teman lain berbicara, menyanyi, bahkan saling Ini menunjukkan bahwa model ini memberikan efek psikologis yang menyentuh secara mendalamAimemulihkan harga diri mereka sebagai pribadi yang masih memiliki nilai dan arti dalam kehidupan bersama. Kehidupan di panti jompo yang sering kali diliputi oleh perasaan ditinggalkan, kesepian, dan kerinduan akan perhatian dari keluarga, secara perlahan diisi oleh kehadiran siswa yang membawa semangat baru(Yentika. Para lansia merasakan bahwa mereka tidak dilupakan, bahwa generasi PERAYAAN IMAN DI USIA TUA: PENGEMBANGAN MODEL PASTORAL EDUKATIF DI PANTI JOMPO KATOLIK GRAHA WERDHA MARIE JOSEPH PONTIANAK muda masih peduli, dan bahwa iman yang mereka pegang selama ini tetap berarti hingga akhir hayat. Pelukan, sapaan lembut, dan tatapan penuh kasih dari siswa menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu mereka yang penuh cerita dengan masa kini yang masih layak dijalani dengan sukacita. Model ini sangat tepat diterapkan dalam pelayanan pastoral lansia, karena menyentuh dimensi terdalam dari kehidupan merekaAiyakni kerinduan akan kehadiran, pengakuan, dan cinta. Ibadat sabda yang dikembangkan bukan hanya menjadi kegiatan rohani, tetapi juga menjadi ruang pemulihan batin, peneguhan martabat diri, dan penyala semangat hidup yang sempat meredup. Kehadiran siswa dalam pelayanan ini menjadi kekuatan baru yang menjadikan panti jompo bukan sekadar tempat tinggal bagi usia lanjut, tetapi rumah iman yang hidup dan saling menghidupkan. Pengaruh terhadap pertumbuhan iman dan kepedulian siswa Keterlibatan siswa dalam model pastoral edukatif berbasis Ibadat Sabda Intergenerasional memberikan pengaruh yang mendalam terhadap pertumbuhan iman dan kepedulian sosial mereka. Sebelum terlibat dalam kegiatan ini, sebagian besar siswa mengaku belum pernah berinteraksi langsung dengan lansia, apalagi dalam suasana pelayanan rohani. Bahkan beberapa menyampaikan rasa canggung dan takut memasuki lingkungan panti jompo karena mengidentikannya dengan suasana sunyi, kesedihan, dan ketuaan yang menakutkan. Namun setelah mereka secara aktif memimpin ibadat, menyapa lansia satu per satu, membacakan sabda Tuhan, menyanyikan lagu rohani, dan menyerahkan rosario dengan penuh hormat, terjadi perubahan persepsi dan pengalaman yang signifikan. Pengalaman ini memberi siswa ruang nyata untuk memahami makna iman sebagai sesuatu yang tidak hanya dipelajari di kelas, tetapi yang dihidupi dan diwujudkan secara konkret dalam tindakan kasih. Mereka tidak hanya belajar tentang sabar dan peduli melalui teori, melainkan langsung merasakan kehadiran kasih Tuhan melalui senyum, pelukan, dan air mata haru para lansia yang mereka layani(Chandra et al. , 2. Beberapa siswa menyampaikan bahwa setelah kegiatan ini, mereka menjadi lebih menghargai orang tua di rumah, lebih sabar Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 109-124 dalam menghadapi perbedaan, dan lebih rajin berdoa karena merasa mengalami Tuhan dalam interaksi tersebut. Lebih dari itu, kegiatan ini menumbuhkan kesadaran sosial dalam diri siswa. Mereka mulai menyadari bahwa pelayanan tidak harus dilakukan dalam skala besar, melainkan bisa dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan hati Ada siswa yang menyampaikan keinginan untuk membuat kelompok doa lintas usia, ada pula yang berinisiatif mengadakan program kunjungan rutin ke panti jompo, bahkan di luar kegiatan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan ibadat sabda ini bukan hanya memberi pengalaman sesaat, melainkan telah menanamkan nilai dan komitmen jangka panjang dalam diri siswa. Dari sisi spiritual, keterlibatan ini memperdalam penghayatan iman mereka. Siswa menyadari bahwa dalam setiap pelayanan, mereka tidak hanya memberi tetapi juga menerima: menerima pelajaran hidup dari para lansia, menerima teladan ketekunan dalam doa, dan menerima pengalaman iman yang membentuk hati mereka menjadi lebih peka dan rendah hati. Mereka belajar bahwa melayani bukan soal mampu, tetapi soal mau hadir dan peduli. Bahwa memeluk oma atau opa, mendengarkan kisah masa muda mereka, dan mendoakan mereka adalah bentuk nyata dari iman yang hidup dan berbuah. Dengan demikian, kegiatan pastoral ini menjadi ruang perjumpaan lintas generasi yang bukan hanya menyentuh hati para lansia, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter dan iman yang sangat bermakna bagi para siswa(Ajai Rino et al. , n. Dalam konteks pendidikan Katolik, kegiatan ini sangat relevan untuk terus dikembangkan karena mampu menjembatani nilai-nilai injili dengan kehidupan konkret para remaja. Pengalaman ini membentuk mereka menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Pendekatan semacam ini membuktikan bahwa pelayanan pastoral dapat menjadi media pendidikan karakter yang hidup, dinamis, dan menyentuh kehidupan secara menyeluruh. PERAYAAN IMAN DI USIA TUA: PENGEMBANGAN MODEL PASTORAL EDUKATIF DI PANTI JOMPO KATOLIK GRAHA WERDHA MARIE JOSEPH PONTIANAK KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Ibadat Sabda Intergenerasional terbukti memberikan dampak positif yang nyata, baik bagi lansia maupun bagi siswa yang terlibat. Model ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk menghadirkan pelayanan pastoral yang tidak hanya bersifat rutinitas liturgis, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan relasional para lansia yang cenderung mengalami keterasingan di usia senja. Kehadiran siswa sebagai mitra pelayanan dalam ibadat sabda memberikan dimensi baru dalam pendekatan pastoral, karena membawa serta semangat muda, perhatian tulus, dan kehangatan yang selama ini dirindukan para penghuni panti jompo. Dari pelaksanaan kegiatan, terlihat bahwa para lansia merespons dengan sangat positif. Mereka tidak hanya mengikuti ibadat secara fisik, tetapi juga secara batin melalui ekspresi wajah, senyuman, tangisan haru, dan pelukan spontan yang muncul selama ibadat berlangsung. Setelah kegiatan selesai, terjadi perubahan perilaku yang cukup signifikan: lansia mulai menunjukkan semangat hidup yang baru, terlihat lebih aktif berinteraksi, saling menyapa, serta memulai rutinitas baru seperti doa malam secara mandiri dan bernyanyi pujian bersama teman-temannya di ruang kegiatan. Perubahan ini menunjukkan bahwa kehadiran siswa sebagai sahabat rohani mampu memulihkan perasaan dihargai, yang sebelumnya hilang karena usia, sakit, atau keterbatasan fisik. Dari sisi siswa, keterlibatan dalam ibadat sabda memberikan pengalaman yang tidak kalah dalamnya. Mereka mengalami langsung suasana pelayanan kasih yang nyata bukan dalam bentuk ceramah atau pembelajaran teori di kelas, tetapi melalui tindakan sederhana yang membawa dampak besar: menyebut nama lansia dengan lembut, menyerahkan rosario dengan penuh hormat, dan menyimak cerita hidup oma-opa dengan kesungguhan. Banyak siswa mengaku bahwa pengalaman ini mengubah pandangan mereka tentang lansia, yang sebelumnya dipandang sebagai sosok lemah, kini menjadi pribadi yang layak dihormati, dikasihi, dan dijadikan teladan dalam ketekunan iman. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 109-124 Diskusi antara peneliti dan siswa setelah kegiatan berlangsung menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan hanya efektif secara spiritual, tetapi juga membangun nilai-nilai kepedulian, kesabaran, dan empati dalam diri generasi muda. Beberapa siswa bahkan menyampaikan keinginan untuk melanjutkan kegiatan serupa di waktu mendatang secara sukarela, tanpa harus menunggu program resmi dari Mereka merasa bahwa kegiatan ini memberikan rasa damai dan kebahagiaan tersendiri, sekaligus menjadi sarana konkret untuk menghayati iman dalam tindakan nyata. Selain itu, dari pihak pendamping panti dan suster pengelola, kegiatan ini dipandang sebagai angin segar dalam pelayanan pastoral lansia. Mereka mengakui bahwa pendekatan ini berbeda dari kegiatan rutin sebelumnya yang cenderung monoton dan kurang melibatkan sisi emosional lansia. Dengan hadirnya siswa, kegiatan menjadi lebih hidup, penuh dinamika, dan membawa suasana yang lebih hangat dan inklusif. Lansia merasa diperhatikan bukan karena kewajiban lembaga, tetapi karena kasih tulus dari generasi muda yang datang dengan sukacita dan tanpa Oleh karena itu, dari hasil penelitian ini dapat ditegaskan bahwa model pastoral edukatif berbasis ibadat sabda intergenerasional memiliki relevansi tinggi dalam konteks pelayanan pastoral masa kini. Model ini tidak hanya menyegarkan kehidupan rohani lansia, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Kristiani yang kuat dalam diri siswa. Hubungan yang tercipta bukan sekadar relasi antara pembimbing dan yang dibimbing, tetapi sebuah perjumpaan iman yang saling menguatkan, saling menghidupkan, dan saling memperkaya. Maka, model ini sangat layak untuk direplikasi di panti-panti jompo Katolik lainnya dengan penyesuaian sesuai konteks lokal, serta dapat dijadikan referensi bagi pengembangan program pelayanan pastoral berbasis komunitas dan nilai intergenerasional. UCAPAN TERIMA KASIH