STRATEGI GURU MENGATASI PERILAKU DISRUPTIF SISWA DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR TEACHER STRATEGIESFOR OVERCOMING STUDENTSAo DISRUPTIVE BEHAVIOUR IN ELEMENTARY SCHOOL LEARNING Nur Khotimah SD Negeri 3 Widoro. Sidoharjo. Wonogiri Email : imachkenzie@gmail. Diterima: 1 Februari 2024 Direvisi: 24 Mei 2024 Disetujui: 31 Mei 2024 ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya siswa yang melakukan kegiatan mengganggu di dalam kelas. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan secara rinci strategi guru terkait perilaku disruptifpada siswa sekolah dasar. Metode dalam penelitian ini ialah fenomenologi yang bersifat tunggal atau studi kasus. Tempat penelitian dilakukan di SD Negeri Widoro Kabupaten Wonogiri dengan partisipan sebanyak 36 siswa dan 1 guru kelas. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yaitu observasi dan wawancara. Instrumendalam pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan wawancara yang telah dilakukan validasi oleh ahli. Teknik analisis data yang dilakukan meliputi reduksi data, data display, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebabnya yaitu kurangnya motivasi dari guru, guru bersikap negative terhadap peserta didik, pola asuh orangtua yang tidak konsisten, kurangnyakepedulian orangtua terhadap anak, orangtua yang terlalu protective, dan kualitaspengajaran yang buruk. Strategi guru dalam mengatasi perilaku disruptifmenggunakan tiga pendekatan yaitu behavioristik, kognitif, dan humanistik. Preferensi siswa dalam menghadapi perilaku disruptifialah terletak pada masalah gaya belajar yang harus disesuaikan dengan cara guru mengajar kepada siswanya. Kata kunci: Perilaku Disruptif. Preferensi Siswa. Strategi Guru ABSTRACT This research is motivated by the number of students who do disruptive activities duringin the The purpose of this study is to describe in detaildetail teachers' strategies regarding disruptive behavior in elementary school students. The method in this research is a single phenomenology or case study. The place of research was conducted at SD NegeriWidoro. Wonogiri Regency with 36 students as participant. The data collection techniques used in the research were observation and interviews. Instruments for data collection use observation and interview sheets which have been validated by experts. The data analysis techniques used include data reduction, data display, and data verification. The results showed that the contributing factors were the lack of motivation from the teacher, the teacher being negative towards students, inconsistent parenting patterns, lack of parental care for children, overprotective parents, and poor teaching quality. The teacher's strategy in overcoming disruptive behavior uses three approaches, namely behavioristic, cognitive, and humanistic. Students' preferences in dealing with disruptive behavior lie in the problem of learning styles that must be adapted to the way teachers teach their students. Keywords: Disruptive Behavior. Students' Preferences. Teacher Strategy PENDAHULUAN Sebagai individu yang terus berkembang, pembelajaran merupakan aspek penting yang tercapainya sebuah keberlangsungan dalam Perubahan ini mencakup berbagai aspek kehidupan baik tingkah laku, pola pikir, hingga teknologi untuk memudahkan individu dalam proses kehidupannya. Pembelajaran merupakan aktivitas yang dilakukan oleh seorang individu dalam mendapatkan intelektual, menambah keterampilan serta bisa merubah prilaku seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu (Jannah & Atmojo, 2. Strategi Guru Mengatasi Perilaku Disruptif Siswa. Nur Khotimah Proses pembelajaran harus dapat menciptakan suasana atau iklim kelas yang kondusif untuk mendukung terciptanya proses pembelajaran yang berkualitas (Santika et al. , 2. Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di kelas, baik guru maupun siswa menemui beberapa kendala yang membuat proses pembelajaran menjadi tidak efisien. Siswa yang tidak mempunyai sikap belajar efektif ini biasanya cenderung malas dalam belajar, tidak menyelesaikan tugas yang diberikan guru, dan selalu menunda-nunda dalam mengerjakan tugas (Achmad et al. Sikap ini merupakan perilaku disruptif Perilaku siswa yang mengganggu atau perilaku disruptif diartikan sebagai perilaku yang tidak mendukung proses pembelajaran yang dilakukan secara berulang-ulang oleh siswa selama di kelas (Wardhani et al. , 2. Di sisi lain. Susanti & Wicaksono . mengatakan bahwa perilaku disruptif di kelas merupakan suatu perilaku yang mengganggu dalam proses pembelajaran dan mengganggu siswa lain secara psikologis dan fisiologis dalam proses belajar mengajar yang mana perilaku seorang siswa didorong oleh banyak faktor tentunya tidak hanya oleh siswa itu sendiri tetapi juga oleh orang lain, keadaan atau waktu. Hasil diskusi dengan guru kelas di SD NegeriWidoro Kabupaten Wonogiri, mengungkapkan bahwa banyak perilaku siswa yang mengganggu selama di kelas, seperti siswa tidak mengikuti instruksi dari gurunya, lalu meniru apa yang guru katakana misalnya, guru memberi perintah untuk membaca kemudian siswa meniru dan kemudian mengulangi perintah guru tersebut. Selain itu, terdapat siswa yang mengabaikan perintah guru, diminta menjawab pertanyaan yang tidak diinginkan, membuat alasan, dan menugaskan orang lain. Adapula siswa yang bermain bola di kelas, padahal sudah LKS, mengganggu teman yang sedang mengerjakan tugas, menyuruh teman menyelesaikan menghancurkan meja, lari dari bangku dan saling kejar sampai keluar kelas dan merusak kelas lainnya. Bahkan perilaku mengganggu dari salah satu siswa ini membuat siswa yang lain ketakutan, sehingga mereka harus membawa tas mereka ke ruang guru setiap Menurutnya, jika tas itu ada di dalam kelas, pasti ada barang yang diambil atau Perilaku disruptif tersebut, kini telah menjadi perhatian penting tidak hanya dari orang tua tetapi juga dari kalangan akademisi yaitu guru. Jika perilaku disruptif ini dibiarkan, akan memiliki dampak yang membahayakan dan akan menimbulkan dampak yang signifikan kerusakan fungsi sosial, akademisi, dan juga masa depan anak (Rais & Aryani, 2. Selain itu, jika perilaku itu terus berlanjut dan menjadi parah pada usia anak sekolah dasar, maka itu menjadi masalah dan harus mendapatkan perlakuan (Andina, 2. Oleh karena itu, diperlukan sebuah analisis mengenai faktorfaktor apa saja yang menyebabkan seorang anak di sekolah dasar melakukan perilaku disruptif dengan tujuan untuk menemukan solusi dalam mengurangi gangguan perilaku perilaku disruptif, sehingga penyesuaian yang baik dapat direalisasikan untuk siswa sekolah Berdasarkan serangkaian permasalahan dan urgensi yang diuraikan di atas, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk untuk mendapatkan deskripsi secara terperinci terhadap suatu fenomena yakni faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku perilaku disruptif dari anak di sekolah dasar. LANDASAN TEORI Perilaku disruptifmerupakan tindakan merusak(Asizah. Kejadianperilaku disruptif sering kali terjadi pada anak- anak. Setiap perilaku yang ditampilkan dari anak, tidak terlepas dari peran orang tuadan guru sebagai pendidik dan Perilaku terjadi di lingkungan sekolah seperti datang terlambat, serta mengganggu di dalam Perilaku disruptif di dalam kelas dapat berdampak buruk pada proses pembelajaran dan mempengaruhi kinerja siswa, guru, dan kelas secara keseluruhan. Masalah perilaku di kelas biasanya menyebabkan guru memiliki waktu kelas yang lebih sedikit (Fitria, 2. Guru perlu memperhatikan isu-isu ini untuk memiliki peluang keberhasilan akademik di kelas. Perilaku siswa yang mengganggu di kelas Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomor 1 Ae Juni 2024 dapat mempengaruhi perkembangan dan keseluruhan (Hardi et al. , 2. Perilaku disruptif ini bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk oleh siswa mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai perguruan tinggi. Apabilah permasalahan tersebut tidak dapat dikelola dengan baik, maka itu akan menjadi hambatan dan kesulitan tersendiri pada individu yang bersangkutan untuk mencapai penyesuaian yang memadai (Nilasari & Setiawati, 2. Perilaku disruptif ini tidak hanya dialami di jenjang pendidikan menengah ataupun perguruan tinggi saja tetapi juga di jenjang pendidikan dasar. Justru kita harus melihat pada jenjang pendidikan dasar inilah yang membutuhkan perlakuan lebih lanjut terhadap siswa yang menunjukkan perilaku perilaku disruptif(Sukanta. Perilaku disruptifadalah perilaku menganggu yang berfokus kepada karakteristik perilaku yang menyimpang dengan perkembangan normal tetapi mengganggu. Namun, belum masuk kepada suatu gangguan. Schroeder & Gordon . mengatakan perilaku mengganggu bisa dikatakan gangguan jika intensitas atau frekuensinya lebih besar daripada biasanya. Selain itu, perilaku menganggu dikatakan gangguan jika perilaku bertahan bahkan meningkat dari masa kanak-kanak hingga Fenomena perilaku disruptif pada anak dapat meningkat secara signifikan baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Fakta lain yang terkait dengan perilaku mengganggu yang terjadi di kalangan siswa di kelas adalah penelitian Campbell, & Rodriques . yang menemukan 35,8 % siswa terlibat dalam perilaku mengganggu di kelas. Setiap perilaku yang ditampilkan oleh anak itu biasanya tidak terlepas dari peran orang tua atau guru (Imambachri & Purnama Dewi, 2. Perilaku mengganggu yang biasa terlihat pada anak sekolah dasar (SD) meliputi tuntutan untuk segera ditanggapi atau diperhatikan, mengganggu aktivitas siswa lain, tidak mampu melakukan aktivitas yang mandiri atau membutuhkan perhatian yang berlebihan dari guru, membantah ketika ditegur, kabur dari kelas, tidak bergaul dengan siswa lain, tidak mengikuti aturan yang ditetapkan oleh guru, mengabaikan perasaan orang lain, dan berbohong (Insani et al. , 2. Perilaku disruptifdi kelas dapat diatasi menurut(Khotimah, 2. mengemukakan tiga strategi dalam mengatasi perilaku disruptifdi kelas, yaitu melalui pendekatan behavioristik, kognitif, dan humanistik. Konsep dari pendekatan behavioristik (Khotimah, 2. menggunakan beberapa strategi diantaranya penguatan, hukuman, kontak perilaku, dan peragaan. Penguatan adalahkegiatan atau proses Pemberian hukuman bertujuan untuk menurunkan kemungkinan terulangnya perilaku yang tidak diinginkan dan memberikan rasa jera untuk tidak Kontrak perilaku didefinisikan sebagai persetujuan resmi antara klien dengan individu yang mempengaruhi perilaku klien Individu yang dimaksud meliputi stakeholder, guru, konselor, orangtua, pekerja sosial, dan teman sebaya. Peragaan perilaku didasarkan pada konsepbahwa banyak perilaku dapat dipelajaridengan efektif modeling . (Khotimah, 2. dapat berhasil, maka model yangdigunakan sebaiknya teman sebaya mendatangkanperilaku yang diinginkan. Pendekatan kognitif memiliki banyak perilakumengganggu seperti seseorangguru menceritakan pengalamannyatentang perilaku mengganggu pada siswa,dengan bercerita pada siswa, secara tidaklangsung alam pikiran siswa akanmemproses, menggambarkan dan belajar dariapa yang telah diceritakan. Tujuan membangunsebuah cara-cara belajar, melatih siswauntuk mengenal apa yang harus frekuensidan kualitas di dalam pembelajaran (Khotimah, 2. Pendidik yang menerapkan pendekatan humanistik, seorang siswa mengganggu adalah sebuah indikasi bahwa siswa tersebut tidak senang atau mengalami pertentangan. Dengan demikian, seorang guru seharusnya Strategi Guru Mengatasi Perilaku Disruptif Siswa. Nur Khotimah memperlakukan siswa tersebut dengan Cara ini dapat mendorong siswa agar mau berbicara dan berbagi tentang Dengan lagi(Khotimah, 2. Menurut Malmgren et . filosofi strategi untuk perilaku disruptif dapat memberikan dasar dari mana guru membuat keputusan manajemen kelas dan menanggapi siswa yang tergolong perilaku disruptif. METODE PENELITIAN Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun metode penelitian yang dipakai yakni studi kasus, dengan kasus bahwa sekolah yang penulis pilih merupakan salah satu sekolah unggulan yang mayoritasnya anak-anaknya memiliki intelektual tinggi sehingga akan memperkuat fenomena terkait perilaku disruptifyang terjadi di sekolah unggulan itu seperti apa. Selain itu, penelitian ini dilakukan di SD Negeri Widoro Kabupaten Wonogiri dengan jumlah sampel sebanyak 36 siswa. Waktu penelitian dilakukan pada tahun akademik 2022/2023 semester ganjil pada bulan oktober 2022. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, dan Observasi dilakukan dengan mengamati aktivitas siswa dan guru selama pembelajaran agar bisa menganalisis siswa yang termasuk dalam perilaku disruptif di dalam kelas atau tidak. Selain itu, untuk mengatahui strategi yang digunakan guru untuk mengatasi perilaku disruptif siswa di dalam kelas. Wawancara dilakukan kepada siswa dan guru untuk menentukan tipe dan faktor penyebab perilaku disruptif, strategi yang paling sesuai dan bagaimana preferensi siswa terhadap strategi yang digunakan guru, sehingga bisa dijadikan landasan untuk Instrumenyang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen non tes mencakup lembar observasi dan wawancara ditambah studi dokumentasi berupa data-data yang diambil dari guru kelas dan guru bimbingan konseling. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengadopsi dari teknik analisis data model interaksi dari Miles and Huberman yang meliputi reduksi data, display data, dan verifikasi data. Reduksi data dilakukan dengan memilah dan merangkum data yang telah diperoleh dari observasi dan wawancara. Display data dilakukan dengan menyajikan data yang telah dipilih dalam bentuk narasi disertai gambar. Verifikasi data dilakukan dengan menganalisis data yang telah diperoleh kemudian membandingkan dengan teori yang relevan. Uji keabsahan data dilakukan dengan triangulasi teknik. HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Penyebab Perilaku DisruptifPada Siswa Dari serangkaian hasil riset yang dilakukan, dapat dikatakan bentuk perilaku perilaku disruptifpada siswa SD Negeri Widoro Kabupaten Wonogiri meliputi bersikap agresif kepada teman, mengucapkan kata-kata kasar, menggunakan kata-kata yang menyakitkan, mengabaikan penjelasan guru, membuat keributan saat belajar. Hal ini dapat dipahami ketika ditanya mengenai respon yang akan dilakukan apabila tiba-tiba ada teman yang mengambil mainannya, salah satu siswa menjawab AuAmarah dan langsung merebut kembali mainannyaAy, lain halnya dengan siswa yang karakter lembut dengan tenang merespon AuAtanyakan dulu kenapa merebut mainan aku, kalau itu mau nya ya silahkan saja ambilAy. Hasil ini diperkuat dengan penuturan ibu MK bahwa memang benar karakter seorang anak berpengaruh terhadap perilaku disruptif siswa di kelas. Ibu MK mengatakan Audi dalam kelas ada yang tipe pemarah ketika dijahil atau apapun itu tanpa pikir panjang langsung berantem, tetapi ada juga anak yang lembut dengan santai merespon teman yang mengganggunyaAy. Perbedaan berpengaruh terhadap perilaku disruptif siswa di kelas, hal ini dapat dipahami dari hasil wawancara kepada ibu MK bahwa AuAkalau anak perempuan perilaku mengganggu itu sebatas mengobrol di dalam kelas, tetapi kalau anak laki-laki itu ada saja tingkah laku yang membuat geleng-geleng kepalaAy. Penuturan dari ibu MK diperkuat dengan hasil pengamatan bahwa mayoritas perilaku disruptif siswa di dalam kelas dilakukan oleh siswa laki-laki. Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomor 1 Ae Juni 2024 Terjadinya perilaku perilaku disruptif selama pembelajaran di SD Negeri Widoro Kabupaten Wonogiri masih banyak terjadi di sekolah dasar. Hal ini terkait dengan pendapat Parantika . yang mengatakan bahwa mereka merujuk pada perilaku mengganggu yang umum terjadi pada anak-anak sekolah dasar (SD) yakni menuntut pemenuhan permintaan segera atau tidak sabar untuk diperhatikan, mengganggu aktivitas siswa lain, tidak mampu menyelesaikan aktivitas secara mandiri, atau menunjukkan perhatian yang tidak semestinya kepada guru, bersikeras saat ditegur, keluar kelas, tidak mengerti cara bergaul dengan siswa lain, menolak mengikuti aturan yang ditetapkan oleh guru dan mengabaikan perasaan orang Aktivitas perilaku perilaku disruptif pada siswa SD Negeri Widoro Kabupaten Wonogiri tidak terjadi dengan sendirinya, faktor-faktor Dari hasil survei, faktor penyebab perilaku disruptif siswa adalah faktor psikologis anak, kurangnya motivasi guru, sikap negatif guru terhadap siswa, pola asuh yang tidak konsisten dari orang tua, kurangnya pengasuhan orang tua terhadap anak, orang tua yang terlalu over protektif dan kualitas pendidikan yang buruk. Selain itu, faktor yang menimbulkan perilaku disruptif pada siswa SD NegeriWidoro Kabupaten Wonogiri ini sesuai dengan yang diutarakan oleh Ghazi et al. , . bahwa terdapat 10 perilaku mengganggu yang ditampilkan oleh anak-anak pada masa sekolah dasar ini kurang konsistennya orang tua dalam melakukan pola asuh, orang tua kurang peduli, sikap orang tua yang over protective, pengajaran yang tidak baik, guru yang memberikan sikap negatif kepada siswa, mengulangi kelas sama, guru mata pelajaran yang selalu berubah, lemahnya pemberian motivasi dari guru, keadaan kelas yang tidak memadai, dan permasalahan psikologi dari dalam siswa. Dengan mengacu pada hasil penelitian tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku disruptif pada siswa, maka dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku disruptif siswa ialah faktor luar dan faktor dalam. Seperti pendapat Hankin et al. alam Wardhani et al. , 2. mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku siswa terdiri dari faktor yang ada di dalam meliputi: Secara genetik, biologis, emosional. Sementara untuk faktor yang ada di luar meliputi: lingkungan yang penuh tua-anak, kerentanan antarpribadi. Dari hasil penelitian ini, faktor lain yang menghasilkan perilaku mengganggu pada siswa menurut Fitria . yaitu, . faktor rumah, dalam hal ini faktor rumah termasuk faktor pribadi dan sosial seperti kemiskinan, perceraian, obatobatan dan alkohol, dan kekerasan fisik yang memberikan tekanan besar pada keluarga. Tekanan ini mengarah pada fakta bahwa pengasuhan anak tidak berhasil. faktor belajar merupakan aktor perilaku yang perilaku individu, ditujukan untuk menarik perhatian khusus, menghindari situasi sulit, dan berkomunikasi dengan orang lain. Faktor guru dalam hal ini, faktor-faktor tersebut berkaitan dengan pemilihan topik aktivitas yang membosankan, perlakuan guru yang salah terhadap siswa. Faktor penyebab terjadinya perilaku disruptif pada siswa SD Negeri Widoro Kabupaten Wonogiri ini juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yakni situasi rumah, masyarakat dan sekolah. Pengalaman siswa di rumah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku mereka di sekolah, terutama kurangnya keterlibatan orang tua, kurangnya pengawasan, kurangnya perhatian dan dorongan, pengabaian orang tua, manajemen yang berlebihan, dan hukuman fisik yang dapat mempengaruhi. Orang tua sering mengabaikan perilaku anak yang berperilaku baik dan bijaksana. Namun, perhatian orang tua hanya diberikan jika anak nakal. Perilaku orang tua seperti itu mendorong anak untuk berperilaku tidak baik di sekolah karena mereka percaya bahwa satu-satunya cara anak butuhkan adalah melalui perilaku buruk atau Strategi Guru Mengatasi Perilaku Disruptif Siswa. Nur Khotimah sajaAy, kemudian suasana hening tidak ada yang mengobrol, tetapi beberapa menit kemudian terdengar suara siswa yang mengobrol lagi, melihat suasana kelas seperti itu guru menegur lagi dengan memberikan peringatan Auheyy berisik jangan mengobrol, ibu kasih nilai tambah kalau menulisnya sambil diam tidak mengobrolAAy, suasana kelas pun tentram kembali, sebagaimana pada gambar yang ditampilkan berikut ini. Gambar 1. Kegiatan Observasi Hasil riset ini terkait dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Imambachri & Purnama Dewi . , yang melaporkan bahwa dampak dari penelitian ini adalah ekspresi dan persepsi emosional orang tua yang mana hubungan orang tua-anak munculnya gejala perilaku mengganggu pada siswa, meskipun dianalisis secara terpisah tetap saja persepsi hubungan orang tua-anak bagi ibu tidak memiliki peran yang signifikan. Cara mengasuh yang diberikan orang tua atau hubungan orang tua-anak yang buruk sehingga menimbulkan perilaku disruptif pada siswa. Hal ini sebagaimana hasil Rohmah menyimpulkan bahwa gangguan yang muncul pada anak dengan gangguan tingkah laku yang mengganggu hubungan keluarga yang tidak sesuai. Gangguan perilaku yang perlindungan terhadap kerusakan narsistik serta gangguan motorik. Strategi Pendidik dalam Mengatasi Perilaku DisruptifPada Siswa Dalam mengatasi perilaku disruptif siswa selama pembelajaran, tentunya diperlukan beberapa strategi yang digunakan diantaranya pendekatan behavioristik, kognitif, dan Pendekatan dilakukan dengan memberikan teguran dan peringatan kepada siswa dengan memberikan pilihan kepada siswa untuk menuruti atau membangkangnya dengan resiko tertentu. Hal ini terlihat ketika guru menulis materi, terdengar suara berisik dari siswa yang sedang mengobrol, lalu guru menegurnya dengan mengetuk papan tulis sambil bernada keras Autuk tuk tukA menulisnya jangan sambil berbicara, kalau mau mengobrol diluar Gambar 2. Aplikasi Pendekatan Behavioristik Strategi guru melalui pendekatan kognitif dilakukan dengan memberi peringatan atau teguran berupa pemahaman mengenai hal membahayakan dirinya ataupun orang lain. Hal ini terlihat kteika terdapat siswa yang sedang asyik bermain dengan peralatan sekolah seperti memukul-mukul bangku sehingga mengganggu pembelajaran, dimana guru mangatakan Aujangan bermain memukul meja nanti rusak mejanyaAy. Lalu guru menasehatinya supaya tidak memukul bangku nanti rusak, selain itu ada mengur siswa yang berlari kesana kemari menggangu temannya, gurupun menegurnya dengan menasehati kalau Aujangan berlari lari terus nanti jatuh nanti jatuhAy. Berikut ini disajikan gambar suasana strategi guru dalam mengatasi perilaku disruptif siswa. Gambar 3. Aplikasi Pendekatan Kognitif Dalam mengatasi perilaku disruptif melalui pendekatan humanistik dapat Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomor 1 Ae Juni 2024 dilakukan dengan mengkonfirmasi alasan siswa melakukan perilaku tersebut. Hal ini terlihat ketika guru memeriksa kehadiran siswa, terlihat ketika kemarin salah satu siswa tidak masuk ke sekolah tanpa keterangan, lalu guru bertanya Aukemarin tidak masuk sekolah kemana?Ay, lalu siswa menjawab Auijin buAy, lanjut guru menanyakan lagi Auijin kemana?Ay Auikut mamah buAy, lalu guru memberikan pemahaman Aulain kali kalau tidak terlalu penting lebih baik sekolah aja ya, biar tidak pelajaranAy, mengkonfirmasi kehadiran, dan menanyakan terkait pembelajaran kemarin, sebagaimana pada gambar yang disajikan berikut ini. Gambar 4. Aplikasi Pendekatan Humanistik Masalah yang terkait dengan perilaku mengganggu siswa di lingkungan sekolah dasar telah tersebar luas di setiap sekolah menampilkan perilaku menyimpang, hal ini memerlukan tindak lanjut yang lebih serius untuk mencegahnya berkembang. Sebab apabila didiamkan ini menjadi sulit untuk diatasi nanti. Untuk alasan ini, guru telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi perilaku disruptifdengan menerapkan strategi yang berbeda. Strategi yang diterapkan guru meliputi pendekatan yang berbeda yaitu . penguatan dan demonstrasi. pendekatan kognitif dan . pendekatan humanistik. Aktivitas yang dilaksanakan guru dalam usahanya mengatasi perilaku disruptif siswa mengabaikan atau menganggap bahwa ini ialah perilaku anak yang normal atau bahwa guru tidak tahu bagaimana menangani perilaku yang mengganggu ini. Untuk itu, guru BK atau konselor sekolah dapat membantu guru kelas mengambil berbagai langkah untuk mengurangi perilaku disruptif di kelas melalui pendekatan yang berbeda misalnya behavioral, kognitif dan humanistik. Hal ini sejalan dengan Sukanta . yang mengatakan bahwa cara mengatasi siswa yang nakal ialah memberikan teladan yang baik bagi siswa, teguran lisan, hukuman fisik, memberikan perhatian ekstra, memanipulasi pekerjaan rumah, menawarkan kegiatan alternatif, memanipulasi posisi duduk, kisi-kisi berkomunikasi dengan orang tua, membuat aturan, membuat pilihan baik dan buruk, pembiasan sikap yang baik, komunikasi pribadi dengan siswa, dan umpan balik untuk orang tua. Strategi untuk menyediakan lingkungan belajar yang efektif termasuk memanfaatkan waktu kelas secara efektif, menciptakan suasana yang menumbuhkan minat belajar, memberikan kesempatan untuk kegiatan yang merangsang pikiran dan imajinasi siswa, serta yang lebih penting adalah pencegahan dan penanggulangan perilaku disruptif atau perilaku tidak pantas yang mengganggu anakanak di dalam kelas. Banyak guru kelas cenderung mengabaikan atau menganggap bahwa ini adalah perilaku anak yang normal atau bahwa guru tidak tahu bagaimana menangani perilaku yang mengganggu ini. Guru dapat mengambil tindakan yang berbeda untuk mengurangi perilaku mengganggu di kelas melalui pendekatan yang berbeda. Strategi yang dilakukan guru SD NegeriWidoro Kabupaten Wonogiri untuk mengatasi perilaku disruptif siswa dengan memberikan teguran dan nasehat daripada memberikan hukuman. Tindakan yang benar bagi seorang guru ketika berhadapan dengan seorang siswa terhadap masalah kedisiplinan ialah dengan menghindari mengumpat, berteriak, atau memberikan hukuman fisik, sebab setiap siswa juga merupakan ciptaan Tuhan yang berharga. Namun, tindakan yang tepat ialah jangan sampai siswa mengganggu menghabiskan waktu berbincang dan melakukan aktivitas bersama, guru bisa mengenal lebih awal kepribadian masingmasing siswa, melacak penyebab siswa tidak disiplin, panggil siswa dan bicaralah secara Strategi Guru Mengatasi Perilaku Disruptif Siswa. Nur Khotimah pribadi. Penataan kursi yang kreatif dan inovatif tentunya, bertemu dan berdiskusi dengan orang tua, mencari solusi dan mengambil keputusan yang tepat untuk meningkatkan kedisiplinan siswa, berilah hadiah dan teguran yang sesuai dan mendoakan siswa. Upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi perilaku disruptif pada siswa dengan memperlakukan siswa dengan memahami masalah yang dialaminya. Ketika siswa menunjukkan perilaku mengganggu dalam proses pembelajaran, guru perlu menanggapi dengan bijak dan menjangkau siswa untuk belajar lebih banyak tentang perilaku bermasalah mereka. Ketika siswa tidak menanggapi upaya guru untuk mengatasi perilaku pemulihan siswa dari perilaku disruptive Cara yang tepat untuk mengatasi perilaku siswa yang mengganggu dapat meningkatkan daya tanggap siswa. Oleh karena itu, guru harus bijaksana untuk menggunakan metode dan strategi yang sesuai dengan faktor psikologis siswanya. Temuan penelitian ini sejalan dengan Ghazi, et al. , di mana peran guru dalam mengelola perilaku siswa sangat penting untuk pembelajaran berkelanjutan. Guru harus memiliki keterampilan manajemen kelas untuk menciptakan pembelajaran yang efektif. Gambar 5. Kegiatan Wawancara Guru Preferensi Siswa dalam Menghadapi Perilaku Disruptifdi SD Negeri Widoro Kabupaten Wonogiri Kecenderungan siswa dalam mematuhi teguran guru dapat berasal dari faktor internal dan eksternal. Untuk mengetahui preferensi siswa terhadap strategi yang digunakan guru dalam mengatasi perilaku disruptif siswa maka dilakukan wawancara kepada siswa dan guru kelas untuk mengkonfirmasi terkait kecenderungan siswa mematuhi setelah diberikan teguran guru karena perilakunya mengganggu dikelas. Setiap orang memiliki keinginan untuk merubah perilakunya kearah lebih baik tidak terkecuali siswa sekolah Kecenderungan siswa untuk tidak mengulangi lagi timbul dari tekad yang ada dalam dirinya. Hal ini tampak ketika ditanya kalau dirinya memiliki keinginan untuk rajin kesekolah karena perhatian guru selalu menanyakan kabar terkait kehadiran setiap hari, lalu ada keinginan untuk berbuat baik ketika guru sudah menegur untuk diam dengan nada keras yang terkesan berteriakteriak, kemudian keinginan untuk tidak mengobrol setelah guru memberi peringatan untuk tidak mengobrol karena takut, dan keinginan untuk diam di tempat duduk setelah dinasehati guru Hasil pengamatan ini diperkuat dengan wawancara kepada siswa MRN bahwa memang benar dirinya memiliki keinginan untuk berbuat baik, tidak nakal, dan rajin ke sekolah. Siswa MRN mengatakan AuA sekarang saya ingin rajin ke sekolah, tidak nakal, dan jahil kepada teman-teman, karena ibu guru selalu memberikan teguran dan peringatan untuk selalu berbuat baik selama pembelajaranAy. Berdasarkan wawancara, dapat dipahami bahwa preferensi siswa dari aspek internal yakni keinginan untuk berbuat baik, tidak nakal, dan rajin ke sekolah setelah diberikan teguran dari guru. Kecenderungan siswa untuk tidak mengulangi perilaku disruptif dapat berasal dari luar dirinya. Hal ini dapat terlihat dari pengamatan kalau siswa tidak berjalan kesana kemari saat pembelajaran karena teguran dari guru, lalu siswa dapat rajin ke sekolah sebagai akibat dari guru memberikan perhatian kepada siswa yang bolos sekolah sehingga timbul dalam dirinya untuk rajin ke sekolah, kemudian teguran dari guru dengan nada ketika terdengar suara berisik selama pembelajaran membuat suasana menjadi Hasil pengamatan ini diperkuat dengan wawancara kepada siswa FI bahwa memang benar teguran, peringatan, dan perhatian dari guru membuat dirinya memiliki keinginan untuk berbuat baik, tidak nakal, dan rajin ke Siswa FI mengatakan AuA saya Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomor 1 Ae Juni 2024 sangat senang ketika ibu guru memberikan nilai tambahan kalau tidak bandel, jadi saya tidak akan bandel di kelas biar dapat nilaiAy. Berdasarkan pengamatan dan wawancara, dapat dipahami bahwa preferensi siswa dari aspek internal yakni dengan guru menegur dan menasehati siswa untuk tidak berjalan kesana kemari mengganggu temannya, dan memperingati siswa untuk tidak mengobrol pada saat mengerjakan dan menjelaskan materi. Preferensi dikelompokkan menjadi beberapa bidang seperti keberbakatan di bidang intelektual umum, akademis spesifik, kreatif produktif, kepemimpinan, dan kesenian. Perbedaan keberbakatan menimbulkan karakteristik yang berbeda pada diri anak berbakat bila dibandingkan dengan anak normal lainnya. Salah satu karakteristik dari preferensi siswa di SD Negeri Widoro Kabupaten Wonogiri terletak pada gaya belajar yang dimilikinya. Gaya belajar merupakan gaya termudah bagi seseorang untuk belajar dan bagaimana mereka memahami sesuatu hal. Gaya belajar sangat penting untuk diketahui agar fasilitator dapat menyesuaikan diri dengan gaya belajar anak (Andina, 2. Anak berbakat cenderung lebih mudah bosan bila diberikan gaya belajar yang kurang Ketidakcocokan gaya belajar yang diberikan fasilitator kepada siswa berbakat dapat membuat potensi yang dimiliki anak berbakat menjadi tidak dapat dimaksimalkan. Seorang fasilitator pembelajaran bagi anak berbakat khususnya guru harus memiliki beberapa kriteria agar dapat menyesuaikan diri dengan anak berbakat dalam pembelajaran. Beberapa kriteria tersebut adalah meyakini setiap individu berbeda dan terampil dan berpengetahuan tinggi mengenai gaya Dengan mengetahui perbedaan karakteristik yang dimiliki anak berbakat seperti gaya belajar yang berbeda dengan siswa lain, guru dapat memiliki acuan untuk menyusun strategi belajar dengan baik (Insani et al. , 2. Namun masalahnya, hal ini tidak langsung dapat dideteksi oleh guru, karena melihat gaya belajar siswa tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat pembealjaran ketika di kelas saja, butuh informasi lebih dari siswa sendiri agar guru dapat mengetahui gaya belajar siswa. Berikut ini ditampilkan suasana peneliti ketika melakukan wawancara dengan salah satu siswa. Gambar 6. Kegiatan Wawancara Siswa Melalui penelitian ini, diharapkan dapat mengetahui gaya belajar siswa yang tepat salah satunya menggunakan instrumen gaya belajar, sehingga bisa membantu guru menyusun strategi belajar yang baik. Terlebih bagi anak pembelajaran yang kurang sesuai gaya belajarnya, diperlukan asesmen lebih lanjut dalam mengidentifikasi gaya belajar masingmasing siswa agar potensi unggul mereka dapat berkembang dengan maksimal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab terjadinya perilaku disruptif siswa di SD Negeri Widoro Kabupaten Wonogiri, yakni dari faktor psikologis anak, kurangnya motivasi dari guru, guru bersikap negatif terhadap peserta didik, pola asuh orang tua yang tidak konsisten, kurangnya kepedulian orangtua terhadap anak, orangtua yang over protective, dan kualitas pengajaran yang Strategi guru SD Negeri Widoro Kabupaten Wonogiri dalam mengatasi menggunakan beberapa pendekatan, yaitu pendekatan behavioristik, dalam hal ini guru menerapkan pemberian pujian kepada peserta memberikan peringatan secara langsung, guru menerapkan strategi peragaan. Selain itu, guru juga menggunakan pendekatan kognitif, yaitu dengan menceritakan pengalamannya tentang perilaku mengganggu pada peserta didik. Strategi Guru Mengatasi Perilaku Disruptif Siswa. Nur Khotimah Guru humanistik, yaitu dengan memahami masalah yang dialami oleh peserta didik yang Sedangkan terkait preferensi siswa dalam menghadapi masalah disruptif terletak pada gaya belajar masing-masing siswa, sehingga guru harus menerapkan strategi yang tepat dalam mengatasinya DAFTAR PUSTAKA