Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Volume 9. No 1. Mei 2025 e-ISSN 2580-0531, p-ISSN 2580-0337 DOI: : https://10. 32696/ajpkm. v%vi%i. Makna Leksikal Kuliner Tradisional Di Medan. IndonesiaAePenang. Malaysia Ayu Melati Ningsih1*. Risnawaty2. Vera Kristiana3. Yayuk Yuliana4. Mohd Haizzan Bin Yahaya5. Rara Silvany Aulia6 Program Studi Sastra Inggris. Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Medan. Indonesia *Korespondensi : . yumelati@umnaw. Abstrak Program pengabdian kepada msayarakat ini merupakan kolaborasi antara Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah dengan Universiti Sains Malaysia (USM) yang mengeksplorasi makna budaya dan linguistic dari kuliner tradisional di Medan dan Penang. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah melestarikan warisan memalui pendokumentasian, analisis, dan perbandingan istilah kuliner, akar sejarah, serta makna simbolis ditengah tantangan globalisasi. Dengan pendekatan campuran-gabungan antara etnografi lapangan, linguistic komputasional . emetaan leksikal berbasis AI), dan analisis semiotik- tim mengumpulkan data dari sejarah lisan, resep kuno dan etnogradi digital. Hasil dari pengabdian kepada masyarakat ini menonjolkan variasi regional terkait migrasi dan pengaruh colonial dan terdatanya istilah seperti rendang (Minan. dan nasi kandar (Melayu-Indi. , dilengkapi etimologi dan narasi budaya. Kata kunci: Kuliner tradisional. makna leksikal. pelestarian budaya. etnografi berbasis AI. Indonesia-Malaysia. Abstract This community service program is a collaboration between Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah and Universiti Sains Malaysia (USM) that explores the cultural and linguistic meanings of traditional cuisines in Medan and Penang. The objective of this community engagement initiative is to preserve culinary heritage through documentation, analysis and comparison of culinary terms, historical roots, and symbolic meaning amidst the challenges of globalization. Using a mixed-method approach-combining field etnography, computational linguistics (AI-based lexical mappin. , and semiotic analysis, the team collected data from oral histories, ancient recipes, and digital etnography. The results highlight regional variations related to migration and colonial influences, as well as the documentation of terms such as rendang (Minan. and nasi kandar (Malay-India. enriched with etymologies and cultural narratives. Keywords: Traditional Cuisine. lexical meaning. cultural preservation. AI based ethnography. IndonesiaMalaysia collaboration. Submit: Mei 2025 Diterima: Mei 2025 Publish: Mei 2025 Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC-BY-NC-ND 4. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) PENDAHULUAN Kuliner tradisional tidak hanya sekedar hidangan, melainkan cultural artifact yang merekam sejarah, identitas, dan interaksi sosial suatu masyarakat (Civitello, 2. Menurut (C. Counihan, 2. kuliner tradisional merupakan living heritage yang tidak hanya mencerminkan identitas kultural, tetapi berfungsi sebagai social glue yang mempererat Studi terbaru menunjukkan bahwa globalisasi telah mengancam keberlangsungan warisan kuliner lokal, teruma melalui homogenisasi rasa dan tergerusnya pengetahuan tradisional (Appadurai, 1988. Pilcher, 2. Dalam konteks ini, pendokumentasian aspek linguistik dan budaya makanan menjadi langkah kritis untuk memitigasi cultural erosion (Holtzman, 2. yang mana studi antropologi makanan menunjukkan bahwa setiap hidangan tradisional mengandung embedded knowledge pengetahuan lokal tentang ekologi, sejarah, dan nilai-nilai sosial yang di transmisikan lintas generasi. Asia Tenggara, makanan menjadi cultural boundary marker, contohnya adalah perbedaan antara rendang Minang dan gulai melayu di Sumatera Utara merefleksikan dinamika etnis dan Akan tetapi, globalisasi telah mengakibatkan culinary deskilling, yang mana generasi muda kehilangan kemampuan mengolah bahan tradisional akibat industrialisasi pangan. Program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan kolaborasi antara Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah dan Universiti Sains Malaysia (USM) fokus pada Vol. 9 No. Mei 2025 eksplorasi makna budaya dan linguistic kuliner tradisional di Medan (Indonesi. dan Penang (Malaysi. Kedua wilayah dipilih karena memiliki sejarah kuliner yang kaya hasil akulturasi etnis, migrasi, dan kolonialisme (Tan & Kamarudin Ngah, (Appadurai. menjelaskan bahwa makanan adalah lensa untuk membaca perubahan sosial sehingga pendekatan multidisiplin dalam penelitian ini dirancang untuk menggungkapkan lapisan makna yang Dalam hal ini, (Long, 2. Masakan tradisional mengacu pada praktik kuliner, resep, dan budaya makanan yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam komunitas atau wilayah tertentu. Ini mencerminkan pengaruh sejarah, geografis, dan sosialbudaya, sering menggunakan bahanbahan lokal dan teknik memasak yang telah teruji oleh waktu. Hidangan tradisional tidak hanya dihargai karena rasanya tetapi juga karena perannya dalam melestarikan identitas budaya, ritual, dan warisan komunal. Masakan tradisional bukan hanya tentang hidangan yang memenuhi kebutuhan nutrisi tetapi juga berfungsi sebagai cerminan identitas budaya, sejarah, dan nilai-nilai Dalam globalisasi ini, di mana batas-batas budaya semakin kabur, pemahaman yang lebih mendalam tentang makna leksikal dari masakan tradisional menjadi penting untuk melestarikan warisan kuliner sebagai bagian dari Medan. Indonesia, dan Penang. Malaysia, adalah dua wilayah dengan ikatan sejarah dan budaya yang erat, terutama dalam tradisi kuliner. Kedua Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) kota tersebut terkenal dengan cita rasa yang kaya dan hidangan unikAiseperti rendang, asam pedas, laksa, dan nasi kandar yang tidak hanya lezat tetapi juga mengandung makna filosofis dan linguistik yang mendalam. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak generasi muda yang kehilangan keterhubungan dengan asal-usul dan makna di balik nama-nama serta bahanbahan yang digunakan dalam masakan Namun, setiap istilah kuliner menyimpan narasi budaya, proses memasak, dan bahkan nilai-nilai sosial dari komunitas lokal. Misalnya, kata "rendang" dalam budaya Minangkabau tidak hanya merujuk pada teknik memasak tetapi juga mencerminkan nilai-nilai Sementara itu, di Malaysia, "nasi Melayu. India, dan Cina. Oleh karena itu, inisiatif keterlibatan komunitas ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan menganalisis makna leksikal dari Vol. 9 No. Mei 2025 warisan gastronomi sebagai bagian dari identitas bersama antara Indonesia dan Malaysia. METODE PELAKSANAAN Studi ini menggunakan pendekatan budaya-linguistik mendokumentasikan, membandingkan, dan memetakan istilah kuliner beserta makna budaya yang terkandung di Metodologi ini dipilih karena kemampuannya untuk secara sistematis bahasa, praktik kuliner, dan nilai-nilai (Duranti. Tahapan Implementasi. Pengumpulan Data Merekam tradisional . isalnya, "rendang," "nasi kandar") melalui: Wawancara dengan ahli kuliner dan sesepuh . Analisis resep-resep sejarah dan literatur etnografi . Analisis leksikal Mengidentifikasi . isalnya, "asam Membandingkan variasi istilah . isalnya, "laksa Medan" vs. "laksa Penang") . Mengembangkan peta berbasis GIS interaktif yang menampilkan: Distribusi istilah kuliner Pola migrasi resep dan adaptasi masakan tradisional di Medan dan Penang sebagai upaya untuk melestarikan warisan (Counihan & Van Esterik, 2. masyarakat mengklasifikasikan makanan melalui oposisi biner fundamental. Dia berpendapat bahwa nama-nama dan metode persiapan makanan tidak hanya tentang nutrisi tetapi juga mencerminkan struktur Menggunakan pendekatan budaya-linguistik, proyek ini akan mengumpulkan, membandingkan, dan memetakan istilah kuliner beserta makna yang terkandung di dalamnya. Hasil yang diharapkan adalah referensi edukatif bagi masyarakat umum, akademisi, dan pelaku industri kuliner, sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya melestarikan HASIL DAN PEMBAHASAN Pendekatan budaya-linguistik menyediakan kerangka sistematis Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) membandingkan, dan memetakan istilah kuliner tradisional sambil melestarikan makna budayanya di tengah modernisasi dan globalisasi. Berikut penerapannya:Dokumentasi:Menang kap Istilah Kuliner dan Konteks Budaya: Kerja Lapangan Etnografi: Melakukan dengan para tetua lokal, koki, dan anggota komunitas untuk merekam sejarah lisan. Gunakan alat audio/video pengucapan, ritual, dan teknik memasak. Inventarisasi Leksikal: Buatlah glosarium istilah kuliner . isalnya, "Nasi Liwet" dalam bahasa Jawa atau "Kare-Kare" dalam bahasa Tagalo. dengan definisi, etimologi, dan konteks penggunaan. Arsip Digital: Kembangkan basis data yang . Proyek Bahasa Terancam Puna. Vol. 9 No. Mei 2025 menyebabkan variasi Konsep Hidangan Nasi Lemak Ikan Bakar Indone Nasi Uduk (J Ikan Bakar Malays Wawasan Sejarah Nasi Lemak (Mala. "Lemak" . "Uduk" (Jawa untuk "campuran")Ai kekayaan tetapi berbeda dalam cara Ikan Pangga "Bakar" . "Panggang" . Ai preferensi regional dalam metode . Kolonial Pengaruh Belanda (Indonesi. "Bistik" . ari Belanda "biefstuk") Ae hidangan steak daging sapi. "Kue" . ue, dari Belanda "koek"), sedangkan Malaysia menggunakan "Kuih" . ari Hokkien "kueh"). Pengaruh Inggris (Malaysi. "Kari" . ari Tamil melalui adopsi kolonial Inggri. "Kare" Indonesia . engejaan yang dipengaruhi Beland. "Teh Tarik" ("teh tarik")Ai sebuah inovasi Mamak (India-Musli. Nama-nama hidangan sering kali mengandung makna simbolis yang dalam, mencerminkan nilai-nilai kepercayaan agama, dan hierarki Berikut adalah analisis tentang bagaimana terminologi makanan menyandikan lapisan-lapisan makna ini, dengan contoh dari masakan globalAiterutama berfokus pada Indonesia dan Malaysia memiliki warisan kuliner yang saling terkait secara linguistik dan budaya, namun perbedaan dalam sejarah kolonial, tradisi lokal, dan pengaruh regional gastronomi yang berbeda. Berikut adalah analisis komparatif tentang mencerminkan perbedaan sejarah dan budaya mereka. Pengaruh historis pada istilah . Akar Autronesia Pra-Kolonial Banyak hidangan tradisional di kedua negara berasal dari akar kuliner Austronesia yang sama. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Indonesia dan Malaysia wawasan komparatif. keaslian pedesaan. Simbolisme spiritual dan religious Indonesia "Nasi Tumpeng" . asi berbentuk kerucut dari Jaw. Ie Melambangkan Gunung Meru . umbu kosmik dalam HinduBuddh. "Ketupat" . ue beras Ie Melambangkan permohonan maaf dan saat Idul Fitri. Malaysia "Bubur Asyura" (Bubur Bahtera Nu. Ie Terbuat dari 10 biji-bijian, keselamatan Nabi Nuh. "Nasi Kebuli" . asi Arab-Indonesi. Ie Mencerminkan Hadhrami. Malaysia Narasi sejarah dan politik "Pecel" Indonesia Malaysia . alad sayur dengan saus kacan. Ie Dari bahasa Jawa "pecel" . , egalitarianisme . imakan oleh semua kelas sosia. "Semur" . emur dagin. Ie Berasal dari Belanda "smoor" . , mencerminkan adaptasi era kolonial. "Nasi Dagang" . asi pedagang Terenggan. Ie Merayakan perdagangan maritim Thailand dan India. Hirarki sosial dan identitas Indonesia Vol. 9 No. Mei 2025 "Ayam Kampung" . yam kampun. Ie Berbeda "Mamak Mee Goreng" Ie Mengidentifikasi komunitas IndiaMuslim ("Mamak") KESIMPULAN Kuliner tradisional adalah cultural artifact yang membantu sejarah, identitas, dan interaksi sosial suatu Globalisasi mengancam keberlangsungan warisan kuliner lokal, teruma homogenisasi rasa dan tergerusnya pengetahuan tradisional. Dalam konteks, pendokumentasian aspek linguistik dan budaya makanan menjadi langkah kritis untuk memitigasi cultural erosion. In Asia Tenggara, makanan menjadi cultural boundary marker, adalah perbedaan antara rendang Minang dan gulai melayu di Sumatera Utara merefleksikan dinamika etnis dan Globalisasi mengakibatkan culinary deskilling, yang mengumpulkan kemampuan mengolah bahan tradisional akibat industrialisasi Program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan kolaborasi antara Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah dan Universiti Sains Malaysia (USM) fokus pada eksplorasi makna budaya dan linguistic kuliner tradisional di Medan (Indonesi. dan Penang (Malaysi. Masakan tradisional mengacu pada praktik kuliner, resep, dan budaya makanan yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam komunitas atau wilayah Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada LPPI UMN Al-Washliyah. Bapak Rektor UMN Al-Washliyah beserta jajaran. Tim PKM Internasional dan seluruh pihak yang terlibat dalam PkM ini. Khususnya kepada Masyarakat Medan dan Penang sebagai sumber data dari kegiatan Pk Mini. Vol. 9 No. Mei 2025 of the Terengganu Chinese. Strategic Information Research Development Centre. Wilk. , & Barbosa. (Eds. Rice and beans: A unique dish in a hundred places. Berg. REFERENSI