Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Web-Based Audiovisual Nutrition Education via WhatsApp for Adolescents: A Pre-Experimental Study Media Audiovisual Berbasis Website melalui whatsapp sebagai Sarana Edukasi Gizi Seimbang pada Remaja: Studi Pra-Eksperimen Dzikra Fitria Amita1. Muhammad Panji Muslim2 1Politeknik Negeri Subang. Jawa Barat. Indonesia 2Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta. Jakarta. Indonesia *Corresponding Author: Muhammad Panji Muslim Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Jakarta. Indonesia Email: muhammadpanji@upnvj. Keywords: Adolescents. Audiovisual. Status. Website. Whatsapp Nutritional Kata Kunci: Remaja. Media Audiovisual, status nutrisi. Website. Whatsapp A The Author. 2025 Abstract Adolescence is a critical period that plays an essential role in fulfilling nutritional Inadequate nutrient intake during this phase can hinder physical growth and cause mental developmental disorders. One effort to improve nutritional knowledge is through technology-based edutainment, such as the use of Android applications and websites. Audiovisual educational media delivered via WhatsApp provides an effective interactive platform to enhance adolescentsAo knowledge, attitudes, and behaviors regarding balanced nutrition. This study aimed to evaluate the effectiveness of website-based audiovisual media delivered through WhatsApp in improving nutritional knowledge and attitudes among 11 students at SMP Darul QurAoan Padang, with inclusion criteria: . had never received health education, . were active students, . were willing to participate in the intervention, . owned a personal smartphone, and . had WhatsApp installed and accessible for video Data were collected using pretest and posttest questionnaires. The results showed a significant improvement in both knowledge and nutritional attitudes after the intervention . -value = 0. The average knowledge score increased 55 . , while the average attitude score increased 09 to 44. Based on these findings, future studies are recommended to expand educational media by incorporating interactive features . uch as educational games or online discussion forum. to further enhance student Abstrak Article Info: Received : June 24, 2025 Revised : August 22, 2025 Accepted : August 27, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Masa remaja merupakan periode krusial yang berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi. Kekurangan asupan nutrisi pada fase ini dapat berdampak pada terhambatnya pertumbuhan fisik serta menimbulkan gangguan perkembangan Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan gizi adalah melalui edukasi berbasis teknologi edutainment, misalnya dengan pemanfaatan aplikasi Android dan website. Media edukasi berbasis audiovisual yang disampaikan melalui WhatsApp menjadi sarana interaktif yang efektif dalam membangun pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja terkait gizi seimbang. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas media audiovisual berbasis website yang dikirimkan melalui WhatsApp terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap gizi seimbang pada 11 siswa SMP Darul QurAoan Padang dengan kriteria inklusi: . belum pernah memperoleh pembelajaran terkait kesehatan, . merupakan siswa aktif, . bersedia mengikuti penyuluhan, . memiliki handphone pribadi, dan . memiliki aplikasi WhatsApp serta dapat dihubungi melalui video call. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan baik dalam pengetahuan maupun sikap gizi setelah intervensi . -value = 0,. Ratarata skor pengetahuan meningkat dari 11,55 . menjadi 17,09 . , sedangkan rata-rata skor sikap meningkat dari 40,09 menjadi 44,36. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar penelitian selanjutnya dengan media edukasi dapat diperluas dengan fitur interaktif . isalnya game edukatif atau forum diskusi onlin. untuk meningkatkan keterlibatan siswa. PENDAHULUAN Masa remaja merupakan fase transisi menuju dewasa dengan rentang usia menurut WHO 10 Ae 19 tahun, dan menurut BKKBN 10 Ae 24 tahun bagi yang belum menikah. Sebagai generasi https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 dipersiapkan secara maksimal, termasuk dalam aspek kesehatan, agar terhindar dari berbagai permasalahan Kesehatan. Remaja adalah fase transisi dari masa anak-anak yang ditandai oleh perubahan fisik dan hormonal, seperti peningkatan massa otot dan lemak tubuh, yang berdampak pada kebutuhan gizi. Pada tahap ini, remaja mulai mandiri dalam mengambil keputusan, termasuk dalam memilih makanan yang dikonsumsi. Masa psikologis, dan aktivitas meningkat yang berdampak pada naiknya kebutuhan Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, status gizi bisa terganggu. Masalah gizi umum pada remaja meliputi pola makan tidak teratur, gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia, obesitas, jerawat, dan anemia. Riskesdas 2018 mencatat bahwa 36,3% remaja putri usia 15Ae19 tahun mengalami kurang energi kronis. Obesitas sentral dialami oleh 31% penduduk usia >15 tahun secara nasional, dan 35% di Sumatera Barat. Selain itu, 98,2% penduduk Sumatera Barat kurang konsumsi buah dan sayur, menjadikan provinsi ini peringkat ke-8 nasional dalam hal tersebut. Status gizi yang baik tercapai jika remaja mengonsumsi makanan dalam jumlah cukup, berkualitas, dan beragam. Kebutuhan gizi remaja mengacu pada Angka Kecukupan Gizi (AKG), dengan kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral yang lebih tinggi dibanding orang dewasa. Remaja laki-laki aktif memerlukan lebih dari 3000 kalori per membutuhkan sekitar 2000 kalori untuk menjaga berat badan ideal . Akan tetapi, pemenuhan kebutuhan tersebut semakin dipengaruhi oleh perubahan tren perilaku makan yang muncul akibat perkembangan teknologi digital, media sosial, serta tingginya ketersediaan makanan cepat saji. Paparan iklan daring, promosi influencer, dan konten visual mengenai makanan praktis sering kali mendorong remaja untuk memilih makanan tinggi gula, garam, dan lemak, yang pada akhirnya dapat menggeser pola konsumsi sehat ke arah yang kurang bergizi. Berdasarkan Infodatin Kemenkes . , banyak remaja memiliki pola makan yang tidak sehat, seperti sering konsumsi fast food, jarang sarapan, dan tidak membawa bekal. Akibatnya, 16% remaja usia 13Ae15 tahun mengalami obesitas, dan 8,7% tergolong kurus atau sangat kurus. Berdasarkan Riskesdas 2010, lebih dari separuh remaja Indonesia 16Ae18 kebutuhan minimal, dengan rata-rata kecukupan energi 69,5Ae84,3% dan protein 88,3Ae129,6%. Di perkotaan, remaja kekurangan sekitar 670 kalori dan 1,2 gram protein. Di Sumatera Barat, 51,5% remaja kekurangan asupan energi dan 21,2% kekurangan protein . Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi isu global. Di Indonesia, survei menunjukkan bahwa konsumsi fast food dan minuman berpemanis pada remaja meningkat seiring dengan kemudahan layanan pesan-antar berbasis aplikasi . Kondisi serupa juga terlihat di negara maju, seperti Amerika Serikat, di mana prevalensi obesitas remaja meningkat signifikan akibat pola makan tinggi energi dan rendah serat. Sebaliknya, di negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan, meskipun pengaruh globalisasi dan fast food cukup besar, tradisi konsumsi makanan sehat berbasis sayur, ikan, dan porsi seimbang masih relatif terjaga sehingga mampu menekan angka obesitas pada remaja. Perbandingan ini menegaskan bahwa strategi peningkatan status gizi remaja lingkungan sosial, budaya, serta https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 pengaruh teknologi, bukan berfokus pada edukasi individu. Masa remaja adalah fase penting untuk pemenuhan gizi yang optimal guna . Asupan gizi yang kurang dapat menyebabkan gangguan fisik dan mental. Remaja tergolong kelompok rentan secara gizi karena pola makan mereka cenderung tinggi gula dan lemak namun rendah mikronutrien . Penelitian Rahmawati dkk. Remaja usia 13Ae15 tahun cenderung lebih banyak mengonsumsi karbohidrat dibandingkan sayur, buah, dan lauk nabati, sehingga berisiko mengalami ketidakseimbangan gizi yang dapat meningkatkan risiko penyakit di masa depan. Perilaku makan buruk pada remaja disebabkan oleh kurangnya asupan zat gizi penting dan dipengaruhi oleh faktor seperti kebiasaan keluarga, persepsi tubuh ideal, preferensi makanan, media massa, serta konsumsi makanan cepat saji. Perilaku makan remaja adalah tindakan dalam memenuhi kebutuhan makan yang dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap, serta mencerminkan identitas diri dan interaksi sosial. Penelitian Hurry Mega Insani . menunjukkan bahwa edukasi gizi melalui ceramah efektif meningkatkan asupan energi, sementara edukasi lewat website kurang signifikan, dan kelompok kontrol mengalami penurunan asupan gizi. Edukasi gizi berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap positif anak sekolah terhadap pola makan sehat. Pendidikan kesehatan yang terencana efektif membentuk kesadaran dan keterampilan remaja terkait perilaku hidup sehat. Penelitian Nazhif Gifari dkk. menunjukkan bahwa edukasi berhasil meningkatkan pemahaman siswa mengenai prinsip gizi seimbang dan aktivitas fisik, yang berdampak positif pada kesehatan Pendidikan disampaikan secara langsung atau melalui media, terutama saat tidak dengan sasaran. Media ini berfungsi menyampaikan pesan Kesehatan. Penelitian sebelumnya mengembangkan media edukasi gizi berbasis cetak, audiovisual, website, dan media sosial karena mudah diakses, murah, cepat, dan tanpa batas. Teknologi ini dinilai efektif dalam membantu remaja membentuk kebiasaan makan sehat. Penelitian menunjukkan bahwa media edukasi gizi berbasis android, website, gambar, dan suara efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik anak. Video dinilai lebih efektif dibanding booklet dalam mengubah perilaku konsumsi sayur dan buah. Namun, efektivitas media juga dipengaruhi oleh jenis informasi dan kemampuan literasi penerima. Penelitian. , menunjukkan bahwa edukasi gizi disampaikan melalui media sosial, infografis yang dibagikan via Instagram dan WhatsApp. Edukasi gizi berbasis edutainment melalui media digital seperti Android dan website dapat meningkatkan pengalaman belajar siswa secara interaktif, dan berpotensi efektif di Indonesia karena tingginya penggunaan internet. Hal ini sangat potensial diterapkan di Indonesia mengingat tingginya tingkat penetrasi internet di kalangan remaja. Fachruddin Perdana, dkk . , edukasi gizi mampu meningkatkan sikap gizi seimbang, kecuali pada kelompok kontrol yang justru mengalami penurunan skor. Peningkatan sikap tertinggi terjadi pada kelompok yang menggunakan media https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 android dan kombinasi android & Penelitian K. Chamberland et al . dan Penelitian Azhari, dkk . Penelitian menunjukkan bahwa edukasi gizi berbasis web dan video, seperti Nutriathlon dan media audiovisual, efektif meningkatkan konsumsi sayur, buah, susu, serta sikap dan kebiasaan sarapan siswa dibandingkan metode Meskipun demikian, sebagian besar penelitian terdahulu masih terbatas pada penggunaan satu jenis audiovisual, website, dan WhatsApp sebagai pendekatan edukasi terpadu. Padahal, pemanfaatan beberapa media secara bersamaan diyakini dapat meningkatkan pemahaman sekaligus . Lebih jauh, metode konvensional seperti ceramah tatap muka sering kali dinilai monoton, cenderung satu arah, serta kurang mampu mempertahankan perhatian peserta didik dalam jangka panjang . Pendidikan kesehatan berperan penting dalam upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan derajat kesehatan remaja. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk menjawab kelemahan menawarkan strategi edukasi gizi berbasis teknologi digital yang lebih menarik, fleksibel, dan sesuai dengan gaya belajar remaja. dipilih dari populasi sebanyak 102 siswa SMP Darul QurAoan Padang. Kota Padang. Sumatera Barat. Jumlah sampel minimal yang dibutuhkan sebenarnya adalah 51 sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Kriteria inklusi meliputi: . siswa yang pembelajaran tentang kesehatan, . siswa aktif di SMP Darul QurAoan Padang, . siswa yang bersedia mengikuti penyuluhan, . memiliki telepon genggam pribadi, serta . memiliki aplikasi WhatsApp dan dapat dihubungi melalui video call. Adapun kriteria eksklusi adalah: . siswa yang tidak memiliki telepon genggam pribadi, dan . siswa yang tidak bersedia menjawab Rekrutmen peserta dilakukan di lingkungan sekolah melalui pendekatan langsung oleh peneliti kepada siswa yang memenuhi kriteria inklusi, dengan persetujuan dari pihak sekolah serta izin Intervensi menggunakan video call WhatsApp. Pada tahap awal, siswa diminta mengisi kuesioner pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal. Selanjutnya, peserta memperoleh penjelasan dan pendidikan kesehatan mengenai tumbuh kembang remaja melalui media website yang telah dirancang khusus dengan tampilan berupa gambar dan video sebagai sarana penyampaian materi. METODE HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian praeksperimen one group pretest-posttest tanpa kelompok kontrol. Subjek penelitian berjumlah 11 siswa yang Responden penelitian ini adalah siswa SMP Darul QurAoan yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Karakteristik Responden Usia 14 tahun 15 tahun Frekuensi . Persentase (%) https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 16 tahun Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki IMT <18. >30 Berdasarkan tabel diatas, didapatkan bahwa Sebagian besar usia responden adalah 14 tahun sebanyak 5 . ,5%) responden, dan Sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak 8 . ,7%) responden serta Sebagian besar memiliki IMT <18. 5 sebanyak 7 . ,63%) responden. 63,63 36,36 Penulis melakukan uji normalitas Shapiro-Wilk karena jumlah responden kurang dari 50 orang. Hasilnya menunjukkan bahwa data pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi memenuhi syarat untuk uji Paired TTest. Tabel 2. Pengaruh Penggunaan Media Audiovisual Berbasis Website yang Disampaikan Melalui WhatsApp terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Siswa Pengetahuan Sikap Pemberian Audiovisual Pretest Posttest Pretest Posttest Tabel diatas menunjukkan, hasil uji paired T-test pada 11 responden menunjukkan perbedaan pengetahuan yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi media audiovisual berbasis website melalui WhatsApp . -value 0,. , sehingga Ha diterima. Hasil uji Paired T-Test pada 11 responden menunjukkan perbedaan sikap yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi media audiovisual berbasis website melalui WhatsApp . = 0,. , sehingga Ha diterima. Edukasi gizi berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap positif anak sekolah terhadap pola makan sehat. Pendidikan kesehatan efektif membentuk perilaku remaja pengetahuan, dan keterampilan hidup Mean Std. P-value kesehatan. Pendidikan kesehatan bisa disampaikan langsung atau melalui media. Jika tidak memungkinkan tatap muka, media menyampaikan pesan kesehatan sebagai sarana komunikasi. Pengetahuan merupakan informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Menurut notoadmojo . mengemukakan pengetahuan adalah hasil pengindreaan manusia atau hasil tahu seseoran terhadap objek . ata,hidung, telinga dan sebagainy. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahu manusia tentang benda, sifat. Penetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa didunia. Mereka memperoleh https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 instuisi, wahyu, logika atau kegiatankegiatan yang bersifat coba-coba . rial and erro. (Zulmiyetri. Nurhastuti, & Safaruddin, 2. Sebelum dilakukannya implementasi kesehatan kepada siswa hasil kuesioner pretest menunjukkan nilai mean Pengetahuan dan sikap pada siswa SMP Darul Quran Padang 11. 5455 dan Sesuai dengan hasil wawancara pada pihak sekolah jika siswa SMP Darul Quran Padang mendapatkan penyuluhan mengenai nutrisi sehat dan gizi seimbang bagi remaja dari pihak puskesmas Pendidikan yang dilakukan penulis terhadap siswa SMP Darul Quran Padang berbasis website melalui whatsapp dengan jumlah siswa sebanyak 11 siswa. Setelah dilakukan berupa pendidikan kesehatan mengenai pemenuhan nutrisi sehat dan gizi seimbang kepada siswa, nilai mean pengetahuan dan sikap siswa meningkat menjadi 17. 0909 dan Penelitian Nazhif Gifari dkk. menunjukkan bahwa edukasi berhasil tentang gizi seimbang dan aktivitas fisik, yang berdampak positif pada kesehatan Edukasi edutainment efektif meningkatkan pengalaman belajar siswa. Media seperti aplikasi Android dan website telah banyak digunakan di luar negeri dan berpotensi diterapkan di Indonesia. Dengan demikian, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk edukasi gizi secara positif. Penelitian Fachruddin dkk . menunjukkan bahwa media edukasi gizi berbasis Android dan web bertema gizi seimbang disukai dan diterima dengan Edukasi tersebut meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik gizi anak SD. Penggunaan teknologi dinilai efektif membantu remaja membentuk kebiasaan makan sehat untuk jangka panjang. Penelitian Muhammad Arif Azhari dkk . menunjukkan bahwa edukasi gizi menggunakan media video lebih efektif dalam meningkatkan sikap, konsumsi sayur dan buah, serta frekuensi sarapan dibandingkan metode Menurut Novelinda R . Media edukasi berbasis video lebih efektif dibandingkan media cetak dalam terbukti dalam peningkatan konsumsi sayur dan buah siswa MTS di Padang. Namun, efektivitasnya bergantung pada jenis informasi dan kemampuan literasi gizi penerima. KESIMPULAN DAN SARAN Pendidikan audiovisual berbasis website via WhatsApp pengetahuan dan sikap remaja tentang gizi seimbang. Penelitian lanjutan disarankan dengan sampel lebih besar, desain kontrol, dan evaluasi jangka berkelanjutan serta media edukasi dapat diperluas dengan fitur interaktif . isalnya game edukatif atau forum diskusi onlin. untuk meningkatkan keterlibatan siswa. DAFTAR PUSTAKA