Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 909-918 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.5280 Analisis Modal Sosial dalam Kepemimpinan Kepala Desa Sewangi: Studi Kasus Berdasarkan Teori Modal Sosial Putnam Khairussalam, Siti Zulaikha, Ririn Isnaeni Nur, Siti Maimunah. Sosiologi, Universitas Lambung Mangkurat khairussalam@ulm.ac.id, siti.zulaikha@ulm.ac.id, ririnisnaeninur3@gmail.com, smaimunah190@gmail.com ABSTRACT This research aims to analyze the role of social capital in the context of village head leadership using the social capital theory framework proposed by Robert D. Putnam. This social capital includes three main elements: trust, social norms, and social networks. This study is a case study involving several villages in order to understand how social capital influences the leadership quality of village heads. Data was collected through interviews with village heads, community members and local stakeholders. Data analysis was carried out by identifying and evaluating the level of trust in society, the social norms that guide the village head's behavior, and the social networks built by the village head in carrying out his duties. The research results show that social capital has a significant impact on the leadership quality of village heads. Village heads who can build and maintain a high level of trust in their community tend to be more effective in carrying out their duties. In addition, social norms that value integrity and transparency in leadership have a positive influence on leadership quality. Strong social networks also help village heads access the resources and support needed to overcome challenges This study provides in-depth insight into how social capital plays a role in the context of village head leadership and has important implications for the development of more effective leadership policies and practices at the village level. Future research could delve deeper into specific aspects of social capital that have a significant impact in the context of village leadership. Keywords: Social Capital, Village Head, Putnam Social Capital. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran modal sosial dalam konteks kepemimpinan kepala desa dengan menggunakan kerangka kerja teori modal sosial yang dikemukakan oleh Robert D. Putnam. Modal sosial ini mencakup tiga elemen utama: kepercayaan, norma sosial, dan jaringan sosial. Studi ini merupakan studi kasus yang melibatkan beberapa desa dalam rangka untuk memahami bagaimana modal sosial memengaruhi kualitas kepemimpinan kepala desa. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan kepala desa, anggota masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengevaluasi tingkat kepercayaan dalam masyarakat, norma sosial yang memandu perilaku kepala desa, serta jaringan sosial yang dibangun oleh kepala desa dalam menjalankan tugasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial memiliki dampak yang signifikan pada kualitas kepemimpinan kepala desa. Kepala desa yang dapat membangun dan memelihara tingkat kepercayaan yang tinggi dalam masyarakatnya cenderung lebih efektif dalam menjalankan tugasnya. Selain itu, norma sosial yang menghargai integritas dan transparansi dalam kepemimpinan memiliki pengaruh positif pada kualitas kepemimpinan. Jaringan sosial yang kuat juga membantu kepala desa dalam 909 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 909-918 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.5280 mengakses sumber daya dan dukungan yang diperlukan untuk mengatasi berbagai tantangan. Studi ini memberikan wawasan yang mendalam tentang bagaimana modal sosial berperan dalam konteks kepemimpinan kepala desa dan memiliki implikasi penting dalam pengembangan kebijakan dan praktik kepemimpinan yang lebih efektif di tingkat desa. Penelitian selanjutnya dapat menggali lebih dalam aspek-aspek khusus dari modal sosial yang memiliki dampak signifikan dalam konteks kepemimpinan desa. Kata kunci: Modal Sosial, Kepala Desa, Modal Sosial Putnam PENDAHULUAN Kepemimpinan di tingkat desa memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Kepala desa sebagai pemimpin lokal memiliki tanggung jawab besar dalam mengkoordinasikan sumber daya, mengambil keputusan, dan memfasilitasi pembangunan yang berkelanjutan di dalam komunitasnya. Salah satu aspek yang terbukti memengaruhi kualitas kepemimpinan desa adalah modal sosial. Modal sosial, sebagai konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Robert D. Putnam, mencakup elemen-elemen seperti kepercayaan, norma sosial, dan jaringan sosial dalam suatu masyarakat. Teori modal sosial Putnam menekankan pentingnya interaksi sosial dan kooperasi dalam membangun modal sosial yang kuat. Modal sosial yang kuat dalam suatu komunitas dapat memengaruhi perilaku individu dan kolektif serta memiliki dampak yang signifikan pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran modal sosial dalam konteks kepemimpinan kepala desa dengan menggunakan teori modal sosial Putnam sebagai kerangka kerja analisis. Kajian ini merupakan studi kasus yang dilakukan di beberapa desa dengan tujuan untuk memahami bagaimana modal sosial memengaruhi kualitas kepemimpinan kepala desa. Pentingnya memahami peran modal sosial dalam kepemimpinan desa tidak hanya terkait dengan aspek pembangunan lokal, tetapi juga berkaitan dengan isu-isu sosial, ekonomi, dan politik yang lebih luas. Kepemimpinan yang berkualitas di tingkat desa dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, berdaya, dan berkeadilan. Dalam pandangan ini, penelitian ini berupaya untuk memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana modal sosial memengaruhi kepemimpinan kepala desa dan mengapa hal ini penting untuk perkembangan desa secara keseluruhan. Selain itu, studi ini juga memiliki potensi untuk memberikan rekomendasi yang bermanfaat bagi pengambil kebijakan dan praktisi dalam mempromosikan praktik kepemimpinan yang lebih efektif dan berkelanjutan di tingkat desa. Dengan menggali lebih dalam peran modal sosial dalam kepemimpinan desa, diharapkan kita dapat mengidentifikasi cara-cara untuk memaksimalkan dampak positifnya dalam mencapai tujuan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat lokal. 910 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 909-918 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.5280 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus (case study). Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk melakukan analisis yang mendalam dan kontekstual terhadap peran modal sosial dalam kepemimpinan kepala desa di berbagai desa yang berbeda. Penelitian ini dilakukan di beberapa desa yang dipilih secara purposif. Pemilihan desa dilakukan dengan mempertimbangkan variasi dalam hal ukuran, geografis, serta konteks sosial dan ekonomi. Hal ini dilakukan untuk memastikan representasi yang lebih baik dari berbagai realitas di tingkat desa. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari kepala desa, anggota masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal seperti tokoh masyarakat atau pemimpin adat. Kepala desa yang berpartisipasi telah memiliki pengalaman kepemimpinan selama periode tertentu. Partisipan dipilih melalui teknik purposif dan juga dengan mempertimbangkan variasi karakteristik seperti usia, jenis kelamin, dan latar belakang pendidikan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan partisipan utama, yaitu kepala desa, serta diskusi kelompok terarah dengan anggota masyarakat. Instrumen wawancara disusun untuk menjelajahi aspek-aspek modal sosial, termasuk kepercayaan, norma sosial, dan jaringan sosial. Selain itu, observasi partisipatif juga dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih kontekstual tentang dinamika sosial dalam desa. Penelitian dimulai dengan tahap perencanaan, termasuk pemilihan desa, identifikasi partisipan, dan pengembangan pedoman wawancara. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan kepala desa dan diskusi kelompok dengan anggota masyarakat. Observasi partisipatif juga dilakukan dalam kegiatan sehari-hari di desa. Data kualitatif dianalisis dengan menggunakan metode analisis konten dan teknik triangulasi untuk memeriksa konsistensi dan validitas hasil. HASIL DAN PEMBAHASAN Kepercayaan dalam Kepala Desa Penelitian ini menemukan bahwa kepercayaan dalam kepala desa adalah elemen kunci dari modal sosial dalam konteks kepemimpinan desa. Kepala desa yang berhasil membangun kepercayaan dengan anggota masyarakatnya cenderung memiliki otoritas yang lebih besar dan lebih mudah dalam memimpin. Kepercayaan ini mendorong partisipasi aktif anggota masyarakat dalam inisiatif-inisiatif pembangunan desa dan memperkuat hubungan antara kepala desa dan masyarakat. Norma Sosial yang Mendorong Integritas Norma sosial yang mendorong integritas dan etika dalam kepemimpinan juga memainkan peran penting. Kepala desa yang dihormati oleh masyarakatnya adalah mereka yang dianggap mematuhi norma-norma sosial ini. Mereka cenderung 911 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 909-918 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.5280 menjalankan tugas mereka dengan lebih transparan dan akuntabel, yang pada gilirannya memengaruhi kualitas pelayanan publik yang mereka berikan. Jaringan Sosial yang Kuat Kepala desa yang berhasil membangun jaringan sosial yang kuat dengan berbagai pemangku kepentingan lokal seperti tokoh masyarakat, lembaga sosial, atau pejabat desa lainnya memiliki akses lebih besar terhadap sumber daya dan dukungan yang diperlukan dalam mengatasi tantangan desa. Jaringan sosial ini juga berperan dalam memfasilitasi kolaborasi antara desa dan instansi pemerintah atau organisasi non-pemerintah. Pentingnya Kepercayaan Hasil penelitian ini menekankan bahwa kepercayaan adalah salah satu elemen kunci dalam membangun modal sosial yang kuat dalam konteks kepemimpinan desa. Kepercayaan dalam hal ini mengacu pada tingkat keyakinan dan keterbukaan yang dimiliki masyarakat terhadap kepala desa dan pemerintahan desa secara keseluruhan. Fondasi Modal Sosial yang Kuat: Kepercayaan dianggap sebagai fondasi modal sosial yang kuat karena memiliki dampak yang mendalam pada hubungan antara kepala desa dan masyarakatnya. Ketika masyarakat memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kepala desa, ini menciptakan iklim komunikasi yang positif dan produktif. Masyarakat merasa nyaman untuk berinteraksi dengan kepala desa, menyampaikan masalah dan kebutuhan mereka, serta berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Keterbukaan Komunikasi: Kepercayaan yang tinggi menciptakan keterbukaan komunikasi antara kepala desa dan masyarakat. Ini berarti bahwa kepala desa lebih mungkin mendengarkan dan merespons aspirasi, harapan, dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Masyarakat juga merasa bahwa suara mereka didengar dan dihormati. Kebijakan yang Lebih Inklusif: Kepercayaan yang tinggi dan komunikasi yang terbuka memengaruhi proses pembuatan kebijakan. Kepala desa yang memiliki kepercayaan masyarakat cenderung lebih memperhatikan kebutuhan dan aspirasi masyarakat dalam merumuskan kebijakan. Ini mengarah pada kebijakan yang lebih inklusif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan dan partisipasi masyarakat. Kesinambungan Pembangunan: Modal sosial yang berbasis pada kepercayaan dapat berkontribusi pada kesinambungan pembangunan di tingkat desa. Kepala desa yang memiliki dukungan dan kepercayaan masyarakatnya lebih mungkin berhasil dalam mengimplementasikan program-program pembangunan, mengatasi tantangan, dan mencapai tujuan pembangunan jangka panjang. Dalam konteks kepemimpinan desa, kepercayaan adalah elemen kunci yang dapat memengaruhi dinamika antara kepala desa dan masyarakatnya. Oleh karena 912 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 909-918 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.5280 itu, penting bagi kepala desa untuk membangun dan memelihara kepercayaan ini dengan baik. Ini dapat dicapai melalui transparansi dalam pengambilan keputusan, keterbukaan komunikasi, dan konsistensi dalam pemenuhan janji-janji kepada masyarakat. Dalam hal ini, kepercayaan menjadi landasan yang kuat untuk membangun modal sosial yang berkelanjutan dan efektif di tingkat desa.. Norma Sosial sebagai Panduan Etika Kepemimpinan Norma sosial yang mendorong integritas, transparansi, dan etika dalam kepemimpinan merupakan salah satu unsur kunci dalam konsep modal sosial di konteks kepemimpinan desa. Norma sosial adalah aturan informal atau nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat dalam suatu komunitas. Dalam konteks kepemimpinan desa, norma-norma ini mencakup standar etika dan perilaku yang diharapkan dari kepala desa. Integritas Norma sosial yang mendorong integritas berarti bahwa masyarakat mengharapkan bahwa kepala desa akan menjalankan tugas dan kewajibannya dengan jujur dan adil. Integritas adalah komitmen untuk bertindak dengan kejujuran dan keadilan dalam segala aspek kepemimpinan. Kepala desa yang dikenal memiliki integritas tinggi akan mendapatkan kepercayaan lebih dari masyarakatnya. Transparansi Norma sosial ini menekankan pentingnya transparansi dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya desa. Transparansi mencakup pembagian informasi yang jelas dan terbuka kepada masyarakat tentang bagaimana kebijakan dibuat dan bagaimana sumber daya digunakan. Kepala desa yang mematuhi norma transparansi memungkinkan masyarakat untuk lebih memahami proses kebijakan dan mengawasi penggunaan sumber daya secara efektif. Etika dalam Kepemimpinan Norma sosial etika dalam kepemimpinan menegaskan bahwa kepala desa harus bertindak dengan mempertimbangkan dampak etis dari keputusan dan tindakan mereka. Ini melibatkan pengambilan keputusan yang tidak hanya berdasarkan pada kepentingan pribadi atau kelompok kecil, tetapi juga mempertimbangkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh masyarakat desa. Kepala desa yang dilihat sebagai pemimpin yang beretika akan mendapatkan dukungan yang lebih besar dari masyarakatnya. Dampak pada Tindakan dan Perilaku Kepala Desa Norma-norma sosial ini memiliki dampak nyata pada tindakan dan perilaku kepala desa. Kepala desa yang memahami dan mematuhi norma integritas, transparansi, dan etika cenderung membuat keputusan yang lebih bermoral, menjalankan tugasnya secara adil, dan berkomunikasi secara terbuka dengan 913 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 909-918 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.5280 masyarakat. Hal ini dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kepala desa dan memperkuat modal sosial di desa tersebut. Prioritas dalam Membangun Modal Sosial Menjaga norma sosial ini menjadi prioritas dalam membangun modal sosial yang kuat di tingkat desa. Kepala desa dan masyarakat bersama-sama perlu memelihara dan mengembangkan norma-norma ini sebagai bagian integral dari kehidupan desa. Ini bukan hanya tentang mematuhi aturan, tetapi juga tentang memahami nilai-nilai yang mendasarinya dan menginternalisasikannya dalam praktik kepemimpinan sehari-hari. Dalam konteks yang lebih luas, norma sosial yang mendorong integritas, transparansi, dan etika dalam kepemimpinan tidak hanya berdampak pada kualitas kepemimpinan desa, tetapi juga pada keadilan, partisipasi masyarakat, dan perkembangan berkelanjutan di tingkat desa. Kepala desa yang menjalankan tugasnya dengan mengikuti norma-norma ini cenderung memengaruhi positif dinamika sosial dan perkembangan desa secara keseluruhan. Oleh karena itu, menjaga norma-norma sosial ini harus menjadi perhatian utama dalam upaya membangun modal sosial yang kuat di tingkat desa. Peran Jaringan Sosial dalam Pemberdayaan Desa Jaringan sosial yang kuat membantu kepala desa dalam menghadapi tantangan desa dengan lebih baik. Kolaborasi antara desa dan pemangku kepentingan lainnya memungkinkan pertukaran sumber daya, pengalaman, dan dukungan yang diperlukan untuk pembangunan desa yang berkelanjutan. Implikasi Praktis Penelitian ini memiliki implikasi praktis dalam pengembangan kepemimpinan desa yang lebih efektif. Mendorong kepala desa untuk membangun kepercayaan, mematuhi norma sosial yang positif, dan memperluas jaringan sosial mereka dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kualitas kepemimpinan desa. Tantangan dalam Mempertahankan Modal Sosial Meskipun pentingnya modal sosial telah diakui, tantangan dalam mempertahankannya tetap ada. Dalam lingkungan yang berubah dengan cepat, mempertahankan modal sosial yang kuat memerlukan upaya yang berkelanjutan dari kepala desa dan masyarakat. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang peran modal sosial dalam kepemimpinan desa dan memberikan dasar bagi pengembangan strategi dan kebijakan yang lebih baik dalam upaya memperkuat modal sosial di tingkat desa. Implikasi temuan ini mencakup peran penting yang dimainkan oleh kepercayaan, norma sosial, dan jaringan sosial dalam menciptakan kepemimpinan yang lebih efektif dan berkelanjutan di tingkat desa. Peningkatan Efektivitas Kepemimpinan Desa Implikasi temuan ini adalah bahwa memahami dan memanfaatkan modal sosial yang terdiri dari kepercayaan, norma sosial, dan jaringan sosial dapat 914 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 909-918 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.5280 meningkatkan efektivitas kepemimpinan desa. Kepala desa yang mampu membangun dan menjaga kepercayaan masyarakat, mematuhi norma-norma etika, serta memanfaatkan jaringan sosial yang kuat akan lebih mungkin berhasil dalam menghadapi tantangan kompleks dan menggerakkan pembangunan di desa mereka. Mendorong Partisipasi Masyarakat Modal sosial yang kuat dapat merangsang partisipasi aktif masyarakat dalam berbagai aspek pembangunan desa. Ketika masyarakat merasa bahwa kepemimpinan mereka dapat dipercaya dan responsif, mereka akan lebih terlibat dalam berbagai inisiatif lokal. Ini termasuk partisipasi dalam perencanaan pembangunan, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan program-program yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Kolaborasi yang Lebih Efektif Modal sosial juga dapat meningkatkan kolaborasi antara desa dan pemangku kepentingan eksternal, seperti pemerintah daerah, organisasi non-pemerintah, dan sektor swasta. Kepala desa yang memiliki jaringan sosial yang kuat dapat memfasilitasi kerja sama yang produktif dan mengakses sumber daya tambahan yang mendukung pembangunan desa. Penguatan Kelembagaan Desa Kepercayaan dan norma sosial yang positif dapat memperkuat kelembagaan desa. Ini termasuk meningkatkan akuntabilitas pemerintah desa, transparansi pengelolaan keuangan desa, dan meningkatkan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan desa. Hal ini mendorong tumbuhnya sistem yang lebih kuat dan efisien di tingkat desa. Pemeliharaan Modal Sosial Pentingnya pemeliharaan modal sosial tidak boleh diabaikan. Modal sosial yang kuat memerlukan waktu untuk dibangun dan dikelola dengan baik. Oleh karena itu, pemeliharaan norma sosial positif, kepercayaan, dan jaringan sosial harus menjadi perhatian berkelanjutan dalam kepemimpinan desa. Pemimpin desa dan masyarakat secara bersama-sama harus berupaya menjaga modal sosial agar tetap relevan dan efektif dalam mendukung perkembangan desa. Peran Pendidikan dan Kesadaran Pendidikan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya modal sosial dapat memainkan peran penting dalam memperkuatnya. Program-program pendidikan dan advokasi yang menyebarkan pemahaman tentang modal sosial dapat meningkatkan pemahaman dan praktik-praktik yang mendukung modal sosial yang kuat. 915 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 909-918 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.5280 Implikasi temuan ini memberikan pandangan yang lebih baik tentang bagaimana kepemimpinan desa dapat ditingkatkan melalui pemanfaatan modal sosial. Upaya untuk membangun dan memelihara modal sosial yang positif di tingkat desa harus menjadi bagian integral dari strategi pembangunan desa yang berkelanjutan dan inklusif. Dengan memahami dan menghargai peran penting kepercayaan, norma sosial, dan jaringan sosial, masyarakat desa dapat bekerja sama dengan kepala desa untuk mencapai tujuan bersama dalam menghadapi berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi oleh komunitas mereka KESIMPULAN Penelitian ini telah menginvestigasi peran modal sosial dalam kepemimpinan kepala desa dengan mengacu pada Teori Modal Sosial Putnam. Temuan-temuan utama dari studi kasus ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana elemenelemen modal sosial, termasuk kepercayaan, norma sosial, dan jaringan sosial, memiliki dampak yang signifikan pada kualitas kepemimpinan desa dan perkembangan komunitas lokal. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, beberapa kesimpulan utama dapat ditarik: Modal Sosial sebagai Fondasi Kepemimpinan: Kepemimpinan kepala desa yang efektif dan berkelanjutan memerlukan fondasi modal sosial yang kuat. Kepercayaan yang tinggi, norma sosial yang positif, dan jaringan sosial yang luas membentuk pondasi yang mendorong kepala desa untuk menjadi pemimpin yang lebih baik dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Kepercayaan sebagai Kunci Utama: Kepercayaan masyarakat terhadap kepala desa adalah elemen utama dalam membangun modal sosial yang kuat. Kepercayaan menciptakan keterbukaan komunikasi, partisipasi aktif, dan kerja sama antara kepala desa dan masyarakat, yang semuanya membantu dalam menghasilkan kebijakan dan program yang lebih efektif. Norma Sosial sebagai Panduan Etika: Norma sosial yang mendorong integritas, transparansi, dan etika dalam kepemimpinan memainkan peran kunci dalam membentuk tindakan dan perilaku kepala desa. Mematuhi norma-norma ini adalah prioritas dalam membangun modal sosial yang kuat di tingkat desa. Jaringan Sosial yang Mendukung: Jaringan sosial yang kuat dapat memfasilitasi kerja sama dan kolaborasi yang lebih baik antara kepala desa dan pemangku kepentingan lokal. Hal ini dapat memperluas akses kepala desa terhadap sumber daya dan dukungan yang diperlukan untuk pembangunan desa. Partisipasi Masyarakat yang Meningkat: Modal sosial yang kuat merangsang partisipasi aktif masyarakat dalam proses pembangunan desa. Masyarakat yang merasa memiliki kepercayaan pada kepala desa mereka lebih cenderung terlibat dalam inisiatif-inisiatif lokal, yang pada gilirannya dapat meningkatkan efektivitas program-program pembangunan. 916 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 909-918 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.5280 Kesinambungan Pembangunan: Modal sosial berperan dalam menciptakan kepemimpinan yang berkelanjutan dan pembangunan desa yang berkesinambungan. Kepala desa yang membangun dan memelihara modal sosial dapat mengatasi tantangan yang muncul dan memimpin komunitas mereka menuju perkembangan yang lebih baik. Dalam rangka meningkatkan kepemimpinan desa dan pembangunan berkelanjutan, penting bagi kepala desa dan masyarakatnya untuk memahami peran penting yang dimainkan oleh modal sosial. Implikasi temuan ini mencakup upaya untuk membangun dan memelihara modal sosial yang positif, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan mendukung kepemimpinan yang beretika dan transparan. Dengan demikian, dapat diharapkan bahwa studi ini akan memberikan panduan yang berharga bagi pengambil kebijakan dan praktisi yang berupaya memperkuat kepemimpinan desa dan perkembangan komunitas lokal. DAFTAR PUSTAKA AK, Warul walidin, dkk. (2015). Metodelogi Peneitian Kualitatif Dan Grounded Theory. Aceh: FTK Ar-Raniry Press. Amansyah, Aswita. (2011). Peranan Kelompok Tani Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Desa Maccini Baji Kecamatan Bajeng. Skripsi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negri Aluddin Makasar. Arikunto, Suharsimi. (1990). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Assosaisi PPSW, 28 Februari 2012. Astuti, Aini Nur. (2010). Analisis Efektifitas Kelompok Tani di Kecamatan Gatak Kabupten Sukoharjo. Skripsi, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret. Badan Pertanahan Nasional. (2020). Badan Pusat Statistik Kabupaten Cilacap Tahun 2019 Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2 Maret 2020 Burhan. (2008). Analisis Data Penelitia Kualitatif: Pemahaman Filosofi dan Metodelogis Ke Arah Penguasaan Model Aplikasi, Jakarta: Rajawali Press. Cahyono, Budi dan Adhitama, Ardian. (2012). Peran Modal Sosial Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Petani Tembakau di Kabupaten Wonosobo. Jurnal CBAM-FE Unissula, 1(1). Carina. (2017). Analisis Penerapan Modal Sosial Pada PT. Indrayasa Migasa. Skripsi, Petra Christian University Surabaya. DetikFinance, Rabu 8 April 2015 56 2 EY, Agunggunanto. (2010). Analisis Kemiskinan Dan Pendapatan Keluarga Nelayan Kasus Di Kecamatan Mudung Kabupaten Demak Jawa Tengah Indonesia”, Jurnal Dinamika Ekonomi Pembangunan, 1(1). Farizi, Ahmad Nur. (2015). Analisis Pendapatan petani Padi di Kotasari Kecamatan Pusakanagara Kabupaten Subang. Skripsi, Fakultas Ekonomi Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia. 917 | Volume 6 Nomor 2 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 2 (2024) 909-918 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10.47476/reslaj.v6i2.5280 Fatonah, Azri Nurul, dkk. (2021). Model Good Community dalam Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Desa Rejosari Kecamatan Natar Lampung Selatan Tahun 2019. Jurnal Administrativa, 3(1). Fitriani, Dhanian. (2019). Pengorganisasian Masyarakat Petani Hutan Menuju Masyarakat Tangguh Bencana di Dusun Talunongko Desa Dayurejo Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Fakultas Dakwah Dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Tarigan, Frida Lina. (2019). Pengembangan Dan Pengorganisasian Masyarakat. Modul Mata Kuliah, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Farmasi Dan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan. 918 | Volume 6 Nomor 2 2024