Faedah : Jurnal Hasil Kegiatan Pengabdian Masyarakat Indonesia Volume. Nomor. 2 Mei 2026 e-ISSN: 2962-8687. p-ISSN: 2962-8717. Hal 279-290 DOI: https://doi. org/10. 59024/faedah. Tersedia: https://pbsi-upr. id/index. php/Faedah Deteksi Dini Stunting Melalui Edukasi Orang Tua dan Pengukuran Antropometri Balita di Posyandu Pasir Putih Kelurahan Baurung Deteksi Dini Stunting Melalui Edukasi Orang Tua dan Pengukuran Antropometri Balita di Posyandu Pasir Putih Kelurahan Baurung Hilky Ofan1*. Masyita Wahab2. Jamila Kasim2 Maryam Jamaluddin2 STIKes Bina Bangsa Majene,Sulawesi Barat,Indonesia Keperawatan,Institut Nani Hasanuddin ,Sulawesi Selatan,Indonesia Email: hilkyofan1@gmail. com1*, masyitahwahab08@gmail. com2, jkasim944@gmail. maryamjamaluddin@stikesnh. *Penulis Korespondensi: hilkyofan1@gmail. Article History: Naskah Masuk: Maret 06,2026. Revisi: April 17,2026. Diterima: Mei 14, 2026. Terbit: Mei 30, 2026 Keywords: Community Empowerment. Education. Religion. Social Service. Wedegan Hamlet. Abstract: Stunting remains a major public health challenge in Indonesia, requiring systematic early detection and community-based interventions. This community service activity aimed to implement early stunting detection through parental health education and anthropometric measurements of children under five at Posyandu Pasir Putih. Kelurahan Baurung. Kecamatan Banggae Timur. Kabupaten Majene. West Sulawesi. A participatory approach was used, combining interactive health education sessions with standardized anthropometric screening . eight, height/length, mid-upper arm circumference, and head circumferenc. for 35 toddlers aged 0Ae59 months. Parental knowledge was assessed using pre-test and post-test questionnaires administered to 38 parents. Results showed a significant increase in parental knowledge, from a mean pre-test score of 52. oor categor. ood categor. on post-test. Anthropometric assessment revealed that 13 out of 35 toddlers . were identified as stunted . 7% stunted. 4% severely stunte. All identified cases were referred to the local health center (Puskesma. for specific nutritional interventions including supplementary feeding and intensive nutrition counseling. These findings indicate that integrated anthropometric screening combined with targeted parental education is an effective strategy for early stunting identification at the community Posyandu plays a crucial role as a platform for translating anthropometric data into meaningful risk communication and promoting sustained community engagement in child growth monitoring Abstak Stunting merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang masih menjadi tantangan utama di Indonesia dan memerlukan upaya deteksi dini berbasis komunitas secara sistematis. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melaksanakan deteksi dini stunting melalui edukasi orang tua dan pengukuran antropometri balita di Posyandu Pasir Putih. Kelurahan Baurung. Kecamatan Banggae Timur. Kabupaten Majene. Sulawesi Barat. Pendekatan partisipatif digunakan dengan menggabungkan penyuluhan kesehatan interaktif dan skrining antropometri terstandar . erat badan, tinggi/panjang badan, lingkar lengan atas, dan lingkar kepal. terhadap 35 balita usia 0Ae59 bulan. Pengetahuan orang tua dinilai menggunakan kuesioner pre-test dan post-test yang diberikan kepada 38 orang tua. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan orang tua, dari ratarata nilai pre-test 52,4 . ategori kuran. menjadi 81,6 . ategori bai. pada post-test . Hasil pengukuran antropometri mengungkapkan bahwa 13 dari 35 balita . ,1%) teridentifikasi stunting . ,7% pendek. 11,4% sangat pende. Seluruh kasus yang teridentifikasi telah dirujuk ke Puskesmas setempat untuk mendapatkan intervensi gizi spesifik, termasuk pemberian makanan tambahan dan konseling gizi intensif. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi skrining antropometri dengan edukasi orang tua yang terarah merupakan strategi efektif untuk deteksi dini stunting di tingkat komunitas, serta memperkuat peran Posyandu sebagai wadah pemantauan tumbuh kembang anak yang berbasis bukti. Kata Kunci: Antropometri. Deteksi Dini. Edukasi Orang Tua. Posyandu. Stunting. Deteksi Dini Stunting Melalui Edukasi Orang Tua dan Pengukuran Antropometri Balita di Posyandu Pasir Putih Kelurahan Baurung PENDAHULUAN Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak usia di bawah lima tahun yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan/atau infeksi berulang. Secara klinis, stunting ditandai oleh panjang atau tinggi badan anak yang berada di bawah ambang batas menurut standar World Health Organization (WHO), yaitu berada pada nilai di bawah -2 standar deviasi (SD) dari median. Dengan demikian, stunting tidak semata-mata merefleksikan permasalahan pertumbuhan fisik, melainkan juga menggambarkan adanya gangguan tumbuh kembang yang panjang(Afriani Febriani. Ayukarningsih et al. , 2024. Yudistira et al. , 2. Anak dengan stunting dilaporkan memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan perkembangan kognitif, penurunan kapasitas belajar, hambatan pertumbuhan fisik dan perubahan metabolik, yang selanjutnya dapat berpengaruh terhadap produktivitas pada usia remaja maupun dewasa(Sari et al. , 2. Dalam perspektif kualitas hidup, stunting juga dapat memperbesar kerentanan keluarga terhadap kemiskinan antargenerasi melalui terbentuknya siklus permasalahan pada ranah kesehatan,gizi, dan pendidikan yang saling memperkuat(Kusumawardani et al. , 2025. Ramlan et al. , 2025. Santoso & Pujianto, 2. Isu stunting telah ditetapkan sebagai agenda prioritas pembangunan kesehatan, mengingat prevalensinya masih menjadi tantangan nasional(Baye, 2. Pemerintah Indonesia menempatkan penurunan prevalensi stunting sebagai bagian dari agenda pembangunan sumber daya manusia, dengan pertimbangan bahwa dampak stunting terhadap kualitas hidup bersifat strategis dan berdimensi jangka panjang. Oleh karena itu, intervensi berkelanjutan(Astuti, 2026. Hanifah & Syahrizal, 2. Pencegahan stunting tidak dapat dipahami sebagai upaya yang bersifat insidental atau hanya berfokus pada pemberian intervensi tertentu sesekali, melainkan memerlukan deteksi dini, tindak lanjut yang terarah dan terukur, serta penguatan sistem pemantauan. Salah satu kerangka penting dalam pencegahan stunting adalah pendekatan pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni fase sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun(Mohamed, 2022. Putri et al. , 2024. Rufaridah et al. , 2024. Zubaeda et al. , 2. Pada fase ini, berbagai intervensiAimulai dari pemenuhan gizi yang adekuat, penguatan perilaku hidup bersih dan sehat, pencegahan dan penanganan infeksi, hingga peningkatan praktik pengasuhanAiakan menentukan arah pertumbuhan anak(Dalal et al. , 2. Sejalan dengan hal tersebut, diperlukan penguatan kapasitas sistem, termasuk penguatan perilaku FAEDAH Ae VOLUME. NOMOR. 2 MEI 2026 e-ISSN: 2962-8687. p-ISSN: 2962-8717. Hal 279-290 berbasis pengetahuan, dukungan layanan kesehatan, serta penguatan pemantauan dan evaluasi agar setiap intervensi didasarkan pada data dan kebutuhan nyata di lapangan. Dalam konteks penguatan layanan kesehatan berbasis komunitas. Posyandu memegang peran strategis. Posyandu merupakan layanan kesehatan dasar yang dekat dengan masyarakat, relatif mudah diakses, dan berfungsi sebagai ruang penting untuk pemantauan tumbuh kembang anak(Hayuningtyas et al. , 2. Pada praktiknya. Posyandu menjadi titik kegiatan rutin yang meliputi pemantauan pertumbuhan balita, pemberian imunisasi, promosi kesehatan, konseling gizi, serta pencatatan status kesehatan anak. Data hasil kegiatan tersebut dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan terkait kebutuhan intervensi. (Artanti & Ulya, 2023. Faristasari et al. , 2. Karena Posyandu berbasis komunitas, layanan ini berpotensi menjangkau kelompok yang paling rentan, khususnya keluarga dengan kondisi sosial ekonomi rendah, akses layanan kesehatan yang terbatas, serta pengetahuan gizi yang masih belum memadai. (Widawati et al. , 2. Pada pelaksanaan skrining risiko stunting, deteksi dini berbasis pengukuran antropometri merupakan langkah yang paling relevan dan praktis untuk diterapkan di tingkat komunitas(Umiatin et al. , 2. Antropometri melibatkan pengukuran berat badan (BB), panjang/tinggi badan (TB) atau panjang badan sesuai usia, lingkar lengan atas (LILA), serta lingkar kepala (LK)(Kobel et al. , 2. Keempat indikator tersebut memberikan gambaran status gizi secara lebih menyeluruh: BB digunakan untuk merefleksikan status gizi relatif serta potensi gangguan gizi akut. TB/panjang badan berkaitan dengan pertumbuhan linear yang dapat terhambat akibat kekurangan gizi kronis. LILA digunakan sebagai pendekatan terhadap cadangan energi dan status gizi. sedangkan LK dapat memberikan informasi tambahan yang relevan dengan aspek pertumbuhan fisik(Luu et al. , 2. Integrasi keempat indikator ini memungkinkan keluarga maupun tenaga kesehatan memperoleh pemahaman awal mengenai potensi gangguan pertumbuhan, sekaligus menyediakan dasar rasional bagi pengambilan keputusan intervensi di tingkat komunitas(Koivu et al. , 2026. Urakami, 2. Secara operasional. Posyandu merupakan unit layanan kesehatan dasar yang berperan dalam pemantauan pertumbuhan dan status gizi, pencegahan penyakit, peningkatan pengetahuan dan perilaku gizi melalui edukasi, serta pemberdayaan keluarga melalui Dalam sistem layanan kesehatan masyarakat, kader Posyandu merupakan penggerak utama yang secara langsung berinteraksi dengan ibu dan keluarga balita. Kader yang telah terlatih diharapkan mampu melakukan pengukuran sekaligus menjelaskan interpretasi hasil kepada orang tua dengan bahasa yang mudah dipahami. Apabila keluarga memahami makna status gizi anak dan memahami langkah yang perlu dilakukan misalnya peningkatan Deteksi Dini Stunting Melalui Edukasi Orang Tua dan Pengukuran Antropometri Balita di Posyandu Pasir Putih Kelurahan Baurung kualitas asupan, pengaturan frekuensi pemberian makan, penerapan higiene dalam pengolahan makanan, pengasuhan responsif, serta pemantauan jadwal Posyandu maka intervensi akan memiliki peluang yang lebih besar untuk berjalan efektif dan berkelanjutan. Walaupun demikian, sejumlah tantangan masih dijumpai dalam implementasi Posyandu di berbagai daerah. Tantangan tersebut meliputi keterbatasan sumber daya manusia terlatih, variasi kualitas alat ukur, perbedaan pemahaman kader terkait standar interpretasi pertumbuhan, serta hambatan partisipasi keluarga. Hambatan partisipasi dapat bersumber dari kesibukan orang tua, persepsi yang belum tepat terhadap status gizi anak, hingga kurangnya dukungan lingkungan(Faristasari et al. , 2025. Hariyanti et al. , 2024. Masriawan & Ariadi. Pada kondisi tersebut, data antropometri berpotensi tidak dimanfaatkan secara optimal, sehingga tindak lanjut pada balita yang berisiko stunting dapat terjadi terlambat. Oleh karena itu, kebutuhan untuk memperkuat pelaksanaan skrining stunting berbasis pengukuran antropometri secara rutin, terstandar, dan berkelanjutan tetap relevan untuk dilakukan. Berangkat dari pertimbangan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui program deteksi dini stunting berbasis pengukuran antropometri di Posyandu Pasir Putih yang berlokasi di RW 05 Tamo. Kelurahan Baurung. Kegiatan ini berupaya mengoptimalkan peran Posyandu melalui deteksi dini risiko stunting yang dilakukan secara rutin. Pengukuran BB. TB. LILA, dan LK dilaksanakan untuk menggambarkan status gizi balita secara lebih komprehensif. Selanjutnya, data hasil pengukuran diarahkan bukan hanya menjadi pencatatan administratif, tetapi dijadikan landasan untuk intervensi gizi yang tepat sasaran serta media edukasi bagi orang tua. Melalui pendekatan ini, diharapkan Posyandu mampu berperan dalam pencegahan stunting sejak dini, sebelum kondisi berkembang menjadi kronis dan lebih sulit diperbaiki. Artikel pengabdian masyarakat ini menyajikan hasil kegiatan pengukuran antropometri yang dilaksanakan pada bulan April 2026 dengan melibatkan data dari 35 balita. Penyajian hasil kegiatan dalam bentuk artikel ilmiah dilakukan agar praktik pengabdian masyarakat dapat dipahami sebagai proses yang terstruktur dan berorientasi pada bukti . vidence-base. Melalui penataan pelaksanaan, dokumentasi hasil, serta analisis temuan, kegiatan ini diharapkan menghasilkan informasi yang relevan untuk mendukung perbaikan program gizi pada level komunitas. Dengan demikian, data yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata dalam mendorong pencegahan dan penanggulangan stunting di wilayah tersebut, selaras dengan program nasional Indonesia Bebas Stunting. FAEDAH Ae VOLUME. NOMOR. 2 MEI 2026 e-ISSN: 2962-8687. p-ISSN: 2962-8717. Hal 279-290 METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan menggunakan pendekatan partisipatif dengan metode edukasi kesehatan dan demonstrasi praktis. Berikut uraian metode pelaksanaan yang digunakan: Waktu dan Tempat Kegiatan dilaksanakan pada bulan April tahun 2026 bertempat di Posyandu Pasir Putih. Kelurahan Baurung. Kecamatan Banggae Timur. Kabupaten Majene. Provinsi Sulawesi Selatan. Pelaksanaan dibagi menjadi dua sesi: sesi edukasi orang tua pada pagi hari dan sesi pelatihan kader posyandu pada siang hari. Peserta Kegiatan Peserta kegiatan terdiri atas: . ibu/orang tua yang memiliki balita usia 0Ae59 bulan yang terdaftar di Posyandu Pasir Putih sebanyak A 40 orang, dan . kader posyandu yang bertugas di wilayah Kelurahan Baurung sebanyak 8 orang. Tenaga kesehatan dari puskesmas setempat turut dilibatkan sebagai narasumber dan pendamping teknis. Metode Pelaksanaan Kegiatan dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut: a. ) Tahap Persiapan: Meliputi koordinasi dengan pihak Puskesmas dan kader posyandu, penyusunan materi edukasi, persiapan alat ukur antropometri . imbangan digital, length board, microtois. , dan penyusunan lembar kuesioner pre-test dan post-test. Tahap Pelaksanaan: Terdiri atas . penyuluhan kesehatan interaktif tentang stunting, faktor risiko, dampak, dan pencegahannya menggunakan media leaflet dan lembar balik. demonstrasi teknik pengukuran antropometri yang benar oleh tim pengabdian. praktik langsung pengukuran oleh kader posyandu dengan dan . sesi tanya jawab. Tahap Evaluasi: Pengukuran pengetahuan orang tua dilakukan melalui pre-test sebelum penyuluhan dan post-test setelah penyuluhan menggunakan kuesioner terstruktur yang telah divalidasi. Keterampilan kader dinilai menggunakan lembar observasi pengukuran antropometri. HASIL Karakteristik Peserta Kegiatan dihadiri oleh 38 ibu/orang tua balita . ari 40 yang diundang, tingkat kehadiran 95%) dan 8 kader posyandu. Karakteristik peserta orang tua menunjukkan mayoritas berusia 25Ae35 tahun . ,8%), dengan tingkat pendidikan terbanyak SMA/sederajat . ,6%). Sebagian besar merupakan ibu rumah tangga . ,9%) dengan jumlah anak 2Ae3 orang . ,5%). Deteksi Dini Stunting Melalui Edukasi Orang Tua dan Pengukuran Antropometri Balita di Posyandu Pasir Putih Kelurahan Baurung Peningkatan Pengetahuan Orang Tua tentang Stunting Hasil evaluasi menunjukkan terjadi peningkatan signifikan pengetahuan orang tua setelah mendapatkan edukasi kesehatan. Nilai rata-rata pre-test adalah 52,4 . ategori kuran. dan meningkat menjadi 81,6 . ategori bai. pada post-test. Tabel 1 menyajikan distribusi kategori pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Tabel 1. Distribusi Tingkat Pengetahuan Orang Tua Sebelum dan Sesudah Edukasi. Kategori Pengetahuan Baik . Ae. Cukup . Ae. Kurang (<. Total Pre-test . Pre-test (%) Post-test . Post-test (%) Peningkatan pengetahuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa edukasi kesehatan melalui penyuluhan interaktif efektif meningkatkan pengetahuan ibu tentang stunting (Fitri & Ernawati, 2019. Rahayu et al. , 2. Penggunaan media visual seperti leaflet dan lembar balik terbukti membantu pemahaman orang tua, khususnya bagi mereka dengan tingkat pendidikan menengah ke bawah. Hasil Pengukuran Antropometri Balita Pengukuran antropometri dilakukan terhadap 35 balita yang hadir pada hari Berdasarkan analisis menggunakan WHO Anthro, hasil pengukuran menunjukkan distribusi status gizi sebagaimana tersaji pada Tabel 2. Tabel 2. Status Gizi Balita Berdasarkan Indikator TB/U di Posyandu Pasir Putih. Status Gizi (TB/U) Normal (Z-score Ou -2 SD) Pendek/Stunted (-3 SD s. <-2 SD) Sangat Pendek/Severely Stunted (<-3 SD) Total Jumlah . Persentase (%) Data di atas mengungkapkan bahwa dari 35 balita yang diukur, sebanyak 13 balita . ,1%) teridentifikasi stunting . endek dan sangat pende. Temuan ini sejalan dengan data prevalensi stunting di tingkat kabupaten yang masih relatif tinggi. Seluruh balita yang teridentifikasi stunting dan berisiko telah dilaporkan kepada pihak Puskesmas setempat untuk mendapatkan intervensi gizi spesifik, termasuk pemberian makanan tambahan (PMT) dan konseling gizi intensif. DISKUSI