Sainteks: Jurnal Sain dan Teknik E-ISSN: 2685-8304 Volume 7 Nomor 02 Tahun 2025 https://ejournal. id/index. php/sainteks/ Effect of Time and Storage Conditions on the Stability of Citronellal Lotion Pengaruh Waktu dan Kondisi Penyimpanan terhadap Stabilitas Losion Fitria Puspita1. Achmad Nandang Roziafanto2*. Libora Saragih3 . Program Studi Analisis Kimia. Politeknik AKA Bogor Jl. Pangeran Sogiri No. Tanah Baru. Bogor Utara. Kota Bogor. Jawa Barat 16154 Email: pipitfpuspita@gmail. Program Studi Nanoteknologi Pangan. Politeknik AKA Bogor Jl. Pangeran Sogiri No. Tanah Baru. Bogor Utara. Kota Bogor. Jawa Barat 16154 *Email: anandangr@yahoo. Program Studi Analisis Kimia. Politeknik AKA Bogor Jl. Pangeran Sogiri No. Tanah Baru. Bogor Utara. Kota Bogor. Jawa Barat 16154 Email: libora. ls@gmail. Abstract: Commercial mosquito repellent lotion containing citronellal was tested for its stability to evaluate changes in the physical and chemical properties of the lotion at various times and storage conditions. This study used four variations of storage conditions. at 25AC, 30AC, 50AC, and sun exposed condition. Storage was carried out for 3 months and testing was carried out once a month for each storage condition. The lotion stability parameters tested included pH, viscosity, and citronellal content. Acidity measurement was carried out using a pH meter. Viscosity measurement was carried out using a Brookfield spindle helipath 96 viscometer at a speed of 12 rpm, while citronellal content measurement was carried out using gas The results showed that storage time and temperature had a significant effect on the stability of citronellal lotion. The longer the lotion was stored, the viscosity and citronellal content In addition, higher storage temperatures also accelerated the decline in lotion stability, showed by significant changes in viscosity and citronellal content. Meanwhile, the pH of the lotion did not change significantly at each variation of storage time and conditions. Keywords: mosquito repellent lotion, citronellal, storage stability, viscosity, pH Abstrak: Losion repelan anti nyamuk komersial dengan kandungan sitronelal diuji stabilitasnya untuk mengevaluasi perubahan sifat fisik dan kimia losion pada berbagai waktu dan kondisi penyimpanan. Penelitian ini menggunakan empat variasi kondisi penyimpanan, yaitu penyimpanan pada suhu 25AC, 30AC, 50AC, dan kondisi terpapar sinar matahari. Penyimpanan dilakukan selama 3 bulan dan pengujian dilakukan 1 kali setiap bulannya untuk setiap kondisi penyimpanan. Parameter stabilitas losion yang diuji meliputi pH, viskositas, dan kadar sitronelal. Pengukuran derajat keasaman dilakukan menggunakan pH meter. Pengukuran viskositas dilakukan menggunakan viskometer Brookfield spindle helipath 96 dengan kecepatan 12 rpm, sedangkan pengukuran kadar sitronelal dilakukan menggunakan kromatografi gas. Hasil penelitian menunjukkan waktu dan suhu penyimpanan berpengaruh signifikan terhadap stabilitas losion Penyimpanan yang lebih lama akan menurunkan viskositas dan kadar sitronelal secara Selain itu, suhu penyimpanan yang lebih tinggi juga mempercepat penurunan stabilitas losion, ditandai dengan perubahan signifikan pada viskositas, dan kandungan sitronelal. Sementara itu, pH losion tidak mengalami perubahan secara signifikan pada setiap variasi waktu dan kondisi penyimpanan. Kata Kunci: losion repelan nyamuk, sitronelal, stabilitas penyimpanan, viskositas, pH DOI: http://doi. org/10. 37577/sainteks. Received: 05, 2025. Accepted: 08, 2025. Published: 09, 2025 PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara tropis dengan tingkat kelembaban udara relatif tinggi sehingga cocok untuk perkembangbiakan berbagai spesies nyamuk, diantaranya Aedes aegypti. Vol. No. Tahun 2025 Effect of Time and Storage Conditions on the Stability of Citronellal Lotion Aedes albopictus, dan Aedes scutellaris. Anopheles. Culex. Nyamuk-nyamuk tersebut merupakan vektor utama beberapa penyakit yang membahayakan kesehatan manusia seperti demam berdarah, malaria. Chikungunya. Zika, filariasis dan penyakit lainnya (Purwatiningsih, et al. Cara yang umum dilakukan untuk menghindari gigitan nyamuk adalah dengan menggunakan produk anti nyamuk, baik dalam bentuk bakar, bubuk, semprot, elektrik dan repelan . (Moniharapon & Unitly, 2. Repelan anti nyamuk yang cukup sering digunakan adalah dalam bentuk losion. Losion cenderung disukai karena pemakaiannya mencakup permukaan kulit yang luas, merata, dan cepat kering dengan meninggalkan lapisan tipis yang melindungi kulit dari gigitan nyamuk. Repelan tidak bekerja dengan cara membunuh nyamuk, namun bahan aktif dalam repelan dapat menyebabkan nyamuk menghindar (Henderson et al, 2023. Lazzari. , 2. Di Indonesia, repelan nyamuk dalam bentuk losion yang beredar di pasaran umumnya mengandung bahan aktif N,Ndietil-metatoluamida (DEET). DEET bekerja dengan cara mengganggu reseptor pada antena nyamuk sehingga mencegah nyamuk hinggap dan menggigit kulit manusia. Reseptor ini digunakan untuk mendeteksi panas tubuh, karbon dioksida, dan zat kimia pada kulit saat mencari mangsa (Ray, 2016. Rifell, 2. DEET memiliki daya tangkal terhadap nyamuk yang sangat efektif serta memiliki sifat tidak larut dalam air sehingga dapat menempel pada kulit hingga 10 jam (>25% DEET) (Lupi, et al. , 2. Sebenarnya, repelan nyamuk dengan kandungan DEET dianggap aman jika digunakan sesuai petunjuk. Akan tetapi, bagi sebagian orang yang memiliki kulit sensitif. DEET dapat menyebabkan iritasi kulit dan penggunaan secara berlebihan . osis tinggi dan aplikasi berulang kal. juga dapat menyebabkan kejang, mual, muntah, neurodegenerasi, keracunan sistemik , dan menjadi resisten terhadap anti nyamuk tersebut (Clem et al. , 1993. Briassoulis et al. , 2001. McHenry & Lacuesta, 2014. Safaruddin et al. , 2. Untuk menghindari dampak negatif yang disebabkan oleh bahan aktif DEET, saat ini di pasaran telah banyak beredar losion anti nyamuk dengan kandungan minyak atsiri dari tanaman yang memiliki aktivitas anti nyamuk sebagai pengganti DEET (Luker, et al. , 2. Repelan anti nyamuk berbahan dasar tanaman terbukti aman bagi manusia, hewan, dan ramah lingkungan (Soonwera, 2. Salah satu tanaman yang sering dimanfaatkan sebagai bahan anti nyamuk adalah tanaman sereh . ymbopogon nardu. yang menghasilkan minyak atsiri yang dikenal dengan Citronella Oil melalui proses penyulingan. Sritabutra et al. dalam penelitiannya membandingkan kemampuan repelan minyak atsiri kayu putih, sereh, peppermint, jeruk dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atisiri . sereh wangi memberikan waktu proteksi lebih lama terhadap gigitan nyamuk yaitu selama 98 menit. Minyak sitronela mengandung beberapa senyawa penting seperti sitronelal, geraniol, dan sitronelal yang menunjukkan aktivitas anti nyamuk dengan cara mengganggu saraf pada nyamuk (Saputra, et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Kim et al. membuktikan bahwa sitronelal dalam minyak sereh memiliki efektivitas yang tinggi sebagai anti nyamuk dengan cara mengganggu saraf pada nyamuk. Konsentrasi minyak sereh yang umum digunakan dalam produk repelan berkisar antara 0,05% hingga 15% baik secara tunggal maupun dikombinasikan dengan minyak lavender, cengkeh, bawang putih, ataupun minyak cedar (WHO, 2. Halim & Fitri . dalam penelitiannya juga berhasil membuktikan bahwa minyak sereh mampu memberikan proteksi manusia dari gigitan nyamuk sebesar 98,3%. Kemampuan proteksi losion anti nyamuk dengan campuran minyak atsiri serai wangi bergantung pada konsentrasi, dimana konsentrasi 5% memberikan proteksi 100% selama 2 jam dan 99% selama 4 jam terhadap nyamuk Aedes aegypti (Arpiwi, et al. , 2. Tawatsin et al. , . dalam penelitiannya mengenai perbandingan kemampuan anti nyamuk minyak atsiri dari serai jeruk nipis, sereh, dan daun basil dengan DEET menunjukkan bahwa minyak atsiri dari sereh wangi menunjukkan waktu proteksi paling lama, yaitu selama 4 jam. Namun, untuk memahami batasan durasi proteksi tersebut, perlu ditinjau dari sisi stabilitas senyawa aktif utama dalam minyak sereh wangi, yaitu sitronelal. Efektivitas repelan sangat bergantung pada dua faktor utama, yaitu volatilitas . emudahan mengua. dan stabilitas kimia senyawa aktif (Regnault-Roger et al. , 2. Sitronelal, sebagai aldehid monoterpena. Vol. No. Tahun 2025 Effect of Time and Storage Conditions on the Stability of Citronellal Lotion memiliki volatilitas tinggi yang esensial untuk menciptakan lapisan uap pelindung di sekitar kulit dan mengusir nyamuk. Akan tetapi, tingkat penguapan yang tinggi ini pula yang menyebabkan konsentrasinya menurun drastis seiring waktu, sehingga efikasinya berkurang (Nerio et al. Faktor pembatas kedua dan yang paling krusial adalah stabilitas kimia sitronelal. Sebagai senyawa dengan gugus fungsi aldehid dan ikatan rangkap, sitronelal sangat rentan terhadap degradasi melalui jalur auto-oksidasi dan fotodegradasi (Turek & Stintzing, 2. Paparan terhadap oksigen, sinar UV . ari matahar. , dan suhu tinggi dapat memicu reaksi oksidasi yang mengubah sitronelal menjadi senyawa turunan seperti asam sitronelat atau produk polimerisasi lainnya, yang memiliki aktivitas repelan jauh lebih rendah atau bahkan tidak ada sama sekali (Bakkali et al. , 2. Proses degradasi inilah yang menjadi alasan utama mengapa efikasi produk berbasis minyak atsiri seringkali menurun tajam setelah beberapa jam aplikasi. Oleh karena itu, stabilitas sediaan losion secara keseluruhan memegang peranan vital. Formulasi sediaan topikal tidak hanya berfungsi sebagai pembawa, tetapi juga harus mampu melindungi senyawa aktif dari degradasi. Stabilitas repelan losion yang mengandung minyak atsiri akan sangat dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan seperti suhu, cahaya, dan ketersediaan Kondisi penyimpanan yang tidak sesuai dapat menyebabkan beberapa kemungkinan yang dapat menurunkan kualitas dan efektivitas losion seperti perubahan warna, perubahan viskositas dan timbulnya aroma menyengat hasil oksidasi minyak atsiri (Turek & Stintzing, 2. Apalagi, produk dari oksidasi senyawa terpenoid dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit (Christensson et al. , 2. Sementara itu, losion-losion yang dipasarkan biasanya diproduksi secara massal dan mengalami proses yang panjang dan waktu yang cukup lama sebelum sampai ke konsumen. Permasalahan utama pada losion berbahan minyak atsiri adalah mudahnya terjadi degradasi komponen aktif akibat suhu dan cahaya. Oleh karena itu, perlu kajian lebih lanjut mengenai stabilitas sitronelal dalam losion pada berbagai kondisi penyimpanan. Dalam penelitian ini akan dilakukan pengujian untuk mengetahui pengaruh waktu dan kondisi penyimpanan terhadap stabilitas losion sitronelal yang mencakup parameter pH, viskositas, dan kadar sitronelal dalam losion. METODOLOGI Alat & Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah Kromatografi Gas (Shimadzu 2010 Plu. , pH meter (Mettler Toledo Seven Compac. Viscometer (Brookfield DV2T), neraca analitik (Sartorius Basi. , oven (Memmer. , helipath spindle 96, vial, sonikator, labu takar 25 dan 100 mL, gelas piala, pipet volumetri 5 mL, nylon syringe filter 0,45 m, syringe, bulb dan pipet Sementara bahan yang digunakan adalah sampel losion sitronelal komersil 0,8% . , aseton (Sigma Aldric. Natural Sitronelal (NC). Dibutil Ftalat (DBP) (Sigma Aldric. , buffer pH 4. 7 dan 10 serta air suling. Sampel losion sitronelal yang digunakan diperoleh langsung dari produsennya, yaitu PT. X yang berlokasi di Kabupaten Bogor. Preparasi Sampel untuk pada Beberapa Kondisi Penyimpanan Sampel repelan losion 0,8% . sitronelal disiapkan dan diukur viskositas dan pH serta diuji kadar sitronelalnya sebagai nilai initial . Selanjutnya, sebanyak 50 g sampel dimasukkan ke dalam tube dan disimpan pada beberapa kondisi penyimpanan, yaitu di dalam . ruangan dingin dengan suhu terkontrol 25oC, . gudang dengan suhu terkontrol 30oC, . oven suhu 50AC dan . boks kaca bening yang ditempatkan di halaman terbuka sehingga terpapar cahaya matahari langsung. Parameter uji yang dilakukan adalah pengukuran viskositas dan pH, serta pengujian kadar sitronelal. Pengukuran dan pengujian parameter dilakukan setiap satu bulan sekali selama tiga bulan berturut-turut. Tahap Pengujian Pengukuran Viskositas Losion Vol. No. Tahun 2025 Effect of Time and Storage Conditions on the Stability of Citronellal Lotion Pengukuran viskositas dilakukan menggunakan viskometer Brookfield. Spindle yang digunakan adalah spindle helipath 96 dengan kecepatan 12 rpm. Waktu pengukuran adalah satu menit setiap satu sampel. Pengukuran pH Losion Pengukuran pH dilakukan menggunakan pH meter. Sebelum digunakan untuk pengukuran, pH meter dikalibrasi menggunakan larutan buffer pH 4. 7 dan 10. Elektroda yang telah dibilas, kemudian dicelupkan ke sampel sampai pH meter menunjukkan angka yang stabil dan dicatat sebagai nilai pH. Uji Panelis Lotion sitronelal yang sudah melewati uji stabilitas selama 3 bulan kemudian dilakukan uji panelis untuk menentukan keberterimaan viskositas dan pH losion. Pada pengujian ini terdapat 10 panelis. Parameter untuk uji viskositas yaitu kesukaan penuangan dan kemudahan Nilai panel adalah 1-5, semakin tinggi nilai panel maka semakin bagus kualitas losion. Parameter untuk uji pH adalah gatal, kulit kering dan iritasi, respon yang panelis yang diberikan adalah Auya atau tidakAy. Uji Kadar Sitronelal Preparasi Larutan Standar Kadar sitronelal diukur menggunakan kromatografi gas. Tahap pertama, dilakukan pembuatan larutan standar internal (ISTD) DBP 2500 ppm dan larutan standar induk natural sitronelal (NC) 4800 ppm. Selanjutnya, larutan standar campuran (DBP 2500 ppm NC 4800 pp. dibuat dengan cara mencampurkan masing-masing larutan ISTD DBP dan standar induk NC sebanyak 5 mL ke dalam labu takar 25 mL, ditera menggunakan aseton & dihomogenkan. Larutan standar uji yang sudah jadi selanjutnya disaring dengan nylon syringe filter 0,45 m dan dimasukkan ke vial sebanyak dua buah untuk diinjeksikan ke instrumen KG. Preparasi Sampel Sebanyak 1 g sampel losion ditimbang ke labu takar 25 mL, ditambahkan 10 mL aseton lalu dilakukan sonikasi selama 10 menit. Losion yang sudah larut ditambahkan 5 mL standar internal DBP 2500 mg/L, lalu ditera menggunakan aseton dan dihomogenkan. Larutan sampel uji yang sudah jadi selanjutnya disaring dengan nylon syringe filter 0,45 m dan dimasukkan ke vial untuk diinjeksikan ke instrumen KG. Pengondisian Instrumen GC Kromatografi gas yang digunakan adalah Shimadzu 2010 plus dengan parameter pengukuran sebagai berikut. Tabel 1. Kondisi Instrumen Kromatograf Gas yang digunakan Kondisi KG Ae 2010 Plus Shimadzu Kolom DB WAX Gas Pembawa Nitrogen Temperatur Injector 270 AC Temperatur Detektor 280 AC Jenis Detektor FID Volume Inject 1AAL Flow 2 mL/menit 30 mL/menit Vol. No. Tahun 2025 Effect of Time and Storage Conditions on the Stability of Citronellal Lotion Air Split Ratio 300 mL/menit Oven Program Rate (AC/meni. Temperatur (AC) Hold Time . HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sebelum sampai ke tangan konsumen, losion anti nyamuk harus melewati proses dan waktu yang panjang dari mulai produksi, distribusi, dan pemasaran ke berbagai tempat di Indonesia. Untuk mengetahui pengaruh beberapa kondisi penyimpanan yang mungkin dilalui losion sebelum sampai ke konsumen, maka dalam penelitian ini dilakukan uji stabilitas losion pada beberapa suhu/ kondisi, yaitu suhu 25oC, 30oC, 50oC, dan kondisi terpapar matahari lalu diukur stabilitasnya yang meliputi parameter viskositas, pH dan kadar sitronelal. Pengujian stabilitas ini dilakukan satu kali dalam sebulan selama tiga bulan. Kondisi suhu 25oC menggambarkan kondisi penyimpanan produk pada ruang yang menggunakan pendingin ruangan, seperti pada supermarket. Kondisi suhu 30oC menggambarkan kondisi penyimpanan produk pada ruangan yang tidak menggunakan pendingin ruangan, seperti warung dan toko. Kondisi suhu 50AC menggambarkan kondisi saat produk berada dalam kendaraan saat proses pendistribusian dan kondisi sun menggambarkan penyimpanan produk jika terkena sinar matahari. Pada pengujian ini, sampel dikemas dalam kemasan tube sesuai dengan kemasan losion setelah diproduksi. Uji Viskositas Viskositas adalah ukuran kekentalan suatu fluida yang menggambarkan hambatan dari suatu fluida tersebut saat mengalir. Fluida dengan viskositas yang lebih tinggi mempunyai resistansi internal yang lebih besar terhadap aliran karena gaya antar molekul yang lebih kuat sehingga laju alir berkurang (Panton, 2. Uji viskositas dilakukan untuk mengetahui konsistensi losion selama penyimpanan. Viskositas merupakan parameter penting dalam mengevaluasi stabilitas fisik suatu emulsi. Perubahan kecil dalam viskositas dari waktu ke waktu menunjukkan stabilitas fisik dan konsistensi yang lebih baik dan menjadi indikator kualitas formulasi losion (Pujiastuti & Nurani, 2. Grafik pengukuran viskositas losion selama tiga bulan dalam empat kondisi disajikan pada pada Gambar 1. Gambar 1. Grafik Hasil Pengukuran Viskositas Losion Vol. No. Tahun 2025 Effect of Time and Storage Conditions on the Stability of Citronellal Lotion Berdasarkan Gambar 1. Berdasarkan Gambar 1, viskositas losion pada bulan pertama meningkat pada kondisi suhu ruang dan gudang, sedangkan menurun pada kondisi oven dan paparan matahari. Peningkatan awal disebabkan pengukuran baseline . ulan ke-. dilakukan segera setelah pembuatan, sehingga nilai viskositas belum stabil. Setelah bulan kedua dan ketiga, seluruh kondisi penyimpanan menunjukkan penurunan viskositas. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin lama penyimpanan, viskositas losion semakin menurun. Persentase perubahan viskositas losion didapatkan dari selisih mutlak antara nilai pengukuran viskositas initial dan pengukuran viskositas pada bulan ke-1, ke-2 dan ke-3 dibandingkan dengan nilai pengukuran viskositas initial, lalu dikali 100%. Persentase perubahan viskositas selama 3 bulan disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Persentase Perubahan Viskositas Losion Selama 3 Bulan pada Empat Kondisi Penyimpanan Persentase Perubahan (%) Bulan ke Kondisi Ruang . AC) Gudang . AC) Oven . AC) Sun 33,85 3,90 30,47 55,32 12,52 16,42 39,59 68,85 22,68 28,24 52,61 74,12 Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa penyimpanan pada kondisi terpapar matahari dan suhu oven 50oC berpengaruh cukup signifikan terhadap viskositas losion. Hal ini dibuktikan pada bulan ke-3 viskositas losion pada kondisi terpapar sinar matahari langsung dan oven memiliki penurunan yang besar yaitu sebesar 74,12% dan 52,61%, sedangkan pada kondisi penyimpanan suhu ruang dan gudang hanya turun 22,68% dan 28,24%. Hal ini sesuai dengan pernyataan Shkreli et al. bahwa suatu emulsi sangat rentan terhadap suhu dan periode penyimpanan yang mengakibatkan penurunan viskositas dan peningkatan pencairan. Menurut Ravera et al. , semakin lama disimpan maka viskositas sediaan emulsi akan turun karena semakin lama penyimpanan maka ukuran partikel dari fase terdispersi emulsi akan semakin besar . sehingga menyebabkan menurunnya tahanan dari laju alir suatu emulsi dan nilai viskositas akan menurun. Terjadinya penurunan viskositas selama penyimpanan juga dapat terjadi penurunan kemampuan pengemulsi untuk mempertahankan stabilitas emulsi atau kemungkinan disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme yang menghasilkan enzim yang dapat mendegradasi komponen emulsi sehingga mempengaruhi viskositas (Tadros, 2013. Roy et al. Berdasarkan Tabel 2 juga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi suhu kondisi penyimpanan maka viskositas mengalami penurunan yang lebih besar. Persentase perubahan viskositas pada bulan ke-3 naik secara linier dengan naiknya suhu kondisi penyimpanan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Panton . bahwa viskositas berbanding terbalik dengan suhu. Peningkatan suhu dapat mengganggu keseimbangan gaya tarik menarik antar partikel dalam sistem emulsi. Ketika mengalami perubahan suhu, molekul-molekul dalam emulsi menjadi lebih aktif dan bergerak lebih cepat sehingga molekul dalam emulsi menjadi lebih renggang karena kohesi molekuler emulsi semakin berkurang. Ketika molekul yang awalnya tersusun rapat berubah menjadi lebih renggang, maka spindle viskometer lebih mudah untuk melewati emulsi, sehingga nilai viskositas yang terukur lebih kecil (Damayanti et al. , 2. Losion yang sudah diukur viskositasnya selama tiga bulan akan ditentukan keberterimaannya melalui uji panelis. Hasil pengukuran viskositas losion ditentukan oleh konsumen dengan melakukan kegiatan uji panelis terhadap sepuluh orang. Losion yang digunakan adalah losion dalam kondisi penyimpanan suhu ruang sebagai standar dan losion kondisi penyimpanan terkena sinar matahari . langsung sebagai losion yang diuji karena Vol. No. Tahun 2025 Effect of Time and Storage Conditions on the Stability of Citronellal Lotion losion dalam kondisi sun memiliki viskositas yang paling rendah. Rentang nilai yang digunakan adalah 1-5, semakin tinggi nilai maka semakin bagus kualitas losion. Suatu losion dapat diterima jika memiliki nilai rata-rata uji panelis tidak kurang dari tiga. Data hasil panel losion disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Data Hasil Panel Viskositas Losion Sitronelal Kesukaan Penuangan Mudah Diratakan Responden Ruang Sun Ruang Sun Ulfi Egi Nadia Melvie Fhatia Mala Alika Ken Yayan Joni Average 3,05 2,55 3,10 2,95 Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa rerata aspek kesukaan penuangan dan kemudahan diratakan untuk losion pada kondisi suhu kamar berturut-turut sebesar 3,05 dan 3,10. Hal ini berarti losion yang disimpan pada suhu kamar dapat dikatakan stabil berdasarkan data panel terhadap konsumen. Hal ini juga berarti losion pada kondisi penyimpanan suhu 30oC bisa dikatakan stabil karena nilai viskositasnya pada bulan ketiga . 30 Cp. tidak berbeda jauh dengan viskositas losion pada penyimpanan suhu kamar . 00 Cp. Sementara itu, losion kondisi sun memiliki nilai rerata panel berturut-turut sebesar 2,55 dan 2,95 untuk parameter kesukaan penuangan dan kemudahan diratakan. Hal ini berarti losion kondisi sun tidak dapat diterima oleh konsumen dan dinyatakan tidak stabil karena nilai panel konsumen memiliki rerata dibawah tiga. Berdasarkan data pada Tabel 3, dapat kita simpulkan bahwa losion sitronelal yang diuji stabil viskositasnya pada penyimpanan kondisi penyimpanan dengan suhu sekitar 25-30EE. Uji pH Pengukuran pH dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui derajat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu sediaan topikal yang dapat memengaruhi kenyamanan pada saat diaplikasikan (Ande, 2. Grafik hasil pengukuran pH losion sitronelal disajikan pada Gambar 2. Gambar 2. Grafik Hasil Pengukuran pH Losion Vol. No. Tahun 2025 Effect of Time and Storage Conditions on the Stability of Citronellal Lotion Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat bahwa tidak ada perubahan pH yang signifikan selama 3 bulan pada semua kondisi penyimpanan. Namun, perubahan terkecil terjadi pada kondisi penyimpanan suhu ruang . urva hampir data. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ini adalah kondisi yang paling stabil untuk penyimpanan losion. Selama tiga bulan pengukuran pH, losion sitronela pada semua kondisi menunjukkan pH antara 6,04-7,65. Rentang pH tersebut masih memenuhi syarat keberterimaan pelembab kulit yaitu pH 4,5-8 (Badan Standarisasi Nasional, 1. Apabila pH sediaan terlalu asam, maka akan mengiritasi kulit sehingga timbul rasa terbakar, sedangkan apabila terlalu basa, maka akan menimbulkan rasa kering dan gatal (Lukic et al. , 2. Hal ini dibuktikan pula dengan pengujian losion terhadap sepuluh panelis yang tidak menunjukkan keluhan seperti iritasi dan kulit kering, sehingga dapat dipastikan pH losion selama tiga bulan dalam semua kondisi stabil dan aman bagi kulit. Selanjutnya, persentase perubahan pH losion selama 3 bulan disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Persentase Perubahan pH Losion Selama 3 Bulan Persentase Perubahan (%) Bulan KeKondisi Ruang . AC) Gudang . AC) Oven . AC) Sun 2,08 10,40 21,46 20,94 2,47 18,00 13,13 17,56 1,17 2,17 5,20 10,92 Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa kondisi penyimpanan berpengaruh terhadap pH Semakin stabil kondisi penyimpanan maka persentase perubahan pH akan semakin kecil. Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa pH relatif stabil pada suhu ruang/gudang, sedangkan perubahan signifikan terjadi pada oven/sun dengan persentase perubahan pH mencapai lebih dari 20%. Hal ini menandakan bahwa kedua kondisi tersebut bukan kondisi yang sesuai untuk penyimpanan losion. Perubahan pH pada lotion anti-nyamuk yang mengandung minyak sitronela selama penyimpanan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya degradasi bahan aktif, ketidakstabilan emulsi, pengaruh lingkungan, atau akibat adanya pertumbuhan ragi dan jamur (Marquele-Oliveira et al. , 2007. Kamaruzaman & Yusop, 2. Mukhlishin et al. juga mengatakan bahwa meskipun secara fisik stabil, lotion sitronela akan tetap mengalami fluktuasi pH karena pengaruh bahan tambahan seperti emulgator dan pengawet yang bisa mengalami degradasi atau reaksi kimia yang memengaruhi pH. Selain itu, salah satu penyebab menurunnya pH adalah terjadinya lipolisis yang melepaskan asam lemak dari minyak (Baird, 2. Uji Kadar Sitronelal Pengujian kadar sitronelal dilakukan menggunakan kromatografi gas. Pengujian kadar sitronelal dilakukan menggunakan metode internal standar (ISTD). Internal standar yang digunakan yaitu dibutil ftalat (DBP). DBP digunakan sebagai internal standar dikarenakan memiliki kemurnian yang tinggi dan peak nya terpisah sempurna dengan sitronelal. Internal standar dalam larutan sampel ataupun larutan standar yang ditambahkan digunakan sebagai pembanding tetap untuk memperoleh rasio. Rasio luas area standar internal terhadap luas area analit adalah parameter analisis. Untuk menghitung kadar losion sitronelal maka %RSD dari rasio luas area standar natural sitronelal (NC) dan ISTD DBP dalam standar mix harus <2%. Kadar sitronelal pada losion dan %RSD rasio NC/DBP dalam standar mix dapat dilihat pada Tabel 5. Vol. No. Tahun 2025 Effect of Time and Storage Conditions on the Stability of Citronellal Lotion Tabel 5 . Data Hasil Pengujian Kadar Sitronelal dan %RSD Rasio NC/DBP dalam Standar Mix Kadar Sitronelal (% . ) %RSD Rasio Bulan KeNC/DBP Ruang . AC) Gudang . AC) Oven . AC) Sun 0,80 0,63 0,60 0,58 0,80 0,58 0,56 0,53 0,80 0,38 0,29 0,19 0,80 0,68 0,56 0,39 0,7326 0,7950 0,3740 0,8731 Berdasarkan Tabel 5, %RSD rasio NC/DBP dalam standar mix <2% yang berarti suitabilitas alat baik, sehingga hasil analisis dari kromatografi gas dapat diolah untuk menentukan kadar Data initial kadar sitronelal adalah 0,8% b/b yang artinya sesuai dengan hipotesis dalam formulasi. Kadar sitronelal dalam losion setiap bulannya mengalami penurunan. Penurunan terbesar terjadi pada kondisi oven dan sun. Grafik penurunan kadar sitronelal disajikan pada Gambar 3. Gambar 3. Grafik Kadar Sitronelal pada Losion Berdasarkan Gambar 3 penurunan kadar sitronelal pada kondisi ruang dan gudang hampir sama untuk tiap bulannya. Hal ini menunjukkan tidak terjadi perbedaan yang signifikan antara penyimpanan losion di ruangan yang menggunakan pendingin ruangan atau tidak. Selain itu, dapat dilihat bahwa penurunan kadar sitronelal pada kondisi oven lebih besar daripada kondisi terpapar matahari dengan persentase perubahan kadar sitronelal dalam losion dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Persentase Perubahan Kadar Sitronelal dalam Losion Selama 3 Bulan Persentase Perubahan (%) Kondisi Bulan keRuang . AC) Gudang . AC) Oven . AC) Sun 21,25 27,50 52,50 15,00 25,00 30,00 63,75 30,00 27,50 33,75 76,25 51,25 Berdasarkan data pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa kadar sitronelal sudah tidak stabil dari bulan pertama. Penurunan kadar terus berlanjut sampai bulan ketiga untuk setiap kondisi Hal ini terjadi karena minyak sitronela merupakan minyak atsiri yang memiliki sifat mudah menguap (Saputra et al. , 2. Sementara, kemasan tube yang digunakan tidak dilengkapi seal atau barrier sehingga kemasan menjadi tidak kedap udara dan memungkinkan menguapnya sejumlah losion dari udara sehingga kadarnya menjadi berkurang selama waktu Vol. No. Tahun 2025 Effect of Time and Storage Conditions on the Stability of Citronellal Lotion Persentase perubahan kadar sitronela pada kondisi oven mencapai 1-3 kali lebih besar daripada kondisi sun. Hal ini disebabkan karena panas yang diterima oleh losion pada kondisi penyimpanan oven jauh lebih banyak/intens daripada ketika terpapar matahari. Selama percobaan, losion secara kontinyu terpapar udara panas dari oven selama 3 bulan. Sementara, sampel hanya terpapar matahari sekitar 12 jam per hari selama 3 bulan. Karena paparan panas lebih tinggi, maka semakin banyak pula minyak sitronelal yang menguap. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa untuk mempertahankan kualitas losion, penyimpanan pada suhu kamar dan suhu gudang adalah kondisi yang optimal. Namun, tantangan terbesar terletak pada proses distribusi, di mana suhu dalam transportasi diperkirakan dapat mencapai 40AC atau lebih, yang berisiko menyebabkan perubahan tekstur, pemisahan fase . ntara minyak dan ai. , dan penurunan efektivitas bahan aktif yanga secara tidak langsung mengakibatkan masa simpan efektif losion menjadi lebih pendek dari yang tertera pada kemasan. Oleh sebab itu, diperlukan adanya kontrol suhu selama proses pengiriman, seperti menggunakan armada berpendingin . old chain logistic. atau setidaknya menerapkan strategi untuk meminimalkan paparan panas langsung, terutama untuk pengiriman jarak jauh atau saat cuaca panas. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa lama penyimpanan dan suhu penyimpanan berpengaruh nyata terhadap stabilitas losion sitronelal. Viskositas dan kadar sitronelal menurun signifikan seiring waktu, khususnya pada suhu tinggi . AC) dan paparan matahari Pada bulan ketiga, viskositas menurun hingga 74,12% pada kondisi paparan matahari dan 52,61% pada oven, sedangkan perubahan pH terbesar tercatat pada oven . ,46%) dan paparan matahari . ,94%). Kadar sitronelal juga menurun tajam, mencapai 76,25% pada oven dan 51,25% pada kondisi paparan matahari. Hasil ini menegaskan bahwa penyimpanan pada suhu kamar . Ae30 AC) lebih optimal dalam mempertahankan kualitas produk, sementara paparan panas dan cahaya langsung harus dihindari dalam proses distribusi dan penyimpanan. DAFTAR PUSTAKA