SILABUS: Jurnal Ilmu dan Inovasi Pendidikan Vol. 1 No. Agustus 2024, pages: 63-72 DOI: https://doi. org/10. 62667/silabus. e-ISSN: 3047-1044 https://berugakbaca. org/index. php/silabus ANALISIS PEMBELAJARAN PENDIDIDKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN DAN PENANAMAN KARAKTER SISWA DI MTs MAAoARIF NU 2 SUTOJAYAN Laila Binti Lailatul Faizah1. Minto Santoso. ,S. Pd. Pd2. Arik Cahyani M. Pd3 Universitas Islam Balitar Blitar Bintilailatulfaizah24@gmail. Article History Manuscript submitted: 16 Agustus 2024 Manuscript revised: 20 Agustus 2024 Accepted for publication: 23 Agustus 2024 Keywords Civics learning, character building. Pancasila and civic education. Abstract Learning is a combination of two activities, learning and teaching. Methodological learning activities tend to be more dominant among students, while instructional teaching is carried out by teachers. So, the term learning is a summary of the words learning and teaching. Learning is usually provided by educators so that the process of acquiring knowledge and knowledge, mastering skills and habits, as well as forming attitudes and beliefs in students can occur. In other words, learning is a process to help students learn well. Pancasila and Citizenship Education (PPK. is an important component of learning in schools, both formal and informal schools. We can see this from the existence of PPKn subjects at various levels of education, from elementary school (SD), junior high school (SMP). High School (SMA) or In accordance with the opening words of the 1945 Constitution, "to make the life of the nation intelligent" which is the ideal of the Indonesian nation, is one of the drivers that Pancasila and Citizenship Education is very important in learning. Pancasila and citizenship education is an important part of the education curriculum in Indonesia. MTs Ma'arif NU 2 Sutojayan integrates Pancasila and citizenship learning into existing subjects. This learning aims to teach the basic values of Pancasila, the rights and obligations of citizens, as well as knowledge about the Indonesian government system. The importance of learning Pancasila and citizenship education is to form citizens who have a good understanding of their duties and responsibilities in society and government. SILABUS@ 2024 PENDAHULUAN Pembelajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas belajar dan mengajar. Aktivitas belajar secara metodologis cenderung lebih dominan pada siswa, sementara mengajar secara instruksional dilakukan oleh guru. Jadi, istilah pembelajaran adalah ringkasan dari kata belajar dan mengajar. Pembelajaran biasanya diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. adalah komponen yang penting dalam sebuah pembelajaran di sekolah, baik sekolah formal maupun yang informal. Hal demikian dapat kita lihat dari keberadaan mata pelajaran PPKn di berbagai jenjang pendidikan baik dari Sekolah Dasar (SD), sekolah Menengah Pertama (SMP). Sekolah Menengah Atas (SMA) ataupun di perguruan tinggi. Sesuai bunyi pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Aumencerdaskan kehidupan bangsaAy yang merupakan cita-cita bangsa Indonesia adalah salah satu pendorong bahwa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sangatlah penting di suatu pembelajaran. Pendidikan karakter pada dasarnya hampir sama dengan pendidikan akhlak mulia bagi peserta Pendidikan karakter melibatkan aspek pengetahuan atau cognitive, perasaan atau feeling, tindakan atau action, dan sosial. Empat aspek tersebut yang dapat menguatkan karakter anak di dalam menjalankan kehidupan. Peserta didik hendaknya diarahkan dalam pengembangan bidang kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual, spiritual, sosial dan emosional. Melalui kecerdasan empat ranah tersebut nantinya penyelengaraan pendidikan Indonesia dapat dilaksanakan dan dijalankan dengan baik. Dilihat dari tahapan perkembangan yang disetujui oleh banyak ahli, anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) berada pada tahap perkembangan pubertas . -14 tahu. Menurut Desmita . ada beberapa karakteristik siswa usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah terjadinya ketidak seimbangan proporsi tinggi dan berat badan, mulai timbulnya ciri-ciri seks sekunder, kecenderungan ambivalensi, serta keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul, serta keinginan utuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua, senang membandingkan kaedah-kaedah, nilai-nilai etika atau norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa. Dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia pesantren telah berhasil membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang berhasil. Sangat banyak tokoh, pahlawan dan ulama di berbagai level sosial yang lahir dari rahim pesantren, disamping lebih banyak lagi warga masyarakat yang telah dicerahkan lewat lembaga pendidikan tertua di Indonesi Dalam masyarakatnya, mereka memiliki peran yang sangat signifikan untuk membentengi akidah masyarakat sekaligus memajukan kehidupan beragamanya menjadi lebih baik. Berangkat dari fakta historis seperti itu. MTs MaAoarif NU 2 Sutojayan yang bersistem boarding school meyakini bahwa memadukan pendidikan formal dan pendidikan ala pesantren akan menjadi faktor utama keberhasilan sebuah lembaga pendidikan. Maka, sejak awal sekolahan menerapkan sistem tinggal di pondok pesantren . oarding school syste. bagi semua lembaga pendidikan yang Dengan sistem ini banyak nilai lebih yang bisa diperoleh, diantaranya: Sistem boarding school memberikan peluang lebih kepada lembaga untuk melakukan rekayasa lingkungan belajar sehingga lebih kondusif bagi tercapainya tujuan pendidikan. Rekayasa lingkungan ini juga penting bagi pelaksanaan program pengembangan bahasa asing, sehingga pondok selain menjadi tempat belajar juga sekaligus sebagai area untuk mempraktekkan bahasa asing yang dipelajari. Pondok pesantren adalah proteksi yang efektif bagi masuknya perilaku dan budaya destruktif yang berpotensi merusak generasi muda, seperti miras, narkoba, pergaulan bebas dan pornografi dsb. Dalam pesantren perilaku siswa dan interaksinya dengan dunia luar dipantau 24 jam. Pesantren adalah tempat yang kondusif untuk berlatih mempraktekkan nilai-nilai moral . dan berbagai amaliyyah ibadah, serta menumbuh kembangkan karakter-karakter Hasil yang diharapkan adalah para siswa memiliki kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ) yang baik, di samping juga memiliki kecerdasan intelktual yang memadai. Di Pondok Pesantren Nurus Salam Lodoyo seluruh siswa MTs MaAoarif NU 2 Sutojayan dilatih untuk mengamalkan 9 ubudiyyah santri, yaitu: sholat jamaah, shalat rawatib, shalat witir, shalat dhuha, shalat tahajjud, puasa Senin dan Kamis, dawamul wudhuAo . enjaga kesucian dari hadas keci. , membaca al-QurAoan dan istighatsah. Sistem pesantren memberikan keleluasaan bagi lembaga untuk memberikan porsi pembelajaran dan pendidikan kepada siswa lebih banyak dari pada jika mereka tinggal di rumah, khususnya terkait materi-materi keagamaan. Bentuknya di MTs Maarif NU 2 Sutojayan adalah penambahan pembelajaran diniyyah dan program pengembangan Bahasa Arab, di luar pembelajaran formal yang mengacu pada kurikulum pendidikan nasional. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disebutkan diatas, peneliti tertarik untuk mengambil penelitian di MTs MaAoarif NU 2 Sutojayan dikarenakan siswa memiliki karakter yang berbedabeda sesuai dengan latar belakang sekolah sebelumnya. Dari hasil pengamatan di MTs tersebut ditemukan sebagian besar siswa melanggar aturan sekolah seperti membolos, berkata kotor, terlambat masuk kelas, dan ada beberapa siswa yang tidak menghormati bapak dan ibu guru disana. Hal ini menarik minat saya untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan memberikan solusi terkait analisis yang berkaitan dengan pembelajaran karakter. Berdasarkan penelitian diatas terdapat tujuan penelitian yaitu dapat mengetahui pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan di MTs MaAoarif NU 2 Sutojayan, dapat mengetahui pola Pendidikan karakter dalam pembelajaran Pendidikan panasila dan kewaraganeragaan di MTs MaAoarif NU 2 Sutojayan, serta dapat mengetahui hasil pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan dalam pembentukan karakter siswa MTs MaAoarif NU 2 Sutojayan. METODE PENELITIAN Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono,2015. Teknik analisis data penelitian yang dilakukan yaitu deskriptif kualitatif dengan metode penelitian deskriptif analisis. Deskriptif analisis adalah metode yang menggambarkan dan memberikan analisa terhadap kenyataan lapangan yang nantinya menghasilkan data berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang atau perilaku yang diamati, agar menggambarkan suatu fenomena secara tepat, sifat individu, keadaan, gejala atau kelompok sosial tertentu yang terjadi di suatu masyarakat. Dengan berbagai cara yang dilakukan yakni wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pada tahap wawancara ini peneliti mendapatkan sumber data dari 4 narasumber diantaranya 2 guru PPKn dan 2 pendamping asrama. Dalam tahap wawancara ini peneliti mendapatkan hasil data berupa informasi terkait proses pembelajaran PPKn, penanaman karakter siswa dan hasil yang diperoleh dari proses pembelajaran dan penanaman karakter tesebut. Pengambilan data ini dilakukan kurang lebih 2 bulan. Sumber data yang diperoleh juga berasal dari mengamati langsung situasi yang ada Selanjutnya dokumentasi ini peneliti memperoleh buku kurikulum, buku catatan pelanggaran siswa, buku catatan nilai harian siswa, absensi siswa sekolah dan absensi sholat HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini adalah Pola Pembelajaran Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Dan Penanaman Karakter Siswa Di MTs MaAorif NU 2 Sutojayan. Pola pembelajaran PPKn di MTs MaAoarif NU 2 Sutojayan RPP Media Pembelajaran Perencanaan Struktur Pembelajaran Sumber Belajar Penilaian Pengajaran Pola Pembelajaran PPKn Pelaksanaan Aktivitas Siswa Pemantauan Penilaian Formatif Penilaian Sumatif Evaluasi Umpan Balik Refleksi a. Tahap Perencanaan Pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) melibatkan sejumlah tahap yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Berikut adalah deskripsi singkat dari masing-masing tahap ini: Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) adalah salah satu mata pelajaran yang penting dalam sistem pendidikan di Indonesia. Pola pembelajaran PPKN yang baik dimulai dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang komprehensif dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, maka guru menyediakan media pembelajaran seperti video, gambar, atau presentasi interaktif, hal tersebut dapat membantu meningkatkan keterlibatan siswa. Dengan menggunakan media visual, siswa dapat lebih mudah memahami konsep-konsep abstrak dalam PPKn. Struktur pembelajaran dalam PPKn mencakup beberapa komponen penting. Pertama, tujuan pembelajaran yang jelas, yang mencakup pengembangan sikap demokratis, kecintaan pada negara, dan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Kedua, materi ajar yang berfokus pada konsep-konsep PPKn, sejarah, nilai-nilai, dan isuisu terkini dalam konteks kewarganegaraan. Ketiga, metode pembelajaran yang interaktif dan partisipatif, seperti diskusi, studi kasus, simulasi, dan proyek sosial. Keempat, evaluasi yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Sumber belajar dalam pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, sikap, dan perilaku peserta didik terkait nilai-nilai Pancasila, demokrasi, hak asasi manusia, dan kewarganegaraan. Sumber belajar dalam PPKn mencakup beragam materi, mulai dari teks buku, artikel, dokumen resmi, hingga sumber-sumber digital seperti video, situs web, dan media sosial yang relevan. Penilaian dalam pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) memiliki peran penting dalam mengukur pemahaman dan perkembangan peserta didik terkait dengan nilai-nilai kebangsaan, norma, etika, serta konsep-konsep kewarganegaraan. Penilaian dalam mata pelajaran PPKN dapat berlangsung dalam beberapa bentuk, termasuk ujian tertulis, presentasi lisan, proyek individu atau kelompok, diskusi kelas, serta tugas Tahap Pelaksanaan Pengajaran pada tahap pelaksanaan pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) adalah sebuah proses pendidikan yang berfokus pada pembentukan karakter, kesadaran kewarganegaraan, dan pemahaman prinsip-prinsip dasar Guru dalam mata pelajaran PPKN harus memastikan bahwa pembelajaran berlangsung interaktif, inspiratif, dan kontekstual. Mereka harus mampu memfasilitasi diskusi, debat, dan berbagai kegiatan partisipatif yang memungkinkan siswa untuk memahami prinsip-prinsip demokrasi, hak asasi manusia, serta tanggung jawab sebagai warga negara. Pada tahap pelaksanaan pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), siswa terlibat dalam berbagai aktivitas yang bertujuan untuk memahami, menginternalisasi, dan mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila serta memahami sistem pemerintahan dan kewarganegaraan. Pemantauan pada tahap pelaksanaan pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) merupakan aspek penting dalam proses pendidikan yang bertujuan untuk memastikan efektivitas, kualitas, dan kesesuaian pelaksanaan materi pembelajaran dengan tujuan pembelajaran PPKN. Tahap Evaluasi Penilaian formatif pada tahap evaluasi pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) merupakan salah satu komponen penting dalam proses pendidikan yang bertujuan untuk memantau dan memperbaiki pemahaman serta kemampuan siswa dalam memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai pancasila dan kewarganegaraan dalam kehidupan sehari-hari. Penilaian sumatif dalam evaluasi pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) adalah suatu proses yang dilakukan untuk mengukur sejauh mana pencapaian siswa dalam memahami, menginternalisasi, dan menerapkan nilai-nilai, norma, dan prinsip-prinsip dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Umpan balik pada evaluasi pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) sangatlah penting dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan pencapaian tujuan pendidikan. Umpan balik ini merupakan mekanisme yang digunakan untuk mengukur sejauh mana pencapaian hasil pembelajaran serta efektivitas metode pengajaran yang diterapkan dalam mata pelajaran PPKN. Refleksi dalam evaluasi pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) adalah sebuah proses penting yang memungkinkan guru dan siswa untuk mengintrospeksi dan mengevaluasi pengalaman pembelajaran mereka dalam mata pelajaran tersebut. Pola Penanaman Karakter dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Materi Pembelajaran Pola Pelaksanaan Pendidikan Karakter Peringatan Hari Kebangsaan Praktik Ibadah Harian Aturan-aturan Sekolah Pola pendidikan karakter dalam materi pembelajaran dilakukan dengan kegiatan menanamkan nilai karakter dilakukan secara berkelanjutan dengan cara memberikan penuturan dan kalimatkalimat motivasi untuk para siswa. Guru memberikan motivasi dan penanaman nilai karakter yang dihubungkan dengan materi pembelajaran. Peringatan Hari Kebangsaan merupakan momen penting dalam kalender nasional yang memperkuat rasa kebangsaan dan semangat persatuan di tengah masyarakat. Pola penanaman karakter yang terintegrasi dalam peringatan tersebut memiliki peran penting dalam membangun kesadaran akan nilai-nilai kebangsaan yang menjadi landasan utama bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kemudian Praktik ibadah harian memiliki peran yang signifikan dalam pola penanaman karakter, membentuk landasan moral, spiritual, dan etika bagi individu. Ibadah harian tidak hanya merupakan kewajiban agama, tetapi juga menjadi pijakan untuk pengembangan kepribadian yang baik. Pola pendidikan karakter dalam aturan-aturan sekolah dilakukan dengan adanya peraturan mengenai kedisiplinan, kejujuran, dan juga kemandirian. Ketiganya dilakukan sesuai dengan cara masing Ae masing guru. Adapun kedisiplinan yang dilakukan oleh guru yakni menekankan bahwa kedisiplinan penting untuk kehidupan sehari hari dan juga guru selalu melakukan pemeriksaan kedisiplinan sebelum memulai pembelajaran. Sedangkan dalam aspek kejujuran guru selalu berusaha untuk memberikan dan mencontohkan bagaimana sikap yang jujur dan juga sopan. Guru juga memberikan ruang kepada siswa untuk menejlaskan sesuatu dengan bahasanya dan sesuai dengan fakta. Sedangkan untuk aspek kemandirian guru selalu memberikan pengertian dan peraturan dengan ketat berdasarkan kebersihan kelas dan peraturan piket kelas. Hasil Pola Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam Penanaman Karakter Siswa MTs MaAorif NU 2 Sutojayan Aspek Disiplin Hasil Pola Pelaksanaan Pendidikan Karakter Aspek Kejujuran Aspek Kemandirian Dalam implementasi di MTS MaAoarif NU 2 Sutojayan pendidkan karakter tidak lepas dari peran seorang guru. Hasil dari penerapan pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam penanaman karakter disiplin di sekolah menunjukkan dampak yang signifikan. Para siswa mampu menunjukkan sikap disiplin yang tinggi dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Mereka dapat mengikuti aturan dengan konsisten, tiba tepat waktu, dan menyelesaikan tugas-tugas dengan penuh tanggung jawab. Hasil dari pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam penanaman karakter kejujuran di sekolah kami menunjukkan dampak yang signifikan. Melalui berbagai metode pembelajaran interaktif yang melibatkan diskusi kelompok, simulasi situasi kehidupan nyata, dan proyek berbasis kejujuran, siswa-siswa kami mampu menginternalisasi nilai-nilai kejujuran secara mendalam. Hasil dari pola pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam penanaman karakter kemandirian di sekolah adalah terciptanya generasi muda yang memiliki kemandirian yang kuat. Melalui pendekatan yang holistik dan terintegrasi, siswa belajar untuk mengenali dan memahami nilai-nilai kebangsaan serta prinsip dasar Pancasila yang merupakan landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara KESIMPULAN Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan merupakan bagian penting dari kurikulum Pendidikan di Indonesia. MTs MaAoarif NU 2 Sutojayan mengintegrasikan pembelajaran Pancasila dan kewarganegaraan kedalam mata Pelajaran yang ada. Pembelajaran ini bertujuan untuk mengajarkan nilai-nilai dasar Pancasila, hak dan kewajiban warga negara, serta pengetahuan tentang system pemerintahan Indonesia. Pentingnya pembelajaran Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan adalah untuk membentuk warga negara yang memiliki pemahaman yang baik tentang tugas dan tanggung jawab mereka dalam Masyarakat dan DAFTAR PUSTAKA