Kaligis & Yunita,HTMJ. Vol. 23 No. HANG TUAH MEDICAL JOURNAL journal-medical. Research article Pola Pemanfaatan Bahan Alam sebagai Terapi Komplementer Hipertensi di Puskesmas Pancasan CLAUDIA ANASTASYA KALIGIS1. FENNY YUNITA2 Program Studi Sarjana Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta Bagian Farmakologi. Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta Alamat email penulis korespondensi: fenny@fk. Abstract Hypertension is one of the main causes of death in Indonesia. This condition is characterized by a systolic blood pressure of Ou140 mmHg and a diastolic pressure of Ou90 mmHg. According to the WHO, recommended conventional drug therapy includes diuretics, angiotensin receptor blockers (ARB. , angiotensin-converting enzyme inhibitors (ACEI. , and long-acting dihydropyridine calcium channel Several studies have shown that several natural ingredients commonly consumed daily have potential as antihypertensive agents. These natural ingredients include garlic Allium sativum, celery (Apium graveolen. , and cucumber (Cucumis sativu. Based on the 2023 Indonesian Health Survey, the proportion of utilization of traditional health efforts in Indonesia was 32,5% and the proportion of utilization of family medicine gardens (TOGA) was 10%. This study aims to evaluate the pattern of use of natural antihypertensive ingredients in hypertensive patients seeking treatment at the Pancasan Community Health Center in December 2024. The research method employed a cross-sectional descriptive observation design, with a total of 110 hypertensive patients serving as respondents. Data were collected through interviews and questionnaires and presented in a descriptive The characteristics of the majority of respondents are women with an age range of 41-50 years, and the duration of suffering from hypertension is classified as long-term. This study indicates a high prevalence of natural product use as complementary therapy among hypertensive patients. Therefore, integrating evidence-based education on the safe and effective use of natural antihypertensive remedies is essential within primary healthcare settings. Keywords: antihypertensive, natural ingredients, hypertension Abstrak Hipertensi termasuk salah satu penyebab utama angka kematian di Indonesia. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah sistolik Ou140 mmHg dan Kaligis & Yunita,HTMJ. Vol. 23 No. diastolik Ou90 mmHg. Menurut WHO, terapi obat konvensional yang direkomendasikan meliputi diuretik, angiotensin receptor blocker (ARB), angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEI), serta calcium channel blocker golongan dihidropiridin kerja panjang. Sejumlah studi telah menunjukkan bahwa beberapa bahan alam yang umum dikonsumsi sehari-hari memiliki potensi sebagai Bahan alam tersebut antara lain bawang putih (Allium sativu. , seledri (Apium graveolen. , dan timun (Cucumis sativu. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, proporsi pemanfaatan upaya kesehatan tradisional di Indonesia sebesar 32,5% dan proporsi pemanfaatan taman obat keluarga (TOGA) sebesar 10%. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pola penggunaan bahan alam antihipertensi pada pasien hipertensi yang berobat di Puskesmas Pancasan pada bulan Desember tahun 2024. Metode penelitian adalah observasi deskriptif cross sectional dengan total responden sebanyak 110 pasien hipertensi. Data dikumpulkan melalui wawancara serta pengisian kuesioner dan disajikan secara Karakteristik responden mayoritas adalah perempuan dengan rentang usia 41-50 tahun dengan durasi menderita hipertensi tergolong jangka panjang. Studi ini menunjukkan tingginya prevalensi penggunaan produk alami sebagai terapi komplementer pada pasien hipertensi. Oleh karena itu, integrasi edukasi berbasis bukti mengenai penggunaan yang aman dan efektif dari obat antihipertensi alami sangat penting dalam layanan kesehatan primer. Kata kunci: antihipertensi, bahan alam, hipertensi PENDAHULUAN Gangguan kardiovaskular merupakan faktor yang mempengaruhi angka mortalitas di Indonesia. Salah satunya adalah hipertensi yang didefinisikan dengan kenaikan sistolik atau diastolik diatas nilai normal atau sedang mengkonsumsi obat Berdasarkan World Health Organization (WHO), tekanan darah yang membutuhkan terapi farmakologi adalah Ou140 untuk sistolik atau Ou90 mmHg untuk Pada pasien dengan komorbid batas nilai sistolik untuk pengobatan adalah 130-139 mmHg (WHO, 2. Pengobatan lini pertama yang direkomendasikan WHO meliputi diuretik . hiazide/thiazide like diureti. , angiotensin receptor blocker (ARB), angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE. , atau long acting dihydropyridine calcium channel blocker (CCB) (WHO, 2. Selain pengobatan konvensional, terdapat bahan alam yang memiliki efek antihipertensi. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan proporsi pemanfaatan upaya kesehatan tradisional sebesar 5% dan proporsi pemanfaatan taman obat keluarga (TOGA) sebesar 10% di Indonesia. Beberapa penelitian juga telah dilakukan antara lain, penelitian di Puskesmas wilayah Depok menemukan proporsi pengguna bahan alam sebagai Kaligis & Yunita,HTMJ. Vol. 23 No. terapi pendamping sebesar 39. 8% dari 123 pasien hipertensi (Gusmira, 2. Penelitian lainnya di Denpasar menemukan bahwa jenis herbal yang paling banyak digunakan adalah buah mentimun dengan proporsi 39% dan daun seledri dengan proporsi 30% (Suryaningsih & Septiari, 2. Sejumlah bahan alam yang terbukti manfaat antihipertensi menurut penelitian antara lain: . Bawang putih (Allium Sativu. terbukti menurunkan tekanan darah sistolik dengan meningkatkan produksi nitrat oksida, lipid peroksidase, vitamin, antioksidan, serta menurunkan stress oksidatif sehingga merelaksasi otot dan menginduksi vasodilatasi (Kamyab et al. , 2. Seledri (Apium graveolen. terbukti mengurangi nilai hipertensi tikus yang diinduksi deoxycorticosterone acetate (Chrysant & Chrysant, 2. Timun (Cucumis sativu. terbukti menurunkan hipertensi dengan penyebab angiotensin II pada percobaan tikus Wistar (Hendrayana et al. , 2. Berdasarkan data tersebut, diperlukan penelitian mengenai pola penggunaan bahan alam sebagai pengobatan tambahan antihipertensi di tingkat pelayanan primer. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan di Puskesmas Pancasan. Bogor, dengan tujuan untuk menggambarkan karakteristik pasien hipertensi serta variasi, durasi, dan cara penggunaan bahan alam sebagai terapi pendamping antihipertensi tahun 2024. METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk dalam bidang farmakologi. Desain penelitian ini adalah observasi deskriptif dengan bentuk cross sectional. Penelitian dilakukan pada seluruh pasien hipertensi yang datang ke Puskesmas Pancasan Bogor selama bulan Desember 2024. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner terstruktur yang divalidasi serta wawancara singkat dengan responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dan analisis data disajikan secara deskripitf dalam bentuk frekuensi dan persentase. HASIL PENELITIAN Penelitian ini melibatkan 110 responden yang merupakan pasien hipertensi derajat I dan II, sesuai dengan klasifikasi hipertensi ESH tahun 2023. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Desember di Puskesmas Pancasan Bogor. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung dan pengisian Kaligis & Yunita,HTMJ. Vol. 23 No. kuesioner, setelah responden memberikan persetujuan tertulis melalui informed Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pola penggunaan bahan alam sebagai pelengkap terapi antihipertensi konvensional pada pasien hipertensi yang berobat di Puskesmas tersebut. Tabel 1 Karakteristik Usia dan Jenis Kelamin Responden Usia Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Jumlah Total Jumlah . %) . %) . %) . %) . %) Tabel 2 Karakteristik Pendidikan Responden Tingkat Pendidikan Tidak Sekolah SMP SMA Perguruan Tinggi Total Jumlah Tabel 3 Karakteristik Pekerjaan Responden Pekerjaan Ibu rumah Pegawai negeri sipil Buruh Wiraswasta Swasta Pensiun Total Jumlah Kaligis & Yunita,HTMJ. Vol. 23 No. Tabel 4 Jenis Obat Antihipertensi Responden Jenis Obat Antihipertensi CCB Blocker ACEi ARB CCB dan ARB Blocker dan ACEi CCB dan Blocker Total Jumlah Tabel 5 Durasi Hipertensi Responden Durasi Hipertensi Jumlah <1 tahun >1 tahun Total Tabel 6 Jenis Bahan Alam antihipertensi Bahan Alam Antihipertensi Timun Wortel Bawang putih Seledri The Jahe Belimbing Lainnya Tidak konsumsi Total Jumlah Bahan alam lainnya terdiri dari mahoni, lemon, salam, sereh, kunyit, sambiloto, dan labu siam. Sebagian besar responden mengkonsumsi lebih dari satu jenis bahan alam, dengan total keseluruhan penggunaan mencapai 162 jenis konsumsi bahan alam. Kaligis & Yunita,HTMJ. Vol. 23 No. Tabel 7 Sediaan Bahan Alam Antihipertensi Bahan Alam Tanaman Segar Timun Wortel Bawang putih Seledri The Jahe Belimbing Mahoni Lemon Salam Sereh Kunyit Sambiloto Labu siam Total Tanaman Kering Tabel 8 Cara Mengolah Bahan Alam Antihipertensi Cara Pengolahan Bahan Alam Konsumsi Langsung Direbus Diseduh Dijus Dihaluskan Timun Wortel Bawang Seledri Teh Jahe Belimbing Mahoni Lemon Salam Sereh Kunyit Sambiloto Labu siam Total Dimasak Diparut Diperas Kaligis & Yunita,HTMJ. Vol. 23 No. Tabel 9 Jangka Waktu Konsumsi Bahan Alam Antihipertensi Durasi Jumlah <1 tahun >1 tahun Konsumsi Tidak Konsumsi Total PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar usia responden berasal dari rentang usia 61-70 tahun dengan persentase 28%. Penemuan tersebut tidak sesuai dengan prevalensi pasien hipertensi yang terdiagnosis dokter menurut Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. SKI 2023 memaparkan kelompok usia pasien hipertensi dengan prevalensi tertinggi adalah kelompok usia di atas 75 tahun dengan persentase 26. 1%, sedangkan kelompok usia 65-74 tahun berada pada urutan kedua dengan persentase 23. 8% (SKI, 2. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh variasi populasi yang datang berobat di fasilitas layanan primer, di mana pasien usia lanjut cenderung berobat ke rumah sakit dibanding Puskesmas. Sejalan dengan teori bahwa hipertensi lebih sering terjadi pada laki-laki usia muda dan meningkat pada perempuan lanjut usia akibat perubahan hormonal Hal ini mendukung hasil penelitian ini, di mana mayoritas pasien hipertensi adalah perempuan pada rentang usia 41Ae50 tahun . 5%) (Jameson. Menurut hasil penelitian, mayoritas responden memiliki pendidikan terakhir di tingkat sekolah dasar dengan jumlah 43 orang. Tingkat pendidikan seseorang berperan penting dalam kemampuan mereka untuk mengakses, mengolah, dan menerapkan informasi yang diterima. Dalam hal ini, pendidikan juga berpengaruh terhadap keputusan individu, termasuk dalam pemilihan terapi untuk hipertensi (Baringbing, 2. Sementara itu, sebagian besar responden bekerja sebagai ibu rumah tangga dengan jumlah 65 orang . 09%). Jenis pekerjaan yang dimiliki Kaligis & Yunita,HTMJ. Vol. 23 No. seseorang dapat mempengaruhi kondisi mental dan kesehatan jiwa, serta berhubungan dengan tingkat aktivitas fisik mereka dalam kehidupan sehari-hari. Jenis pekerjaan juga mempengaruhi faktor ekonomi yang berperan dalam efektivitas terapi (Lensi et al. , 2. Oleh karena itu, pekerjaan responden dapat mempengaruhi pasien dalam pengelolaan hipertensinya. Jenis terapi antihipertensi pada 110 pasien menunjukkan bahwa 106 pasien menggunakan monoterapi, sementara 4 pasien lainnya menjalani terapi kombinasi dengan dua jenis obat antihipertensi. Mayoritas responden mengkonsumsi antihipertensi dari golongan calcium channel blocker (CCB), yang terdiri dari amlodipin dan nifedipin. Baik pilihan golongan obat antihipertensi yang digunakan maupun durasi hipertensi yang dialami pasien sejalan dengan temuan yang ada di Puskesmas Kowel Pamekasan (Alrosyidi. Humaidi & Ayu, 2. Pemilihan golongan obat antihipertensi yang digunakan juga sesuai dengan Pedoman ESH 2023, yang merekomendasikan CCB sebagai salah satu obat lini pertama (Kosasih et al. , 2. Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan proporsi penggunaan upaya kesehatan tradisional di Provinsi Jawa Barat sebesar 34. 5% dan pemanfaatan TOGA di Jawa Barat sebesar 10. Sedangkan hasil penelitian di Puskesmas Pancasan menunjukkan persentase yang lebih tinggi yaitu 93. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh variasi karakteristik wilayah dan metode pengumpulan data. Masyarakat di wilayah Pancasan cenderung lebih sering memanfaatkan layanan Puskesmas dibandingkan fasilitas lain, berbeda dengan populasi dalam SKI 2023 yang bersifat nasional dan mencakup berbagai kelompok usia dan lokasi. Sebanyak 103 responden menggunakan bahan alam antihipertensi dan tujuh lainnya tidak Sebagian mengkonsumsi lebih dari satu jenis bahan alam antihipertensi secara bersamaan. Tercatat sebanyak 155 data yang menggambarkan kombinasi konsumsi bahan alam tersebut. Timun merupakan bahan yang paling sering digunakan . 40%), disusul oleh wortel . 90%). Kedua bahan ini diketahui mengandung antioksidan serta mineral yang berfungsi menurunkan tekanan darah (Kamyab et al. , 2020. Hendrayana et al. , 2. Sediaan tanaman yang digunakan terdiri atas bentuk segar dan kering. Sebagian bahan alam dikonsumsi dalam bentuk sediaan segar. Kaligis & Yunita,HTMJ. Vol. 23 No. Timun merupakan bahan alam yang paling sering digunakan oleh responden dengan metode konsumsi terbanyak dilakukan secara langsung tanpa melalui proses pengolahan khusus. Hasil ini berbeda dari penelitian yang dilakukan di Puskesmas Telang Siong, dimana mayoritas responden memanfaatkan daun belimbing yang direbus sebagai bahan alam antihipertensi (Indriani. Astuti & Saputri, 2. Pada penelitian ini, durasi penggunaan bahan alam diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu kurang dari satu tahun dan lebih dari satu tahun. Ditemukan bahwa konsumsi dalam jangka panjang (>1 tahu. lebih dominan dibandingkan konsumsi jangka pendek (<1 tahu. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa pasien hipertensi di Puskesmas Pancasan cenderung mengombinasikan terapi medis dengan bahan alam yang tersedia di lingkungan sekitar. Hal ini memperlihatkan potensi integrasi terapi komplementer berbasis bukti dalam pelayanan kesehatan Diperlukan upaya edukasi dan pendampingan oleh tenaga kesehatan untuk memastikan penggunaan bahan alam dilakukan secara aman, tepat dosis, dan tidak mengganggu efektivitas obat antihipertensi konvensional. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pasien hipertensi di Puskesmas Pancasan didominasi oleh perempuan berusia 41Ae50 tahun dengan tingkat pendidikan terakhir sekolah dasar . ,09%), serta sebagian besar responden memanfaatkan bahan alam sebagai terapi tambahan antihipertensi, terutama timun segar, baik dikonsumsi langsung maupun direbus, dengan mayoritas telah mengonsumsi bahan alam lebih dari satu tahun . %). Meskipun demikian, tingkat kepatuhan terhadap terapi antihipertensi masih bervariasi dan sebagian pasien belum menjalani pemeriksaan rutin. Oleh karena itu, diperlukan edukasi berkelanjutan mengenai pentingnya kepatuhan pengobatan dan penggunaan bahan alam yang aman serta berbasis bukti ilmiah, serta integrasi pendekatan terapi komplementer dalam pelayanan kesehatan primer untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas hidup pasien hipertensi. Kaligis & Yunita,HTMJ. Vol. 23 No. DAFTAR PUSTAKA