Journal Keperawatan e-ISSN 2828-4135, p-ISSN 2809-6363 https://jourkep. jurkep-poltekkesaceh. : 161-169. November 2025 doi: 10. 58774/jourkep. CASE STUDY Early Detection of Growth and Development of Preschool Children in Transition Areas Deteksi Dini Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Prasekolah di Daerah Transisi Putro Simeulu1*. Asniah Syamsuddin1. Hasniah Hasniah1. Lathifah Hanum1. Saiful Oetama1. Roma Sitio1. Ritawati Ritawati1 Jurusan Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Aceh. Indonesia Article Info Article History: Received: 17 September 2025 Revised: 27 November 2025 Accepted: 22 December 2025 *Corresponding Author: Putro Simeulu Email: putroe_rafi@yahoo. Abstract Background: Early detection of child growth and development plays a crucial role in ensuring children's readiness for formal education and preventing delays in intervention during the golden period of The reality in urban-rural transition areas shows that implementation is suboptimal due to low parental participation, limited teacher competency, and the limited availability of tested standardized instruments. Purpose: To describe the implementation of early childhood growth and development screening at Bungong Jaroe Kindergarten. Aceh Besar, and to identify factors related to the effectiveness of the Methods: This descriptive research used a case study approach. The study population consisted of all children aged 4Ae6 years, teachers, parents, and PAUD administrators at Bungong Jaroe Kindergarten. Sampling used purposive sampling, including 20 children, 20 parents, 6 teachers, and 3 PAUD administrators, with inclusion criteria: children aged 4Ae6 years enrolled at Bungong Jaroe Kindergarten, teachers teaching for at least 1 year, and parents willing to be interviewed. Data collection was conducted through semi-structured interviews, observations, and document reviews. The screening instruments used included the Child Development Card (KKA) and the Developmental Pre-Screening Questionnaire (KPSP), which had previously been tested for validity and reliability. Data were analyzed using thematic analysis. Results: Implementation of growth and development screening at Bungong Jaroe Kindergarten is suboptimal, reflected in low parental participation only 50%, minimal teacher training, and limited use of standardized instruments. Children's nutritional status indicates a double burden of malnutrition, with 10% undernourished and 35% at risk of overnutrition. Factors related to screening effectiveness include teacher competence, parental awareness, instrument availability, and institutional support. Conclusion: Early detection of child growth and development at Bungong Jaroe Kindergarten remains limited. Strengthening teacher capacity, increasing parent participation, and developing an integrated monitoring system are needed to improve screening Keywords: Early Detection. Child Growth. Child Development. Parental Participation. Screening Abstrak CopyrightA2025. Journal Keperawatan, e-ISSN 2828-4135, p-ISSN 2809-6363 Journal Keperawatan, 4. , 2025 Abstrak Latar Belakang: Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak berperan krusial dalam memastikan kesiapan anak memasuki pendidikan formal serta mencegah keterlambatan pemberian intervensi pada masa emas perkembangan. Realitas di wilayah transisi perkotaanAepedesaan menunjukkan bahwa pelaksanaannya belum optimal akibat rendahnya partisipasi orang tua, keterbatasan kompetensi guru, serta minimnya ketersediaan instrumen standar yang teruji. Tujuan: Untuk mendeskripsikan pelaksanaan skrining pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini di TK Bungong Jaroe. Aceh Besar, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan efektivitas skrining tersebut. Metode: Penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Populasi penelitian yaitu seluruh anak usia 4Ae6 tahun, guru, orang tua, dan pengelola PAUD di TK Bungong Jaroe. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, meliputi 20 anak, 20 orang tua, 6 guru, dan 3 pengelola PAUD, dengan kriteria inklusi: anak usia 4Ae6 tahun terdaftar di TK Bungong Jaroe, guru mengajar minimal 1 tahun, orang tua bersedia diwawancara. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan telaah dokumen. Instrumen skrining yang digunakan meliputi Kartu Kembang Anak (KKA) dan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), yang sebelumnya telah teruji validitas dan Data dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil: Pelaksanaan skrining pertumbuhan dan perkembangan di TK Bungong Jaroe belum optimal, tercermin dari partisipasi orang tua yang rendah yaitu hanya 50%, minimnya pelatihan guru, serta keterbatasan penggunaan instrumen standar. Status gizi anak mengindikasikan beban gizi ganda, dengan 10% gizi kurang dan 35% berisiko gizi lebih. Faktor yang berkaitan dengan efektivitas skrining antara lain kompetensi guru, kesadaran orang tua, ketersediaan instrumen dan dukungan kelembagaan. Kesimpulan: Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak di TK Bungong Jaroe masih terbatas. Penguatan kapasitas guru, peningkatan partisipasi orang tua, dan pengembangan sistem pemantauan terintegrasi diperlukan untuk meningkatkan efektivitas Kata kunci: Deteksi Dini. Partisipasi Orang Tua. Perkembangan Anak. Pertumbuhan Anak. Skrining How to cite: Simeulu. Syamsuddin. Hasniah. Hanum. Oetama. Sitio. & Ritawati, . AuDeteksi Dini Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Prasekolah di Daerah TransisiAy. Journal Keperawatan, 4. , pp. doi: 10. 58774/jourkep. CopyrightA2025 by the Authors. Published by Poltekkes Kemenkes Aceh. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fondasi penting dalam mempersiapkan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Masa usia 3Ae6 tahun dikenal sebagai periode emas . olden ag. yang menentukan perkembangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional Gangguan tumbuh kembang yang tidak terdeteksi sejak dini dapat berdampak pada kesiapan sekolah dan kualitas hidup jangka panjang. Deteksi dini tumbuh kembang menjadi langkah penting yang tidak hanya melibatkan tenaga kesehatan, tetapi juga guru PAUD dan CopyrightA2025. Journal Keperawatan, e-ISSN 2828-4135, p-ISSN 2809-6363 Journal Keperawatan, 4. , 2025 orang tua. Laporan WHO . menunjukkan bahwa lebih dari 250 juta anak di negara berkembang berisiko tidak mencapai potensi perkembangan optimal akibat gizi buruk, kurang stimulasi, dan lingkungan yang tidak mendukung. Sedangkan data dari Riskesdas . mencatat 21,6% anak usia 5Ae6 tahun mengalami gangguan perkembangan di Indonesia. Provinsi Aceh menjadi salah satu wilayah dengan prevalensi tinggi, yaitu 24% anak prasekolah mengalami keterlambatan perkembangan (Dinkes Aceh, 2. Data Puskesmas Kuta Malaka . menunjukkan 18% anak usia 4Ae6 tahun mengalami keterlambatan bicara dan motorik. Sebagian besar anak juga belum mendapatkan stimulasi dan pemantauan perkembangan secara berkala. Kecamatan Darul Imarah. Kabupaten Aceh Besar, merupakan wilayah dengan karakteristik geografis dan sosial budaya yang mencerminkan daerah peralihan antara kota dan desa. Walaupun pemerintah telah menjalankan program Stimulasi. Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), realitanya implementasi program tersebut di PAUD masih belum optimal. Rendahnya kapasitas guru dan minimnya keterlibatan orang tua menjadi kendala utama, terutama di wilayah peralihan kotaAedesa. Fitriani . menjelaskan bahwa banyak orang tua di daerah peralihan belum memahami pentingnya deteksi dini. Wulandari . serta Sekriptini & Zaitun . juga menegaskan bahwa keberhasilan deteksi dini dipengaruhi oleh pelatihan guru dan keterlibatan orang tua. Penelitian Putri et al. melaporkan rendahnya partisipasi orang tua dalam program deteksi dini di PAUD wilayah semi-perkotaan. Sari & Rahmawati . menemukan bahwa guru PAUD yang mendapatkan pelatihan rutin memiliki kemampuan lebih baik dalam menggunakan instrumen skrining perkembangan anak. Selain itu. Nugroho et al. menunjukkan bahwa kolaborasi antara PAUD dan fasilitas kesehatan meningkatkan efektivitas deteksi dini, tetapi praktik ini masih jarang diterapkan di wilayah peralihan kotaAe Penelitian Astuti & Handayani . menambahkan bahwa konteks sosial, ekonomi, dan budaya lokal memengaruhi partisipasi orang tua dan keberhasilan implementasi program deteksi dini. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan deteksi dini tumbuh kembang anak usia prasekolah di TK Bungong Jaroe. Desa Lamkawe. Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar, serta mengidentifikasi faktorfaktor yang memengaruhi efektivitas pelaksanaannya dari sisi guru, orang tua, dan dukungan Meskipun berbagai penelitian sebelumnya telah membahas pelaksanaan deteksi dini pada tingkat PAUD, sebagian besar studi berfokus pada wilayah perkotaan atau pedesaan secara terpisah. Belum banyak penelitian yang secara khusus mengkaji implementasi deteksi dini di wilayah peralihan kota-desa yang memiliki karakteristik sosial, ekonomi, dan akses layanan yang unik. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis komprehensif yang mengintegrasikan status gizi anak, partisipasi orang tua, dan kapasitas guru dalam pelaksanaan deteksi dini menggunakan instrumen standar seperti Kartu Kembang Anak (KKA) dan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), dalam konteks PAUD wilayah Penelitian ini juga mengidentifikasi fenomena gizi ganda pada anak prasekolah serta hambatan multilevel pada guru, orang tua, dan lembaga PAUD, yang selama ini belum banyak diungkap oleh penelitian sebelumnya. Temuan ini memberikan perspektif baru mengenai implementasi deteksi dini di daerah transisi dan menjadi dasar penting untuk pengembangan model intervensi yang lebih efektif. CopyrightA2025. Journal Keperawatan, e-ISSN 2828-4135, p-ISSN 2809-6363 Journal Keperawatan, 4. , 2025 METODE DAN BAHAN Jenis Penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang memiliki tujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan skrining pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini di TK Bungong Jaroe. Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan efektivitas skrining tersebut. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi secara mendalam pengalaman, persepsi, serta dinamika yang terjadi di lapangan terkait pelaksanaan deteksi dini oleh guru PAUD dan keterlibatan orang tua. Populasi penelitian terdiri atas seluruh anak usia 4Ae6 tahun, guru, orang tua yang memantau perkembangan anak, dan pengelola PAUD di TK Bungong Jaroe. Sampel diambil secara purposive, meliputi 20 anak, 20 orang tua, 6 guru, dan 3 pengelola PAUD, dengan kriteria inklusi: anak usia 4Ae6 tahun terdaftar di TK, guru mengajar minimal 1 tahun, orang tua bersedia diwawancara. Teknik ini dipilih agar data yang dikumpulkan relevan dengan fokus penelitian. Penelitian dilaksanakan di TK Bungong Jaroe, pada sebuah lembaga PAUD yang berlokasi di daerah peralihan antara kota dan desa, tepatnya di Desa Lamkawe. Kecamatan darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Lokasi ini dipilih karena merepresentasikan karakteristik daerah yang masih mengalami keterbatasan akses terhadap pelatihan dan fasilitas pendukung deteksi dini, sekaligus menunjukkan potensi partisipasi masyarakat yang Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 10 Ae 12 Maret 2025. Seluruh proses pengumpulan data dilakukan langsung oleh peneliti, tanpa melibatkan enumerator eksternal, sehingga konsistensi prosedur dapat terjaga. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan telaah dokumen. Instrumen skrining standar yang digunakan meliputi Kartu Kembang Anak (KKA) dan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), yang sebelumnya telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis menggunakan analisis tematik. Sebelum pengumpulan data, peneliti melakukan penyamaan persepsi . internal terkait penggunaan instrumen observasi, pedoman wawancara, dan prosedur dokumentasi agar pelaksanaan penelitian mengikuti standar yang telah ditetapkan. Apabila dalam tahapan tertentu dibutuhkan dukungan guru untuk memfasilitasi interaksi dengan anak, hal tersebut dilakukan hanya sebagai pendamping tanpa memengaruhi proses pencatatan data penelitian. Wawancara dilakukan terhadap guru dan orang tua untuk menggali pemahaman, pengalaman, serta kendala yang mereka temui dalam praktik deteksi dini. Observasi dilakukan langsung di kelas untuk menilai praktik deteksi tumbuh kembang anak, penggunaan alat ukur, serta interaksi antara guru, anak, dan orang HASIL Hasil Penelitian menyajikan gambaran komprehensif tentang pelaksanaan deteksi dini tumbuh kembang anak usia prasekolah di TK Bungong Jaroe, tepatnya di Desa Lamkawe. Kecamatan darul Imarah Kabupaten Aceh Besar sebuah sekolah yang berada pada wilayah peralihan kotaAedesa. Fokus kajian diarahkan pada status gizi dan karakteristik dasar anak, karena kedua aspek tersebut merepresentasikan indikator kunci dalam menilai capaian pertumbuhan dan perkembangan. Analisis dilakukan untuk menelusuri kesesuaian praktik skrining dengan prosedur yang semestinya, termasuk ketercakupan pemeriksaan, pemanfaatan instrumen, serta ketepatan pencatatan hasil. Hasil pemetaan ini menjadi dasar identifikasi area yang perlu diperkuat, baik melalui peningkatan kompetensi pelaksana, penguatan keterlibatan orang tua, maupun dukungan kelembagaan agar deteksi dini dapat berlangsung lebih efektif dan berkelanjutan. CopyrightA2025. Journal Keperawatan, e-ISSN 2828-4135, p-ISSN 2809-6363 Journal Keperawatan, 4. , 2025 Tabel 1. Karakteristik Dasar Anak dan Status Gizi di TK Bungong Jaroe . Variabel Kategori Perempuan Laki-laki 5 tahun 6 tahun <15 15 - <17 17 - <20 20 - <23 Ou23 Kurus Normal Risiko Gemuk Gemuk Jenis Kelamin Usia Berat Badan . Status Gizi (IMT) Total Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas anak . %) berjenis kelamin perempuan, dan sebagian besar berada pada usia 6 tahun . %). Distribusi berat badan menunjukkan bahwa sebagian besar anak berada dalam kisaran 15Ae<17 kg . %), dengan 15% berada di bawah 15 kg, yang mengindikasikan risiko gizi kurang. Berdasarkan IMT, 55% anak memiliki status gizi normal, sedangkan 35% menunjukkan risiko kelebihan berat badan . % risiko gemuk, 15% gemu. , dan 10% tergolong kurus. Temuan ini memberikan gambaran awal mengenai status pertumbuhan anak dan menjadi indikator penting dalam pelaksanaan deteksi dini. Tabel 2. Partisipasi Orang Tua dalam Pemantauan Tumbuh Kembang . Tingkat Partisipasi Orang Tua Tinggi Sedang Rendah Total Tabel 2 menjelaskan bahwa hanya 15% orang tua yang memiliki partisipasi tinggi dalam pemantauan tumbuh kembang anak, sementara 50% tergolong rendah. Rendahnya partisipasi orang tua menunjukkan perlunya intervensi untuk meningkatkan keterlibatan mereka, mengingat peran aktif orang tua sangat penting bagi keberhasilan deteksi dini di rumah maupun di PAUD. Tabel 3. Ketersediaan Alat dan Instrumen Deteksi Dini di PAUD Jenis Alat/Instrumen Kartu Kembang Anak (KKA) Kuisioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP) Buku Rapor Tumbuh Kembang Alat Timbang & Pengukur Tinggi Ketersediaan Tidak Ada Keterangan Belum digunakan Ada Digunakan terbatas Ada Ada Tidak terintegrasi Digunakan manual CopyrightA2025. Journal Keperawatan, e-ISSN 2828-4135, p-ISSN 2809-6363 Journal Keperawatan, 4. , 2025 Tabel 3 menunjukan ketersediaan dan pemanfaatan instrumen deteksi dini di TK Bungong Jaroe masih belum lengkap dan tidak optimal. Kartu Kembang Anak (KKA) belum digunakan, sementara Kuisioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP) hanya digunakan secara terbatas. Buku rapor tumbuh kembang tersedia tetapi tidak terintegrasi, dan alat ukur berat badan serta tinggi badan digunakan secara manual. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan sistem pencatatan dan pelaporan perkembangan anak di PAUD untuk mendukung program deteksi dini secara efektif. PEMBAHASAN Konteks wilayah transisional yang digunakan sebagai dasar meilihat deskripsi pelaksanaan deteksi dini yumbuh kembang anak memberikan kontribusi kebaruan . karena masih jarang dikaji dalam penelitian sebelumnya, sehingga hasil penelitian ini memperkaya pemahaman mengenai bagaimana faktor sosial, budaya, dan kesiapan lembaga memengaruhi pelaksanaan deteksi dini di daerah yang tidak sepenuhnya urban maupun rural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi deteksi dini belum optimal di mana 50% orang tua termasuk kategori rendah. Hanya sebagian kecil orang tua yang aktif terlibat, sementara guru PAUD belum sepenuhnya memanfaatkan instrumen standar seperti Kartu Kembang Anak (KKA) atau Kuisioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP). Kondisi diatas konsisten dengan temuan studi sebelumnya yang menunjukkan rendahnya implementasi deteksi dini di PAUD akibat keterbatasan sumber daya manusia dan instrumen (Wahyuningsih et al. , 2021. Fitriani, 2018. Yuliana et al. , 2. Kurangnya prioritas terhadap deteksi dini berdampak pada keterlambatan pengenalan masalah tumbuh kembang, yang seharusnya dapat dicegah melalui intervensi awal. Kondisi ini berimplikasi langsung pada efektivitas pemantauan tumbuh kembang anak, karena keterlibatan orang tua merupakan faktor kunci dalam stimulasi dan pengawasan perkembangan anak di rumah. Penelitian Wilda et al. menegaskan bahwa pengetahuan dan keterlibatan orang tua secara signifikan berkorelasi dengan perkembangan motorik, bahasa, dan kognitif anak di lembaga PAUD, yang sejalan dengan kondisi yang ditemukan di TK Bungong Jaroe. Selain itu, stimulasi bahasa dan perkembangan anak yang dilakukan orang tua masih terbatas. Studi Nirmala & Hartono . menunjukkan bahwa aktivitas interaktif antara orang tua dan anak, seperti membaca buku, bermain peran, dan percakapan sehari-hari, meningkatkan kemampuan bahasa dan kognitif anak usia dini. Rendahnya keterlibatan orang tua di TK Bungong Jaroe kemungkinan menghambat stimulasi tersebut, sehingga proses deteksi dini di lembaga PAUD menjadi kurang maksimal. Padahal, deteksi perkembangan anak sejak usia dini di PAUD diyakini memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas tumbuh kembang pada fase selanjutnya, termasuk pada usia sekolah hingga remaja (Halimatussakdiah, et al. , 2. Selain perkembangan kecerdasan, pemantauan tumbuh kembang anak di PAUD berperan penting dalam pencegahan stunting melalui deteksi dini gangguan pertumbuhan berdasarkan pengukuran antropometri. Kegiatan ini memungkinkan intervensi gizi dan kesehatan dilakukan lebih cepat sebelum keterlambatan pertumbuhan menjadi permanen. Pemantauan yang dilakukan secara rutin melalui kerja sama PAUD dengan Puskesmas atau program UKS terbukti memperkuat sistem rujukan dan tindak lanjut anak berisiko (Halimatussakdiah dan Miko, 2. Studi intervensi berbasis komunitas menunjukkan bahwa pemantauan pertumbuhan yang terintegrasi dapat menurunkan prevalensi stunting hingga sekitar 40Ae50% dalam periode tiga tahun. Oleh karena itu, integrasi PAUD dan layanan kesehatan menjadi strategi efektif dalam memutus rantai kejadian stunting (Ekholuenetale, et al. , 2022 & Sin et al. , 2. CopyrightA2025. Journal Keperawatan, e-ISSN 2828-4135, p-ISSN 2809-6363 Journal Keperawatan, 4. , 2025 Status gizi anak menunjukkan adanya fenomena gizi ganda, di mana 35% anak termasuk risiko gemuk atau gemuk dan 10% tergolong kurus. Kondisi ini sejalan dengan laporan WHO . dan penelitian regional yang menunjukkan meningkatnya prevalensi obesitas anak di Asia Tenggara (Ng et al. , 2022. Popkin et al. , 2. Masalah gizi ganda ini sering kali berkaitan dengan pola makan tidak seimbang, rendahnya pengetahuan gizi orang tua, serta kurangnya program intervensi di PAUD (Nursalam et al. , 2019. Fitriani, 2. Temuan ini menekankan pentingnya integrasi pemantauan gizi dengan deteksi dini tumbuh kembang anak. Gustiana & Sari . menemukan bahwa keterlibatan orang tua dalam pemenuhan gizi dan stimulasi perkembangan anak secara bersama meningkatkan hasil perkembangan anak secara menyeluruh. Ketersediaan instrumen standar untuk deteksi dini juga masih terbatas. Kartu Kembang Anak (KKA) belum digunakan, sementara Kuisioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP) digunakan secara terbatas. Temuan ini konsisten dengan penelitian Anawaty. Nisa, & Syafitri . yang melaporkan bahwa banyak PAUD di wilayah peralihan kotaAedesa belum menggunakan alat deteksi standar secara rutin, sehingga potensi keterlambatan perkembangan anak sering terabaikan. Dengan demikian, kombinasi antara rendahnya partisipasi orang tua, keterbatasan instrumen deteksi, dan variasi status gizi menunjukkan bahwa program deteksi dini di PAUD seperti TK Bungong Jaroe memerlukan perbaikan menyeluruh. Hal ini mencakup penguatan kapasitas guru melalui pelatihan, edukasi dan motivasi orang tua untuk terlibat aktif, serta penyediaan dan penggunaan alat ukur standar seperti KPSP dan KKA. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Tingkat partisipasi orang tua dalam pemantauan tumbuh kembang anak masih rendah, tercermin dari 50% orang tua yang tergolong kurang aktif dalam proses pemantauan. Pemanfaatan instrumen skrining terstandar oleh guru PAUD, khususnya Kartu Kembang Anak (KKA) dan Kuisioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP), belum dilakukan secara konsisten. Status gizi anak mengindikasikan adanya beban gizi ganda, ditunjukkan oleh 35% anak berada pada kategori risiko gemuk/gemuk dan 10% pada kategori kurus. Ketersediaan alat ukur serta sistem dokumentasi masih terbatas, sehingga pengawasan tumbuh kembang anak belum terintegrasi secara menyeluruh dalam praktik layanan di PAUD. Saran Penguatan Kapasistas guru PAUD melalui pelatihan rutin dan terstruktur dalam penggunaan instrumen deteksi dini standar (KPSP. KKA), sehingga guru mampu mengenali keterlambatan perkembangan anak secara akurat. Peningkatan keterlibatan orang tua melalui program edukasi, penyuluhan, dan workshop tentang pentingnya peran orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak di rumah maupun di PAUD. Optimalisasi fasilitas dan instrumen penyediaan alat ukur yang memadai, integrasi buku rapor tumbuh kembang, serta penggunaan instrumen standar secara rutin agar data perkembangan anak dapat terekam secara sistematis. Pendekatan kontekstual perlu mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya lokal dalam perancangan program deteksi dini agar intervensi lebih relevan dan efektif. Penelitian lanjutan untuk melakukan studi kuantitatif atau longitudinal dengan sampel lebih besar guna mengevaluasi hubungan antara keterlibatan orang tua, kapasitas guru, status gizi, dan hasil perkembangan anak. CopyrightA2025. Journal Keperawatan, e-ISSN 2828-4135, p-ISSN 2809-6363 Journal Keperawatan, 4. , 2025 UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktur Poltekkes Kemenkes Aceh, kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Besar. Dinas Kesehatan dan Puskesmas Darul Imarah Aceh Besar, pengelola TK Bungong Jaroe yang telah memberikan izin dan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada orang tua dan guru yang telah berpartisipasi serta memberikan informasi yang sangat berharga dalam proses pengumpulan data. Penulis juga menghargai setiap kontribusi dari rekan-rekan yang terlibat dalam proses analisis data dan penyusunan laporan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA