Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Volume 19. Nomor 2. Desember 2024: 105-118 https://jurnal. univpgri-palembang. id/index. php/ikan KARAKTERISTIK MORFOMETRIK DAN MERISTIK IKAN PUTAK Notopterus notopterus DI TIGA KABUPATEN SUMATERA SELATAN Morphometric And Meristic Characteristics Of The Putak Fish Notopterus notopterus In Three Districts Of South Sumatra Mahmud Bimo Seno1. Rahma Mulyani2*. Indah Anggraini Yusanti1. Humairani 3 Prodi Ilmu Perikanan. Universitas PGRI Palembang Prodi Budi Daya Ikan. Universitas PGRI Palembang Prodi Sosial Ekonomi Perikanan. Universitas PGRI Palembang *Corresponding author: rahmamulyani@univpgri-palembang. ABSTRAK Perbedaan kondisi lingkungan tempat hidup ikan putak Notopterus notopterus dapat mempengaruhi distribusi dan variasi morfologi ikan. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakteristik morfometrik, meristik dan nisbah kelain Ikan putak di Sumatera Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei yang bersifat deskriptif dengan menggunakan Ikan putak sebagai objek penelitian. Pengambilan sampel ikan putak dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling pada 3 stasiun tempat pengambilan sampel, yaitu stasiun 1 penampungan ikan putak yang ada di desa Epil Kabupaten Musi Banyuasin. Stasiun 2 terletak di BBI Sukarela Kabupaten Banyuasin, dan Stasiun 3 tengkulak ikan putak yang terletak di Sianjur 3 Kota Palembang. Sampel yang diperoleh diamati mengunakan acuan penelitian terdahulu dan diolah dengan analisis sederhana hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga stasiun tersebut, ada 11 karakter yang sama yang menunjukkan status alometrik positif, yaitu lebar kepala (HW), jarak antara sirip anal dan perut (PEFL), panjang sirip punggung (DFL), lebar sirip dubur bagian atas (NAFL), lebar sirip punggung (NPF), kedalaman kepala (HD), lebar sirip dubur (AFW), tinggi badan (BD), jarak linea lateralis ke tubuh bagian bawah (DLB), jarak linea lateralis bagian atas (DLU), dan lebar tulang sirip punggung (DSW). Disamping itu 3 stasiun tersebut ada 3 karakter yang dengan status hubungan kuat, yaitu panjang standar (SL), panjang sirip punggung (DFL), dan lebar sirip punggung (NPF). Berdasarkan data tersebut pada stasiun 1 dan 3 menunjukkan perbandingan jenis kelamin didominasi oleh ikan putak jantan sehingga dapat dikatakan populasi ikan putak di stasiun 1 dan 3 tidak ideal. Kata Kunci: Ikan Putak. Notopterus notopterus. Morfometrik. Meristik. Sumatera Selatan. ABSTRACT Differences in environmental conditions where the Notopterus notopterus fish live can influence the distribution and variation in fish morphology. The aim of the research was to determine the morphometric characteristics, meristics and diversity ratios of knife fish in South Sumatra. The method used in this research is a descriptive survey method using knife fish as the research object. Sampling of knife fish was carried out using the purposive sampling method at 3 stations where samples were taken, namely station 1, the knife fish shelter in Epil village. Musi Banyuasin Regency. Station 2 located at BBI Sukarela Banyuasin Regency, and Station 3, the knife fish middleman located at Sianjur 3 Palembang City. The samples obtained were observed using previous research references and processed with simple analysis. The research results showed that from the third station, e-ISSN 2620-4622 p-ISSN 1693-6442 Karakteristik Morfometrik Dan Meristik Ikan Putak Notopterus notopterus. Mahmud Bimo Seno et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:105-118 there were the same 11 characters that indicated positive allometric status, namely head width (HW), distance between anal and pelvic fins (PEFL), dorsal fin length (DFL), upper anal fin width (NAFL), dorsal fin width (NPF), head depth (HD), anal fin width (AFW), body height (BD), distance of linea lateralis to lower body ( DLB), distance to the lateral line upper (DLU), and dorsal fin width (DSW). Beside these 3 stations, there are 3 characters with strong relationship status, namely standard length (SL), dorsal fin length (DFL), and dorsal fin width (NPF). Based on this data, stations 1 and 3 show that the sex ratio is dominated by male putak fish, so it can be said that the knife fish population at stations 1 and 3 is not ideal. Keywords: Knife Fish. Notopterus notopterus. Morphometrics. Meristik. South Sumatra. PENDAHULUAN Provinsi Sumatera Selatan memiliki wilayah yang luas yaitu 592,43 km2 dengan luas perairan sekitar 836,62 km2 atau 17,11% dari luas wilayah dataran yang terdiri dari Rawa Lebak (RL) dan Rawa Pasang Surut (RPS). Terdapat banyak jenis ikan yang hidup di daerah peraian Sumatera Selatan salah satunya Ikan putak Notopterus notopterus (BPSKB, 2. Ikan putak merupakan kerabat dari ikan Belida Notoptera chitala karena sama Ae sama berasal dari famili Notopridae dan sering juga disebut sebagai ikan Belida Jawa, penyebaran Ikan putak dapat ditemukan di perairan sungai atau rawa yang ada di pulau Sumatera. Jawa, dan Kalimantan. Sungai di pulau Jawa memiliki aliran yang deras, sungainya pendek, daya erosi besar, banyak mengangkut hasil erosi, dan tidak berfungsi untuk lalu lintas air. Berbeda dengan sungai yang ada di Sumatera dan Kalimantan alirannya tenang, sungainya panjang, memiliki daya erosi kecil, muara sungai berbentuk estuarium . dan biasanya dijadikan sarana transportasi. Pulau Sumatera merupakan pulau yang memiliki hutan rawa gambut terluas, khususnya dibagian selatan, kemudian diikuti oleh pulau Kalimantan yang keberadaan rawa gambutnya beberapa tahun terakhir semakin berkurang karena telah dialih fungsikan sebagai lahan pertanian (Kodoatie & Sjarief, 2. Munculnya variasi morfologi pada ikan salah satunya yaitu karena perbedaan kondisi habitat sehingga secara alami merubah pola adaptasi ikan. Menurut Nurasiah dkk. , . Turan & Basusta . Perbedaan kondisi lingkungan tempat hidup ikan putak seperti arus, oksigen terlarut, suhu, salinitas, dan mempengaruhi distribusi dan variasi morfologi ikan. Variasi morfologi ikan morfometrik ikan. Morfometrik merupakan penanda dari segi morfologi yang digunakan untuk mengukur ciri-ciri khusus dan hubungan variasi dalam suatu taksonomi atau suatu populasi ikan (Ayyubi dkk. , 2. Untuk di pulau Sumatera, ikan putak dapat ditemui di beberapa provinsi yaitu Sumatera Utara. Kepulauan Riau. Kepulauan Bangka Belitung, dan Sumatera Selatan. Di Provinsi Sumatera Selatan sendiri ikan putak banyak terdapat di beberapa kabupaten / kota, yaitu Banyuasin. Musi Banyuasin, dan Kota Palembang. Lebih lanjut. Langer et al. mengungkapkan pengukuran morfometrik dan jumlah meristik merupakan metode yang efektif dan otentik dalam memberikan informasi akurat dengan menggambarkan bentuk ikan dan memperkecil kesalahan dalam Berdasarkan pendekatan diatas, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut Karakteristik Morfometrik Dan Meristik Ikan Putak Notopterus notopterus. Mahmud Bimo Seno et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:105-118 morfometrik ataupun meristik perbandingan jenis kelamin pada ikan putak yang terdapat di kabupaten yang berbeda di provinsi Sumatera Selatan. METODOLOGI Waktu dan Tempat Pengambilan sampel Ikan putak dilakukan pada bulan November hingga bulan Desember tahun 2022 di tiga tempat berbeda, yaitu di desa Epil Kabupaten Musi Banyuasin. BBI Sukarela Kabupaten Banyuasin, dan Sianjur 3 kota Palembang. Kemudian ikan putak yang telah didapat dan di bawa untuk dianalisis di Laboratorium Terpadu gedung Business Science Centre Universitas PGRI Palembang yang beralamat di Jl. Yani Lrg. Gotong Royong 9/10 Ulu Palembang. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei yang bersifat deskriptif dengan menggunakan ikan putak sebagai objek penelitian. Pengambilan sampel ikan putak dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu dengan ciri ikan tidak cacat . rgan lengka. dan kondisi yang masih hidup. Terdapat 3 stasiun tempat pengambilan sampel, yaitu stasiun 1 penampungan ikan putak yang ada di desa Epil Kabupaten Musi Banyuasin. Stasiun 2 terletak di BBI Sukarela Kabupaten Banyuasin, dan Stasiun 3 ikan putak yang terletak di Jl. Sianjur 3 Kota Palembang. Pengambilan sampel ikan mengacu pada penelitian Purba dkk. , . , sampel ikan yang digunakan untuk penelitian meliputi semua ukuran sampel ikan yang Sampel ikan diperoleh dari hasil tangkapan nelayan maupun dari tengkulak dari sekitar 3 lokasi titik pengambilan Ikan yang berhasil didapat lalu dimasukkan ke dalam sterofoam dan dipisah dengan ditandai label berdasarkan stasiun masing-masing. Setelah itu ikan di bawa ke Laboratorium Terpadu gedung Business Science Centre Universitas PGRI Palembang untuk diukur dan dianalisis. Pengukuran Morfometrik Identifikasi Pengukuran morfometrik Ikan putak dilakukan secara visual menggunakan jangka sorong dengan tingkat ketelitian sampai 0,01 mm. Ikan di letakkan di nampan kemudian dilakukan penghitungan secara cermat. Pengukuran morfometrik mengacu pada peneltian Wibowo dkk. , . yang memiliki 36 karakter pengukuran. Data yang dihasilkan dari ciri morfometrik bersifat continuous data untuk selanjutnya diolah dan dianalisa melalui pendekatan statistik, sedangkan data yang dihasilkan dari ciri meristik bersifat discrete data (Turan, 1. Regresi linier digunakan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih. Regresi dan korelasi dihitung menggunakan microsoft excel 2016 dimana total length (TL) sebagai dependent variable dan karakter morfometrik lainnya sebagai independent Rumus regresi linier yang digunakan berdasarkan Rianti . yaitu y = a bx. Nilai a merupakan intercept dan b adalah x variabel pada summary output dari penghitungan menggunakan excel. Kemudian dari persamaan tersebut didapat nilai r . oefision korelas. yang akan menunjukkan hubungan korelasi antara total length (TL) dan karakter morfometrik Keeratan hubungan korelasi tersebut dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu jika nilai r = 0 tidak ada hubungan, jika r = 0-0,5 korelasi lemah, jika r = 0,50,8 korelasi sedang, dan jika r = 0,8-1 maka korelasi kuat atau erat. Status pertumbuhan ditentukan melalui nilai b dengan ketentuan apabila b > 1, disebut allometrik positif menunjukkan bahwa pertambahan panjang total (TL) lebih lambat jika dibandingkan dengan panjang karakter morfometrik Karakteristik Morfometrik Dan Meristik Ikan Putak Notopterus notopterus. Mahmud Bimo Seno et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:105-118 Jika b < 1, maka disebut allometrik negatif menujukkan bahwa pertambahan panjang total (TL) lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan karakter morfometrik pembandingnya. Sedangkan b = 1 atau mendekati 1, maka disebut isometrik yang menujukkan bahwa pertambahan panjang total (TL) sebanding dengan pertambahan panjang karakter morfometrik pembandingnya. Pengukuran Meristik Pengukuran dengan cara ikan diletakkan di nampan kemudian diamati secara manual dengan bantuan kaca pembesar dan menggunakan jarum untuk mengembangkan bagian ujung ikan sehingga mempermudah dalam proses penghitungan. Karakter meristik yang diukur menyesuaikan morfologi pada Ikan putak dan mengacu pada penelitian Rianti . Pengamatan Jenis Kelamin Pengamatan jenis kelamin dapat dilihat berdasarkan pengamatan kelamin ikan putak ataupun membedah beberapa ikan untuk mengkonfirmasi gonad ikan putak jantan atau betina. Sex rasio dihitung dengan menggunakan rumus Huler . HASIL DAN PEMBAHASAN Karakter Morfometrik Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh data kisaran morfometrik ikan putak pada tiga stasiun yang berbeda, data yang diperoleh di tampilkan pada Tabel 1. Tabel 1. Kisaran Panjang Karakter Morfometrik Ikan Putak Kisaran Panjang . Karakter No. Morfometrik Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 150 Ae 201 192 - 238 159 - 209 DSO 17,1 Ae 43,6 18,3 - 59,3 18,5 - 41,8 SNL 7,2 Ae 9,3 4,3 - 9,9 5,2 - 9,3 9,2 - 14,7 10,7 - 17 6,5 - 12,5 IOW 8,9 - 11,9 4,3 - 10,9 7,0 - 11,5 UJM 10,0 Ae 17,7 9,3 - 17,6 6,9 - 14,4 LJM 4,0 Ae 10,7 4,4 - 9,5 4,6 - 11,5 PCL 33,8 Ae 41,4 35,8 - 45,8 31,7 - 44,4 3,8 Ae 8,7 3,9 - 11,1 6,1 - 8,7 PPFL 31,0 Ae 36,9 31,0 - 55,9 32,9 - 48. PPL 36,1 Ae 55,7 7,3 - 51,4 33,2 - 50,8 PAL 37,9 Ae 4,8 36,4 - 48,2 34,5 - 54,6 DFD 41,2 Ae 55 48,2 - 64,1 40,3 - 54,6 2,2 Ae 15,2 8,7 - 18,8 7,2 - 16,5 PFL 3,2 Ae 15,5 3,1 Ae 16,0 3,1 - 6,9 PEFL 1,4 Ae 4,8 1,2 - 4,3 1,1 - 3,5 DFL 18,7 Ae 24,3 22,3 - 28,2 18,1 - 24,3 NVS 1,0 - 4,2 1,2 - 4,6 1,1 - 4,5 NAFL 14,3 - 19,5 17,2 - 24,6 13,0 - 19,4 NPF 6,9 - 14,1 10,1 - 15,4 6,8 - 14,9 NDF 3,2 - 8,3 3,3 - 8,8 3,9 - 8,6 22,6 - 24,8 22,7 - 26,5 20,8 - 34,8 Karakteristik Morfometrik Dan Meristik Ikan Putak Notopterus notopterus. Mahmud Bimo Seno et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:105-118 No. Karakter Morfometrik CPD AFW DSI PTL DLB DLU ISL DSW Kisaran Panjang . Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 29,0 - 37,7 33,7 - 37,8 23,5 - 35,9 6,0 - 7,8 6,2 - 61,1 3,8 - 9,6 12,7 - 16,7 13,0 - 20,9 10,2 - 15,4 28 - 36,7 33,9 - 42,3 26,5 - 36,7 8,0 - 10,8 8,2 - 11,7 6,8 - 18,9 9,5 - 38,8 19,5 - 41,3 31,0 - 38,6 40,8 - 48,6 22,4 - 57,6 41,8 - 49,3 43,6 - 66,4 62,9 - 77,8 43,8 - 65,7 32,6 - 47,2 38,1 - 54,1 32,6 - 46,8 10,3 - 18,7 16,8 - 24,8 10,9 - 18,4 6,2 - 15,7 10,3 - 14,7 6,3 - 14,7 3,8 - 8,1 3,4 - 12,1 4,7 - 8,2 4,0 - 9,1 3,7 - 8,2 4,3 - 8,5 165 - 221 207 - 247 168 Ae 229 Keterangan: Standard length (SL). Distance to second operculum (DSO). Snouth length (SNL). Head width (HW). Interorbital width (IOW). Upper Jaw Mouth (UJM). Lower Jaw Mouth (LJM). Pectoral length (PCL). Eye Diameter (ED). Prepectoral fin length (PPFL). Prepelfic length (PPL). Pre-anal length (PAL). Distance first anal to dorsal (DFD). Body Width (BW). Pectoral fin length (PFL). Pelvic fin Length (PEFL). Dorsal fin length (DFL). Number of ventral spines (NVS). Number of anal fin length (NAFL). Number of pectoral fin (NPF). Number of dorsal fin (NDF). Head depth (HD). Peduncle length (PL). Caudal peduncle depth (CPD). Anal fin width (AFW). Adipose length (AL). Distance snouth to isthmus (DSI). Pastocular length (PTL). Head length (HL). Body depth (BD). Distance Lineral Lateralis to lower body (DLB). Distance LL to upper body (DLU). Mouth width (MW). Isthmus length (ISL). Dorsal spine width (DSW). Total length (TL). Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa ukuran sampel ikan putak yang paling besar ada di stasiun 2 (Banyuasi. dengan panjang yaitu 247 mm, sedangkan sampel ikan putak dengan ukuran yang paling kecil ada di stasiun 1 (Musi Banyuasi. dengan panjang yaitu 165 mm. Data hasil pengukuran tiap-tiap karakter kemudian dihitung untuk melihat persamaan regresi linier dan status Hasil analisis dari persamaan regresi linier dan status pertumbuhan disajikan dalam Tabel 1. Tabel 2. Persamaan Regresi Linier dan Status Pertumbuhan Ikan Putak No. Karakter SL/TL DSO/TL SNL/TL HW/TL IOW/TL UJM/TL LJM/TL PCL/TL ED/TL PPFL/TL PPL/TL PAL/TL DFD/TL BW/TL PFL/TL PEFL/TL DFL/TL NVS/TL NAFL/TL NPF/TL NDF/TL HD/TL PL/TL CPD/TL AFW/TL AL/TL DSI/TL PTL/TL Stasiun 1 Persamaan Regresi SL = 9,692 1,042 TL DSO = 175,529 0,331 TL SNL= -23,112 26,741 TL HW = 92,979 8,693 TL IOW = 276,299 - 8,423 TL UJM = 203,913 -1,337 TL LJM = 243,424 -6,044 TL PCL = -54,778 6,780 TL ED = 266,199 - 10,177 TL PPFL = 411,398 - 6,427 TL PPL = 83,043 2,498 TL PAL = 110,376 1,655 TL DFD = 88,157 2,007 TL BW = 150,225 4,140 TL PFL =164,184 4,269 TL PEFL = 181,312 1,945 TL DFL = 20,455 8,087 TL NVS = 156,720 15,015 TL NAFL = 30,512 9,891 TL NPF = 128,701 6,608 TL NDF = 180,836 0,559 TL HD = -137,554 13,543 TL PL = 9,316 5,570 TL CPD = 47,931 - 21,273 TL AFW = 35,917 11,284 TL AL = 3,604 6,019 TL DSI = 148,768 4,051 TL PTL = 160,533 1,018 TL Stasiun 2 Persamaan Regresi SL = 56,846 0,815 TL DSO = 257,888 - 0,810 TL SNL = 56,846 0,815 TL HW = 160,363 5,043 TL IOW = 209,259 1,993 TL UJM = 173,329 4,178 TL LJM = 219,152 1,168 TL PCL = 86,743 3,475 TL ED = 192,914 4,407 Tl PPFL =178, 297 1,217 TL PPL = 212,697 0,376 TL PAL = 152,896 1,503 TL DFD = 105,366 2,214 TL BW = 183,082 3,165 TL PFL = 220,510 0,939 TL PEFL = 202,516 10,864 TL DFL = 75,015 6,237 TL NVS = 253,341 - 8,186 TL NAFL = 153,965 3,712 TL NPF = 124,401 7,961 TL NDF = 223,535 0,901 TL HD = 133,519 3,908 TL PL = 452,825 - 6,372 TL CPD = 234,047 - 0,437 TL AFW = 178,208 3,063 TL AL = 23,952 0,852 TL DSI = 23,378 - 0,482 TL PTL = 270,555 - 1,351 TL Stasiun 3 Persamaan Regresi SL = -1,349 1,086 TL DSO = 169,635 0,632 TL SNL = 101,740 11,999 TL HW = 102,988 9,244 TL IOW = 131,112 6,389 TL UJM = 163,090 2,334 TL LJM = 244,346 - 5,844 TL PCL = 66,530 3,481 TL ED = 107,820 10,351 TL PPFL = 145,749 1,210 TL PPL = 82,762 2,757 TL PAL = 147,091 0,983 TL DFD = 176,396 0,273 TL BW = 138,576 4,878 TL PFL = 139,434 12,200 PEFL = 176, 602 6,237 TL DFL = 34,516 7,625 TL NVS = 160,570 12,448 TL NAFL = 61,918 8,170 TL NPF = 139,778 5,260 TL NDF = 238,797 - 7,136 TL HD = 106,448 3,484 TL PL = 126,442 2,114 TL CPD = 139,102 8,160 TL AFW = 63,123 9,888 TL AL = 41,840 4,963 TL DSI = 148,211 4,348 TL PTL = 42,070 4,470 TL Karakteristik Morfometrik Dan Meristik Ikan Putak Notopterus notopterus. Mahmud Bimo Seno et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:105-118 No. Karakter HL/TL BD/TL DLB/TL DLU/TL MW/TL ISL/TL DSW/TL Stasiun 1 Persamaan Regresi HL = 408,210 - 4,793 TL BD = 87,247 1,949 TL DLB = 73,653 3,063 TL DLU = 101,863 6,145 TL MW = 144,775 4,776 TL ISL = 245,519 - 8,454 TL DSW = 152,768 6,099 TL Stasiun 2 Persamaan Regresi HL = 263,780 - 0,849 TL BD = 43,667 2,696 TL DLB = 121,496 2,329 TL DLU = 126,302 5,084 TL MW = 227,305 0,113 TL ISL = 202,832 3,524 TL DSW = 203,758 4,050 TL Stasiun 3 Persamaan Regresi HL = 272,613 - 1,779 TL BD = 110,748 1,436 TL DLB = 83,404 2,692 TL DLU = 103,727 6,106 TL MW = 149,258 4,044 TL ISL = 96,645 13,408 TL DSW = 121,163 11,837 TL Keterangan : Status Pertumbuhan (SP). Alometrik Positive (AP). Alometrik Negative (AN). Isometrik (I). Standard length (SL). Distance to second operculum (DSO). Snouth length (SNL). Head width (HW). Interorbital width (IOW). Upper Jaw Mouth (UJM). Lower Jaw Mouth (LJM). Pectoral length (PCL). Eye Diameter (ED). Prepectoral fin length (PPFL). Prepelfic length (PPL). Pre-anal length (PAL). Distance first anal to dorsal (DFD). Body Width (BW). Pectoral fin length (PFL). Pelvic fin Length (PEFL). Dorsal fin length (DFL). Number of ventral spines (NVS). Number of anal fin length (NAFL). Number of pectoral fin (NPF). Number of dorsal fin (NDF). Head depth (HD). Peduncle length (PL). Caudal peduncle depth (CPD). Anal fin width (AFW). Adipose length (AL). Distance snouth to isthmus (DSI). Pastocular length (PTL). Head length (HL). Body depth (BD). Distance Lineral Lateralis to lower body (DLB). Distance LL to upper body (DLU). Mouth width (MW). Isthmus length (ISL). Dorsal spine width (DSW). Total length (TL). Setelah menghitung persamaan regresi linier sederhana antara Panjang Total (PT) sebagai variabel dependent (Y) dengan karakter morfometrik lainnya sebagai variabel independent (X), maka menghasilkan juga nilai korelasi. Nilai korelasi berguna untuk melihat keeratan hubungan antar karakter yang diamati, hasil keeratan . hubungan antara Panjang Total (PT) dengan karakter lainnya disajikan dalam tabel 3. Setelah menghitung persamaan regresi linier sederhana antara Panjang Total (PT) sebagai variabel dependent (Y) dengan karakter morfometrik lainnya sebagai variabel independent (X), maka menghasilkan juga nilai korelasi. Nilai korelasi berguna untuk melihat keeratan hubungan antar karakter yang diamati, hasil keeratan . hubungan antara Panjang Total (PT) dengan karakter lainnya disajikan dalam tabel 3 berikut : Karakteristik Morfometrik Dan Meristik Ikan Putak Notopterus notopterus. Mahmud Bimo Seno et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:105-118 Tabel 3. Nilai Determinan (R. dan Nilai Korelasi . Ikan Putak Stasiun 1 Karakter Stasiun 2 Status Hubungan Kuat Lemah R^2 0,881 0,493 Stasiun 3 R^2 0,938 -0,701 Status Hubungan Kuat Lemah 0,969 0,061 0,984 0,246 Status Hubungan Kuat Lemah R^2 SL/TL DSO/TL 0,993 0,015 0,997 0,121 SNL/TL 0,869 0,932 Kuat 0,082 0,286 Lemah 0,732 0,856 Kuat HW/TL 0,495 0,704 Sedang 0,943 0,971 Kuat 0,793 0,890 Kuat IOW/TL 0,180 -0,425 Lemah 0,074 0,272 Lemah 0,338 0,582 Sedang UJM/TL 0,019 -0,138 Lemah 0,965 0,982 Kuat 0,150 0,387 Lemah LJM/TL 0,346 -0,588 Lemah 0,026 0,160 Lemah 0,359 -0,599 Lemah PCL/TL 0,719 0,848 Sedang 0,957 0,978 Kuat 0,501 0,708 Sedang ED/TL 0,546 -0,739 Lemah 0,418 0,646 Sedang 0,218 0,466 Lemah PPFL/TL 0,369 -0,608 Lemah 0,788 0,887 Sedang 0,094 0,307 Lemah PPL/TL 0,814 0,901 Kuat 0,130 0,360 Lemah 0,845 0,919 Kuat PAL/TL 0,399 0,631 Sedang 0,615 0,784 Sedang 0,202 0,449 Lemah DFD/TL 0,383 0,619 Sedang 0,867 0,931 Kuat 0,006 0,080 Sedang BW/TL 0,625 0,790 Sedang 0,695 0,833 Sedang 0,863 0,929 Kuat PFL/TL 0,647 0,804 Sedang 0,090 0,299 Lemah 0,736 0,858 Kuat PEFL/TL 0,008 0,089 Lemah 0,922 0,960 Kuat 0,076 0,275 Lemah DFL/TL 0,815 0,902 Kuat 0,683 0,826 Kuat 0,850 0,922 Kuat NVS/TL 0,881 0,938 Kuat 0,390 -0,624 Lemah 0,633 0,796 Sedang NAFL/TL 0,845 0,919 Kuat 0,426 0,652 Sedang 0,857 0,926 Kuat NPF/TL 0,793 0,890 Kuat 0,899 0,948 Kuat 0,727 0,853 Kuat NDF/TL 0,798 -0,893 Lemah 0,020 0,140 Lemah 0,360 -0,600 Lemah HD/TL 0,188 0,433 Lemah 0,141 0,375 Lemah 0,592 0,769 Sedang PL/TL 0,852 0,923 Kuat 0,369 -0,607 Lemah 0,151 0,388 Lemah CPD/TL 0,292 0,541 Sedang 0,265 -0,514 Lemah 0,464 0,681 Sedang AFW/TL 0,440 0,663 Sedang 0,308 0,555 Sedang 0,557 0,746 Sedang AL/TL 0,888 0,942 Kuat 0,424 0,955 Kuat 0,623 0,789 Sedang DSI/TL 0,019 0,137 Lemah 0,001 -0,034 Lemah 0,656 0,810 Sedang PTL/TL 0,336 0,579 Sedang 0,790 -0,889 Lemah 0,434 0,659 Sedang HL/TL 0,470 -0,685 Lemah 0,271 -0,520 Lemah 0,058 -0,242 Lemah BD/TL 0,878 0,937 Kuat 0,758 0,870 Kuat 0,438 0,662 Sedang DLB/TL 0,687 0,829 Kuat 0,848 0,920 Kuat 0,522 0,722 Sedang DLU/TL 0,856 0,925 Kuat 0,672 0,819 Sedang 0,791 0,889 Kuat MW/TL 0,765 0,874 Kuat 0,000 0,010 Lemah 0,511 0,715 Sedang ISL/TL 0,234 -0,483 Lemah 0,706 0,840 Sedang 0,533 0,729 Sedang DSW/TL 0,220 0,469 Lemah 0,262 0,512 Lemah 0,786 0,886 Kuat Keterangan: Standard length (SL). Distance to second operculum (DSO). Snouth length (SNL). Head width (HW). Interorbital width (IOW). Upper Jaw Mouth (UJM). Lower Jaw Mouth (LJM). Pectoral length (PCL). Eye Diameter (ED). Prepectoral fin length (PPFL). Prepelfic length (PPL). Pre-anal length (PAL). Distance first anal to dorsal (DFD). Body Width (BW). Pectoral fin length (PFL). Pelvic fin Length (PEFL). Dorsal fin length (DFL). Number of ventral spines (NVS). Number of anal fin length (NAFL). Number of pectoral fin (NPF). Number of dorsal fin (NDF). Head depth (HD). Peduncle length (PL). Caudal peduncle depth (CPD). Anal fin width (AFW). Adipose length (AL). Distance snouth to isthmus (DSI). Pastocular length (PTL). Head length (HL). Body depth (BD). Distance Lineral Lateralis to lower body (DLB). Distance LL to upper body (DLU). Mouth width (MW). Isthmus length (ISL). Dorsal spine width (DSW). Total length (TL). Hasil persamaan regresi linier dari karakter morfometrik ikan putak dengan status pertumbuhan alometrik positif ditampilkan pada tabel 3 bahwa status pertumbuhan alometrik positif pada ikan putak paling banyak ada pada stasiun 3 (Sianjur. Kota Palemban. dengan total status pertumbuhan alometrik positif sebanyak 28 karakter, kemudian pada stasiun 1 (Epil. Musi Banyuasi. berjumlah 25 Karakter dan stasiun 2 berjumlah 21 karakter. Dari ketiga stasiun tersebut, ada 11 karakter yang sama yang menunjukkan status alometrik positif. Karakteristik Morfometrik Dan Meristik Ikan Putak Notopterus notopterus. Mahmud Bimo Seno et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:105-118 yaitu lebar kepala (HW), jarak antara sirip anal dan perut (PEFL), panjang sirip punggung (DFL), lebar sirip dubur bagian atas (NAFL), lebar sirip punggung (NPF), kedalaman kepala (HD), lebar sirip dubur (AFW), tinggi badan (BD), jarak linea lateralis ke tubuh bagian bawah (DLB), jarak linea lateralis bagian atas (DLU), dan lebar tulang sirip punggung (DSW). Status pertambahan panjang total (TL) lebih lambat dibandingkan dengan pertambahan karakter morfometrik lainnya. Pertumbuhan status alometrik negatif paling banyak ada pada stasiun 2 (BBI Sukarela. Banyuasi. dengan total 14 karakter, kemudian pada stasiun 1 dengan total 9 karakter, sedangkan yang paling sedikit yaitu stasiun 3 dengan total 6 Dari ketiga stasiun tersebut terdapat 3 karakter dengan status alometrik negatif yang sama yaitu, jarak ke operculum kedua (DSO), jumlah sirip perut (NDF), dan panjang kepala (HL). Status alometrik negatif menandakan bahwa pertambahan panjang total (TL) Karakter morfometrik ikan putak dengan stastus isometrik (I) pada stasiun 1 (Epil. Musi Banyuasi. terdapat 1 karakter yaitu PTL, pada stasiun 2 (BBI Sukarela. Banyuasi. tidak ada karakter dengan status pertumbuhan isometrik, sedangkan pada stasiun 3 (Kota Palemban. terdapat 1 karakter yaitu SL. Status isometrik memiliki arti bahwa pertambahan total (TL) morfometrik pembandingnya. Pengukuran morfometrik pada ikan putak untuk bagian di sekitar kepala pada stasiun 1 rata-rata berstatus alometrik pertumbuhan karakter dibagian kepala ikan putak lebih cepat dari pertumbuhan panjang total. Pada stasiun 2 dan 3 rata-rata berstatus alometrik positif yang berarti pertumbuhan karakter dibagian kepala ikan putak lebih lambat dari pertumbuhan panjang total. Perbedaan ini dikarenakan ikan putak yang berada di stasiun 1 ditangkap didaerah rawa-rawa sekitar, sedangkan pada stasiun 2 dan 3 ikan putak ditangkap di daerah aliran sungai Musi. Menurut Heriyanto . karakter morfometrik dengan status pertumbuhan alometrik negatif pada individu diduga terkait dengan karakteristik khas yang menjadi ciri morfologi suatu jenis ikan. Selanjutnya kepala yang besar sesuai untuk memangsa individu yang besar dan makanan yang keras seperti makanan utama ikan putak yaitu udang dan ikan kecil (Wibowo dkk. , 2. Hasil morfometrik pada ikan putak bagian badan rata-rata memiliki status alometrik positif diduga pertumbuhan karakter pada bagian badan lebih cepat dari pertumbuhan panjang total. Hal ini sesuai dengan morfologi ikan putak yang lebih terlihat lebar badan dari bagian tengah hingga dorsal, gemuk di bagian pectoral dan memanjang seperti pisau (Wibowo & Sunarno, 2. Pengukuran karakter morfometrik pada ikan putak bagian ekor dan sirip rata-rata berstatus alometrik positif yang menjelaskan bahwa bagian sirip terlihat lebih banyak percepatan pertumbuhan jika dibandingkan dengan total length. Hal ini dikarenakan dalam siklus hidup ikan sirip dan ekor menjadi lebih cepat panjang agar lebih cepat dalam mencari dan mendapatkan makanan serta menghindari mangsa (Fitriadi, 2. Persamaan regresi linier ikan putak (Notopterus notopteru. menghasilkan nilai korelasi yang menunjukkan keeratan Hasil penghitungan regresi mencerminkan nilai determinan (R. dan Korelasi . Status hubungan korelasi kuat pada ikan putak di 3 stasiun. Pada tabel diatas diketahui bahwa status hubungan korelasi kuat pada ikan putak yang paling banyak ada pada stasiun 1 Karakteristik Morfometrik Dan Meristik Ikan Putak Notopterus notopterus. Mahmud Bimo Seno et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:105-118 (Epil. Musi Banyuasi. yaitu 13 karakter, sedangkan pada stasiun 2 (BBI Sukarela. Banyuasi. dan 3 (Sianjur. Kota Palemban. memiliki jumlah status hubungan yang sama yaitu 11 karakter. dari 3 stasiun tersebut ada 3 karakter yang dengan status hubungan kuat, yaitu panjang standar (SL), panjang sirip punggung (DFL), dan lebar sirip punggung (NPF). Korelasi kuat memiliki arti bahwa semakin bertambah panjang total (TL) pembandingnya juga bertambah. Status hubungan korelasi sedang pada ikan putak paling banyak ada pada stasiun 3 (Sianjur. Kota Palemban. dengan 14 karakter, kemudian stasiun 1 (Epil. Musi Banyuasi. sedangkan pada stasiun 2 (BBI. Banyuasi. memiliki 8 karakter. Dari ke 3 stasiun tersebut hanya satu karakter yang memiliki status korelasi sedang yang saama, yaitu lebar sirip dubur (AFW). Korelasi sedang memiliki arti bahwa jika panjang total (Total Lengt. bertambah maka sebagian morfometrik karakter lainnya bertambah. Pada dilihat pada tabel 12 bahwa status hubungan dengan korelasi lemah paling banyak ada pada stasiun 2 (BBI. Banyuasi. dengan 16 karakter, kemudian dilanjutkan stasiun 1 (Epil. Musi Banyuasi. dengan 13 karakter, dan yang paling sedikit yaitu stasiun 3 (Sainjur. Kota Palemban. sebanyak 10 karakter. Dari ke 3 stasiun tersebut ada 4 karakter yang memiliki status hubungan korelasi lemah yang sama, yaitu jarak ke operculum kedua (DSO), mulut rahang bawah (LJM), jumlah sirip perut (NDF), dan panjang kepala (HL). Korelasi lemah menunjukkan tidak adanya hubungan antara panjang total (TL) dengan karakter morfometrik Pengukuran morfometrik disetiap stasiun, baik itu stasiun 1, 2, dan 3 menghasilkan regresi maupun korelasi mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan ikan. Setiap jenis ikan memiliki ukuran mutlak berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor umur, jenis kelamin, dan lingkungan hidupnya. Faktor lingkungan disini maksudnya seperti makanan, suhu, pH, dan salinitas di perairan tersebut (Widianto, 2. Nilai korelasi yang menunjukkan keeratan hubungan antar karakter yang berstatus hubungan kuat dan sedang diduga di pengaruhi oleh kecepatan arus dan oksigen terlarut pada perairan tersebut. Kecepatan arus membuat ikan lebih aktif bergerak sehingga membutuhkan banyak energi yang digunakan untuk beraktifitas dan mencari makan (Nurasiah dkk. , 2. Karakter Meristik Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh data kisaran meristik ikan putak pada tiga stasiun yang berbeda, data yang diperoleh akan di tampilkan pada Tabel 4. Berikut: Tabel 4. Kisaran Hasil Perhitungan Meristik Ikan Putak Karakter Meristik Jumlah Sisik Depan Sirip Punggung Jumlah Sisik Batang Ekor Jumlah Sisik Linea Lateralis Jari-jari Sirip Dorsal (D) Jari-jari Sirip Anal (A) Jari-jari Sirip Ventral (V) Jari-jari Sirip Pectoral (P) Stasiun 1 86 - 93 10 Ae 12 125 Ae 132 6Ae8 97 Ae 110 13 Ae 16 Kisaran Jumlah Stasiun 2 97 Ae 99 9 Ae 12 124 Ae 141 7Ae8 110 Ae 118 13 Ae 16 Stasiun 3 94 Ae 98 9 Ae 12 125 Ae 135 6Ae9 99 Ae 110 12- 16 Karakteristik Morfometrik Dan Meristik Ikan Putak Notopterus notopterus. Mahmud Bimo Seno et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:105-118 Hasil penghitungan karakter meristik pada stasiun 1 berupa jumlah sisik depan sirip punggung berkisar antara 86-93, pada stasiun 2 berkisar 97-99, dan stasiun 3 berjumlah antara 94-98. Sisik batang ekor pada stasiun 1 berkisar 10-12 , di stasiun 2 dan 3 berjumlah 9-12. Karakter meristik pada sisik linea lateralis pada stasiun 1 berjumlah 125-132, stasiun 2 memiliki sisik linea lateralis berjumlah 124-141, dan di stasiun 3 berkisar 125-135. Jumlah jarijari sirip dorsal (D) pada stasiun 1, yaitu berjumlah 6-8, stasiun 2 7-8, sedangkan pada stasiun 3 berjumlah 6-9, pada sirip dorsal ikan putak terdapat 2 jari jari lemah yang sedikit mengeras, jari-jari sirip anal (A) pada stasiun 1 berkisar 97-110, pada stasiun 2 ada 110-118, dan di stasiun 3 berkisar 99-110. Untuk jari-jari sirip ventral (V) setiap stasiun memiliki jumlah yang sama yaitu 2, pada jari-jari sirip pectoral di stasiun 1 dan 2 sama yaitu berkisar 13-16, sedangkan di stasiun 3 terdapat 12-16. Pada jari-jari sirip pectoral (P) ikan putak di setiap stasiun terdapat juga jari-jari lemah yang mengeras Hasil pengukuran tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Purba dkk. dan Rianti . bahwa karakter ikan dengan spesies notopterus tidak memiliki jari jari keras. Purba dkk. menyatakan bahwa sirip pada ikan merupakan salah satu peranan penting dalam penentuan arah dan gerak ikan yang terdiri dari sirip punggung (D), sirip perut (V), sirip dada (P), sirip anus (A), dan sirip ekor (C). Perbandingan Jenis Kelamin (Sex Rati. Perbandingan jenis kelamin (Sex Rati. pada ikan putak dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Jumlah Identifikasi Jenis Kelamin dan Sex Ratio Pada Ikan putak (Eko. Lokasi Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Jantan Betina Berdasarkan pada Tabel 8 diketahui bahwa sex ratio ikan putak di stasiun 1 menampilkan perbandingan yang jauh antara ikan putak jantan dan betina yaitu 1:0. 1, sedangkan pada stasiun 2 perbandingan jantan dan betina yaitu 1:1, dan pada stasiun 3 yaitu 1:0,25. Berdasarkan data tersebut pada stasiun 1 dan 3 menunjukkan perbandingan jenis kelamin didominasi oleh ikan putak jantan sehingga dapat dikatakan populasi ikan putak di stasiun 1 dan 3 tidak ideal. Selanjutnya perbandingan jenis kelamin pada stasiun 2 didapati perbandingan yang sama yaitu 1:1, hal ini mengindikasikan populasi ikan putak sangat ideal. Seperti yang dikemukakan oleh Gustomi . , perbandingan jenis kelamin mempunyai keterkaitan yang erat dengan habitat ikan. Jumlah Sex Ratio 1 : 0,1 1 : 0,25 Habitat yang ideal untuk melakukan pemijahan umumnya memiliki jumlah ikan jantan dan jumlah ikan betina yang Perbedaan jenis kelamin pada stasiun 1, 2, dan 3 diduga karena pengambilan sampel dilakukan pada musim penghujan, sedangkan menurut Kristanto dkk. , . ikan Notopterus dapat memijah sepanjang tahun dengan puncak pemijahan terjadi pada musim kemarau, sehingga pada musim penghujan ikan jantan lebih banyak dari pada ikan betina. Salah satu faktor berlebihan dan tidak teratur, diduga ikan yang tertangkap terjadi pada musim ikan yang sedang matang gonad atau ikan yang sudah dekat dengan masa pemijahannya sehingga terganggu pada keberlanjutan Karakteristik Morfometrik Dan Meristik Ikan Putak Notopterus notopterus. Mahmud Bimo Seno et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Desember 2024:105-118 Hal tersebut sesuai dengan Huler perbandingan jenis kelamin di wilayah iklim tropis seperti Indonesia bersifat variatif dan menyimpang dari 1:1. Kondisi yang ideal tersebut sering menyimpang kerena beberapa faktor, baik yang bersifat eksternal maupun internal. Menurut Effendie . , faktor eksternal berupa ketersediaan makanan, kepadatan populasi dan keseimbangan rantai makanan sedangkan faktor internal berupa tingkah laku ikan itu sendiri, perbedaan laju mortalitas dan pertumbuhannya. Nisbah kelamin bervariasi menurut jenis ikan di dalam kelompok umur dan ukuran, sehingga dapat mencerminkan hubungan antara jenis ikan tersebut dengan lingkungannya (Huler, 2. KESIMPULAN Karakter morfometrik ikan putak di stasiun 1, 2, dan 3 memiliki status DAFTAR PUSTAKA [BPSKB] Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyuasin. Oktober . Badan Pusat Statistik: https://banyuasinkab. Affandi. Sjafei. Raharjo. Sulistiono. Iktiologi. bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat IPB. Andi Gustomi. Sulistiono. Yonvitner. Biologi Reproduksi Ikan Belida (Notopterus notopterus Pallas. KolongBendungan Simpur. Pulau Bangka. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 21 . , 56-62. Arga. Karakter Morfometrik dan Meristik Ikan Air Tawar di Kawasan Suaka Margasatwa Dangku Sumatera Selatan. Skripsi, isometrik, dan allometrik negatif dengan korelasi kuat, sedang dan lemah. Karakter meristik ikan putak di stasiun 1, 2, dan 3 tidak jauh berbeda. Perbandingan jenis kelamin di stasiun 1 dan 3 tidak seimbang dengan perbandingan 1:0,1 dan 1:0,25, sedangkan pada stasiun 2 termasuk dalam kondisi seimbang dengan perbandingan 1:1. SARAN