JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN PERENCANAAN PENCAHAYAAN BUATAN PADA GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS PATTIMURA AMBON Christy G Buyang. Fauzan A Sangadji. Virginia Kombolayuk. 1,2,. Program Studi Teknik Sipil. Universitas Pattimura Ambon gery@gmail. com, . sangadji@gmail. com, . virginiakombolayuk15@gmail. ABSTRACT The design of artificial lighting in a room is essential when natural lighting cannot produce the required lighting levels according to the established standards, which are 300-500 lux for workspaces based on the Indonesian National Standard (SNI). The lighting in the rectorate building at Pattimura University depends on the artificial lighting system to support user activities. Nevertheless, the quality of the artificial lighting available is still considered suboptimal if observed from several rooms and the corridor in the rectorate building, as it is assessed to be too dark. Based on these facts, this study aims to investigate the cost of building artificial lighting in the Rectorate Building at Pattimura University. Ambon according to the calculated number of lamp requirements to achieve the specified minimum lighting standards. This study uses a quantitative calculation method which refers to the standard of SNI 03-6575-2001 regarding the design procedures of artificial lighting in buildings. The SNI standard is used as a guide to obtain the artificial lighting systems that are appropriate for health, comfort, and safety requirements and comply with applicable building regulations, also paying attention to the data about the room dimensions . oom length, room width, and height of lighting source to the work are. , number of lights used in the room, number of flux luminous total the lights that light each room, and the used light power in the room. The result of the draft cost budget for the installation of electrical installations in the Rectorate Building. Pattimura University is Rp. 314,209,825. ABSTRAK Perancangan pencahayaan buatan dalam suatu ruangan sangat diperlukan ketika pencahayaan alami tidak mampu menghasilkan tingkat pencahayaan sesuai dengan standar yang telah ditentukan yaitu 300-500 lux untuk ruang kerja berdasarkan SNI. Pencahayaan pada Gedung rektorat Universitas Pattimura sangat bergantung pada sistem pencahayaan buatan untuk menunjang aktivitas pengguna. Meski demikian, kualitas sistem pencahayaan buatan yang ada sering dianggap masih belum optimal terlihat dari beberapa ruangan dan koridor pada gedung rektorat yang dinilai masih terlalu gelap. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian untuk mencari biaya pembangunan pencahayaan buatan di gedung Rektorat Universitas Pattimura Ambon sesuai dengan jumlah kebutuhan lampu yang dihitung untuk mencapai standar pencahayaan minimum yang ditetapkan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode perhitungan secara kuantitatif yang mengacu pada standar penchayaan berdasarkan SNI 03-6575-2001 tentang tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan pada SNI ini dipakai sebagai pedoman agar diperoleh sistem pencahayaan buatan yang sesuai dengan syarat kesehatan, kenyamanan, keamanan dan memenuhi ketentuan yang berlaku untuk bangunan gedung, dengan memperhatikan data-data berupa dimensi ruangan . anjang ruangan, lebar ruangan dan tinggi sumber cahaya terhadap bidang kerj. , jumlah lampu yang digunakan dalam ruangan, jumlah fluks luminous total lampu yang menerangi tiap ruangan dan daya lampu yang digunakan di dalam ruangan. Hasil rancangan anggaran biaya untuk pemasangan instalasi listrik Gedung Rektorat Universitas Pattimura adalah sebesar Rp. Kata kunci: Perhitungan Pencahayaan Buatan. Luxmeter. SNI PENDAHULUAN Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap bangunan konstruksi hijau ramah lingkungan telah banyak berkembang. Sistem pencahayaan termasuk dalam aspek kesehatan bangunan Gedung dan juga penilaian utama dalam pelaksanaan audit energi. Sistem pencahayaan bangunan gedung untuk mencapai laik fungsi harus memenuhi nilai iluminasi setiap ruangan sesuai dengan jenis pemanfaatannya. Tercapainya tingkat pencahayaan yang nyaman akan meningkatkan produktifitas pengguna bangunan Bangunan yang direncanakan dengan baik, rancangan jendela dan ventilasi yang memadai dan p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 ragam penghematan energi lainnya dapat menurunkan penggunaan energi dengan cukup signifikan. Pencahayaan memiliki peranan penting dalam menciptakan kenyamanan di dalam gedung, khususnya dalam konteks kenyamanan penglihatan atau visual. Hal ini memiliki dampak signifikan terhadap tingkat produktivitas dan kinerja pekerja manusia. Kualitas pencahayaan yang kurang optimal dalam suatu ruangan dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti menurunnya fungsi ruangan, peningkatan tekanan psikologis pada pengguna, serta gangguan pada kesehatan visual. Oleh karena itu, perencanaan pencahayaan yang baik sangatlah penting untuk JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN memenuhi kebutuhan visual dalam ruangan berdasarkan jenis aktivitas yang dilakukan di Jumlah dan tingkat kecerahan cahaya yang dibutuhkan dalam suatu ruangan bergantung pada jenis kegiatan yang dilakukan di dalamnya. Ketika pencahayaan alami tidak mencukupi untuk memenuhi standar yang telah ditetapkan . aitu sekitar 300-500 lux untuk ruang kerj. , perancangan pencahayaan buatan menjadi sangat penting. Beberapa faktor yang mempengaruhi kurangnya pencahayaan alami dalam suatu ruangan meliputi jumlah jendela yang terbatas, lokasi ruangan di antara ruangan lain atau di dalam bangunan, kondisi cuaca yang fluktuatif seperti distribusi awan dan curah hujan, serta perubahan waktu dari siang ke malam. Gedung rektorat Universitas Pattimura adalah fasilitas kantor yang menjadi pusat pengelolaan dimana gedung ini berfungsi sebagai tempat untuk merencanakan, mengarahkan dan mengendalikan semua kegiatan kampus yang dikerjakan oleh manajeman kampus dalam sebuah sistem akademik. Gedung rektorat Universitas Pattimura adalah bangunan 4 lantai yang memiliki luasan 12. 416 m2. Pencahayaan pada Gedung rektorat Universitas Pattimura sangat bergantung pada sistem pencahayaan buatan untuk menunjang aktivitas pengguna. Ketidakoptimalan pemanfaatan dan penggunaan bukaan merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pencahayaan pada gedung sehingga mengakibatkan kurangnya pencahayaan alami yang masuk ke dalam Hasil pengukuran dengan luxmeter pada koridor menunjukan bahwa tingkat pencahayaan sepanjang hari pada gedung Rektorat Universitas Pattimura rata-rata sebesar 49,57 lux dimana masih jauh dari standar yang ditentukan, sehingga kualitas sistem pencahayaan buatan yang ada sering dianggap masih belum optimal terlihat dari beberapa ruangan dan koridor pada gedung rektorat yang dinilai masih terlalu gelap walau sudah menggunakan lampu sebagai pencahayaan buatan yang bahkan tetap dinyalakan pada siang hari, sehingga membuat keterbatasan visibilitas pengguna gedung. Selain itu juga, variasi jumlah titik lampu yang berbeda tiap ruangan, penggunaan lampu dengan intensitas atau daya yang tidak sesuai dengan luasan bidang kerja yang berpengaruh terhadap ketidakmerataan jumlah cahaya yang disebarkan dalam ruangan sehingga membuat ruangan terlihat lebih gelap, lampu yang tidak terpasang pada armatur, lampu yang tidak menyala atau rusak, strategi tata letak furniture yang kurang sesuai dan penambahan sekat pada ruangan, serta kebersihan lingkungan juga mempengaruhi intensitas pencahayaan yang berasal dari pencahayaan alami maupun buatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari biaya perbaikan dan pemasangan pencahayaan buatan berdasarkan standar lux yang tetapkan pada gedung rektorat Universitas Pattimura Ambon. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Isaac Newton . Cahaya merupakan bentuk energi dalam bentuk gelombang elektromagnetik yang dapat diamati secara langsung, dengan panjang gelombang berkisar antara 380 hingga 750 nanometer. Dalam bidang fisika, cahaya merupakan bentuk radiasi elektromagnetik, baik yang dapat diamati secara kasat mata maupun yang tidak. Cahaya terdiri dari partikel-partikel kecil yang tersebar ke segala arah dari sumbernya. Sumber cahaya adalah objek yang mampu menghasilkan cahaya. Berdasarkan sumbernya, cahaya dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu cahaya yang berasal langsung dari benda itu sendiri . ahaya alam. dan cahaya yang dipantulkan dari permukaan benda lain . ahaya Cahaya yang terlihat adalah cahaya yang dapat dideteksi oleh mata manusia. Sumber cahaya dapat berasal dari matahari, lampu listrik, atau benda-benda yang tembus cahaya seperti kaca atau air. Namun, ketika cahaya tersebut mengenai benda padat, cahaya tersebut akan dipantulkan dan benda tersebut akan memancarkan cahaya. Menurut Lechner . , pencahayaan alami memiliki dua tujuan yaitu secara kualitatif yang bertujuan untuk mengumpulkan cukup cahaya yang berguna untuk meningkatkan penglihatan visual serta mengurangi tingkat penggunaan cahaya buatan berdasarkan aktivitas yang dilakukan. Tujuan ini dapat diukur melalui nilai iluminasi dan faktor pencahayaan alami sesuai dengan standar yang berlaku, serta distribusi atau keseragaman pencahayaan. Sementara itu, tujuan pencahayaan alami secara kualitatif adalah untuk menyebarkan cahaya secara merata ke dalam ruangan, mengurangi silau, menghindari refleksi yang mengganggu, dan mencegah kelebihan kecerahan. Pencahayaan pencahayaan yang dihasilkan oleh sumber cahaya selain cahaya alami. Ketika pencahayaan alami tidak mencukupi atau kondisi ruangan tidak memungkinkan untuk menerima cahaya alami dengan baik, maka pencahayaan buatan dapat digunakan sebagai alternatif. Untuk menghitung tingkat pencahayaan buatan pada Gedung berdasarkan SNI 03-6575-2001, maka perlu diperhatikan beberapa kriteria perencanaan sebagai berikut : Tingkat pencahayaan rata-rata Erata-rata . dapat diketahui dengan perhitungan menggunakan p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 y k yk ErataOerata = total A p d . Keterangan : Ftotal = Fluks luminus total dari semua lampu yang menerangi bidang kerja . A = Luas bidang kerja . kp = koofisien penggunaan kd = koofisien depresiasi/penyusutan Fluks total dari semua lampu yang menerangi bidang kerja (Ftota. dapat dihitung dengan menggunakan rumus : Ftotal = n y F a. Keterangan : n = jumlah lampu yang terpasang pada ruangan F = fluks cahaya . Koefisien Pengunaan (K. JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN Faktor penggunaan merupakan perbandingan antara jumlah fluks luminus yang mencapai bidang kerja dan total cahaya yang dipancarkan oleh semua lampu. Koefisien penggunaan untuk sebuah armatur disediakan dalam tabel oleh produsen armatur, yang didasarkan pada hasil pengujian dari lembaga yang berwenang. Untuk menentukan nilai Kp, diperlukan indeks ruang (IR), yang adalah nilai yang mewakili konfigurasi geometris sebuah Nilai ini dihitung menggunakan rumus: IR = h . Untuk menghitung jumlah armatur, terlebih dahulu dihitung fluks luminus total yang diperlukan untuk direncanakan, dengan menggunakan persamaan : EyA Ftot = k yk . F1 yn F1 = fluks luminus satu buah lampu. n = jumlah lampu dalam satu armatur. Keterangan : l = Panjang ruangan . w = lebar ruangan . heff = tinggi lampu terhadap bidang kerja . Koefisien Depresiasi/Penyusutan (K. Koefisien depresiasi, yang juga dikenal dengan istilah koefisien rugi cahaya, koefisien pemeliharaan, atau Light Loss Factor (LLF), adalah rasio antara intensitas penerangan yang diukur setelah periode waktu tertentu sejak penerangan pada saat instalasi awal. Besarnya berdasarkan estimasi. Untuk ruangan dan armatur dengan pemeliharaan yang baik pada umumnya koefisien depresiasi diambil sebesar 0,8. Tabel 1. Tingkat Pencahayaan Minimum Yang Direkomendasikan Fungsi Ruangan Tingkat Pencahayaan . Kelompok Rederasi Warna Perkantoran : Ruang Direktur Ruang Kerja 1 atau 2 1 atau 2 Ruang Komputer 1 atau 2 Ruang Rapat 1 atau 2 Ruang Gambar Gudang Arsip Ruang Arsip Aktif 1 atau 2 3 atau 4 1 atau 2 Keterangan METODOLOGI Penelitian ini dilakukan pada Gedung Rektorat Universitas Pattimura yang berlokasi di Desa Rumah Tiga. Kecamatan Teluk Ambon. Kota Ambon. Provinsi Maluku dengan luas bangunan 12. 416 m2 dan terletak pada koordinat 3A39Ao15Ay LU dan 128A11Ao44Ay LS dan terdiri dari 4 lantai (Gambar . Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif yang berasal dari studi lapangan dan studi literatur yang terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang dikumpulan dan diolah sendiri oleh peneliti. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung . , pengukuran menggunakan alat bantu, perhitungan numerik sesuai rumus, dan wawancara dengan pengelola Gedung berdasarkan kriteria prasayarat pada SNI. Data sekunder merupakan data perencanaan yang sudah ada dan diperoleh dari pihak pengelola gedung, literatur dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan tata cara perancangan pencahayaan buatan pada bangunan gedung. Data sekunder diperoleh dari data perencanaan gedung seperti Layout ruangan eksisting pada gedung serta dokumen yang tidak dapat diperoleh dari melalui pengambilan data primer. Gunakan silau akibat Gunakan n setempat pada meja Sumber : penulis, 2024 Jumlah armatur dihitung dengan persamaan : N = tot a. Menghitung Jumlah Lampu Yang Diperlukan Untuk Mendapatkan Tingkat Pencahayaan Tertentu. p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 Sumber : penulis, 2024 Gambar 1. Gedung Rektorat Universitas Pattimura HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Lokasi Penelitian Gedung Rektorat Universitas Pattimura Ambon berlokasi di Desa Rumah Tiga. Kecamatan Teluk Ambon. Kota Ambon. Provinsi Maluku. Gedung yang selesai dibangun pada tahun 2004 ini memiliki luas 416 m2 dan terdiri dari 4 lantai, dengan luas masing-masing lantai. lantai 1 memiliki luas 5. m2, lantai 2 memiliki luas 4. 320 m2, lantai 3 memiliki 160 m2, lantai 4 memiliki luas 1. 375,2 m2. JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN Gedung rektorat merupakan prasarana yang berada dalam sebuah lingkungan perkuliahan berupa bangunan kantor yang digunakan sebagai pusat penyelenggaraan dari suatu perguruan tinggi. Gedung ini digunakan sebagai tempat dimana para petinggi dan pihak-pihak yang berwenang atas jalannya tatanan akademik sebuah perguruan tinggi melaksanakan perencanaan, pengarahan, pengendalian dan fungsi kontroling setiap kegiatan kampus yang dilaksanakan sesuai dengan manajemen untuk mencapai visi dan misi tertentu. 2 Data Penelitian 1 Hasil Pengukuran Tingkat Pencahayaan Pencahayaan pada Gedung Rektorat Universitas Ambon menggunakan pencahayaan alami dan buatan secara bersamaan untuk menunjang aktivitas pengguna ruangan sehingga strategi penggunaan sumber cahaya untuk menunjang kegiatan dalam sebuah ruangan baik melalui pencahayaan alami dan buatan haruslah diperhatikan dengan baik. Tata letak bukaan, jumlah dan ukuran bukaan mempengaruhi sumber cahaya alami yang masuk kedalam ruangan. Sedangkan jumlah lampu dan besar daya lampu mempengaruhi intensitas pencahayaan buatan yang diperlukan apabila pencahayaan alami tidak mampu untuk menunjang cahaya yang masuk ke dalam ruangan. 1 Pengukuran Dengan Luxmeter Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan alat ukur intensitas cahaya yaitu Lumeter yang telah dikalibrasi dan menghasilkan nilai intensitas cahaya dengan satuan Lux. Data tersebut dapat dipakai untuk melihat seberapa besar pengaruh penggunaan lampu di dalam ruangan dan pengaruh pencahayaan alami terhadap kinerja lampu yang digunakan di dalam Hasil pengukuran pencahayaan dengan luxmeter adalah sebagai berikut pada tabel 2 : Tabel 2. Hasil Pengukuran Pencahayaan Dengan Luxmeter Waktu Pengukuran Pencahayaan Ruangan SuBag Rumah Tangga SuBag Perlengkapan (BMN) SuBag Kemahasiswaan KaBag UNTLP SuBag UNTLPBMN SuBag Tata Usaha Pusat Pelayanan Kesehatan Pagi (Lu. Siang (Lu. Sore (Lu. Malam (Lu. p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 Waktu Pengukuran Pencahayaan Ruangan Pengelola Unit Bisnis KaBag Akademik dan Evaluasi SuBag Sarana Pendidikan Dosen PSDKU Prodi PSDKU Toilet Lantai 1 SuBag Kepegawaian Tenaga Administrasi KaBag Kepegawaian SuBag Kepegawaian Tenaga Edukatif SuBag Dana Masyarakat KaSuBag Kerjasama KaSuBag Sistem Informasi KaSuBag Perencanaan KaBag Perencanaan dan SI Tim Tanah SuBag Keungan Sekretariat Biro Umum dan Keuangan KaBiro Umum dan Keuangan SuBag Sistem Informasi SuBag Perencanaan Monitoring dan Evaluasi Aula Toilet lantai 2 Sekretariat PR II Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Pembantu Rektor Bidang Akademik Pagi (Lu. Siang (Lu. Sore (Lu. Malam (Lu. JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN Waktu Pengukuran Pencahayaan Ruangan Pembantu Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama Bendahara Keuangan Rapat Komisi Pagi (Lu. Siang (Lu. Sore (Lu. Malam (Lu. Sumber : penulis, 2024 2Pengukuran Dengan Perhitungan Berdasarkan SNI 03-6575-2001 Berdasarkan hasil perhitungan maka tingkat pencahayaan rata-rata dari setiap ruangan di Gedung rektorat Universitas Pattimura Ambon adalah sebagai berikut pada tabel 3: Tabel 3. Hasil Perhitungan Tingkat Pencahayaan Rata-Rata Ruangan Nama Ruangan SuBag Rumah Tangga SuBag Perlengkapan (BMN) SuBag Kemahasiswaan KaBag UNTLP SuBag UNTLPBMN SuBag Tata Usaha Pusat Pelayanan Kesehatan Pengelola Unit Bisnis KaBag Akademik dan Evaluasi SuBag Sarana Pendidikan Dosen PSDKU Prodi PSDKU Toilet Lantai 1 SuBag Kepegawaian Tenaga Administrasi KaBag Kepegawaian SuBag Kepegawaian Tenaga Edukatif Ftot E ratarata 141,96 0,71 36,01 141,96 0,71 43,21 141,96 0,71 50,41 0,58 45,64 0,63 33,23 0,63 25,41 0,51 32,21 141,96 0,71 57,62 141,96 0,71 43,21 Nama Ruangan SuBag Dana Masyarakat KaSuBag Kerjasama KaSuBag Sistem Informasi KaSuBag Perencanaan KaBag Perencanaan dan SI Tim Tanah SuBag Keungan Sekretariat Biro Umum dan Keuangan KaBiro Umum dan Keuangan SuBag Sistem Informasi SuBag Perencanaan Monitoring dan Evaluasi Aula Toilet Lantai 2 Sekretariat PR II Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Pembantu Rektor Bidang Akademik Pembantu Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama Bendahara Keuangan Rapat Komisi Ftot E ratarata 54,06 0,63 50,34 20,67 0,51 35,53 7,95 0,36 65,21 7,95 0,36 65,21 16,38 0,36 63,30 47,58 0,63 57,20 68,64 0,63 79,30 37,44 0,58 44,62 0,67 91,98 0,74 83,95 37,44 0,62 71,54 117,78 0,74 67,86 551,32 0,91 0,36 35,65 20,74 0,36 64,80 38,71 0,62 242,17 59,78 0,67 121,04 37,92 0,62 176,58 66,64 0,67 86,87 149,04 0,80 92,75 Sumber : penulis, 2024 130,26 0,71 47,09 0,58 22,82 0,81 54,45 0,36 20,74 148,33 0,77 52,33 0,51 26,90 175,63 0,77 63,13 p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 Berdasarkan rangkaian perhitungan yang telah dilakukan maka didapatkan tingkat pencahayaan ratarata tiap ruangan yang ada di Gedung Rektorat Universitas Pattimura Ambon dengan tingkat pencahayaan tertinggi ada di ruang Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan yaitu sebesar 242. 17 lux dan tingkat pencahayaan terendah ada di ruang Dosen PSDKU yaitu sebesar 22. 82 lux. 2 Menghitung Jumlah Lampu Yang Diperlukan Untuk Mendapatkan Tingkat Pencahayaan Tertentu. Untuk menghitung jumlah armatur, terlebih dahulu dihitung fluks luminus total yang diperlukan untuk mendapatkan tingkat pencahayaan yang Pada perhitungan kali ini lampu yang JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN digunakan adalah Philips TForce Core HB 40W E27 865 WV dengan nilai lumen lampu sebesar 4800 lumen, nilai koefisien depresiasi sebesar 0. 8, dan mengacu pada standar pencahayaan berdasarkan PERMENKES No. 70 tahun 2016 tentang Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri dimana pencahayaan ruangan kerja umum sebesar 200 lux, maka didapatkan hasil sesuai dengan tabel 4 : Tabel 4. Perhitungan Kebutuhan Lampu Berdasarkan Hitungan SNI 03-6575-2001 Mengacu Pada Standar Pencahayaan PERMENKES No. Tahun 2016 Nama Ruangan SuBag Rumah Tangga SuBag Perlengkapan (BMN) SuBag Kemahasiswaan KaBag UNTLP SuBag UNTLPBMN SuBag Tata Usaha Pusat Pelayanan Kesehatan Pengelola Unit Bisnis KaBag Akademik dan Evaluasi SuBag Sarana Pendidikan Dosen PSDKU Prodi PSDKU Toilet Lantai 1 SuBag Kepegawaian Tenaga Administrasi KaBag Kepegawaian SuBag Kepegawaian Tenaga Edukatif SuBag Dana Masyarakat KaSuBag Kerjasama KaSuBag Sistem Informasi KaSuBag Perencanaan KaBag Perencanaan dan SI Nama Ruangan Tim Tanah SuBag Keungan Sekretariat Biro Umum dan Keuangan KaBiro Umum dan Keuangan SuBag Sistem Informasi SuBag Perencanaan Monitoring dan Evaluasi Ftot 2,43 0,69 51434,78 2,43 0,69 51434,78 2,43 0,69 51434,78 1,34 0,56 16339,29 1,61 0,61 22377,05 1,77 0,61 29262,30 1,03 0,49 11632,65 2,43 0,69 51434,78 2,43 0,69 51434,78 2,36 0,69 47195,65 Rapat Komisi 1,34 0,56 16339,29 Sertifikasi Dosen 3,18 0,79 67784,81 Ruang A1 1,11 0,43 14534,88 Ruang B1 Toilet Lantai 2 2,60 9,00 0,67 0,49 4591,84 2,75 0,75 58543,33 1,55 0,61 22155,74 1,00 0,49 10545,92 Aula 0,75 49443,33 Sekretariat PR II Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Pembantu Rektor Bidang Akademik Pembantu Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama Bendahara Keuangan Gudang Kemahasiswaan Security Lantai 1 Toilet Lantai 1 Kantin Ruang C1 Poliklinik Operator 7,95 0,52 0,34 5845,59 7,95 0,52 0,34 5845,59 0,74 0,34 12044,12 p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 Security Lantai 2 International Office Toilet Lantai 2 Humas Ftot 1,52 0,61 19500,00 1,84 0,61 28131,15 1,32 0,56 16714,29 1,51 0,61 19344,26 2,13 0,69 34492,75 1,32 0,56 16714,29 2,29 0,69 42673,91 5,03 0,87 158425,29 0,83 0,43 14534,88 0,99 0,43 11627,91 1,34 0,56 17281,25 1,67 0,61 24500,00 1,33 0,56 16928,57 1,78 0,61 27311,48 2,69 0,75 49680,00 2,43 0,69 51434,78 1,33 0,49 18367,35 1,60 0,61 22131,15 1,33 0,56 16071,43 0,99 0,43 11627,91 1,11 0,49 12755,10 2,87 0,75 56000,00 0,99 0,43 11627,91 2,43 0,69 51434,78 1,33 0,56 16071,43 0,78 0,34 20588,24 2,26 0,69 40579,71 1,11 0,49 12755,10 1,33 0,56 16071,43 JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN Nama Ruangan Ganti Senat Musholah Satuan Pengawasan Internal Alat 1 Alat 2 Toilet Lantai 3 Ruang A3 Gudang Data Kontrak Toilet Lantai 3 Gudang Dapur PR II Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum Toilet Lantai 3 Dapur Cuci Piring Tamu Sekretaris Rektor Kerja Rektor Rapat Rektor Dapur Rektor Istirahat Rektor Toilet Rektor Toilet Lantai 4 Toilet Lantai 4 Badan Perencanaan Dan Pengembangan Unpatti Ketua Sekretariat Senat Rapat Senat Sekretariat Senat 3 Perencanaan Pemasangan Instalasi Listrik. Perencaan pemasangan instalasi listrik untuk Gedung Rektorat Universitas Pattimura adalah sebagai Pada lantai 1 direncanakan jumlah titik lampu sebanyak 215 buah, saklar deret sebanyak 58 buah, dan saklar tunggal sebanyak 4 buah. Ftot 3,03 0,79 62658,23 1,67 0,61 23053,28 1,94 0,61 32274,59 1,29 0,56 15000,00 1,29 0,56 15000,00 0,99 0,43 11627,91 1,06 0,49 16132,65 0,82 0,43 7932,56 1,11 0,49 12755,10 1,48 0,56 22321,43 1,87 0,61 34426,23 1,11 0,49 12755,10 0,82 0,43 7932,56 1,19 0,49 14795,92 1,84 0,61 29262,30 2,45 0,69 44347,83 2,11 0,69 32608,70 1,37 0,56 17187,50 1,37 0,56 17187,50 0,99 0,43 11627,91 1,12 0,49 13010,20 1,12 0,49 13010,20 Gambar 3. Rencana Instalasi Listrik Gedung Rektorat Lantai 2 2,06 0,69 31884,06 Pada lantai 3 direncanakan jumlah titik lampu sebanyak 103 buah, saklar deret sebanyak 31 buah, dan saklar tunggal sebanyak 6 buah. 1,08 0,49 12551,02 3,50 0,79 79746,84 2,23 0,69 41032,61 Sumber : penulis, 2024 Gambar 2. Rencana Instalasi Listrik Gedung Rektorat Lantai 1 Pada lantai 2 direncanakan jumlah titik lampu sebanyak 192 buah, saklar deret sebanyak 49 buah, dan saklar tunggal sebanyak 15 buah. Sumber : penulis, 2024 Sumber : penulis, 2024 p-ISSN: 2302-9579/e-ISSN: 2581-2866 JURNAL SIMETRIK VOL 14. NO. BULAN TAHUN Berdasarkan hasil perhitungan rancangan anggaran biaya untuk pemasangan instalasi listrik Gedung Rektorat Universitas Pattimura adalah sebesar Rp. Sumber : penulis, 2024 Gambar 4. Rencana Instalasi Listrik Gedung Rektorat Lantai 3 Pada lantai 4 direncanakan jumlah titik lampu sebanyak 90 buah, saklar deret sebanyak 19 buah, dan saklar tunggal sebanyak 1 buah. Sumber : penulis, 2024 Gambar 5. Rencana Instalasi Listrik Gedung Rektorat Lantai 4 Rancangan Anggaran Biaya. RAB atau Rencana Anggaran Biaya adalah perhitungan terkait seberapa besar biaya yang dibutuhkan untuk bahan, upah, serta biaya lain yang berkaitan dengan pelaksanaan proyek tertentu. Dalam penelitian ini Rancangan Anggaran Biaya yang diperlukan untuk instalasi listrik Gedung Rektorat Universitas Pattimura Ambon adalah seperti pada tabel Tabel 5. Rancangan Anggaran Biaya PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan rancangan anggaran biaya yang diusulkan, dapat diketahui bahwa pemasangan instalasi listrik Gedung Rektorat Universitas Pattimura berdasarkan pada perhitungan pencahayaan buatan SNI 03-6575-2001 dengan mengikuti standar pencahayaan pada ruang kerja umum menurut PERKEMNES 70 tahun 2016 adalah sebesar Rp. Saran Menggunakan bukaan-bukaan yang ada secara optimal agar cahaya alami juga dapat masuk ke dalam ruangan dengan baik. Diperlukan stategi tata letak dalam ruangan yang baik, menghindari penggunaan barang-barang yang dapat menimbulkan silau berlebih sehingga cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda dalam ruangan tidak mengganggu. DAFTAR PUSTAKA