Mutiara Pendidikan dan Olahraga Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/mupeno. Tersedia: https://ejournal. id/index. php/mupeno Hubungan Power Otot Tungkai dengan Hasil Smash Bolavoli pada Pemain Usia 16-18 Tahun Jaya Vollyball Club (Jv. Lubuklinggau Sintia1*. Dr. Viktor Pandra. Pd. Yuli Febrianti. Pd. Si 3 Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan Dan Rekreasi. Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas PGRI Silampari Email: Osinsintia22@gmail. com 1* Alama: Jl. Mayor Toha. Kelurahan Air Kuti. Kecamatan Lubuklinggau Timur 1. Sumatera Selatan *Penulis Korespondensi Abstract. This study investigates the relationship between leg muscle power and the effectiveness of volleyball smash performance among players aged 16Ae18 years at Jaya Volleyball Club (JVC) Lubuklinggau. Volleyball is a sport that requires a combination of physical strength, technical mastery, and tactical coordination, with the smash being one of the most decisive offensive techniques. The research was motivated by the observation that many junior athletes at JVC had not yet maximized their smash performance, particularly in terms of accuracy and power, which are strongly influenced by leg muscle explosiveness. The study employed a quantitative approach using purposive sampling with 35 participants selected from a population of 60 athletes. Leg muscle power was measured using the vertical jump test, while smash ability was assessed using a structured volleyball smash test. Data analysis was conducted with SPSS version 23, including descriptive statistics, normality tests using the Kolmogorov-Smirnov method, and Bivariate Correlation analysis . wo-taile. The results revealed a correlation coefficient . 652, with a significance value of 0. 000 (<0. , indicating a statistically significant and strong relationship between leg muscle power and smash performance. These findings confirm that explosive power in the legs contributes greatly to the ability of young volleyball players to execute effective smashes. Athletes with higher vertical jump capacity tend to produce more accurate, powerful, and successful smashes, thereby increasing their contribution to team performance. The results emphasize the importance of integrating targeted leg muscle power training into volleyball coaching programs. Coaches and clubs are encouraged to design structured strength and plyometric training regimens to optimize playersAo performance. Furthermore, this study provides valuable insights for athlete development programs and contributes to the broader understanding of physical conditioning in volleyball. Keywords: Leg Muscle Power. Performance. Physical Conditioning. Volleyball Smash. Youth Athletes. Abstrak. Penelitian ini menyelidiki hubungan antara daya otot tungkai dan efektivitas kinerja smash bola voli di antara pemain berusia 16Ae18 tahun di Jaya Volleyball Club (JVC) Lubuklinggau. Bola voli adalah olahraga yang membutuhkan kombinasi kekuatan fisik, penguasaan teknik, dan koordinasi taktis, dengan smash menjadi salah satu teknik ofensif yang paling menentukan. Penelitian ini dimotivasi oleh pengamatan bahwa banyak atlet junior di JVC belum memaksimalkan kinerja smash mereka, terutama dalam hal akurasi dan kekuatan, yang sangat dipengaruhi oleh ledakan otot tungkai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan purposive sampling dengan 35 peserta yang dipilih dari populasi 60 atlet. Daya otot tungkai diukur dengan menggunakan tes lompat vertikal, sementara kemampuan smash dinilai dengan menggunakan tes smash bola voli Analisis data dilakukan dengan SPSS versi 23, termasuk statistik deskriptif, uji normalitas dengan metode Kolmogorov-Smirnov, dan analisis Korelasi Bivariat . ua sis. Hasilnya menunjukkan koefisien korelasi . sebesar 0,652, dengan nilai signifikansi 0,000 (<0,. , yang menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dan kuat antara kekuatan otot tungkai dan performa smash. Temuan ini menegaskan bahwa daya ledak di tungkai berkontribusi besar terhadap kemampuan pemain voli muda untuk melakukan smash yang efektif. Atlet dengan kapasitas lompatan vertikal yang lebih tinggi cenderung menghasilkan smash yang lebih akurat, kuat, dan sukses, sehingga meningkatkan kontribusi mereka terhadap performa tim. Hasilnya menekankan pentingnya mengintegrasikan latihan kekuatan otot tungkai yang terarah ke dalam program pelatihan voli. Pelatih dan klub didorong untuk merancang rejimen latihan kekuatan dan plyometrik yang terstruktur untuk mengoptimalkan performa pemain. Lebih lanjut, penelitian ini memberikan wawasan berharga untuk program pengembangan atlet dan berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas tentang pengondisian fisik dalam bola voli. Kata Kunci: Atlet Muda. Bola Voli. Hasil Smash. Kondisi Fisik. Performa. Power Otot Tungkai. Naskah Masuk: 12 Juli 2025. Revisi: 26 Juli 2025. Diterima: 23 Agustus 2025. Terbit: 26 Agustus 2025. Hubungan Power Otot Tungkai dengan Hasil Smash Bolavoli pada Pemain Usia 16-18 Tahun Jaya Vollyball Club (Jv. Lubuklinggau LATAR BELAKANG Bola voli merupakan salah satu cabang olahraga yang berkembang pesat di Indonesia. Tujuan orang melakukan olahraga bola voli ini sangat beragam, ada yang sekedar untuk hiburan, olahraga kesehatan, olahraga pendidikan, bahkan sampai bertujuan untuk mencapai prestasi yang maksimal (Mulyadi dan Pratiwi, 2. Permainan bolavoli bersifat beregu terdiri dari 6 orang pemain, sehingga keberhasilan untuk bermain banyak ditentukan oleh sportivitas dan kerjasama pemain. Prinsip pemain cukup sederhana, yakni memantulkan bola dari tangan ke tangan sebelum bola itu menyentuh lantai lapangan. Tujuan dari permainan bola voli yaitu menyeberangkan bola ke daerah lapangan permainan lawan sesulit mungkin untuk dijatuhkan atau mematikan bola agar memperoleh kemenangan. Putra . menjelaskan bahwa teknik-teknik dasar dalam permainan bolavoli terdiri atas: service, passing bawah, passing atas, blok, dan smash. Setiap teknik memiliki karakteristik gerak tersendiri yang kesemuanya harus didukung dengan kondisi fisik yang baik, teknik dasar yang berperan penting saat penyerangan dalam permainan bolavoli yaitu smash. AuSmash adalah pukulan bola yang keras dari atas ke bawah, jalannya bola menukik (Putra, 2017:. Ay. Berdasarkan jenis umpan yang diberikan, smash dibedakan menjadi lima, antara lain: open smash, semi smash, quick smash, back attack smash, dan smash langsung (Pratama, , 2020: . Pemain yang ingin menguasai smash dengan baik membutuhkan beberapa kondisi fisik. Faktor yang mempengaruhi smash bola voli yaitu kekuatan otot lengan. Kekuatan adalah kemampuan untuk mengembangkan kekuatan maksimal dengan kontraksi yang maksimal untuk mengatasi resistensi atau stres (Oktariana & Hardiyono, 2020: . Sebagian besar pertunjukan olahraga melibatkan gerakan yang disebabkan kemampuan kekuatan yang diciptakan kontraksi otot (Saptiani, dkk. , 2019: . Faktor lain yang berpengaruh dalam teknik smash adalah power tungkai. Power tungkai dalam olahraga merupakan salah satu komponen yang harus di miliki di sebagian cabang olahraga, oleh karena itu berkaitan dengan hasil dari seluruh kinerja baik secara individu maupun kelompok yang sedang melakukan aktivitas olahraga sebagai komponen terpenting dalam cabang olahraga (Sujiono & Marani, 2019: . Adapun faktor yang berpengaruh pada daya ledak yaitu kecepatan dan kekuatan. Tingginya lompatan dipengaruhi oleh power otot Untuk mendapatkan power otot tungkai yang maksimal diperlukan latihan yang intensif serta alat ukur yang akurat untuk mengetahui hasil lompatan seseorang. Selain itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam perkembangan daya ledak yaitu faktor biomekanika, faktor pengungkit, faktor ukuran tubuh, faktor jenis kelamin dan faktor usia Jaya Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. Vollyball Club (JVC) Lubuklinggau adalah klub bolavoli yang aktif terdaftar pada kepengurusan PBVSI Kota Lubuklinggau tahun 2024. Berdasarkan hasil wawancara awal pada hari selasa tanggal 12 November 2024, sarana dan prasarana di klub JVC Kota Lubuklinggau terdapat 2 lapangan putra dan putri, 2 Net, bola 50 buah, dan beberapa alat fitnes. Sampai saat ini tercatat ada 60 orang atlet yang aktif mengkikuti latihan yang terdiri atlet usia 13 Ae 18 tahun dan atlet usia 19Ae23 tahun. Proses latihan berlangsung 4 kali dalam seminggu yaitu pada hari selasa, kamis, dan sabtu mulai dari pukul 14. 30 WIB s. selesai dan hari minggu dimulai dari pukul 07. 00 WIB s. Ada 3 aspek yang dilatih, yaitu teknik, strategi dan taktik, serta kondisi fisik. Melihat gambaran di atas, dengan melaksanakan latihan 4 kali seminggu, ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, serta pelatih yang berkompeten. Seharusnya pemain JVC sudah memiliki kemampuan yang baik dalam bermain bolavoli. Hasil dari observasi pada saat sesi latihan di lapangan voli inddor di GOR Petanang Kota Lubuklinggau, pemain usia 16-18 tahun yang berjumlah 35 orang pada dasarnya sudah bisa melakukan teknik-tenik dasar permainan bola voli. Dari 35 orang terdapat 23 % . yang memiliki kemampuan smash baik, 26 % . yang memiliki kemampuan smash cukup, dan 51% . orang ) yang masih belum maksimal dalam melakukan pukulan smash, sumber dari hasil evaluasi pelatih per 3 bulan. Hal ini terlihat pada saat pemaian melakukan pukulan smash dalam permainan bolavoli, ketepatan pukulan smash yang di hasilkan tidak sesuai dengan harapan, bola terkadang tidak bisa melewati net, tidak tepat pada area yang kosong, tidak bisa menghindari block lawan, bahkan hasil smash sering keluar dari area lapangan. Lompatan yang dilakukan atlet terlihat belum maksimal, sebagai contoh mulai dari awal saat mau melompat sampai dengan tolakan, semua rangkaian gerakan terkesan dilakukan kurang Tentunya hal ini berimbas dengan hasil lompatan yang rendah. Berdasarkan permasalahan di atas, dan diperkuat dengan jurnal penelitian sejenis terdahulu, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul Auhubungan power otot tungkai dengan hasil smash bolavoli pemain usia 18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) LubuklinggauAy. penelitian ini nantinya diharapakan dapat memberikan kontribusi yang psoitif terhadap permasalahan yang ada di klub JVC Kota Lubuklinggau. Hubungan Power Otot Tungkai dengan Hasil Smash Bolavoli pada Pemain Usia 16-18 Tahun Jaya Vollyball Club (Jv. Lubuklinggau KAJIAN TEORITIS Macam-macam Teknik Smash: Teknik Gerak Smash Umpan Tinggi (Ope. Smash umpan tinggi . , dengan ketinggian umpan lebih dari dua meter, merupakan dasar dari latihan smash. Jika pemain dapat melakukan smash dengan bola umpan tinggi akan mudah dikembangkan ke umpan-umpan yang lain (Pratiwi, 2021:. Menurut Winarno, dkk. , . Teknik Gerak Smash Bola Semi Smash semi ketinggian umpannya hanya sekitar satu sampai dua meter di atas bibir net. Teknik gerak mulai dari awalan, meloncat, melayang memukul bola,dan mendarat hampir sama dengan teknik dasar umpan bola tinggi (Pratiwi, 2021:. Menurut Winarno, dkk. 5: . teknik ini dilakukan seperti pada saat melakukan spike normal. Perbedaan terletak pada perkenaan bola dan ketinggian bola, teknik dilakukan dengan pemain yang akan melakukan spiker lebih dahulu bergerak sebelum bola sampai pada set-uper. Set-uper memberikan bola tidak lebih dari 2 meter di atas net. Teknik Gerak Smash Pull (Quic. Winarno dkk . 5: . menyatakan teknik quick smash digunakan untuk mengembangkan permainan cepat dalam melakukan variasi-variasi serangan ke daerah Teknik quick smash digunakan untuk bermain cepat dan untuk variasi-variasi Teknik Gerak Smash Pemain Belakang (Back Attac. Smash dari jauh net atau dari belakang garis serang, kuncinya ada di langkah akhir menjelang loncat. Langkah akhir tidak perlu panjang karena loncatan justru harus melayang ke depan. Dengan loncat melayang ke depan maka hasil pukulan akan bertambah kencang karena ada tambahan gerak (Pratiwi, 2021:. Bujang, et al. , . menyatakan bahwa smash back attack adalah variasi teknik smash dari baris belakang. Teknik Gerak Smash Jingkat/Engkling/Running Smash Macam smash jingkat di antaranya: semi, pull, dan dua kaki jingkat . oubel runin. Tumpuan loncat pada teknik smash jingkat tidak mengunakan dua kaki, maka awalan, meloncat, melayang memukul bola, dan mendarat ada perbedaan dengan teknik smash yang lain (Pratiwi, 2021:. Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. Hakikat Daya Ledak (Powe. Power atau daya ledak merupakan suatu rangkaian kerja beberapa unsur gerak otot dan menghasilkan daya ledak jika dua kekuatan tersebut bekerja secara bersamaan. Power atau daya ledak memiliki banyak kegunaan pada suatu aktivitas olahraga seperti pada berlari, melempar, memukul, menendang. Pelaksanaan gerak dari objek tersebut akan dicapai dengan sempurna jika orang tersebut dapat menerapkan kekuatan secara maksimal dengan satuan waktu yang sesingkat-singkatnya. Hakikat Otot Tungkai Siti . menyatakan bahwa: Otot tungkai adalah otot yang terdapat pada kedua tungkai antara lain otot tungkai bagian bawah: Otot tabialis anterior, extendon digitarium longus, porenius longus, gastrokneumius, soleus, sedangkan otot tungkai atas adalah: tensor fasiolata, abduktor sartorius, rectus femoris, vastus leteralis dan vastus medialis. Jaringan-jaringan otot berfungsi sebagai penggerak tubuh dalam melakukan gerakan. Otot tungkai termasuk ke dalam otot yang berada pada anggota gerak bagian bawah. Otot-otot anggota gerak bawah dapat dibedakan atas otot pangkal paha, hampir semua terentang antara gelang panggul dan tungkai atas yang menggerakkan tungkai atas di sendi paha. Sebagian dari otot tungkai dapat dibagi atas otot-otot kedang yang terletak pada bidang belakang . eparuh selaput, otot separuh urat, otot bisep pah. Siti . menjelaskan otot tungkai bagian bawah terdiri dari: . Otot tulang kering depan muskulus tibialis anterior, fungsinya mengangkat pinggir kaki sebelah tengah dan membengkokan kaki. Muskulus ekstensor talangus longus, yang fungsinya meluruskan jari telunjuk ketengah jari, jari manis dan kelingking jari. Otot kedang jempol, fungsinya dapat meluruskan ibu jari kaki. Urat arkiles, . endo arkhile. , yang fuungsinya meluruskan kaki di sendi tumit dan membengkokan tungkai bawah lutut. Otot ketul empu kaki panjang . uskulus falangus longu. , fungsinya membengkokan empu kaki. Otot tulang betis belakang . uskulus tibialis posterio. , fungsinya dapat membengkokan kaki disendi tumit dan telapak kaki sebelah ke dalam. Otot kedang jari bersama, fungsinya dapat meluruskan jari kaki . uskulus ekstensor falangus 1-. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif, diartikan sebagai penelitian yang banyak menggunakan angka, mulai dari proses pengumpulan data, analisis data, dan penampilan data. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasi sederhana. Metode korelasi adalah metode yang dilakukan seorang peneliti untuk Hubungan Power Otot Tungkai dengan Hasil Smash Bolavoli pada Pemain Usia 16-18 Tahun Jaya Vollyball Club (Jv. Lubuklinggau mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih, tanpa melakukan perubahan, tambahan atau manipulasi terhadap data yang memang sudah ada Amruddin et al . Penelitian ini dilaksanakan di lapangan bola voli indoor GOR Petanang tempat klub JVC Lubuklinggau latihan yang beralamat di jalan Lintas Tengah Sumatera. Keluarahan Petanang Ulu Kecamatan Lubuklinggau Uatara I. Kota Lubuklinggau 31614. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh atlet klub JVC Kota Lubuklinggau yang berjumlah 60 orang yang terdiri atlet junior usia 16-18 tahun dan atlet senior usia 19-23 tahun. Penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode nonprobability sampling dengan jenis purposive sampling yang berarti penarikan sampel berdasarkan tujuan peneliti dan bukan berdasarkan random, geografis Amiruddin et al, . Atas dasar itulah peneliti memilih atlet junior yang berjumlah 35 orang. Adapun alasan dipilihnya sampel tersebut, dikarenakan rekomendasi dari pelatih mengingat 35 orang ini memiliki kemampuan smash yang sangat beragam. alasan lain yaitu atlet junior ini belum pernah diukur power otot tungkainya, dan sebagai tolak ukur bagi pelatih untuk menambah beban serta intensitas latihan. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelelitian ini yaitu menggunakan teknik . observasi, . wawancara, . tes, dan . Instrument dalam penelitian ini menggunakan tes tindakan . inerja motori. , yaitu: . Tes vertical jump untuk variabel independen (X), dan . Tes smash bola voli. nalisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah memakai teknik korelasi product moment. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini bermaksud untuk untuk mengetahui apakah terdapat hubungan power otot tungkai dengan hasil smash bolavoli pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Lubuklinggau. Secara rinci deskripsi data power tungkai (X), dan tes kemampusan smash bola voli (Y) pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Lubuklinggau sebagai Deskripsi Data Power Otot Tungkai (X) Berdasarkan data penelitian dari 35 orang sampel yang dilanjutkan dengan penghitungan menggunakan bantuan aplikasi SPSS versi 23, maka didapat beberapa nilai yang penulis butuhkan untuk memudahkan penulis dalam mengolah data. Adapun nilainilai yang dimaksud terdiri dari nilai maxsimum, nilai minimum, mean . cUI), range (R), jumlah (O. , dan standar deviasi . Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. Berikut deskripsi data power otot tungkai pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Kota Lubuklinggau yang diperoleh dari tabel output SPSS versi 23, yaitu sebagai Tabel 1. Statistics Power Otot Tungkai Valid Missing 52,80 8,083 Mean Std. Deviation Range Minimum Maximum Sum Setelah semua data diketehui, agar penyajian data mudah dipahami selanjutnya disusun tabel distribusi frekuensi data power tungkai pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Kota Lubuklinggau dengan bantuan aplikasi SPSS versi 23, adapun outputnya sebagai berikut: Tabel 2. Power Otot Tungkai Valid Total Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Hubungan Power Otot Tungkai dengan Hasil Smash Bolavoli pada Pemain Usia 16-18 Tahun Jaya Vollyball Club (Jv. Lubuklinggau Apabila ditampilkan dalam bentuk grafik histogram, hasil power otot tungkai pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Kota Lubuklinggau dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 1. Histogram Power Otot Tungkai Berdasarkan tabel distribusi frekuensi di atas, dari 35 orang sampel yang melakukan tes vertical jump untuk mengukur power otot tungkai pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Kota Lubuklinggau, diperoleh loncatan maksimal tinggi raihan setinggi 39 cm ada 1 orang, 40 cm ada 1 orang ,dan 41 cm ada 1 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,7%), yang memperoleh hasil loncatan maksimal tinggi raihan setinggi 43 cm ada 2 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,7%). Yang memperoleh hasil loncatan maksimal tinggi raihan setinggi 45 cm ada 4 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,4%). Pemain yang memperoleh loncatan maksimal tinggi raihan setinggi 46 cm ada 1 orang, 47 cm ada 1 orang ,dan 48 cm ada 1 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,7%), yang memperoleh loncatan maksimal tinggi raihan setinggi 50 cm ada 5 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,3%), yang memperoleh loncatan maksimal tinggi raihan setinggi 53cm ada 2 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,7%). Pemain yang memperoleh loncatan maksimal tinggi raihan setinggi 55 cm ada 1 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,9%). Pemain yang memperoleh loncatan maksimal tinggi raihan setinggi 56 cm ada 2 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,7%), pemain yang memperoleh loncatan maksimal tinggi raihan setinggi 57cm ada 1 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,9%), pemain yang memperoleh loncatan maksimal tinggi raihan setinggi 58 cm ada 3 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,6%), pemain yang memperoleh loncatan maksimal tinggi raihan setinggi 59 cm ada 1 orang, 60 cm 1 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,8%), pemain Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. yang memperoleh loncatan maksimal tinggi raihan setinggi 61 cm ada 2 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,8%). Pemain yang memperoleh loncatan maksimal tinggi raihan setinggi 62 cm ada 1 orang, 63 cm 1 orang, 65 cm 1 orang, 67 cm 1 orang, 69 cm 1 dan jika dipersentasekan yaitu . ,5 %). Berdasarkan deskripsi di atas, dapat sisimpulkan secara keseluruhan pemain laki-laki usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Kota Lubuklinggau yang berjumlah 15 orang memiliki loncatan maksimal tinggi raihan rata-rata sebesar 59,5 cm masuk dalam kategori AuBaik SekaliAy. Untuk pemain perempuan usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Kota Lubuklinggau yang berjumlah 20 orang memiliki loncatan maksimal tinggi raihan ratarata sebesar 47,8 cm dan masuk dalam ketegori AuBaikSekaliAy. Deskripsi Data Kemampuan Smash Bola Voli (Y) Berikut deskripsi data kemampuan smash pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Kota Lubuklinggau, sebagai berikut: Tabel 3. Statistics Kemampuan Smash Bola Voli Valid Missing 24,80 5,905 Mean Std. Deviation Range Minimum Maximum Sum Setelah semua data diketehui, agar penyajian data mudah dipahami selanjutnya disusun tabel distribusi frekuensi kemampuan smash bola voli pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Kota Lubuklinggau, dengan bantuan aplikasi SPSS versi 23, adapun outputnya sebagai berikut: Tabel 4. Kemampuan Shamsh Bola Voli Valid Total Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Hubungan Power Otot Tungkai dengan Hasil Smash Bolavoli pada Pemain Usia 16-18 Tahun Jaya Vollyball Club (Jv. Lubuklinggau Apabila ditampilkan dalam bentuk grafik histogram, kemampuan smash bola voli pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Kota Lubuklinggau dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 2. Histogram smash bola volly Berdasarkan tabel dan grafik histogram di atas, dari 35 orang sampel yang melakukan tes smash bola voli sebanyak 5 kali kesempatan, diperoleh total skor 15 ada 2 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,7%), yang memperoleh total skor 17 ada 3 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,6%), yang memperoleh total skor 19 ada 2 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,7%), yang memperoleh total skor 20 ada 4 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,47%), yang memperoleh total skor 21 ada 2 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,7%), yang memperoleh total skor 22 ada 1 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,9%), yang memperoleh total skor 24 ada 5 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,3%), yang memperoleh total skor 26 ada 3 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,6%), yang memperoleh total skor 28 ada 1 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,9%). yang memperoleh total skor 31 ada 5 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,3%), yang memperoleh total skor 33 ada 2 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,7%), dan pemain yang memperoleh total skor 35 ada 2 orang dan jika dipersentasekan yaitu . ,7%). Berdasarkan deskripsi di atas, dapat sisimpulkan secara keseluruhan pemain laki-laki usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Kota Lubuklinggau yang berjumlah 15 orang dengan rata-rata skor hasil Smash sebesar 30 masuk dalam kategori AuBaikAy. Untuk pemain perempuan usia 16- 18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Kota Lubuklinggau yang berjumlah 20 orang dengan rata-rata skor hasil Smash sebesar 21 masuk ketegori AuCukupAy. Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. Pengujian Persyaratan Analisis Sebelum uji hipotesis dilakukan, maka perlu dilakukan uji prasyarat yaitu dengan uji Perhitungan ini dimaksudkan apakah variabel- variabel dalam penelitian mempunyai sebaran data yang berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas untuk variabel X dan Y menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov Test dengan bantuan aplikasi SPSS versi 23 dapat dilihat pada lampiran. Sedangkan rangkuman hasil uji normalitas untuk variabel X dan Y disajikan pada tabel berikut: Tabel 5. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test. Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Power Otot Kemampuan Shamsh Tungkai Bola Voli Mean 52,80 24,80 Std. Deviation 8,083 5,905 Absolute ,121 ,111 Positive ,121 ,111 Negative -,083 -,110 ,121 ,111 ,200c,d ,200c,d Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. This is a lower bound of the true significance. Berdasarkan tabel output SPSS di atas, kaidah yang digunakan untuk mengetahui normal tidaknya suatu sebaran adalah dengan melihat nilai Sig. > 0,05 sebaran dinyatakan normal, dan jika nilai Sig. < 0,05 sebaran dikatakan tidak normal. hasil di atas menunjukkan bahwa nilai Sig. Power otot tungkai dan kemampuan smash bola voli yaitu 0,200 > 0,05. Itu artinya sebaran data untuk variabel X dan Y dalam penelitian ini berdistribusi normal. Uji Hipotesis (Uji Bivariate Pearson antara Variabel X dengan Y) Setelah uji prasyarat dari ke-2 variabel dinyatakan berdistribusi normal, selanjutnya adalah pengujian hipotesis penelitian dengan menggunakan statistik parametris yaitu Bivariate Correlations Two-tailed. Sebelum melakukan uji hipotesis karena sebaran ke-2 data memiliki satuan yang berbeda, maka data diubah dalam bentuk t-score. Langkahlangkah dalam mengkonversi nilai variabel X dan Y ke nilai t-score menggunakan bantuan SPSS dapat dilihat pada lampiran. Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat Hubungan Power Otot Tungkai dengan Hasil Smash Bolavoli pada Pemain Usia 16-18 Tahun Jaya Vollyball Club (Jv. Lubuklinggau hubungan antara power otot tungkai (X) dan kemampuan smash bola voli (Y). Berdasarkan hasil analisis SPSS Versi 23 di peroleh hasil sebagai berikut: Tabel 6. Correlations. t-score (X) Power Otot Tungkai Pearson Correlation t-score(Y) ,652** Sig. -taile. ,000 Pearson Correlation ,652** Sig. -taile. ,000 **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Kemampuan Smash Bola Voli Berdasarkan tabel output di atas, langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan dengan merujuk pada ke-2 dasar pengambilan keputusan dalam analisis korelasi bivariate pearson di atas. Adapun dasar pengambilan keputusan yaitu sebagai berikut: Berdasarkan nilai signifikansi Sig. -taile. : dari tabel output di atas diketahui nilai Sig. -taile. power otot tungkai (X) dan kemampuan smash bola voli (Y) adalah 0,000 < 0,05, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan power otot tungkai dengan hasil smash bolavoli pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Lubuklinggau. Nilai r . oofesien korelas. sebesar 0,652 terletak pada 0,60 - 0,799 maka dapat disimpulkan power otot tungkai dengan hasil smash bolavoli pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Lubuklinggau memiliki interprestasi tingkat hubungan yang AuKuatAy. Adapun tabel interval koefisien korelasi nilai AurAy sebagai berikut: Tabel 7. Interprestasi Koefisien Korelasi Nilai r. 0,00 - 0,199 0,20 - 0,399 0,40 - 0,599 0,60 - 0,799 0,80 - 1,000 Sumber: (Sugiyono, 2015:. Interprestasi Sangat Rendah Redah Sedang Kuat Sangat kuat PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan power otot tungkai dengan hasil smash bolavoli pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Lubuklinggau. Dari data ke-2 variabel yang diperoleh menunjukkan sebaran berdistibusi Hal ini dibuktikan melihat nilai Sig. > 0,05 sebaran dinyatakan normal, dan jika nilai Sig. < 0,05 sebaran dikatakan tidak normal. hasil di atas menunjukkan bahwa nilai Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. Sig. Power otot tungkai dan kemampuan smash bola voli yaitu 0,200 > 0,05. Itu artinya sebaran data untuk variabel X dan Y dalam penelitian kali ini berdistribusi normal. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis uji Bivariate Correlations Two-tailed, menunjukkan terdapat hubungan antar kedua variabel X dan Y, ini dibuktikan nilai signifikansi Sig. -taile. adalah 0,000 < 0,05, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan power otot tungkai dengan hasil smash bolavoli pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Lubuklinggau. Jika diinterprestasikan ke dalam tabel koofesien korelasi dengan nilai r = 0,652 masuk dalam interval 0,60 - 0,799, artinya tingkat hubungan kedua variabel kuat. Berdasarkan analisa di atas, dalam olahraga bola voli power otot mempunyai peranan yang penting. Daya yang dilakukan oleh otot adalah usaha yang dikeluarkan oleh otot dalam satu satuan waktu. Sedangkan daya ledak/power kemampuan untuk menghasilkan gerakan eksplosif dalam waktu yang singkat. Nasuka . Komponen-komponen kondisi fisik yang mendukung keterampilan spike salah satunya yaitu power otot tungkai. Saat melakukan smash, para pemain melakukan lompatan untuk memukul, memblok, dan servis. Ini jelas menunjukkan bahwa pemain bola voli membutuhkan daya ledak otot tungkai yang lebih besar di ekstremitas untuk melakukan lompatan dan pukulan pada kecepatan yang lebih besar. Winarno, dkk . 5: 119-. Menurut Widiastuti . 7: . Gerakan eksplosif dan loncatan vertikal. Pada saat melakukan tumpuan loncatan untuk smash maka seorang atlet bola voli akan menekuk tungkai dengan sumbu putar pada persendian articulatio genue . untuk memperoleh kekuatan tolakan. Hal ini sejalan dengan prinsip memperkecil momen inersia dari gerakan tungkai tersebut. Prinsip momen inersia adalah hambatan. Jika hambatan diperkecil dengan cara menekuk lutut pada saat melakukan tumpuan loncatan, maka hambatan gerakan loncatannya akan kecil sehingga dapat menghasilkan tolakan yang maksimal. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis data uji korelasi sederhana antara power otot tungkai (X) dengan kemampuan smash bola voli (Y) melalui output SPSS 23 didapat nilai Sig. sebesar 0,000 < 0,05. Dan jika dilihat dari output SPSS 23 untuk nilai (Pearson Correlation. r = 0,652. terletak pada interprestasi tingkat hubungan yang AuKuatAy. Maka pengujian hipotesis statistik Ha diterima dan H0 ditolak. Sehingga ditetapkan simpulan pada penelitian kali ini yaitu terdapat hubungan yang signifikan power otot tungkai dengan hasil smash bolavoli pemain usia 16-18 tahun Jaya Vollyball Club (JVC) Lubuklinggau. Hubungan Power Otot Tungkai dengan Hasil Smash Bolavoli pada Pemain Usia 16-18 Tahun Jaya Vollyball Club (Jv. Lubuklinggau Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran yang dapat disampaikan. Bagi atlet JVC Kota Lubuklinggau cabang olahraga bola voli, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengetahuan agar power otot tungkai selalu dilatih secara rutin dengan intensitas yang disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi pelatih, penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi mengenai kontribusi power otot tungkai terhadap kemampuan smash pada pemain usia 16Ae18 tahun Jaya Volleyball Club (JVC) Lubuklinggau. Selanjutnya, bagi klub JVC, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam proses pembinaan guna meningkatkan prestasi atlet, khususnya pada cabang olahraga bola voli. Bagi para pembaca, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam melakukan penelitian yang serupa sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Adapun bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk menambah atau mengganti variabel lain yang diduga memiliki hubungan dengan hasil smash bola voli, sehingga dapat memperkaya khazanah keilmuan khususnya pada bidang olahraga bola voli. DAFTAR PUSTAKA