Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. : Januari-Juni 2024 ISSN 2528-3391 (Prin. ISSN 2776-3153 (Onlin. DOI: http://doi. org/10. Tersedia online di https://jurnalassyifa. Penerapan Terapi Musik Klasik dalam Perawatan Pasien Skizofrenia dengan Halusinasi Pendengaran: Sebuah Studi Kasus Application Of Classic Music Therapy In The Treatment Of Schizophrenic Patients With Auditory Hallucinations: A Case Study Rahmadhea1. Farah Dineva2. Aiyub Aiyub2* Program Studi Pendidikan Profesi Ners/Fakultas Keperawatan. Universitas Syiah Kuala Bagian Keilmuan Keperawatan Jiwa/Fakultas Keperawatan. Universitas Syiah Kuala *Email: aiyub@usk. ABSTRAK Halusinasi adalah gangguan persepsi sensori terhadap objek objek atau stimulus dari luar. Salah satu tipe yang sering dialami pasien adalah halusinasi Halusinasi pendengaran merupakan suatu kondisi dimana pasien mendengar suara yang membicarakan, mengejek, menertawakan, mengancam, atau memerintahkan untuk pasien melakukan sesuatu. Perawat sebagai bagian dari tim kesehatan bertanggung jawab memberikan asuhan keperawatan pada pasien halusinasi di rumah sakit melalui penerapan strategi pelaksanaan untuk membantu pasien mengenali halusinasi, mengetahui cara mengontrol halusinasi . enghardik, minum obat secara teratur, bercakap-cakap dengan orang lain, serta melakukan aktivitas terjadwa. Selain itu perawat juga dapat memberikan terapi tambahan berupa terapi musik klasik. Studi kasus ini bertujuan melakukan asuhan keperawatan secara menyeluruh dengan terapi musik klasik sebagai terapi tambahan sehingga pasien menjadi lebih relak dan nyaman. Asuhan keperawatan dan terapi tambahan dilakukan selama enam hari, dengan hasil yang dicapai adalah: pasien menunjukkan penurunan tanda dan gejala halusinasi, mampu mempraktikkan kembali strategi pelaksanaan yang sudah diajarkan, lebih tenang, dan pikirannya menjadi teralihkan dari halusinasinya. Direkomendasikan agar perawat di Rumah Sakit Jiwa dapat memberikan berbagai bentuk terapitambahan disamping strategi pelaksanaan yang sudah rutin dilakukan. Kata Kunci: Skizofrenia. Halusinasi Pendengaran. Terapi Musik Klasik ABSTRACT Hallucination is a sensory perception disorder in responding the external object or stimulus. One of the most common types experienced by patients is auditory Auditory hallucinations are a condition in which the patient hears voices talking about him, ridiculing him, laughing at him, threatening him, or telling him what to do. In a hospital setting, nurses play a crucial role as caregivers for patients experiencing hallucinations. Nurses, as members of the Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 health care team, are responsible for providing nursing care to patients with hallucinations by implementing nursing care strategies to assist patients in recognizing hallucinations and understanding how to control hallucinations . ebuking, taking medication, conversing with others, and carrying out scheduled Additionally, nurses can give classical music therapy as an additional This case study attempts to provide complete nursing care with classical music therapy as an added therapy to help patients relax and feel more at ease. The routine nursing care strategies and classical music therapy were carried out for six days, with the results achieved being: the patient showed a decrease in signs and symptoms of hallucinations, was able to re-practice the nursing care strategies that had been taught, was calmer, and his mind was distracted from his In light of these positive outcomes. It is recommended that nurses in mental hospitals provide various forms of additional therapy in addition to routine nursing care strategies to make patients more comfortable, calmer, and able to develop their knowledge and skills in dealing with hallucinations. Keyword: Schizophrenia. Auditory Hallucinations. Classical Music Therapy PENDAHULUAN Kesehatan jiwa didefinisikan sebagai kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga mampu mengatasi tekanan, bekerja secara produktif, dan mampu kontribusi dalam komunitasnya (UU RI No. 18 Tahun 2. Sementara itu. American Psychiatric Association mendefinisikan gangguan jiwa sebagai sebuah pola psikologis atau perilaku yang secara klinis terjadi pada individu yang dikaitkan dengan adanya stres atau disabilitas (Videbeck, 2. Menurut WHO . , prevalensi gangguan jiwa diseluruh dunia terdapat 21 juta orang terkena skizofrenia. Jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 1,7%, sedangkan pada tahun 2018 menjadi 7% dari jumlah populasi. Saat ini kategori gangguan jiwa ringan 6% dari populasi dan 0,17% menderita gangguan jiwa berat, dan sekitar 14,3% penderita skizofrenia mengalami pasung (WHO, 2. Sementara itu, hasil Riset Kesehatan Dasar . menunjukkan bahwa dari 1000 penduduk Aceh, terdapat 9 orang yang mengalami penyakit skizofrenia atau sebesar 9%. Skizofrenia merupakan penyakit gangguan jiwa berat yang mempengaruhi pikiran, perasaan atau suasana hati, dan perilaku penderita. Penderita skizofrenia akan mengalami beberapa gejala positif, seperti halusinasi, waham, perilaku yang kacau, berbicara tidak jelas, dan gejala negatif yang menyimpang (Yudhantara & Istiqomah, 2. Halusinasi adalah gangguan persepsi sensori terhadap objek stimulus dari luar, sehingga penderita tidak mampu membedakan antara stimulus internal dan eksternal. Stimulus yang dirasakan tidak memiliki sumber yang jelas, atau dikenal dengan stimulus palsu (Tarigan, 2. Halusinasi dapat ditangani dengan terapi farmakologi dan non Penanganan dengan terapi non farmakologi dianggap lebih aman digunakan, karena tidak menimbulkan efek samping negatif. Terapi musik dianggap sebagi salah satu terapi non-farmakologis yang efektif pada penderita Terapi musik merupakan salah satu teknik relaksasi yang bertujuan memberikan rasa tenang, membantu mengendalikan emosi serta menyembuhkan Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 gangguan psikologi. Tujuan terapi musik adalah memberikan relaksasi pada tubuh dan pikiran penderita, sehingga mampu berperan dalam pengembangan diri, menciptakan rasa tenang serta pengalihan dari halusinasinya. Ekawati . menyatakan bahwa musik dapat berfungsi meningkatkan vitalitas fisik individu, menghilangkan kelelahan, meredakan kecemasan dan ketegangan, membantu meningkatkan konsentrasi, memperdalam hubungan, memperat persahabatan, merangsang kreativitas, kepekaan, dan dapat memperkuat karakter serta perilaku yang positif. Secara umum, terapi musik terutama musik klasik dapat memberikan kesan relaksasi, menstabilkan denyut nadi, memiliki efek menenangkan dan dapat mengurangi stress. Hasil penelitian Damayanti. Jumaini dan Utami . , mendapatkan bahwa pasien yang diberikan terapi musik klasik tampak fokus saat diajak berbicara, menjawab pertanyaan dengan benar, jarang berbicara sendiri dan nyaman saat berinteraksi dengan orang lain. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Wahyudin. Mualifah dan Pujianto . , dimana mereka menemukan bahwa terapi musik klasik efektif bagi penderita skizofrenia karena mampu membuat pasien menjadi lebih tenang, santai, rileks, nyaman, sehingga mampu berinteraksi dengan orang lain dan lebih fokus terhadap apa yang dilakukan. Oleh karena itu, sangatlah penting memberikan terapi musik klasik disamping terapi yang secara rutin diberikan kepada pasien di rumah sakit jiwa (Strategi Pelaksanaa. Studi kasus ini dilakukan untuk melihat sejauh mana penerimaan pasien terhapda terapi musik klasik dan pengaruhnya terhadap perkembangan gejala halusinasi pasien selama perawatan. METODE Studi kasus ini dilaksanakan sesuai dengan proses asuhan keperawatan yang mencakup: pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Intervensi yang diberikan pada pasien dengan halusinasi adalah terapi modalitas . trategi pelaksanaan asuhan keperawatan jiwa dan terapi musik klasi. Intervensi diberikan selama enam hari dengan durasi delapan jam per hari . 00 Ae 00 WIB). Pelaksanaan intervensi berada dibawah pengawasan clinical instructure dan pembimbing akademik. Perkembangan pasien akan dilaporkan dua kali sehari . re-conference dan post-conferenc. secara langsung kepada clinical instructure dan online kepada pembimbing akademik. Evaluasi dilakukan dengan metoda observasi dan wawancara untuk melihat sejauhmana penerimaan pasien terhadap terapi modalitas dan terapi musik klasik yang diberikan serta sejauhmana efek terapi tersebut terhadap gejala halusinasi yang dialami pasien. Hasil studi kasus dilaporkan secara deskriptif eksploratif dan dipresentasikan serta direview oleh pembimbing dan penguji dari akademik. HASIL Pelaksanaan intervensi modalitas dilakukan selama enam hari, yaitu: pengkajian dilakukan pada hari pertama, kedua dan ketiga yang juga diikuti dengan pemberilan Strategi Pelaksanaan Pasien (SP), yaitu SP-1. Pada hari keempat dilakukan SP-2, hari kelima dilakukan SP-3, dan hari keenam dilakukan SP-4. Terapi musik klasik diberikan selama tiga hari setelah pemberian SP yaitu pada hari ketiga, keempat, dan kelima. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 Hasil pengkajian pada hari pertama dan kedua didapatkan data bahwa pasien mengalami halusinasi pendengaran dengan gejala-gejala sebagai berikut mendengar bisikan yang berisi perintah melakukan hal negatif, kontak mata rendah, bicara cepat, pasien mondar-mandir, tertawa dan berbicara sendiri, mudah beralih saat berinteraksi, arus pikir sirkumtansial dan tampak gelisah. Hasil evaluasi pada hari ketiga setelah SP-1 diberikam, didapatkan bahwa pasien mengatakan masih mendengar suara anaknya yang mengajaknya berbicara dan bisikan yang memerintahkannya keluar ruangan. Suara tersebut muncul selama 5-10 menit. Pasien juga mengatakan bahwa setelah menghardik halusinasi, suara akan hilang secara perlahan sehingga memotivasi pasien mengulanginya apabila halusinasi tersebut muncul kembali. Hasil observasi menunjukkan bahwa kontak mata membaik, pasien kooperatif saat berinteraksi, namun pasien masih tampak mondar-mandir, berbicara sendiri dan sesekali terlihat menutup telinga. Hasil evaluasi pada hari keempat paska SP-2 diberikan yaitu pasien mengatakan suara yang didengarnya sudah mulai berkurang, pasien mengeluh tidak suka minum obat, tidak mampu mengingat nama dan warna obatnya. Namun pasien sudah mampu menyebutkan manfaat minum obat yaitu membuat pasien tenang dan sembuh. Hasil observasi didapatkan kontak mata baik, pasien kooperatif, mampu menyebutkan manfaat minum obat, namun terkadang masih berbicara sendiri. Hasil evaluasi pada hari paska diberikan SP-3 tentang mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap, didapatkan bahwa: pasien mengatakan suara bisikan dan suara anaknya sudah jarang terdengar, pasien merasa lebih tenang setelah bercakap dengan temannya, senang jika ada orang yang bisa diajak bicara namun pasien merasa kurang nyaman dengan teman yang berbicara dengan nada suara tinggi. Hasil observasi didapatkan kontak mata baik, pasien kooperatif, mondar-mandir di ruangan sudah berkurang serta bicara dan tertawa sendiri sudah Hasil evaluasi pada hari keenam paska SP-4 tentang melakukan aktivitas terjadwal, didapatkan bahwa: pasien mulai jarang mendengar bisikan halusinasi. Pasien sudah mampu melakukan aktivitas yang bermakna, seperti kebersihan diri. Pasien juga sudah mencoba mengontrol halusinasi dengan berzikir namun pasien belum melaksanakan shalat karena menganggap dirinya kotor. Hasil observasi didapatkan kontak mata baik, pasien kooperatif, sering beristirahat, jarang mondar-mandir. Selain terapi modalitas (SP), pasien juga diberikan terapi musik klasik. Hasil evaluasi didapatkan bahwa pasien merasa lebih rileks dan tenang saat mendengarkan musik klasik, dan membuat pasien mampu mengontrol pikirannya dan memikirkan permasalahan yang dialaminya. Hasil observasi didapatkan pasien kooperatif dalam menerima dan menjalani terapi musik klasik, pasien tampak tenang, mengikuti terapi dari awal hingga selesai, bernyanyi mengikuti musik yang diberikan, menikmati musik, pasien tampak antusias terhadap terapi dan tanda dan gejala halusinasi berkurang. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengkajian, diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan adalah halusinasi pendengaran. Halusinasi adalah persepsi klien yang salah terhadap stimulus yang diterima melalui panca indra. Pasien dengan Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 halusinasi merasakan keadaan atau kondisi yang hanya dapat dirasakan olehnya namun tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Halusinasi pendengaran adalah kondisi dimana pasien mendengar suara yang sedang membicarakan apa yang sedang di pikirkan dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu (Keliat, 2. Halusinasi pendengaran yaitu mendengar suara yang membicarakan, mengejek, mentertawakan, mengancam, memerintahkan untuk melakukan sesuatu . adangkadang hal yang berbahay. Perilaku yang muncul adalah mengarahkan telinga pada sumber suara, bicara atau tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab, menutup telinga, mulut komat-kamit, dan ada gerakan tangan. Dalam studi kasus ini dilakukan dua terapi modalitas, yaitu SP dan terapi musik klasik. Sebelum melakukan tindakan SP dan terapi musik klasik, membina hubungan saling percaya dengan pasien terlebih dahulu dilakukan. Membina hubungan saling percaya penting dalam perawatan pasien gangguan jiwa agar terjalin rasa percaya antara pasien dan perawat. Setelah terjalin rasa percaya, pasien akan terbuka untuk menceritakan perasaan dan masalah yang dihadapinya. Setelah hubungan saling percaya terbina, dilanjutkan dengan pemberian SP-1 yang bertujuan membantu pasien mengenali halusinasi dan mengajarkan cara mengontrol halusinasi dengan menghardik. Menghardik merupakan cara pertama untuk menolak halusinasi datang tetapi sebelumnya pasien harus diajarkan terlebih dahulu mengenai halusinasinya dan menjelaskan bahwa semua itu palsu (Angriani. Rahman. Mato & Fauziah, 2. Menghardik halusinasi merupakan cara mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang Hasil penelitian Pratiwi dan Setiawan . menemukan bahwa menghardik halusinasi dapat membuat pasien mampu mengendalikan halusinasi yang muncul. Pada hari keempat perawatan dilakukan SP 2 dengan tujuan mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara minum obat secara teratur. Pasien mendapatkan obat antipsikotik yaitu risperidone 2 mg dengan frekuensi 2 kali per hari . agi dan mala. serta lorazepam 2 mg dengan frekuensi 1 kali per hari . alam har. Menurut Salwan. Woldu dan Katz . risperidone merupakan golongan obat atipikal yaitu antipsikotik generasi kedua yang mempunyai efek samping yang lebih rendah. Obat ini juga mampu secara cepat menurunkan gejala positif seperti halusinasi dan delusi, tetapi juga dapat menyebabkan kekambuhan setelah berhenti mengonsumsinya. Lorazepam diberikan untuk mengatasi susah tidur dan mengurangi tingkat kecemasan pada pasien skizofrenia. Utami. Darajati dan Puspitasari . melakukan penelitian di RSJ Mutiara Sukma pada tahun 2020 dan hasil yang didapatkan adalah kombinasi tertinggi yang diresepkan adalah obat Risperidone dengan Lorazepam yaitu dengan persentase 12,6% sebanyak 45 kasus. Selain antipsikotik, pasien mendapatkan obat Trihexyphenidyl 2 mg dengan frekuensi 2 kali per hari . alam dan pagi har. Trihexyphenidyl diberikan dengan tujuan mengatasi gejala Ekstra Pyramidal Sindrom (EPS) seperti gemetar, badan kaku, dan hipersaliva yang dapat ditimbulkan sebagai efek dari mengonsumsi obat antipsikotik (Pratami, 2. Trihexyphenidyl diberikan bersamaan dengan antipsikotik untuk mencegah terjadinya EPS. EPS merupakan salah satu efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan obat antipsikotik yang diberikan pada pasien dengan kasus skizofrenia (Asfianti. Safitri & Zuhairah. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 Pada hari kelima pemberian SP-3 dilakukan dengan tujuan mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. Terapi bercakap-cakap merupakan salah satu strategi yang efektif. Menurut hasil penelitian Alfaniyah dan Pratiwi . menemukan bahwa bercakap-cakap dengan orang lain efektif dalam memutus halusinasi karena menyibukkan pasien melakukan aktivitas bercakap-cakap. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Larasaty & Hargiana . yang mendapatkan bahwa bercakap-cakap sangat efektif dalam mengontrol Bercakap-cakap dengan orang lain membuat pasien terdistraksi dengan halusinasi yang sedang dialami dan berubah ke arah percakapan yang dilakukan. Sama halnya dengan penelitian Kusumawaty. Yunike dan Gani . yang menemukan peningkatan kemampuan penderita dalam mengontrol halusinasinya setelah dilatih bercakap-cakap dengan orang lain. Pada hari keenam dilakukan SP-4 dengan tujuan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi dengan aktivitas terjadwal. Melakukan aktivitas terjadwal membawa hasil yang positif bagi pasien karena akan lebih banyak berinteraksi dengan pasien lain dan mengurangi halusinasi serta mencegah rasa bosan yang dialami pasien. Aktivitas yang dilakukan dapat berupa merapikan tempat tidur, membersihkan rumah, beribadah, menyiram tanaman dan lain-lain. Hasil penelitian Situmorang . mendapatkan bahwa melatih pasien halusinasi untuk melakukan aktivitas terjadwal akan membantu pasien mengalihkan fokus mereka dari halusinasi kepada kegiatan lain yang lebih Selain diberikan strategi pelaksanaan, pasien juga diberikan terapi tambahan berupa terapi musik klasik. Proses pelaksanaan terapi musik diawali dengan melakukan kontrak waktu dengan pasien, memberikan penjelasan tentang pelaksanaan terapi musik, mengatur posisi pasien senyaman mungkin dan memutarkan musik menggunakan handphone yang tersambung dengan alat bantu pendengaran yaitu headset/earphone Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pradana dan Riyana . yang memberikan terapi musik kepada pasien halusinasi pendengaran menggunakan alat bantu yaitu headset untuk mengurangi adanya gangguan atau kebisingan dari teman maupun lingkungan Selain itu prosedur pemberian terapi muik juga didasarkan pada hasil penelitian Mutaqin. Rahayu dan Yanto . yang memberikan terapi musik klasik pada pasien dengan waktu 10-15 menit menggunakan handphone yang tersambung dengan headset. Pelaksanaan terapi musik di ruangan yang nyaman dan tenang akan sangat efektif sehingga pelaksanaan terapi terhindar dari berbagai gangguan yang dapat mendestruksi pelaksanaan terapi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sukmawati. Sitanggang. Lani dan Raziansyah . , terapi dilakukan dalam ruangan yang tenang karena dapat membuat pasien lebih fokus tanpa adanya gangguan dari lingkungan sekitar. Namun karena ketidaktersediaan ruangan khusus, maka dalam penelitian ini pelaksanaan terapi musik dilakukan di bangsal pasien, dimana perawat dan pasien terhalang oleh jeruji besi. Hal ini meminimalisir terjadinya hal yang tidak diinginkan seperti pasien mengamuk. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 kabur, dan masalah lainnya. Situasi ini tentu tidak memberikan hasil yang maksimal dalam proses perawatan pasien. Setelah diberikan terapi musik, pasien mengatakan tenang dan lebih rileks. Pasien dengan halusinasi pendengaran akan merasa tidak nyaman dengan suara yang didengarnya, maka terapi musik klasik diharapkan dapat mengalihkan pasien dari suara halusinasi kepada musik klasik yang didengarnya. Selain itu dengan mendengarkan instrument dan bernyanyi dapat membuat pasien merasa nyaman dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga pasien menjadi aktif dan dapat mengalihkan halusinasinya (Barus & Siregar, 2. Hasil penelitian Wahyudin. Mualifah dan Pujianto . menunjukkan terapi musik klasik efektif bagi pasien skizofrenia yaitu membuat pasien merasakan ketenangan, santai, rileks, nyaman dan mulai dapat berinteraksi dengan orang lain. Pemberian terapi musik klasik merupakan salah satu teknik relaksasi dan tepat diberikan pada pasien halusinasi pendengaran yang dapat menjadikan pasien merasa tenang, mengurangi gejala agresif, mengendalikan emosi, pendidikan moral, pengembangan spritual dan menyembuhkan gangguan psikologis. Hal ini didukung oleh penelitian Chandra. Ekawati dan Gama . yang memberikan terapi musik klasik terhadap perilaku agresif pada pasien skizofrenia yang menyatakan bahwa setelah diberikan terapi musik klasik sebagian besar gejala perilaku agresif atau kekerasan menjadi berada pada kategori ringan yaitu sebanyak 12 dari 15 pasien . %). Hasil evaluasi yang didapatkan setelah perawat memberikan asuhan keperawatan berupa strategi pelaksanaan dan terapi musik klasik didapatkan pasien mengatakan sudah menyadari bahwa suara yang muncul bukan bagian dari dirinya, masih mengingat cara mengontrol halusinasi yaitu dengan cara menghardik halusinasi, minum obat, bercakap-cakap dengan orang sekitar dan melakukan aktivitas terjadwal. Pasien akan mempraktikkan cara mengontrol halusinasi yang telah diajarkan perawat dan senang dengan kehadiran perawat karena ada teman untuk bercerita. Hasil observasi didapatkan pasien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol halusinasi, kooperatif, kontak mata baik, tidak berbicara sendiri, mondar-mandir sudah berkurang, dan pasien sering Rencana tindak lanjut yang dilakukan pasien adalah pasien diharapkan mengontrol halusinasi secara mandiri dengan cara yang telah diajarkan apabila halusinasi muncul. SIMPULAN Pasien dengan halusinasi biasanya mendapatkan asuhan keperawatan beruta strategi pelaksanaan dengan tujuan memberi pengetahuan kepada pasien agar dapat mengenal dan mengontrol halusinasinya. Terapi ini tidaklah cukup sehingga harus diberikan berbagai terapi tambahan sehingga perkembangan pasien menjadi lebih cepat, salah satunya adalah terapi musik klasik. Kombinasi kedua terpi ini terbukti dapat mempercepat perkembangan pasien, dimana pasien merasa tenang dan rilek paska pemberian terapi musik. Tidak hanya itu, pasien mengatakan dapat mengalihkan fokus mereka dari sura halusinasi ke sura musik yang didengarnya, apalagi bila pasien mau mengikuti dengan menyanyikan musik yang didengarnya. Pemberian terapi musik harus dilakukan di tempat khusus yang Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 nyaman dan terhindar dari berbagai gangguan lain, sehingga pasien dapat dengan fokus memusatkan pikiran dan perasaan mereka pada musik yang didengarkan. SARAN Perawat di rumah sakti jiwa sebaiknya melakukan kombinasi beberapa terapi yang terbukti efektif menangani pasien dengan halusinasi, seperti terapi Supaya terapi musik dapat dilakukan dengan efektif sebaiknya tersedia ruangan khusus yang dapat memberikan kenyamanan dan perasaan rilek kepada pasien selama menjalani terapi musik. DAFTAR PUSTAKA