Concept: Journal of Social Humanities and Education Vol. No. 4 Desember 2022 e-ISSN: 2963-5527. p-ISSN: 2963-5071. Hal 87-92 Analisis Romantisme dan Makna Hiperbola Pada Puisi AuSyair RinduAy Karya Marah Roesli Irfanda Siti Amaliyafitri Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. IKIP Siliwangi Email: Liyamly@gmail. Abstract This article discusses the hidden meaning of the poem by Marah Roesli. This discussion aims to better understand the reader about the content of the poem. The poem "Syair Rindu" is one of the poems that has such a deep meaning if it is interpreted because it contains the meaning of romanticism. Marah Roesli is an Indonesian writer from the Balai Pustaka group, or the literary period that emerged during the Dutch colonial period in the 1920s to 1930s. This article also discusses the meaning of hyperbole in the poem "Syair Rindu". Keywords: Poetry. Romance. Hyperbole Abstrak Artikel ini membahas makna yang tersembunyi dari puisi karya Marah Roesli. Pembahasan ini bertujuan untuk lebih memahami pembaca akan isi puisi. Puisi AuSyair RinduAy merupakan salah satu puisi yang memiliki makna yang begitu dalam jika ditafsirkan karena di dalamnya mengandung makna romantisme. Marah Roesli adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka, atau periode sastra yang muncul pada masa penjajahan Belanda pada sekitar 1920-an hingga 1930-an. Pada artikel ini juga membahas mengenai makna hiperbola pada puisi AuSyair RinduAy. Kata kunci: Puisi, romantisme, hiperbola Received Oktober 28, 2022. Revised November 17, 2022. Desember 07, 2022 * Irfanda Siti Amaliyafitri. Liyamly@gmail. Analisis Romantisme dan Makna Hiperbola Pada Puisi AuSyair RinduAy Karya Marah Roesli PENDAHULUAN Karya sastra adalah segala sesuatu yang tertulis, tetapi tidak semua yang tertulis termasuk kedalam karya sastra. Karya sastra memiliki tiga genre yaitu puisi, prosa, dan Pada artikel ini akan membahas dan mengkritik salah satu puisi karya Marah Roesli. Puisi dapat memberikan motivasi kepada para pembaca, terutama pembaca yang memiliki ketertarikan mengenai nilai romantisme. Dalam pembuatan karya sastra diperlukan pemikiran, perasaan dari seorang pengarang atau penulis tujuannya untuk mengembangkan imajinasi agar lebih umum dan bebas. Karya sastra berupa puisi pada dasarnya merupakan luapan ekspresi dari sebuah emosional jiwa. Puisi dikategorikan sebagai karya sastra yang paling unik karena tercipta dari imajinasi serta memuat pengalaman terdalam dari pengarang yang dianalogikan ke dalam bahasa yang indah. Menganalisis sebuah puisi merupakan hal yang sering dilakukan oleh banyak kalangan. Karena untuk mencari makna dari sebuah puisi, dibutuhkan analisisanalis yangkonkret agar makna dari puisi tersebut mudah dipahami. Akan tetapi, untuk menganalisis sebuah puisi agar dapat dimaknai bukanlah sebuah hal yang mudah. Teori Romantisme merupakan teori . yang menunjukkan minat yang besar pada keindahan alam, kepercayaan asli . , curahan hati nurani, alam gaib, dan cara hidup yang sederhana sebagai pemberontakan terhadap gaya hidup teratur kaum borjuis. Pengikut teori ini menekankan spontanitas dalam mengungkapkan pikiran, perasaan, dan tindakan (Sehandi, 2018: . Pemajasan . igure of though. merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayagunaan yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tersirat. Bentuk pemajasan yang sering digunakan dalam karya sastra adalah metonimia, sinekdoke, hiperbola, dan paradoks (Nurgiyantoro, 2009: 296-. CONCEPT - VOLUME 1. NO. DESEMBER 2022 Concept: Journal of Social Humanities and Education Vol. No. 4 Desember 2022 e-ISSN: 2963-5527. p-ISSN: 2963-5071. Hal 87-92 LANDASAN TEORETIS Penelitian ini dilakukan tidak terlepas dari hasil penelitian-penelitian terdahulu yang pernah dilakukan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dwi Septiani . mengenai majas dan citraan pada puisi, dalam penelitiannya dikatakan hiperbola adalah ucapan . ngkapan, pernyataa. kiasan yang dibesar-besarkan . erlebih-lebiha. , dimaksudkan untuk memperoleh efek tertentu. Berdasakan penelitian yang dilakukan oleh Rina Annisa . mengenai Penggunaan Gaya Bahasa dalam Puisi pada Tabloid Gaul. Dalam penelitiannya terdapat 17 gaya bahasa. Gaya bahasa yang dominan digunakan dalam puisi pada tabloid Gaul adalah gaya bahasa hiperbola. Hal ini dilakukan untuk memberikan kesan puitis dan pada suatu puisi, sehingga dapat menarik pembaca untuk membacanya. Gaya bahasa hiperbola adalah gaya bahasa yang bersifat melebih-lebihkan suatu kenyataan METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskripsi. Metode deskripsi adalah metode yang menceritakan atau menggambarkan isi dari puisi yang dianalisis. Tahapan-tahapan yang dilakukan pada penelitian ini ada beberapa tahapan. Pertama menganalisis bait yang tersusun pada teks puisi. Kedua menganalisis diksi pada teks Ketiga mencari diksi pada setiap larik yang mengandung nilai romantisme serta makna hiperbola. Keempat memaknai diksi yang mengandung makna romantisme serta makna hiperbola. HASIL DAN PEMBAHASAN Puisi yang dibahas dalam artikel ini adalah AuSyair RinduAy karya Marah Roesli. Puisi ini terdiri dari 51 bait dan 204 larik. Setelah melakukan beberapa tahapan penelitian analisis terhadap puisi AuSyair RinduAy karya Marah Roesli, ditemukan beberapa larik yang tersusun atas diksi dengan nilai romantisme serta makna hiperbola. Marah Roesli adalah salah satu sastrawan besar Indonesia. Karyanya yang paling terkenal dan dikenang hingga saat ini adalah roman Siti Nurbaya yang diterbitkan pada Dalam sejarah sastra Indonesia. Marah Roesli dikenal sebagai Bapak Roman Modern Indonesia. Bahkan Siti Nurbaya mendapat hadiah tahunan dalam bidang sastra dari Pemerintah RI pada 1969 dan diterjemahkan dalam bahasa Rusia. Analisis Romantisme dan Makna Hiperbola Pada Puisi AuSyair RinduAy Karya Marah Roesli Diemukan beberapa larik yang memiliki nilai romantisme serta makna hiperbola. Romantisme Menurut Kamus Besar Bhasa Indonesia (KBBI), romantisme atau romantik bermakna romantis. Secara etimologis romantisisme atau romantik berasal dari kata romans, merupakan sebuah dialek pada masyarakat Prancis pada . Ratna . berpendapat bahwa istilah romantik ini berkembang dan ditafsirkan sebagai kisah khayalan yang menarik, kisah yang penuh petualangan, serta mengandung unsur Lipur segala susah di hati. Melihat adikku emas sekati. Datang menjelang abang menanti. Dagang merindu bagaikan mati. Pada bait ke-11 ini, mengandung nilai romantisme pada diksi merindu. Diksi ini memiliki kata dasar yaitu rindu, yang dapat diartikan keinginan yang kuat untuk bertemu. Diksi ini memiliki kata khusus yaitu saying, cinta, damba, gemar, dan ingin. Sehingga makna dari larik ke-4 pada bait tersebut yaitu memikul sebuah kerinduan yang tidak pernah terobati mengakibatkan sebuah rasa yang hampir tidak bisa dirasakan. Silalah adik, silalah gusti. Sila mengobat luka di hati. Jika lambat adik obati. Tentulah abang fana dan mati. Pada bait ke-13 ini, mengandung nilai romantisme terdapat pada larik ke-2 dengan diksi mengobat. Diksi ini memiliki kata dasar obat, yang dapat diartikan sesuatu yang dapat mengurangi luka. Diksi ini memiliki kata umum mengobat, dan kata khusus meracik, serta meramu. Sehingga makna dari larik ke-2 pada bait tersebut yaitu ada yang mengobati luka dengan rasa rindu. Sekarang kakanda seorang diri. Jauh kampung halaman negeri. Duduk bercinta sehari-hari. Kerja lain tidak dipikiri. CONCEPT - VOLUME 1. NO. DESEMBER 2022 Concept: Journal of Social Humanities and Education Vol. No. 4 Desember 2022 e-ISSN: 2963-5527. p-ISSN: 2963-5071. Hal 87-92 Pada bait ke-19 ini mengandung nilai romantisme pada diksi bercinta. Diksi ini memiliki makna menaruh rasa cinta. Memiliki kata dasar yaitu cinta. Diksi ini miliki kata khusus yaitu berasmara, bermesraan, dan bersuka-sukaan. Sehinnga makna dari larik ke3 pada bait tersebut yaitu ada hal yang menyebabkan nyaman dalam mencitai walaupun terkendala dengan jarak dan hal yang lainnya. Majas Hiperbola Menurut Tarigan, majas hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya atau sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya. Jika dipikir diingat-ingat. Arwah melayang terbang semangat. Tubuh gemetar terlalu sangat. Kepala yang sejuk berasa angat. Majas hiperbola pada bait ke-8 terdapat pada larik ke-2. Pada larik tersebut menggambarkan seseorang yang selalu dipikirkan yang selalu ada dan tidak hilang sehingga menyebabkan pikirannya tidak dapat jauh dari orang yang dirindukannya. Melayang terbang semangat itu sebuah kenangan disaat bersama orang yang dirindukan. SIMPULAN Simpulan pada penelitian yang sudah dilakukan yaitu puisi AuSyair RinduAy karya Marah Roesli adalah puisi yang menceritakan atau membahas mengenai kerinduan terhadap seseorang. Pada puisi ini terdapat 51 bait dan 204 larik. Ditemukan 3 bait yang memiliki diksi bernilai romantisme, yaitu pada bait ke-11, 13, dan 19. Lalu terdapat 1 bait yang memiliki diksi bermakna hiperbola. Analisis Romantisme dan Makna Hiperbola Pada Puisi AuSyair RinduAy Karya Marah Roesli DAFTAR PUSTAKA