Vol 2 No. 4 November 2025 P-ISSN : 3047-1931 E-ISSN : 3047-2334. Hal 120 Ae 127 JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jilak Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/f85wvc37 PENGARUH LEVERAGE. UKURAN PERUSAHAAN. PERTUMBUHAN PENJUALAN. DAN KAPASITAS OPERASI TERHADAP FINANCIAL DISTRESS (STUDI EMPIRIS SUB SEKTOR RITEL YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2020-2. Siti Nurdian Ernizaa*. Triana Anggrainib sitinurdianerniza@gmail. Universitas Budi Luhur Fakultas Ekonomi dan Bisnis / Akuntansi. sitinurdianerniza@gmail. Universitas Budi Luhur a Fakultas Ekonomi dan Bisnis / Akuntansi. * Penulis Korespondensi: Siti Nurdian Erniza ABSTRACT This study analyzes the effect of leverage, firm size, sales growth, and operating capacity on financial distress in retail companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2020-2024 period. Using quantitative descriptive methods and multiple linear regression (SPSS . , 19 sampels from 30 companies were obtained through purposive sampling. The results show that leverage and operating capacity have a negative effect on financial distress, while firm size and sales growth have no effect Keywords: leverage. firm size. sales growth. operating capacity. financial distress. retail companies Abstrak Penelitian ini menganalisis pengaruh Leverage. Ukuran Perusahaan. Pertumbuhan Penjualan, dan Kapasitas Operasi terhadap Financial Distress pada Perusahaan Ritel yang terdaftar di BEI periode 2020-2024. Dengan metode kuantitatif deskriptif dan regresi linier berganda (SPSS . , diperoleh 19 sampel dari 30 perusahaan melalui purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan Leverage dan Kapasitas Operasi berpengaruh negatif terhadap Financial Distress, sedangkan Ukuran Perusahaan dan Pertumbuhan Penjualan tidak berpengaruh. Kata Kunci: Leverage. Ukuran Perusahaan. Pertumbuhan Penjualan. Kapasitas Operasi. Financial Distress. Perusahaan Ritel PENDAHULUAN Perekonomian Indonesia sebagai salah satu negara berkembang terbesar di Asia Tenggara menunjukkan ketahanan cukup baik menghadapi tantangan global seperti pandemi Covid-19, gejolak harga komoditas, dan ketidakpastian ekonomi dunia. Mesti pada 2020 mengalami kontraksi sebesar -2,07%, pemulihan ekonomi berlangkung cepat dan pertumbuhan kembali di atas 5% pada 2022-2023 (BPS, 2. Salah satu sektor penting adalah industri ritel yang menyumbang 10,89% terhadap PDB pada kuarta II/2024. Namun, dalam lima tahun terakhir, penjualan ritel berfluktuasi signifikan. Hal ini berdasarkan statistik Indonesia yang menyatakan penjualan ritel pada tahun 2020 mengalami penurunan yang tajam -14,9%, pulih 6,5% pada tahun 2021, lalu melambat hanya 1,5% di 2024. Kondisi ini sejalan dengan rata-rata nilai Altman ZScore yang diuraikan sebagai berikut: >2,99 = zona sehat . on-distres. 1,81 Ae 2,99 = zona abu-abu . rey are. <1,81 = zona krisis . Berikut grafik rata-rata Altman Z-Score perusahaan sub sektor ritel yang terdaftar di BEI periode tahun 2020-2024: Naskah Masuk 26 September 2025. Revisi 29 September 2025. Diterima 4 Oktober 2025. Tersedia 7 Oktober 2025 Siti Nurdian Erniza dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 120 Ae 127 Gambar 1. Grafik rata-rata Altman Z-Score Perusahaan Sub Sektor Ritel di BEI periode 2020-2024 Berdasarkan gambar 1. Grafik rata-rata Altman Z-Score Perusahaan Sub Sektor Ritel periode 2020-2024 menunjukkan penurunan drastis, dari zona sehat di periode 2020 sebesar 3,03% hingga zona distress di 2024 sebesar -4,06%. Tekanan finansial sektor ritel tercermin pada kinerja emiten besar seperti PT Matahari Department Store Tbk (LPPF). PT Ramaya Lestasri Sentosa Tbk (RALS), dan PT Electronic City Tbk (ECII) yang mencatat penurunan penjualan laba bersih sepanjang 2024. Hal ini mengindikasikan meningkatnya risiko financial distress. Financial distress dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor Dari perspektif keuangan, variabel yang relevan untuk dianalisis adalah leverage, ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, dan kapasitas operasi. Faktor pertama yang mempengaruhi financial distress yaitu leverage. Leverage merupakan komposisi utang yang dialokasikan untuk menanggung perusahaan (Antoniawati dam Purwohandoko, 2. Dengan kata lain, perusahaan meminjam uang untuk modal agar bisa menjalankan usahanya. Semakin tinggi nilai leverage, maka semakin besar risiko perusahaan. Sebaliknya, perusahaan dengan leverage yang rendah cenderung memiliki beban keuangan yang lebih ringan dan fleksibilitas yang tinggi terhadap perubahan kondisi ekonomi. Hasil penelitian yang dilakukan Aji dan Anwar . Antoniawati dan Purwohandoko . , dan Arif et al. menunjukkan bahwa leverage berpengaruh terhadap financial distress. Namun, penelitian yang dilakukan Purwaningsih dan Safitri . Hosea et al. , dan Oktaviani dan Lisiantara . menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap financial distress. Faktor kedua yang mempengaruhi Financial Distress yaitu Ukuran Perusahaan. Muslimin dan Bahri . menyatakan bahwa total aset menggambarkan ukuranperusahaan. Semakin besar ukuran perusahaan maka lebih mampu dalam menghadapi ancaman financial distress (Putri dan Erinos, 2. Ukuran perusahaan yang besar tidak akan mengalami financial disress, tetapi sebaliknya ukuran perusahaan kecil memungkinkan adanya financial distress. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Aji dan Anwar . Nilasari . ukuran perusahaan berpengaruh terhadap financial distress. Namun, hasil penelitian Utami dan Taqwa . menyatakan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap financial distress. Faktor ketiga yang mempengaruhi Financial Distress yaitu Pertumbuhan Penjualan. Miswaty dan Novitasari . menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pertumbuhan penjualan menggambarkan bahwa, perusahaan berhasil dalam menjalankan strategi pemasaran dan penjualan produk, hal ini berarti semakin besar keuntungan yang diperoleh dari perusahaan dari penjualan tersebut. Penjualan yang meningkat mencerminkan kondisi keuangan yang stabil sehingga kemungkinan perusahaan mengalami financial distress semakin kecil. Hasil penelitian yang dilakukan Aji dan Anwar . Muslimin dan Bahri . menyatakan variabel sales growth berpengaruh terhadap financial distres. Namun, hasil penelitian yang dilakukan Mistiwaty dan Novitasari . Jesih dan Wizanasari . menyatakan sebaliknya bahwa sales growth tidak berpengaruh terhadap financial distress. Faktor keempat yang mempengaruhi Financial Distress yaitu Kapasitas Operasi. Kapasitas operasi merupakan rasio yang disebut juga sebagai rasio efisiensi yang digunakan untuk menilai efektif atau tidaknya perusahaan dalam menggunakan aset-aset untuk menghasilkan suatu penjualan sehingga menciptakan kesepakatan kinerja operasional suatu perusahaan (Jesih dan Wizanasari, 2. Hasil Pengaruh Leverage. Ukuran Perusahaan. Pertumbuhan Penjualan, dan Kapasitas Operasi Terhadap Financial Distress (Studi Empiris Sub Sektor Ritel yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2020-2. (Siti Nurdian Erniz. Siti Nurdian Erniza dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 120 Ae 127 penelitian yang dilakukan Jesih dan Wizanasari . Miswaty dan Novitasari . menyatakan bahwa kapasitas operasi berpengaruh terhadap financial distress. Sedangkan hasil penelitian Nabila dan Putri . Koswara et al. , menyatakan kapasitas operasi tidak berpengaruh terhadap financial distress. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dipilih empat variabel yang diduga berpengaruh terhadap financial Leverage dipilih karena tingginya beban utang dapat meningkatkan risiko gagal bayar dan memperburuk kondisi keuangan perusahaan. Ukuran perusahaan menjadi penting karena perusahaan besar umumnya memiliki akses pembiayaan dan diversifikasi risiko yang lebih baik dibandingkan perusahaan Pertumbuhan penjualan mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan, sehingga perlambatan penjualan dapat menjadi sinyal awal tekanan keuangan. Sementara, kapasitas operasi mencerminkan efisiensi dalam penggunaan aset untuk menjalankan operasional. Kapasitas yang tidak optimal dapat mengurangi profitabilitas dan memicu distress. Keempat variabel ini revelan untuk dianalisis guna mengetahu faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan, khususnya di sektor ritel. TINJAUAN PUSTAKA Teori Keagenan (Agency Theor. Teori agen pertama kali dikemukakan oleh Jensen dan Meckling . dalam Mistiwaty dan Novitasari . , teori agen muncul dari hubungan antara principal . emegang saha. dan agent . , dimana manajer wajib memppertanggungjawabkan kinerjanya melalui laporan keuangan. Teori Sinyal (Signalling Theor. Teori sinyal diperkenalkan oleh Spence . menjelasakan bahwa manajemen sebagai pemilik informasi memberikan sinyal kepada pihak eksternal melalui laporan dan pengungkapan perusahaan. Informasi tersebut menjadi dasar bagi investor maupun kreditur dalam menilai prospek perusahaan (Stepani dan Nugroho, 2. Financial Distress Financial distress merupakan tahap penurunan kondisi keuangan sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan (Hutauruk et al. , 2. Menurut Efendi et al. kebangkrutan perusahaan diawali dengan kondisi kesulitan keuangan . inancial distres. , kondisi ini berarti bahwa perusahaan mengalami kondisi keuangan yang semakin menurun setiap tahunnya. Berbagai model telah dikembangkan untuk memprediksi financial distress sebagai langkah preventif terhadap potensi kebangkrutan. Salah satu metode yang cukup populer adalah analisis diskriminan Altman, yaitu teknik statistik yang digunakan untuk memperkirakan kemungkinan kebangkrutan suatu perusahaan. Metode ini sering dikenal istilah Z-Score, formula yang diperkenalkan Altman pada tahun 1968. Maka rumus Z-Score Altman sebagai berikut: Z = 1,2 X1 1,4 X2 3,3 X3 0,6 X4 1,0 Sumber : Hutauruk et al. Keterangan : Z = Indeks keseluruhan X1 = Net Working Capital to Total Assets (Modal Kerja/Total Ase. X2 = Retainede Earnings to Total Assets (Laba Ditahan/Total Ase. X3 = Earning Before Interest an Tax to Total Asset (EBIT/Total Ase. X4 = Stock Market Value to Total Debt (Nilai Pasar Saham/Total Utan. X5 = Sales to Total Assets (Penjualan/Total Ase. Leverage Leverage merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur sejauh mana perusahaan menggunakan utang dalam struktur pembiayaannya. Menurut Wijaya dan Suhendah, . Leverage merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar seluruh kewajiban jangka panjang dan jangka pendek. Oktaviani dan Lisiantara, . menyatakan bahwa Leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur penggunaan utang perusahaan untuk membayar utang jangka panjang untuk membiayai kegiatan perusahaan. Maka rumus Debt to Equity Ratio adalah sebagai berikut: Debt to Equity Ratio = JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 120 - 127 Siti Nurdian Erniza dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 120 Ae 127 Sumber: Aji dan Anwar . Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan . irm siz. yaitu rasio yang menggambarkan banyaknya total aset yang dimiliki perusahaan (Efendi et al. , 2. Safitri . berpendapat ukuran perusahaan menggambarkan skala besar kecilnya ukuran pendapatan, total aset dan modal yang dimiliki perusahaan. Ukuran perusahaan menggambarkan total aset yang dimiliki perusahaan. Semakin besar aset yang dimiliki perusahaan maka akan semakin tinggi keuntungan yang didapat, hal ini akan terhindar dari financial distress. Rumus ukuran perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Sumber: Muslimin dan Bahri . Ukuran Perusahaan = Ln X Total Aset Pertumbuhan Penjualan Pertumbuhan Penjualan atau sales growth merupakan rasio untuk mengukur serta menginformasikan kinerja penjualan dengan pertumbuhan penjualan (Nasution et al. , 2. Tingkat pertumbuhan penjualan yang tinggi mencerminkan perusahaan memiliki strategi penjualan yang efektif di masa mendatang. Hal ini memberikan persepsi positif bagi investor, karena peningkatan penjualan berpotensi meningkatkan pendapatan perusahaan dan mengurangi financial distress. Sales Growth = Sumber: Muslimin dan Bahri . Kapasitas Operasi Kapasitas operasi merupakan rasio yang efisiensi yang digunakan untuk menilai efektif atau tidaknya perusahaan dalam menggunakan aset-aset guna menghasilkan suatu penjualan sehingga menciptakan kinerja operasional suatu perusahaan (Jesih dan Wizanasari, 2. kapasitas operasi merupakan indikator yang menunjukkan tingkat pemanfaatan aset tetap perusahaan. Dalam penelitian ini kapasitas operasi diukur dengan total asset turnover. Pengukuran kapasitas operasi dalam penelitian ini menggunakan rumus: Total Asset Turnover (TATO) = Sumber: Jesih dan Wizanasari . Kerangka Teoritis Leverage (X. Ukuran Perusahaan (X. Financial Distress (Y) Pertumbuhan Penjualan (X. Kapasitas Operasi (X. Gambar 2. Kerangka Teoritis Pengaruh Leverage. Ukuran Perusahaan. Pertumbuhan Penjualan, dan Kapasitas Operasi Terhadap Financial Distress (Studi Empiris Sub Sektor Ritel yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2020-2. (Siti Nurdian Erniz. Siti Nurdian Erniza dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 120 Ae 127 Keterangan: : Leverage berpengaruh terhadap Financial Distress : Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Financial Distress : Pertumbuhan Penjualan berpengaruh terhadap Financial Distress : Kapasitas Operasi berpengaruh terhadap Financial Distress METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan data sekunder. Populasi yang digunakan yaitu Perusahaan Sub Sektor Ritel yang terdaftar di BEI periode 2020-2024. Teknik sampel yang digunakan yakni puposive sampling . ampel yang mempunyai kriteria seperti yang peneliti tentuka. Berdasarkan kriteria sampel yang telah ditentukan, terdapat 19 perusahaan dengan total data penelitian sebanyak 70 data . erdistribusi norma. laporan keuangan tahunan perusahaan. Metode analisis yang digunakan yaitu uji statistik deskriptif dan uji asumsi klasik . ji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokolerasi, dan uji heteroskedastisita. Pengujian hipotesis menggunakan analisis linier berganda, uji F, uji t dan uji koefisien determinasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif Tabel 1. Statistik Deskriptif Minimum Maximum Mean Std. Deviation Leverage -1,030 5,130 0,994 1,157 Ukuran Perusahaan 25,180 31,680 28,749 1,656 Pertumbuhan Penjualan -0,860 0,500 0,019 0,289 Kapastitas Operasi 0,090 9,430 1,630 1,607 Financial Distress Sumber: Hasil Output SPSS -17,640 13,170 2,942 4,947 Uji Hipotesis Tabel 2. Ui Hipotesis Uji Adjusted R Square Koefisien Determinasi 0,637 Unstandardized Coefficients Std. Error Uji f Uji t Leverage Ukuran Perusahaan Pertumbuhan Penjualan Kapasitas Operasi Sig. 0,000 -0,786 0,361 0,033 0,109 0,283 0,701 -0,121 1,329 0,928 -2,549 0,259 0,000 Sumber: Hasil Output SPSS Berdasarkan 2. koefisien determinasi nilai adjusted R square sebesar 0,637 atau setara dengan 63,7%, artinya yaitu sebesar 63,7% dari nilai perusahaan dipengaruhi oleh leverage, ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, dan kapasitas operasi. Sedangkan sisanya 100% - 6,37% = 36,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan penelitian sebelumnya, faktor-faktor lain yang mempengaruhi Financial Distress adalah Profitabilitas (Oktavianti et al. , 2. Likuiditas (Arief et , 2. Rasio Arus Kas (Oktaviani dan Lisiantara, 2. Arus Kas Operasi (Koswara et al. , 2. Pengaruh GCG (Muslimin dan Bahri, 2. Working Capital Turnover (Febrian dan Nelvrita, 2. serta variabel lainnya yang tidak bisa disebutkan dalam penelitian ini. Pada tabel 2 juga diketahui uji kelayakan model . ji F) nilai signifikansi 0. 000 < 0. 05, yang artinya bahwa nilai signifikansi lebih kecil dari tingkat signifikansinya yaitu 5%. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Berdasarkan tabel 2. Hasil pengujian hipotesis dapat disimpulkan sebagai berikut: JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 120 - 127 Siti Nurdian Erniza dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 120 Ae 127 Leverage (X. , menunjukkan nilai Sig. 0,033 . ,033 < 0. maka leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap financial distress. Artinya. Ukuran Perusahaan (X. , menunjukkan nilai Sig. 0,701 . ,701 > 0,. maka Artinya, ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap financial distress. Pertumbuhan Penjualan (X. , menunjukkan nilai Sig. 0,928 . ,928 > 0,. maka Artinya, pertumbuhan penjualan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap financial Kapasitas Operasi (X. , menunjukkan nilai Sig. 0,000 . ,000 < 0,. maka Artinya, kapasitas operasi berpengaruh negatif signifikan terhadap financial distress. Interpretasi Hasil Pengaruh Leverage terhadap Financial Distress Hasil penelitian menunjukkan bahwa leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap financial distress. Semakin tinggi leverage (DER), semakin kecil kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Hal ini sejalan dengan teori agensi bahwa penggunaan utang dapat mendorong manajer lebih disiplin dalam mengelola perusahaan, serta teori sinyal yang memandang utang tinggi sebagai sinyal positif terhadap prospek perusahaan. Temuan ini konsisten dengan penelitian Safitri . Khasanah et al. , dan Antoniawati dan Purwohandoko . , namun berbeda dengan hasil Wijaya dan Suhendah . Purwaningsih dan Safitri . , serta Stepani dan Nugroho . Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Financial Distress Ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap financial distress. Besar kecilnya aset . iukur dengan Ln Total Ase. tidak menentukan kondisi kesulitan keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa aset besar tidak selalu mencerminkan manajemen yang efektif maupun struktur biaya yang sehat. Hasil ini sejalan dengan teori agensi yang menekankan adanya potensi konflik kepentingan, serta konsisten dengan penelitian Safitri . Purwaningsih dan Safitri . , dan Sholikhah dan Rokhmania . Pengaruh Pertumbuhan Penjualan terhadap Financial Distress Pertumbuhan penjualan terbukti tidak berpengaruh terhadap financial distress. Hal ini disebabkan peningkatan penjualan tidak selalu diikuti laba atau arus kas yang sehat, karena tingginya beban biaya dan Sesuai agency theory, manajer dapat mengejar pertumbuhan tanpa memperhatikan kondisi jangka panjang, dan teori sinyal menegaskan pasar tidak selalu menilai positif pertumbuhan tanpa kinerja keuangan yang kuat. Temuan ini mendukung penelitian Miswaty dan Novitasari . Jesih dan Wizanasari . , serta Oktaviani dan Lisiantara . Pengaruh Kapasitas Operasi terhadap Financial Distress Kapasitas operasi berpengaruh negatif signifikan terhadap financial distress. Efisiensi penggunaan aset tetap dalam menghasilkan penjualan memperkuat kinerja keuangan perusahaan dan menekan risiko kesulitan keuangan. Hal ini mendukung teori agensi yang menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya secara optimal. Temuan ini konsisten dengan penelitian Jesih dan Wizanasari . Miswaty dan Novitasari . , serta Kartika Sari dan Maharani . KESIMPULAN DAN SARAN Leverage dan Kapasitas Operasi berpengaruh terhadap financial distress. Ukuran Perusahaan dan Pertumbuhan Penjualan tidak berpengaruh terhadap Financial Distress. Saran Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambah variabel independen lainnya yang dapat mempengaruhi kondisi financial distress, seperti profitabilitas, likuiditas, keragaman gender, manajerial agency costs, rasio arus kas dan lain sebagainya sehingga menghasilkan penelitian yang lebih baik lagi guna memberikan informasikan yang lebih akurat untuk perusahaan sub sektor riter di BEI. Pengaruh Leverage. Ukuran Perusahaan. Pertumbuhan Penjualan, dan Kapasitas Operasi Terhadap Financial Distress (Studi Empiris Sub Sektor Ritel yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2020-2. (Siti Nurdian Erniz. Siti Nurdian Erniza dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 120 Ae 127 DAFTAR PUSTAKA