Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 45 - 49 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/663 Perbedaan Interval Training Dan Senam Aerobik Terhadap Peningkatan Endurance Pada Mahasiswa Perokok Aktif Differences Between Interval Training and Aerobic Exercise on Endurance Improvement in Active-Smoking University Students Nina Shyntia Wati. Siti Khotimah Prodi S1 Fisioterapi Universitas Aisyiyah Yogyakarta ninashyntia48@gmail. com, sitikhotimah@unisayogya. Diterima : 1 Jan 2026 Ditinjau: 10 Jan 2026 Disetujui: 21 Jan 2026 Publikasi Online: 30 Jan 2026 ABSTRAK Paparan asap rokok pada perokok aktif dapat menurunkan fungsi kardiorespirasi sehingga berdampak pada penurunan daya tahan . dapat menyebabkan mahasiswa mudah lelah dan menurunkan konsentrasi belajar. Oleh karena itu, diperlukan latihan fisik yang efektif untuk meningkatkan endurance. Penelitian ini membandingkan efektivitas interval training dan senam aerobik dalam meningkatkan endurance pada mahasiswa perokok aktif. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh interval training dan senam aerobik terhadap peningkatan endurance pada mahasiswa Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. Metode kuantitatif dengan desain quasi experimental dan pendekatan pre-test and post-test two group design. Sampel penelitian berjumlah 32 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok interval training dan kelompok senam aerobik, masing-masing sebanyak 16 orang. Intervensi diberikan selama 4 minggu dengan frekuensi latihan 3 kali dalam Pengukuran daya tahan dilakukan menggunakan Harvard step test. Analisis data menggunakan independent sample t-test diperoleh nilai p = 0,189 . > 0,. , yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara interval training dan senam aerobik terhadap peningkatan endurance. Interval training dan senam aerobik sama-sama terbukti dapat meningkatkan daya tahan endurance mahasiswa perokok aktif. Namun, tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara interval training dan senam aerobik terhadap peningkatan endurance, sehingga kedua jenis latihan memiliki efektivitas yang relatif sama dalam meningkatkan daya tahan mahasiswa. Kata kunci: interval training, senam aerobik, endurance, mahasiswa perokok aktif. Harvard step test. ABSTRACT Exposure to cigarette smoke in active smokers can impair cardiorespiratory function, leading to a decline in Reduced endurance may cause students to experience fatigue more easily and decreased concentration, which can affect academic performance. Therefore, effective physical exercise is needed to improve endurance. This study compares the effectiveness of interval training and aerobic exercise in improving endurance among active smoking student. This study aimed to determine the differences in the effects of interval training and aerobic exercise on improving endurance among students of Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. This study employed a quantitative method with a quasi-experimental design using a pre-test and post-test two-group design. A total of 32 students were selected using purposive sampling and divided into two groups: the interval training group and the aerobic exercise group, each consisting of 16 participants. The intervention was conducted for 4 weeks with a training frequency of three sessions per week. Endurance was measured using the Harvard Step Test. Data analysis was performed using the independent sample t-test yielded a p-value of 0. > 0. , indicating no significant difference in the effect between interval training and aerobic exercise on endurance improvement. Both interval training and aerobic exercise were proven to improve endurance in active smoking students. However, there was no significant difference in their effects on endurance improvement, indicating that both types of exercise have relatively similar effectiveness in enhancing endurance among young adults. Keyword: interval training, aerobic exercise, endurance, active smoking students. Harvard Step Test PENDAHULUAN Merokok merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang berdampak signifikan terhadap fungsi paru dan sistem kardiovaskular, khususnya pada usia dewasa muda. Kandungan zat berbahaya dalam rokok, seperti nikotin dan karbon monoksida, dapat menyebabkan kerusakan jaringan paru, menurunkan elastisitas alveolus, serta mengganggu proses pertukaran oksigen. Perbedaan Interval Training Dan Senam Aerobik Terhadap. |Nina Shyntia Wati. Siti Khotimah Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 45 - 49 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/663 Kondisi ini berkontribusi pada penurunan daya tahan . dan munculnya kelelahan lebih cepat saat melakukan aktivitas fisik pada perokok aktif 1. Paparan karbon monoksida pada perokok aktif menyebabkan berkurangnya kapasitas pengikatan oksigen dalam darah sehingga menghambat suplai oksigen ke jaringan tubuh. Akibatnya, kapasitas kardiorespirasi dan nilai VOCCmax mengalami penurunan, yang berdampak langsung pada rendahnya tingkat endurance individu2. Latihan fisik secara teratur diketahui mampu meningkatkan efisiensi sistem kardiovaskular dan respirasi, serta memperbaiki kemampuan tubuh dalam memanfaatkan oksigen selama aktivitas fisik3. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO), jumlah perokok di dunia mencapai lebih dari 1,3 miliar orang dengan sekitar 8 juta kematian setiap tahun akibat konsumsi tembakau, yang sebagian besar terjadi pada perokok aktif4. Indonesia termasuk negara dengan prevalensi perokok yang tinggi, terutama pada kelompok usia mahasiswa. Tingginya angka perokok aktif di kalangan mahasiswa berpotensi meningkatkan risiko penurunan endurance dan gangguan kebugaran jasmani5. Penelitian pada mahasiswa perokok aktif di Yogyakarta menunjukkan adanya keluhan mudah lelah, sesak ringan, serta penurunan kapasitas fisik yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru dan rendahnya daya tahan tubuh6. Faktor lingkungan seperti polusi udara juga dapat memperberat kondisi tersebut dengan menghambat proses transport oksigen dari paru ke jaringan perifer sehingga mempercepat terjadinya kelelahan7. Berbagai bentuk latihan fisik telah terbukti efektif dalam meningkatkan endurance, di antaranya senam aerobik dan interval training. Senam aerobik meningkatkan kebugaran melalui aktivitas ritmik berintensitas sedang, sedangkan interval training memberikan adaptasi fisiologis yang lebih besar melalui kombinasi intensitas tinggi dan periode istirahat. Meskipun kedua metode latihan tersebut terbukti meningkatkan VOCCmax dan daya tahan, perbandingan efektivitas antara interval training dan senam aerobik pada mahasiswa perokok aktif masih terbatas8. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh interval training dan senam aerobik terhadap peningkatan endurance pada mahasiswa perokok aktif. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain quasi experimental menggunakan pendekatan pre-test and post-test two group design. Desain ini digunakan karena peneliti tidak dapat mengontrol seluruh karakteristik responden secara penuh, khususnya terkait gaya hidup dan aktivitas sehari-hari. Penelitian dilakukan dengan membandingkan dua kelompok perlakuan, yaitu kelompok interval training dan kelompok senam aerobik, untuk mengetahui perbedaan pengaruh terhadap peningkatan endurance pada mahasiswa perokok aktif. Sampel penelitian berjumlah 32 mahasiswa perokok aktif yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, kemudian dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari 16 Intervensi latihan diberikan selama 4 minggu dengan frekuensi 3 kali per minggu pada kedua kelompok. Sebelum dan sesudah intervensi, seluruh responden dilakukan pengukuran endurance untuk mengetahui perubahan yang terjadi akibat perlakuan yang diberikan. Pengukuran endurance dilakukan menggunakan Harvard Step Test untuk menilai daya tahan jantung . ardiovascular enduranc. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan SPSS26, dengan tahapan analisis meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Uji Perbedaan Interval Training Dan Senam Aerobik Terhadap. |Nina Shyntia Wati. Siti Khotimah Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 45 - 49 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/663 statistik yang digunakan terdiri dari paired sample t-test untuk mengetahui pengaruh latihan pada masing-masing kelompok dan independent sample t-test untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara interval training dan senam aerobik. HASIL Berdasarkan hasil penelitian dari 32 sampel mahasiswa perokok aktif dengan gangguan yang dilakukan selama 12 kali pertemuan dengan frekuensi 3 kali dalam seminggu, maka didapatkan hasil sebagi berikut. Jumlah subjek yang mengikuti penelitian ini sampai akhir sebanyak 32 subjek, 16 subjek diberikan interval training sebagai kelompok I dan 16 subjek lainnya diberikan senam aerobik sebagai kelompok II. Berikut disajikan data berupa deskripsi karakteristik responden yaitu uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis. Tabel 1. 9 Hasil Uji Kelompok Interval Training dengan Paired Sample t-Test pada mahasiswa perokok aktif Aktif Kelompok Perlakuan Paired sample t-test MeanASD Kelompok I 64A1. Berdasarkan tabel 1. 9, membuktikan bahwa hasil uji kelompok interval training dengan Paired sample t-test pada kelompok interval training memiliki nilai mean 41,64% dengan standar deviasi 1,993 dan nilai p 0,000 Maka data tersebut menunjukkan terdapat pengaruh karena p<0,05. Tabel 1. 10 Hasil Uji Kelompok Senam Aerobik dengan Paired Sample t-Test pada mahasiswa perokok aktif Aktif Kelompok Perlakuan Paired sample t-test MeanASD Kelompok II 72A1. Berdasarkan tabel 1. 10, membuktikan bahwa hasil uji kelompok senam aerobik dengan Paired sample t-test pada kelompok interval training memiliki nilai mean 40,72% dengan standar deviasi 1,867 dan nilai p 0,000 Maka data tersebut menunjukkan terdapat pengaruh karena p<0,05. Tabel 1. 13 Hasil Uji Beda Pengaruh Kelompok Interval Training dan Senam Aerobik dengan Independent Sample t-test pada mahasiswa perokok aktif Perlakuan Independet sample t-test MeanASD Kelompok I 64A1. Kelompok II 72A1. Berdasarkan tabel 1. 13, intepretasi hasil uji beda pengaruh kelompok interval training dan senam aerobik dengan Independent sample t-test, diperoleh hasilnya P=0,189. Sehingga hasilnya dapat disimpulkan tidak ada perbedaan pengaruh antara interval training dan senam aerobik terhadap peningkatan endurance pada mahasiswa perokok aktif. PEMBAHASAN Hasil uji menggunakan paired sample t-test pada kelompok interval training menunjukkan nilai p = 0,000 . < 0,. Nilai ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan interval training terhadap peningkatan endurance pada mahasiswa perokok aktif. Secara fisiologis. Perbedaan Interval Training Dan Senam Aerobik Terhadap. |Nina Shyntia Wati. Siti Khotimah Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 45 - 49 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/663 interval training memberikan stimulus intensitas tinggi yang diselingi periode pemulihan terkontrol, sehingga meningkatkan adaptasi sistem kardiorespirasi. Adaptasi tersebut meliputi peningkatan kapasitas aerobik (VOCCma. , efisiensi ventilasi paru, serta respons kardiovaskular yang lebih baik, sehingga tubuh mampu mengompensasi dampak negatif rokok terhadap transport oksigen dan ketahanan fisik9. Pada hasil uji paired sample t-test pada kelompok senam aerobik juga menunjukkan nilai p = 0,000 . < 0,. Hasil ini mengindikasikan bahwa senam aerobik berpengaruh signifikan terhadap peningkatan endurance pada mahasiswa perokok aktif10. Senam aerobik meningkatkan endurance melalui aktivitas ritmik berintensitas sedang yang dilakukan secara berkesinambungan, sehingga memperbaiki fungsi jantung dan paru, meningkatkan jumlah mitokondria dan kapilarisasi otot, serta meningkatkan efisiensi penggunaan oksigen. Adaptasi tersebut berkontribusi terhadap penundaan kelelahan dan peningkatan kemampuan tubuh mempertahankan aktivitas fisik dalam durasi yang lebih lama11 Pengujian beda pengaruh menggunakan independent sample t-test untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara kelompok interval training dan kelompok senam aerobik. Hasil analisis menunjukkan nilai p = 0,189 . > 0,. , yang berarti tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kedua jenis latihan terhadap peningkatan endurance pada mahasiswa perokok aktif. Tidak adanya perbedaan signifikan ini menunjukkan bahwa interval training dan senam aerobik sama-sama efektif dalam meningkatkan endurance, meskipun menggunakan karakteristik intensitas dan pola latihan yang berbeda. Tidak ditemukannya perbedaan pengaruh antara kedua kelompok dapat dijelaskan karena kedua jenis latihan memberikan stimulus yang relatif sebanding terhadap sistem kardiovaskular dan metabolik apabila dilakukan dengan durasi dan frekuensi latihan yang sama. Baik interval training maupun senam aerobik sama-sama meningkatkan kapasitas penggunaan oksigen, efisiensi sistem aerobik, serta adaptasi kardiorespirasi. Pada mahasiswa perokok aktif, adaptasi fisiologis yang dihasilkan dari kedua metode latihan tersebut cenderung seimbang, sehingga peningkatan endurance yang diperoleh tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa latihan aerobik berkelanjutan dan latihan interval dapat memberikan peningkatan daya tahan yang relatif setara bila diberikan dengan dosis latihan yang sebanding9. SIMPULAN DAN SARAN Interval training dan senam aerobik terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan endurance pada mahasiswa perokok aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing metode latihan mampu meningkatkan daya tahan secara bermakna. Namun, tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara interval training dan senam aerobik terhadap peningkatan endurance, sehingga kedua jenis latihan memiliki efektivitas yang relatif sama. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mempertimbangkan faktor lain yang dapat memengaruhi endurance, seperti gaya hidup, lingkungan, dan karakteristik perokok yang berbeda. DAFTAR PUSTAKA