JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 ANALISIS PENGARUH JUMLAH TEMPAT WISATA TERHADAP JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN DI PROVINSI PAPUA Victor F. Pasalbessy Dosen Ekonomi Pembangunan. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura Abstract This research was conducted with the aim of knowing the effect of the number of tourist objects on the number of tourist visits in Papua Province and to find out the factors that influence tourism development in Papua Province. To prevent the discussion from expanding, this research is limited to the effect of the number of tourist attractions on tourist visits in Papua Province from 2010 to 2014. The results showed that the effect of the number of tourist attractions on the number of tourist visits gave rise to a simple linear regression equation Y = 2303. 516X which was then analyzed as follows: Intercept value (Constan. 063 indicates that a constant value or a fixed value is not affected by changes in X. Furthermore, the value of the regression coefficient . is 55,516 indicating that the value of the regression coefficient means that tourism development increases, it will increase the number of tourist visits in Papua Province by 55,516 times. Meanwhile, the correlation coefficient (Multiple R) or . 962 or 96. 62 percent. These results indicate that the X and Y variables have a very strong and positive relationship between the Tourist Places variable and the Number of Tourist Visits in Papua Province. And the value of the coefficient of determination (R Squar. obtained is 0. 925 or 92. 50 percent. This result indicates that variable X or changes in Tourist Attractions can explain its effect on variable Y or Number of Visits by 92. The remaining 7. 50% is not explained by variable X but explained by other Factors influencing tourism development in Papua Province are divided into 2 factors, including: inhibiting factors which consist of 2 aspects, namely internal aspects and external aspects. Supporting Factors consist of Infrastructure. Customs. Transportation System. and Security System. Keywords: the number of tourist attractions, and the number of tourist visits Abstrak Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah obyek wisata terhadap jumlah kunjungan wisatawan di Provinsi Papua dan untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi pengembangan wisata di Provinsi Papua. Untuk mengatasi agar tidak meluasnya pembahasan, maka penelitian ini dibatasi pada pengaruh jumlah tempat wisata terhadap kunjungan wisatawan di Provinsi Papua tahun 2010 s/d 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh jumlah tempat wisata terhadap jumlah kunjungan wisatawan melahirkan persamaan regresi linier sederhana Y = - 2303. 516X yang selanjutnya dianalisis sebagai berikut : Niai Intercept (Constan. sebesar -2303,063 menunjukkan bahwa nilai konstan atau nilai tetap yang tidak terpengaruh oleh perubahan X. Selanjutnya nilai koefisien regresi ( b ) menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi yang berarti pengembangan wisata meningkat, maka akan meningkatkan jumlah kunjungan wisata di Provinsi Papua sebesar 55,516 kali. Sedangkan koefisien korelasi (Multiple R) atau ( r ) sebesar 0. atau 96,62 persen. Hasil ini menunjukan bahwa variabel X dan variabel Y mempunyai hubungan yang sangat kuat dan positif antara variabel Tempat Wisata dengan Jumlah Kunjungan Wisata di Provinsi Papua. Dan nilai koefisien determinan (R Squar. atau ( r2 ) yang diperoleh sebesar 0,925 atau 92,50 persen, hasil ini menunjukkan bahwa variabel X atau perubahan Tempat Wisata mampu menjelaskan pengaruhnya terhadap variabel Y atau Jumlah Kunjungan Wisata sebesar 92. Sisanya 7,50% tidak dijelaskan oleh variabel X melainkan dijelaskan oleh variabel lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan wisata di Provinsi Papua di bagi menjadi 2 faktor Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 antara lain: faktor penghambat yang terdiri dari 2 aspek yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Faktor Pendukung terdiri dari Sarana Prasarana. Adat Istiadat. Sistim Transportasi. dan Sistim Keamanan. Kata Kunci : jumlah tempat wisata ,dan jumlah kunjungan wisata Latar Belakang Sektor pariwisata merupakan sector yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Usaha memperbesar pendapatan asli daerah, maka program pengembangan dan pendayagunaan sumber daya dan potensi pariwisata daerah diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan Secara luas pariwisata dipandang sebagai kegiatan yang mempunyai multidimensi dari rangkaian suatu proses pembangunan. Pembangunan sector pariwisata menyangkut aspek social budaya, ekonomi dan politik (Spillane, 1994 : . Hal tersebut sejalan dengan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, yang menyatakan bahwa penyelenggaraan kepariwisataan ditujukan untuk meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan mendayagunakan obyek dan daya tarik wisata di Indonesia serta memupuk rasa cinta tanah air dan mempererat persahabatan antar bangsa. Perkembangan pariwisata juga mendorong dan mempercepat pertumbuhan Kegiatan pariwisata menciptakan permintaan, baik konsumsi maupun investasi yang pada gilirannya akan menimbulkan kegiatan produksi barang dan jasa. Selama berwisata, wisatawan akan melakukan pembelian, sehingga secara langsung menimbulkan permintaan (Tourism Final Deman. pasar barang dan jasa. Selanjutnya Final Demand wisatawan secara tidak langsung menimbulkan permintaan akan barang modal dan bahan baku (Investment Derived Deman. untuk berproduksi memenuhi permintaan wisatawan diperlukan investasi di bidang transportasi dan komunikasi, perhotelan dan akomodasi lain, industri kerajinan dan industri produk konsumen, industri jasa, rumah makan, restoran dan lain-lain (Spilline, 1994:. Sejalan dengan hal tersebut dampak pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat local dikelompokkan oleh Cohen . menjadi 8 . kelompok besar, yaitu . dampak terhadap penerimaan devisa, . dampak terhadap pendapatan masyarakat, . dampak terhadap kesempatan kerja, . dampak terhadap harga-harga, . dampak terhadap distribusi masyarakat atau keuntungan, . dampak terhadap kepemilikan dan control, . dampak terhadap pembangunan pada umumnya dan . dampak terhadap pendapatan pemerintah. Industri pariwisata memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional. Dengan adanya pariwisata, tentu akan mendatangkan berbagai dampak ekonomi. Dari segi ekonomi adanya pariwisata membawa berbagai dampak meliputi dampak langsung, dampak tidak langsung dan dampak lanjutan. Dampak langsungnya adalah bagi pekerja di kawasan wisata tersebut termasuk pemerintah daerah. Dampak tidak langsungnya adalah salah satunya bisa berupa meningkatnya permintaan akan transportasi umum publik. Dan dampak lanjutannya tentu berhubungan dengan pemerintah dan masyarakat yang bekerja dibidang pariwisata ataupun tidak secara langsung tetapi mendapatkan dampak positifnya. Majunya industri pariwisata suatu daerah sangat bergantung kepada jumlah wisatawan yang dating, karena itu harus ditunjang dengan peningkatan pemanfaatan Daerah Tujuan Wisata (DTW), sehingga industri pariwisata akan berkembang dengan Negara Indonesia yang memiliki pemandangan alam yang indah sangat mendukung bagi berkembangnya sektor industri pariwisata di Indonesia. Sebagai Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 Negara kepulauan, potensi Indonesia untuk mengembangkan industri pariwisata sangatlah besar. Provinsi Papua yang dikenal sebagai wilayah kepulauan ujung Indonesia yang terdiri dari kurang lebih 998 pulau besar dan kecil yang dikelilingi oleh pegunungan serta perairan yang luas , memanjang ke Barat dan Timur sepanjang kurang lebih 062 KM2 sudah barang tentu mempunyai masalah tersendiri dalam pelaksanaan pembangunan yang berbeda dengan daerah lain di tanah air. Kalau dilihat dari luas wilayah geografis kurang lebih 317. 062 KM2. Dimana 70% 387 KM2 merupakan wilayah pegunungan, 30% atau 126. 564 KM2. wilayah lautan dan daratan dengan luas wilayah pegunungan dan perairan yang demikian luas maka sudah jelas akan mempunyai potensi hasil hutan serta sumberdaya perikanan yang sangat potensial dengan berbagai jenis spesies ikannya. Sejalan dengan kondisi geografis wilayah Provinsi Papua yang demikian menjadikan Bumi Cenderawasih yang megah ini sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang menarik karena dilihat dari potensi objek wisata lannya seperti wisata alam, sejarah, dan budaya. Bertolak dari pemikiran tersebut di atas, maka penulis tertarik mengadakan suatu kajian yang lebih mendalam melalui suatu penelitian tentang: Ay Analisis Pengaruh Jumlah Obyek Wisata Terhadap Jumlah Kunjungan Wisatawan di Provinsi PapuaAy. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka penulis mencoba untuk merumuskan permasalahan sebagai berikut: Bagaimana pengaruh jumlah obyek wisata terhadap jumlah kunjungan wisatawan di Provinsi Papua? Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pengembangan wisata di Provinsi Papua ? Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka penulis mencoba untuk membatasi masalah pada pengaruh jumlah tempat wisata terhadap kunjungan wisatawan di Provinsi Papua tahun 2010 s/d 2014. Tujuan dan Manfaat Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan : Untuk mengetahui pengaruh jumlah obyek wisata terhadap jumlah kunjungan wisatawan di Provinsi Papua. Untuk mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan wisata di Provinsi Papua. Kerangka Pemikiran Kepariwisataan dikembangkan tidak hanya untuk mendorong pertumbuhan pertumbuhan ekonomi, tetapi mempunyai tujuan yang luas meliputi aspek politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan nasional (POLEKSOSBUDHANKAMNAS). Walaupun demikian tujuan ekonomis sangat menonjol, lagi pula aspek non ekonomis pembangunan pariwisata sangat erat terkait dengan tujuan ekonominya. Secara spesifik pengembangan pariwisata bukan hanya memperbesar devisa saja, tetapi diharapkan dapat memperluas dan memeratakan kesempatan kerja dan juga diharapkan sebagai lokomotif . dan magnit . dalam memperbaiki kondisi ekonomi. Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran dalam penelitian ini, dapat digambarkan sebagai berikut : Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 Gambar 1. Kerangka Pemikiran TEMPAT WISATA (X) KUNJUNGAN WISATAWAN (Y) Sumber : Kreasi Penulis, 2015 Metode Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Sesuai dengan judul yang dipilih oleh penulis dalam penulisan ini, maka yang menjadi objek penelitian atau lokasi penelitian adalah Dinas Pariwisata Provinsi Papua dengan lama penelitian 4 bulan. Jenis dan Sumber Data Adapun jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari pihak lain, baik dari literatur, studi pustaka yang berkaitan dalam penelitian ini. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua. Dinas Pariwisata Provinsi Papua, dan literature-literatur lain yang mendukung penelitian ini. Data yang digunakan antara lain adalah jumlah obyek wisata, jumlah wisatawan. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Data yang digunakan adalah data kurun waktu . ime serie. dari tahun 2010 Ae 2014. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam suatu penelitian dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat dan realistis. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode studi pustaks (Library Researc. yang diperoleh dari instansiinstansi terkait, buku-buku referensi, maupun data-data pendukung lainnya yang relevan dengan penelitian ini. Teknik Analisa Data Untuk mempergunakan alat analisa sebagai berikut: Analisa Kuantitatif adalah suatu teknik analisis data yang digunakan untuk menghitung : pengaruh jumlah obyek wisata terhadap jumlah kunjungan wisatawan di Provinsi Papua Y = a bX Dimana : = Jumlah Kunjungan Wisata = Intercept = Koefisien Regresi = Jumlah Tempat Wisata Sumber : J. Supranto, 1997 Landasan Teori Pengertian Pariwisata Secara etemologis, pariwisata berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari dua kata yakni AupariAy yang berasal dari kata AuparipurnaAy yang artinya lengkap, dan AuwisataAy yang artinya perjalanan. Dengan demikian secara harafiah dapat diartikan AupariwisataAy artinya suatu perjalanan yang sempurna atau lengkap, dengan Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 kata lain suatu perjalanan yang membutuhkan suatu persiapan yang cukup AuparipurnaAy ( Dinas Pariwisata Provinsi Papua, 1998 : . Pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalanan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olah raga atau istirahat, dan lain-lain, bukan merupakan kegiatan yang baru saja dilakukan oleh manusia masa kini. Pariwisata dalam arti luas adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain bersifat sementara dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi social, budaya, alam dan Seseorang dapat melakukan perjalanan dengan berbagai cara karena alas an berbeda-beda pula. Suatu perjalanan dianggap sebagai perjalanan wisata bila memenuhi tiga persyaratan yang diperlukan, yaitu : Harus bersifat sementara Harus bersifat sukarela . dalam arti tidak terjadi paksaan Tidak bekerja yang sifatnya menghasilkan upah ataupun bayaran Jika merujuk pada Undang-Undang nomor 9 Tahun 1990 mengenai kepariwisataan, dijeaskan bahwa wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian kegiatan yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek atau daya tarik wisata. Menurut Hunziker dan K. Krapt, yang dimaksud dengan kepariwisataan adalah keseluruhan dari pada gejala-gejala yang ditimbulkan oleh perjalanan dan pendiaman orang asing serta penyediaan tempat tinggal sementara, asalkan pendiaman itu tidak tinggal menetap dan tidak memperoleh keuntungan dari aktifitas yang bersifat sementaraAy (Yoeti O A. , 1996 : . Dalam rangka pengembangan dan pembinaan kepariwisataan di Indonesia. Pemerintah telah pula merumuskan batasan tentang wisatawan yang dutuangkan dalam Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 1998 yang memberikan definisi wisatawan adalah setiap orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan. Dari bahasan yang telah dikemukakan diatas, maka seseorang itu dapat disebut wisatawan apabila: Perjalanan itu dilakukan lebih dari 24 jam. Perjalanan itu dilakukan hanya sementara waktu. Orang melakukannya tidak mencari nafkah di tempat atau Negara yang dikunjungi. R . Damardaji mengatakan bahwa yang dimaksud dengan industri Pariwisata merupakan rangkuman dari berbagai macam bidang usaha yang secara bersama-sama menghasilkan produk-produk maupun jasa-jasa layanan-layanan atau service, yang nantinya baik secara langsung maupun tidak langsung dibutuhkan oleh wisatawan selama pelawatannyaAy (Yoeti. A 1996 : . Menurut Medlik dan Middleton yang dimaksud dengan produk industri Pariwisata adalah semua jasa-jasa yang dibutuhkan wisatawan sementara ia berangkat meninggalkan rumah sampai di daerah tujuan wisata yang telah dipilihnya sampai ia kembali ke rumahnya dimana ia tinggal. (Yoeti. A, 1996 : . Yang dimaksud dengan paket wisata adalah suatu rencana perjalanan wisata yang disusun secara tetap dengan biaya tertentu dimana di dalamnya biaya untuk menginap, angkutan, makan, tour dan lain-lain. Objek wisata adalah segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang untuk mengunjungi daerah tertentu. Yang dimaksud dengan atraksi wisata adalah segala sesuatu yang dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat dilihat, dinikmati. Yang termasuk dalam ini adalah tarian -tarian, nyanyian, upacara adat dan lain-lain. Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 Menurut Saleh Wahab, 2003 yang dimaksud dengan sarana kepariwisataan adalah semua bentuk perusahaan yang dapat memberikan pelayanan kepada (Yoeti O. A, 1996:. Yang dimaksud dengan prasarana kepariwisataan adalah semua fasilitas yang memungkinkan agar sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang serta dapat memberikan pelayanan kepada wisatawan untuk memenuhi kebutuhannya. Jumlah wisatawan adalah sejumlah orang yang melakukan perjalanan, atau bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dan berdiam di tempat itu lebih dari 24 jam, untuk menikmati perjalanan itu tanpa bermaksud untuk mencari nafkah. Dana penjualan paket wisata adalah sejumlah dana yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah untuk penjualan paket wisata di luar negeri maupun di dalam Penerimaan devisa adalah alat pembayaran yang oleh suatu negara dapat digunakan untuk melakukan pembayaran terhadap negara lain. Dalam industri pariwisata, yang disebut penerimaan devisa adalah: Penerimaan Visa Fee sewaktu akan berangkat ke negara tujuan kedutaan besar dan konsulat negara yang bersangkutan. Hasil penjualan tiket dari maskapai penerbangan untuk pulang pergi. Biaya taxi untuk transfer dari dan ke airport dan hotel. Sewa kamar hotel selama menginap pada beberapa kota yang dikunjungi. Pengeluaran wisatawan untuk makanan dan minuman pada bar dan restaurant, baik di dalam maupun diluar hotel dimana mereka menginap. Pengeluaran untuk membeli barang-barang souvenir serta barang-barang lainnya yang dibeli. Biaya taxi untuk transportasi lokal, untuk keperluan pribadi pada kota-kota atau kota dalam kota yang dikunjungi. Pariwisata Sebagai Salah Satu Sektor Perekonomian Seperti yang telah dikatakan bahwa wisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara dari suatu tempat ke tempat lain dengan maksud bukan untuk mencari nafkah tetapi untuk menikmati perjalanan atau kunjungan itu, untuk memenuhi kebutuhannya. Dari batasan yang telah dikemukakan di atas, maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus ada alat-alat pemenuhuhan kebutuhan. Oleh karena setiap manusia mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhinya untuk memungkinkan hidup atau memperoleh kesenangan dalam penghidupannya. Jadi untuk memuaskan kebutuhan keinginan itulah yang menjadi dorongan motif bagi orang-orang untuk melakukan perjalanan. Dalam mengadakan perjalanan tersebut ternyata memberi pengaruh dalam kehidupan perekonomian, khusunya bagi industri Pariwisata. Dengan demikian akan membawa keuntungan bagi negara tersebut. Adapun keuntungan-keuntungan yang nyata dan pengaruhnya dalam perekonomian diantaranya ialah: Bertambahnya kesempatan kerja dengan kata lain akan menghilangkan Meningkatkan penerimaan pendapatan nasional itu berarti pendapatan perkapita juga bertambah . Semakin besarnya penghasilan pajak (Tax Revenu. Semakin kuatnya posisi neraca pembayaran luar Negeri (Net Balance Payment. Yoeta O. , 1985:. Dengan demikian pengembangan industri Pariwisata dalam suatu Negara tujuannya adalah mengarahkan dan mengembangkan nilai-nilai ekonomi yang Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 disebabkan adanya lalulintas orang-orang yang mengadakan perjalanan untuk tujuan Pada dasarnya tujuan dari pengembangan industri pariwisata adalah untuk meningkatkan penghasilan devisa bagi Negara. Disamping itu tujuan yang lebih jauh adalah guna memperoleh nilai-nilai ekonomi yang lebih positif dimana Pariwisata diharapkan dapat berfungsi sebagai fasilitator dalam pembangunan ekonomi. Dalam pola dasar pembangunan Provinsi Papua, telah diseapakati bahwa tujuan pembangunan Provinsi Papua yang berbasis pada pembangunan kampung adalah untuk meningkatkan taraf hidup kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat yang makin merata dan adil sehingga dapat mewujudkan terciptanya landasan yang kuat bagi tahap pembangunan berikutnya. Dalam mewujudkan citacita besar ini, pemerintah daerah terus meningkatkan usaha-usaha untuk mengembangkan dan membangun kehidupan ekonomi dan sosial, selain dapat meningkatkan kemakmuran dan kesejahteran dan sekaligus mendistribusikannya menurut prinsip keadilan sosial. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur dampak usahausaha tersebut terhadap kegiatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, ialah perhitungan PDRB. Menurut perhitungan PDRB Provinsi Papua pertumbuhan ekonomi di Provinsi Papua selama tahun 2008-2012 mencapai rata-rata 5,75 per tahun berdasarkan harga konstan 2009. itu berarti pertumbuhan ekonomi terus mengalami peningkatan, dengan demikian akan memberikan dampak positif pula terhadap peningkatan pendapatan perkapita masyarakat Papua. Sektor-sektor usaha yang memberikan sumbangan terhadap PDRB yang berlaku di Provinsi Papua berdasarkan distribusi presentase produk domestik regional/bruto Provinsi Papua atas dasar harga yang berlaku diperincikan menurut lapngan usaha. Ada . sektor antara lain : . pertanian, . pertambangan dan penggalian . industri pengolahan , . listrik, air minum dan gas, . bangunan, . perdagangan, hotel dan restaurant, . pengangkutan dan komunuikasi, . keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, . jasa-jasa. Pada tahun 2009 sektor-sektor tersebut memberikan sumbangsi masingmasing sebesar 11,16% untuk pertanian, 60,17% untuk sektor pertambangan dan pengalian, 1,82 % untuk sektor industri, 0,8 % untuk sektor listrik dan air minum, 6,89% untuk sektor bangunan, 5,84% untuk sektor perdagangan, hotel dan restaurant, 5,08% untuk sektor pengankutan dan komunikasi, 2,04% untuk sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 6,12 % untuk sektor jasa-jasa. Selain itu disisi lain dari indikator keberhasilan pembangunan adalah kemampuan untuk menyediakan lapangan usaha atau menciptakan kesempatan kerja bagi angkatan kerja yang dari tahun ke tahun semakin meningkat. Dengan upaya dan kerja keras berbagai pihak termasuk sub sektor Pariwisata, dimana dapat menciptakan kesempatan kerja 530. 000 orang atau sekitar 98,21% dari jumlah angkatan kerja yang terserap dalam berbagai sektor kegiatan ekonomi. Penyerapan tenaga kerja dilihat langsung dalam sub sektor Pariwisata akhir tahun 2009 telah mencapai 2. 737 orang, dimana 98,21 % terserap pada industri Pariwisata. Semua ini akan memperluas kesempatan kerja dan sekaligus pemerataan kesempatan kerja. Dengan demikian industri Pariwisata juga dapat memajukan dan meningkatkan kegiatan perekonomian Negara karena kegiatan Pariwisata merupakan sub sektor yang pada karya dan dengan sendirinya akan meningkatkan pendapatan masyarakat, selain itu dengan perkembangannya sub sektor Pariwisata akan berakibat ganda terhadap sektor-sektor lain. Posisi Pariwisata Dalam Pembangunan Provinsi Papua Persepsi dan pemikiran masyarakat dan pemerintah Indonesia tentang pembangunan telah mengalami perubahan dan perkembangan terutama sejak Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 pertengahan tahun tujuh puluhan. Dimana pembangunan tidak lagi diartikan sebagai sekedar hal yang dititik beratkan pada pertumbuhan ekonomi semata-mata, sebab pembangunan pada hakekatnya merupakan prosses transformasi yang menyeluruh secara sosial, ekonomi, politik dan sosial budaya. Menurut pandangan ini pembangunan diletakan secara formal dalam kaitannya dengan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Demikian juga halnya dengan pembangunan sektor Pariwisata yang diharapkan mampu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas kesempatan kerja, pemerataan pendapatan serta menghasilkan devisa bagi negara pada masa-masa yang akan datang, diharapkan semakin lebih berperan lagi dengan tidak menentunya harga minyak di pasaran dunia, maka peranan dari sektor Pariwisata tidak sangsikan lagi terutama sebagai sumber penghasil devisa dari sektor non migas dan gas. Mengingat keterkaitan Pariwisata dan pembangunan Nasional pada bidang sub sektor Pariwisata ditegaskan bahwa: Pembangunan Pariwisata perlu ditingkatkan untuk memperluas kesempatan berusaha meningkatkan penerimaan devisa serta memperkenalkan alam dan budaya Indonesia. Pembinaan serta pengembangan parawasita dilakukan dengan tetap memperhatikan terpeliharanya kebudayaan dan kepribadian serta kelestarian lingkungan hidup. Pembinaan dan pengembangan pariwisata dalam negeri ditingkatkan dengan tujuan lebih mengenalkan alam dan kebudayaan bangsa dalam rangka memupuk rasa cinta tanah air dan menanamkan jiwa semangat serta nilai-nilai 45, disamping untuk memperluas lapangan kerja. Dalam rangka pengembangan pariwisata perlu diambil langkah-langkah dan pengaturan-pengaturan yang lebih terarah berdasarkan kebijaksanaan yang terpadu, antara lain berupa peningkatan kegiatan promosi dan pendidikan kepariwisataan, penyediyaan sarana dan prasana serta peningkatan mutu dan kelancaran jasa dan kelancaran pelayanan. Perkembangan dunia kepariwisataan dewasa ini semakin meningkat naik di tingkat Internasional . Nasional maupun Regional terutama dalam dua dasawarsa terakhir ini. Hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah kunjungan Internasional, berkembangnya daerah-daerah pariwisata yang baru (Tourist Destinatio. , meningkatkan pembangunan prasarana dan sarana serta fasilitas wisata baik secara kualitatif maupun kuantitatif, meningkatnya permintaan serta penawaran produkproduk wisata semakin meningkatnya organisasi-organisasi dan lemaga-lembaga Pariwisata baik di tingkat nasional, maunpun di tingkat internsional serta meningkatnya kesadaran manusia bahwa kebutuhan jasa Pariwisata bukan lagi merupakan suatu hal yang mewah , melainkan menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi manusia dewasa ini. Sebagai akibat dari meningkatnya perkembangan tersebut diatas, jelas akan menimbulkan motivasi-motivasi yang lebih besar lagi untuk mengadakan perjalanan. Dengan demikian banyaknya meningkatnya perjalanan internasional secara langsung akan menimbulkan pengaruh-pengaruh terhadap segi kehidupan masyarakat, baik secara social , ekonomi, maupun segi-segi sosial budaya politik dan lingkungan Pengaruh pengembangan Pariwisata ini dapat dipandang sebagai keuntungan yang perlu diperbesar dan ada pula yang merugikan, sehingga demikian secepat mungkin dapat dihindari atau di batasi. Gejala pariwisata dalam arti sempit adalah sebagai suatu perjalanan untuk tujuan kenikmatan atau kesenangan, sedangkan dalam arti luas mencakup segala macam motivasi yang mempunyai pengaruh terhadap segi kehidupan masyarakat. Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 Sehingga pengembangan Pariwisata akan menyentuh baik secara langsung maupun tidak langsung berbagai segi kehidupan manusia dan lingkungan hidup. Terjadinya kontak atau hubungan antara wisatawan dan pendatang dalam rangsangan-rangsangan, mempengaruhi masyarakat dan lingkungan setempat yang dituju wisatawan. Proses ini akan menimbulkan perubahan-perubahan atau dorongan ke arah pemilik dan perkembangan masyarakat maupun lingkungan hidup yang negatif, di mana perubahan ini juga mempengaruhi tata cara kehidupan masyarakat. Sebagai contoh misalnya masyarakat yang dulunya sebagian petani dapat berpindah ke penghidupan yang lain misalnya pengrajin/seniman profesional yang tadinya hanya merupakan pekerjaan sambilan saja. Dengan berpindahnya lapangan kerja tersebut akan mengakibatkan kehidupan taninya terlantar karena beralaih ke lapangan kerja baru yang lebih banyak menghasilkan uang. Keahlian bertani yang tadinya merupakan turun temurun sudah tidak akan tertarik lagi bagi anaknya, sehingga tenaga kerja akan semakin langkah dan akibatnya produktifitas pertanian akan merosot yang akhiranya akan tergantung ke luar negeri. Contoh lain misalnya untuk memenuhi permintaan wisatawan akan patungpatung kayu sebagai souvenir, orang-orang akan selalu menebang kayu di hutan sebagai bahan baku pembuatan patung tersebut. Sehingga apabila hal ini tidak bisa dikendalikan, bisa merusak hutan dan erosi yang pada akhirnya akan merusak lingkungan. Demikian beberapa contoh negatif akibat dari pengembangan Pariwisata. Pemerintah akan mengemabangkan memperbesar dampak posif dan memperkecil dampak negatif. Sebaiknya pada daerah tertentu Pariwisata mempunyai peran penting yang positif, dengan meningkatkan kegiatan ekonomi dan kegiatan seni budaya yang berani justru meningkatkan taraf hidup masyarakat. Selain itu dapat menimbulkan rangsangan berupa pemeliharaan peningalan-peninggalan sejarah, hutan-hutan suaka dan Pengembangan Pariwisata juga menimbulkan dampak positif dan negatif terhadap kegiatan sosial budaya, dampak positif misalnya pengembangan kegiatan kesenian, meluasnya hubungan sosial dengan pihak luar. Sedangkan dampak negatif dapat berupa pengurasan atau pencemaran peninggalan-peninggalan sejarah dan budaya, kemugkinan timbulnya konflik sosial antara penduduk setempat dengan para pekerja pendatang, konflik-konflik itu timbul karena kesempatan terbuka dengan diselenggarakannya usaha Pariwisata yang sering diberikan kepada aparat pendatang berdasarkan pertimbangan kecakapan. Demikian pula halnya dari segi ekonomi, dampak positif dapat berupa bertambahnya lapangan pekerjaan meningkatnya penerimaan devisa, pemerataan pendapatan, timbulnya industri Pariwisata dan lain-lain. Sedangkan dampak negatifnya seperti naiknya biaya hidup setempat. Selain itu, pengaruhmnya dengan lingkungan alam dengan adanya pengermbangan Pariwisata maka dampak positifnya dapat ditimbulkan adalah berupa pengembangan kawasan-kawasan alam baik berupa hutan-hutan, pantaipantai sebagai objek wisata yang dapat menarik masuknya wisatawan. Sedangkan dampak negatif yang di timbulkan akibat pengembangan Pariwisata adalah berupa kemungkinan terjadinya polusi serta kerusakan dan kegoncangan ekosistim. Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa pengaruh pengembangan Pariwisata dalam pengembangan Pariwisata dalam membangun dapat dibagi menjadi dua aspek yakni aspek positif dan segi negatif. Aspek-aspek positifnya antara lain meliputi: Memperbesar kesempatan kerja. Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 Memperbesar kesempatan masyarakat, khusunya di daerah-daerah tujuan wisata. Memperbesar penerimaan devisa. Memperbesar penanaman modal. Meningkatkan produksi serta transaksi barang-barang kebutuhan Pariwisata. Membangkitkan semangat kepariwisataan. Menambah pendapatan pemerintah dari sektor pajak. Memperluas nilai-nilai pergaulan hidup dan pengetahuan. Meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa serta memupuk rasa cinta kasih kepada tanah air. Sedangkan aspek negatifnya antara lain meliputi: Komersialisasi klebudayaan, yang antara lain meningkatkan persaingan dalam pemunculan seni pentas. Tampilnya gambaran feodalisme karena pelayanan terhadap wiasatawan di hotelhotel restoran-restoran dan usaha-usaha semacam itu. Terjadinya pengikisan kehidupan beragama serta penodaan tempat-tempat upacara dan tempat-tempat ibadah. Pengrusakan dan peninggalan-peninggalan sejarah dan kebudayaan. Degradasi keindahan alam sebagai akibat dibangunnya gedung-gedung tanpa mengindahkan keserasian dengan lingkungan sekitarnya. Memasuki Era Milenium i. Pariwisata Povinsi Papua memperkenalkan perannya sebagai salah satu sumber penghasilan devisa utama dalam pembangunan daerah. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya arus kunjungan wisatawan mancanagera ke Papua dari tahun ke tahun sehingga pada akhir abad XXI diharapkan sektor Pariwisata mampu menduduki urusan kedua atau ketiga setelah minyak bumi dan gas bumi. Jelaslah kiranya bahwa pengembangan sektor Pariwisata akan berpengaruh terhadap lingkungan wisata dan akan menambah peningkatan pendapatan masyarakat dan industri Pariwisata serta penerimaan berupa pajak-pajak. Dengan demikian posisi Pariwisata dalam pembangunan Provinsi Papua akan membawa pengaruh yang positif, dengan semakin banyaknya wisatawan yang akan berkunjung ke daerah Papua, semakin besar pula dampak positif yang ditimbulkan terutama sekali untuk wisatawan mancanegara yang secara langsung akan mendatangkan devisa bagi pemerintah. Apabilah usaha-usaha peningkatan jumlah wisatawan dilakukan dengan baik tidak dapat disangkal lagi bahwa posisi Pariwisata di daerah Papua pada masamasa yang akan datang lebih cerah lagi. Kemungkinan untuk menarik masuk wisatawan mancanegara ke daerah Papua masih mempunyai peluang yang masih besar, mengingat bahwa masih ada objek-objek wisata yang masih menarik dan potensial belum sepenuhnya dikembangkan secara baik. Apabila menyangkut pengembangan wisata alam Provinsi Papua telah ditetapkan sebagai pusat pengembangan wisata alam di Indonesia. Hal ini berarti bahwa akan memungkinkan pula masuknya wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik yang lebih banyak. Di samping itu pula kemungkinan untuk masuknya wisatawan mancanegara ke Provinsi Papua akan lebih banyak lagi, mengingat bahwa daerah-daerah tujuan wisata seperti Bali. Yogyakarta. Jawa Barat, dan daerah-daerah tujuan Pariwisata lainnya telah mengalami tingkat perkembangan lebih dulu, nampaknya telah mengalami kejenuhan dan pada umumnya wisatawan mancanegara mulai menjejaki daerah -daerah baru. Untuk itulah sesuai hasil-hasil kerja Departemen Pariwisata telah menetapkan Papua sebagai daerah tujuan wisata umum. Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 Dengan demikian apa yang dijelaskan diatas maka posisi Pariwisata di Papua pada masa-masa yang akan datang tentunya mempunyai peluang dan harapan-harapan yang menggembirakan baik bagi pemetrintah, masyarakat maupun Usaha Pengembangan Kepariwisataan Telah diketahui bahwa kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat unutk mengatur mengurus serta melayani kebutuhan wisatawan. Karena kepariwisataan sebagai gejala tuntutan kebutuhan masyarakat manusia yang wajar serta mempunyai lingkup pengaruh yang menyeluruh, sehingga dapat diperoleh manfaat yang optimal bagi masyarakat baik dari segi ekonomi, sosial dan cultural. Perencanaan tersebut harus menginteraksikan pengembangan Pariwisata ke dalam suatu program pembangunan ekonomi, fisik dan sosial dari suatu negara. Disamping itu rencana tersebut harus mampu memberikan kerangka kerja kebijaksanaan pemerintah untuk mendorong dan pengendalian pengembangan Pariwisata. Ketetapan MPR RI Nomor : II/MPR/1983 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) telah menjkadi landasan bagi perkembangan Pariwisata di Indonesia dalam ukuran waktu Pelita VI. Berdasarkan ketetapan tersebut pengembangan Pariwisata pada dasarnya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Pengembangan Pariwisata harus direncanakan secara menyeluruh sehingga Pariwisata memperhatikan untung ruginya bila di bandingkan dengan pengembangan sektor Jadi apabila pengembangan sektor lain lebih menuntungkan dari sektor Pariwisata, maka pengembangan sektor tersebut harus diutamakan terutama menyangkut kepentingan masyarakat luas. Pengembangan Pariwisata harus diintegrasikan ke dalam pola dasar program pembangunan semesta ekonomi, fisik dan sosia suatu negara, karena pembangunan suatu Pariwisata sangat berkautan dengan sektor lain dan dapat pula berpengaruh terhadap sektor pembangunan lain. Pengembangan Pariwisata harus diarahkan sedemikian rupa sehingga membawa kesejahteraan ekonomi yang tersebar luas dalam masyarakat. Pengembangan pengembangannya mencerminkan ciri-ciri khas budaya akan lingkungan alam suatu negara, bukannya justru merusak lingkungan alam dan budaya yang khas Pertimbangan utama harus mendayagunakan Pariwisata sebagai sarana untuk pemeliharaan kekayaan budaya, lingkungan alam peninggalan sejarah, sehingga masyarakat sendiri menikmati dan merasa bangga akan kekayaan itu. Pengembangan Pariwisata harus diarahkan sedemikian rupa sehingga pertentangan sosial dapat dicegah seminimal mungkin dan sedapat mungkin harus menimbulkan perubahan-perubahan sosial yang positif. Penentuan tata cara pelaksanaan harus disusun sejelas-jelasnya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang masak sesuai kemampuan. Pencatatan (Monitorin. secara terus menrus mengenai Pariwisata terhadap sesuatu masyarakat dan lingkungan sehingga merupakan bahan yang baik untuk meluruskan kembali akibat pengembangan Pariwisata yang merugikan sehingga merupakan sarana pengambilan pengembangan yang terarah. Dalam hal ini pelaksanaan pengembangan Pariwisata yang lebih bersifat teknis, dan operasional usaha-usaha yang dilakukan meliputi: Pembinaan kualitas produk wisata. Pembinaan produk wisata merupakan usaha terus-menerus untuk meningkatkan mutu maupun pelayanan dari berbagai unsur produk yang terkait Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 di dalam usaha pengembangan Pariwisata misalnya jasa penginapan, jasa angkutan, jasa hiburan, jasa tour, dan sebagainya. Disamping itu pula pembinaan produk wisata dapat juga berupa kombinasi usaha-usaha, seperti latihan dan pendidikan, pengaturan-pengaturan kelembagaan/pengarahan pemerintah, pemberian rangsangan ataupun terciptanya kondisi iklim persaingan yang sehat yang dapat mendorong peningkatan kualitas produk wisata serta kualitas pelayanan yang memadai serta semqakin Pengembangan Pariwisata dalam hal kualitas produk wisata merupakan usaha yang harus dilakukan secara terus-menerus, mengingat bahwa Pariwisata . embinaan memberikan daya saing terhadap daerah tujuan wisata lain , baik dari segi pelayanan, aksi, maupun objek wisata dan lain sebagainya, sehingga dapat menyesuaikan dengan selera wisatawan. Untuk ituilah pendidikan dan latihan mutlak harus diperlukan karena hal tersebut merupakan upaya yang sangat penting dalam kaderisasi tenaga-tenaga di bidang kepariwisataan untuk meningkatkan mutu pelayanan produk-produk wisata. Tanpa adanya pendidikan dan latihan tidak mungkin dapat terbina karyawan yang trampil dan dapat menangani industri Pariwisata. Demikian pengaturan kelembagaan dimana satu sama lain peraturan dalam bidang kepatrawisataan di maksudkan sebagai pengarahan usaha keparwisataan melalui rangkaian peraturan yang isinya merupakan ketentuan-ketentuan yang bersifat mengatur dan mengarahkan pengembangan peristiwa pada umumnya, maupun persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh industri pada Usaha peningkatan pemasaran produk wisata. Menyangkut pemasaran dikenal banyak batasan mengenai pemasaran. Secara umum disini dapat dibatasi sebagai kegiatan untuk mempertemukan permintaan dan penawaran sehingga pembeli mendapata kepuasan dan penjualan mendapat keuntungan maksimal. Usaha-uasa pemasaran perlu menarik pembeli mengingat bahwa dalam dunia kepariwisataan persaingan sudah terlampau tajam. Bagi produk yang telah lama ada perlu diadakan penyelenggaraan melalui usaha-usaha pemasaran Pemasaran Pariwisata merupakan hal yang kompleks karena produk wisata mempunyai ciri-ciri khas yang berbeda dengan produk barang biasa. Untuk itulah usaha peningkatan pemasaran produk wisata dilakukan secara terkordinir diantara unsur-unsur terkait serta kerjasama yang saling pengertian baik anatar dunia usaha, pemerintah serta masyarakat di dalam pemasaran produk-produk wisata biasanya dipergunakan prinsip-prinsip yang disebut Marketing Mix atau paduan pemasaran sebenarnya dapat disenut sebagai suatu taktik operasi bertujuan untuk mempertemukan penawaran dengan permintaan. Sebagai salah satu teknik operasi harus dapat menemukan perpaduan unsurunsur yang tepat, harus didasarkan atas penafsiran situasi dan keadaan yang disebut dengan AuAnalisis PemasaranAy. Di dalam perjalanan wisatawan tidak hanya satu macam jasa-jasa yang diperlukan, akan tetapi diperlukan serangkaian jasa yang merupakan produk dari industri Pariwisata. Itulah sebabnya dalam kalangan kepariwisataan dikenal dengan paket wisata. Untuk itulah pemerintah Provinsi Papua telah menyiapkan sebagian dana yang diperlukan bagi penjualan paket wisata luar negeri maupn dalan negeri. Dimana dana tersebut diperuntukan bagi negara pengadaan dan penyebaran bahan-bahan promosi. Pengembangan keparawisawan di Papua, peningkatan ketrampilan pelayanan wisata yang kesemuanya itu bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan sektor Pariwisata di Bumi Cenderawasih. Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 Pembinaan masyarakat . Pariwisata Disamping kedua usaha yang telah dijelaskan diatas yaitu usaha pembinaan produk wisata dan usaha peningkatan pemasaran produk wisata, sehingga usaha lain yang dapat dilakukan dalam rangka pengembangan Pariwisata adalah pembinaan terhadap terhadap masyarakat tentang arti Pariwisata. Pembinaan menumbuhkan dan meningkatkan sadar wisata di kalangan masyarakat serta memupuk rasa cinta kasih terhadap tanah air dan bangsa. Menanamkan jiwa serta semangat serta nilai-nilai 45 dengan tetap memperhatikan terpeliharanya kebudayan dan kepribadian nasional serta kelestarian lingkungan hidup. Hasil Penelitian dan Pembahasan Letak dan luas Wilayah Provinsi Papua Provinsi Papua merupakan daerah kepulauan dengan luas seluruhnya 981 KmA yang terdiri dari lautan dan daratan seluas 128. 594 KmA dan pegunungan seluas 295. 387 KmA. Sehingga lautan dan pegunungan adalah 3 : 1. Secara astronomis. Provinsi Papua terletak diantara 2 25Ao Lintang Utara sampai dengan 9 Lintang Selatan dan diantara 130 Bujur Timur sampai dengan 141 Bujur Barat. Sedangkan batas-batasnya adalah sebagai C Sebelah Utara berbatasan dengan Samudra Pasifik. C Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Arafuru. C Sebelah Barat berbatasan dengan laut Seram. Laut Banda dan Provinsi Maluku. C Sebelah Timur berbatasan dengan Papua New Guinea. Secara Geografis Provinsi Papua yang dikenal sebagai wilayah kepulauan ujung Indonesia, dengan jumlah pulau 998 buah pulau kecil dan besar. Secara administratif Provinsi Papua dengan ibu kotanya Jayapura, terdiri dari 28 Kabupaten dan 1 Kota, dan untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 1 Pembagian Wilayah Administrasi Menurut Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Kabupaten / Kota Ibukota Kab. / Kota Jumlah Jumlah Distrik Desa Merauke Merauke Jayawijaya Wamena Jayapura Sentani Nabire Nabire Kepulauan Yapen Serui Biak Numfor Biak Paniai Enarotali Puncak Jaya Mulia Mimika Timika Boven Digoel Tanah Merah Mappi Keppi Asmat Agats Yahukimo Sumohai Pegunungan Bintang Oksibil Tolikara Dekai Sarmi Sarmi Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura Keerom Arso Waropen Batawa Supiori Sorendiweri Mamberamo Raya Burmeso Nduga Kenyam Lani Jaya Tiom Mamberamo Tengah Kobakma Yalimo Elelim Puncak Illaga Dogiyai Kigamani Intan Jaya Sugapa Deyai Tigi Kota Jayapura Jayapura Jumlah Sumber : Papua Dalam Angka, 2015 ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2015 Provinsi Papua terdiri dari 28 Kabupaten dan 1 Kota dengan 385 Kecamatan / Distrik dan 565 Kelurahan / Desa. Kabupaten Yahukimo memiliki jumlah Kecamatan / Distrik dan Kelurahan / Desa terbanyak . Kecamatan / Distrik dan 518 Kelurahan / Des. Sedangkan Kabupaten Supiori. Kabupaten Mamberamo Tengah. Kabupaten Deyai dan Kota Jayapura, masing-masing memiliki Kecamatan / Distrik paaling sedikit. Berdasarkan luasnya wilayah dan adanya program pemerintah berupa respek yang digulirkan ke kecamatan/distrik berupa bantuan sebesar Rp. 100 juta ke setiap kampong per tahun menjadi banyak pemekaran yang terjadi. Pemekaranpemekaran tersebut diyakini dapat mempercepat pembangunan di wilayah Papua dan mengurangi ketertinggalan dari kemajuan yang sudah dicapai oleh Provinsi Selain terbentuknya pusat-pusat pemerintahan yang mendekatkan pelayanan terhadap masyarakat, juga pembangunan kantor pemerintahan, rumah dinas, infrastruktur, telah mendorong tumbuhnya perekonomian di semua sektor, hal ini perlu diimbangi dengan pemberdayaan ekonomi di tingkat masyarakat, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat terus berkesinambungan. Kondisi Tempat Wisata dan Perkembangannya di Provinsi Papua Provinsi Papua merupakan salah satu Provinsi yang cukup luas di Indonesia. Dilihat dari segi bentuk tersebarnya pulau-pulau di kawasan kepulauan ini, maka Provinsi Papua adalah perspektif miniatur dalam kedudukannya sebagai daerah keunikan letak, bila ditinjau dari segi antropologi yakni antara rumpun bangsa Austronesia. Polinesia dan Micronesia, disamping itu berada pula dipersimpangan dua arus gaya bumi Mediterian dan Sirkum Pasifik dan di garis lintas Walace. Keunikan letak kepulauan Papua ini telah melahirkan ciri khas alam flora dan fauna tersendiri yang jarang ditemukan di daerah atau di negara lain seperti taman laut, pulau-pulau coral dan vulkanis yang berpasir putih, ikan-ikan hias yang serba beragam, siput dan kerang laut, pohon sagu yang menanti, anggrek dan kayu putih, serta tumbuhan laut dan darat yang berjenis-jenis. Disamping itu, orang Papua dibentuk oleh faktor alam, letak geografis dan historis, sehingga lahirlah ciri khas rakyat Papua seperti memiliki hati terbuka, spontan dan ramah tamah, bergotong royong secara kekeluargaan berdasarkan hukum adat peninggalan-peninggalan sejarah, dan lain sebagainya. Wilayah Papua terdiri dari 70% daerah pegunungan, sehingga kebudayaan rakyat Papua berorientasi ke pertanian sehingga lazim disebut Agro Culture. Hal tersebut dapat dilihat jenis hasil bumi, tari-tarian, kerajinan tangan, syair dan lagu, tata menu dan lain-lain. Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sejak dulu Provinsi Papua merupakan daerah yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi suku, dan bangsa lain serta kegiatan-kegiatan yang menghubungkan antar wilayah atau daerah lain dengan Provinsi Papua. Berkembangnya tempat wisata yang ada di Provinsi Papua dari tahun ke tahun mengalami peningkatan seiring dengan berkembangnya daerah baru dan terjadinya pemekaran wilayah di Provinsi Papua. Provinsi Papua memiliki banyak tempat wisata yang sangat indah dan menarik, sehingga dapat menarik minat wisatawan untuk datang dan berkunjung menikmati indahnya pesona alam Papua. Oleh sebab itu, perkembangan jumlah tempat wisata di Provinsi Papua dapat ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 2. Perkembangan Jumlah Tempat Wisata Di Provinsi Papua Perkembangan Tahun Jumlah Tempat Wisata (%) Sumber : DISBUDPAR Prov. Papua, 2015 Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi perkembangan tempat wisata di Provinsi Papua dari tahun 2010 sampai tahun 2014 mengalami peningkatan yang berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat. Pada tahun 2010 jumlah tempat wisata sebanyak 86 tempat. Pada tahun 2011 jumlah tempat wisata sebanyak 99 tempat atau perkembangannya mengalami peningkatan sebesar 15. 12 persen. Kemudian pada tahun 2012 jumlah tempat wisata sebanyak 121 tempat atau perkembangannya mengalami peningkatan yang tidak signifikan sebesar 22. 22 persen. Selanjutnya pada tahun 2013 jumlah tempat wisata sebanyak 134 tempat atau perkembangannya mengalami peningkatan 74 persen. Dan pada tahun 2014 jumlah tempat wisata sebanyak 158 tempat atau perkembangannya mengalami peningkatan sebesar 17. 91 persen. Hal ini tentu akan berdampak positif bagi perkembangan kunjungan wisatawan yang berkunjung ke Provinsi Papua sebagai alternatif daerah kunjungan wisata. Perkembangan Jumlah Kunjungan Wisatawan di Provinsi Papua Pariwisata adalah salah satu perekonomian yang perlu dikembangkan dan ditingkatkan karena selain dapat meningkatkan devisa, juga dapat memperluas lapangan pekerjaan serta memperkenalkan kebudayaan bangsa dan negara. Dalam usaha pengembangan kepariwisataan. Provinsi Papua memiliki potensi yang cukup menarik untuk dikunjungi di seluruh tanah papua. Salah satu tujuan dari pengembangan pariwisata adalah untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang mengunjungi objek wisata tertentu. Wisatawan yang berkunjung di Provinsi Papua ada 2 . jenis wisatawan yaitu : Wisatawan Mancanegara dan Wisutawan Nusantara. Selanjutnya dapat dilihat jumlah kunjungan wisatawan yang telah berkunjungan ke Provinsi Papua pada tabel berikut : Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 Tabel 3. Perkembangan Jumlah Kunjungan Wisata Di Provinsi Papua Wisatawan Wisatawan Jumlah Perkembangan Tahun Mancanegara Nusantara (Oran. (%) (Oran. (Oran. - 9. - 0. Sumber : DISBUDPAR Prov. Papua, 2015 Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan jumlah kunjungan wisatawan di Provinsi Papua dari tahun 2010 kecenderungan meningkat. Perkembangan yang sangat tinggi terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 10. 87 persen. Dimana hal ini tentu menggambarkan situasi perekonomian yang baik, dimana setiap pengunjung yang datang ke objek wisata tentu akan menguntungkan bagi sisi perekonomian suatu daerah yang dikunjungi. Namun, pada tahun 2014 kembali menurun karena pada tahun tersebut banyak wisatawan yang tidak berkunjung diakibatkan karena faktor keamanan. PEMBAHASAN Pengaruh Jumlah Tempat Wisata Terhadap Jumlah Kunjungan Wisatawan di Provinsi Papua Tabel 4. Jumlah Tempat Wisata dan Jumlah Kunjungan Wisatawan Di Provinsi Papua Jumlah Kunjungan Wisata Tahun Jumlah Tempat Wisata (Oran. Sumber: Data diolah, 2015 Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan program SPSS Reliese 12. 0 for Windows, maka dapat dilihat pengaruh yang signifikan diantara kedua variabel di Regression Statistic Multiple R 0,443a R Square 0,197 Intercept (Constan. = 146,80 Koefisien Regresi = Observations Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka dapat dibuat suatu persamaan regresi linier sederhana Y = 15. 146,801 12. 329X yang dianalisis sebagai berikut : Intercept (Constan. 146,801 menunjukkan bahwa nilai konstan atau nilai tetap yang tidak terpengaruh oleh perubahan X. Nilai Koefisien Regresi ( b ) sebesar 12. 329 menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi yang berarti pengembangan wisata meningkat, maka akan meningkatkan jumlah kunjungan wisata di Provinsi Papua sebesar 12. 329 kali. Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 Koefisien Korelasi (Multiple R) atau ( r ) sebesar 0,443 atau 44,30 persen. Hasil ini menunjukan bahwa variabel X dan variabel Y mempunyai hubungan yang sangat kuat dan positif antara variabel Tempat Wisata dengan Jumlah Kunjungan Wisata di Provinsi Papua. Nilai Koefisien Determinan (R Squar. atau ( r2 ) yang diperoleh sebesar 12. persen, hasil ini menunjukkan bahwa variabel X atau perubahan Tempat Wisata mampu menjelaskan pengaruhnya terhadap variabel Y atau Jumlah Kunjungan Wisata sebesar 12. 33 persen. Sisanya 87,67 persen tidak dijelaskan oleh variabel X melainkan dijelaskan oleh variabel lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pengembangan Wisata di Provinsi Papua Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan wisata di Provinsi Papua di bagi menjadi 2 faktor antara lain: Faktor Penghambat Faktor penghambat dibagi menjadi 2 aspek yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Aspek internal meliputi: . terbatasnya personil atau aparat pemungut, dan . Kualitas sumber daya aparat yang belum maksimal. Aspek eksternal meliputi: . Kesadaran pengunjung masih sangat kurang, . sosialisasi Peraturan Daerah belum menyeluruh kepada setiap pengunjung, . Tanah yang digunakan untuk membangun ornamen-ornamen ditempat wisata masih mesrupakan tanah adat dan perlu pelepasan tanah adat. Faktor Pendukung Sarana Prasarana Pengembangan wisata di Provinsi Papua sangat dipengaruhi oleh sarana dan prasarana wisata sebagai faktor penunjang yang akan memperlancar siklus kunjungan wisatawan yang berkunjung ke Provinsi Papua. Adat Istiadat Pola hidup masyarakat Papua yang sangat tergantung pada adat istiadat yang selalu mengikat kehidupan masyarakat Papua di era globalisasi Sistim Transportasi Media transportasi sangat memegang peran penting dalam alur kunjungan wisatawan ke tempat-tempat wisata, hal ini disebabkan karena letak geografis Provinsi Papua yang terpisah oleh lautan, daratan dan pegunungan. Sistim Keamanan Sistem keamanan masyarakat juga punya andil yang kuat dalam memberikan pelayanan dan keamanan serta kenyamanan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Provinsi Papua. Penutup Kesimpulan Bertolak dari hasil penelitian, maka penulis dapat menyimpulkan hasil penelitian sebagai berikut : Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh jumlah tempat wisata terhadap jumlah kunjungan wisatawan melahirkan persamaan regresi linier sederhana Y = - 2303. 516X yang selanjutnya dianalisis sebagai berikut : Niai Intercept (Constan. sebesar -2303,063 menunjukkan bahwa nilai konstan atau nilai tetap yang tidak terpengaruh oleh perubahan X. Selanjutnya nilai koefisien regresi ( b ) sebesar 55. 516 menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi yang berarti pengembangan wisata meningkat, maka akan meningkatkan jumlah kunjungan wisata di Provinsi Papua sebesar 55,516 kali. Sedangkan koefisien Victor F. Pasalbessy - Analisis Pengaruh Jumlah TempatAA. JURNAL EKONOMI & BISNIS Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ISSN : 2086-4515 Volume 10. Nomor 1. Juli 2019 korelasi (Multiple R) atau ( r ) sebesar 0. 962 atau 96,62 persen. Hasil ini menunjukan bahwa variabel X dan variabel Y mempunyai hubungan yang sangat kuat dan positif antara variabel Tempat Wisata dengan Jumlah Kunjungan Wisata di Provinsi Papua. Dan nilai koefisien determinan (R Squar. atau ( r2 ) yang diperoleh sebesar 0,925 atau 92,50 persen, hasil ini menunjukkan bahwa variabel X atau perubahan Tempat Wisata mampu menjelaskan pengaruhnya terhadap variabel Y atau Jumlah Kunjungan Wisata Sisanya 7,50% tidak dijelaskan oleh variabel X melainkan dijelaskan oleh variabel lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan wisata di Provinsi Papua di bagi menjadi 2 faktor antara lain: faktor penghambat yang terdiri dari 2 aspek yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Aspek internal meliputi: terbatasnya personil atau aparat pemungut. dan Kualitas sumber daya aparat yang belum Sedangkan aspek eksternal meliputi: Kesadaran pengunjung yang masih sangat kurang. sosialisasi Peraturan Daerah belum menyeluruh kepada setiap pengunjung. Tanah yang digunakan untuk membangun ornamen-ornamen ditempat wisata masih mesrupakan tanah adat. dan perlu pelepasan tanah adat. Faktor Pendukung terdiri dari Sarana Prasarana. Adat Istiadat. Sistim Transportasi. dan Sistim Keamanan Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka penulis dapat memberikan saran sebagai berikut : Untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di Provinsi Papua, maka pengembangan wisata perlu ditingkatkan dengan tujuan untuk menyerap lebih banyak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Provinsi Papua. Perlu adanya peningkatan sarana dan prasarana yang ada kaitannya dengan kegiatan pariwisata berupa perbaikan dan pembenahan tempat-tempat wisata. Pengembangan Sumber Daya Manusia yang profesional, sehingga dapat mengembangkan wisata secara kompetatif. DAFTAR PUSTAKA