At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir Vol. No. : 127-146 Available online at https://jurnal. id/index. php/tafasir Self Control Santriwati Pondok Pesantren Tahfidhul QurAoan Roudhotul QurAoan Panekan Magetan Nihayatul Afifah IAIN Ponorogo Indonesia Email: nihayatul137@gmail. Lia Amalia IAIN Ponorogo Indonesia Email: lia. amalia@iainponorogo. ARTICLE INFO Keywords: Self Control. Santriwati. Tahfidz, pesantren, remaja ABSTRACT This qualitative study investigates the self-control of female Qur'an memorization students at PTQ Roudhotul Qur'an, crucial for their success given the demands of memorization and the need for consistent Despite individual differences in memory, effective self-control is key. The research focused on three core aspects of self-control: behavioral, cognitive, and decisional control. This study was designed using a descriptive qualitative method. Data collection was carried out by observation and interviews. The participants in this study were three female students who were teenagers who were selected through the purposive sampling technique. The data from the results of this study were then analyzed using the Miles and Huberman analysis model which includes data reduction, data display and conclusions or data verification. Findings indicate that the students exhibited good self-control across all aspects. In behavioral control, they demonstrated situational appropriateness, responsibility, and adherence to boarding school rules. For cognitive control, they showed strong abilities in thinking, understanding, and processing their surroundings. Lastly, their decision control was robust, reflecting their capacity to make agreed-upon choices and select opportunities for action. These findings highlight the significant role of self-control in supporting the memorization journey of these students. How to Cite: Nihayatul Afifah. Lia Amalia. AuSelf Control Santriwati Pondok Pesantren Tahfidhul QurAoan Roudhotul QurAoan Panekan MagetanAy At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Vol. No. 1 (June 2. : 127-146 A 2022. The author. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 1. June 2025 PENDAHULUAN Al-QurAoan merupakan firman Allah yang memiliki kedudukan istimewa dan menjadi penyempurna kitab-kitab sebelumnya sekaligus meluruskan hal-hal yang menyeleweng dari ajaran-ajaran sebelumnya. 1 Karena Al-QurAoan sebagai pedoman dan petunjuk bagi umat di seluruh alam, maka menghafalkan Al-QurAoan merupakan hal yang Proses menghafalkan Al-QurAoan bukan hal yang mudah, namun juga tidak mustahil dan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan bagi orang yang ingin 2 Tradisi menghafal Al-QurAoan di Indonesia telah berlangsung sejak lama. Pada awalnya, menghafal ayat Al-QurAoan dilakukan oleh para ulama yang belajar di Timur Tengah melalui guru-guru mereka. Setelah kecenderungan menghafal Al-QurAoan semakin meningkat, maka kemudian dibentuklah lembaga-lembaga tahfidz Al-QurAoan yang berbentuk pondok pesantren khusus tahfidz. 3 Keberadaan pesantren tahfidz menjadi lembaga pendidikan yang memiliki pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia sekarang ini. Di era modern ini banyak generasi muda yang mulai luntur nilai-nilai keislaman dan kehilangan minat membaca Al-QurAoan. Untuk itu, penting bagi para orang tua muslim di Indonesia untuk mengarahkan anaknya untuk mengikuti program menghafal Al-QurAoan yang diselenggarakan di pondok pesantren. Pondok pesantren Roudhotul QurAoan merupakan salah satu pondok pesantren di kabupaten Magetan yang memiliki program khusus menghafal Al-QurAoan. Pondok pesantren ini masih menggunakan metode klasik sorogan dalam membina para santri penghafal Al-QurAoan. Penggunaan metode sorogan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan para santri dalam menghafal Al-QurAoan yang sesuai dengan kemampuan daya ingat masing-masing santri. Para santri dituntut untuk menjadi pribadi yang disiplin dengan mampu menyelesaikan target hafalan dengan menyetorkan hafalan Rini Risnawita. S dan M. Nur Ghufron. Teori-Teori Psikologi, 2010, p. Meirani Agustina. Ngadri Yusro, and Syaiful Bahri. AoStrategi Peningkatan Minat Menghafal Al Quran Santri Di Pondok Pesantren Arrahmah CurupAo. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 14. , 1Ae17 . Muhammad Makmum Rasyid. Kemukjizatan Menghafal Al-QurAoan, 2015, p. Self Control Santriwati Pondok Pesantren Tahfidhul QurAoan Roudhotul QurAoan Panekan Magetan (Nihayatul Afifah, et al. setiap harinya. Secara umum, program menghafal Al-QurAoan di PTQ Roudhotul QurAoan diikuti oleh para remaja yang termotivasi oleh dorongan orang tua mereka dan tergiur dengan karunia yang akan didapat oleh para penghafal Al-QurAoan. 4 Namun meski berada dalam naungan pondok pesantren, para santri dalam menghafal Al-QurAoan juga mengalami beberapa problem dan kendala. Adapun faktor yang melatar belakangi kendala para santri di antaranya adalah faktor lingkungan, kesabaran, lupa, rasa malas dan pemanfaatan Menurut Baumeister. Vohs dan Tice, self control merupakan kapasitas seorang individu guna mengubah arah rangsangan pada garis standar seperti impian, nilai, moral dan harapan sosial untuk menyokong pencapaian tujuan jangka panjang. 5 Kemudian menurut Goldfried dan Merbaum, self control merupakan kemampuan seseorang untuk menyusun, mengatur, membimbing dan mengarahkan dirinya kepada hal yang positif. Self control ini adalah potensi yang harus dikembangkan seorang individu dalam proses Self Control penting bagi seorang individu. Dengan self control yang baik, maka diri seseorang akan terbangun dengan pikiran dan perilaku yang tepat. Hal itu tidak hanya akan menolong diri sendiri, namun juga memberikan teladan bagi orang lain atas pemilihan perilaku yang baik dan pantas. Self control sangat diperlukan bagi santri PTQ Roudhotul QurAoan. Hal ini dikarenakan proses menghafal Al-QurAoan bukan hanya sekedar membaca kemudian akan hafal dengan sendirinya. Dalam menghafal Al-QurAoan, seorang santri harus memiliki kesabaran dan ke-istiqAmah-an agar hafalan yang sudah didapatkan tidak hilang dan dapat mempermudah dalam proses menghafalkan ayat selanjutnya. Selain membutuhkan niat dan usaha yang sungguh-sungguh, seorang santri harus memiliki self control yang baik agar dapat menunjang proses menghafal, mulai dari menghindari perilaku negatif Wawancara dengan Rohima AuPengurus santriwati putri PTQ Roudhotul QurAoanAy. Jusuf Blegur. Soft Skills Untuk Prestasi Belajar, 2020, p. Ghufron, op. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 1. June 2025 seperti melanggar peraturan, terlalu santai, dan mampu menahan dirinya untuk melakukan segala bentuk kemaksiatan. Pada proses menghafal, seorang individu diwajibkan untuk mengulang-ulang hafalannya agar tidak mudah hilang. Dalam istilah pesantren dinamakan kegiatan takrr . engulang hafala. Takrr adalah metode yang paling mudah dilakukan terutama dalam menghafal ayat yang sulit. 7 Dengan mengulang hafalan, para santri akan mudah menyambungkan ayat yang sudah dihafalkan sebelumnya dengan ayat yang akan dihafalkan. Meskipun pada dasarnya seorang individu memiliki daya ingat dan kemampuannya masing-masing, faktor self control dapat mempengaruhi perkembangan dan keberhasilan individu tersebut. Sederhananya, self control adalah tentang bagaimana seorang individu dalam mengendalikan dirinya mulai dari emosi tingkah laku dan kepekaan dalam membaca situasi. Berdasarkan hasil wawancara dengan santriwati pengurus PTQ Roudhotul QurAoan, bahwa faktor penghambat dalam proses hafalan para santriwati di antaranya adalah HP, pergaulan antar santri yang tidak sehat dan kemalasan. Para santriwati akan cenderung santai dan tidak bertanggung jawab dalam menyelesaikan target apabila mereka diberi kebebasan memakai HP di pesantren. Oleh karena itu, kebijakan pesantren memperbolehkan santri membawa HP hanya saat di sekolah, sehingga ketika sampai di pesantren HP akan dikumpulkan. Kemudian faktor pergaulan santri yang tidak sehat, biasanya terjadi pada santri baru dan masih labil. Mereka akan cenderung mudah terpengaruh oleh pergaulan yang tidak baik seperti bergaul dengan teman yang malas, banyak bicara dan sering melanggar peraturan pesantren. Kemudian beberapa santri ketika mereka sudah jenuh dengan banyaknya tuntutan tugas sekolah, maka akan timbul rasa malas dan kehilangan konsistensi dalam menghafal. Dengan memiliki self control yang baik, maka para santriwati penghafal AlQurAoan akan memiliki perilaku produktif. Dengan ini mereka akan mampu mengatur stimulus dan menyesuaikan perilakunya kepada hal-hal yang dapat menunjang tujuan Wiwi Alawiyah Wahid. Panduan Menghafal Al-QurAoan Super Kilat, 2015, p. Wawancara dengan Rohima AuPengurus santriwati putri PTQ Roudhotul QurAoanAy. Self Control Santriwati Pondok Pesantren Tahfidhul QurAoan Roudhotul QurAoan Panekan Magetan (Nihayatul Afifah, et al. dalam hidupnya, yaitu menyelesaikan hafalan tepat pada waktunya. Mereka akan mudah menentukan mana yang harus didahulukan, mana yang lebih penting dan mereka juga akan dengan mudah mempertimbangkan keputusan, bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan mampu meninggalkan hal yang menyimpang dari aturan yang telah Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana proses self control santriwati dalam menghafal Al-QurAoan. Untuk itu, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dikarenakan data dalam penelitian ini bersifat deskriptif dan tidak melibatkan angka statistik. Menurut Denzin dan Lincoln, penelitian kualitatif adalah penelitian alamiah yang bertujuan untuk menafsirkan fenomena yang terjadi dengan melibatkan metode yang ada. 9 Penelitian kualitatif dikenal sebagai interpretative research, naturalistic research dan phenomenological research. Penelitian kualitatif menekankan kepada makna, penalaran, definisi suatu situasi dan meneliti hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Desain penelitian kualitatif sifatnya umum dan berubah atau berkembang sesuai dengan situasi yang ada, sedangkan datanya bersifat deskriptif yang berupa gejala-gejala yang kemudian dikategorikan dalam bentuk foto, dokumen, dan catatan lapangan saat penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti agar memperoleh data yang valid dan memenuhi standar yang ditetapkan adalah teknik observasi dan wawancara. Teknik pengumpulan data melalui observasi menurut Keraf adalah sebuah proses pengamatan terhadap objek penelitian dan fenomena yang ada yang berupa manusia, bangunan, tumbuhan dan lainya. 11 Observasi hakikatnya merupakan teknik pengumpulan data yang melibatkan pengamatan langsung terhadap konteks yang terlibat dalam sebuah 12 Dengan observasi, maka peneliti dapat secara langsung melihat situasi dan kondisi latar penelitian sehingga akan didapatkan data yang riil dengan fakta yang ada. Albi Anggito & Johan Setiawan. Metodologi Penelitian Kualitatif, 2018, p. Rukin. Metodologi Penelitian Kualitatif, pp. 6Ae7. et al Warul Walidin. Metodologi Penelitian Kualitatif Dan Grounded Theory, 2015, p. Ardiansyah dan Risnita. AoTeknikPengumpulan Data Dan Instrumen Penelitian Ilmiah Pendiidkan Pada Pendekatan Kualitatif Dan KuantitatifAo, 1 . , 1Ae9 . At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 1. June 2025 Adapun teknik wawancara merupakan bentuk komunikasi yang bertujuan untuk memperoleh informasi dengan metode tanya jawab antara peneliti dan informan. Pada awal penelitian, wawancara sebaiknya dilakukan secara tidak terstruktur dan terbuka untuk memberikan ruang kebebasan kepada informan dalam memberikan pandangan dan Setelah memperoleh sejumlah keterangan dari informan, peneliti dapat melakukan wawancara secara terstruktur berdasarkan apa yang telah diungkap Lokasi yang dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini adalah PTQ Roudhotul QurAoan yang berlokasi di Kecamatan Panekan. Kabupaten Magetan. Peneliti memilih PTQ Roudhotul QurAoan dikarenakan pondok ini merupakan salah satu pesantren khusus program tahfidz di kabupaten Magetan dan mayoritas santri di dalamnya adalah remaja setingkat Madrasah Aliyah. Jenis sumber data dalam penelitian ini adalah berupa data kualitatif, yaitu data yang berisi gambaran umum mengenai objek penelitian. Peneliti mengumpulkan data dari informan pendukung menggunakan teknik obsservasi dan wawancara mendalam dengan tiga informan dengan inisial Ossa. Npp dan Aaz agar mendapatkan informasi mendalam terkait kejadian dan fakta di lokasi penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Ponpes Raudhotul QurAoan dan Beragam Aktifitasnya Pondok Pesantren Roudhotul QurAoan merupakan salah satu pondok tahfidzul qurAoan yang berada di Magetan, lokasinya berada di jl. Scopy Rt/Rw 02/03 Desa Joso Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan. Pondok pesantren ini berdiri sekitar tahun 2000 M/1421 H. Pada awalnya pondok pesantren ini hanya menerima santri putra, namun ada sanak saudara dari Abah Yai yang ingin memondokkan putrinya di PTQ Roudhotul QurAoan dan kemudian pesantren dibuka untuk santri dan santriwati. Kondisi lingkungan pesantren ini dipenuhi dengan rumah-rumah warga, namun tidak terlalu ramai sehingga tidak mengganggu aktivitas pesantren. Kondisi pesantren tidak terlihat Si Dr. Zuchiri Abdussamad. Metode Penelitian Kualitatif, 2021, p. Self Control Santriwati Pondok Pesantren Tahfidhul QurAoan Roudhotul QurAoan Panekan Magetan (Nihayatul Afifah, et al. seperti pesantren pada umumnya yang dikelilingi pagar pembatas. PTQ Roudhotul QurAoan adalah pesantren yang sederhana dan tampak seperti rumah warga pada umumnya dan dibatasi lorong-lorong sebagai akses jalan. Santriwati di PTQ Roudhotul QurAoan berjumlah 90 santri dengan 13 kamar yang dihuni oleh 9-10 santri. Mayoritas santriwati berasal dari Magetan dan Ngawi yang duduk di sekolah tingkat MTS dan MA. Para santri tidak diwajibkan mengikuti program tahfidz, namun mayoritas santri dengan sendirinya meniatkan diri dan mengikuti program tahfidz. Selain tahfidz berikut ini program-program di pesantren Roudhotul QurAoan: Tahfidhul QurAoan. Fasokhah (Takhsinul Makhorijul Huru. TasmiAo (Setiap Hari Aha. Diniyah. Sorogan kitab Setiap kegiatan santri di luar maupun di dalam pesantren telah dijdwalkan pesantren, dengan tujuan agar santri dapat mengikuti jadwal dengan baik dan tidak banyak waktu luang yang sia-sia. Pondok pesantren Roudhotul QurAoan menjadikan program tahfidz sebagai program utama pesantren. Seluruh santri dibina untuk membaca Al- QurAoan sesuai dengan kaidah membaca yang baik dan tidak dipaksa untuk menghafalkannya, namun seiring berjalannya waktu hati para santri akan tergerak dan mengikuti program menghafal Al-QurAoan. Beberapa santri juga sudah menghafal AlQurAoan sebelum masuk ke pesantren Roudotul QurAoan. Kontrol perilaku bagi para santriwati merupakan hal yang sangat penting karena dapat menunjang keberhasilan santri dalam mencapai target hafalan. Seorang santri harus memiliki self control yang baik agar memiliki kecenderungan yang lebih produktif dan mampu mengarahkan dirinya kepada hal positif. Pernyataan tersebut didukung dengan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti. Pada hari Sabtu, 2 Februari pukul 9. 00 WIB, peneliti melakukan pengamatan terhadap perilaku santri dalam kehidupan sehari hari di pesantren, untuk mengetahui kontrol perilaku santriwati. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, mayoritas santriwati PTQ Roudhotul QurAoan telah memiliki self control yang baik. Para santri dapat mengatur dan mengondisikan perilakunya dengan baik. Hal ini dicerminkan ketika para santri dihadapkan dengan orang baru, maka mereka akan cenderung pemalu At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 1. June 2025 dan pendiam. Namun, ketika peneliti sudah melakukan pendekatan, mereka dapat beradaptasi dan berperilaku akrab namun tetap dengan menjaga kesopanannya. Kemudian para santri juga dapat mengatur penggunaan jadwal kegiatannya dengan baik dan menggunakan waktu luang untuk kegiatan yang tepat. Para santri dibiasakan menjadi individu yang disiplin dengan adanya jadwal kegiatan yang telah ditetapkan oleh para santri juga dapat mengontrol keputusannya dengan baik dan menerima risiko atas keputusannya. Hal ini dicontohkan seperti ketika para santri memutuskan untuk menjadi penghafal Al-QurAoan, maka mereka telah siap dengan berbagai tantangan dan risiko yang ada dan mereka dapat mengatasinya. Pondok pesantren Roudhotul QurAoan menjadikan program tahfidz sebagai program utama pesantren. Seluruh santri dibina untuk membaca Al-QurAoan sesuai dengan kaidah membaca yang baik dan tidak dipaksa untuk menghafalkannya. Namun, seiring berjalannya waktu hati para santri akan tergerak dan mengikuti program menghafal Al-QurAoan. Beberapa santri juga sudah menghafal Al-QurAoan sebelum masuk ke pesantren Roudotul QurAoan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah peneliti lakukan pada ketiga informan dengan inisial Ossa. Npp dan Aaz dapat ditemukan bahwa pada aspek kontrol perilaku mayoritas santriwati dapat berperilaku secara situasional dengan baik. Para santri juga telah mampu menerapkan nilai-nilai Al-QurAoan dalam kehidupan sehari-harinya, dan dapat mengendalikan perilaku mana yang sesuai bagi seorang santri ketika berada di lingkungan pesantren maupun di lingkungan masyarakat. Sebagaimana yang telah dituturkan Ossa selaku santriwati PTQ Roudhotul QurAoan, mengenai kontrol perilakunya sebagai santriwati pengahafal Al-QurAoan, sebagai AuDalam kehidupan sehari-hari meski baru sedikit saya sudah menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-QurAoan, yaitu dengan menghindari perilaku tercela seperti menjauhi hal yang mendekati zina, berkata jujur dan mengerjakan sholat lima waktu dengan tertib. Ay Self Control Santriwati Pondok Pesantren Tahfidhul QurAoan Roudhotul QurAoan Panekan Magetan (Nihayatul Afifah, et al. Sementara itu Npp menuturkan, ia masih berusaha untuk memperbaiki AuSaya masih mengusahakan agar perilaku saya sesuai dengan nilai-nilai Al-QurAoan. Terkadang saya lupa dengan ikut bergosip namun sedikitsedikit saya mencoba memperbaiki. Ay Sedangkan menurutAaz, ia sudah bertingkah laku mengikuti perintah Allah : AuAlhamdulillah dan insyallah saya sudah menerapkan perilaku yang sesuai dengan perintah Allah dalam Al-QurAoan. Ay Dari hasil observasi dan wawancara dengan ketiga informan mengenai kontrol kognitif mereka, ditemukan bahwa pada aspek kognitif mereka sudah dapat mengontrolnya dengan baik. Mereka mampu mengatasi permasalahan yang ada selama ini dan dapat mengalihkan perhatiannya dengan baik untuk mengurangi tekanan yang ada dalam proses menghafal Al-QurAoan. Di samping itu, mereka memiliki daya ingat yang baik serta kecepatan menghafal yang baik. Dalam proses menghafalkan Al-QurAoan para santri harus memiliki prinsipnya masing-masing agar tetap konsisten dalam menghafal dan istiqamah untuk terus melakukan murojaah. Meski memiliki prinsip yang berbeda namun para santri tetap memiliki tujuan yang hampir sama yaitu untuk menyelesaikan hafalan sesuai dengan target. Sebagaimana yang telah diungkap oleh Ossa: AuPrinsip saya agar konsisten dalam menghafal adalah dengan mengingat tujuan utama saya dan mengingat senyum bahagia orang tua saya. Ay31 Sedangkan Npp memotivasi dirinya dengan membandingkan hapalannya dengan teman-teman yang lain: AuAgar konsisten saya melihat contoh teman-teman saya yang rajin menambah hafalan, sehingga itu menjadi penyemangat saya untuk menambah hafalan. Ay32 Sementara Aaz memantapkan pola pikirnya bahwa menjadi penghapal al-QurAoan sebagai bagian dari caranya berbakti pada orang tua: At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 1. June 2025 AuPrinsip saya adalah dengan mengingat tujuan awal saya untuk membahagiakan bapak sayaAy Hasil observasi dan wawancara kepada ketiga informan mengenai kontrol keputusan santriwati PTQ Roudhotul QurAoan menemukan bahwa ketiganya telah memiliki kontrol keputusan yang baik. Meskipun santri dalam pengambilan keputusan seringkali terjadi kesalahan, namun para santri telah memikirkan resiko yang akan terjadi sehingga mereka siap menerima konsekuensinya. Kontrol keputusan bagi santri penghafal Al-QurAoan sangat menentukan bagaiamana langkah yang akan diambil selanjutnya, seperti halnya ketika santri memilih mengikuti program tahfidz para santri harus siap dengan segala resiko yang ada. Sebagaiamana yang telah dituturkan oleh Ossa: AuTujuan Al-QurAoan membahagiakan orang tua dan atas cita-cita saya agar menjadi manusia yang mulia. Saat awal-awal saya pernah menyesal mengikuti program ini, karena melihat teman saya yang tidak punya tanggungan untuk menghafal tetapi saya harus menghafal. Namun sekarang saya sangat menikmati prosesnya. Ay Hal serupa juga dituturkan oleh Npp: AuTujuan saya menjadi hafidzah adalah untuk menaikkan derajat orang tua saya. Saya pernah menyesal mengikuti program ini karena pada awalnya merasa berat dan sulit menghafalkan. Ay Sedangkan Aaz sejak awal memiliki pandangan bahwa menjadi penghapal al-QurAoan sebagai jalan mencari ridlo Allah dan merupakan sebuah kesempatan yang berharga: AuTujuan saya adalah karena keinginan saya sendiri untuk mendapat ridho Allah. Saya tidak pernah menyesali keputusan saya menjadi penghafal Al-QurAoan, karena sudah saya luruskan niat saya karena Allah. Agar tetap istiqamah selain mengingat tujuan awal saya mengingat dawuh abah Self Control Santriwati Pondok Pesantren Tahfidhul QurAoan Roudhotul QurAoan Panekan Magetan (Nihayatul Afifah, et al. bahwasannya tidak semua orang diberi kesempatan untuk bisa menghafal Al-QurAoan. Jadi saya yang telah diberi kesempatan akan terus saya perjuangkan sebaik mungkinAy Tantangan terbesar dalam menghafal Al-QurAoan adalah keharusan untuk istiqamah dalam hal membaca, menambah dan mengulang hafalan, keputusan santri untuk istiqamah tentu saja akan memudahkan santri dalam menyelesaikan target Selain istiqamah keputusan dalam mendahulukan kegiatan yang perlu didahulukan juga menentukan ketercapaian target hafalan santri, sebagaimana yang telah dituturkan oleh Ossa: AuAgar tetap istiqamah adalah dengan mengingat tujuan dan kemudian murojaah ayat-ayat yang sudah dihafalkan. Dalam memutuskan kegiatan mana yang harus didahulukan saya akan mengutamakan hafalan saya, ketika saya sudah menyelesaikan target harian maka kegiatan yang lain akan mengikuti alur setelahnya. Ay Hal serupa juga dituturkan oleh Npp: AuCara saya agar tetap intiqamah adalah dengan mencontoh teman yang rajin dan istiqamah kemudian saya berusaha menjadi seperti mereka. Dalam menentukan kegiatan saya akan memilih mendahulukan kegiatan yang paling penting dan kemudian menyesuaikan kegiatan lainnya Ay47 Begitu pula keputusan Aaz untuk berdisiplin mengikuti jadwal kegiatan yang telah dirancang oleh pesantren : AuSaya menjadwalkan kegiatan saya seperti pada umumnya, yaitu dengan giat bersih kemudian kalau sekolah ya sekolah, ngaji ya ngaji. Jadi ya menyesuaikan jadwal pesantren. Ay At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 1. June 2025 Self Control Santriwati Ponpes Roudhatul QurAoan Berdasarkan data yang telah digali dari beberapa informan, di antaranya membahas mengenai aspek kontrol perilaku santriwati, aspek kontrol kognitif santriwati dan aspek kontrol keputusan santriwati di pesantren tahfidhul QurAoan Roudhotul QurAoan: Self Control Santriwati PTQ Roudhotul QurAoan Pada Aspek Kontrol Perilaku Kontrol perilaku dalam proses menghafal Al-QurAoan adalah berguna untuk mencegah perilaku negatif yang akan mengganggu proses menghafal Al-QurAoan. PTQ Roudhotul Huda memiliki peraturan terkait perilaku yang tidak boleh dilakukan oleh para santrinya, sehingga para santri dituntut untuk menjadi pribadi yang disiplin dalam setiap perilakunya. Menurut Susanti dan Nurwidiawati, seorang individu dengan self control yang tinggi akan mampu mengatur perilakunya menuju arah konsekunsi positif, sehingga seorang individu itu mampu mengatur stimulus dan menyesuaikan perilakunya terhadap hal yang dapat menunjang belajar atau tujuannya. 14 Konrol perilaku santriwati PTQ Roudhotul QurAoan tergolong sudah baik. H al ini dibuktikan oleh kemampuan santri dalam mengatur perilakunya ke arah yang positif sehingga setiap santri memiliki target harian masing-masing untuk menunjang penyelesaian hafalan Al-QurAoan. Berdasarkan teori Rianti dan Raharjo bahwa seseorang dengan self control yang baik akan mampu berperilaku secara situasional, bertanggung jawab sesuai tata tertib yang ada dan tidak menyimpang dari aturan-aturan yang telah ditetapkan. 15 Para santriwati PTQ Roudhotul QurAoan mampu berperilaku secara situasional, mereka dapat membedakan perilakunya dengan teman sebaya, tamu dan dengan pengurus dengan baik. Para santriwati juga sangat jarang melanggar peraturan pesantren, para santri akan dihadapkan dengan takzir atau hukuman yang telah ditetapkan apabila perilakunya melanggar tata tertib pesantren. Peneliti melakukan wawancara dengan tiga informan, di mana para informan memiliki perbedaan satu sama lain dalam mengontrol perilakunya di Jusuf Blegur. Soft Skills Untuk Prestasi Belajar, 2020, p. Blegur, p. Self Control Santriwati Pondok Pesantren Tahfidhul QurAoan Roudhotul QurAoan Panekan Magetan (Nihayatul Afifah, et al. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan ditemukan bahwa Ossa telah memiliki kontrol perilaku yang baik. Hal ini dibuktikan dengan kemampuannya bersikap secara situasional dan dapat menempatkan perilakunya sesuai tempatnya. Ossa menuturkan bahwa berada dalam lingkungan penghafal Al-QurAoan memberikan perubahan dalam perilaku dan sikapnya. Ossa banyak termotivasi oleh mbak-mbak santri yang lain sudah menerapkan perilaku seorang santri, sehingga ia sebisa mungkin menerapkan perilaku santri dalam kehidupan sehari-harinya. Namun dalam hal tanggung jawab Ossa masih memiliki kekurangan yaitu terkadang ia tidak menyetorkan hafalan dan menyelesaikan target hariannya dikarenakan kesibukan yang lain. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan ditemukan bahwa Npp memiliki kontrol perilaku yang cukup baik. Npp mengaku bahwa ia memiliki sikap yang berbeda dalam hal perilaku dan ketaatan ketika berada di rumah dan ketika berada Ketika berada dipesantren seluruh kegiatannya seperti waktu shalat sudah terjadwal dengan baik sehingga dapat terlaksana dengan baik, namun ketika di rumah Npp mengakui bahwa ia masih kurang bertanggung jawab atas sholat lima Tetapi Npp sudah mampu berperilaku secara situasional, dalam proses menghafal Al-QurAoan Npp memiliki cara sendiri yaitu dengan mencari tempat yang tenang dan tidak mengganggu santri yang lain. Selain itu Npp juga mampu menempatkan perilakunya sesuai dengan tempatnya, ia mampu membedakan bahasa dan tutur kata dengan teman sebaya dan kepada pengurus misalnya. Dalam hal tanggung jawab pesantren Npp beberapa kali pernah tidak menyetorkan hafalannya dikarenakan kesibukan disekolah, tetapi Npp memiliki tekad yang kuat sehingga ia berusaha mengejar hafalan yang tertinggal. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan ditemukan bahwa Aaz telah memiliki kontrol perilaku yang sangat baik, dibuktikan dengan ia telah mampu bersikap secara situasional dan mampu bertanggung jawab dengan tugas-tugasnya. Dalam berperilaku ia telah menerapkan perilaku santri dalam kehidupan sehari- At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 1. June 2025 harinya, ia mampu menyikapi situasi yang mengecewakan dengan baik tanpa menyinggung perasaan orang lain. Dalam hal tanggung jawab Aaz telah bertekad untuk menyelesaikan target hafalannya sesuai dengan target awal, dengan tujuan mengharap rida Allah dan membahagiakan bapaknya. Selain bertanggung jawab dalam hafalnya Aaz juga bertanggung jawab dengan tugas-tugas sekolahnya, sehingga kesibukan disekolah sama sekali tidak mengganggu kegiatan di pesantren. Self Control Santriwati PTQ Roudhotul QurAoan Pada Aspek Kontrol Kognitif Kontrol kognitif merupakan kemampuan individu untuk mengolah, menilai dan menggabungkan suatu kejadian sebagai adaptasi psikologis dalam mengurangi tekanan. Kontrol kognitif ini dibagi menjadi dua komponen, yaitu memperoleh informasi dan memperoleh penilaian. Pada proses psikologi kognitif, informasi yang diterima berupa data yang mudah diingat dan memberikan efek pada seorang individu. Sehingga secara cepat seorang individu dapat mendeteksi kejadian yang terjadi, kapan terjadi dan sebagainya yang mempengaruhi pemaknaan objek sehingga memunculkan perilaku dan tindakan. Dalam proses ini peranan sensasi, pengalaman dan memori merupakan hal penting dalam proses kognitif seorang individu. Kontrol kognitif juga menjadi penentu keberhasilan santri dalam menyelesaikan target hafalannya. Kontrol kognitif yang baik akan memberikan dampak pada kemampuan santri untuk beradaptasi dengan lingkungan, kemampuan berkomunikasi dengan baik, kemampuan berpikir dan mengingat sehingga dapat menyelesaikan target hafalan bagi santri penghafal Al-QurAoan. Peneliti melakukan wawancara dengan tiga informan, para informan memiliki perbedaan dalam hal kontrol kognitif sebagai berikut: Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan ditemukan bahwa Ossa telah memiliki kontrol kognitif yang cukup baik. Dibuktikan dengan kemampuannya untuk mengolah informasi, dalam proses wawancara Ossa dapat Ghufron, p. Puspasari, p. Self Control Santriwati Pondok Pesantren Tahfidhul QurAoan Roudhotul QurAoan Panekan Magetan (Nihayatul Afifah, et al. menjawab pertanyaan dengan baik dan spontan. Kemudian dalam menilai dan menggabungkan kejadian sebagai adaptasi psikologis untuk mengurangi tekanan. Ossa telah mampu menilai suatu kondisi dan mengubahnya menjadi hal yang dapat mengurangi tekanan dalam menghafal Al-QurAoan. Selain memiliki cara sendiri dalam menghafal Al-QurAoan. Ossa juga mampu menjadwalkan kegiatannya sehingga ia dapat mencicil hafalan disela kesibukannya. Untuk mengurangi tekanan dalam menghafal Al-QurAoan Ossa mengalihkan perhatiannya dengan berkegiatan di luar Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan ditemukan bahwa Npp memiliki kontrol kognitif yang baik. Npp dapat berkomunikasi dengan baik dan sopan, baik kepada pengasuh pesantren maupun tamu di pesantren. Npp juga dapat menjawab beberapa pertanyaan yang peneliti lontarkan saat wawancara dengan jawaban yang baik, sopan, jelas dan mudah dipahami. Dalam menghafal Al-QurAoan tentu saja akan ada banyak rintangan yang harus dihadapi, menurut penuturan Npp menyetorkan hafalan setiap hari terkadang sangat berat dilakukan ketika bersamaan dengan kegiatan organisasi disekolah. Sehingga untuk mengurangi tekanan dalam menghafal Al-QurAoan Npp mengalihkan perhatiannya dengan membaca dan memahami arti dan kandungan Al-QurAoan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan ditemukan bahwa Aaz memiliki kontrol kognitif yang sangat baik. Aaz dapat berkomunikasi dengan baik, mudah memahami dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh peneliti saat wawancara berlangsung. Target hafalan harian Aaz adalah satu halaman di hari biasa dan dua halaman di hari libur, untuk menyelesaikan target hafalannya Aaz membutuhkan waktu sekali duduk atau sekali waktu setelah sholat subuh. Menurut Aaz menyetorkan hafalan setiap hari bukanlah maslaah, namun sudah menjadi tanggung jawabnya. Meski begitu terkadang sifat manusiawi yaitu merasa tertekan dengan tanggung jawab itu pasti ada, sehingga untuk mengalihkan tekanannya Aaz memilih untuk keluar pesantren dan mencari ketenangan. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 1. June 2025 Self Control Santriwati PTQ Roudhotul QurAoan Pada Aspek Kontrol Keputusan Kontrol keputusan adalah kemampuan seorang individu untuk memilih sesuatu yang disetujuinya. Dalam menentukan pilihan self control berfungsi untuk memilih kesempatan, kebebasan, atau kemungkinan suatu tindakan. 18 Pengambilan keputusan yang tepat tergantung dari keadaan psikologis seseorang. Ketika seorang individu dalam keadaan tenang maka pengambilan keputusan yang tepat akan terjadi. Para santriwati dalam mengontrol keputusannya selalu mempertimbangkan konsekuensi atas keputusan yang akan diambilnya dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, oleh karena itu mayoritas santriwati telah memiliki kontrol keputusan yang baik. Para santri mampu membedakan hal yang penting saja dan hal yang sangat penting, dalam menghafal AlQurAoan tidak ada yang lebih penting dari menghafal dan murojaah. Sehingga para santri telah menetapkan kegiatan menghafal sebagai pilihan utama dari kegiatan lainnya. Dalam menghafal Al-QurAoan kontrol keputusan santri juga menentukan keberhasilan ketercapaian target tepat pada waktunya, para santri dengan niat dan tujuan yang kuat akan mampu mengontrol keputusannya dalam setiap tindakan yang ia ambil. Mayoritas Al-QurAoan keinginannya sendiri yang ingin menjadi manusia mulia dan dukungan dari keluarga. Para santri yang telah memutuskan untuk menghafal Al-QurAoan mereka sudah siap dengan konsekuensi yang akan terjadi seperti, waktu yang terbagi, tuntutan untuk terus mengingat hafalan yang didapat dan murajaAoah. Peneliti melakukan wawancara dengan tiga informan, para informan memiliki perbedaan dalam hal kontrol kognitif sebagai berikut: Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan ditemukan bahwa Ossa telah memiliki kontrol keputusan yang cukup baik. Ossa mampu membedakan hal yang harus diprioritaskan dan hal yang harus dikesampingkan. Seperti keputusan Ossa untuk menjadi penghafal Al-QurAoan yaitu untuk membahagiakan orang tuanya dan merupakan cita-citanya untuk menjadi manusia yang mulia. Dalam menghafal Al18 Ghufron, p. Self Control Santriwati Pondok Pesantren Tahfidhul QurAoan Roudhotul QurAoan Panekan Magetan (Nihayatul Afifah, et al. QurAoan ada banyak sekali tantangan di antaranya adalah tantangan untuk selalu istiqamah dalam menghafal maupun menangguhkan hafalan. Ossa memilih untuk terus melakukan murojaah agar hafalan yang didapatnya tidak hilang. Sebelum memutuskan sesuatu Ossa selalu memikirkan konsekuensi atas tindakannya, seperti ketika Ossa melanggar peraturan dengan keluar tanpa izin ia sudah mengerti dan memikirkan konsekuensinya. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan ditemukan bahwa Npp telah memiliki kontrol keputusan yang baik. Npp memutuskan untuk mengikuti program menghafal Al-QurAoan meskipun pada awalnya mengikuti program ini dengan tidak sengaja, pada awalnya Npp menyesali keputusannya namun ia tetap berusaha agar dapat menyelesaikan hafalannya dengan baik dan tepat waktu. Npp menuturkan bahwa kesempatan menghafal Al-QurAoan tidak akan didapat oleh semua orang dan hanya orang-orang terpilih yang akan mampu menuntaskannya, oleh karena itu Npp tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ia dapatkan. Selain itu Npp juga mampu memprioritaskan menghafal Al-QurAoan sebagai pilihan pertama, ia akan mendahulukan menghafal dan kegiatan yang lain akan mengikuti setelahnya. Dalam memutuskan sesuatu Npp akan mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi, seperti ketika ia memutuskan untuk menjadi penghafal Al-QurAoan namun disekolah ia juga mengikuti organisasi intra. Npp sudah mengetahui konsekuensinya dan berusaha agar dapat memaksimalkan keduanya, meskipun pada praktiknya ia masih kesulitan untuk membagi waktu dan menjadwalkan kegiatan. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan ditemukan bahwa Aaz telah memiliki kontrol keputusan yang sangat baik. Aaz mampu mengambil keputusan yang baik untuk dirinya dan tujuan utamanya yaitu menyelesaikan target hafalan dengan baik. Aaz tidak pernah menyesali keputusannya menjadi penghafal AlQurAoan karena segala keputusannya diniatkan karena Allah. Dalam megambil keputusan Aaz memerlukan waktu yang lama dengan memikirkan konsekuensi yang akan terjadi, ia selalu mengutamakan kegiatan menghafal di atas kegiatan yang At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 2. Number 1. June 2025 Ia berkomitmen untuk selalu istiqomah dalam menghafal dan menangguhkan hafalannya, selain komitmen yang kuat Aaz juga tidak pernah melanggar peraturan pesantren. Berdasarkan paparan data di atas dapat diketahui bahwa setiap santriwati memiliki kontrol perilaku, kontrol kognitif dan kontrol keputusan yang berbeda. Hal yang membedakan ini dipengaruhi oleh beberapa hal di antaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal. Dalam faktor internal, usia sangat mempengaruhi bagaimana seorang individu dalam mengontrol dirinya. Dijalaskan dalam beberapa teori psikologi bahwa semakin bertambahnya usia, maka akan semakin baik cara pengendalian dirinya. Kemudian berdasarkan faktor eksternal, lingkungan sekitar seperti keluarga maupun masyarakat, keadaan lingkungan yang disiplin akan membentuk perilaku seorang individu menjadi disiplin pula. KESIMPULAN Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dipaparkan oleh peneliti pada bab sebelumnya, maka self control santriwati PTQ Roudhotul QurAoan dapat diambil tiga Pertama pada aspek kontrol perilaku santriwati dalam penelitian ini sudah baik, para santri dapat berperilaku secara situasional, bertanggung jawab sesuai tata tertib yang ada dan tidak menyimpang dari aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pesantren. Kedua, pada aspek kontrol kognitif para santriwati PTQ Roudhotul QurAoan tergolong sudah baik. Hal ini ditunjukkan oleh para santri yang mampu untuk mengolah, menilai dan mengurangi tekanan. Dalam mengatasi tekanan yang ada dalam menghafal AlQurAoan, mereka akan mengalihkan perhatian mereka dengan kegiatan yang lain atau pergi ke suatu tempat. Kesimpulan ketiga pada aspek kontrol keputusan, santriwati PTQ Roudhotul QurAoan juga sudah baik. Para santri mampu memilih kesempatan, kebebasan, atau kemungkinan suatu tindakan dan mampu memilih sesuatu yang disetujuinya. Self Control Santriwati Pondok Pesantren Tahfidhul QurAoan Roudhotul QurAoan Panekan Magetan (Nihayatul Afifah, et al. DAFTAR PUSTAKA