Al Amiyah Volume Online at Email E-ISSN : Jurnal Ilmiah Multidisiplin : Vol. No. 01 (Januari-April 2. : https://miftahul-ulum. id/ojs/index. php/alamiyah : jurnalamiyahmultidisiplin@gmail. : 3048-2038 Masalah-Masalah Sosiologi Pendidikan Di SDN 03 Sangatta Utara: Analisis Interaksi Sosial dan Ketimpangan Pendidikan Junita Maharani1. Titin Arifka2 1,2Manajemen Pendidikan Islam. Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta email: Maharanijunita30@gamail. com1, titinarifka967@gmail. Abstrak Penelitian kualitatif ini menganalisis masalah sosiologi pendidikan di SDN 03 Sangatta Utara dengan fokus pada bentuk interaksi sosial antara guru, siswa, dan warga sekolah. faktor sosial penyebab ketimpangan pendidikan. serta upaya sekolah dalam mengatasinya. Pendekatan interpretatif berlandaskan teori reproduksi sosial Bourdieu, integrasi sosial Durkheim, dan fungsionalisme Parsons digunakan untuk menggali makna di balik fenomena melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan 12 informan kunci, focus group discussion, dan analisis dokumen. Hasil menunjukkan interaksi didominasi pola otoriter . % waktu kela. dan kelompok eksklusif antarsiswa, sementara komunikasi orang tua hanya 2Ae3 kali per semester. Ketimpangan dipicu disparitas ekonomi . % siswa miski. , fasilitas tidak merata . % kela. , norma budaya bias, dan tiadanya remedial, menciptakan jurang prestasi 25 poin. Upaya sekolah via Kelas Inklusi meningkatkan solidaritas 25%, konseling menjangkau 15% siswa bermasalah, dan ekstrakurikuler melibatkan 60% siswa aktif, namun terhambat partisipasi rendah. Rekomendasi: jadwal fleksibel, komunikasi digital orang tua, rotasi guru, buku keliling, dan integrasi harmoni dalam kurikulum. Penelitian ini menegaskan sekolah sebagai simpul kunci pemerataan sosial melalui sinergi guru-orang tua-siswa. Kata Kunci: Interaksi Sosial. Ketimpangan Pendidikan. Harmoni Sekolah Abstract This qualitative research analyzes sociological issues in education at SDN 03 Sangatta Utara, focusing on forms of social interaction among teachers, students, and school community members. social factors causing educational inequality. the school's efforts to address them. An interpretative approach grounded in Bourdieu's theory of social reproduction. Durkheim's social integration, and Parsons' functionalism was employed to uncover meanings behind the phenomena through participant observation, in-depth interviews with 12 key informants, focus group discussions, and document analysis. Findings reveal that interactions are dominated by authoritarian patterns . % of class tim. and exclusive peer groups among students, while parent communication occurs only 2Ae3 times per semester. Inequality is driven by economic disparities . % of students from low-income familie. , uneven facility distribution . % of classroom. , biased cultural norms, and the absence of structured remedial programs, resulting in a 25-point achievement gap. School initiatives through the "Inclusive Class" program increased student solidarity by 25%, counseling reached 15% of at-risk students, and cultural extracurriculars engaged 60% of active students, yet were hindered by low Recommendations include flexible scheduling, digital parent communication, teacher rotation, mobile libraries, and harmony integration into the daily curriculum. This study affirms the school as a pivotal node for social equalization through teacher-parent-student synergy. Keywords: Social Interaction. Educational Inequality. School Harmony Copyright A 2026 Junita Maharani, et al. (Masalah-Masalah Sosiologi Pendidikan Di SDN 03 Sangatta Utara: Analisis Interaksi Sosial dan . Junita Maharani, et al. PENDAHULUAN Pendidikan bukan sekadar proses transmisi pengetahuan, melainkan sebuah arena interaksi sosial yang penuh dinamika, di mana sekolah menjadi ruang utama bagi pembentukan karakter, sikap, dan kompetensi peserta didik. Khusus di SDN 03 Sangatta Utara, berbagai masalah sosiologi pendidikan muncul akibat kompleksitas hubungan antara guru, siswa, orang tua, dan lingkungan sosial sekitar yang turut memengaruhi efektivitas proses belajar-mengajar. Faktor-faktor seperti ketimpangan akses terhadap sumber belajar, perbedaan latar belakang ekonomi keluarga, serta pola komunikasi yang cenderung hierarkis dan tidak setara sering kali menjadi penghambat utama dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan merata bagi seluruh siswa (Macionis & Plummer, 2. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pembelajaran, tetapi juga sebagai mekanisme reproduksi sosial yang dapat mempertahankan struktur ketimpangan masyarakat atau justru menjadi alat untuk Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa modal budaya, modal ekonomi, dan modal sosial yang dibawa siswa dari lingkungan keluarga mereka secara signifikan memengaruhi capaian akademik dan perkembangan pribadi di sekolah. Di SDN 03 Sangatta Utara, misalnya, siswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi rendah sering kali tidak memiliki akses memadai terhadap buku pelajaran tambahan, les privat, atau teknologi pendukung, sehingga secara tidak langsung memperlebar kesenjangan prestasi belajar dibandingkan dengan teman sebaya yang lebih beruntung (Bourdieu, 2. Dinamika interaksi sosial di dalam lingkungan sekolah tidak selalu berlangsung secara harmonis dan konstruktif. Berbagai bentuk konflik antarpeserta didik, kurangnya sensitivitas guru terhadap latar belakang emosional dan sosial siswa, serta munculnya stereotip negatif berdasarkan asal daerah, status ekonomi, atau bahkan penampilan fisik, sering menjadi pemicu utama ketegangan di kelas. Penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial yang tidak sehat seperti ini tidak hanya menurunkan motivasi belajar siswa, tetapi juga meningkatkan risiko perilaku menyimpang seperti bolos sekolah, kenakalan remaja, hingga angka putus sekolah yang lebih tinggi di kalangan siswa yang merasa terpinggirkan (Durkheim, 2. Ketimpangan dalam sistem pendidikan, khususnya di tingkat sekolah dasar, sering kali terlihat secara nyata melalui distribusi sumber daya belajar yang tidak merata antarkelas atau antarsiswa. Di SDN 03 Sangatta Utara, misalnya, ketersediaan fasilitas pendukung seperti buku teks, alat peraga pembelajaran, laboratorium sederhana, hingga akses internet masih sangat terbatas dan tidak merata, terutama bagi siswa di kelas-kelas dengan jumlah murid yang lebih banyak atau di ruang kelas yang kurang representatif. Kondisi ini menciptakan disparitas hasil belajar yang signifikan, di mana sebagian siswa dapat berkembang optimal sementara yang lain tertinggal jauh di belakang, sehingga memperkuat siklus ketimpangan pendidikan sejak usia dini (Wibowo, 2. Peran strategis guru dalam membentuk karakter peserta didik melalui pendekatan sosiologi pendidikan menjadi sangat krusial dalam mengatasi berbagai tantangan sosial di sekolah. Guru yang mampu menerapkan strategi pengajaran yang sensitif terhadap keragaman konteks sosial, budaya, dan ekonomi siswa dapat mengurangi prasangka, membangun rasa solidaritas di antara peserta didik, serta menciptakan iklim kelas yang kondusif bagi pertumbuhan pribadi. Sayangnya, masih banyak guru di SDN 03 Sangatta Utara yang cenderung menggunakan metode pengajaran konvensional yang bersifat satu arah dan kurang responsif terhadap kebutuhan individual serta keragaman latar belakang siswa, sehingga potensi pendidikan sebagai alat pemberdayaan sosial belum termanfaatkan secara maksimal (Andiani et al. , 2. Proses pembentukan karakter peserta didik tidak dapat dipisahkan dari kualitas interaksi sosial yang terjadi sehari-hari di lingkungan sekolah, baik di dalam AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 03. Nomor 01. Tahun 2026. E-ISSN: 3048-2038 kelas maupun di luar kelas. Di SDN 03 Sangatta Utara, berbagai perilaku menyimpang seperti sering bolos sekolah, merokok di lingkungan sekolah, atau terlibat dalam pacaran dini di kalangan siswa sekolah dasar sering kali mencerminkan kegagalan sekolah dalam membangun lingkungan yang kondusif bagi penanaman nilai-nilai positif dan pengembangan disiplin diri. Dalam hal ini, pendidikan agama Islam dan layanan bimbingan konseling menjadi instrumen penting yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi akar masalah, memberikan dukungan emosional, serta membimbing siswa kembali ke jalur perkembangan yang sehat (Ani Marlia et al. , 2. Kurikulum yang diterapkan di sekolah dasar harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menjawab tantangan-tantangan sosiologis yang muncul di era kontemporer, termasuk di antaranya adalah globalisasi, digitalisasi, dan perubahan nilai sosial. Studi analisis kurikulum di tingkat taman kanak-kanak menunjukkan bahwa pendekatan berbasis penguatan interaksi sosial dan pengembangan emosi sejak usia dini dapat menjadi fondasi yang sangat kuat bagi pembentukan karakter dan kemampuan sosial siswa ketika memasuki jenjang sekolah dasar. Namun, di SDN 03 Sangatta Utara, kurikulum yang ada masih cenderung berorientasi pada pencapaian target akademik semata, dengan penekanan yang minim pada pengembangan aspek sosial-emosional, empati, dan keterampilan kolaborasi antarpeserta didik (Agnes Puspita Sari et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam berbagai masalah sosiologi pendidikan yang terjadi di SDN 03 Sangatta Utara, dengan fokus utama pada dinamika interaksi sosial di antara seluruh aktor pendidikan serta fenomena ketimpangan akses dan hasil belajar yang masih terus berlangsung. Dengan menggunakan kerangka teori sosiologi pendidikan sebagai lensa analisis, diharapkan dapat diidentifikasi akar permasalahan yang bersifat struktural maupun kultural, sehingga dapat dirumuskan rekomendasi solusi yang bersifat kontekstual, berkelanjutan, dan benar-benar mampu meningkatkan kualitas pendidikan dasar di daerah tersebut, baik dari segi pemerataan akses maupun penguatan iklim sosial yang mendukung pertumbuhan holistik setiap anak didik. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif yang berlandaskan teori sosiologi pendidikan. Kerangka teori utama mengadopsi konsep reproduksi sosial dari Pierre Bourdieu . untuk menganalisis bagaimana modal budaya, ekonomi, dan sosial memengaruhi ketimpangan akses pendidikan. teori integrasi sosial Emile Durkheim . untuk memahami dinamika interaksi dan solidaritas di sekolah. serta perspektif fungsionalisme Talcott Parsons . dalam melihat peran sekolah sebagai agen Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali makna di balik fenomena sosial melalui pengamatan partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen sekolah, sehingga menghasilkan pemahaman kontekstual tentang masalah interaksi sosial dan ketimpangan pendidikan di SDN 03 Sangatta Utara (Putra & Sari, 2022. Nugraha, 2. Langkah-langkah penelitian dilaksanakan secara bertahap: . observasi awal selama dua minggu untuk memetakan pola interaksi siswa-guru dan distribusi sumber daya. wawancara semi-terstruktur dengan 12 informan kunci . epala sekolah, 5 guru, 4 siswa, dan 2 orang tu. guna menggali persepsi tentang ketimpangan dan konflik sosial. focus group discussion (FGD) dengan 8 siswa kelas VAeVI untuk mengeksplorasi pengalaman interaksi sehari-hari. analisis dokumen . bsensi, laporan prestasi, dan catatan bimbingan konselin. triangulasi data melalui perbandingan temuan observasi, wawancara, dan dokumen. Analisis data dilakukan secara tematik dengan pendekatan constant comparative Copyright A 2026 Junita Maharani, et al. (Masalah-Masalah Sosiologi Pendidikan Di SDN 03 Sangatta Utara: Analisis Interaksi Sosial dan . Junita Maharani, et al. method hingga mencapai saturasi, diikuti penyusunan narasi interpretatif yang didukung kutipan informan (Metodologi et al. , 2019. Soekanto, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk Interaksi Sosial yang Terjadi antara Guru. Siswa, dan Warga Sekolah di SDN 03 Sangatta Utara Interaksi sosial di lingkungan sekolah dasar bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan proses kompleks yang membentuk identitas, nilai, dan hubungan antarindividu dalam satu ekosistem pendidikan. Di SDN 03 Sangatta Utara, interaksi ini melibatkan tiga aktor utama: guru sebagai pengampu otoritas pedagogis, siswa sebagai subjek pembelajaran yang aktif, serta warga sekolah lain seperti orang tua, staf tata usaha, dan petugas kebersihan yang turut membentuk iklim sosial sekolah. Bentuk interaksi mencakup pola asosiatif seperti kerjasama dalam kegiatan ekstrakurikuler, kolaborasi kelompok belajar, dan komunikasi rutin dalam rapat wali murid, serta pola disosiatif seperti persaingan antarsiswa, konflik kecil di lapangan, hingga resistensi siswa terhadap aturan sekolah. Dinamika ini tidak hanya memengaruhi proses belajar-mengajar, tetapi juga pembentukan karakter, rasa memiliki terhadap sekolah, dan kemampuan beradaptasi sosial siswa di masa depan (Macionis & Plummer, 2018. Soekanto, 2. Hasil observasi selama dua minggu di SDN 03 Sangatta Utara menunjukkan bahwa interaksi guru-siswa masih didominasi pola komunikasi vertikal dan otoriter, di mana guru lebih sering menggunakan pendekatan direktif seperti perintah langsung, teguran keras, dan penugasan tanpa ruang diskusi mendalam. Di kelas, guru cenderung berdiri di depan papan tulis sementara siswa duduk pasif dalam barisan rapi, jarang ada sesi tanya jawab dua arah. Antarsiswa, terbentuk kelompokkelompok kecil berdasarkan kedekatan tempat tinggal atau kesamaan hobi, misalnya kelompok anak nelayan yang sering bermain bersama di pojok lapangan. Interaksi dengan orang tua terbatas pada rapat semesteran atau saat pengambilan raport, tanpa forum komunikasi rutin. Wawancara dengan Bu Siti, guru kelas IV yang telah mengajar 12 tahun, mengungkapkan: AuSaya tahu anak-anak lebih nyaman jika suasana kelas santai dan boleh bertanya bebas, tapi dengan 35 siswa per kelas dan target kurikulum yang ketat, saya terpaksa harus tegas agar materi tersampaikan tepat waktu. Kalau terlalu longgar, malah banyak yang mengobrol sendiriAy (Wawancara, 15 Oktober 2. Pola interaksi otoriter yang ditemukan di lapangan selaras dengan teori integrasi sosial Emile Durkheim . , yang menyatakan bahwa solidaritas organik di sekolah hanya tercipta jika ada ikatan emosional dan saling pengertian Kurangnya interaksi horizontal baik antara guru-siswa maupun antarsiswa mencerminkan lemahnya solidaritas, berpotensi menciptakan kondisi anomi atau keterputusan norma, di mana siswa merasa tidak terikat dengan nilai Hal ini juga sesuai dengan pandangan Parsons . bahwa sekolah sebagai agen sosialisasi sekunder harus menciptakan pola interaksi yang mendukung internalisasi nilai, bukan hanya transmisi pengetahuan. Dari sudut pandang sosiologi pendidikan, bentuk interaksi di SDN 03 Sangatta Utara masih bersifat fungsional dan hierarkis, lebih mengutamakan efisiensi pengajaran daripada pengembangan hubungan manusiawi. Pendekatan ini memang efektif dalam menjaga disiplin kelas, namun berisiko menekan kreativitas, inisiatif, dan rasa percaya diri siswa. Transformasi menuju interaksi dialogisAidi mana guru berperan sebagai fasilitator, bukan penguasaAidiperlukan untuk membangun ruang aman bagi ekspresi siswa. Selain itu, penguatan interaksi antarsiswa melalui proyek kolaboratif lintas kelompok dapat memutus rantai eksklusivitas sosial dan memperluas jaringan pertemanan (Andiani et al. , 2. Wawancara mendalam dengan Andi, siswa kelas V yang duduk di baris belakang, memberikan gambaran nyata dampak interaksi: AuSaya takut bertanya AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 03. Nomor 01. Tahun 2026. E-ISSN: 3048-2038 kalau Bu Guru lagi marah atau buru-buru. Tapi kalau ada teman sebelah yang sudah paham dan jelasin pelan-pelan, saya jadi ngerti. Kadang saya cuma diam kalau nggak ngerti, takut diketawain temenAy (Wawancara, 16 Oktober 2. Pernyataan ini menegaskan bahwa interaksi peer-to-peer memiliki potensi besar sebagai penyangga ketika interaksi guru-siswa terhambat, namun memerlukan bimbingan agar tidak menjadi ajang bullying atau penyebaran informasi salah. Studi Irwan . di TK Melati menunjukkan bahwa penggunaan sastra tradisional dalam pembelajaran meningkatkan kemampuan sosial-emosional anak kelompok A hingga 35% karena mendorong interaksi kolaboratif dan empati. Temuan ini menguatkan bahwa interaksi positif sejak usia dini termasuk di jenjang SD menjadi fondasi karakter yang kuat. Sebaliknya, pendekatan otoriter justru menurunkan motivasi intrinsik siswa, sebagaimana ditemukan dalam penelitian Maksum . di sekolah-sekolah berbasis proyek IDB. Analisis penulis menyimpulkan bahwa interaksi sosial di SDN 03 Sangatta Utara bersifat reproduktif, artinya cenderung mempertahankan pola otoritas tradisional tanpa ruang ekspresi siswa yang memadai. Hal ini berpotensi menghambat perkembangan kognitif, emosional, dan sosial siswa, terutama bagi mereka yang berasal dari latar belakang kurang mendukung. Jika tidak diubah, pola ini akan terus menciptakan siklus keterpinggiran di dalam kelas. Pendekatan sosiologi kritis Bourdieu . menegaskan bahwa interaksi yang tidak merata juga mereproduksi ketimpangan kekuasaan di luar sekolah. Temuan utama penelitian ini mengidentifikasi tiga bentuk interaksi sosial dominan di SDN 03 Sangatta Utara: . interaksi vertikal otoriter antara guru dan siswa yang mendominasi 70% waktu kelas. interaksi horizontal antarsiswa berbasis kelompok kecil yang eksklusif, hanya melibatkan 3Ae5 orang per kelompok. interaksi formal terbatas dengan orang tua yang hanya terjadi 2Ae3 kali per Ketiga pola ini mencerminkan solidaritas mekanik yang rapuh dan perlu ditingkatkan melalui kegiatan kolaboratif lintas kelas, pelatihan komunikasi guru, dan forum orang tua rutin untuk membangun solidaritas organik yang lebih kuat. Faktor-Faktor Sosial yang Memengaruhi Ketimpangan Pendidikan di SDN 03 Sangatta Utara Ketimpangan dalam ranah pendidikan dasar bukanlah hal yang muncul secara tiba-tiba atau terisolasi, melainkan merupakan pantulan nyata dari konfigurasi struktur sosial masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Di SDN 03 Sangatta Utara, fenomena ini tampak jelas melalui kesenjangan yang mencolok dalam capaian akademik siswa, tingkat keaktifan partisipasi di kelas, serta kemudahan akses terhadap berbagai sumber daya pendukung pembelajaran. Beragam faktor sosial turut berperan signifikan, mulai dari tingkat status ekonomi rumah tangga keluarga siswa, jenis pekerjaan orang tua yang menentukan jam kerja dan ketersediaan waktu pendampingan, ketersediaan akses terhadap teknologi informasi seperti gadget atau internet untuk belajar daring, norma-norma budaya lokal yang masih cenderung memprioritaskan pendidikan anak laki-laki dibandingkan perempuan dalam alokasi sumber daya keluarga, hingga letak geografis tempat tinggal yang memengaruhi kemudahan transportasi ke sekolahAimisalnya jarak jauh bagi siswa dari perkampungan nelayan. Dampak dari ketimpangan ini tidak terbatas pada angkaangka nilai ujian semata, melainkan merembet ke aspek psikologis seperti penurunan rasa percaya diri siswa, hilangnya motivasi intrinsik untuk belajar, hingga pembatasan peluang masa depan dalam hal akses pendidikan lanjutan atau lapangan kerja yang lebih baik (Wibowo, 2018. Suparlan, 2017. Suryadi, 2. Hasil pengamatan langsung di lapangan selama periode penelitian menunjukkan data yang cukup mencengangkan: sekitar 60% dari total siswa yang berasal dari keluarga dengan penghasilan di bawah Upah Minimum Kabupaten Copyright A 2026 Junita Maharani, et al. (Masalah-Masalah Sosiologi Pendidikan Di SDN 03 Sangatta Utara: Analisis Interaksi Sosial dan . Junita Maharani, et al. (UMK) setempat sama sekali tidak memiliki paket buku pelajaran yang lengkap dan sesuai kurikulum, sehingga mereka terpaksa bergantung pada fotokopi berkualitas rendah yang sering buram atau pinjaman buku dari teman sebaya yang kadang tidak tepat waktu. Dari segi distribusi sarana prasarana, alat peraga modern seperti papan tulis interaktif . dan proyektor multimedia hanya tersedia dan berfungsi optimal di tiga ruang kelas yang dikategorikan sebagai Aukelas unggulanAy, sementara tiga ruang kelas reguler lainnya masih mengandalkan papan tulis konvensional berbahan kayu yang sudah usang, berlubang, dan sulit dibersihkan. Wawancara eksklusif dengan kepala sekolah. Bapak Rahman, yang telah memimpin institusi ini selama delapan tahun, mengungkapkan dilema internal: AuKami memang sengaja memprioritaskan kelas unggulan karena merekalah yang akan mewakili sekolah dalam berbagai lomba tingkat kabupaten maupun olimpiade sains. Namun, saya sangat sadar bahwa kebijakan ini secara tidak langsung membuat siswa di kelas reguler merasa tertinggal jauh, apalagi guru-guru dengan kompetensi dan pengalaman terbaik juga kami tempatkan di kelas unggulan tersebut untuk memaksimalkan peluang kemenanganAy (Wawancara, 17 Oktober 2. Temuan empirik di lapangan tersebut menunjukkan korelasi yang kuat dengan konsep teoritis modal budaya . ultural capita. dan habitus yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu . , di mana siswa yang berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi rendah pada dasarnya tidak dilengkapi dengan AuperangkatAy sosial, budaya, maupun simbolik yang diperlukan untuk dapat bersaing secara setara dalam arena pendidikan formal. Ketimpangan dalam hal penyediaan sumber daya fisik seperti buku dan alat peraga, ditambah dengan praktik alokasi guru berkualitas tinggi secara selektif hanya pada kelompok tertentu, secara nyata memperkuat mekanisme reproduksi ketidakadilan sosial di dalam institusi sekolah. Alih-alih berfungsi sebagai alat pemerataan kesempatan, sekolah justru bertransformasi menjadi instrumen stratifikasi sosial yang mempertahankan dan bahkan memperlebar jurang antara kelompok privilage dan kelompok marjinal (Bourdieu. Maksum, 2. Pembahasan mendalam mengenai isu ini menegaskan bahwa ketimpangan pendidikan yang terjadi di SDN 03 Sangatta Utara bukanlah semata-mata akibat dari keterbatasan faktor ekonomi individu, melainkan juga merupakan produk dari dimensi struktural institusional serta kultural masyarakat setempat yang saling tumpang tindih. Sekolah, secara tidak disadari, telah menerapkan kebijakan yang berorientasi pada Auefisiensi prestasiAy jangka pendekAiseperti fokus pada kelas unggulan untuk meraih penghargaanAiyang pada akhirnya mengorbankan prinsip pemerataan akses dan kesempatan belajar bagi seluruh siswa. Selain itu, norma budaya lokal yang masih kuat memandang anak-anak dari keluarga pekerja tambang sebagai kelompok yang Aulebih berpotensiAy karena orang tua mereka memiliki kemampuan finansial untuk membiayai les privat, bimbingan belajar tambahan, atau bahkan perangkat teknologi pendukung, turut memperlebar jurang ketimpangan tersebut. Oleh karena itu, intervensi yang diperlukan harus bersifat holistik dan multidimensional: meliputi redistribusi sumber daya secara adil antarkelas, program pelatihan intensif bagi guru di kelas reguler agar kualitas pengajaran merata, serta pengembangan skema beasiswa internal atau donasi buku dari pihak swasta dan pemerintah daerah untuk menutup celah akses (Suryadi. Wibowo, 2. Wawancara mendalam dengan Ibu Sari, seorang ibu rumah tangga sekaligus istri nelayan yang memiliki anak bernama Dika di kelas i, memberikan ilustrasi yang sangat hidup tentang bagaimana ketimpangan akses di sekolah berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari di rumah: AuAnak saya hampir setiap hari pulang dari sekolah tanpa membawa tugas rumah (PR) karena buku pinjaman yang tersedia di kelas sudah habis diambil oleh teman-teman lain yang lebih cepat. rumah, saya dan suami hanya nelayan biasa yang pagi sampai sore di laut, jadi sama AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 03. Nomor 01. Tahun 2026. E-ISSN: 3048-2038 sekali tidak ada yang bisa membantu mengajari Dika membaca atau mengerjakan soal matematika. Kalau ada les tambahan di luar sekolah, biayanya jelas tidak sanggup kami tanggung, padahal saya tahu itu penting untuk masa depannyaAy (Wawancara, 18 Oktober 2. Pernyataan ini tidak hanya menggambarkan rantai ketimpangan yang berkelanjutan dari sekolah ke rumah, tetapi juga menyoroti absennya dukungan eksternal yang dapat menjadi penyangga bagi keluarga kurang Penelitian komparatif yang dilakukan Suryadi . di sejumlah sekolah dasar perkotaan pulau Jawa menunjukkan pola yang hampir identik: anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah memiliki risiko tiga kali lebih besar untuk putus sekolah dibandingkan teman sebaya mereka, terutama karena kombinasi fatal antara kurangnya dukungan belajar di rumah dan minimnya fasilitas pendukung di Temuan serupa juga diperkuat oleh studi kasus di SDN 10 Rantau Alai yang dilakukan Lolita Nurli Febiola dan Rani Kurnia Vlora . , di mana implementasi strategi literasi informasi berbasis akses buku merata berhasil meningkatkan minat baca siswa dari kelompok tertinggal hingga 28% dalam kurun waktu satu semester. Data-data ini tidak hanya membandingkan, tetapi juga menguatkan bahwa ketimpangan akses sumber daya belajar merupakan variabel kunci yang dapat diintervensi untuk mengurangi disparitas prestasi. Analisis mendalam dari penulis menyimpulkan bahwa faktor-faktor sosial yang beroperasi di SDN 03 Sangatta Utara pada hakikatnya membentuk sebuah siklus vicious yang saling menguatkan: mulai dari kemiskinan ekonomi rumah tangga yang membatasi akses terhadap buku dan teknologi, kemudian berlanjut ke keterbatasan sumber daya di sekolah yang memperburuk prestasi belajar, selanjutnya menciptakan stigma sosial bahwa siswa tersebut Autidak berpotensiAy, dan akhirnya kembali memperkuat kemiskinan generasi berikutnya melalui terbatasnya peluang pendidikan lanjutan. Sekolah, sebagai simpul sentral dalam sistem pendidikan, memegang peran kunci baik sebagai pemutus maupun penerus siklus ini. Tanpa adanya intervensi struktural yang tegasAiseperti kebijakan rotasi guru berkualitas secara berkala antarkelas, pengadaan perpustakaan keliling berbasis komunitas, atau program remedial intensif bagi siswa tertinggalAimaka ketimpangan akan terus bereproduksi secara sistematis dari tahun ke tahun, sebagaimana dijelaskan dalam kerangka teori reproduksi sosial Bourdieu . Temuan utama dari penelitian ini berhasil mengidentifikasi dan memetakan empat faktor sosial utama yang menjadi pemicu ketimpangan pendidikan di SDN 03 Sangatta Utara: . disparitas ekonomi keluarga, di mana sekitar 60% siswa berasal dari rumah tangga berpenghasilan rendah yang tidak mampu menyediakan buku pelajaran lengkap. distribusi fasilitas pembelajaran yang tidak merata, dengan hanya 50% ruang kelas yang memiliki akses terhadap alat peraga modern sementara sisanya masih bergantung pada infrastruktur usang. norma budaya lokal yang memprioritaskan anak AuberpotensiAy, terutama berdasarkan latar belakang pekerjaan orang tua seperti pekerja tambang yang dianggap lebih mampu mendukung pendidikan anak. ketiadaan program remedial terstruktur bagi siswa yang tertinggal secara akademik maupun sosial. Keempat faktor ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan dalam sebuah jaringan kausal yang kompleks, sehingga menciptakan jurang prestasi rata-rata mencapai 25 poin . ari skala . antara kelompok siswa dengan performa terendah dan tertinggi di setiap mata pelajaran inti. Upaya Sekolah dalam Mengatasi Ketimpangan Pendidikan dan Membangun Interaksi Sosial yang Harmonis di SDN 03 Sangatta Utara Langkah-langkah yang diambil oleh institusi sekolah untuk menanggulangi ketimpangan pendidikan sekaligus membangun harmoni dalam interaksi sosial meliputi spektrum program yang luas dan terintegrasi, mulai dari kegiatan Copyright A 2026 Junita Maharani, et al. (Masalah-Masalah Sosiologi Pendidikan Di SDN 03 Sangatta Utara: Analisis Interaksi Sosial dan . Junita Maharani, et al. ekstrakurikuler yang dirancang secara inklusif agar melibatkan seluruh lapisan siswa, penyediaan layanan bimbingan konseling yang rutin dan terstruktur, implementasi pendidikan karakter dengan landasan nilai-nilai agama yang kuat, hingga upaya aktif untuk melibatkan orang tua siswa dalam proses pengambilan keputusan strategis sekolah seperti perencanaan kurikulum atau evaluasi program. Khusus di SDN 03 Sangatta Utara, pihak sekolah telah memulai inisiatif-inisiatif konkret seperti pembentukan kelompok belajar campuran yang menggabungkan siswa dari berbagai tingkat prestasi, penyelenggaraan sesi konseling secara berkala, serta pengembangan kegiatan seni dan budaya lokal yang bertujuan memperkaya pengalaman sosial siswa. Namun, semua upaya ini masih menghadapi hambatan signifikan berupa keterbatasan sumber daya manusia seperti jumlah guru yang memadai, keterbatasan anggaran operasional, serta rendahnya tingkat partisipasi dari komunitas sekitar termasuk orang tua dan warga desa. Tujuan utama dari seluruh rangkaian upaya ini adalah untuk menciptakan sebuah ekosistem belajar yang benar-benar adil, merata, dan kondusif bagi perkembangan holistik setiap siswa, tanpa terkecuali latar belakang sosial-ekonominya (Amanah Fatiha et al. Fatimatuzzahra et al. , 2023. Santika Virdi et al. , 2. Pengamatan langsung di lapangan menunjukkan bahwa SDN 03 Sangatta Utara secara rutin menyelenggarakan program bernama AuKelas InklusiAy yang dijadwalkan setiap Sabtu pagi mulai pukul 07. 00 hingga 10. 00 WITA, di mana siswa dengan prestasi tinggi secara eksplisit dipasangkan dengan siswa yang berprestasi rendah dalam proyek-proyek kelompok kreatif seperti pembuatan poster edukasi tentang pelestarian lingkungan pantai, penyusunan drama pendek bertema persahabatan lintas budaya, atau konstruksi model sederhana dari bahan daur Meskipun konsepnya menjanjikan, tingkat partisipasi aktual hanya mencapai sekitar 40% dari total siswa yang terdaftar, terutama karena siswa dari keluarga nelayan sering kali terpaksa membantu orang tua melaut atau menjual hasil tangkapan di pasar pagi hari. Selain itu, layanan bimbingan konseling yang diadakan setiap Rabu sore hanya dihadiri oleh 10 hingga 15 siswa per sesi, padahal jumlah siswa yang teridentifikasi bermasalah mencapai 25 orang. Wawancara mendalam dengan Bu Lina, guru bimbingan konseling yang telah bertugas selama lima tahun, mengungkapkan tantangan utama: AuKami berusaha keras mengadakan konseling kelompok khusus untuk anak-anak yang sering bolos sekolah, terlibat perkelahian kecil, atau menunjukkan gejala stres, tetapi partisipasi orang tua sangat Padahal, dari pengalaman saya, akar masalah seperti kurangnya perhatian di rumah atau tekanan ekonomi keluarga sering menjadi pemicu utama, dan tanpa keterlibatan orang tua, solusi yang kami berikan hanya bersifat sementaraAy (Wawancara, 19 Oktober 2. Inisiatif-inisiatif yang sedang dijalankan oleh SDN 03 Sangatta Utara menunjukkan keselarasan yang kuat dengan model pendidikan karakter yang dikembangkan oleh Fatimatuzzahra et al. , yang secara eksplisit menekankan pentingnya proses internalisasi nilai-nilai positif melalui mekanisme interaksi kelompok yang terstruktur dan melibatkan peran aktif orang tua sebagai mitra Namun, rendahnya tingkat partisipasi yang diamati di lapangan baik dari siswa maupun orang tua mencerminkan kelemahan dalam pembentukan dukungan komunitas yang solid, sebagaimana dijelaskan dalam teori solidaritas sosial Emile Durkheim . bahwa terciptanya solidaritas organik yang kokoh hanya mungkin terjadi jika semua elemen masyarakat, termasuk keluarga dan institusi pendidikan, terlibat secara aktif, saling melengkapi, dan berkomitmen bersama dalam satu tujuan kolektif. Pembahasan mendalam mengenai upaya-upaya yang telah dilakukan SDN 03 Sangatta Utara ini menyoroti fakta bahwa meskipun program-program seperti Kelas Inklusi memiliki potensi besar untuk mengurangi ketimpangan dan memperkuat ikatan sosial, implementasinya masih bersifat parsial, sporadis, dan belum AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 03. Nomor 01. Tahun 2026. E-ISSN: 3048-2038 terintegrasi secara menyeluruh dengan kurikulum harian yang berlaku di kelas Program inklusi memang mampu menciptakan momen-momen interaksi positif, tetapi tanpa penyesuaian jadwal yang lebih fleksibelAimisalnya menggeser ke sore hari atau hari libur lainAiserta tanpa mekanisme komunikasi yang intensif dan berkelanjutan dengan orang tua melalui berbagai saluran seperti grup WhatsApp khusus wali murid atau kunjungan rumah rutin, dampak jangka panjangnya akan tetap terbatas dan tidak berkelanjutan. Pendekatan sosiologi pendidikan yang holistik menyarankan penguatan peran orang tua sebagai mitra strategis yang setara, contohnya melalui penyelenggaraan kelas parenting bulanan yang membahas teknik pendampingan belajar di rumah, atau pembentukan forum wali murid digital berbasis aplikasi untuk memantau perkembangan anak secara realtime (Andiani et al. , 2024. Ani Marlia et al. , 2. Wawancara eksklusif dengan Rina, seorang siswa kelas VI yang pada awal semester dikenal sebagai anak yang sangat pendiam dan jarang berpartisipasi aktif di kelas reguler, memberikan bukti nyata tentang efektivitas interaksi terarah dalam kelompok kecil: AuDulu saya benar-benar takut kalau disuruh jawab pertanyaan di depan kelas, apalagi kalau Bu Guru tanya tiba-tiba. Tapi sejak ikut Kelas Inklusi, saya dipasangkan dengan kakak kelas yang sabar banget ngajarin saya cara membuat poster. Dia nggak marah kalau saya salah, malah bilang Aocoba lagi, pasti bisaAo. Sekarang saya berani angkat tangan di kelas biasa, meski kadang jawaban saya masih salah, tapi setidaknya saya sudah nggak takut lagiAy (Wawancara, 20 Oktober 2. Pengakuan pribadi ini tidak hanya menunjukkan peningkatan kepercayaan diri yang signifikan pada siswa yang sebelumnya tertinggal, tetapi juga menggarisbawahi potensi besar dari interaksi peer-to-peer yang terstruktur sebagai katalisator perubahan positif. Studi empiris yang dilakukan Ani Marlia et al. di SMP Tri Budi Mulia Palembang memberikan bukti kuat bahwa kombinasi terintegrasi antara layanan bimbingan konseling profesional dan pendidikan agama Islam yang kontekstual berhasil menurunkan angka bolos sekolah sebesar 40% dan kasus kenakalan remaja sebesar 30% hanya dalam satu semester akademik, dengan catatan kunci bahwa keberhasilan tersebut sangat bergantung pada keterlibatan aktif orang tua dalam sesi konseling keluarga yang dijadwalkan secara rutin. Temuan ini tidak hanya relevan, tetapi juga dapat diadaptasi ke jenjang sekolah dasar seperti SDN 03 Sangatta Utara, di mana intervensi dini pada usia anak-anak memiliki efek pencegahan yang jauh lebih kuat dan berkelanjutan terhadap masalah-masalah sosial yang berpotensi berkembang di masa remaja (Ani Marlia et al. , 2023. Saifullah Idris, 2. Analisis komprehensif dari penulis menyimpulkan bahwa meskipun upayaupaya yang dilakukan oleh SDN 03 Sangatta Utara memiliki potensi transformasional yang sangat besar dalam mengatasi ketimpangan dan membangun harmoni sosial, keberhasilannya masih terkendala oleh kurangnya koordinasi lintas pihak yang sistematis dan berkelanjutan. Harmoni sosial yang sejati serta pemerataan akses pendidikan tidak akan pernah tercapai jika seluruh beban hanya ditanggung oleh inisiatif sekolah semata. Diperlukan komitmen bersama yang solid: guru harus berperan sebagai fasilitator yang empati dan terlatih, orang tua harus menjadi pendukung aktif yang terlibat dalam setiap tahap, dan siswa sendiri harus diposisikan sebagai pelaku utama yang memiliki rasa kepemilikan terhadap proses belajar mereka. Tanpa adanya sinergi tiga pilar ini, semua upaya akan tetap bersifat sporadis, tidak berkelanjutan, dan pada akhirnya gagal mencapai dampak sistemik yang diharapkan (Saifullah Idris, 2017. Amanah Fatiha et al. , 2. Temuan utama penelitian ini berhasil merangkum dan mengklasifikasikan tiga upaya strategis utama yang telah diimplementasikan oleh SDN 03 Sangatta Utara: program AuKelas InklusiAy yang terbukti meningkatkan tingkat solidaritas antarsiswa hingga 25% berdasarkan observasi perilaku sebelum dan sesudah Copyright A 2026 Junita Maharani, et al. (Masalah-Masalah Sosiologi Pendidikan Di SDN 03 Sangatta Utara: Analisis Interaksi Sosial dan . Junita Maharani, et al. program, diukur melalui indikator seperti frekuensi kerjasama kelompok dan penurunan konflik kecil. layanan bimbingan konseling mingguan yang meskipun hanya menjangkau sekitar 15% dari total siswa yang teridentifikasi bermasalah, telah berhasil mengurangi kasus bolos sebanyak 20% di kalangan peserta. kegiatan ekstrakurikuler seni budaya seperti tari tradisional dan musik bambu yang melibatkan hingga 60% siswa aktif dan menjadi media ekspresi lintas kelompok Meskipun ketiga upaya ini telah menciptakan titik-titik terang yang signifikan dalam iklim sekolah, cakupan dan kedalaman dampaknya masih terbatas karena kendala partisipasi. Rekomendasi konkret yang diajukan meliputi: perluasan jadwal program agar lebih fleksibel, peningkatan keterlibatan orang tua melalui mekanisme komunikasi digital dan kunjungan rumah, serta integrasi nilai-nilai harmoni sosial dan pemerataan akses secara eksplisit ke dalam kurikulum harian semua mata SIMPULAN Penelitian ini mengungkap bahwa interaksi sosial di SDN 03 Sangatta Utara masih didominasi pola otoriter vertikal antara guru dan siswa, dengan kelompok horizontal antarsiswa yang eksklusif serta komunikasi formal terbatas dengan orang tua, sehingga solidaritas sekolah rapuh dan menghambat pembentukan karakter Ketimpangan pendidikan dipicu oleh empat faktor sosial utama: disparitas ekonomi keluarga, distribusi fasilitas tidak merata, norma budaya yang memprioritaskan anak berpotensi, serta absennya program remedial terstruktur, yang menciptakan siklus vicious prestasi rendah dan stigma marjinal. Upaya sekolah melalui Kelas Inklusi, bimbingan konseling, dan ekstrakurikuler seni budaya menunjukkan potensi positif, tetapi cakupan terbatas akibat rendahnya partisipasi siswa dan orang tua serta kurangnya integrasi dengan kurikulum harian. Secara keseluruhan, transformasi menuju pendidikan merata memerlukan sinergi holistik: guru sebagai fasilitator dialogis, orang tua sebagai mitra aktif, dan siswa sebagai pelaku utama, agar sekolah menjadi agen pemerataan sosial bukan reproduksi Untuk mewujudkan harmoni dan keadilan pendidikan. SDN 03 Sangatta Utara harus memperluas jadwal program inklusi, memperkuat komunikasi digital dengan orang tua, merotasi guru berkualitas, serta menyediakan buku keliling dan remedial intensif, sehingga setiap anak tanpa terkecuali latar belakang mendapat kesempatan berkembang optimal dalam lingkungan belajar yang suportif dan berkeadilan. DAFTAR PUSTAKA