Penerapan Toilet Training Untuk Membangun Kemandirian Anak Usia Dini Di KB Permata Hatiku Waru Sidoarjo Muhammad Fajrul Islam IAI YPBWI Surabaya fajrulmuhammad85@gmail. ABSTRAK Keberhasilan pembelajaran toilet training sangat penting dalam memberi beragam kebaikan terhadap anak. Dari segi psikologis dapat membantu pembiasaan terkait kebersihan . oilet habit. , yakni memahami pentingnya buang air beserta adabnya secara layak, dan melatih bertanggung jawab dalam memelihara kebersihan diri, sekaligus kesehatan fisik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menerapkan model Miles dan Huberman, yang terdiri dari reduksi data, penyajian data dan penarikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa . penerapan toilet training di KB Permata Hatiku dilakukan dengan beberapa tahap, yang meliputi: perencanaan pengajaran, pelaksanaan, dan evaluasi. langkah guru ketika memberikan pelatihan terhadap anak usia dini saat toilet training di KB Permata Hatiku yaitu dengan membiasakan memberi contoh yang nyata, melaksanakan komunikasi bersama orang tua wali, memberi arahan, pengajaran bagi anak untuk tanggung jawab dan memberi kasih sayang. faktor yang mendukung dan menghambat guru saat memberi pelatihan toilet training terhadap anak usia dini di KB Permata Hatiku yaitu pengetahuan dan kesabaran guru serta dukungan orang tua wali murid kepada semua guru saat memberikan pelatihan toilet training anak usia dini di KB Permata Hatiku, sedangkan faktor yang menghambat guru dalam memberi pelatihan kemandirian anak usia dini ketika toilet training ialah mood dari anak. ABSTRACT he success of toilet training learning is very important in providing various benefits to children. From a psychological perspective, it can help habits related to cleanliness . oilet habit. , namely understanding the importance of defecating and its etiquette properly, and training responsibility in maintaining personal hygiene, as well as physical health. This study uses a qualitative method. The data collection methods used are observation, interviews and documentation. Data analysis applies the Miles and Huberman model, which consists of data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of the study show that . the implementation of toilet training at KB Permata Hatiku is carried out in several stages, which include: teaching planning, implementation, and evaluation. the steps of teachers when providing training to early childhood during toilet training at KB Permata Hatiku are by getting used to giving real examples, carrying out communication with parents, giving directions, teaching children to be responsible and giving affection. The factors that support and hinder teachers when providing toilet training to early childhood children at KB Permata Hatiku are the knowledge and patience of teachers and the support of parents and guardians of students to all teachers when providing toilet training for early childhood children at KB Permata Hatiku, while the factors that hinder teachers in providing independence training for early childhood children when toilet training is the mood of the child. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Menurut UUD no. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini di selenggarakan sebelum jenjang pendidikan sekolah dasar. Pendidikan anak usia dini adalah sebuah lembaga pendidikan yang berfungsi untuk membangun anak dalam melewati setiap perkembangannya, setiap anak memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, melewati berbagai tugas perkembangannya dengan baik untuk melanjutkan perkembangan berikutnya, perlu diingat bahwa masa usia dini merupakan masa keemasan . olden ag. Pada masa anak usia dini 0-4 tahun penting bagi seorang anak untuk dididik, diasuh dan diarahkan karena pada masa itulah perkembangan kecerdasannya dimulai sehingga jika kurang perhatian dari orang tua maka dapat terjadi lambatnya perkembangan kecerdasan. Pada masa balita, yaitu di usia 3 sampai 4 tahun, dimana pada usia ini pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung, dan menjadi pertumbuhan serabutserabut saraf dan cabangnya, sehingga terbentuk jaringan saraf dan otak yang kompleks, dimasa inilah pentingnya bagi orang tua atau guru memberikan stimulasi sedini mungkin agar perkembangan anak bisa tumbuh secara normal. Jika perkembangan anak dapat tumbuh secara normal, ini akan lebih optimal apabila lingkungan sekitar rumah dapat menstimulasi dengan baik. Salah satu Surah dalam Al-QurAoan yang menyebutkan mengenai anak usia dini tercantum dalam Surah Al-Alaq ayat 5. Allah SWT Berfirman: Artinya: AuDia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Ay Kemandirian merupakan suatu keadaan dimana adanya keinginan berkompetisi untuk maju demi kebaikan diri sendiri. Sikap mandiri juga merupakan salah satu perkembangan anak usia dini yang perlu dimiliki anak guna bisa melakukan segalanya sendiri, baik dengan kegiatan diri ataupun kegiatan dalam kesehariannya, tanpa menggantungkan diri pada orang lain namun tetap dengan sedikit bimbingan dari orangtua sesuai dengan tahap perkembangannya serta kapasitasnya. Sikap mandiri anak perlu diterapkan sejak usia dini. Pendidikan anak juga pada dasarnya dimulai dari proses interaksi antara orangtua dengan anak di dalam keluarga. Apa yang dibiasakan di dalam rumah, akan menjadi modal pengetahuan, pemahaman dan kebiasaan pada diri anak. Perkembangan kemandirian mencakup beberapa aspek perkembangan anak yaitu perkembangan sosial dan perkembangan emosi. Pembangunan sosial mengandung arti tercapainya suatu kemampuan berperilaku sesuai dengan harapan sosial yang ada. Sikap mandiri merupakan bagian dari pengembangan potensi anak dalam Pengembangan kemampuan dapat dilakukan melalui pembiasaan, komunikasi, serta pemberian kepercayaan yang diberikan kepada anak, manfaatnya yaitu agar kegiatan tersebut dapat menjadi kebiasaan baik bagi anak, yang akan mereka bawa sampai mereka sudah dewasa. Menanamkan kemandirian pada anak tentunya, membutuhkan proses dan haruslah dilakukan secara bertahap serta disesuaikan dengan tingkat perkembangan hidup anak, dengan tidak memanjakan anak secara berlebihan dan membiarkan anak lebih bertanggung jawab atas perbuatannya, agar anak dapat mencapai tahapan kemandirian sesuai dengan usianya. Kemandirian dalam bertoilet harus mulai diperkenalkan kepada anak sedini Dengan menanamkan kemandirian akan menghindarkan anak dari sifat ketergantungan pada orang lain, dan yang terpenting dalam menumbuhkan keberanian anak dilakukan dengan memberikan motivasi pada anak untuk terus mengetahui pengetahuan- pengetahuan baru melalui pengawasan baik orang tua di rumah maupun guru di sekolah. Ada dua bentuk kemandirian anak yaitu kemandirian secara fisik secara psikologis (Nurfalah. Secara fisik, anak mampu mengurus dirinya sendiri contoh sederhana dalam ber-toilet. BAK. BAB, berwudhu, dan mandi. Dari data diatas menunjukkan beberapa anak dalam menerapkan kemandirian cukup rendah salah satunya penerapan Toilet Training bertoilet training juga perlu diperhatikan karena kemandirian karena kemandirian juga akan mempengaruhi prilaku anak. Toilet training mengajarkan anak untuk tidak lagi menggunakan popok atau diapers, anak bisa mengontrol diri ketika anak mengalami rasa ingin buang air besar atau buang air kecil, sehingga pada usia tertentu diharapkan sudah tidak ada lagi anak yang mengompol dan mampu melakukan Buang air kecil dan Buang air besar di kamar mandi secara mandiri dengan baik. Menurut Wong Ada beberapa kesiapan anak yang perlu diketahui sebelum anak mulai melakukan toilet training baik kesiapan fisiologis maupun kesiapan psikologis Diantaranya adalah: Kesiapan Fisik. Kesiapan Mental. Kesiapan Psikologis. Kesiapan Orangtua. Menurut Warga Terdapat beberapa keuntungan bagi anak yang berhasil melaksanakan toilet training sejak dini yakni sebagai berikut: Anak mempunyai keterampilan mengontrol buang air besar serta buang air kecil . Anak mempunyai keterampilan memakai toilet secara mandiri pada saat ingin BAK ataupun BAB . Toilet training sebagai awal terbentuknya sikap mandiri anak secara nyata karena anak telah mampu melaksanakan sendiri hal-hal seperti BAB ataupun BAK . Toilet training mengarahkan anak untuk mengenali bagian-bagian tubuh dan fungsinya Mengajarkan toilet training pada anak memerlukan beberapa tahapan, seperti membiasakan anak menggunakan toilet untuk buang air besar, hingga membiasakan anak ke toilet. Anak-anak akan lebih cepat beradaptasi. Anak juga perlu dilatih untuk duduk di toilet meski berpakaian lengkap dan menjelaskan kepada anak cara menggunakan toilet. Lakukan hal ini secara rutin pada anak ketika anak terlihat ingin buang air kecil. Berdasarkan hasil observasi awal yang telah dilakukan KB Permata Hatiku merupakan salah satu lembaga pendidikan anak usia dini yang berada di Deltasari Indah. KB Permata Hatiku dari keseluruhan ini diterapkan kurikulum 2013 yang mencakup 6 aspek perkembangan anak, serta menumbuh kembangkan kemandirian anak dari berbagai bidang usia, tentu metode penerapan kurikulum beberapa beda sesuai dengan usia anak, karena setiap usia berada pada tahan perkembangan tertentu, salah satu hal yang menonjol dalam KB Permata Hatiku adalah pengembangan skill anak melalui kemandirian anak dengan salah satunya menerapkan toilet training. Anak yang berusia 3-4 Tahun di KB Permata Hatiku Selain diperkenalkan dan diajarkan tentang menggambar, mengaji, beribadah, berperilaku baik, menyanyi, menari dan lain sebagainya, anak juga mulai diajarkan ber-toilet dengan baik dan benar. Pemberian materi toilet training dilakukan sekitar kurang lebih 10 menit sebelum bel istirahat bebunyi yaitu pada pukul 08. 45 WIB. Dari ketujuh belas anak, masih ada 4 anak yang kesulitan dalam toilet training yaitu RK. HM. RF dan IQBL. Kesulitan yang dialami anak yaitu mengenai cara melepas celana, ketakutan anak ketika masuk ke kamar mandi, ketidak mampuan anak dalam menggunakan gayung untuk menyiram air ke sumber najis ketika BAK. KB Permata Hatiku merupakan salah satu lembaga yang mengembangkan toilet training, dimana toilet training yang dikembangkan merupakan salah satu metode untuk menumbuhkan kemandirian anak usia dini. Namun, para guru yang biasa di panggil AuUstadzahAy tetap mendampingi anak, mana anak yang harus dibantu, mana anak yang harus diberikan contoh dan lain sebagainya. KB Permata Hatiku dalam menerapkan toilet training dilengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai, yaitu dengan adanya kamar mandi yang dipisah antara anak laki-laki dan perempuan. hal ini untuk menambah pemahaman kepada anak untuk mengenali fungsi-fungsi alat seksualnya, perbedaan antara laki-laki dan perempuan, pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan organ intim tentu disesuaikan dengan usia anak dan tahap perkembangannya. Menurut Solihin Selain itu memberikan pengetahuan ataupun pemahaman kepada anak terkait pergaulan yang sehat serta resikoresiko yang akan ditimbulkannya kemudian, menekankan bahwa anak laki-laki ataupun perempuan tidak boleh mendatangi toilet lawan jenisnya. KB Permata Hatiku memiliki pembelajaran toilet training yang berbeda dengan lembaga lain. Jika lembaga lain kegiatan toilet training dianggep hal biasa, namun di KB Permata Hatiku ini dijadikan sebagai suatu pembelajaran, tentang bagaimana cara melakukan toilet training denagn baik dan benar. Jumlah peserta didik di KB Permata Hatiku adalah sebanyak 25 anak yang terbagi dalam dua kelompok usia yaitu 2- 3 tahun dan 3-4 tahun. Semua itu terbagi dalam 2 kelompok ( A dan B ). Tujuan penelitian ini adalah, untuk mengetahui implementasi toilet training untuk mengembangkan kemandirian anak usia 3-4 tahun KB Permata Hatiku. Oleh karena itu Membangun kemandirian anak sejak usia dini sangatlah penting, dimana anak usia dini merupakan pondasi dari seluruh bidang pendidikan. Sehingga, tidak hanya pendidikan kognitif saja yang penting untuk dikembangkan, melainkan ranah afektif juga sangat penting untuk dikembangkan. Hal ini karena dengan mandiri, anak-anak akan menjadi lebih cerdas dan inovatif dalam menyelesaikan setiap masalah dalam Bisa dikatakan bahwa anak-anak yang pada usia 3-4 tahun telah lulus toilet training berada selangkah lebih maju dibanding anak-anak yang belum lulus toilet Toilet training sebagai upaya membangun kemandirian anak yang diterapkan oleh KB Permata Hatiku hampir mencapai keberhasilan yang sempurna, karena 70% dari anak didik KB Permata Hatiku telah mencapai kemandiriannya, ditandai keberhasilan mereka dalam melakukan toilet Training Keberhasilan ini tentu tidak dicapai dengan sangat mudah. KAJIAN PUSTAKA Pengertian Anak Usia Dini Menurut UUD no 23 tahun 2002 dalam pelindungan anak menyatakan bahwa setiap anak berhak hidup tumbuh dan berkembang serta berpartisipasi dengan wajar sesuai harkat dan martabat serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan deskriminasi. Menurut Zulminiati masa anak usia dini adalah fase kehidupan yang berbeda dengan karakteristik yang khas, baik secara psikis, fisik, sosial dan moral, pada saat ini anak menjalani tumbuh kembang secara fleksibel dan berkesinambungan. Dari bangun tidur sampai dia tidur lagi membutuhkan bantuan atau pertolongan dari orang terdekatnya seperti ayah atau ibu. Namun, dengan beranjaknya waktu dan bertambahnya usia maka anak harus mulai diajarkan dan dilatih tentang kemandirian. Kemandirian menjadi bekal untuk ananda agar siap hidup ditengah-tengah masyarakat kedepannya. Hal terpenting dalam melatih kemandirian anak bukanlah bisa atau tidaknya anak dalam melakukan hal tersebut tapi adalah menumbuhkan kepercayaan diri anak bahwa dia mampu untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Kepercayaan diri dapat dilihat ketika anak memiliki keberanian untuk mencoba hal baru dan melakukan sesuatu sendiri tanpa merasa takiut salah. Usia dini atau prasekolah merupakan kesempatan emas bagi anak untuk belajar oleh karena itu kesempatan ini hendaknya dimanfaatkan sebaik- baiknya untuk pembelajaran anak Karena rasa ingin tahu anak usia ini berada pada sesi puncak tidak ada usia sesudahnya menyimpan rasa ingin tahu melebihi usia dini satu hal yang perlu mendapatkan perhatian bahwa orientasi belajar anak usia dini bukan terfokus pada prestasi seperti kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan penguasaan pengetahuan lain yang bersifat akademis tetapi orientasi belajarnya perlu lebih diarahkan pada perkembangan pribadi seperti sikap dan minat belajar serta berbagai potensi dan kemampuan dasarnya. Setiap anak itu unik dan memiliki laju perkembangan yang berbeda, maka kesiapan setiap anak bisa jadi berbeda-beda orang tua bisa melihat kesiapan anak dengan mengamati perilaku dan perkembangan anak. Anak yang sudah muncul fase kemandiriannya biasanya akan timbul perilaku Auaku mau melakukan sendiriAy seperti saat anak menolak untuk disuapi dan sudah mulai mau memegang alat makan sendiri atau saat anak mengatakan aku mau buat susu sendiri. Hal ini bisa menandakan fase kepekaan anak terhadap kemandirian sudah mulai Dalam tahap perkembangan psikososial yang dikemukakan Ericson dinyatakan bahwa usia 1-3 tahun masuk dalam tahap perkembangan otonomi yaitu anak sudah merasa memiliki otonomi untuk melakukan berbagai hal sendiri dan saat usia pra sekolah . -6 tahu. akan muncul rasa inisiatif dalam berbagai hal. Namun jika sejak adanya tanda-tanda tersebut orangtua mengabaikan dan masih melayani kebutuhan anak, maka yang akan muncul adalah sikap ragu-ragu dan takut salah dalam melakukan berbagai hal dikehidupan anak. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kemandirian perlu diajarkan dan dilatihkan sedini mungkin, yaitu semenjak anak balita bayi dua tahun, dimana anak sudah mulai banyak berinteraksi dengan orang lain, tidak hanya dengan orang dekatnya . bu dan aya. tapi juga sudah mulai berinteraksi dengan orang-orang yang baru dikenalnya, disinilah waktu yang tepat untuk bersosialisasi sekaligus melatih dan mengajarkan kemandirian pada anak. Kemandirian Pengertian Kemandirian Kemandirian biasanya disebut dengan otonomi ataupun independen berasal dari kata bahasa inggris Auindependence or autonomyAy yang memiliki makna kemandirian. Mandiri merupakan kemampuan anak untuk melakukan suatu hal tanpa bergantung kepada orang lain, melakukan segala aktivitasnya dengan sendiri. Anak-anak yang mandiri adalah anakanak yang aktif, independen, kreatif, kompeten dan spontan. Kemandirian berasal dari kata mandiri, dalam bahasa Jawa berarti berdiri sendiri. Kemandirian dalam arti psikologis dan mentalis mengandung pengertian keadaan seseorang dalam kehidupannya yang mampu memutuskan atau mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Kemampuan demikian hanya mungkin dimiliki jika seseorang ber kemampuan memikirkan dengan seksama tentang sesuatu yang dikerjakannya atau diputuskannya, baik dalam segi-segi manfaat atau keuntungannya maupun segi-segi negatif dan kerugian yang akan dialaminya. Menurut Ali Kemandirian merupakan aspek penting yang sebaiknya dimiliki setiap anak, karena berfungsi untuk membantu mencapai tujuan hidupnya sehingga akan sukses serta memperoleh penghargaan dan pencapaian yang positif di masa mendatang. Tanpa didukung sifat mandiri, anak akan sulit mencapai sesuatu secara maksimal. Kemandirian merupakan untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap orang lain dalam melakukan kegiatan atau tugas sehari-hari sendiri atau dengan sedikit bimbingan, sesuai dengan tahapan perkembangan dan kapasitasnya Perkembangan kemandirian pada anak merupakan suatu proses yang terarah dan harus sejalan serta berlandaskan pada tujuan hidup manusia. Ciri-ciri kemandirian anak usia dini Menurut Kartono ciri-ciri kemandirian anak pada usia prasekolah yaitu anak dapat makan dan minum sendiri, anak mampu memakai pakaian dan sepatu sendiri, anak mampu merawat dirinya sendiri dalam hal mencuci muka, menyisir rambut, sikat gigi, anak mampu menggunakan toilet dan anak dapat memilih kegiatan yang disukai seperti menari, melukis, mewarnai dan disekolah sudah tidak mau di tungguin oleh ibu atau pengasuhnya. Menurut Spencer dan Kass ciri-ciri kemandirian adalah: Mampu mengambil inisiatif Mampu mengatasi masalah Penuh ketekunan Memperoleh kepuasan dari usahanya Berusaha menjalankan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Menurut Erikson dalam Marison bahwa ciri-ciri kemandirian itu telah ada sejak usia 3-4 tahun, karena pada usia ini anak berada pada inisiatif versus rasa bersalah, anak-anak usia tersebut dapat mengajarkan tugas, aktif dan terlibat dalam aktivitas, tidak ragu-ragu, tidak merasa bersalah, atau takut melakukan sesuatu sendirian. Pengertian toilet training Menurut Komariah Toilet training merupakan upaya yang dilakukan oleh orang tua atau pendidikan agar anak mampu mengontrol buang air besar . owel contro. dan buang air kecil ( bladder contro. Menurut Zaivera Toilet training merupakan proses pengajaran untuk mengontrol buang air kecil dan buang air besar secara untuk mengontrol buang air kecil dan buang air besar secara benar dan teratur. Faktor Pendukung Pelaksanaan Pembelajaran Toilet Training Dilembaga Sekolah Adanya kerja sama antara orang tua wali murid dengan pihak sekolah atau kesepakatan bersama dengan adanya pembelajaran tersebut Usia kesiapan anak berpengaruh terhadap kemampuannya untuk menerima pembelajaran toilet training yang diterapkan Sarana dan prasarana yang terpenuhi sangat berpengaruh terhadap kemampuan anak dalam melakukan toilet training. Kemampuan guru dalam memberikan pembelajaran toilet training pada anak harus sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan Cara Melatih Toilet Training Ketika seorang anak siap untuk memulai pelatihan toilet, mereka biasanya menunjukkan berbagai isyarat. Ketika mereka pergi sendirian ke ruanagn lain untuk buang air kecil atau besar, mereka mulai menyadari bahwa mereka sedang melakukannya. Hal ini penting karena anak tidak akan berhasil dalam toilet training jika ia tidak sadar bahwa ia sedang buang air kecil. Salah satu persiapan utama tentang toilet training adalah kapan waktu yang tepat bagi orangtua untuk melatih tpoilet training. Sebenarnya tidak ada patokan umur anak yang tepat dan baku untuk topilet training ini karena setiap anak mempunyai perbedaan dalam hal fisik dan proses biologisnya. Sehingga mengetahui kapan katu yang tepat bagi anak untuk filatih buang air dengan benar. Anak harus memiliki kesiapan dahulu sebelum menjalani toilet training dan bukan orang tua yang menentukan kapan anak harus memulai proses ini. Hal ini mencegah terjadinya beberapa hal yang tidak diinginkan seperti pemaksaan dari orangtua atau anak yang trauma dengan melihat toilet. METODE PENELITIAN Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Metode kualitatif merupakan metode yang fokus pada pengamatan yang mendalam. Dalam penelitian kualitatif pengumpulan data lazimnya menggunakan metode observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Alasan penelitian menggunakan jenis pendekatan ini adalah untuk melakukan pengamatan terhadap anak yang mengalami kekurangan dalam memahami atau menyimak. Penelitian kualitatif bertujuan untuk memperoleh informasi -informasi mengenai keaadaan yang ada. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini bertempat di KB Permata Hatiku yang beralamatkan Jl. Deltasari Indah BQ 01. Kecamatan Waru. Kota Sidoarjo. Provinsi Jawa Timur. Kode Pos 61256. Adapun penelitian ini dilaksanakan pada bulan April semester genap 2025. Sumber Data Data yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu, data yang diklasifikasikan maupun dianalisis untuk mempermudah dalam menguak suatu masalah yang terdiri atas : Subjek penelitian Subjek penelitian merupakan peran seorang guru dalam meningkatkan kemandirian yang memiliki karakteristik dan pertimbangan tertentu mengingat tidak semua anak dan juga orang tuanya bersedia dan senang kehidupannya diekspos untuk dijadikan bahan penelitian. Penelitian dilakukan terhadap tiga orang anak yang memiliki karakteristik tertentu. Alasan pengambilan subjek penelitian ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang telah disesuaikan dengan tema penelitian di mana subjek di sini merupakan anak yang kurang mandiri atau tanggung jawab yang sekarang berusia lebih dari 4 tahun dan bertempat tinggal di waru. Sidoarjo. Narasumber penelitian atau infoman Penentuan narasumber dilakukan setelah penulis dilakukan studi pendahuluan pada bulan November 2024. Studi pendahuluan dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan penelitian dalam rangka untuk mengetahui lebih jelas gambaran situasi dan kondisi area penelitian sehingga ditemukan masalah/kasus yang mendukung tema penelitian. Setelah penulis menemukan kasus khusus tersebut, penulis melakukan mendiagnosis dari ciri-ciri yang terdapat pada subjek penelitian tersebut. Kemudian penulis menentukan narasumber penelitian. Narasumber penelitian atau infoman adalah orang yang diminta untuk memberikan keterangan tentang suatu fakta atau pendapat. Jadi narasumber penelitian itu merupakan sumber informasi yang digali untuk mengungkapkan fakta-fakta yang ada di lapangan. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan langkah penting dalam rangka penelitian. Pengumpulan data akan berpengaruh pada langkah-langkah berikutnya sampai dengan tahapan penarikan kesimpulan. Oleh karena itu dalam proses pengumpulan data diperlukan metode yang benar untuk memperoleh data-data yang akurat, relevan dan dapat dipercaya kebenarannya. Menurut Moleong ciri khas dari penelitian kualitatif adalah tidak dapat dipisahkan dari pengamatan berperan serta. Hal tersebut dimana adanya peranan penelitian yang merangkap sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan pada akhirnya sebagai pelapor hasil penelitiannya, menunjukkan bahwa peneliti adalah instrumen penelitian yang utama, serta sebagai alat pengumpulan data dalam suatu penelitian. Untuk memperoleh data yang relevan dan sesuai dengan masalah pada penelitian ini, maka teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi berupa data, catatan . atatan anekdo. , foto serta data-data saat melakukan penelitian. Pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah: Wawancara Wawancara atau interview menurut Suharsini Arikunto adalah dialog yang dilakukan oleh pewawancara . untuk memperoleh informasi dari terwawancara . Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dilakukan secara sistematis dan berlandasan pada tujuan Tanya jawab tersebut terdiri dari dua orang atau lebih secara fisik dan masing-masing pihak dapat menggunakan saluransaluran komunikasi secara wajar dan lancar. Observasi Menurut Sutrisno Hadi yang dikutip oleh Sugiyono dalam buku metode penelitian pendidikan mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Dokumentasi Dokumentasi sebagai suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik yang dianalisis, padu dan utuh. Penghimpunan dan penganalisis dokumen tersebuit disesuaikan dengan data-data yang dibutuhkan penulis. Dokumentasi dilakukan guna untuk menunjang masalah yang berkaitan dengan data kelembagaan dan data subjek-subjek penelitian yang ada di KB Permata Hatiku Waru Sidoarjo. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Profil Sekolah Letak Geografis KB Permata Hatiku Waru Sidoarjo KB Permata Hatiku berlokasi di Perum Deltasari Indah Blok BQ 01. RT. 06/RW. Desa Kureksari. Kecamatan Waru. Kabupaten Sidoarjo. Provinsi Jawa Timur. Kode Pos Proses penerapan toilet training yang dilakukan pada anak usia dini di KB Permata Hatiku Waru Sidoarjo Di awal tahun ajaran baru, kepala sekolah mengadakan pertemuan dengan orangtua wali murid KB Permata Hatiku. Salah satu yang disampaikan dalam acara tersebut adalah sosialisasi program toilet training kepada orangtua wali Salah satu poin yang disampaikan kepala sekolah adalah memberi tau kepada orangtua wali murid, bahwa orangtua tidak dianjurkan untuk mengenakkan pampers kepada anaknya. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan kepala sekolah ikut mengambil alih dalam pelaksanan pembelajaran dikelas, diketahui bahwa kepala sekolah disana juga bertugas sebagai guru pendamping di kelompok B. Berikut adalah hasil wawancara dari kepala sekolah serta guru pendamping di kelompok B KB Permata Hatiku: AuDi KB Permata Hatiku terdapat masih banyak anak yang masih belum bisa mandiri dengan berbeda-beda macam kemandiriannya, ada yang karena kurang percaya diri dalam melaksanakan sesuatu, ada juga yang kurang berani mengabil resiko dan selalu mengandalkan orang lain. Ay Menurut Izzaty . AuBergantung pada anak usia TK adalah sangat lekat atau berlebihan atau ketergantungan dapat dikatakan sebagai perilaku yang sangat membutuhkan kehadiran orang lain dalam melakukan sesuatuAy. Anak yang tidak mandiri atau ketergantungan bisa mencakup dari segi fisik ataupun dari mental, misalnya anak akan selalu meminta bantuan untuk mengancingkan bajunya, memasangkan sepatu sekolah atau dalam mengambil keputusan terhadap suatu permasalahan, biasanya anak yang tidak mandiri akan sulit untuk mengambil keputusan. Faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi keberhasilan penerapan toilet training pada anak usia dini Dalam perkembangan anak terdapat juga faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandiriannya yakni faktor pendukung dan Dalam wawancara tersebut ustadzah Nur menjelaskan: AuFaktor yang dipengaruhi bisa dari lingkungan keluarga seperti pola asuh orang tua, dari lingkungan masyarakat bahkan bisa juga di lingkungan sekolah contohnya selalu membantu anak dalam kegiatan apapun jadi anak merasa terfasilitasi dan tidak mau mengerjakan sendiri atau melakukan sesuatuAy. Dari hasil wawancara diatas didapatkan anak masih belum bisa mandiri karena adanya banyak faktor pendukung, bisa dari segi lingkungan, pola asuh, social ekonomi dan lainnya. Anak yang difasilitasi yang berlebihan oleh orang tua juga bisa membuat anak menyebabkan kurang mandiri karena anak merasa semua keinginnannya akan terpenuhi dan tidak perlu ada usaha dari dirinya. Solusi untuk mengatasi Faktor Penghambat dalam Penerapan toilet training Pada Anak Usia Dini di KB Permata Hatiku Waru Sidoarjo Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penelitian di KB Permata Hatiku pada anak usia 2-4 tahun berjumlah 25 anak yang terdiri dari 12 anak laki dan 13 anak perempuan. Solusi mengatasi Faktor penghambat toilet training. Berikut beberapa kendala umum serta solusi yang dapat diterapkan oleh KB Permata Hatiku: Kesiapan Fisik Anak Belum Maksimal Kendala: Anak belum bisa mengontrol kandung kemih atau belum bisa duduk di toilet. Solusi: Latihan secara bertahap dengan pendekatan sabar, menggunakan toilet kecil . , dan menyesuaikan jadwal buang air secara teratur. Kesiapan Psikologis Rendah Kendala: Anak takut toilet, merasa tertekan, atau belum memahami instruksi. Solusi: Guru dan orang tua memberi motivasi positif, tidak memarahi anak saat gagal, serta mengenalkan toilet sebagai tempat yang nyaman melalui cerita atau permainan. Kurangnya Konsistensi di Rumah dan Sekolah Kendala: Orangtua tidak melanjutkan latihan toilet training di Solusi: Sekolah menjalin komunikasi intensif dengan orangtua, memberikan edukasi dan panduan supaya latihan dilakukan konsisten di dua lingkungan. Dapat disimpulkan bahwa melatih kemandirian anak tidak ada langsung 1 bulan 2 bulan perlu beberapa tahapan dan dengan telaten supaya bisa seperti yang kita inginkan. Karena mendidik anak usia dini memang harus sabar dan telaten setiap hari agar anak juga dapat mengikuti apa yang kita ajarkan. Pembahasan Hasil Penelitian Proses Penerapan Toilet Training pada Anak Usia Dini di KB Permata Hatiku Waru Sidoarjo Berdasarkan teknik hasil pengumpulan data yang digunakan peneliti yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi yang dilakukan di KB Permata Hatiku Waru Sidoarjo, serta berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan, maka peneliti menemukan berbagai temuan dilapangan tentang penerapan toilet training untuk membangun kemandirian anak usia dini di KB Permata Hatiku Waru Sidoarjo. Penerapan toilet training di KB Permata Hatiku Waru Sidoarjo merupakan salah satu bentuk pembiasaan positif yang bertujuan untuk membangun kemandirian anak usia dini dalam memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri, khususnya dalam hal BAK dan BAB. Melalui pendekatan yang terencana dan konsisten, seperti penggunaan teknik verbal, teknik modelling, metode bercerita, serta pemberian kepercayaan dan penguatan positif, anak-anak dilatih untuk mengenali sinyal tubuhnya, meminta bantuan dengan komunikasi yang baik, dan secara bertahap tidak lagi bergantung pada pampers. Selain itu, kerjasama yang erat antara pihak sekolah dan orangtua juga menjadi kunci dalam keberhasilan toilet training ini, agar pembiasaan yang dilakukan di sekolah dapat berlanjut dan di perkuat di lingkungan rumah, sehingga terciptanya konsistensi dalam proses pembelajaran kemandirian anak. Faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi keberhasilan penerapan toilet training pada anak usia dini Faktor merupakan hal atau keadaan yang menyebabkan terjadinya sesuatu seperti dalam hal nya kemandirian. Dalam kemandirian anak berdasarkan hasil penyajian data penelitian melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan analisis yang telah dilakukan, serta berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan, maka dikemukakan berbagai temuan dilapangan mengenai faktor pendukung yang mempengaruhi kemandirian. Faktor pendukung ialah dari kesiapan fisik anak, kesiapan psikologis anak, pola asuh yang konsisten, kematangan intelektual anak, dukungan lingkungan sekolah, kerja sama orangtua dan guru, penguatan positif. Solusi untuk mengatasi faktor penghambat dalam penerapan toilet training pada anak usia dini di KB Permata Hatiku Waru Sidoarjo Upaya yang dilakukan oleh guru dan pihak sekolah KB Permata Hatiku Waru Sidoarjo untuk menanggulangi berbagai kendala yang muncul selama proses pelatihan anak menggunakan toilet secara mandiri. Faktor penghambat bisa berasal dari aspek fisik, psikologis, lingkungan, komunikasi anak, maupun kurangnya dukungan dari orang tua. Langkah-langkah yang diambil meliputi pendekatan yang sabar dan bertahap, pembiasaan harian, pemberian motivasi positif, menciptakan lingkungan toilet yang nyaman dan ramah anak, serta menjalin kerja sama yang erat dengan orang tua agar proses toilet training dapat berjalan konsisten di rumah dan sekolah. Dengan mengatasi hambatan-hambatan tersebut, diharapkan anak dapat mencapai kemandirian dalam hal buang air dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri. KESIMPULAN Kesimpulan Setelah melakukan penelitian di sebuah lembaga KB Permata Hatiku yang di awali dengan pengumpulan data di lapangan, yaitu melalui wawancara mendalam dan observasi, serta dilanjutkan dengan menginterpretasikan data dalam laporan hasil penelitian, maka peneliti menarik beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan Penerapan Toilet Training Pada Anak Usia Dini seperti di bawah ini, yaitu: Proses penerapan toilet training pada anak usia dini membutuhkan . perencanaan pengajaran, . pelaksanaan dan . Pada perencanaan pengajaran, membutuhkan kerjasama yang baik antara pihak sekolah dengan orangtua siswa. Faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi keberhasilan toilet training adalah: . kesiapan fisik, . kesiapan psikologis, . pola asuh, . kematangan intelektual, dan . kerjasama pihak sekolah dengan orangtua. Solusi untuk mengatasi faktor penghambat atau faktor kendala dalam penerapan toilet training pada anak usia dini di KB Permata Hatiku Waru Sidoarjo: . kesiapan fisik anak belum maksimal, . kesiapan psikologis rendah, . kurangnya konsistensi di rumah dan sekolah, . pola asuh tidak mendukung, . jumlah anak didik yang banyak, . fasilitas toilet yang kurang ramah anak. DAFTAR PUSTAKA