ANALISIS SEGMENTASI PASAR KERAJINAN PERAK KOTAGEDE Revi Agustin Aisyianita,S. Hut. ,M. Sc. Fuadi Afif. IP. ,M. Sc. ADosen Program Studi Perjalanan Wisata Universitas Negeri Jakarta. Jl Rawamangun Muka. DKI Jakarta. Indonesia ADosen Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta. Jl Laksda Adisucipto KM 6. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia . eviagustin@unj. id, fuadiafif@gmail. ABSTRACT Kotagede is the former of Mataram Kuno Islamic Kingdom which has a lot of tourism potential and history. But in the perspective of tourism. Kotagede is known as a silvercraft area and named Kota Perak (City of Silve. The image of Kotagede as a Kota Perak has decreased, fewer tourists are buying silver as souvenirs when they visit Yogyakarta. Reduction of silver buyers also have an impact on decreasing the number of craftsmen. This study aims to identify the actual market segments of Kotagede silver handicrafts and mapping the potential market segments. Data was collected by the literature review method, field observation, interviews with silver craftsmen, and surveys to consumers by distributing questionnaires. Research conducted in March Ae November 2018. The results of the study show that the actual market for silver handicrafts in Kotagede consists of: women, aged 20-30 years, tourists from Yogyakarta and surrounding areas, selfemployed, and visiting individually/small groups. The potential market for silver handicrafts consists of: couple and students . Keywords: Kotagede. Market Segmentation. Silvercrafts. Silver Craftsmen A. PENDAHULUAN Warisan budaya di Kotagede erat kaitannya dengan sejarah Kerajaan Mataram Islam Kuno. Sejarah Kotagede sebagai bekas Kerajaan Mataram Islam Kuno pemerintahan menjadikan daerah ini memiliki banyak bangunanbangunan melambangkan ciri khas Kotagede. Kehidupan masyarakat yang masih memegang teguh budaya dan kearifan lokal juga menjadi sebuah daya tarik bagi wisatawan. Kotagede juga dikenal sebagai Kota Perak, karena di kecamatan ini banyak perkembangan industri rumahan yang membuat kerajinan perak. Seperti dijelaskan pada Buku Ensiklopedi Kotagede . , pada awalnya pengrajin perak di Kotagede hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan para bangsawan dan keraton, terutama pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana Vi. Seiring perkembangan zaman, kerajinan perak Kotagede tidak hanya diminati oleh bangsawan dan keraton namun mulai mendapat pesanan dari konsumen di luar lingkungan keraton. Keunikan kerajinan perak Kotagede bahkan sudah terkenal sampai ke luar negeri dan mencapai puncaknya pada tahun 1935 - 1938. Hal ini yang menyebabkan Kotagede mendapat julukan Kota Perak. Daya tarik kerajinan perak Kotagede rupanya lebih mendominasi dibandingkan dengan daya tarik nilai sejarah Kotagede sebagai bekas Kerajaan Islam Mataram Kuno. Sebagian besar wisatawan datang ke Kotagede karena berminat untuk membeli kerajinan perak sebagai souvenir atau oleh-oleh. kawasan Kotagede banyak terdapat pengrajin dan penjual perak. Diantara penjual perak tersebut ada yang sekaligus menjadi pengrajin namun ada juga yang hanya sekedar menjual kerajinan perak saja. Beberapa galeri juga memiliki workshop terbuka yang memungkinkan wisatawan untuk dapat melihat secara langsung proses pembuatan kerajinan perak. Perkembangan kerajinan perak yang dianggap kurang menguntungkan juga menyebabkan generasi muda saat ini kurang tertarik menekuni bidang ini sehingga pengrajin perak yang berusia muda jumlahnya sangat sedikit. Jika tidak ada regenerasi pengrajin perak dikhawatirkan akan menyebabkan hilangnya pengrajin perak Kotagede pada beberapa tahun mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi segmen pasar aktual kerajinan perak Kotagede dan memetakan segmen pasar potensial kerajinan perak Kotagede. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menghidupkan kembali eksistensi pengrajin perak maupun pengrajin logam lain di Kotagede sekaligus dapat digunakan sebagai referensi dalam menyusun strategi pemasaran kerajinan perak Kotagede. METODOLOGI PENELITIAN Industri Kerajinan Perak Kotagede Kotagede sudah dikenal sebagai kawasan industri pengrajin Sultan Hamengkubuwana Vi. Pada Buku Ensiklopedia Kotagede . 9:1-. dijelaskan bahwa pada awalnya kerajinan logam dikerjakan secara tradisional oleh beberapa orang pengrajin dan dibuat hanya berdasarkan pesanan para bangsawan keraton . ade by orde. Dalam perkembangannya, kerajinan tidak hanya dibuat untuk memenuhi kebutuhan bangsawan keraton namun juga dijual untuk umum. Jumlah pengrajin logam di Kotagede mulai tumbuh pesat dan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan home Saat ini pengusaha perak banyak yang memproduksi kerajinan di tempat usaha dalam bentuk bengkel kerja . Workshop ini juga berfungsi sebagai ruang pamer bagi wisatawan yang ingin melihat secara langsung proses pembuatan kerajinan. Kerajinan Tangan (Handicraf. sebagai Produk Pariwisata Budaya Kerajinan tangan tidak hanya berfungsi sebagai souvenir namun bisa juga menjadi sebuah daya tarik wisata baru. Setiap kerajinan tangan tentu memiliki cerita dan proses pembuatannya Hal tersebut dapat dikemas menjadi sebuah atraksi wisata Jika pengembangan industri kerajinan tangan lokal ini berkembang dengan baik, salah satu dampak positif yang timbul adalah penekanan laju urbanisasi penduduk. Selain itu, tentu mampu mendorong peluang terbuka lapangan kerja baru dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. International Trade Centre . menyebutkan bahwa tantangan utama yang dihadapi oleh produsen atau pengrajin kerajinan tangan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tantangan terkait pengembangan produk dan tantangan terkait segmentasi Pengrajin lokal seringkali memiliki keterbatasan dalam hal permodalan yang berdampak pada minimnya peralatan kerja yang pengetahuan tentang produk yang dibutuhkan pasar, kemampuan bersaing dengan produk impor, dan belum adanya manajemen organisasi pengrajin. Tantangan pengrajin dalam hal segmentasi pasar seringkali disebabkan karena belum terjalinnya koordinasi yang baik antara pengrajin dengan pedagang, biro perjalanan wisata, dan industri pariwisata lainnya. Segmentasi Pasar Kotler . 2: . mendefinisikan segmentasi pasar sebagai sekelompok pelanggan yang memiliki sekumpulan kebutuhan dan keinginan yang serupa. Pada dasarnya pasar memiliki sifat memenuhi berbagai macam kebutuhan dan keinginan tersebut melalui segmentasi pasar produsen dapat membagi pasar menjadi beberapa kelompok kecil yang memiliki kebutuhan dan keinginan yang hampir mirip. Pendekatan Segmentasi Pasar Kotler . 2: . menyebutkan bahwa segmentasi pasar dapat dibagi menjadi empat variabel utama, yaitu: variabel geografis, demografis, psikografis, dan perilaku. Penjelasan untuk masing-masing variabel tersebut adalah sebagai berikut: Segmentasi Geografis. Pendekatan ini digunakan untuk mengklasifikasikan pasar berdasarkan lokasi keberadaan konsumen . eperti: negara, provinsi, kota, atau lingkunga. Segmentasi Demografis. Pada kelompok-kelompok berdasarkan variabel demografis yang terdiri dari: usia, ukuran keluarga, siklus kehidupan keluarga, jenis kelamin, penghasilan, pekerjaan, agama, ras, generasi kewarganegaraan, dan kelas sosial. Segmentasi Psikografis Pada pendekatan segmentasi psikografis, pasar/konsumen dikelompokkan menurut variabel pola atau gaya hidup . ife styl. dan kepribadian . Segmentasi Perilaku Pada pendekatan segmentasi perilaku, pasar/konsumen penggunaan atau respon terhadap suatu produk. Metode Penelitian Metode pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini antara lain adalah : Studi literatur/literature review Literatur diperoleh melalui : artikel dan penelitian terdahulu, buku-buku referensi, peraturan Ae peraturan yang berkaitan dengan Kawasan Kotagede, serta dokumen-dokumen lain yang Observasi lapangan Pengamatan lapangan difokuskan pada lokasi usaha kerajinan perak Kotagede dan subjek pengamatan adalah pengrajin dan pengusaha perak di Kotagede. Survei persepsi wisatawan dengan menggunakan instrumen Survei dilakukan pada pengunjung/konsumen kerajinan Perak di Kotagede sebanyak 15 orang. HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Pasar Aktual dan Potensial Kerajinan Perak Kotagede Identifikasi pasar aktual perlu dilakukan untuk memetakan target pasar potensial yang dapat ditarik ke Kotagede, khususnya untuk membeli produk kerajinan perak. Data pasar aktual yang telah dikumpulkan oleh peneliti meliputi: profil pengunjung dan profil belanja wisatawan di Kotagede. Berdasarkan hasil survei dan studi literatur yang telah dilakukan, tidak ditemukan data yang menyebutkan secara pasti jumlah pengunjung di Kotagede yang merupakan konsumen perak. Pada penelitian ini, peneliti mengambil sampel sebanyak 15 orang yang dianggap dapat memberikan gambaran pasar aktual saat ini. Responden tersebut dipilih dengan kriteria sebagai berikut: Responden merupakan pengunjung toko/ workshop kerajinan perak. Responden berusia di atas 17 tahun . engan pertimbangan Responden harus mewakili wisatawan di Kotagede. Pasar potensial merupakan segmen pasar yang saat ini belum datang atau jumlahnya masih sedikit namun memiliki potensi Berdasarkan identifikasi pasar aktual yang telah diuraikan sebelumnya, maka identifikasi pasar potensial yang dapat ditarik menjadi segmen baru untuk kerajinan perak Kotagede adalah sebagai berikut: Tabel 1. Identifikasi Pasar Potensial Kerajinan Perak Kotagede PROFIL PASAR AKTUAL PASAR POTENSIAL Jenis A Laki Ae Laki . %) A Laki Ae Laki . %) Kelamin A Perempuan . %) A Perempuan . %) Usia Usia 20 Ae 30 tahun A Usia pelajar (SD Ae SMA) A Usia muda . Ae 30 Usia A lansia . iata Daerah DIY. Jawa Tengah dan Asal A Daerah Pengrajin Perak (Lombok. Bali. A Seluruh Indonesia A Luar Indonesia Pekerjaan A Wiraswasta A Pelajar dan Mahasiswa A Karyawan A Kolektor A Ibu Rumah Tangga Bentuk Kunjungan A Individu/ Kelompok Kecil . %) A Rombongan/ Kelompok Besar . %) Sumber: Data Olahan . A Individu/ Kelompok Kecil . %) A Rombongan/ Kelompok Besar . %) Berdasarkan pemetaan segmen pasar potensial tersebut peneliti mencoba menetukan target utama pemasaran kerajinan Perak Kotagede, antara lain adalah sebagai berikut: Konsumen Perempuan. Produk kerajinan perak masa kini lebih banyak digunakan sebagai perhiasan dan pelengkap fashion. Perempuan perhiasan dan tampil fashionable. Perempuan juga memiliki kemampuan persuasif dalam mempengaruhi orang lain Kepuasan berdampak pada terjadinya pembelian kembali . dan merekomendasikan kepada orang lain sehingga mampu mendatangkan pelanggan baru. Konsumen berusia 20 Ae 30 tahun. Konsumen lakiAelaki maupun perempuan yang memiliki rentang usia 20Ae30 tahun berpotensi untuk dijadikan target utama pemasaran produk perak Kotagede dengan beberapa pertimbangan, antara lain sebagai berikut: Konsumen berusia 20 - 30 tahun merupakan konsumen produktif yang sudah memiliki kemampuan secara finansial dan mandiri dalam pengambilan keputusan Usia 20 - 30 tahun merupakan usia yang ideal untuk melakukan pertunangan atau pernikahan, sehingga segmen ini dapat dijadikan sebagai segmen utama untuk produk cincin pertunangan/pernikahan. Konsumen berusia 20 - 30 tahun cenderung memiliki waktu luang yang terbatas sehingga mereka lebih menyukai kegiatan berbelanja secara online dan menggunakan transaksi non tunai untuk pembayaran. Oleh karena itu, untuk menarik segmen ini diperlukan adanya upaya pemasaran berbasis digital sehingga memudahkan konsumen yang ingin melakukan pembelian produk. Konsumen usia pelajar dan mahasiswa Konsumen pelajar dan mahasiswa merupakan generasi millennial yang dianggap paling cepat tanggap terhadap perubahan Masuknya segmen millennial ini sebagai target utama pemasaran dapat membawa beberapa keuntungan/dampak positif bagi pengusaha perak di Kotagede, antara lain adalah sebagai Kecepatan millennial beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan teknologi berpengaruh juga terhadap kecepatan mereka dalam mencari informasi. Melalui kegiatan workshop, millennial dan pelaku usaha kerajinan perak dapat melakukan diskusi dan brainstorming, khususnya terkait pemilihan desain kerajinan dan teknik pembuatannya. Pelaku usaha juga dapat bertukar ilmu dengan millennial terkait dengan upaya pemasaran digital. Pengrajin perak membagikan ilmu dan keahliannya dalam membuat kerajinan perak sedangkan millennial dapat membagikan ilmu dan keahliannya dalam menggunakan media online. Ketergantungan millennial terhadap gawai dan media mempromosikan produk kerajinan perak Kotagede. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengumpulan data dan analisis yang telah dilakukan oleh peneliti dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Segmen pasar kerajinan perak Kotagede saat ini masih belum bervariasi. Konsumen perak sebagian besar terdiri dari perempuan, berusia 20 - 30 tahun, berasal dari Provinsi Yogyakarta. Jawa Tengah, dan sekitarnya dan mereka datang secara individu/rombongan kecil. Berdasarkan identifikasi segmen pasar aktual tersebut, terdapat segmen pasar potensial yang dapat ditarik untuk berkunjung dan membeli produk kerajinan perak Kotagede. Segmen pasar potensial tersebut antara lain adalah: laki-laki dan perempuan, usia pelajar dan lansia, berasal dari seluruh Indonesia dan luar Indonesia, dan berkunjung dalam bentuk rombongan besar. Berdasarkan analisis segmentasi pasar potensial tersebut dapat ditarik target pasar utama yang terdiri dari pengunjung perempuan, usia 20 Ae 30 tahun, dan usia pelajar dan mahasiswa. Rekomendasi Hasil dari penelitian ini adalah identifikasi pasar aktual, potensial, dan target pasar utama kerajinan perak di Kotagede. Temuan ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan/referensi pihak terkait dalam menetapkan strategi pemasaran produk kerajinan perak sehingga mampu menarik peminat dalam jumlah yang lebih tinggi. Penelitian ini masih dapat dilanjutkan dengan penelitian lanjutan yang terkait dengan strategi pemasaran produk kerajinan perak di Kotagede. ACKNOWLEDGEMENTS Penelitian ini dibiayai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset. Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemristekdikt. Tahun Anggaran 2018. DAFTAR PUSTAKA