KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. STRATEGI PEMBERDAYAAN GEN Z SEBAGAI AKTOR UTAMA BONUS DEMOGRAFI INDONESIA Jazuli Juwaini Prodi Magister Manajemen. Universitas Mitra Bangsa. Jakarta. Indonesia e-mail : jazulijuwaini@umiba. ABSTRAK Penelitian ini membahas strategi pemberdayaan Generasi Z sebagai aktor utama bonus demografi Indonesia yang diprediksikan terjadi pada 2030Ae2040. Bonus demografi memberikan peluang percepatan pembangunan ekonomi melalui dominasi penduduk usia produktif, namun membutuhkan prasyarat seperti pendidikan berkualitas, kesehatan, kesempatan kerja, dan kebijakan inklusif. Generasi Z, sebagai digital native dengan karakteristik kritis dan multikultural, menghadapi tantangan seperti pengangguran muda, mismatch keterampilan, dan risiko informasi negatif, namun memiliki potensi literasi digital dan kewirausahaan yang tinggi. Studi ini dilakukan dengan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan menganalisis berbagai literatur tentang bonus demografi, karakteristik Gen Z, dan strategi lintas sektor untuk pemberdayaan pemuda dalam 5 tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi efektif untuk pemberdayaan Gen Z, mencakup reformasi kurikulum, pelatihan vokasi, penguatan soft skills, kebijakan pasar kerja inklusif, dukungan kewirausahaan muda, serta pembinaan karakter. Pendekatan terpadu dan kolaboratif lintas sektor diperlukan agar Gen Z dapat menjadi motor penggerak pembangunan berkelanjutan dan mewujudkan potensi penuh bonus demografi di Indonesia. Kata Kunci: Bonus demografi. Pemberdayaan Generasi Z. Strategi Lintas Sektor. Modal manusia. Literasi digital AU PENDAHULUAN Indonesia saat ini berada dalam salah satu fase demografis paling menentukan dalam sejarahnya, yaitu periode bonus demografi. Kondisi ini terjadi ketika jumlah penduduk usia produktif . Ae64 tahu. jauh lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif. Dengan kata lain, proporsi masyarakat yang berada pada usia kerja mendominasi, sementara jumlah usia anak-anak dan lansia relatif kecil. Dalam proyeksi jangka panjang, populasi Indonesia diperkirakan meningkat dari 238,5 juta jiwa pada tahun 2010 menjadi sekitar 305,7 juta jiwa dalam 25 tahun mendatang. Dari total tersebut, sekitar 64% merupakan penduduk usia produktif (Pandilih, 2. Periode emas ini diprediksi mencapai puncaknya pada tahun 2030Ae2040. Apabila momentum ini dikelola dengan strategi pembangunan yang tepat, bonus demografi dapat menjadi peluang transformasional bagi Indonesia. Potensi tersebut dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan penting di tingkat regional maupun global. KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Secara teoritis, bonus demografi . emographic dividen. memberikan keuntungan secara ekonomis bagi sebuah negara karena rasio ketergantungannya menurun dan diikuti kenaikan penduduk usia produktif. (Sulistyastuti & Mada, 2. Proporsi penduduk usia produktif . Ae64 tahu. di Indonesia saat ini mencapai lebih dari 66%, namun diperkirakan akan mengalami penurunan hingga mencapai titik terendah pada periode 2028Ae2031. Rasio ketergantungan yang berada di bawah angka 50 menandakan bahwa setiap 100 orang usia produktif hanya menanggung kurang dari 50 orang penduduk usia nonproduktif, yang terdiri atas anak-anak . Ae14 tahu. dan lansia . tahun ke ata. Kondisi ini mencerminkan peluang emas bagi bangsa Indonesia: apabila didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat, pemerataan kesempatan kerja, serta peningkatan kualitas sumber daya manusiaAi khususnya melalui pendidikan dan keterampilan generasi mudaAimaka Indonesia berpotensi besar untuk memaksimalkan manfaat dari bonus demografi dan mengubahnya menjadi pendorong utama kemajuan ekonomi nasional. (Syahardani SE. Laksda TNI (Pur. , 2. Lebih jelasnya pergeseran komposisi umur penduduk dan pergeseran Dependency Ratio ( DR) dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel : Pergeseran Komposisi Umur Penduduk dan Pergeseran Dependency Ratio ( DR) sejak tahun 1971-2015. Sumber: (Edo, 2. Data pada tabel tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1971. Indonesia mulai memasuki tahap awal transisi demografi dengan laju pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Hal ini tercermin dari proporsi penduduk usia muda . Ae14 tahu. yang mencapai 44% dari total populasi, sehingga rasio ketergantungan mencapai 88,7. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif harus menanggung 88,7 penduduk non produktif, mayoritas berasal dari kelompok usia muda. Kondisi ini merupakan ciri khas negara berkembang dan menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi, sebagaimana dijelaskan oleh Todaro dan Smith . 6:81Ae. sebagaimana dikutip (Edo, 2. Menurut Armida S. Alisjahbana yang dikutip oleh Edo, suatu negara dianggap memasuki masa bonus demografi ketika rasio ketergantungan turun di bawah angka 50. Kondisi ini menunjukkan bahwa penduduk usia produktif mendominasi struktur populasi, sehingga membuka peluang besar bagi percepatan pertumbuhan ekonomi. Dengan uraian tersebut, bonus demografi dapat dipahami sebagai keuntungan strategis yang muncul dari struktur usia penduduk. Ketika jumlah penduduk usia kerja jauh melampaui penduduk usia nonproduktif, negara memiliki peluang besar untuk meningkatkan produktivitas nasional dan mempercepat pembangunan ekonomi (Syahadatin & Shaddiq, n. Senada dengan pandangan di atas, dari hasil sensus Penduduk tahun 2020 yang dilakukan BPS, pada September 2020, jumlah pendudukan usia 15-64 tahun sudah mencapai 70, 72% dari total penduduk sekitar 191 juta. Artinya bonus demografi sudah hadir lebih awal di beberapa Bahkan menurut SUPAS 2015 Indonesia sesungguhnya telah mengalami bonus demografi sejak tahun 2015 dengan periode puncaknya diperkirakan terjadi pada periode 2020- 2035, dimana KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. tingkat kelahiran mengalami penurunan sehingga mengakibatkan persentase penduduk usia 0-14 tahun dan rasio ketergantungan menurut Badan Pusat Statistik . Bahkan saat ini, terdapat lima provinsi di Indonesia yang telah memasuki tahap akhir bonus demografi, yakni DKI Jakarta. Yogyakarta. Jawa Timur. Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara. Meskipun demikian. Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memaksimalkan potensi bonus demografi secara nasional sebagai langkah strategis dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, (Khairunnisah SST & S. Tr. Stat, 2. Artinya, bahwa setiap bonus demografi memungkinkan suatu negara untuk menciptakan pembangunan demi kemajuan negaranya tergantung apakah bangsa tersebut mampu memastikan bahwa adanya kondisi dimana lebih banyak usia produktif, maka negara berpotensi lebih cepat untuk meningkatkan kegiatan ekonomi, industri, bisnis dan usaha. sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. (Surya Nusantara. Wisam Zuhdi. Basri. Hasan. Rahayu, 2. Lebih detail lagi bagaimana gambaran peluang Indonesia tersebut dijelaskan oleh Direktur INDEF berikut ini dengan menggunakan data terbaru. Dijelaskan bahwa berdasarkan laporan Proyeksi Penduduk Indonesia 2015Ae2045, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 319 juta jiwa pada tahun 2045, dengan sekitar 70% di antaranya berada pada usia Oleh karena itu, periode peluang untuk memanfaatkan bonus demografi di Indonesia diproyeksikan berlangsung antara tahun 2020 hingga 2035. (Maghfiruha Rachbini. PhD, 2. , seperti tercermin pada gambar berikut ini. Sumber: (Maghfiruha Rachbini. PhD, 2. Tren data di atas menunjukkan bahwa rasio ketergantungan akan meningkat kembali pada tahun 2035 dan mencapai di atas 50% pada tahun 2045. Namun sekali lagi, potensi tersebut tidak otomatis membawa manfaat. Tanpa pengelolaan yang baikAimisalnya dalam hal penyediaan lapangan kerja, pendidikan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusiaAibonus demografi justru bisa berubah menjadi beban, ditandai dengan meningkatnya angka pengangguran terdidik. Dengan demikian, semakin kecil proporsi penduduk non produktif, semakin besar peluang bagi negara untuk memanfaatkan tenaga kerja yang Pelajaran Sukses dari negara yang sukses mendayagunakan Bonus Demografi Pengalaman Jepang dan Korea Selatan dalam mengelola peluang bonus demografi memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Dimana kedua negara itu berhasil memanfaatkan tingginya proporsi penduduk usia produktif melalui investasi besar-besaran pada pendidikan berkualitas, kesehatan, dan pelatihan keterampilan. Mereka juga menyiapkan kurikulum yang KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. responsif terhadap kebutuhan industri, mendukung riset dan inovasi, serta mendorong etos kerja yang disiplin dan produktif. Hasilnya, mereka tidak hanya menekan angka pengangguran muda, tetapi juga melahirkan tenaga kerja berdaya saing tinggi yang mampu mendorong industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Penelitian yang dilakukan oleh Bloom et al. serta Bloom dan Finlay . menunjukkan bahwa negara-negara di Asia Timur seperti Cina. Jepang, dan Korea telah berhasil memanfaatkan bonus demografi, yang tercermin dari tingginya pertumbuhan pendapatan per Sejumlah negara Asia, termasuk Korea Selatan. Jepang. Taiwan, dan Hong Kong, mampu bertransformasi menjadi negara industri maju berkat pengelolaan optimal terhadap potensi Sebaliknya. Pakistan dan India gagal memanfaatkan peluang tersebut sehingga tidak memperoleh manfaat signifikan dari bonus demografi. (Sulistyastuti & Mada, 2. Keberhasilan sebuah negara dalam mengoptimalkan potensi bonus demografi sangat bergantung pada penerapan kebijakan yang tepat dan terpadu, khususnya dalam hal peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyediaan lapangan kerja yang layak, serta penguatan sistem kesehatan. Seluruh upaya tersebut perlu didukung oleh stabilitas ekonomi makro dan tata kelola pemerintahan yang efektif dan transparan. Temuan Wardani dkk. dan Febri Pramudya . juga memberikan pelajaran berharga bagi negara-negara yang tengah memasuki fase bonus demografi agar mampu merancang kebijakan yang efektif, berkelanjutan, dan lintas sektor. Indonesia dapat menerapkan pendekatan serupa dengan strategi terintegrasi dan visioner, mencakup reformasi pendidikan agar relevan dengan kebutuhan pasar kerja, penguatan pelatihan vokasi dan pengembangan soft skills, serta penciptaan lapangan kerja yang inklusif. Selain itu, pemerataan akses terhadap layanan kesehatan dan gizi menjadi elemen krusial dalam menjaga produktivitas generasi muda. Dengan belajar dari keberhasilan Jepang dan Korea Selatan. Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan bonus demografi sebagai momentum strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, mengurangi ketimpangan sosial, serta memperkuat daya saing bangsa di tingkat global. Dominasi jumlah Gen Z di Era Bonus Demografi Yang juga menarik dicermati adalah bahwa era bonus demografi di Indonesia didominasi usia produktif dari kalangan generasi Z dan Milenial. Maka untuk mencapai bonus demografi yang menguntungkan perlu mempersiapkan generasi Z dengan baik. (Samosir & Toh, 2. Menurut Catatan Putra, 2024, hampir sepertiga yakni 27, 94 % dari penduduk Indonesia merupakan Gen Z. Karena itu baik dari segi jumlah dan peranan kontribusi generasi ini sangat penting dalam konteks pencapaian bonus demografi. Au Di antara kelompok usia produktif yang mendominasi demografi Indonesia. Generasi Z (Gen Z)Aiyang lahir sekitar 1997Ae2012Ai memegang peran Komposisi penduduk Indonesia pada tahun 2021 didominasi oleh Generasi Z (Gen Z) yakni 27,94 %, kemudian disusul oleh generasi milenial sebanyak 25,87%, serta selanjutnya oleh generasi X sejumlah 21,88%. Dengan jumlah yang sangat besar. Gen Z adalah salah satu penentu keberhasilan pemanfaatan bonus demografi Indonesia. Gen Z memiliki potensi yang besar dalam membentuk dan mengubah landscape ekonomi. Salah satu peran penting Gen Z dalam perekonomian adalah sebagai konsumen. Dalam beberapa tahun terakhir. Gen Z telah menjadi pasar yang sangat menarik bagi perusahaan dan brand. (Putra et al. , 2. Ay Karena itu memahami dengan baik karakter, kelebihan dan kekurangan Gen Z ini menjadi kunci penting bagi pencapaian bonus demografi. Karena potensi besar Gen Z tidak secara otomatis menjadi modal pembangunan tanpa strategi pemberdayaan yang tepat. Bonus demografi tidak dapat serta merta terjadi ketika jumlah penduduk usia produktif besar, melainkan harus diiringi dengan peningkatan produktivitas dari penduduk usia kerja tersebut. Dalam tulisannya. Bagus Riyono mengutip pandangan Ibnu Khaldun, seorang pemikir besar abad ke-14, menyatakan bahwa peradaban dibangun atas dua pilar utama, yakni spiritual dan material. Menurut Ibnu KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Khaldun, suatu peradaban akan maju ketika aspek spiritual lebih dominan, sedangkan ketergantungan berlebihan pada hal-hal material justru dapat menyebabkan kemunduran. Karena itu, dalam upaya membangun peradaban Indonesia yang tangguh, khususnya di era bonus demografi, arah pembangunan tidak boleh hanya berfokus pada sektor fisik dan ekonomi, tetapi juga harus memperkuat dimensi spiritual dan moral. Penguatan ini penting untuk menanamkan nilai-nilai luhur, karakter, dan etika pada generasi mudaAisebagai kelompok terbesar sekaligus penentu arah perubahan sosial dan demografis bangsa. Pendekatan yang menyelaraskan pembangunan material dan spiritual menjadi kunci agar bonus demografi benar-benar membawa berkah bagi peradaban, bukan sekadar angka statistik (Riyono, 2. Dalam konteks ini, agar Generasi Z Indonesia mampu menjadi kekuatan utama dalam mengisi pembangunan dan menyukseskan momentum bonus demografi, mereka perlu dibekali dengan kecerdasan spiritual. Sejalan dengan itu. Joko Nugroho dan Dingot Hamonangan Ismail menekankan pentingnya penguatan soft skills selain hard skills, agar kemampuan generasi muda selaras dengan tuntutan Revolusi Industri 4. 0 dan Society 5. Kemandirian dan Kesehatan Gen Z Kunci Sukses Bonus Demografi Selain memiliki kesehatan spiritual. Generasi Z juga perlu menjaga kesehatan jasmani yang Menurut UNFPA, suatu negara baru dapat memetik manfaat bonus demografi apabila penduduknya memiliki kesehatan yang baik, pendidikan yang bermutu, pekerjaan yang layak, serta kemandirian generasi mudanya. Semua itu hanya dapat terwujud melalui kebijakan nasional yang tepat dan berkesinambungan. Indonesia mulai memasuki era bonus demografi sejak diterapkannya program Keluarga Berencana (KB) pada tahun 1970-an, yang sukses menekan angka kelahiran dan kematian melalui peningkatan kualitas layanan kesehatan. Kebijakan tersebut mendorong terjadinya transisi demografi, ditandai dengan penurunan jumlah penduduk usia anak . i bawah 15 tahu. dan peningkatan populasi usia produktif. Sejak awal 1980-an. Indonesia mulai merasakan dampak positif dari bonus demografi, yang diperkirakan mencapai puncaknya pada tahun 2030, dengan 68,1% penduduk berada pada usia produktif . Ae64 tahu. dan rasio ketergantungan menurun hingga 46,9%. Kondisi ini disebut sebagai Aujendela peluangAy . indow of opportunit. untuk mendorong kemajuan dan kesejahteraan nasional (Adioetomo, 2. Dalam (Syahadatin & Shaddiq, n. Karena itu pemahaman mendalam terhadap Gen Z menjadi sebuah keniscayaan, karena gen Z juga mempunyai tantangan-tantangan serius yang menghadang, seperti ketimpangan akses pendidikan berkualitas, pengangguran muda, kesenjangan keterampilan . kills ga. , disrupsi teknologi, hingga krisis nilai di tengah arus globalisasi. Di samping itu, perubahan pola kerja dan ekonomi digital menuntut kemampuan beradaptasi dan pembaruan strategi kebijakan yang lebih inovatif, inklusif, dan Dengan demikian, pemberdayaan Gen Z bukan hanya investasi masa depan bangsa, tetapi prasyarat mutlak untuk memastikan Indonesia benar-benar mampu memetik manfaat maksimal dari peluang bonus demografi. AU METODE PENELITIAN Penulisan artikel ini menggunakan pendekatan studi pustaka . iterature revie. sebagai metode utama. Studi pustaka dilakukan untuk menghimpun, menelaah, dan menganalisis berbagai sumber ilmiah yang relevan dalam merumuskan strategi pemberdayaan Gen Z sebagai aktor utama bonus demografi Indonesia. Pendekatan penelitian bersifat kualitatif deskriptif, yang bertujuan menggali konsep, teori, data, dan praktik baik . est practice. dari berbagai sumber Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk memetakan persoalan, mengidentifikasi variabel kunci, dan menyusun strategi pemberdayaan berbasis bukti . vidence-base. Data sekunder diperoleh melalui penelusuran pustaka dari berbagai sumber berikut: aAU Buku ilmiah tentang demografi, kependudukan, generasi muda, pendidikan, dan pembangunan SDM. KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. aAU Jurnal nasional dan internasional yang relevan . isal: UNFPA. ILO. OECD. World Bank. Bappena. aAU Dokumen kebijakan dan peraturan perundangan . isal: UU No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaa. aAU Laporan riset lembaga nasional dan internasional terkait kondisi Gen Z di Indonesia. aAU Artikel populer dan media daring kredibel yang mendukung konteks dan data mutakhir. Data dikumpulkan melalui langkah-langkah berikut: aAU Penelusuran sistematis . ystematic searc. pada database daring, perpustakaan digital, dan repository jurnal. aAU Identifikasi kata kunci seperti Aubonus demografiAy. AuGenerasi ZAy. Aupemberdayaan pemudaAy. Austrategi SDM IndonesiaAy. aAU Seleksi sumber yang memenuhi kriteria kredibilitas, relevansi, dan terkini . Ae10 tahun terakhir, jika tersedi. aAU Pencatatan referensi dengan sistem manajemen literatur untuk memudahkan penelusuran Analisis dilakukan melalui tahapan berikut: aAU Reduksi data: menyaring informasi penting sesuai tema pemberdayaan Gen Z. aAU Kategorisasi tematik: mengelompokkan hasil bacaan ke dalam tema seperti karakteristik Gen Z, tantangan bonus demografi, kebijakan pendidikan, keterampilan kerja, kewirausahaan, dan pembangunan karakter. aAU Sintesis: merangkai temuan menjadi narasi terpadu untuk menyusun strategi pemberdayaan yang komprehensif. aAU Validasi teoretis: membandingkan temuan dengan kerangka teori modal manusia dan pendekatan positive youth development. Metode studi pustaka digunakan untuk: aAU Memahami konteks bonus demografi di Indonesia. aAU Menggali karakteristik, potensi, dan tantangan yang dihadapi Gen Z. aAU Merumuskan strategi pemberdayaan Gen Z berbasis data, teori, dan praktik baik. aAU Memberikan rekomendasi yang dapat dijadikan referensi bagi pemerintah, pendidik, praktisi SDM, dan pemangku kepentingan lai HASIL DAN ANALISIS Peran Strategis Generasi Z dalam Mendukung Bonus Demografi Indonesia Generasi Z memegang peran strategis sebagai kelompok usia produktif terbesar dalam struktur penduduk Indonesia menuju puncak bonus demografi pada 2030Ae2040. Sebagai digital-native. Gen Z memiliki keunggulan dalam literasi teknologi, adaptasi inovasi, dan pemikiran kritis yang mendukung transformasi ekonomi digital. Dengan memberdayakan Gen Z secara optimal dan kreatif sesuai potensi terbaiknya, mereka dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing, dan mencapai visi Indonesia Emas 2045. Gen Z dikategorikan sebagai digital nativesOeindividu yang cepat beradaptasi dengan teknologi baru karena lahir di era dengan tingkat penetrasi internet tinggi. media sosial sebagai sumber utama mendapat informasi (Alvin, 2. Artinya kompetensi unik ini dapat digunakan organisasi dan Perusahaan yang mendayagunakan kemampuan Gen dalam memperkuat teknologi digitalisasi di kantornya. Generasi Z memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak utama digitalisasi UMKM di Indonesia, yang hingga kini masih menghadapi kendala dalam literasi teknologi dan strategi pemasaran tradisional. Mereka dapat berperan aktif dengan melatih pelaku UMKM memanfaatkan platform marketplace seperti Tokopedia dan Shopee, membantu memasarkan produk lokal melalui konten kreatif di media sosial seperti Instagram dan TikTok, serta membuat katalog digital KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. sederhana menggunakan Canva atau Google My Business. Kolaborasi lintas generasi antara pelaku UMKM dan Gen Z akan memperkuat kemampuan UMKM bersaing di pasar global, membuktikan bahwa kreativitas dan semangat inovatif generasi muda dapat menjadi katalis percepatan transformasi digital nasional. Menurut Ismail . alam Magd & Jonathan, 2022. Desembrianti & Kurniawati, 2. Generasi Z berperan sebagai motor inovasi UMKM, melalui gagasan segar dalam pengembangan produk, strategi pemasaran digital, serta optimalisasi platform online untuk memperluas jangkauan pasar. Dengan demikian, pemberdayaan generasi muda, khususnya Gen Z, dalam penguatan ekonomi lokal dan modernisasi UMKM yang umumnya digerakkan oleh generasi lebih tua, menjadi sangat penting. Kolaborasi ini dapat mendorong inovasi desain kemasan, pelayanan, pemasaran, dan produksi berbasis teknologi, sehingga meningkatkan daya saing UMKM Indonesia. Sebagaimana ditegaskan dalam studi Dingot Hamonangan Ismail. UMKM yang mampu bertahan dan tumbuh adalah UMKM yang memiliki daya saing tinggi serta berjiwa inovatif. (Sitanggang, 2. Tantangan Utama dalam Pemberdayaan Gen Z sebagai Angkatan Kerja Produktif Meskipun memiliki potensi besar, pemberdayaan Gen Z menghadapi sejumlah tantanganAU seriusAU antaraAU lain:AU ketimpanganAU aksesAU pendidikanAU berkualitas,AU tingkat pengangguran muda masih relatif tinggi, terutama di kalangan lulusan baru yang sulit beradaptasi dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi yang cepat menuntut pembaruan kompetensi secara berkelanjutan, sementara banyak program pendidikan belum sepenuhnya responsif terhadap kebutuhan tersebut. Selain itu, tantangan sosial seperti polarisasi informasi, kecanduan digital, dan krisis nilai juga berpotensi menghambat pengembangan karakter, etika kerja, dan semangat kebangsaan yang dibutuhkan dalam dunia kerja. AU Kurang minat baca dan tulis dari Gen Z Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia, khususnya mereka yang lahir antara 1996Ae2012 dan termasuk dalam generasi Z, cenderung memiliki minat baca dan menulis yang rendah. Oleh karena itu, upaya menumbuhkan budaya literasi harus disesuaikan dengan karakter dan gaya hidup generasi ini, yakni melalui pemanfaatan media sosial dan teknologi digital. Salah satu pendekatan efektif adalah penggunaan konten video pendek di platform seperti TikTok. Instagram, dan YouTube (Nabila et al. , 2. Menurut Kasali . alam Nabila et al. , 2. , era Revolusi Industri 4. 0 menuntut setiap individu untuk berpikir kritis, analitis, kreatif, dan inovatif agar tidak tertinggal dalam arus perubahan dunia kerja. Revolusi ini ditandai oleh munculnya konsep Internet of Things (IoT) dan Internet of People (IoP) yang berpusat pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligenc. serta interaksi antara manusia dan mesin. Pola kerja baru inilah yang menjadikan era tersebut dikenal sebagai Era Disruption Technology, dimana kemampuan adaptasi dan literasi digital menjadi kunci utama keberhasilan generasi muda. (Kasali, 2. AU Tingginya angka Pengangguran Terdidik Di sisi lain. Indonesia tengah menghadapi tantangan serius di bidang ketenagakerjaan, yaitu tingginya angka pengangguran terdidik. Jumlah ini terus meningkat seiring bertambahnya lulusan perguruan tinggi yang tidak seluruhnya terserap oleh pasar kerja. Kondisi tersebut berpotensi memicu lonjakan pengangguran terdidik di masa mendatang. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika pengangguran terdidik di Indonesia serta merumuskan strategi pemerintah dan masyarakat agar era bonus demografi tidak berubah menjadi gelombang pengangguran massal, khususnya di kalangan lulusan berpendidikan tinggi. (Maryati, 2. KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. AU Pengembangan Keterampilan Kognitif Eric Hanushek dan Ludger Woessmann . dalam artikel "The Role of Cognitive Skills in Konsep "Economic Development" menekankan pentingnya penguatan keterampilan kognitif sebagai faktor kunci dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang merupakan tantangan utama dalam mengoptimalkan peluang bonus demografi. (Wardani dkk. Febri Pramudya, 2. Eric Hanushek dan Ludger Woessmann . menekankan bahwa keterampilan kognitifAiseperti kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan bernalar logisAimemegang peran penting dalam mendorong pembangunan ekonomi. Tanpa penguasaan keterampilan ini, bonus demografi hanya akan menghasilkan jumlah tenaga kerja besar tanpa kualitas yang memadai. Contoh: Di Indonesia, banyak lulusan muda masih kesulitan masuk pasar kerja karena hanya menguasai teori, tetapi kurang terlatih dalam berpikir kritis atau menyelesaikan masalah nyata di dunia kerja. Misalnya, lulusan teknik yang paham rumus tetapi belum terbiasa menggunakan critical thinking untuk merancang solusi efisien dalam industri manufaktur. Jika keterampilan kognitif ini diperkuat melalui kurikulum dan pelatihan, maka tenaga kerja muda bisa benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi saat bonus demografi berlangsung. Baik, saya berikan contoh bisnis kreatif yang bisa dimainkan Gen Z di Indonesia dengan memanfaatkan keterampilan kognitif . ritical thinking, problem solving, logical reasonin. seperti dijelaskan di atas adalah: AUEdTech Lokal untuk Critical Thinking Gen Z bisa membangun platform pembelajaran digital . plikasi atau websit. yang fokus melatih keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah praktis. Misalnya, kursus interaktif yang mengajarkan cara membuat analisis data, case study problem solving, atau simulation games untuk mahasiswa dan fresh graduate. Contoh: Startup mirip Ruangguru atau KelasKita, tetapi fokus pada pengembangan soft skills kognitif, bukan hanya pelajaran sekolah. AUKonsultan Inovasi untuk UMKM Banyak UMKM menghadapi masalah operasional, pemasaran, atau efisiensi produksi. Gen Z bisa mendirikan creative consulting hub yang membantu UMKM menemukan solusi inovatif dengan biaya terjangkau. Contoh: tim mahasiswa teknik membantu pengusaha makanan tradisional membuat sistem produksi sederhana yang lebih efisien dengan teknologi murah. AUAgri-Tech Kreatif Indonesia punya potensi pertanian besar, tetapi banyak tantangan efisiensi. Gen Z bisa membangun bisnis smart farming sederhana berbasis IoT atau aplikasi mobile yang membantu petani mengelola pupuk, irigasi, atau pemasaran hasil panen. Contoh: aplikasi FarmHub buatan anak muda yang menghubungkan petani langsung ke konsumen kota melalui e-commerce. AUBisnis Konten Edukasi Problem Solving Gen Z yang aktif di media sosial bisa membuat konten edukatif di YouTube. TikTok, atau podcast tentang cara berpikir kritis, strategi menghadapi wawancara kerja, atau menyelesaikan persoalan bisnis sehari-hari. Contoh: channel TikTok yang memberi tips design thinking untuk pelajar dan pekerja muda. AUStartup Sosial (Social Enterpris. Menggabungkan business social impact. Gen Z bisa membuat usaha yang melibatkan komunitas desa, memanfaatkan teknologi sederhana, lalu memasarkan produknya dengan pendekatan storytelling. Di sini keterampilan kognitif digunakan untuk mengidentifikasi masalah sosial dan merancang solusi kreatif. Contoh: wirausaha muda yang mendirikan bisnis fashion ramah lingkungan dengan melibatkan penjahit lokal, lalu menjualnya lewat platform digital KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Intinya, bisnis kreatif Gen Z di Indonesia bisa berangkat dari kemampuan berpikir kritis untuk melihat masalah nyata, lalu mengubahnya menjadi peluang usaha. Strategi Efektif untuk Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Gen Z Strategi pemberdayaan Gen Z perlu bersifat komprehensif dan terintegrasi. Pertama, reformasi pendidikan diperlukan untuk memastikan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri, termasuk penguatan literasi digital, keterampilan abad 21, dan pendidikan karakter. Kedua, pelatihan vokasi dan program magang . harus diperluas untuk menutup kesenjangan keterampilan praktis. Ketiga, dukungan pada kewirausahaan muda melalui akses pembiayaan, inkubasi bisnis, dan pendampingan dapat mendorong terciptanya lapangan kerja Selain itu, penguatan layanan ketenagakerjaan, penyelarasan kebutuhan industri dengan dunia pendidikan, serta program pembelajaran sepanjang hayat . ifelong learnin. menjadi kunci agar Gen Z tetap adaptif dalam menghadapi disrupsi teknologi dan perubahan pasar kerja. AU Mempelajari soft skill Menurut (Ismail et al. , 2. Gen Z perlu menguasai minimal 10 soft skills penting untuk menghadapi persaingan global di era Revolusi Industri 4. 0 dan Society 5. 0, yaitu: UAU Pemecahan Masalah Kompleks Ae Kemampuan ini terbentuk melalui pengalaman dan kerja keras tanpa pola baku tertentu, membantu menghadapi tantangan yang rumit. UAU Berpikir Kritis Ae Kemampuan menganalisis masalah secara mendalam dan logis untuk menghasilkan penilaian yang tepat. UAU Kreativitas Ae Daya cipta dan inovasi diperlukan agar mampu menawarkan solusi baru dan bersaing secara unik. UAU Manajemen Manusia Ae Keterampilan mengelola dan memimpin tim untuk mencapai tujuan bersama. UAU Koordinasi dengan Orang Lain Ae Kemampuan bekerja sama secara efektif, karena keberhasilan tim tergantung pada kolaborasi yang baik. UAU Kecerdasan Emosional Ae Keterampilan mengelola emosi diri sendiri dan memahami emosi orang lain untuk membangun hubungan yang positif. UAU Penilaian dan Pengambilan Keputusan Ae Kemampuan membuat keputusan yang tepat dan cepat, baik dalam konteks kerja maupun kehidupan sehari-hari. UAU Orientasi Pelayanan Ae Sikap proaktif untuk membantu dan melayani kebutuhan orang lain. UAU Negosiasi Ae Kemampuan mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan tanpa konflik yang merusak. UAU Fleksibilitas Kognitif Ae Kemampuan menyesuaikan diri dengan beragam ide, pendapat, dan karakter orang lain untuk membangun interaksi yang efektif. Untuk memastikan 10 soft skills di atas menjadi ciri melekat dan Gen Z Indonesia pemerintah bekerjasama dengan dunia usaha dan Perguruan tinggi dalam membuat program nasional seperti Au Program Nasional AuSoft Skills Bootcamp Gen ZAy. Program ini hadir sebagai jawaban atas tantangan Revolusi Industri 4. 0 dan Society 5. 0, dimana keterampilan teknis saja tidak lagi cukup. Gen Z, sebagai generasi digital native, perlu diperkaya dengan soft skills seperti berpikir kritis, manajemen manusia, kecerdasan emosional, hingga kemampuan beradaptasi. AU Mempelajari keterampilan masa depan Perkembangan teknologi di era Revolusi Industri 4. 0 telah membawa perubahan besar dalam dunia kerja. Kecerdasan buatan, otomatisasi, dan digitalisasi kini merambah hampir seluruh sektor ekonomi, mengubah cara organisasi beroperasi dan bagaimana pekerjaan dilakukan. Transformasi ini memang meningkatkan efisiensi serta produktivitas, namun sekaligus menggeser model kerja tradisional karena banyak tugas yang dulu dilakukan manusia kini dapat Mesin yang mampu belajar dari data dan mengambil keputusan secara mandiri telah menggantikan tenaga manusia, mulai dari lini produksi hingga proses analisis data. Akibatnya. KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. sejumlah jenis pekerjaan mengalami penyusutan bahkan menjadi tidak relevan lagi. Kondisi ini menuntut para pekerja untuk membekali diri dengan kompetensi baruAimulai dari literasi digital, kemampuan analitis, kreativitas, hingga kesiapan beradaptasi dengan teknologiAiagar tetap kompetitif dan relevan di pasar kerja yang terus berubah. Pandangan senada dikatakan Hamonangan Ismail. Nugroho. Akbarona. , & Caniago . ia mengatakan bahwa perubahan dinamika kerja akibat dominasi generasi digital dan meningkatnya penggunaan media sosial membutuhkan strategi baru untuk meningkatkan kinerja karyawan. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia melalui pendidikan, pelatihan vokasi, dan pengembangan soft skills menjadi kunci untuk memastikan generasi muda siap menghadapi disrupsi teknologi dan dapat bersaing di pasar kerja digital. Artinya agar bonus demografi dapat diraih maka aspek masih harus dikaji lebih lanjut, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia agar dapat bersaing dan mendapatkan pekerjaan yang kompetitif di bidang terkait teknologi baru seperti AI. Pemanfaatan internet dan GCF dapat berjalan bersama-sama melalui investasi baru berbasis IT sehingga masyarakat Indonesia juga terdepan dengan perkembangan dan dapat mempelajari keterampilan yang relevan di masa depan. Untuk keterbukaan perdagangan di masa depan, alangkah baiknya jika Indonesia dapat berpartisipasi lebih banyak dalam rantai nilai. (Meilia, 2. AU Pengembangan GIG Ekonomi Gig Economy telah berkembang di Indonesia, namun dalam implementasinya masih terjebak di sektor transportasi dan bisnis antara barang, makanan dan manusia. Perkembangan Gig Economy di Indonesia belum mengeksplorasi sektor industri ekonomi kreatif dan sektor padat pengetahuan lainnya. Hasil penelitian makalah ini bahwa gig economy telah menjadi solusi kerja bagi Gen Z dan Gen Millennial dan telah menjadi tren baru di negara maju. Sayangnya di Indonesia, tingkat kesadaran generasi muda di Indonesia masih rendah terhadap Gig Economy. Kemudian Gig Economy yang berkembang di Indonesia dimulai di sektor transportasi dan saat ini mulai berkembang ke sektor lain. Dengan tingginya jumlah anak muda di Indonesia dan banyaknya pengangguran di Indonesia. Gig Economy dapat menjadi Solusi (Nugroho et al. Peran Pemangku Kepentingan dalam Mendukung Pemberdayaan Gen Z Pemberdayaan Generasi Z sebagai motor utama bonus demografi menuntut adanya kolaborasi lintas sektor yang kuat. Pemerintah perlu merancang kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan yang inklusif, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta menyediakan infrastruktur pelatihan dan layanan ketenagakerjaan yang memadai. Lembaga pendidikan dituntut untuk menerapkan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri, memperkuat kemitraan dengan dunia usaha, dan menanamkan nilai-nilai karakter serta semangat kebangsaan kepada peserta didik. Di sisi lain, sektor swasta diharapkan turut berkontribusi melalui program magang, pelatihan kerja, inovasi pembelajaran, dan dukungan kewirausahaan. Sementara itu, keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam menanamkan etika kerja, karakter, dan semangat kolaboratif sejak dini. Sinergi antar seluruh pemangku kepentingan merupakan faktor kunci dalam upaya memberdayakan Generasi Z, sehingga Indonesia dapat memaksimalkan manfaat bonus demografi. Selaras dengan pandangan Satyadewi, keberhasilan ini hanya dapat dicapai apabila terdapat visi yang jelas, strategi yang tepat, serta kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia industri, dan Dengan kerja sama yang solid, bonus demografi dapat benar-benar menjadi landasan bagi terwujudnya masa depan bangsa yang sejahtera dan berkelanjutan. (Satyahadewi et al. , 2. Apalagi menurut ahli berikut, bahwa perubahan jumlah penduduk . eperti pertumbuhan, penuaan, atau migras. dan struktur penduduk . isal usia produktif vs nonprodukti. tidak hanya berdampak secara demografis, tetapi juga membawa konsekuensi politik yang sangat besar. KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Artinya, bagaimana dampak sosial dan politik dari perubahan penduduk tidak otomatis terjadi begitu saja, tetapi sangat bergantung pada bagaimana pemerintah dan aktor politik mengelola atau bahkan memanipulasi perubahan tersebut. Karena itu perencanaan yang baik, atau kegagalan merencanakan, akan menentukan apakah perubahan populasi menjadi peluang atau justru sumber masalah seperti konflik, kemiskinan, atau ketimpangan (Goerres & Vanhuysse, n. Oleh karena itu, selain kesiapan dari generasi mudanya sendiri, dibutuhkan pula keterlibatan aktif pemerintah melalui kebijakan strategis yang mampu menciptakan ekosistem yang mendukung generasi muda untuk berinovasi, berkarya, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Dengan demikian, arah kebijakan publik di Indonesia harus bersifat adaptif terhadap perubahan, responsif terhadap kebutuhan generasi muda, serta visioner dalam mengarahkan potensi mereka agar sesuai dengan keunggulan dan minat yang dimiliki (Alamanda et al. , 2. Penelitian ini merekomendasikan tujuh langkah strategis utama yang selanjutnya dijabarkan ke dalam program yang lebih terperinci, meliputi: kebijakan pengendalian pertumbuhan penduduk, peningkatan mutu pendidikan, peningkatan kompetensi tenaga kerja, peningkatan kualitas kesehatan, pemerataan persebaran penduduk, penguatan daya dukung lingkungan, serta dukungan terhadap kebijakan makroekonomi. Melalui perancangan dan pelaksanaan kebijakan yang tepat pada ketujuh bidang tersebut, diharapkan Indonesia mampu mengoptimalkan potensi bonus demografinya (Edo, 2. Lebih dari sekadar mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, bonus demografi juga berperan penting dalam memperkuat stabilitas negara dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Stabilitas nasional menjadi aspek yang sangat vital, terutama di tengah meningkatnya ancaman terhadap persatuan bangsa akibat maraknya intoleransi. Menurut Mahfud M. Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008Ae2013, tanda- tanda perpecahan bangsa semakin jelas terlihat akibat pengaruh politik identitas dan penyebaran hoaks yang memicu polarisasi di tengah masyarakat (Wicaksono, 2. Karena itu, diperlukan langkah nyata dan strategis untuk menjaga keutuhan serta persatuan bangsa di tengah dinamika sosial dan politik yang berkembang. (Arieputri, 2. KESIMPULAN Generasi Z memegang peran strategis dalam mendukung tercapainya potensi bonus demografi Indonesia pada 2030Ae2040. Sebagai digital-native. Gen Z memiliki keunggulan dalam literasi teknologi, adaptasi inovasi, serta pemikiran kritis yang mendukung transformasi ekonomi digital dan pembangunan berkelanjutan. Mereka berpotensi menjadi motor penggerak pengembangan UMKM, pencipta lapangan kerja baru melalui kewirausahaan, dan akselerator transformasi ekonomi berbasis pengetahuan. Namun, potensi besar ini masih menghadapi tantangan serius, seperti kesenjangan akses pendidikan berkualitas, tingginya angka pengangguran terdidik, rendahnya minat baca-tulis, dan kebutuhan mendesak untuk pembaruan kompetensi menghadapi disrupsi teknologi. Transformasi pasar kerja akibat otomatisasi dan kecerdasan buatan juga mengharuskan generasi muda memiliki keterampilan baru yang adaptif. Strategi pemberdayaan Gen Z harus komprehensif, meliputi reformasi pendidikan, penguatan pelatihan vokasi, pengembangan kewirausahaan, pembelajaran sepanjang hayat, serta penguasaan soft skills dan keterampilan masa depan. Keberhasilan memanfaatkan bonus demografi sangat bergantung pada kolaborasi erat antar pemangku kepentinganAipemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta, masyarakat, dan keluargaAidalam menyiapkan lingkungan yang mendukung dan kebijakan publik yang adaptif. Tanpa perencanaan yang matang dan eksekusi yang baik, bonus demografi berpotensi menjadi beban sosial berupa pengangguran massal, ketimpangan, dan keresahan sosial. SARAN Untuk menyiapkan Generasi Z menghadapi tantangan masa depan. Indonesia perlu melakukan langkah strategis di berbagai bidang. Pertama, sistem pendidikan harus dibenahi agar KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. selaras dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi. Kurikulum tidak hanya menekankan ilmu akademik, tetapi juga literasi digital, keterampilan abad 21, pendidikan karakter, serta soft skills. Program vokasi dan magang pun perlu diperkuat melalui kemitraan erat dengan dunia industri. Kedua, akses terhadap pelatihan dan pengembangan keterampilan harus diperluas. Gen Z di seluruh pelosok, termasuk daerah dengan akses terbatas, perlu kesempatan yang sama untuk belajar berbasis teknologi. Prinsip lifelong learning juga penting agar mereka selalu siap menghadapi perubahan pasar kerja yang cepat dan Ketiga, adalah agar persoalan pengangguran terdidik perlu ditangani dengan serius. Sistem ketenagakerjaan harus lebih inklusif dan responsif, dengan cara menyelaraskan kebutuhan industri dan output pendidikan. Layanan penyaluran kerja yang efisien, bimbingan karier, serta platform digital dapat menjadi jembatan antara lulusan muda dan peluang kerja. Keempat, kewirausahaan muda perlu diperkuat. Akses pembiayaan, inkubasi bisnis, pendampingan, dan pelatihan manajemen usaha harus tersedia luas. Kolaborasi lintas generasi dalam UMKM juga penting untuk melahirkan inovasi dan meningkatkan daya saing. Kelima, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Pemerintah, swasta, dunia pendidikan, keluarga, dan masyarakat harus bergerak bersama. Pemerintah merumuskan kebijakan inklusif, dunia usaha membuka peluang magang dan startup, pendidikan menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan keterampilan, sementara keluarga menanamkan etika kerja, literasi, dan semangat kebangsaan. Terakhir, kebijakan publik harus antisipatif. Pemerintah perlu mengambil keputusan berbasis data, cepat, dan adaptif. Perencanaan demografis harus menyatu dengan strategi pembangunan ekonomi, sosial, dan politik, agar bonus demografi benar-benar menjadi berkah, bukan beban. REFERENSI