Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Strategi Optimalisasi Dokumentasi Keperawatan Melalui Peningkatan Motivasi Perawat Puput Risti Kusumaningrum1*. Ratna Agustiningrum2. Arlina Dhian Sulistyowati3 1,2,3 Fakultas Kesehatan dan Teknologi . Universitas Muhammadiyah Klaten Email: puputristi89@gmail. Abstrak Dokumentasi asuhan keperawatan merupakan komponen esensial dalam praktik keperawatan profesional, berfungsi sebagai alat komunikasi antar profesional kesehatan dan sebagai bukti legal atas tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Namun, kualitas dokumentasi keperawatan di Indonesia sering kali belum memenuhi standar yang diharapkan. Tujuan pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah menganalisa tingkat pengetahuan responden sebelum dan setelah dilakukan coaching dokumentasi keperawatan melalui peningkatan motivasi. Metodologi pada kegiatan ini yaitu dilakukan pengukuran tingkat pengetahuan sebelum dan setelah coaching tentang dokumentasi keperawatan melalui peningkatan motivasi perawat. Pada kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini didapatkan hasil sebelum dilakukan coaching dengan pengetahuan cukup sebanyak 14 . ,4%) orang dan baik sebanyak 3 . ,6%) orang. Setelah diberikan coaching tingkat pengetahuan responden menjadi meningkat dengan pengetahuan baik sebanyak 17 . %) orang. Kesimpulan : hasil setelah dilakukan coaching dapat dilihat pengetahuan responden meningkat dan metode ini dinilai efektif untuk meningkatkan pengetahuan responden. Keywords: Coaching. Dokumentasi keperawatan. Motivasi. Perawat PENDAHULUAN Dokumentasi asuhan keperawatan merupakan komponen vital dalam pelayanan kesehatan, berfungsi sebagai alat komunikasi antar profesional, indikator kualitas pelayanan, serta bukti tanggung jawab dan legalitas praktik keperawatan. Namun, kualitas dan ketepatan pendokumentasian sering kali belum optimal, yang dapat berdampak negatif pada keselamatan pasien dan akreditasi rumah sakit. Motivasi perawat memainkan peran krusial dalam meningkatkan kualitas dokumentasi keperawatan. Perawat yang termotivasi cenderung lebih teliti dan konsisten dalam mencatat setiap langkah asuhan keperawatan, memastikan informasi yang akurat dan lengkap tersedia untuk tim kesehatan lainnya. Studi menunjukkan bahwa peningkatan motivasi kerja perawat berhubungan positif dengan ketepatan pengisian dokumentasi asuhan keperawatan (Erna NK, 2. Oleh karena itu, optimalisasi dokumentasi keperawatan melalui peningkatan motivasi perawat menjadi sangat penting. Upaya ini dapat dilakukan melalui berbagai strategi, seperti pelatihan dan pendidikan berkelanjutan, penguatan peran manajerial kepala ruang, serta pemberian penghargaan dan pengakuan kepada perawat yang menunjukkan kinerja unggul dalam pendokumentasian. Dengan demikian, diharapkan kualitas dokumentasi asuhan Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 keperawatan dapat meningkat, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada keselamatan pasien dan kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Dokumentasi asuhan keperawatan merupakan komponen esensial dalam praktik keperawatan profesional, berfungsi sebagai alat komunikasi antar profesional kesehatan dan sebagai bukti legal atas tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Namun, kualitas dokumentasi keperawatan di Indonesia sering kali belum memenuhi standar yang diharapkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kelengkapan dokumentasi asuhan keperawatan masih kurang optimal (Yulanda. Mita, & Budiharto, 2. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas dokumentasi keperawatan adalah motivasi kerja perawat. Perawat dengan motivasi tinggi cenderung lebih patuh dan teliti dalam mencatat setiap intervensi keperawatan yang diberikan kepada pasien. Sebaliknya, rendahnya motivasi dapat mengakibatkan ketidakpatuhan dalam pendokumentasian, yang berdampak pada penurunan kualitas pelayanan dan potensi masalah hukum. Penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara motivasi kerja perawat dengan kinerja dalam pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan (Yanti. , & Warsito, 2. Analisis situasi ini menunjukkan bahwa untuk mengoptimalkan dokumentasi keperawatan, diperlukan upaya peningkatan motivasi kerja perawat melalui berbagai strategi, seperti pelatihan dan pendidikan berkelanjutan, penguatan peran supervisi kepala ruang, serta pemberian penghargaan dan pengakuan kepada perawat yang menunjukkan kinerja unggul dalam Dengan demikian, diharapkan kualitas dokumentasi asuhan keperawatan dapat meningkat, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada keselamatan pasien dan kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan (Nivalinda. Hartini. , & Santoso. Penelitian (Wati E, 2. di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara menunjukkan bahwa sebanyak 70,8% perawat mengalami beban kerja berat dalam mengisi dokumentasi keperawatan, dengan sebagian besar dokumentasi di ruang inap tercatat tidak lengkap . ,9%). Analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara beban kerja perawat dan tingkat kelengkapan dokumentasi, dengan nilai korelasi Spearman r=0,688 dan p=0,000 < 0,05. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi beban kerja perawat, semakin besar kemungkinan terjadi ketidaklengkapan dalam dokumentasi asuhan keperawatan. Penelitian lain oleh (Kimalaha N. Mahfud M, 2. di RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo menemukan bahwa perawat dengan beban kerja tinggi cenderung mengalami kesulitan dalam mengisi dokumentasi asuhan keperawatan secara komprehensif. Pengetahuan yang baik Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 tentang pengisian dokumen asuhan keperawatan berkorelasi positif dengan kelengkapan dokumentasi . =0,. Permasalahan yang terjadi yang sering muncul dan dihadapi di rumah sakit dalam pelaksanaan asuhan keperawatan adalah banyak perawat yang belum melakukan pelayanan sesuai pendokumentasian asuhan keperawatan. Pelaksanaan asuhan keperawatan juga tidak disertai pendokumentasian yang lengkap. Perawat mengeluh banyaknya pekerjaan yang dilakukan sehingga dalam pendokumentasian sering diabaikan. Fenomena tersebut mendorong Tim Pengabdian Masyarakat untuk menyelenggarakan program Strategi Optimalisasi Dokumentasi Keperawatan melalui Peningkatan Motivasi Perawat. Tujuan dilakukan implementasi coaching tentang dokumentasi keperawatan, diharapkan perawat termotivasi dalam melaksanakan pendokumentasian keperawatan dengan benar dan lengkap untuk meningkatkan kualitas perawatan, serta mengurangi risiko kesalahan medis dan ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan. METODE KEGIATAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis, 27 dan 29 Agustus 2025 bertempat di RSU PKU Muhammadiyah Prambanan. Sasaran kegiatan coaching ini adalah seluruh perawat rawat inap yang berjumlah 17 orang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu Pencanaan dan Persiapan Survey Awal: Melakukan survey untuk mengetahui pengetahuan dan motivasi perawat dalam melaksanakan dokumentasi keperawatan dan fasilitas yang ada untuk meningkatkan dokumentasi keperawatan. Koordinasi dengan Stakeholder : Mengadakan koordinasi dengan bagian diklat untuk mendapatkan dukungan dan partisipasi dalam program ini. Penyusunan pelaksanaan coaching : Membuat materi coaching tentang program Strategi Optimalisasi Dokumentasi Keperawatan melalui Peningkatan Motivasi Perawat. Persiapan Logistik: Menyiapkan sarana dan prasarana serta bahan pendukung lainnya. Pelaksanaan Coaching Coaching : Mengadakan pertemuan dengan perawat untuk memperkenalkan program Strategi Optimalisasi Dokumentasi Keperawatan melalui Peningkatan Motivasi Perawat. Menyelenggarakan coaching kepada perawat rawat inap. Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Evaluasi dan Follow-up Penilaian Awal dan Akhir : Melakukan evaluasi sebelum dan sesudah program coaching untuk mengukur Tingkat pengetahuan perawat terkait dokumentasi Feedback dari perawat : Mengumpulkan masukan dari perawat dan terkait efektivitas program serta saran untuk perbaikan. Pelaporan dan Dokumentasi : Membuat laporan kegiatan yang mencakup hasil evaluasi, dokumentasi foto, serta rekomendasi untuk pengembangan lebih lanjut. Program Berkelanjutan : Menyusun rencana tindak lanjut untuk memastikan bahwa strategi optimalisasi dokumentasi keperawatan menjadi program penting yang berkelanjutan di rumah sakit tersebut, seperti melalui program monitoring rutin atau coaching berkala. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diawali dengan melakukan koordinasi dengan mitra dalam pelaksanaan coaching dokumentasi keperawatan melalui peningkatan motivasi perawat kemudian melanjutkan dengan membuat materi coaching dan kuesioner evaluasi tingkat pengetahuan. Selanjutnya persamaan persepsi dengan asisten PkM. Langkah selanjutnya yaitu mempersiapkan kuesioner tingkat pengetahuan dan materi dokumentasi Kegiatan ini didukung penuh oleh mitra yaitu RSU PKU Muhammadiyah Prambanan sehingga dapat berjalan dengan lancar. Perawat mengikuti kegiatan dengan Gambar 1. Pelaksanaan coaching Dokumentasi Keperawatan Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Tabel 1. Hasil Coaching Dokumentasi Keperawatan Sebelum Sesudah Intervensi Coaching Kurang Cukup . (%) . (%) Total Baik . (%) . (%) Berdasarkan tabel 1 didapatkan hasil pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat bahwa sebelum dilakukan coaching dengan pengetahuan cukup sebanyak 14 . ,4%) orang dan baik sebanyak 3 . ,6%) perawat. Sesudah diberikan coaching tingkat pengetahuan responden menjadi meningkat dengan pengetahuan baik sebanyak 17 . %) perawat. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang sangat signifikan pada tingkat pengetahuan perawat mengenai dokumentasi keperawatan setelah diberikan kegiatan refresh ilmu melalui metode coaching. Sebelum dilakukan intervensi, mayoritas perawat berada pada kategori pengetahuan cukup sebanyak 14 orang . ,4%), sementara yang memiliki pengetahuan baik hanya 3 orang . ,6%). Setelah dilakukan coaching, seluruh responden . %) menunjukkan peningkatan ke kategori Temuan ini memperlihatkan bahwa metode pembelajaran singkat yang berbasis praktik dan pendampingan . terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan perawat. Menurut teori andragogi dari Knowles, orang dewasa belajar lebih efektif apabila memungkinkan mereka untuk segera menerapkan pengetahuan yang didapat (Taylor, 2. Coaching yang dilakukan dalam kegiatan ini memenuhi prinsip tersebut, karena materi difokuskan pada praktik nyata dokumentasi keperawatan yang sehari-hari dilakukan oleh Selain itu, pendekatan coaching memungkinkan adanya interaksi dua arah, diskusi, serta pemberian contoh kasus sehingga pengetahuan lebih mudah dipahami dan diingat. Hasil ini sejalan dengan Model Evaluasi Pelatihan Kirkpatrick, terutama pada Level 2 (Learnin. , yaitu peningkatan pengetahuan peserta setelah pelatihan (Kirkpatrick. , & Kirkpatrick, 2. Namun demikian, untuk memastikan keberlanjutan hasil, perlu dilanjutkan evaluasi pada Level 3 (Behavio. dengan melihat perubahan perilaku dokumentasi di lapangan serta Level 4 (Resul. dengan menilai dampaknya terhadap mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Bukti penelitian menunjukkan bahwa coaching dalam keperawatan memberikan kontribusi nyata pada pengembangan professional (Richardson C, 2. dalam tinjauan literaturnya menyatakan bahwa coaching efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan komunikasi, serta kepatuhan perawat terhadap standar praktik. Penelitian lain oleh (Sato A. Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 2. menemukan bahwa pelatihan coaching dapat meningkatkan perilaku positif perawat yang dinilai oleh rekan sejawat maupun atasan. Secara khusus pada aspek dokumentasi keperawatan, penelitian sistematik yang dilakukan oleh (Bunting J, 2. menunjukkan bahwa intervensi seperti pelatihan singkat, audit, dan feedback personal terbukti meningkatkan kepatuhan dokumentasi hingga di atas Bahkan, (Jefferies D, 2. melalui program ward-based writing coach melaporkan perbaikan signifikan pada kualitas isi dokumentasi, kelengkapan, serta kejelasan pencatatan setelah dilakukan pendampingan. Temuan ini mendukung hasil pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan, di mana perawat menjadi lebih paham dan terampil dalam melakukan pencatatan sesuai standar. Dari perspektif mutu pelayanan dan keselamatan pasien, dokumentasi yang baik merupakan aspek krusial. Dokumentasi keperawatan tidak hanya berfungsi sebagai catatan medis, tetapi juga sebagai sarana komunikasi antar tenaga kesehatan, bukti legal, dasar untuk evaluasi asuhan, serta indikator mutu pelayanan (Bjerkan J, 2. Hambatan dalam dokumentasi, seperti kurangnya pengetahuan atau keterampilan, dapat berimplikasi pada menurunnya keselamatan pasien. Dengan demikian, peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah coaching merupakan modal penting untuk meningkatkan keselamatan pasien melalui pencatatan yang akurat dan tepat waktu. Implikasi praktis dari kegiatan PkM ini adalah perlunya keberlanjutan program coaching dalam bentuk pelatihan berkala, mentoring, maupun audit dokumen secara rutin. Studi (Zhang L, 2. menegaskan bahwa pelatihan berulang mengenai pengendalian mutu dokumen keperawatan berpengaruh positif terhadap pengetahuan, sikap, dan praktik (KAP) Hal ini berarti, apabila coaching tidak hanya dilakukan sekali, tetapi dikombinasikan dengan tindak lanjut berupa evaluasi dan umpan balik, maka dampaknya akan lebih berkelanjutan terhadap perilaku dan mutu layanan. Selain itu, berdasarkan teori manajemen perubahan (Lewi. , kegiatan ini dapat dipandang sebagai tahap unfreezing dan changing, yaitu membuka kesadaran tentang pentingnya dokumentasi dan mengubah pola pikir serta perilaku perawat melalui coaching. Agar perubahan dapat dipertahankan . , perlu dukungan kebijakan dari manajemen rumah sakit, misalnya penyediaan format dokumentasi yang mudah digunakan, supervisi berkelanjutan, serta pemberian penghargaan bagi perawat yang konsisten melakukan dokumentasi dengan baik (Mabunda. , 2. Dengan demikian, hasil pengabdian ini memperkuat bukti bahwa coaching dokuemntasi merupakan strategi efektif untuk meningkatkan pengetahuan perawat mengenai dokumentasi keperawatan. Selain berdampak Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 pada peningkatan individu, kegiatan ini juga mendukung tercapainya standar mutu pelayanan keperawatan serta meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa refresh ilmu melalui metode coaching terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan perawat mengenai dokumentasi Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan, di mana sebelum kegiatan mayoritas perawat berada pada kategori pengetahuan cukup . ,4%) dan hanya sebagian kecil yang memiliki pengetahuan baik . ,6%), sedangkan setelah dilakukan coaching seluruh responden . %) mencapai kategori pengetahuan baik. Peningkatan ini sejalan dengan teori andragogi yang menekankan pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman nyata dan relevan dengan kebutuhan kerja. Selain itu, keberhasilan intervensi juga dapat dijelaskan melalui teori manajemen perubahan Lewin, di mana coaching berperan dalam tahap unfreezing . embangkitkan kesadara. dan changing . engubah perilak. , sementara keberlanjutannya perlu didukung pada tahap refreezing. Hasil ini menegaskan bahwa coaching merupakan strategi efektif untuk memperbaiki pengetahuan sekaligus mendukung peningkatan kualitas dokumentasi, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan antara lain diharapkan perawat dapat mempertahankan dan menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam praktik seharihari, sehingga dokumentasi keperawatan dilakukan secara lengkap, akurat, dan tepat waktu. Bagi manajemen Rumah Sakit dapat menyusun kebijakan internal terkait standar dokumentasi, penyediaan format yang mudah digunakan, serta melakukan supervisi dan audit UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, tenaga, sumbangan pemikiran, dukungan moril, sarana serta dana selama penyelesaian pengabdian kepada masyarakat ini. DAFTAR PUSTAKA