Jurnal Peduli Masyarakat Volume 7 Nomor 3. Mei 2025 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM PENINGKATAN PENGETAHUAN PENDERITA DIABETES MELITUS TENTANG FAKTOR RESIKO KEJADIAN DIABETES MELITUS TIPE II MELALUI PENDIDIKAN KESEHATAN Evi Martalinda Harefa*. Lismawati Pertiwi Waruwu Program Studi Di Keperawatan Gunungsitoli. Poltekkes Kemenkes Medan. Jl. Meteorologi No. Dusun 2. Desa Onowaembo. Gunungsitoli. Gunungsitoli. Sumatera Utara 22811. Indonesia *eviharefa19@gmail. ABSTRAK Diabetes Melitus merupakan penyakit gangguan metabolisme gula darah menahun ditandai dengan tingginya kadar gula darah yang disebabkan oleh gangguan sekresi insulin, resistensi insulin atau Diabetes Melitus merupakan masalah kesehatan yang tersebar luas, sehingga diperlukan suatu program pengendalian terutama pengendalian terhadap faktor risiko terjadinya Diabetes Melitus. Peningkatan Pengetahuan tentang factor risiko terjadinya Diabetes Melitus adalah merupakan salah satu program pengendalian penyakit Diabetes Melitus yang dapat dilakukan melalui Pendidikan Kesehatan. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang faktor risiko Diabetes Melitus tipe 2 pada penderita Diabetes Melitus melalui pendidikan kesehatan. Metode yang digunakan adalah metode ceramah dan diskusi. Kegiatan diawali dengan melakukan penilaian terhadap pengetahuan penderita diabetes melitus sebagai data pre test, selanjutnya dilakukan pendidikan kesehatan, dan diakhir dengan penilaian kembali terhadap pengetahuan penderita diabetes melitus sebagai data post test. Hasil pengabdian masyarakat ini adalah adanya peningkatan pengetahuan penderita Diabetes Melitus tentang faktor risiko Diabetes Melitus Tipe 2, dimana hasil uji Wilcoxon didapatkan nilai p= 0,001 . <0,. yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan. Saran yang diberikan kepada penderita Diabetes Melitus adalah agar memanfaatkan pengetahuan tentang faktor risiko Diabetes Melitus Tipe 2 dalam mengendalikan kadar glukosa darahnya. Kata kunci: faktor resiko. kejadian diabetes melitus. penderita diabetes melitus. pendidikan kesehatan. IMPROVING KNOWLEDGE OF DIABETES MELLITUS PATIENTS ABOUT RISK FACTORS OF DIABETES MELLITUS TYPE II THROUGH HEALTH EDUCATION ABSTRACT Diabetes Mellitus is a chronic blood sugar metabolism disorder characterized by high blood sugar levels caused by impaired insulin secretion, insulin resistance or both. Diabetes Mellitus is a widespread health problem, so a control program is needed, especially control of risk factors for Diabetes Mellitus. Increasing knowledge about risk factors for Diabetes Mellitus is one of the Diabetes Mellitus disease control programs that can be carried out through Health Education. The purpose of this community service activity is to increase knowledge about risk factors for type 2 Diabetes Mellitus in Diabetes Mellitus sufferers through health education. The method used is the lecture and discussion method. The activity begins with an assessment of the knowledge of diabetes mellitus sufferers as pre-test data, then health education is carried out, and ends with a re-assessment of the knowledge of diabetes mellitus sufferers as post-test data. The results of this community service are an increase in knowledge of Diabetes Mellitus sufferers about risk factors for Type 2 Diabetes Mellitus, where the Wilcoxon test results obtained a p value = 0. <0. which means there is a significant difference between knowledge before and after being Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group given health education. The advice given to people with Diabetes Mellitus is to utilize knowledge about the risk factors for Type 2 Diabetes Mellitus in controlling their blood glucose levels Keywords: diabetes mellitus occurrence. diabetes melitus sufferers. health education. PENDAHULUAN Penyakit diabetes melitus adalah merupakan penyakit dengan ciri khas terjadinya peningkatan kadar gula darah yang disebabkan oleh resistensi insulin, penurunan produksi insulin, atau keduanya (Lutfiani, 2. Diabetes Melitus merupakan salah satu masalah kesehatan yang mendapatkan perhatian khusus karena prevalensinya yang tinggi dan dampaknya yang sangat berat bagi kehidupan. (Cicilia L. Kaunang, & Langi L. G, 2. Menurut data International Diabetes Federation (IDF),463 juta jiwa di seluruh dunia berusia 20-79 tahun diperkirakan menderita diabetes melitus pada tahun 2019. Menurut IDF, prevalensi diabetes melitus 9,65% pada laki-laki dan 9% pada perempuan pada tahun 2019. Seiring dengan bertambahnya usia penduduk, prevalensi diabetes melitus diprediksi meningkat hingga mencapai 19,9% atau mencapai 111,2 juta jiwa pada usia 65-79 tahun. IDF juga telah memproyeksikan jumlah penderita Diabetes Melitus pada penduduk umur 20 -79 tahun pada beberapa Negara didunia dan telah mengidentifikasi 10 negara dengan jumlah penderita tertinggi dan Indonesia berada di peringkat ke 7 diantara 10 negara dengan jumlah penderita terbanyak yaitu sebesar 10,7 juta(Kemenkes RI, 2. Data yang diperoleh dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 berdasarkan diagnosis dokter menunjukkan sebanyak 2% penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas menderita diabetes melitus. Angka ini lebih tinggi dari angka prevalensi diabetes melitus pada penduduk usia 15 tahun ke atas yang tercatat sebesar 1,5% pada hasil Riskesdas 2013. Dari 34 Provinsi di Indonesia. Sumatera Utara merupakan Provinsi dengan jumlah penderita terbanyak ke-13 menurut Riskesdas 2018 (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Berdasarkan Riskesdas 2018, persentase penduduk Sumatera Utara yang terdiagnosis Diabetes Melitus oleh dokter meningkat dari 1,8% pada tahun 2013 menjadi 2,0% pada tahun 2018. Berdasarkan data Riskesdas 2018. Kota Gunungsitoli menempati posisi teratas dengan persentase prevalensi DM tertinggi di Sumatera Utara, yakni sebesar 2,86% (Riskesdas Provinsi Sumatera Utara, 2. Penyakit Diabetes melitus akan memberikan dampak buruk bagi penderitanya apabila tidak dicegah atau ditangani dengan baik. Penyakit Jantung Koroner (PJK), ulkus kaki diabetik, stroke, dan gagal ginjal merupakan beberapa komplikasi diabetes melitus yang bisa muncul dan dapat berakibat fatal (Decroli, 2. Berbagai komplikasi ini dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia dan mengakibatkan peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar. Untuk mencegah berbagai komplikasi yang muncul ini diperlukan program pengendalian, seperti pengelolaan faktor risiko terjadinya diabetes melitus, terutama faktor risiko yang dapat dimodifikasi (Suiraoka, 2. Kementerian Kesehatan . menyatakan bahwa faktor risiko terjadinya diabetes melitus adalah faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi antara lain merokok (Halim, 2. , kelebihan berat badan (Pratiwi, 2. , tidak berolahraga (Cicilia L, 2. , dan tekanan darah tinggi (Trisnawati & Setyorogo. Usia (Trisnawati & Setyorogo, 2. , jenis kelamin (Irawan, 2. , dan riwayat keluarga penderita diabetes melitus (Kekenusa. Ratag, & Wuwungan, 2. merupakan salah satu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi (Kemenkes RI, 2. Peningkatan pengetahuan individu terhadap faktor risiko terjadinya diabetes melitus dapat membantu mengendalikan terjadinya Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group penyakit tersebut (Suiraoka, 2. Pengetahuan adalah hasil penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba dari suatu objek (Damanik, 2. Persepsi individu terhadap penyakit diabetes melitus meliputi kondisi, motivasi, strategi koping, dan perubahan perilaku dipengaruhi oleh pengetahuan salah satunya adalah pengetahuan mengenai faktor risiko penyakit diabetes melitus. Hal ini dibuktikan hasil penelitian Misdarini . , dimana rata Ae rata kadar gula darah pasien adalah 246,9 mg/dl, dan mayoritas pasien memiliki tingkat pengetahuan yang rendah tentang factor resiko diabetes melitus, yaitu 54,9%. Ketidakmampuan responden dalam mengatur kadar gula darah yang mengakibatkan kadar gula darah tinggi dipengaruhi oleh pengetahuan mereka terhadap faktor risiko diabetes melitus tipe 2 (Damanik, 2. Memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan. Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan kesehatan kepada masyarakat, komunitas, dan kelompok. Setiap rangkaian edukasi yang dirancang untuk mendorong perubahan perilaku sukarela yang meningkatkan kesehatan pribadi disebut pendidikan kesehatan (Bar. Berdasarkan data dari UPTD Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli, penyakit diabetes melitus merupakan salah satu dari sepuluh penyakit terbanyak dengan jumlah penderita sebanyak 828 orang. Kelurahan Ilir merupakan salah satu wilayah kerja dari UPTD Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli yang menyumbangkan jumlah penderita diabetes melitus terbanyak, yaitu sebanyak 141 orang. Berdasarkan hasil wawancara dengan empat orang penderita diabetes melitus, tiga orang menyatakan tidak mengetahui faktor risiko DM Tipe 2 dan satu orang menyatakan pola makan yang buruk menjadi salah satu penyebab DM Tipe 2. Berdasarkan latar belakang di atas, pengabdi tertarik untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan judul "Pendidikan Kesehatan tentang Faktor Risiko Kejadian DM Tipe 2 Kepada Penderita DM di Kelurahan Ilir Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli Tahun 2023". Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan penderita diabetes melitus tentang factor resiko kejadian diabetes melitus tipe 2 di Kelurahan Ilir Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli Tahun 2023. METODE Kegiatan ini diawali dengan peninjauan lokasi. Pada saat peninjauan lokasi Dinas Kesehatan Kota Gunungsitoli. UPTD Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli, dan Perangkat Kelurahan Ilir Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli memberikan masukan mengenai waktu, tempat dan pelaksanaan kegiatan. Hasil kesepakatan bersama kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilakukan pada tanggal 16 Agustus tahun 2023 di Kelurahan Ilir Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Gunungsitoli. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah pendidikan kesehatan tentang factor resiko kejadian DM tipe 2 di Kelurahan Ilir wilayah kerja UPTD Puskesmas Gunungsitoli. Instrumen pengabdian masyarakat untuk menilai pengetahuan adalah kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Kuesioner dibuat oleh tim pengabdi dengan jumlah pertanyaan 30 pertanyaan dengan menggunakan skala Guttman. Pengetahuan pada kegiatan ini dibagi menjadi 3 kategori yaitu baik . -100%), cukup . -75%), kurang O 55%. Tim pengabdi melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap instrument di wilayah kerja UPTD Puskesmas Gunungsitoli Utara. Kota Gunungsitoli. Uji validitas dilakukan oleh 3 orang expert dan didapat nilai validitas 0,80 sedangkan uji reliabilitas menggunakan KR21 dan dilakukan kepada 30 responden dengan nilai reliabilitas 0,835. Pada tanggal pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat kegiatan diawali dengan penyampaian kata sambutan dari Tim Pengabdi. Kepala Puskesmas dan Lurah Ilir. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan inti yaitu pelaksanaan pendidikan kesehatan yang diawali dengan penilaian pengetahuan penderita diabetes Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group melitus tentang factor resiko kejadian diabetes melitus tipe sebagai data pre test, selanjutnya dilakukan pendidikan kesehatan dengan metode ceramah dan diskusi(Lediana, 2. , diakhiri dengan penilaian kembali pada pengetahuan tentang factor resiko kejadian diabetes melitus sebagai data post test dan pemberian cenderamata kepada peserta. Setelah kegiatan pengabdian masyarakat selesai tim pengabdi melakukan analysis data terhadap data yang diperoleh, melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan selanjutnya membuat laporan hasil kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Karakteristik penderita DM Karakteristik Jenis Kelamin Perempuan Laki - Laki Usia 15 - 24 25 - 34 35 - 44 45 - 54 55 - 64 > 65 Pendidikan Tidak Sekolah Dasar Menengah Tinggi Total Berdasarkan tabel diatas diketahui mayoritas jenis kelamin responden adalah perempuan yaitu 94 orang . ,7 %) dan minoritas adalah laki Ae laki yaitu 47 orang . ,3 %). Menurut Tandra . , perempuan memiliki peluang yang lebih besar mengalami diabetes melitus tipe 2 dibandingkan laki-laki. Hal ini dikarenakan indeks massa tubuh perempuan yang lebih besar, kehamilan, pascamenopause serta sindrom siklus bulanan . remenstrual syndrom. yang memudahkan penumpukan lemak tubuh perempuan (Komariah, 2. Penelitian (Arania, 2. membuktikan teori ini dimana hasil penelitiannya menunjukkan adanya hubungan positif antara jenis kelamin dengan kejadian diabetes melitus, dimana diperoleh nilai p = 0,029 yang menunjukkan bahwa jenis kelamin seseorang mempengaruhi kejadian diabetes melitus tipe 2. Tabel 1 diatas juga menunjukkan mayoritas usia responden adalah > 65 tahun yaitu 37 orang . ,3 %) dan minoritas usia 25 Ae 34 tahun yaitu 8 orang . ,7%). Usia berkaitan dengan fisiologi tubuh yang menyatakan bahwa seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk bekerja akan semakin menurun. Termasuk hormon insulin yang semakin berkurang efektivitasnya seiring Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group bertambahnya usia sehingga dapat meningkatkan kadar gula darah. Menurut Sujaya, 2009 proses penuaan menyebabkan menurunnya kemampuan sel pankreas dalam memproduksi insulin sehingga meningkatkan risiko diabetes seiring bertambahnya usia, terutama jika usia di atas 40 Selain itu, semakin bertambahnya usia terjadi penurunan aktivitas mitokondria pada sel otot sebesar 35%. Hal ini menyebabkan resistensi insulin dan dikaitkan dengan peningkatan lemak otot sebesar 30%. Hal ini dibuktikan hasil penelitian (Komariah, 2. dimana menunjukkan adanya hubungan antara usia dengan kadar gula darah puasa pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan nilai p sebesar 0,004 di KPRJ Proklamasi. Depok. Jawa Barat (Komariah. Tabel 1 diatas juga menunjukkan mayoritas pendidikan responden adalah pendidikan dasar yaitu 73 orang . ,8%) dan minoritas adalah pendidikan tidak sekolah yaitu 15 orang . ,6%). Orang yang tingkat pendidikannya tinggi biasanya akan memiliki banyak pengetahuan tentang Penelitian (Arania, 2. membuktikan bahwa ada korelasi yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan kejadian diabetes melitus dengan nilai p-value = 0,000, dan nilai korelasi sebesar 0,340 yang menunjukkan korelasi antara tingkat pendidikan dengan kejadian diabetes melitus bernilai negative yang artinya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang dapat menekan kejadian diabetes melitus (Arania, 2. Pengetahuan Sebelum Dan Sesudah Pendidikan Kesehatan Berdasarkan hasil analisis univariat didapatkan gambaran pengetahuan penderita DM sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan sebagai berikut: Tabel 2. Pengetahuan Penderita DM Sebelum Pendidikan Kesehatan Karakteristik Responden Kurang Cukup Baik Total Berdasarkan tabel 2. diatas diketahui bahwa mayoritas pengetahuan responden sebelum pendidikan kesehatan adalah kurang yaitu sebanyak 74 orang . ,5%) dan minoritas pengetahuan responden baik yaitu sebanyak 4 orang . 8%). Tabel 3. Pengetahuan Penderita DM Sesudah Pendidikan Kesehatan Karakteristik Responden Kurang Cukup Baik Berdasarkan tabel 3. diatas diketahui bahwa mayoritas pengetahuan responden baik yaitu sebanyak 76 orang . ,9%) dan minoritas pengetahuan responden kurang yaitu sebanyak 1 orang ( 0,7 %). Usia merupakan salah satu dari beberapa variabel yang mempengaruhi pengetahuan. Proses perkembangan mental seseorang menjadi lebih baik seiring bertambahnya usia, tetapi pada akhirnya akan mulai memburuk lagi(Mutoharoh, 2. Seiring bertambahnya usia, seseorang dapat mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang mempengaruhi kemampuan Penurunan fungsi sensorik, termasuk pendengaran, penglihatan, perasaan, dan respons, dapat terjadi akibat perubahan tubuh yang bersifat degeneratif. Kemampuan belajar kelompok usia lansia selama pendidikan kesehatan dapat terpengaruh oleh perubahan ini. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kurangnya pengetahuan mengenai faktor risiko diabetes melitus pada penelitian ini adalah mayoritas responden berusia lebih dari 65 tahun (Bar, 2. Pengetahuan juga dipengaruhi oleh factor pendidikan. Menurut penelitian Canconier . , pengetahuan tentang kesehatan pada seseorang meningkat seiring dengan tingkat pendidikannya Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group (Bar, 2. Kesan seseorang terhadap kognisi akan bervariasi tergantung pada latar belakang Tingkat pendidikan yang tinggi juga dikaitkan dengan tingkat penalaran yang tinggi (Suwaryo, 2. Salah satu penyebab rendahnya pengetahuan mayoritas responden dalam penelitian ini adalah karena mayoritas hanya memiliki pendidikan dasar. Menurut Gillgan . dalam Carter . , laki-laki dan perempuan menilai dilema etika secara berbeda. Berdasarkan pendekatan ini, laki-laki lebih cenderung terlibat dalam perilaku tidak etis karena mereka akan cenderung mengabaikan aturan demi keberhasilan. Sementara itu, perempuan lebih berorientasi pada tugas dan kurang kompetitif. Beberapa literatur belum menjelaskan bahwa laki-laki atau perempuan memiliki tingkat pengetahuan atau kemampuan kognitif yang berbeda. Realitanya, perempuan memang lebih tekun, gigih dan hati-hati ketika diberi tugas atau mengerjakan sesuatu, tetapi hal ini tidak menjelaskan dan menunjukkan bahwa dengan sikap seperti itu, perempuan memiliki tingkat pengetahuan atau kemampuan kognitif yang lebih baik. Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan. Namun, jenis kelamin tidak serta merta mempengaruhi tingkat pengetahuan. Pendidikan kesehatan merupakan proses perubahan perilaku yang dinamis yang diterapkan pada suatu proses pendidikan yang terencana. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu bentuk penyampaian informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, banyaknya informasi yang diperoleh seseorang berbanding lurus dengan tingkat pengetahuannya (Mutoharoh, 2. Penelitian (Mutoharoh, 2. membuktikan bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang diabetes melitus pada penderita diabetes melitus tipe 2. Hasil Analisis Dengan Uji Wilcoxon Berdasarkan hasil analisis bivariate didapatkan hasil efektifitas pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan penderita DM tentang factor resiko kejadian DM tipe 2 sebagai berikut : Tabel 4. Hasil analisis efektifitas pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan penderita DM tentang factor resiko kejadian DM tipe 2 Pengetahuan Sebelum Pengetahuan Sesudah Mean (Minimum - Maksimum 50 . Ae . Ae . 0,001 Berdasarkan tabel 4 diatas diketahui nilai significancy 0,001 . < 0,05 ), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara pengetahuan sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan. Hasil kegiatan menunjukkan bagaimana pendidikan kesehatan mempengaruhi pengetahuan penderita diabetes melitus. Pendidikan kesehatan merupakan proses perubahan perilaku yang dinamis, di mana perubahan tersebut terjadi karena adanya kesadaran dalam diri individu, kelompok, atau masyarakat itu sendiri, bukan sekedar proses penyampaian pengetahuan atau teori dari satu orang ke orang lain atau melalui serangkaian proses. Secara konseptual, pendidikan kesehatan merupakan upaya untuk mendorong dan membujuk orang lain . ndividu, masyarakat, dan kelompo. agar berperilaku sehat. Menurut (Trisutrisno, 2. , pendidikan kesehatan mencakup semua tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian (Mutoharoh, 2. , dimana tingkat pengetahuan penderita diabetes tipe 2 terhadap penyakitnya dipengaruhi oleh pendidikan kesehatan, dengan nilai p sebesar 0,001. Penelitian (Bar, 2. juga menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan berdampak pada pengetahuan penderita diabetes melitus tentang pencegahan ulkus diabetic dengan nilai p=0,000. Penelitian Wewen . membuktikan bahwa pendidikan kesehatan sangat efektif meningkatkan pengetahuan pasien DM di Puskesmas Tikala Kabupaten Toraja Utara (Wewen, 2. Penelitian Putri . juga menunjukkan bahwa Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group pendidikan kesehatan terbukti meningkatkan pengetahuan dalam pencegahan penularan Tuberkulosis (Putri, 2. Penelitian Putu . juga membuktikan ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan tentang pertolongan pertama pre -hospital dalam penanganan luka bakar pada remaja (Putu, 2. Penelitian Dwi . juga menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan sangat efektif meningkatkan pengetahuan remaja putri pra-pubertas tentang Menarche (Dwi, 2. Sehingga terbukti bahwa pendidikan kesehatan sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan seseorang SIMPULAN Pasien diabetes melitus telah memperoleh manfaat dari kegiatan pengabdian masyarakat melalui pendidikan kesehatan tentang faktor risiko kejadian diabetes melitus tipe 2. Setelah pendidikan kesehatan yang disampaikan oleh tim pengabdi, pengetahuan pasien meningkat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat menunjukkan efektivitas pendidikan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan, khususnya terkait pengetahuan faktor risiko kejadian diabetes DAFTAR PUSTAKA