Vegetalika Vol. 15 No. Februari 2026: 13Ae20 Available online at https://jurnal. id/jbp DOI: https://doi. org/10. 22146/veg. p-ISSN: 2302-4054 | e-ISSN: 2622-7452 Pengaruh Kolonisasi Ganoderma spp. terhadap Pelapukan dan Viabilitas Miselium pada Tanaman Herbaceus The Effect of Ganoderma spp. Colonization on Decay and Mycelium Viability in Herbaceous Plants Rahmad Fadli*. Suwandi. Nurhayati Program Studi Proteksi Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Indonesia Penulis untuk korespodensi E-mail: rahmadfadli@fp. Diajukan: 14 Maret 2025 Diterima: 04 Februari 2026 Dipublikasi: 28 Februari 2026 ABSTRACT This study examines the effectiveness of Ganoderma sp. in decomposing lignin in herbaceous The study was conducted in a greenhouse at the Faculty of Agriculture. Sriwijaya University, with temperatures ranging from 28-30oC and humidity reaching 70-80%. The test plants consisted of uwi (Dioscorea alat. and talas (Colocasia esculent. , and oil palm seedlings were used as a comparison. The parameters observed included the level of decay and mycelium viability after inoculation. The results showed that the highest level of decay occurred in taro, reaching 65. 22% in sterilized soil and 52. 56% in unsterilized soil, while uwi experienced decay of 33. 9% and 33. The viability of Ganoderma sp. mycelium remained high (>70%) in all treatments. This indicates a strong ability to adapt to various environmental Thus, the study shows that the ligninase activity of Ganoderma sp. significantly to decomposition without reducing the viability of the Ganoderma sp. Keywords: decomposition. Ganoderma sp. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pelapukan dari Ganoderma sp. proses dekomposisi lignin terhadap tanaman herbaceus. Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya dengan suhu berkisar 28-30oC dan kelembaban mencapai 70-80%. Tanaman uji terdiri dari uwi (Dioscorea alat. dan talas (Colocasia esculent. , serta menggunakan bibit kelapa sawit sebagai pembanding. Parameter yang diamati meliputi tingkat pelapukan, viabilitas miselium setelah inokulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pelapukan tertinggi terjadi pada talas yang mencapai 65,22% pada tanah di sterilisasi dan 52,56% pada tanah tanpa sterilisasi, sementara uwi mengalami pelapukan sebesar 33,9% dan 33,03%. Viabilitas miselium Ganoderma sp. tetap tinggi (>70%) pada semua perlakuan. Hal itu menunjukkan kemampuan adaptasi yang kuat terhadap berbagai kondisi lingkungan. Dengan demikian, penelitian menunjukkan bahwa aktivitas ligninase dari Ganoderma sp. berkontribusi secara signifikan terhadap proses pelapukan tanpa menurunkan tingkat viabilitas jamur Ganoderma sp itu sendiri. Kata kunci: Ganoderma sp. Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada PENDAHULUAN Jamur Ganoderma merupakan salah satu jenis jamur yang memiliki kemampuan tinggi dalam proses pelapukan melalui degradasi lignin dengan enzim lignolitik seperti ligninase yang mampu dihasilkan oleh jamur tersebut. Jamur yang juga dikenal dengan sebutan jamur pelapuk . hite Ganoderma sp memiliki peran dalam proses pelapukan jaringan tanaman inangnya seperti kelapa sawit sebagai inang utama maupun inang alternatif lainnya seperti Kemampuan pelapukan tersebut sering dikaitkan dengan kerusakan tanaman pada bagian pangkal batang baik pelapukan maupun yang sering disebut sebagai penyakit busuk pangkal batang (Zakaria, 2. Namun demikian, kemampuan lignolitik Ganoderma sp. Juga menunjukkan peran ekologis penting sebagai dekomposer yang dapat melapukkan berbagai substrat organic saat inang utamanya sudah mati. Tanaman herbaceus yang memiliki karakteristik yang potensial mengalami pelapukan karena struktur jaringan yang lebih lunak dan kadar lignin yang lebih rendah dari tanaman berkayu. Penelitian terkait Ganoderma sp. berfokus pada tanaman berkayu khususnya kelapa sawit (Ndeh et al. , 2024. Siddiqui, et , 2. Kajian ilmiah terkait aktivitas pelapukan pada tanaman herbaceus masih mengenai pola pelapukan dan kemampuan kolonisasi jamur terhadap kelompok tanaman ini belum banyak diteliti. Selain tanaman herbaceus, kajian terkait viabilitas miselium setelah kolonisasi menjadi salah satu parameter penting guna untuk memahami kemampuan Ganoderma sp dalam bertahan hidup pada berbagai jenis inang alternatifnya. Miselium yang tetap viable tersebut memiliki potensi menjadi keberlangsungan hidup miselium jamur Kajian sebelumnya menyatakan bahwa Ganoderma sp mampu mempertahankan viabilitas miselium meskipun adanya perubahan lingkungan (Ji, et al. , 2. Faktor lingkungan yang dapat memengaruhi perubahan tersebut seperti kelembaban dan Faktor memengaruhi viabilitas miselium dalam subtract tanaman. Selain itu juga, hingga saat ini kajian mengenai interaksi Ganoderma sp dengan tanaman non kayu sebagian besar patogenisitas saja. Oleh karena itu, diperlukan kajian untuk dapat memberikan informasi terkait evaluasi aktivitas lignolitik jamur secara lebih spesifik pada tanaman Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pengaruh aktivitas Ganoderma sp. Terhadap tingkat pelapukan tanaman herbaceus dan menilai viabilitas miseliumnya pada uji secara in vivo di rumah kaca. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dalam memahami kemampuan Ganoderma sp untuk bertahan dan berperan sebagai saprofit pada tanaman alternatif sebagai dasar dalam melakukan pengelolaan inokulum jamur di lahan budidaya kelapa sawit maupun tanaman inang lainnya. Kebaruan ilmiah dari penelitian ini adalah tidak hanya terbatas pada pemahaman terkait dinamika patogen dan inang, tetapi juga memiliki relevansi praktis dalam mendukung keberlanjutan sistem pertanian dan pengelolaan sumber daya hayati. Dengan demikian, penelitian ini berpotensi untuk mengisi kesenjangan pengetahuan yang ada dan mendukung terciptanya solusi inovatif yang mampu menjawab tantangan dalam pengelolaan penyakit tanaman yang disebabkan oleh Ganoderma sp. BAHAN DAN METODE Lokasi dan Kondisi Penelitian Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Pemilihan rumah kaca sebagai lokasi penelitian bertujuan untuk menciptakan kondisi lingkungan yang terkontrol, sehingga faktor-faktor memengaruhi pertumbuhan tanaman dapat Selama berlangsung, suhu rumah kaca berada pada kisaran 27Ae30AC dengan kelembapan relatif 70Ae85%, yang merupakan rentang kondisi optimal bagi pertumbuhan miselium dan Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada aktivitas enzim ligninase. Faktor lingkungan tersebut berperan dalam mendukung proses pelapukan dan viabilitas miselium secara konsisten serta memastikan bahwa hasil penelitian dapat merepresentasikan interaksi antara Ganoderma sp. dan tanaman secara Persiapan Inokulum Ganoderma sp. Inokulum jamur Ganoderma sp. diperoleh dari Laboratorium Fitopatologi Universitas Sriwijaya. Jamur ini dikultur pada media Malt Extract Agar (MEA) berkualitas tinggi (Microbiology grade 99%) untuk mendukung pertumbuhan miselium yang Proses inkubasi dilakukan dalam kondisi suhu terkendali sebesar 28AC selama 3-5 hari hingga miselium tumbuh sempurna. Setelah inkubasi, inokulum dipindahkan ke mempermudah inokulasi pada tanaman uji, sehingga memungkinkan penyebaran jamur secara merata dan efektif. Tanaman Uji dan Perlakuan Tanaman uji yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas tanaman herbaceus tahunan, yaitu uwi (Dioscorea alat. dan talas (Colocasia esculent. , yang berumur satu bulan. Sebagai pembanding, digunakan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensi. dari varietas DyP PPKS Marihat yang juga berusia satu bulan. Tanaman ditanam pada tanah steril dan nonsteril guna mengevaluasi pengaruh kondisi lingkungan terhadap proses pelapukan yang diakibatkan oleh Ganoderma Semua ditempatkan di dalam rumah kaca dengan perlakuan yang berbeda-beda, baik dengan maupun tanpa inokulasi jamur, untuk melihat efek interaksi antara patogen dan tanaman Metode Inokulasi Ganoderma spp. Inokulasi Ganoderma spp. dengan menempelkan inokulum secara langsung pada akar tanaman herbaceus. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan kontak yang efektif antara patogen dan Tanaman uji diberikan perlakuan yang berbeda, yaitu tanaman yang diinokulasi bersama bibit kelapa sawit serta tanaman yang tidak diinokulasi sebagai kontrol. Perlakuan membandingkan pengaruh keberadaan Ganoderma spp. terhadap pertumbuhan tanaman herbaceus maupun kelapa sawit sebagai pembanding. Pengamatan dan Pengukuran Pengamatan dilakukan secara berkala untuk mencatat parameter yang berkaitan dengan aktivitas Ganoderma sp pada tanaman uji herbaceus. Pengamatan gejala makroskopik seperti perubahan warna daun, pembusukan akar, serta munculnya tubuh buah dicatat secara deskriptif sebagai data penunjang interpretasi proses pelapukan. Selain itu, pada akhir penelitian, tingkat pelapukan dievaluasi berdasarkan data kuantitatif berupa pengukuran berat massa tanaman sebelum dan sesudah perlakuan untuk mengevaluasi tingkat pelapukan yang diakibatkan oleh Ganoderma sp. Untuk menilai viabilitas jamur juga dilakukan pengamatan terhadap potongan akar tanaman herbaceus yang diisolasi pada media selektif khusus. Prosedur ini bertujuan Ganoderma sp tetap aktif selama periode Analisis Data Data dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA) perbedaan antar perlakuan. Jika ditemukan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kepercayaan 5%. Penggunaan metode statistik ini bertujuan untuk memberikan hasil yang objektif dan memastikan bahwa perbedaan yang diamati dalam penelitian memiliki dasar yang valid secara ilmiah. HASIL DAN PEMBAHASAN Gejala makroskopis yang diamati pada tanaman uji menunjukkan gejala khas dengan tumbuhnya tubuh buah jamur Ganoderma sp. Pada tanaman herbaceus infeksi ditandai dengan munculnya gejala seperti perubahan warna daun yang melayu, adanya nekrosis pada pangkal batang. Pada beberapa tanaman tingkat infeksi sangat berat dengan ditandai munculnya tubuh buah berwarna coklat berbentuk piringan yang tumbuh di daerah sekitar pangkal batang Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada tanaman ataupun area perakaran. Gejala keberhasilan kolonisasi Ganoderma sp terhadap tanaman inang alternatif. Gejala serangan tersebut terdapat pada Gambar 1. Tanaman yang dikoloni Ganoderma spp sebagai sumber inokulum menunjukkan pelapukan yang signifikan setelah masa inokulasi setelah masa inokulasi selama satu Tingkat pelapukan berbeda nyata antar jenis tanaman . <0. , meskipun nilai pelapukan relatif seragam antar dua Inokulasi Ganoderma spp pada kelapa sawit menyebabkan pelapukan sebesar 37,47% hingga 38,50% lebih kecil dibandingkan tanaman herbaceus. Tanaman herbaceus jenis uwi menunjukkan tingkat pelapukan yang lebih tinggi antara 33,9% pada tanah steril dan 33,03% pada tanah tidak steril. Sementara itu pada tanaman Talas belitung menyebabkan pelapukan yang jauh lebih tinggi sebesar 65,22 % dan 52,56%, masing-masing untuk tanah yang di sterilisasi dan tanpa sterilisasi. Pelapukan pada penanaman talas belitung ini secara signifikan (P<0. lebih tinggi dibandingkan kontrol berupa pembenaman tanah tanpa tanaman (Gambar . Gambar 1. Gejala serangan Infeksi Ganoderma sp . Gejala serangan monokultur sawit. Gejala serangan pada polikultur sawit dan herbaceus. Gejala serangan monokultur herbaceus. Gejala pelapukan pada pangkal sawit. Tubuh buah pada sawit. Tubuh buah pada herbaceus Gambar 2. Tingkat Pelapukan oleh Ganoderma sp Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Berbeda halnya dengan pengaruh penanaman terhadap tingkat pelapukan sumber inokulum, viabilitas miselia tidak menunjukkan perbedaan nyata (P>0. antar perlakuan maupun antar jenis tanaman pada kedua kondisi tanah yang diuji. Nilai viabilitas inokulum pada pengujian tanah yang disterilisasi dan tanpa disterilisasi mencapai 83,33% dan 85%. Lebih dari 70% menunjukkan pertumbuhan koloni miselium Ganoderma sp yang hidup (Gambar . Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi pelapukan jaringan yang signifikan, miselium tetap mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya sebagai saprofit, sehingga berpotensi menjadi sumber inokulum berkelanjutan di lapangan. Untuk memastikan viabilitas miselium, potongan akar hasil perlakuan diinokulasikan pada media selektif. Hasil inokulasi menunjukkan Sebagian besar potongan akar menunjukkan adanya pertumbuhan koloni putih khas Ganoderma sp. Hal itu menandakan bahwa keberlangsungan hidup jamur setelah proses pelapukan masih tetap Dari hasil pengamatan ini mendukung data kuantitatif viabilitas yang menyatakan bahwa aktivitas lignolitik jamur tidak menghambat kemampuan miselium untuk bertahan hidup baik pada kondisi tanah yang di sterilisasi mauapun tanpa di Adapun inokulasi akar pada media selektif dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 3. Viabilitas miselium Ganoderma spp Gambar 4. Hasil Inokulasi akar herbaceus pada Media Selektif . Tampak bawah petri. Tampak atas petri Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Gambar 5. Pertumbuhan tanaman Herbaceus Pengamatan juga dilakukan pada faktor pertumbuhan vegetatif tanaman Hasil menunjukkan adanya pengaruh terhadap serangan Ganoderma sp. Hasil pengamatan diinokulasikan patogen. Hasil tersebut konsisten dengan pola pelapukan dan gejala makroskopis yang menunjukkan aktivitas Ganoderma langsung pada pertumbuhan tanaman Adapun pertumbuhan tanaman herbaceus terlihat pada gambar 5. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya infeksi penyebab kerusakan pada tanaman herbaceus terjadi akibat inokulasi Ganoderma sp. Gejala serangan dari patogen ini berupa terjadinya perubahan warna daun hingga terjadinya layu, nekrosis pangkal batang hingga keropos, dan pada tingkat serangan parah akan muncul tubuh Dari hasil gejala yang muncul tersebut menunjukkan adanya kolonisasi aktif jamur pada jaringan herbaceus seperti pada Gambar 1. Kemampuan Ganoderma sp tersebut sejalan dengan pendapat Tores et , . yang menyatakan bahwa kolonisasi jamur memiliki kemampuan lignolitik tinggi untuk mendegradasi atau melapukkan jaringan tanaman. Selain itu Adanya perbedaan tingkat pelapukan tanaman uji yang terjadi menandakan adanya kerentanan tanaman Pada tanaman uji talas Belitung memperlihatkan pelapukan yang terjadi paling tinggi dibandingkan dengan tanaman uji lainnya. Hal itu disebabkan oleh karakteristik lunak tanaman jenis herbaceus dengan lapisan lignin yang rendah. Temuan sebelumnya yang mengungkapkan bahwa tanaman yang memiliki kandungan lignin rendah dapat lebih cepat mengalami pelapukan akibat jamur pelapuk seperti Ganoderma sp (Li et al. , 2. Kondisi tinggi dan fluktuatifnya tingkat pelapukan yang terjadi tidak memengaruhi pertumbuhan hifa atau miselium jamur. Viabilitas miselium Ganoderma sp terlihat pada hasil tetap tinggi di semua perlakuan. Dari hasil pengamatan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa jamur Ganoderma sp mampu mempertahankan keberlangsungan hidupnya walaupun jaringan tanaman mengalami pengeroposan atau degradasi. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jiu et al, . dan Rahmadhani, . , menyatakan jamur patogen Ganoderma sp memiliki kemampuan adaptif tinggi untuk bertahan pada kondisi lingkungan yang tidak optimal termasuk setelah adanya pelapukan Hasil pengamatan viabilitas miselium tersebut juga didukung oleh hasil isolasi akar. Melalui isolasi akar tanaman uji didapatkan bahwa miselium masih mampu hidup dengan baik pada media selektif (Kumar et al. , 2. seperti pada gambar Hal inilah yang memperkuat temuan Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada baru bahwa Ganoderma sp dapat berperan sebagai saprofit dan patogenik sekaligus pada satu siklus hidupnya. Kemampuan pelapukan menjadi indikator dari tanaman herbaceus memiliki potensi inang alternatif yang reservoir toleran selama waktu tertentu. Pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman herbaceus meskipun menunjukkan dampak negatif akan tetapi performa tanaman masih dapat hidup (Suwandi, et al. Tanaman pada awalnya mengalami pertumbuhan kerdil pada bagian batang dan Penurunan pertumbuhan meskipun tidak sampai menyebabkan kematian akan tetapi, proses pelapukan yang terjadi menggambarkan aktivitas ligninase secara langsung memengaruhi ketahanan tanaman (Tang et al. , 2018. Hapuarachchi, et al. Mekanisme herbaceus terhadap infeksi Ganoderma sp. mengindikasikan bahwa tanaman dapat menghasilkan senyawa tertentu yang berfungsi menekan tingkat kerusakan oleh patogen (Sahebi et al. , 2. Pada penelitian yang dilakukan, viabilitas miselium yang tinggi belum dapat mengindikasikan dengan kuat bahwa tanaman herbaceus dapat menghambat pertumbuhan jamur secara aktif. Selain itu melalui penelitian ini juga mendapatkan hasil bahwa tanah yang memengaruhi dinamika pelapukan karena minim kompetitor. Interaksi mikroba pada tanah tanpa sterilisasi dapat memengaruhi aktivitas lignolitik. Secara keseluruhan aktivitas Ganoderma sp pada tanaman herbaceus menunjukkan adanya kerentanan terhadap proses pelapukan, dan keberadaan tanaman ini dapat berperan dalam Temuan pengelolaan inoculum di lapangan juga perlu mempertimbangkan keberadaan tanaman nonkayu seperti tanaman herbaceus. fisiologis pelapukan yang lebih tinggi dibandingkan pada kelapa sawit. Pelapukan tertinggi terjadi pada tanaman herbaceus tersebut menunjukkan kemampuan adaptasi Ganoderma sp terhadap inang alternatif. Variasi pelapukan mengalami perbedaan pada media tanam tanah yang disterilisasi dan tanpa di sterilisasi. Hal itu diakibatkan karena interaksi mikroba tanah dengan tanaman serta patogen itu sendiri. Penelitian ini menegaskan bahwa aktivitas lignolitik Ganoderma sp berperan penting pada pengaruhnya terhadap viabilitas miselium untuk mempertahankan keberlangsungan Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengeksplorasi interaksi mikroba tanah dena respon Ganoderma sp. KESIMPULAN Ji. Zhang. Su. Wang. Liu. Wang. , & Ren. The impact Ganoderma lucidum on soil nutrients, enzyme activity, and fruiting body Penelitian ini menunjukkan bahwa Ganoderma sp. berperan dalam proses infeksi pada tanaman herbaceus, seperti Uwi (Dioscorea alat. dan Talas (Colocasia Infeksi ini menyebabkan gejala UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuan tenaga dan pikiran selama penelitian Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada rekan peneliti dosen senior yang telah memberikan masukan dan perbaikan-perbaikan teknis hingga penelitian dapat diselesaikan. DAFTAR PUSTAKA