Center of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Implementasi Pendekatan Joyful Learning dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani di SMP Negeri 11 Medan Tahun 2025 Desnor Steven Waruwu1. Dinda Nano Pertiwi2. Rifky Alfian Sadar3. Dimas Sugiarto4. Dodi Haryansah Caniago5 1,2,3,4,5 Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Bina Guna. Indonesia Corresponding Author : desnorwaruwu@gmail. ABSTRACT Pengabdian ini bertujuan untuk mengimplementasikan pendekatan Joyful Learning dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SMP Negeri 11 Medan tahun 2025. Permasalahan utama yang dihadapi sekolah mitra adalah rendahnya motivasi dan keterlibatan siswa dalam mengikuti aktivitas jasmani, sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang mampu menciptakan suasana menyenangkan, inklusif, dan bermakna. Kegiatan pengabdian melibatkan 234 siswa kelas Vi dengan metode total Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner motivasi, lembar observasi keterlibatan, serta dokumentasi audio-visual untuk mendukung triangulasi data. Proses pelaksanaan dilakukan dalam dua siklus, yang mencakup tahap persiapan, intervensi dengan aktivitas berbasis Joyful Learning, serta refleksi bersama guru dan siswa. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan motivasi siswa dari kategori sedang menjadi tinggi, peningkatan keterlibatan fisik dari 65% menjadi 85%, serta perubahan persepsi siswa yang lebih positif terhadap PJOK. Selain itu, terjadi peningkatan sportivitas, kerjasama tim, dan keberanian siswa dalam berpartisipasi. Guru PJOK juga melaporkan peningkatan kepuasan dan fleksibilitas dalam mengajar. Dengan demikian, pendekatan Joyful Learning terbukti efektif, adaptif, dan inklusif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PJOK, sekaligus berpotensi menjadi model pengembangan di sekolah lain. Keywords Joyfull Learning. Pendidikan Jasmani PENDAHULUAN Pada Pembelajaran Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SMP Negeri 11 Medan, masih ditemukan tanda-tanda rendahnya keterlibatan dan antusiasme siswa, terutama dalam kegiatan senam, permainan bola, dan aktivitas fisik yang repetitif. Hal ini mengindikasikan kebutuhan terhadap pendekatan yang mampu menghidupkan suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bermakna. Berdasarkan temuan penelitian sebelumnya, pendekatan pembelajaran mendalam yang mencakup aspek mindfulness, meaningful, dan joyful terbukti mampu memperbaiki kualitas pembelajaran olahraga seperti futsal, meningkatkan partisipasi aktif, pemahaman teknik, dan suasana kelas yang positif (Mudian & Prasetiyo, 2. Terutama, unsur AujoyfulAy dalam pembelajaran terbukti penting untuk Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 214-226 membangun motivasi intrinsik dan kenyamanan siswa saat mengikuti aktivitas fisik (Mudian & Prasetiyo, 2. Oleh karena itu, mitra SMP Negeri 11 MedanAimengidentifikasi menyenangkan dan kurangnya keterlibatan emosional siswa pada PJOK. Latar belakang ini menjadi dasar kuat untuk merancang pengabdian dengan pendekatan Joyful Learning, yang diharapkan dapat mengatasi kendalakendala tersebut. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa tidak sekadar melakukan aktivitas fisik, tetapi juga merasa senang, terdorong, dan termotivasi secara emosional. Karena itu, narasi ini menekankan urgensi dan relevansi pendekatan Joyful Learning di lingkungan PJOK SMP Negeri 11 Medan. Tujuan utama pengabdian ini adalah merancang dan menerapkan pendekatan Joyful Learning dalam pembelajaran PJOK di SMP Negeri 11 Medan pada tahun 2025. Tujuan spesifik pertama adalah meningkatkan motivasi dan antusiasme siswa terhadap aktivitas jasmani melalui permainan edukatif dan kreatif. Kedua, mendukung peningkatan keterampilan motorik dan teknik dasar melalui metode pembelajaran yang menyenangkan dan Ketiga, mendorong sikap sportivitas, kolaborasi, dan percaya diri siswa melalui aktivitas bersama yang menyenangkan. Keempat, membangun suasana kelas yang positif dan inklusif, yang memfasilitasi partisipasi aktif semua siswa. Kelima, memberikan kapasitas kepada guru PJOK dalam merancang RPP yang ramah, inovatif, dan adaptif terhadap karakteristik siswa. Keenam, menghasilkan model pembelajaran PJOK berbasis Joyful Learning yang dapat direplikasi di sekolah lain. Ketujuh, menyediakan dokumentasi dan refleksi praktik terbaik dari kegiatan pengabdian. Kedelapan, mengevaluasi dampak pendekatan terhadap aspek kognitif, psikomotor, dan afektif siswa. Tujuan tersebut didesain untuk menjawab tantangan empiris dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan PJOK yang lebih holistik dan Aktualitas dan pentingnya pengabdian ini sangat kuat karena studi empiris menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang AujoyfulAy memberikan dampak signifikan terhadap hasil belajar dan keterlibatan siswa dalam konteks olahraga sekolah (Mudian & Prasetiyo, 2. Selain itu, kajian evaluatif terhadap kurikulum Merdeka pada PJOK menunjukkan perlunya strategi pembelajaran yang adaptif dan mendalam agar tujuan pendidikan karakter dan kebugaran jasmani tercapai (Syahri & Kari, 2. Lebih jauh lagi, tren penelitian fisik pendidikan di Indonesia menyarankan model permainan tradisional dan pendekatan kreatif untuk meningkatkan keterlibatan siswa, sejalan dengan pendekatan Joyful Learning . ibliometric study, 2. Hal ini Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 214-226 menegaskan bahwa pengabdian tidak hanya bersifat aplikatif, tetapi juga merupakan respons terhadap kerangka pedagogis dan kebutuhan praktis di Tantangan rendahnya motivasi dan keterlibatan dalam PJOK merupakan masalah nyata yang dialami sekolah mitra, sehingga studi ini sangat relevan sebagai solusi yang berbasis bukti. Dengan demikian, pengabdian ini perlu dilaksanakan sebagai langkah penting untuk mentransformasi pembelajaran olahraga menjadi lebih menyenangkan, efektif, dan membangun karakter siswa secara menyeluruh. Metode yang akan digunakan dalam pengabdian ini berupa studi kasus deskriptif kuantitatif dengan pendekatan tindakan lapangan. Unit pengabdian adalah kelas PJOK di SMP Negeri 11 Medan dipilih satu kelas sebagai sampel. Instrumen pengumpulan data meliputi lembar observasi keterlibatan, kuesioner motivasi belajar, dan dokumentasi audio visual aktivitas siswa saat Pelaksanaan dilakukan dalam dua siklus: siklus pertama sebagai pilot untuk perbaikan, dan siklus kedua untuk penerapan final dan evaluasi. Selama tindakan lapangan, guru PJOK diberi pelatihan mengenai strategi Joyful Learning, lalu mempraktikkannya pada pembelajaran PJOK. Data dianalisis secara deskriptif tertulis, statistik sederhana, dan reflektif untuk melihat perbedaan sebelum dan sesudah penerapan. Refleksi dilakukan bersama guru dan siswa setelah setiap siklus. Hasil evaluasi ini akan digunakan untuk menyempurnakan model Joyful Learning dan menyusun rekomendasi praktik Pengabdian ini penting karena menyediakan bukti aplikasi langsung pendekatan pendidikan yang menyenangkan dalam konteks PJOK SMP, yang saat ini masih kurang dieksplorasi. Studi sebelumnya (Mudian & Prasetiyo, 2. berfokus pada futsal, sementara pengabdian ini memperluas dalam konteks PJOK yang lebih beragam, termasuk permainan tradisional dan senam Selain itu, hasil evaluasi Kurikulum Merdeka menunjukkan kebutuhan akan pendekatan pembelajaran yang lebih mendalam dan kontekstual (Syahri & Kari, 2. Dengan menyajikan data lapangan yang empiris dari sekolah nyata, kegiatan ini juga menjadi rujukan praktik bagi sekolah lain. Secara teoritis, pendekatan Joyful Learning memperkuat dialog antara ketiga ranah belajar kognitif, afektif, psikomotorik yang sejalan dengan tujuan pendidikan abad 21 dan profil pelajar Pancasila. Dari sisi kapabilitas guru, pengabdian ini membuka ruang untuk peningkatan profesionalisme melalui pelatihan dan praktik reflektif. Dengan demikian, pengabdian ini memiliki multifaset manfaat: untuk siswa, guru, sekolah, dan pengembangan kajian pendidikan Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 214-226 METODE PENELITIAN Populasi dalam pengabdian ini terdiri dari seluruh siswa kelas Vi di SMP Negeri 11 Medan, sebanyak 234 peserta didik, sehingga pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling, di mana seluruh populasi dijadikan sampel penelitian yang representatif (Sugiyono, 2. Total sampling memastikan tidak ada bias seleksi sampel dan memberikan gambaran menyeluruh terhadap kondisi kelas sasaran (Sugiyono, 2. Metode ini sangat sesuai ketika populasi relatif kecil dan seluruhnya dapat dijangkau, seperti dalam kasus 234 siswa itu. Dengan melibatkan semua siswa, variabilitas respons terhadap pendekatan Joyful Learning dapat dianalisis secara Pelibatan penuh khalayak siswa juga meningkatkan akurasi dan validitas internal hasil pengabdian. Teknik ini telah digunakan luas dalam penelitian pendidikan untuk menggambarkan fenomena pada keseluruhan populasi sekolah (Januar, 2. Penggunaan total sampling memperkuat generalisasi temuan pada konteks SMP Negeri 11 Medan. Hal ini juga memudahkan perbandingan sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok yang sama. Keseluruhan populasi sebagai sampel menunjang analisis kuantitatif dan reflektif dalam pengabdian. Instrumentasi pengabdian mencakup beberapa alat ukur yang dikembangkan untuk mengukur motivasi, keterlibatan, dan sikap siswa terhadap pembelajaran PJOK yang menyenangkan. Pertama, kuisioner motivasi dan antusiasme siswa, dirancang dalam skala Likert dengan item kognitif, afektif, dan psikomotorik yang telah tervalidasi oleh pakar PJOK melalui validitas isi (Prasetya & Wijaya, 2. Kedua, lembar observasi keterlibatan siswa selama pembelajaran, digunakan oleh guru pendamping dan tim peneliti untuk mengukur partisipasi aktif dan interaksi dalam aktivitas Joyful Learning. Ketiga, dokumentasi audio-visual, berupa rekaman video saat kegiatan PJOK, berfungsi sebagai data kualitatif pelengkap untuk analisis reflektif. Validitas dan reliabilitas instrumen diuji melalui pilot test pada kelas berbeda dan dihitung menggunakan alpha Cronbach untuk kuisioner . ilai Ou 0,70 dianggap reliabe. (Prasetya & Wijaya, 2. Instrumen observasi dilengkapi pedoman rubrik untuk standar penilaian yang konsisten antar pengamat. Dokumentasi media digunakan untuk triangulasi data agar analisis lebih kaya dan akurat. Keseluruhan instrumentasi mendukung pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif secara terpadu dan sistematik. Penggunaan berbagai instrumen ini sudah terbukti efektif dalam penelitian implementasi pedagogi inovatif di sekolah (Saputra, 2. Tahapan pelaksanaan kegiatan pengabdian dimulai dengan persiapan, yaitu pelatihan untuk guru PJOK mengenai prinsip Joyful Learning. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 214-226 penggunaan instrumen, dan prosedur observasi yang sistematis. Dilanjutkan dengan pre-test, yaitu pemberian kuisioner dan observasi kondisi awal sebelum Tahap pelaksanaan intervensi mencakup dua siklus: pertama sebagai uji coba dan perbaikan desain, kedua sebagai penerapan penuh, dimana setiap siklus melibatkan pembelajaran PJOK berbasis Joyful Learning, diikuti dokumentasi dan refleksi bersama guru serta siswa. Setiap aktivitas dimulai dengan pemanasan interaktif, permainan edukatif, senam kreatif dan diakhiri dengan diskusi ringan. Setelah setiap siklus, data kuantitatif dari kuisioner dan observasi dianalisis ringkas, sementara dokumentasi digunakan untuk refleksi dan penyempurnaan prosedur. Tahapan ini berulang agar terjadi peningkatan kualitas penerapan pendekatan Joyful Learning. Setelah siklus kedua, dilakukan post-test, di mana kuisioner dan observasi diulang untuk membandingkan kondisi motivasi dan keterlibatan siswa. Pelibatan guru dalam proses reflektif bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas profesional Prosedur ini diterapkan sesuai dengan pendekatan tindakan partisipatif yang sistematis (Yuliani et al. , 2. Analisis data dilakukan secara terintegrasi antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dari kuisioner dan observasi dianalisis menggunakan statistik deskriptif seperti rerata, persentase, dan perubahan skor sebelum dan sesudah intervensi. Perbandingan pre-test dan post-test dianalisis menggunakan uji perbedaan berpasangan . aired-samples t-tes. untuk melihat signifikansi perubahan motivasi dan keterlibatan siswa (Yuliani et al. , 2. Data kualitatif dari dokumentasi dianalisis dengan teknik thematic analysis, mengidentifikasi pola-pola perilaku, respons emosional, dan dinamika kelas selama pembelajaran. Triangulasi antara hasil kuantitatif dan temuan visual memperkuat validitas temuan. Analisis juga mencakup refleksi guru yang dikodifikasi untuk menunjukkan penerimaan dan tantangan dalam mengimplementasikan Joyful Learning. Semua analisis diarahkan untuk menyediakan gambaran empiris tentang efektivitas pendekatan. Hasil analisis digunakan untuk merumuskan rekomendasi praktis bagi sekolah mitra dan dokumen model pengabdian yang sistematis. Metode analisis ini konsisten dengan praktik terbaik penelitian pengabdian masyarakat pendidikan (Saputra. Pendekatan untuk memastikan kelancaran kegiatan mencakup beberapa strategi pengendalian mutu. Pertama, penguatan kolaborasi dengan kepala sekolah, guru PJOK, dan orang tua siswa agar komitmen terhadap keberhasilan intervensi terjaga. Kedua, pelatihan dan pendampingan berkelanjutan bagi guru memungkinkan adaptasi dan respons cepat terhadap tantangan di kelas. Ketiga, monitoring berkala dan komunikasi rutin, termasuk rapat mingguan Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 214-226 antara tim pengabdian dan guru, untuk evaluasi dan perbaikan secara real Keempat, penggunaan refleksi tindakan oleh guru dan siswa setelah setiap kegiatan siklus sebagai sarana peningkatan kualitas. Kelima, penyediaan sarana pendukung, seperti musik, alat permainan kreatif, dan ruang terbuka, dipastikan tersedia untuk memperlancar aktivitas Joyful Learning. Pendekatan ini juga mencakup strategi mitigasi kendala teknis atau resistensi dari siswa melalui pendekatan inklusif dan adaptif. Keenam, dokumentasi proses dan hasil kegiatan, digunakan untuk transparansi dan akuntabilitas. Ketujuh, evaluasi kemajuan secara bertahap membantu mengidentifikasi hambatan dan melakukan intervensi segera. Strategi-strategi ini berdasarkan model partisipatif dan kolaboratif untuk keberhasilan pengabdian (Yuliani et al. Ruang lingkup metodologi pengabdian dibatasi pada kelas Vi di SMP Negeri 11 Medan, sehingga validitas temuan lebih terfokus pada konteks sekolah dasar menengah pertama. Intervensi hanya berlangsung dalam dua siklus pembelajaran, sehingga tidak menjangkau periode lebih panjang seperti satu semester penuh. hal ini membatasi analisis terhadap dampak jangka Penggunaan total sampling juga berarti temuan terbatas pada populasi tersebut dan tidak serta merta berlaku untuk sekolah atau jenjang pendidikan lain. Instrumentasi hanya mengukur aspek motivasi, keterlibatan, dan partisipasi khususnya aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik sehingga aspek lain seperti kebugaran jasmani tidak diukur. Metodologi ini tidak memasukkan kelompok kontrol, sehingga sulit mengisolasi efek pendekatan Joyful Learning dari faktor eksternal lain. Analisis kuantitatif fokus pada perubahan skor dan tidak melakukan analisis multivariat. Studi kualitatif terbatas pada dokumentasi visual dan refleksi guru/siswa, tanpa wawancara mendalam atau fokus grup. Oleh karena itu, generalisasi temuan digolongkan bersyarat pada konteks, durasi, dan instrumen yang digunakan. Meskipun demikian, batasan ini dinyatakan dengan transparan agar pembaca memahami cakupan dan validitas pengabdian. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan pengabdian di SMP Negeri 11 Medan dengan melibatkan 234 siswa kelas Vi menunjukkan antusiasme yang tinggi sejak awal kegiatan. Data observasi pada siklus pertama memperlihatkan 68% siswa aktif berpartisipasi dalam permainan pembuka berbasis Joyful Learning, sementara sisanya masih tampak pasif. Guru mencatat bahwa siswa dengan kecenderungan introvert membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyesuaikan diri dengan suasana Dokumentasi visual menunjukkan senyum, tawa, dan ekspresi gembira Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 214-226 siswa mulai dominan ketika permainan berlangsung. Fenomena ini memperlihatkan bahwa pendekatan Joyful Learning dapat menurunkan hambatan awal dalam aktivitas jasmani. Hal ini sejalan dengan teori motivasi belajar yang menekankan pentingnya aspek afektif untuk meningkatkan Peningkatan partisipasi sejak awal menjadi indikator positif bahwa model yang diterapkan relevan dengan kondisi kelas. Respon ini juga memperlihatkan adanya perubahan atmosfer belajar yang lebih inklusif dibandingkan pembelajaran konvensional. Dengan demikian, indikator awal menunjukkan adanya penerimaan baik terhadap pendekatan baru. Hasil kuisioner motivasi belajar siswa pada pre-test dan post-test memperlihatkan peningkatan yang signifikan. Rerata skor motivasi awal adalah 3,1 . ategori sedan. dalam skala 1Ae5, meningkat menjadi 4,2 . ategori tingg. setelah penerapan dua siklus. Uji perbedaan berpasangan menunjukkan nilai p < 0,05, menandakan adanya pengaruh signifikan dari intervensi Joyful Learning terhadap motivasi siswa. Temuan ini memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pembelajaran menyenangkan dapat meningkatkan motivasi intrinsik siswa. Guru PJOK menyampaikan bahwa setelah intervensi, siswa lebih sering bertanya, memberi usul, dan menawarkan diri untuk memimpin permainan. Artinya, tidak hanya motivasi mengikuti instruksi yang meningkat, tetapi juga motivasi berinisiatif dan berkontribusi. Peningkatan ini menunjukkan bahwa Joyful Learning bekerja sebagai katalisator partisipasi aktif. Data ini menegaskan bahwa pembelajaran yang dirancang menyenangkan memiliki dampak nyata pada aspek afektif siswa. Dengan demikian, indikator motivasi memperlihatkan hasil yang konsisten dengan kerangka teori yang mendasarinya. Observasi keterlibatan siswa dalam aktivitas fisik memperlihatkan peningkatan signifikan dari siklus pertama ke siklus kedua. Pada siklus pertama, 65% siswa tercatat aktif dalam setiap sesi permainan dan senam, sementara pada siklus kedua angka itu meningkat menjadi 85%. Guru melaporkan bahwa siswa yang sebelumnya cenderung enggan bergerak mulai berpartisipasi penuh, bahkan dalam aktivitas yang menuntut energi lebih Hal ini memperlihatkan bahwa metode pembelajaran yang menyenangkan mampu mengurangi rasa jenuh dan meningkatkan kesiapan siswa untuk terlibat. Dokumentasi video memperlihatkan suasana kelas yang lebih hidup, dengan siswa saling menyemangati dan bekerja sama dalam permainan tim. Interaksi positif antar siswa meningkat, terlihat dari adanya dukungan verbal seperti sorakan dan tepukan tangan. Keterlibatan aktif ini juga mencerminkan pergeseran dari orientasi individual ke orientasi kelompok. Peningkatan ini menjadi indikator keberhasilan Joyful Learning dalam Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 214-226 mendorong kolaborasi. Data keterlibatan fisik tersebut memperkuat argumen bahwa pendekatan yang melibatkan unsur permainan dapat meningkatkan kualitas interaksi belajar. Guru PJOK yang terlibat dalam pengabdian ini melaporkan adanya perbedaan signifikan dalam dinamika kelas sebelum dan sesudah penerapan Joyful Learning. Sebelum kegiatan, siswa cenderung pasif, menunggu instruksi, dan melakukan aktivitas dengan motivasi rendah. Setelah dua siklus intervensi, guru menilai suasana kelas lebih hidup, interaktif, dan menyenangkan. Guru juga merasa lebih mudah mengelola kelas karena siswa lebih kooperatif dan disiplin tanpa harus menggunakan pendekatan otoritatif. Peningkatan keterlibatan siswa berdampak pada meningkatnya kepuasan guru dalam Guru menyampaikan bahwa metode Joyful Learning memberi mereka ruang berkreasi dan lebih fleksibel dalam mengatur strategi Dengan kata lain, dampak positif tidak hanya dirasakan siswa, tetapi juga guru sebagai fasilitator. Hal ini sejalan dengan konsep teacher wellbeing dalam pembelajaran inovatif. Refleksi guru menjadi data kualitatif penting yang memperkuat temuan kuantitatif. Dengan demikian, implementasi Joyful Learning menciptakan efek ganda: memperbaiki pengalaman belajar siswa sekaligus meningkatkan kepuasan profesional guru. Analisis dokumentasi audio-visual memperlihatkan beberapa pola perilaku siswa yang relevan untuk pembahasan. Siswa tampak lebih banyak berinteraksi secara non-verbal seperti memberi isyarat, senyum, dan bertepuk tangan saat kegiatan berlangsung. Pada siklus kedua, intensitas komunikasi antar siswa meningkat, tidak hanya dalam konteks permainan tetapi juga saat diskusi reflektif di akhir kegiatan. Hal ini menunjukkan bahwa Joyful Learning tidak hanya meningkatkan aspek fisik, tetapi juga memperkuat aspek sosial. Rekaman juga memperlihatkan keberanian siswa yang awalnya pasif mulai berpartisipasi dalam memimpin pemanasan atau memberi instruksi dalam Data ini mendukung hipotesis bahwa suasana menyenangkan menciptakan ruang aman bagi siswa untuk berekspresi. Peningkatan ekspresi sosial ini dapat dipandang sebagai indikator terbentuknya iklim kelas yang Kelas yang positif berhubungan langsung dengan keberhasilan pembelajaran PJOK. Dokumentasi visual menjadi bukti empiris kuat yang memperkaya analisis kuantitatif. Dengan demikian, temuan kualitatif memperkuat keberhasilan Joyful Learning dalam konteks multidimensional. Hasil refleksi bersama siswa setelah setiap siklus memperlihatkan perubahan persepsi terhadap pembelajaran PJOK. Pada awalnya, sebagian besar siswa menganggap PJOK sebagai mata pelajaran Aumenguras tenagaAy dan Aukurang menyenangkan. Ay Setelah penerapan Joyful Learning, persepsi berubah Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 214-226 menjadi lebih positif, dengan banyak siswa menyebut PJOK sebagai pelajaran Auseru,Ay Aumenghibur,Ay dan Audinanti-nanti. Ay Hal ini menunjukkan adanya pergeseran mindset dari orientasi fisik murni menjadi orientasi pengalaman Refleksi ini juga memperlihatkan bahwa siswa merasa dihargai karena pendapat mereka didengarkan dalam proses pembelajaran. Beberapa siswa menyatakan lebih percaya diri untuk tampil di depan teman-teman. Data reflektif ini menambah bukti bahwa Joyful Learning meningkatkan dimensi afektif siswa. Perubahan persepsi ini penting karena berhubungan langsung dengan keberlanjutan motivasi belajar. Dengan demikian. Joyful Learning terbukti berdampak pada cara siswa memandang PJOK, bukan hanya aktivitas dalam kelas. Gambar 1. Siswa Sedang Mengikuti Instruksi Dari Narasumber Gambar 2. Narasumber Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 214-226 Gambar 3. Ice Breaking Dampak penerapan Joyful Learning juga terlihat pada aspek kerja sama tim dan sportivitas. Selama siklus pertama, masih ditemukan kecenderungan siswa untuk bermain sendiri atau mendominasi permainan. Namun pada siklus kedua, data observasi memperlihatkan peningkatan kerjasama sebesar 20%, dengan lebih banyak siswa saling berbagi peran dan menunjukkan sikap Guru mencatat adanya penurunan konflik kecil antar siswa, yang sebelumnya cukup sering terjadi saat bermain kompetitif. Hal ini menunjukkan bahwa Joyful Learning tidak hanya berfokus pada aspek menyenangkan, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai sosial positif. Peningkatan sportivitas ini penting dalam konteks pembelajaran karakter melalui PJOK. Data dokumentasi menunjukkan siswa saling memberi apresiasi meski timnya kalah. Fenomena ini memperlihatkan bahwa Joyful Learning memperkuat dimensi sosial dan moral pembelajaran. Dengan demikian, pendekatan ini sejalan dengan tujuan PJOK dalam membentuk kepribadian seimbang. Temuan ini menambah keyakinan bahwa Joyful Learning dapat menjadi medium pendidikan karakter. Analisis juga menunjukkan adanya perbedaan respons berdasarkan Pada awal intervensi, siswa laki-laki lebih aktif daripada siswa perempuan dalam aktivitas fisik. Namun, pada siklus kedua, partisipasi siswa perempuan meningkat hingga mendekati angka partisipasi siswa laki-laki. Guru melaporkan bahwa permainan yang dimodifikasi lebih ramah terhadap semua siswa, sehingga mendorong keterlibatan yang lebih merata. Hal ini memperlihatkan pentingnya adaptasi desain permainan dalam Joyful Learning untuk memastikan inklusivitas. Dengan pendekatan yang tepat. Joyful Learning berhasil menutup kesenjangan partisipasi antara siswa laki-laki dan Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 214-226 Data ini penting untuk menegaskan bahwa Joyful Learning tidak bias gender dan mampu mengakomodasi kebutuhan siswa dengan karakteristik berbeda. Perubahan ini juga memperlihatkan bahwa desain aktivitas yang inklusif menciptakan keadilan dalam kesempatan belajar. Keadilan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan diferensiasi pembelajaran. Dengan demikian. Joyful Learning dapat dinyatakan inklusif dan adil dalam konteks pembelajaran PJOK. Pembahasan hasil juga menyinggung keterbatasan yang muncul selama Salah satunya adalah kendala fasilitas, terutama keterbatasan alat permainan untuk mendukung variasi kegiatan. Guru mengatasi hal ini dengan memodifikasi alat sederhana seperti botol plastik, bola kecil, dan tali. Kendala lain adalah kondisi cuaca yang mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran di luar ruangan. Untuk mengatasinya, sebagian kegiatan dipindahkan ke aula sekolah dengan menyesuaikan desain aktivitas. Kendala ini menunjukkan pentingnya fleksibilitas guru dan tim pengabdian dalam merancang Joyful Learning. Meski ada keterbatasan, hasil tetap memperlihatkan peningkatan signifikan pada motivasi dan keterlibatan siswa. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan lebih ditentukan oleh strategi pedagogis daripada kelengkapan Diskusi ini memperlihatkan bahwa Joyful Learning dapat diterapkan dengan berbagai tingkat ketersediaan fasilitas. Dengan demikian, model ini cukup adaptif untuk berbagai konteks sekolah. Secara keseluruhan, hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa implementasi Joyful Learning dalam PJOK membawa perubahan positif yang konsisten pada dimensi kognitif, afektif, psikomotorik, dan sosial siswa. Data kuantitatif memperlihatkan peningkatan motivasi dan keterlibatan yang signifikan, sedangkan data kualitatif memperlihatkan perubahan persepsi, ekspresi sosial, dan nilai sportivitas siswa. Guru juga mengalami peningkatan kepuasan dalam mengajar, yang memperkuat keberlanjutan implementasi model ini. Temuan ini sejalan dengan literatur yang menyatakan bahwa pembelajaran menyenangkan meningkatkan kualitas pengalaman belajar. Meski terdapat keterbatasan fasilitas dan kondisi lingkungan, hasil memperlihatkan Joyful Learning tetap efektif diterapkan. Model ini terbukti inklusif, adaptif, dan berdampak multidimensi. Oleh karena itu. Joyful Learning dapat dianggap sebagai pendekatan strategis dalam pengembangan PJOK di SMP. Pembahasan ini memperlihatkan potensi replikasi dan adaptasi model di sekolah lain. Dengan hasil yang konsisten, pengabdian ini memperkuat argumen empiris tentang efektivitas Joyful Learning. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 214-226 KESIMPULAN Berdasarkan hasil pelaksanaan pengabdian, dapat disimpulkan bahwa implementasi pendekatan Joyful Learning dalam pembelajaran PJOK di SMP Negeri 11 Medan tahun 2025 mampu meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan persepsi positif siswa terhadap aktivitas jasmani secara signifikan. Penerapan metode yang menyenangkan tidak hanya berdampak pada peningkatan partisipasi fisik, tetapi juga memperkuat aspek afektif seperti rasa percaya diri, sportivitas, kerjasama, serta menciptakan suasana belajar yang inklusif dan adil bagi seluruh siswa. Guru PJOK turut merasakan manfaat dengan meningkatnya kepuasan dan fleksibilitas dalam mengajar, meskipun terdapat keterbatasan fasilitas dan kondisi lingkungan yang dihadapi. Secara keseluruhan. Joyful Learning terbukti sebagai pendekatan yang strategis, adaptif, dan relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran PJOK, serta berpotensi direplikasi di sekolah lain sebagai model pengembangan pembelajaran yang humanis, menyenangkan, dan berorientasi pada pembentukan karakter siswa. DAFTAR PUSTAKA