Stagnasi Perkembangan Teori Karawitan Sunda: Sebuah Tantangan Dalam Mewujudkan Kemapanan Ilmu Karawitan Sunda Di Era Generasi Emas Heri Herdini Institut Seni Budaya Indonesia Bandung Abstrak: Teori karawitan Sunda khususnya tentang laras, surupan, patet, dan lagon tidak pernah berkembang . Apabila dihitung dari kurun waktu terbitnya buku Ilmu Seni Raras . , sudah hampir 56 tahun teori karawitan Sunda karya Rd. Machjar Angga Koesoemadinata berjalan di tempat . idak mengalami kemajua. walaupun beberapa tulisan dari peneliti asing telah menyampaikan kritikannya terhadap teori karawitan Sunda tersebut. Fenomena ini merupakan permasalahan krusial yang perlu segera ditindaklanjuti . elalui penelitian ulang yang berkelanjuta. karena teori karawitan Sunda tidak hanya digunakan sebagai materi pembelajaran di sekolah-sekolah seni dan perguruan tinggi seni, tetapi juga digunakan sebagai acuan dalam praktik memainkan karawitan Sunda. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, perlu dikemukakan beberapa hal yang mendasari keraguan para peneliti asing terhadap teori karawitan Sunda Rd. Machjar Angga Koesoemadinata dan mengapa teori karawitan Sunda perlu dikaji ulang melalui penelitian yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis dan diskusi terhadap teori laras, surupan, patet, dan lagon ditemukan titik kelemahan teori karawitan Sunda yang disebabkan oleh cara berpikir yang terlalu berorientasi pada teori musik Barat. Dengan demikian, sudah saatnya teori karawitan Sunda dikaji ulang, diteliti kembali, dan dikembangkan sesuai dengan sifat dan karakteristik Auilmu itu sendiriAy yang seharusnya diperkaya dan dikembangkan secara berkelanjutan sesuai dengan perkembangan praktik karawitannya itu sendiri. Kata Kunci: Teori karawitan Sunda. Rd. Machjar Angga Koesoemadinata, stagnasi, kritik atas teori, kajian PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk juga teori karawitan Sunda, merupakan suatu keniscayaan yang perlu dipikirkan keberlanjutannya sesuai dengan karakteristik AuilmuAy itu sendiri yang seharusnya terus Sudah hampir 56 tahun, teori karawitan Sunda berjalan di tempat . idak mengalami kemajua. setelah Rd. Machjar Angga Koesoemadinata menggali teori karawitan Sunda yang dituliskan dalam salah satu bukunya. Ilmu Seni Raras . Sebagai tonggak sejarah dalam bidang ilmu karawitan Sunda. Rd. Machjar Angga Koesoemadinata tidak hanya menemukan teori laras, surupan, patet, dan lagon, tetapi juga telah menciptakan sistem penulisan notasi daminatila . erat kanayaga. pada tahun 1923 dan sejumlah karya lainnya berupa naskah gending karesmen dan kumpulan lagu ciptaannya yang dituliskan dalam buku Sari Arum . Berkat karya dan jasanya. Rd. Machjar Angga Koesoemadinata telah mendapatkan beberapa penghargaan, salah satunya yaitu Anugrah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan . selaku ahli dan penyusun teori karawitan Sunda yang ditandatangani oleh Mashuri 17 Agustus 1969. Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa pikiran, aktivitas, dan jasa Rd. Machjar Angga Koesoemadinata telah dirasakan, baik oleh masyarakat, seniman, para pendidik . uru dan dose. , maupun pemerintah . aerah dan pusa. Namun demikian, penghargaan terhadap Rd. Machjar Angga Koesoemadinata sesungguhnya tidak cukup sampai di situ, tetapi juga perlu ada upaya lebih lanjut bagaimana agar nama Rd. Machjar Angga Koesoemadinata bisa hidup ribuan tahun melalui kajian keberlanjutan terhadap karya-karyanya. Saini KM dalam ceramahnya beberapa tahun lalu pernah mengungkapkan pandangannya bahwa Aucara yang baik menghargai seorang ilmuwan yaitu dengan cara mengkaji dan mengkritisi hasil temuannya,Ay sehingga lahir temuan-temuan baru yang menyebabkan ilmu itu terus berkembang secara berkelanjutan. Dalam naskah kuna. Amanat Galunggung koprak 632, ada ungkapan Auhana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangkeAy yang artinya ada dahulu ada sekarang, tak ada dahulu tak ada sekarang. Apabila ungkapan tersebut dikaitkan dengan sosok Rd. Machjar Angga Koesoemadinata selaku ilmuwan dalam bidang karawitan Sunda, tentu ada relevansinya, di mana ia dikenal dan diakui sebagai tonggak sejarah yang pertama kali melahirkan ilmu karawitan Sunda. Artinya, seandainya sekarang ini ditemukan teori karawitan Sunda yang baru, itu disebabkan karena jasa Rd. Machjar Angga Koeseomadinata . ebagai tonggak sejara. yang lebih dulu telah melahirkan teori karawitan Sunda. Isi pesan yang terkandung dalam kedua pernyataan tersebut . endapat Saini KM dan Amanat Galunggun. tentu sangat kontekstual dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan walaupun secara faktual teori karawitan Sunda terasa mandeg . erjalan di tempa. Para peneliti asing yang pernah melakukan penelitian di 10 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l wilayah Jawa Barat seperti Jaap Kunst. Wim van Zanten. Andrew Weintraub. Henry Spiller. Mariko Sasaki, dan sejumlah peneliti asing lainnya pernah mengungkapkan keraguannya sekaligus mengkritisi teori dan sistem penulisan notasi karawitan Sunda karya Rd. Machjar Angga Koesoemadinata . endapat mereka akan disampaikan dalam pembahasa. Kritik para peneliti asing terhadap teori karawitan Sunda Rd. Machjar Angga Koesoemadinata sesungguhnya merupakan tantangan bagi kita untuk ditindaklanjuti karena ilmu tidak hanya sekadar dipelajari, dipahami, dan diaplikasikan, tetapi juga perlu dikaji ulang demi keberlangsungan hidup ilmu itu sendiri sesuai dengan perkembangan praktiknya di lapangan. Di satu sisi, permasalahan di atas perlu dijawab, namun di sisi lain belum ditemukan metodologi yang tepat untuk mengungkap berbagai persoalan yang terdapat pada karawitan Sunda. Permasalahan metodologis ini pernah juga disampaikan oleh Wim van Zanten, dan ia menyatakan bahwa Ausoal-soal metodologis haruslah dibicarakan bersama secara cermat dan hati-hati, dan pengukuran tinggi nada . harus andalAy (Zanten, 216: . Terkait dengan kesulitan metodologis ini dalam menyelesaikan permasalahan teori karawitan Sunda dapat diambil contoh, misalnya: alat ukur apa yang dipandang sangat tepat dan akurat untuk mengidentifikasi frekuensi nada-nada pada setiap laras musik Sunda. Kemudian bagaimana menentukan standar nada untuk frekuensi nada Tugu (Baran. salendro yang nantinya akan berhubungan dengan persoalan surupan, misalnya surupan 4 = T atau 4 = P . alam laras madend. dan 2 = T atau 3 = T . alam laras degun. Permasalahan tidak hanya berhenti sampai di situ, tetapi muncul lagi permasalahan berikutnya ketika kita hendak memastikan arti dari terminologi yang kita gunakan dalam karawitan Sunda, di mana pemahaman terhadap suatu AukonsepAy antara yang berlaku di lingkungan akademis dan di masyarakat berbeda pengertiannya. Sebagai contoh, istilah AusorogAy di masyarakat Tembang Sunda Cianjuran dipahami sebagai laras . angga nada madend. , sedangkan di lingkungan akademis, istilah AusorogAy dipahami sebagai salah satu surupan . alam laras pelo. Kemudian istilah AusurupanAy di masyarakat dipahami sebagai kesesuaian atau keselarasan antara frekuensi nada yang terdapat pada satu instrumen dan instrumen lainnya, misalnya kecocokan antara frekuensi nada-nada pada suling dan kacapi. Sementara itu, di lingkungan akademis . erdasarkan teori Machja. , istilah surupan cenderung dipahami sebagai tumbuknya nada tugu . salendro terhadap nada-nada lain dalam laras degung atau madenda. Misalnya, surupan 3 = T dalam laras degung dikategorikan sebagai salah satu surupan dalam laras degung, sementara bagi kelompok masyarakat seniman hal itu dipahami sebagai laras mataraman. Laras AumataramanAy itu sendiri bagi kelompok masyarakat Tembang Sunda Cianjuran disebutnya AumandalunganAy atau AukobonganAy bagi masyarakat kepesindenan. Ketidaksesuaian pemahaman terhadap terminologi yang berlaku pada karawitan Sunda akan berdampak pada mapan-tidaknya sebuah teori yang dirumuskan. Sebagai contoh, ketika istilah AusorogAy di masyarakat dipahami sebagai laras, sementara di lingkungan akademisi dipahami sebagai surupan, maka dalam praktik karawitan Sunda, misalnya dalam memainkan kacapi, hal ini tentu saja akan mengakibatkan sistem penyeteman kacapi yang berbeda. Beberapa permasalahan dalam karawitan Sunda, baik mengenai terminologi, laras, maupun surupan hingga saat ini belum ada penyelesaian dan kepastian yang disepakati bersama antara masyarakat seniman dan lingkungan Misalnya, apakah surupan itu identik dengan nada dasar . eperti dalam musik Bara. atau ada pemahaman lain di luar itu. Kemudian dalam teori laras pun demikian, apakah interval nada terkecil pada laras degung dan madenda itu sebesar 120 sen . erujuk pada rakitan salendro 10 nad. atau 80 sen . erujuk pada rakitan salendro 15 nad. , atau bahkan 70 10/17 sen . erujuk pada rakitan salendro 17 nad. Terkait dengan keberadaan laras salendro pun demikian, apakah laras salendro yang sesungguhnya itu laras salendro padantara atau bedantara, di mana selisih jarak . nada dari salendro padantara dan salendro bedantara itu sangat besar yaitu 42 sen . :282 se. dan 28 sen . :212 se. Itulah beberapa permasalahan dalam teori karawitan Sunda yang akan dibahas secara khusus pada uraian di bawah ini TEORI KARAWITAN SUNDA RD. MACHJAR ANGGA KOESOEMADINATA DAN PERMASALAHANNYA Perjuangan Rd. Machjar Angga Koesoemadinata dalam menghasilkan teori karawitan Sunda patut mendapat pujian karena prosesnya ditempuh dalam rentang waktu yang sangat panjang. Apabila dihitung dari kelulusan studinya di Hollandsch-Inlandsche Kweekschool . sampai terbitnya buku Ilmu Seni Raras . , berarti Rd. Machjar Angga Koesoemadina telah melakukan penelitian selama 47 tahun, tentu perjuangan yang sangat Hasil penelitian Rd. Machjar Angga Koesoemadinata ini kemudian dipublikasikan melalui buku yang berjudul Ringkesan Elmuning Kanayagan . Ringkesan Pangawikan Rinenggaswara . anpa tahu. , dan Ilmu Seni Raras . Sebelumnya ia pun telah menerbitkan buku yang berjudul Diadjar Mamaos Rakitan Pelog . Diadjar Mamaos Rakitan Salendro . Kawih Murangkalih, dan Sari Arum sebanyak tiga jilid . Melalui buku-buku inilah ilmu pengetahuan karawitan Sunda mulai terbuka dan dipelajari oleh orang-orang yang berkepentingan termasuk juga oleh para peneliti asing yang melakukan penelitian seni karawitan di wilayah Jawa Barat. Apalagi setelah berdirinya KOKAR (Konservatori Karawitan . dan ASTI/STSI/ISBI Bandung, teori karawitan Sunda karya Rd. Machjar Angga Koesoemadinata menjadi materi utama khususnya dalam mata kuliah Pengetahuan Karawitan dan Ilmu Bentuk Analisis Karawitan di Prodi Seni Karawitan ISBI Bandung. Teori karawitan Sunda karya Rd. Machja Angga Koesoemadinata, khususnya teori patet, tidak hanya diajarkan dalam 11 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l mata kuliah teori, tetapi juga diajarkan dalam mata kuliah praktik menabuh gamelan pelog/salendro. Demikian pula dengan teori lainnya, teori laras dan surupan pun telah diimplementasikan dalam pembuatan lagu yang diciptakan oleh seniman besar. Koko Koswara. Koko Koswara dalam menciptakan lagu-lagunya senantiasa menggunakan teori surupan. Hal ini terbukti dari notasi lagu yang dibuatnya selalu mencantumkan persoalan surupan, misalnya, lagu Kembang Impian surupan 4 = P. Angkrek Japati surupan 4 = T, dan sebagainya. Munculnya teori surupan ini tentu ada kaitannya dengan teori laras yang telah dikembangkan oleh Rd. Machjar Angga Koesoemadinata, yang semula teori laras ini hanya terdiri atas 5 nada . alam laras salendr. , kemudian dikembangkan menjadi 10 nada, 15 nada, dan terakhir 17 nada. Pengembangan teori laras ini terinspirasi oleh teori tangga nada musik barat di mana nada-nadanya bisa dinaikkan atau diturunkan . isebut kruis dan mo. sebanyak setengahnya dari frekuensi nada pokoknya. Cara berpikir seperti ini kemudian oleh Rd. Machjar Angga Koesoemadinata diterapkan kepada laras salendro, sehingga laras salendro bisa dibentuk menjadi rakitan salendro 10 nada, 15 nada, dan 17 nada dengan mengikuti teori sen Alexander John Ellis, di mana satu oktaf memiliki jarak . sebesar 1200 sen. Dengan merujuk pada teori sen ini, maka rakitan salendro 10 nada memiliki interval terkecil sebesar 120 sen dengan logika 1200: 10 nada menghasilkan interval 120 sen. Demikian pula dengan rakitan salendro 15 nada, logikanya yaitu 1200: 15 nada, maka interval terkecilnya 80 sen. Rakitan salendro 17 nada pun demikian, mengikuti logika di atas yang menghasilkan interval terkecil sebesar 70 10/17 sen. Berdasarkan temuan inilah maka Rd. Machjar Angga Koesoemadinata memiliki dugaan bahwa laras degung dan madenda merupakan turunan dari laras salendro dengan mengikuti deretan nada-nada yang terdapat pada rakitan salendro 10 nada, 15 nada, dan 17 nada. Laras salendro 5 nada yang telah dikembangkan menjadi rakitan salendro 10 nada, 15 nada, dan 17 nada ini . ihat bagan . di dalamnya mengandung nada-nada yang terdapat pada laras degung dan madenda . ihat bagan . Oleh karena nada-nada pada laras degung dan laras madenda berada di sekitaran rakitan laras salendro 10 nada, 15 nada, dan 17 nada, maka Rd. Machjar Angga Koesoemadinata berpendapat bahwa laras degung dan laras madenda merupakan turunan dari rakitan laras salendro, baik yang 10 nada, 15 nada, maupun 17 nada. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya nada-nada salendro yang tumbuk . dengan nada-nada yang terdapat pada laras degung dan madenda. Nada-nada yang tumbuk dari kedua laras yang berbeda ini . alendro dan degung, atau salendro dan madend. dapat dilihat pada bagan 3 dan 4. Bagan 1. Deretan Nada-Nada pada Rakitan Salendro 10 Nada, 15 Nada, dan 17 Nada Laras Salebdro 5 Nada 240 Sen Rakitan Salendro 10 Nada 120 120 120 120 120 120 120 120 Sen Rakitan Salendro 15 Nada 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 Sen Rakitan Salendro 17 Nada 70, 10/17 Sen, dst. 212 Sen 12 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Bagan 2. Interval Nada pada Laras Degung dan Madenda Laras Degung 80 Sen Laras Madenda 80 Sen Bagan 3. Hubunganan Antara Rakitan Salendro 15 Nada dan Laras Degung Rakitan Salendro 15 Nada 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 Laras Degung 5 4 . 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 Sen Bagan 4. Hubungan Antara Rakitan Laras Salendro 15 Nada dan Laras Madenda Rakitan Salendro 15 Nada Rakitan Salendro 15 Nada 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 Sen Laras Madenda 4 3 . 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 Sen 80 Sen 13 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Bagan 5. Perbandingan Antara Laras Salendro Padantara dan Salendro Bedantara Laras Salendro Padantara 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 Sen 240 Sen Laras Salendro Bedantara 70, 10/17 212 Sen Teori surupan pun sebenarnya ada kaitannya dengan teori patet terutama dilihat secara fungsional dalam praktik memainkan gamelan pelog/salendro. Menurut Rd. Machjar Angga Koesoemadinata, patet adalah penetapan tinggi raras dominant . asar = patokaningrara. dan tonika = renaningrara. dari suatu lagon atau lebih untuk menentukan tinggi rendahnya atau besar kecilnya lagon-lagon . itu (Koesoemadinata, 1969: . Dalam teori patet, ada lima tahapan nada yang masing-masing nada memiliki fungsi yang berbeda dalam menabuh instrumen gamelan pelog/salendro. Kelima tahapan tersebut adalah patokaning laras, panglangen, pangaget, pangrena . enaning lara. , dan pancer. Nada yang kedudukannya sebagai patokaning laras berfungsi sebagai nada kenongan, sedangkan nada yang kedudukannya sebagai pangrena . enaning lara. berfungsi sebagai nada Nada yang kedudukannya sebagai pangaget berfungsi sebagai pembatas nada antara nada pancer dan nada kenongan atau antara nada pancer dan nada goongan. Sementara itu, nada yang kedudukannya sebagai pancer berfungsi sebagai tanda perpindahan dari nada kenongan ke goongan atau sebaliknya. Secara fungsional, teori patet terbagi atas lima jenis, yaitu: Patet Nem. Loloran. Manyuro. Sanga, dan singgul. Untuk lebih jelasnya lihat tabel patet berikut ini. Tabel 1. Tabel Patet Fungsi Nada Nama Patet Nem Loloran Manyuro Sanga Singgul Patokaning Laras TABEL PATET Panglangen Pangaget Pangrena (Renaning Lara. Pancer Di lingkungan akademis, khususnya di Program Studi Seni Karawitan. Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung, teori patet menjadi acuan dalam praktik bermain gamelan apalagi dalam proses pembelajaran gamelan pelog/salendro. Dalam buku Ilmu Seni Raras . yang secara khusus membahas tentang patet dan lagon pada bab V. Koesoemadinata tidak secara eksplisit menjelaskan apa fungsi patet kaitannya dengan peran pesinden . Ia hanya menjelaskan bahwa dalam sebuah komposisi musik selalu ada tonikanya . esan akhir atau penghabisan sebagai pemuas ras. , dan kesan akhir ini harus didasari oleh patokaningraras . sebagai pemegang teguh dasar nada. Oleh sebab itu, tonika dan dominant itu sama pentingnya sebagaimana yang diungkapkan dalam pernyataannya sebagai berikut. 14 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Tanpa dominant, tidak ada tonika, tidak terasa adanya tonika. Tidak ada tonika, tanpa tonika, tidak ada kepuasan rasa seni. Subdominant juga terhitung penting, sebab selaku finalis atau pungkasan komposisi atau bagian komposisi, subdominant itu adalah no. 2 atau no. 3 dari tonika (Koesoemadinata, 1969: . Di samping teori patet. Rd. Machjar Angga Koesoemadinata juga membahas tentang teori lagon dalam karawitan Sunda. Teori lagon ini ada kaitannya dengan teori patet, di mana teori lagon ini pada prinsipnya hampir sama dengan konsep patet di Jawa. Menurut Rd. Machjar Angga Koesoemadinata, laras pelog, salendro, degung, dan madenda mempunya lima jenis lagon yaitu lagon Mi-La. Ti-Mi. Da-Ti. Na-Da, dan lagon La-na. Untuk lebih jelasnya, lihat bagan di bawah ini. Bagan 6. Lagon dalam Laras Karawitan Sunda Lagon Mi-La (Mawar-Lumayun. 5 4 3 2 1 5 . 0 5 1 2 3 4 5 . Lagon Ti-Mi (Tanjung Meka. 2 1 5 4 3 2 . 0 2 3 4 5 1 2 . Lagon Da-Ti (Dewaning Tama. 2 1 5 4 . 0 4 5 1 2 3 4 Lagon Na-Da (Nara-Dip. 1 5 4 3 2 1 . 0 1 2 3 4 5 1 Lagon La-Na 1 5 4 3 . 0 3 4 5 1 2 3 . Itulah sekilas gambaran umum tentang teori karawitan Sunda yang telah digali oleh Rd. Machjar Angga Koesoemadinata. Teori karawitan Sunda karya Rd. Machjar Angga Koesoemadinata ini di samping menjadi rujukan dalam konteks pendidikan seni karawitan Sunda, juga banyak dipelajari oleh para peneliti asing yang melakukan penelitian di wilayah Jawa Barat sebagaimana telah dikemukakan dalam pendahuluan tulisan ini. Peneliti asing yang pernah melakukan penelitian di Tatar Sunda di antaranya adalah Jaap Kunst yang pernah menulis buku yang berjudul Music in Java: Its History. Its Theory and Its Technique . Volume . Dalam buku tersebut. Jaap Kunst banyak menyebutkan nama Rd. Machjar Angga Koesoemadinata lebih dari 18 kali terutama ketika ia membahas tentang nada dan sistem tangga nada pada bab 2, dan bahasan karawitan Sunda pada Hal ini menunjukkan bahwa Jaap Kunst sendiri ketika menulis buku tersebut banyak merujuk pada pemikiran dan tulisan Rd. Machjar Angga Koesoemadinata. Menurut pengakuan Rd. Machjar Angga Koesoemadinata yang dituliskan dalam bukunya yang berjudul Ilmu Seni Raras . , ia sangat dekat dengan Jaap Kunst bahkan Jaap Kunst sendiri sempat mengunjungi rumah Rd. Machjar Angga Koesoemadinata di Sumedang ketika ia hendak memperdalam persoalan laras pelog dan salendro. Keduanya juga sering melakukan korespondensi terutama setelah Jaap Kunst kembali ke negerinya sendiri. Belanda. Dari sekian banyak korespondensi yang dilakukan antara Jaap Kunst dan Rd. Machjar Angga Koesoemadinata, ada salah satu surat balasan dari Jaap Kunst terhadap surat yang dilayangkan Rd. Machjar Angga Koesoemadinata terkait dengan persoalan rakitan salendro 17 nada. Isi balasan surat dari Jaap Kunst tersebut berbunyi sebagai berikut. Pemberitahuan Anda bahwa Anda telah membeda-bedakan jumlah keseluruhan yang 17 anak tangga nada dalam slendro, mencengangkan saya. Pertama, slendro kelihatannya sudah baik-baik saja dengan lima nada. lalu itu menjadi 10. Ini mau membawa kita kemana . urat-menyurat Kunst-Kusumadinata 1928-1. (Zanten, 2016: . 15 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Dari isi surat balasan Jaap Kunst terhadap surat Rd. Machjar Angga Koesoemadinata ini menunjukkan bahwa Jaap Kunst sesungguhnya kurang setuju dengan apa yang digagas oleh Rd. Machjar Angga Koesoemadinata. Peneliti asing berikutnya selain Jaap Kunst yaitu Wim van Zanten. Sekitar tahun 1980-an. Zanten melakukan penelitian tentang musik Cianjuran dengan narasumber utama Uking Sukri dan ia cukup lama tinggal di Bandung. Selama melakukan penelitian tentang musik Cianjuran, khususnya pada instrumen kacapi indung. Zanten merasakan kesulitan dalam memahami sistem notasi daminatila termasuk juga teori laras yang dikembangkan oleh Rd. Machjar Angga Koesoemadinata. Dalam tulisannya yang berjudul AuPerjumpaan Dalam Konteks Musik Sunda yang Inspiratif dan Teori-Teori ProblematisAy . Zanten menyampaikan pernyataannya sebagai berikut. Ketika mempersiapkan penelitian lapangan untuk PhD saya tentang musik Cianjuran pada 1980, saya dihadapkan pada teori-teori moda yang problematis dari Kunst dan Kusumadinata, yang tampaknya agak jauh dari praktik musik. Saya putuskan bahwa belajar musiknya itu sendiri, mengukur larasan kacapi, mengamati proses pelarasan kacapi dan mewawancara para pemainnya, mungkin akan dapat menjelaskan model-model pelarasan dan berbagai moda musik Sunda (Zanten, 2016: . Berdasarkan pengukuran nada atas 56 kacapi dan pengamatan atas proses pelarasan, saya tunjukkan bahwa model-model teoretis sistem nada Kusumadinata . an Kuns. tak satu pun berlaku untuk pelarasan kacapi dalam musik Cianjuran. Jika diungkapkan secara sederhana, kelima interval dasar dari sistem pentatonik pada piano lebih mendekati larasan pelog dan sorog pada kacapi, ketimbang model-model teoretis Kusumadinata dan Kunst yang manapun (Zanten, 2016: . Berdasarkan kutipan di atas, tampak tersirat bahwa Wim van Zanten pun merasakan ada masalah dalam teori laras dan sistem penulisan notasi daminatila yang dibuat oleh Rd. Machjar Angga Koesoemadinata. Peneliti asing berikutnya yang juga pernah melakukan penelitian tentang karawitan Sunda yaitu Andrew Weintraub. Penelitian Weintraub lebih terfokus pada masalah musik gamelan Sunda. Dalam artikelnya yang berjudul AuInstruments of Power: Sundanese AuMulti-LarasAy Gamelan in New Order Indonesia,Ay Weintraub menyampaikan pendapat para seniman terkait dengan cara memainkan gamelan Ki Pembayun sebagai hasil pembuktian terhadap teori rakitan salendro 17 nada. Terkait dengan hal tersebut. Weintraub menyatakan sebagai Why was Ki Pembayun so unpopular with musicians? According to musicians who participated in the festival rehearsals, it was difficult for them to learn fundamentally new ways of playing the instruments, especially for pieces they already knew. Second, training the musicians would have taken time, money, and the organization of individual musicians into a fixed and dedicated group. Third, there was a distinct social gap between the musicians, who were comprised of independent practitioners from various kampong . as well as concervatory students, and the teacher, who were mostly concervatory-trained theorists (Weintraub, 2001, . Penelitian tentang gamelan Sunda selain dilakukan oleh Weintraub, juga dilakukan oleh Henry Spiller. Berdasarkan hasil penelitiannya, kemudian ia menulis buku yang berjudul Gamelan Music of Indonesia . 8, edisi kedu. Henry Spiller juga pernah mengkritik teori laras karya Rd. Machjar Angga Koesoemadinata meskipun ia tidak secara langsung menyerang teori karawitan Sunda Rd. Machjar Angga Koesoemadinata, namun pada bagian tertentu ia menyatakan bahwa musik Sunda sangat fleksibel dan bersifat kontekstual, sehingga teori laras yang dibuat oleh Rd. Machjar Angga Koesoemadinata tidak mewakili praktik musikal yang hidup di Selain para penelitia asing yang sudah disebutkan di atas. Mariko Sasaki dari Jepang juga telah mengkritisi teori karawitan Rd. Machjar Angga Koesoemadinata yang dipublikasikan melalui bukunya yang berjudul Laras Pada Karawitan Sunda . Mariko Sasaki menyimpulkan bahwa teori karawitan Sunda karya Rd. Machjar Angga Koesoemadinata mengenai asal usul laras perlu didekonstruksi atau direvisi untuk mengakomodasi bukti historis terutama terkait asal usul laras pelog dan sorog dalam karawitan Sunda. Untuk menjawab keraguan terhadap asal usul laras sorog, kemudian Sasaki bersama Juju Masunah menulis artikel yang berjudul AuA Review of The Sundanese Scale TheoryAy . yang dimuat pada Jurnal Harmonia vol. 21, no. 2, tahun 2022. Melalui artikel tersebut. Sasaki mengkaji ulang teori laras Sunda yang dikembangkan oleh Rd. Machjar Angga Koesoemadinata, dan ia berpendapat bahwa ada ketidaksesuaian antara teori laras Rd. Machjar Angga Koesoemadinata dan praktik musikalnya di lapangan khususnya terkait laras sorog. Kemudian Sasaki menyimpulkan bahwa laras sorog tidak semata diturunkan dari laras salendro sebagaimana diasumsikan oleh Rd. Machjar Angga Koesoemadinata. Menurut Sasaki, laras sorog menunjukkan struktur musikal dan estetika khas Sunda yang berkembang secara mandiri. Dengan demikian, menurut Sasaki, teori laras Sunda Rd. Machjar Angga 16 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Koesoemadinata perlu direvisi agar lebih sesuai dengan kenyataan praktik karawitan dan sejarah musik Sunda (Sasaki, 2022: 328-. Itulah gambaran sekilas tentang pandangan para peneliti asing terhadap teori karawitan Sunda Rd. Machjar Angga Koesoemadinata yang disampaikan melalui tulisannya, baik berupa buku maupun jurnal ilmiah. Lalu mengapa mereka . ara peneliti asin. mempertanyakan teori karawitan Sunda Rd. Machjar Angga Koesoemadinata, dan di mana letak permasalahannya. Sebagai orang Sunda yang juga berkecimpung dalam dunia karawitan Sunda, saya akan sedikit mengulas tentang permasalahan yang terdapat pada teori karawitan Sunda yang digali oleh Rd. Machjar Angga Koesoemadinata. Ketika Rd. Machjar Angga Koesoemadinata melakukan pengukuran frekuensi nada-nada laras salendro . enggunakan monochor. dengan sampel gamelan Kyahi Mulya milik R. Ardja Pranata di Jl. Atjeh No. Bandung, diperoleh suatu hasil berupa besaran frekuensi nada-nada salendro sebagai berikut. PANGASIH GULU DADA LIMA NEM PANGASIH 529 HZ 242 SEN Besaran interval nada-nada salendro yang telah dihasilkan itu kemudian oleh Rd. Machjar Angga Koesoemadinata dirata-ratakan menjadi 240 sen, sehingga melahirkan interval laras salendro yang jarak antarnadanya sama yang kemudian disebut salendro padantara. Oleh karena terinspirasi oleh teori tangga nada musik Barat. Rd. Machjar Angga Koesoemadinata kemudian meniru prinsip Aumenaikkan dan menurunkanAy frekuensi nada-nada . alam teori tangga nada musik Bara. sebesar setengah dari nada pokoknya yang dikenal dengan istilah malang dan miring. Dari situ kemudian dibuat rakitan laras salendro 10 nada sebagai pewujudan dari menaikkan atau menurunkan nada pokok salendro sebesar setengahnya, sehingga diperoleh interval antarnadanya sebesar 120 sen. Namun, ketika Rd. Machjar Angga Koesoemadinata mengeksplorasi rakitan salendro 10 nada, tidak dilakukan dengan cara mengukur langsung frekuensi nada-nadanya, tetapi menggunakan teori sen Alexander John Ellis, di mana satu oktaf memiliki besaran interval 1200 sen. Dengan mengikuti teori sen ini, maka dihasilkan besaran interval 120 sen dengan logika 1200: 10 = 120 sen. Dalam mewujudkan rakitan salendro 15 dan 17 nada pun. Rd. Machjar Angga Koesoemadianta melakukan hal yang serupa, sehingga besaran interval terkecil yang dihasilkan oleh rakitan salendro 10, 15, dan 17 nada itu satu sama lain berbeda, ada yang 120 sen, 80, sen, dan 70 10/17 sen. Lalu, pertanyaannya interval terkecil dari laras degung dan madenda itu apakah 120 sen, 80 sen, atau 70 10/17 sen. Demikian pula dengan keberadaan laras salendro itu sendiri yang menurut Rd. Machjar Angga Koesoemadinata ada dua jenis laras salendro, yaitu salendro padantara dan salendro bedantara. Salendro padantara dihasilkan dari rakitan salendro 15 nada yang jarak . nada-nadanya sama sebesar 240 sen, sedangkan salendro bedantara dihasilkan dari rakitan salendro 17 nada yang jarak . nada-nadanya berbeda, yaitu ada yang 212 sen dan ada pula yang 282 sen. Lalu, pertanyaannya, laras salendro yang sesungguhnya itu yang mana, apakah salendro padantara atau salendro bedantara. Inilah salah satu permasalahan yang terdapat dalam teori laras Rd. Machjar Angga Koesoemadinata. Mengapa Rd. Machjar Angga Koesoemadinata mengembangkan laras salendro ke dalam rakitan salendro 10, 15, dan 17 nada? Karena ia memiliki dugaan bahwa laras degung dan madenda merupakan turunan dari laras Untuk membuktikan kebenaran dugaan ini, maka Rd. Machjar Angga Koesoemadinata menguraikan deretan interval nada-nada yang terdapat pada rakitan salendro 10, 15, dan 17 nada yang kemudian dibandingkan dengan deretan interval nada-nada yang terdapat pada laras degung dan madenda dengan mengacu pada nada-nada tumbuk yang terdapat pada kedua laras tersebutr, baik salendro dan degung maupun salendro dan madenda. Dari situlah diperoleh konsep surupan sebagaimana yang kita kenal sekarang ini, di mana standar nada yang menjadi patokannya diambil dari nada Tugu (Baran. salendro yang kemudian diselaraskan dengan nada-nada yang terdapat pada laras degung dan madenda, misalnya surupan 4 = T, 4 = P . alam laras madend. atau 2 = T, 3 = T . alam laras degun. Oleh karena frekuensi nada Tugu (Baran. salendro pada setiap gamelan salendro yang ada di berbagai tempat satu sama lain berbeda frekuensinya, maka kita tidak bisa memastikan berapa besaran frekuensi nada Tugu (Baran. yang mesti dijadikan standar nada. Tampak berbeda sekali dengan teori tangga nada musik Barat, di mana nada A sudah distandarisasi besarana frekuensinya yaitu 440 Hz. Semua piano yang ada di seluruh dunia, frekuensi nada A-nya sebesar 440 Hz. Permasalahan ini tentu berdampak pada logika penetapan Aunada 17 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l mutlakAy dan Aunada relatifAy pada sistem penulisan notasi musik Sunda yang dibuat oleh Rd. Machjar Angga Koesoemadinata dengan menetapkan nada mutlak (T. S) dan nada relatif . , 2, 3, 4, . Konsep Aunada mutlakAy dan Aunada relatifAy dalam teori musik Barat sangat terkait dengan pemberlakuan nada dasar, misalnya nada dasar C = Do. D = Do. G = Do, dan sebagainya. Sementara itu, dalam teori karawitan Sunda, konsep Aunada mutlakAy dan Aunada relatifAy cenderung diberlakukan pada persoalan surupan, misalnya surupan 4 = T, 4 = P, 4 = G, dan sebagainya. Pertanyaannya, apakah konsep surupan dalam teori karawitan Sunda identik dengan nada dasar? Semua permasalahn yang telah dipaparkan di atas belum mendapatkan jawaban pasti. Hal ini merupakan indikator sebagai bukti bahwa teori karawitan Sunda tampak stagnan . erjalan di tempa. , tidak berkembang, dan belum ada upaya untuk menggali lebih lanjut misteri yang ada di balik persoalan karawitan Sunda. Beberapa permasalahan dalam teori karawitan Sunda sudah barang tentu menjadi tantangan kita bersama dalam upaya mengembangkan kemapanan teori karawitan Sunda sesuai dengan perkembangan praktiknya di lapangan. Semoga permasalahan ini menjadi renungan kita bersama dalam menyongsong generasi emas seniman Sunda di masa yang akan datang. PENUTUP Berdasarkan semua uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa teori karawitan Sunda karya Rd. Machjar Angga Koesoemadinata perlu ditindaklanjuti melalui diskusi, penelitian, pengalian, pengukuran, dan penganalisisan terhadap berbagai persoalan, baik secara praktik maupun teoretis dengan berupaya mencari dan menemukan metodologi baru dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang terdapat pada karawitan Sunda, baik menyangkut terminologi, fenomena laras, maupun praktik karawitan Sunda di lapangan dengan memerhatikan berbagai genre Beberapa kritikan yang disampaikan oleh para peneliti asing, perlu ditanggapi secara positif, bahkan perlu dijadikan barometer dan tantangan ke depan agar teori karawitan Sunda terus berkembang sesuai dengan perkembangan praktiknya itu sendiri. Dengan demikian, dalam menyongsong generasi emas, khususnya para seniman Sunda, kita perlu melangkah ke depan dengan bertolak dari apa yang sudah dikerjakan oleh Rd. Machjar Angga Koesoemadinata sebagai tonggak sejarah yang mengawali lahirnya teori karawitan Sunda. Semoga nama besar Rd. Machjar Angga Koesoemadinata terus berkibar dan harum melalui tulisan-tulisan berikutnya yang juga mengkaji persoalan karawitan Sunda. DAFTAR PUSTAKA