(Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kriste. Vol. No. Desember 2025 . e-ISSN 2614-3135 p-ISSN 2615-739X https://w. id/e-journal/index. php/kurios Kepemimpinan naratif-memori: Paradigma pembangunan jemaat melalui praktik anamnesis komunal Fenetson Pairikas Institut Agama Kristen Negeri. Kupang Correspondence: etsonpairikas@gmail. DOI: https://doi. 30995/kur. Article History Submitted: July 07, 2025 Reviewed: Oct. 17, 2025 Accepted: Dec. 30, 2025 Keywords: formative liturgy. narrative-memory theology of memory. kepemimpinan naratifmemori. liturgi formatif. pembangunan jemaat. teologi memori Copyright: A2025. Authors. License: Abstract: This article constructs a narrative-memory leadership paradigm as an alternative to the dominant visionary-futuristic and managerial-corporate models of church leadership. Through a qualitative, constructivist approach using critical correlational methods, this study integrates memory theology (Metz. Volf. Ricoeu. , narrative leadership theory (Gardner. Hauerwa. , and formative liturgy (Smith. Schmeman. to develop a leadership framework rooted in the practice of anamnesis. The findings show that narrative-memory leadership offers five transformative dimensions: leaders as curators of communal memory, liturgy as a technology for identity formation, narrative as a medium for integrating fragmentary experiences, memory as a source of post-traumatic reconciliation, and anamnesis as prophetic critique. In the Indonesian context, marked by plurality and various historical wounds, this model provides a theological and practical framework for community building that integrates recognition of past suffering with eschatological hope. Abstrak: Artikel ini mengkonstruksi paradigma kepemimpinan naratifmemori sebagai alternatif terhadap model kepemimpinan gereja yang dominan bersifat visioner-futuristik dan manajerial-korporat. Melalui pendekatan kualitatif-konstruktif serta metode korelasi kritis, penelitian ini mengintegrasikan teologi memori (Metz. Volf. Ricoeu. , teori kepemimpinan naratif (Gardner. Hauerwa. , dan liturgi formatif (Smith. Schmeman. , untuk mengembangkan kerangka kepemimpinan yang berakar pada praktik anamnesis. Temuan menunjukkan bahwa kepemimpinan naratif-memori menawarkan lima dimensi transformatif: pemimpin sebagai kurator memori komunal, liturgi sebagai teknologi pembentukan identitas, narasi sebagai medium integrasi pengalaman fragmentaris, memori sebagai sumber rekonsiliasi pasca-trauma, dan anamnesis sebagai kritik profetik. Dalam konteks Indonesia yang ditandai pluralitas dan berbagai luka sejarah, model ini menyediakan kerangka teologis dan praktis untuk pembangunan jemaat yang mengintegrasikan pengakuan atas penderitaan masa lalu dengan harapan eskatologis. Pendahuluan Lanskap kepemimpinan Gereja-gereja kontemporer kerap didominasi oleh dua model yang pada permukaannya tampak berbeda, namun sesungguhnya bertumpu pada asumsi epistemologis yang serupa. Pertama, model manajerial-korporat yang menekankan efisiensi, target pertumbuhan numerik, dan struktur hierarkis. Kedua, model karismatik-visioner yang me- KURIOS. Copyright A2025. Authors | 763 F. Pairikas. Kepemimpinan naratif-memoriA musatkan otoritas pada figur pemimpin tunggal dengan legitimasi spiritual. 1 Kedua model ini diadopsi secara luas oleh Gereja-gereja di Indonesia, memahami pemimpin terutama sebagai 'arsitek masa depan'Aisosok yang merancang visi, merumuskan strategi, serta memobilisasi jemaat menuju tujuan-tujuan yang ditetapkan. Implikasinya, pembangunan jemaat dipahami sebagai proyek konstruksi institusional yang diukur melalui indikator-indikator kuantitatif seperti pertambahan anggota, perluasan fasilitas, dan peningkatan program. Problematika teologis yang mendasar dari model kepemimpinan visioner-futuristik ini terletak pada pengabaian terhadap dimensi anamnesis yang sentral dalam identitas dan praktik Kristen. Perintah Yesus 'perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku' (EE AAnEA AC E a aE. Luk. 22:19. 1Kor. 11:24-. , menunjukkan bahwa iman Kristen secara fundamental adalah iman yang mengingat. 2 Gereja pada hakikatnya bukan komunitas yang terutama berorientasi pada masa depan sebagaimana dirancang oleh para pemimpin, melainkan komunitas yang dibentuk oleh memori kolektif atas tindakan penyelamatan Allah dalam Liturgi, sakramen, dan berbagai praktik komunal gereja pada hakikatnya adalah praktik anamnesis yang menghadirkan dan mengaktualkan peristiwa keselamatan Allah dalam kehidupan jemaat masa kini. Lebih jauh, model kepemimpinan yang amnestikAiyang melupakan atau mengabaikan memoriAimenciptakan diskontinuitas problematik dengan tradisi dan sejarah komunitas. Stanley Hauerwas, dengan tepat mengingatkan bahwa gereja adalah komunitas yang dibentuk oleh narasi, dan tanpa kesetiaan pada narasi tersebut, gereja kehilangan identitas distingtifnya. 4 Ketika pemimpin gereja memposisikan diri terutama sebagai inovator yang membawa 'hal-hal baru' tanpa mengakarkan inovasi tersebut pada tradisi yang hidup, mereka berisiko mencabut jemaat dari sumber-sumber spiritual yang telah memelihara komunitas iman sepanjang generasi. Dalam konteks Indonesia yang plural dengan berbagai luka sejarahAimulai dari tragedi 1965, kerusuhan berbasis SARA, hingga pengalaman marginalisasi komunitas tertentuAikepemimpinan yang mengabaikan memori dapat menjadi bentuk kekerasan simbolik terhadap mereka yang membutuhkan pengakuan atas penderitaan mereka. Howard Gardner menunjukkan bahwa, pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu menghubungkan pengalaman pengikutnya dengan narasi yang lebih besar, memberikan makna pada penderitaan dan harapan pada masa depan. 5 Ketika pemimpin gereja gagal menyediakan ruang untuk memoriAikhususnya memori penderitaanAimereka secara tidak langsung menegaskan bahwa pengalaman tersebut tidak penting atau harus dilupakan demi 'kemajuan. Tinjauan terhadap literatur menunjukkan adanya kesenjangan signifikan dalam diskursus teologi kepemimpinan. Di satu sisi, teologi memori telah berkembang pesat melalui karyakarya Johann Baptist Metz tentang memoria passionis. Miroslav Volf tentang mengingat dengan benar . emembering rightl. , dan Paul Ricoeur tentang dialektika memori dan pelupaan. Di sisi lain, studi tentang kepemimpinan naratif telah menunjukkan peran sentral cerita dalam 1 Johann Baptist Metz. Faith in History and Society: Toward a Practical Fundamental Theology (New York: Seabury Press, 1. , 66. 2 Miroslav Volf. The End of Memory: Remembering Rightly in a Violent World (Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 9. 3 James K. Smith. Desiring the Kingdom: Worship. Worldview, and Cultural Formation (Grand Rapids: Baker Academic, 2. , 25. 4 Stanley Hauerwas. A Community of Character: Toward a Constructive Christian Social Ethic (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1. , 9-10. 5 Howard Gardner. Leading Minds: An Anatomy of Leadership (New York: Basic Books, 1. , 14. 6 Paul Connerton. How Societies Remember (Cambridge: Cambridge University Press, 1. , 3. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 764 KURIOS. Vol. No. Agustus 2025 praktik kepemimpinan. 7 Namun, integrasi sistematis antara teologi memori, teori kepemimpinan naratif, dan praktik liturgis dalam konteks pembangunan jemaat masih sangat terbatas, khususnya dalam setting Indonesia. Kesenjangan inilah yang hendak dijembatani melalui penelitian ini. Artikel ini berargumen bahwa kepemimpinan naratif-memoriAiyang memahami pemimpin sebagai kurator memori komunal . urator of memor. dan liturgi sebagai teknologi pembentukan identitasAimenawarkan paradigma yang lebih setia secara teologis dan lebih relevan secara kontekstual untuk pembangunan jemaat di Indonesia. Model ini tidak menolak orientasi masa depan, tetapi mengakarkan harapan eskatologis pada fondasi memori yang kokoh, sesuai dengan struktur iman biblikal, yang memahami masa depan sebagai pemenuhan janji-janji yang telah dimulai dalam tindakan Allah di masa lalu. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengkonstruksi kerangka teologis kepemimpinan naratif-memori yang mengintegrasikan dimensi biblikal, teoretis, dan kontekstual sebagai paradigma pembangunan jemaat. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-konstruktif dengan metode korelasi kritis . ritical correlatio. yang mempertemukan tradisi teologis dengan analisis kontekstual. Data dikumpulkan melalui studi pustaka interdisipliner yang mencakup teks-teks biblikal, karya-karya teolog memori kontemporer, literatur kepemimpinan naratif, dan studi-studi tentang konteks Indonesia. Anamnesis sebagai Fondasi Eklesiologis: Dari Zakhor hingga Eucharistia Konsep memori dalam tradisi biblikal memiliki karakteristik yang distingtif dibandingkan pemahaman modern tentang memori sebagai sekadar mengingat fakta masa lalu. Brevard Childs dalam studinya, menunjukkan bahwa zakhor (A )nuAdalam Perjanjian Lama bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan tindakan yang menghadirkan kembali . peristiwa masa lalu, sehingga menjadi efektif dalam kehidupan masa kini. 8 Ketika Israel 'mengingat' pembebasan dari Mesir dalam perayaan Paskah, mereka tidak sekadar mengenang peristiwa historis tetapi berpartisipasi dalam realitas pembebasan itu sendiri. Paul Ricoeur menyebut dinamika ini sebagai 'memori yang membuat hadir' . aking-present memor. , berbeda dari sekadar 'mengingat' . Dalam tradisi Deuteronomis, perintah untuk mengingat . seringkali disandingkan dengan peringatan untuk tidak melupakan . o tishkac. Kombinasi ini menunjukkan bahwa memori bukanlah proses otomatis melainkan tindakan yang harus dipelihara secara intensional melalui praktik-praktik komunal: perayaan, pengajaran, dan penceritaan ulang. 10 Yosef Yerushalmi dengan tepat mengobservasi bahwa dalam tradisi Yahudi, memori adalah kewajiban religius yang membentuk identitas komunal. 11 Implikasi eklesiologisnya jelas: Gereja sebagai komunitas perjanjian baru mewarisi tradisi memori ini dan dipanggil untuk memeliharanya melalui praktik-praktik liturgis. Robert J. Schreiter. Reconciliation: Mission and Ministry in a Changing Social Order (Maryknoll: Orbis Books, 1. , 41. 8 Brevard S. Childs. Memory and Tradition in Israel (London: SCM Press, 1. , 51-52. 9 Paul Ricoeur. Memory. History. Forgetting, trans. Kathleen Blamey and David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2. , 96. 10 Yosef Hayim Yerushalmi. Zakhor: Jewish History and Jewish Memory (Seattle: University of Washington Press, 1. , 11. 11 Childs. Memory and Tradition, 56. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 765 F. Pairikas. Kepemimpinan naratif-memoriA Kontinuitas tradisi memori ini terlihat jelas dalam institusi Perjamuan Kudus. Frase 'AC E a aE' . is ten emen anamnesin, 'sebagai peringatan akan Aku') dalam narasi institusi menggunakan istilah AuanamnesisAy yang kaya makna dalam konteks Yahudi-Helenistik. Joachim Jeremias menunjukkan bahwa anamnesis dalam konteks ini bukan sekadar memorial subjektif tetapi proklamasi objektif yang menghadirkan realitas yang diingat. 12 Geoffrey Wainwright menambahkan bahwa anamnesis eukaristik memiliki dimensi triadik: mengingat karya Kristus di masa lalu, merayakan kehadiran-Nya di masa kini, dan mengantisipasi kedatangan-Nya di masa depan. 13 Struktur anamnestik ini menjadi paradigma bagi seluruh kehidupan gereja. Implikasi bagi kepemimpinan gereja sangat signifikan. Jika gereja pada hakikatnya adalah komunitas anamnestik, maka pemimpin gereja tidak dapat memahami perannya terpisah dari praktik memori. Pemimpin bukan pertama-tama visioner yang membayangkan masa depan ex nihilo, melainkan kurator yang memelihara, menafsirkan, dan menyampaikan memori komunal dengan cara yang relevan bagi generasi masa kini. Walter Brueggemann menyebut tugas ini sebagai 'imagination rooted in memory'Aiimajinasi yang berakar pada memori. 14 Harapan eskatologis yang autentik bukanlah proyeksi keinginan manusiawi melainkan kepercayaan pada kesetiaan Allah yang telah menunjukkan diri-Nya dalam tindakan-tindakan penyelamatan sepanjang sejarah. Memoria Passionis dan Politik Memori: Perspektif Metz dan Volf Johann Baptist Metz mengembangkan teologi memori dalam konteks pasca-Holocaust dengan urgensi etis yang mendalam. Bagi Metz, memoria passionisAimemori penderitaanAiadalah kategori teologis fundamental yang memiliki tiga dimensi yang saling terkait. Pertama, memori penderitaan adalah bentuk solidaritas dengan korban masa lalu. menolak untuk melupakan mereka adalah menolak untuk membiarkan kematian mereka menjadi sia-sia. 15 Kedua, memori penderitaan memiliki potensi subversif yang mengganggu tatanan yang menindas. mengingat ketidakadilan masa lalu adalah mengkritik ketidakadilan masa kini yang seringkali merupakan kelanjutannya. Ketiga, memori penderitaan adalah sumber harapan eskatologis. janji kebangkitan mengimplikasikan bahwa Allah tidak akan membiarkan penderitaan memiliki kata terakhir. Kontribusi Metz sangat relevan untuk kritik terhadap kecenderungan 'borjuisifikasi' kekristenan yang menekan memori demi kenyamanan dan stabilitas. Gereja-gereja yang terlalu fokus pada pertumbuhan dan kesuksesan institusional seringkali mengembangkan amnesia selektif terhadap pengalaman penderitaanAibaik penderitaan dalam sejarah mereka sendiri maupun penderitaan komunitas lain yang terkait dengan mereka. Metz mengingatkan bahwa iman yang kehilangan memori penderitaan adalah iman yang kehilangan kapasitas kritisnya dan rentan menjadi legitimasi bagi status quo yang tidak adil. Miroslav Volf melengkapi perspektif Metz, dalam refleksi tentang bagaimana korban kekerasan dapat 'mengingat dengan benar' . emembering rightl. Sebagai seseorang yang mengalami trauma interogasi selama konflik di Yugoslavia. Volf bergumul dengan pertanyaan: BaJoachim Jeremias. The Eucharistic Words of Jesus, trans. Norman Perrin (London: SCM Press, 1. , 252. Geoffrey Wainwright. Eucharist and Eschatology (New York: Oxford University Press, 1. , 64. 14 Walter Brueggemann, "The Liturgy of Abundance, the Myth of Scarcity," The Christian Century 116, no. : 343. 15 Metz. Faith in History and Society, 88-89. 16 Metz, 109. 17 Volf. The End of Memory, 35. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 766 KURIOS. Vol. No. Agustus 2025 gaimana mengingat tanpa terjebak dalam siklus kebencian dan balas dendam?18 Volf mengargumentasikan bahwa memori yang sehat bukanlah melupakan . yang merupakan bentuk pengkhianatan terhadap korban, tetapi juga bukan mengingat dengan kebencian . engeful rememberin. yang memperpanjang siklus kekerasan. Hal seperti ini yang dibutuhkan adalah transformasi memori dalam terang rekonsiliasi yang dimungkinkan oleh Kristus. Volf mengembangkan konsep 'memori yang dimurnikan' . urified memor. yang mempertahankan kebenaran tentang apa yang terjadi tanpa membiarkan memori tersebut mendefinisikan identitas korban secara total atau mendikte respons kebencian. Ini adalah memori yang mampu melihat pelaku sebagai manusia yang juga membutuhkan penebusan, bukan sekadar sebagai monster. Menurut Volf, proses ini dimungkinkan oleh partisipasi dalam memori Kristus yang menderita bukan untuk membalas tetapi untuk menebus. 20 Implikasi bagi kepemimpinan gereja ialah bahwa, pemimpin dipanggil untuk memfasilitasi proses transformasi memori ini dalam jemaatAibukan dengan memaksa pelupaan prematur, namun dengan menyediakan ruang yang aman untuk mengingat dan kerangka teologis untuk memaknai pengalaman dalam terang injil. Liturgi sebagai Teknologi Memori dan Pembentukan Habitus James K. Smith dalam trilogi Cultural Liturgies mengembangkan 'antropologi liturgis' yang memahami manusia bukan pertama-tama sebagai homo sapiens . akhluk yang berpiki. atau homo faber . akhluk yang membua. , melainkan sebagai homo liturgicusAimakhluk yang dibentuk oleh praktik-praktik ritual. 21 Smith mengargumentasikan bahwa liturgi bekerja pada level yang lebih dalam dari sekadar kognitif. liturgi membentuk habitusAidisposisi dan orientasi fundamental yang mengarahkan kehidupan. Manusia bukanlah terutama 'otak di atas kaki' yang perlu diisi dengan informasi yang benar, melainkan 'hati yang menginginkan,' yang perlu diarahkan oleh praktik-praktik yang membentuk keinginan. Dalam kerangka ini, liturgi berfungsi sebagai 'teknologi memori' yang menanamkan narasi-narasi tertentu ke dalam tubuh dan imajinasi jemaat melalui repetisi ritual. Ketika jemaat berpartisipasi secara teratur dalam praktik-praktik liturgisAimendengar Kitab Suci dibacakan, mengikuti kalender gerejawi, merayakan Perjamuan KudusAimereka tidak sekadar menerima informasi tentang iman, tetapi dibentuk menjadi jenis orang tertentu dengan memori, afeksi, dan imajinasi yang khas. Alexander Schmemann menggambarkan liturgi sebagai 'jendela menuju kerajaan' yang membentuk cara jemaat melihat realitas. 23 Aidan Kavanagh menambahkan bahwa liturgi adalah teologi primaAibukan aplikasi dari teologi yang sudah selesai, tetapi tempat di mana teologi pertama-tama terbentuk. Implikasi bagi kepemimpinan sangat signifikan. Pemimpin gereja perlu memahami diri mereka bukan pertama-tama sebagai pengajar yang mentransfer informasi atau manajer yang mengorganisasi program, melainkan sebagai liturgis yang mengorkestrasi praktik-praktik 25 Pembangunan jemaat dalam perspektif ini terjadi bukan terutama melalui proVolf. The End of Memory, 84. Volf, 138. 20 Volf. 21 Smith. Desiring the Kingdom, 87. 22 Smith. 23 Alexander Schmemann. For the Life of the World: Sacraments and Orthodoxy (Crestwood: St. Vladimir's Seminary Press, 1. , 26. 24 Aidan Kavanagh. On Liturgical Theology (Collegeville: Liturgical Press, 1. , 89. 25 James K. Smith. Imagining the Kingdom: How Worship Works (Grand Rapids: Baker Academic, 2. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 767 F. Pairikas. Kepemimpinan naratif-memoriA gram-program edukasional yang menargetkan perubahan kognitif, tetapi melalui partisipasi berulang dalam praktik-praktik liturgis yang membentuk imajinasi dan afeksi. Smith mengingatkan bahwa 'kita adalah apa yang kita sembah'Aiformasi spiritual terjadi melalui praktik, bukan sekadar melalui pengajaran. Perhatian terhadap liturgi sebagai teknologi memori juga mengundang evaluasi kritis terhadap praktik-praktik kontemporer, yang mungkin secara tidak sadar membentuk jemaat dengan memori dan imajinasi yang problematik. Misalnya, ibadah yang didominasi oleh hiburan mungkin membentuk jemaat dengan habitus konsumeris. kepemimpinan yang selebritas mungkin menanamkan memori yang berpusat pada figur manusia, alih-alih pada Kristus. liturgi yang sepenuhnya spontan mungkin memutuskan jemaat dari rantai memori yang menghubungkan mereka dengan generasi-generasi sebelumnya. Narasi. Identitas, dan Kurasi Kepemimpinan: Sintesis Teoretis Howard Gardner dalam Leading Minds mengargumentasikan bahwa pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu membawa cerita yang menyentuh identitas pengikutnya. Ceritacerita ini tidak sekadar informatif tetapi formatifAimereka membentuk cara orang memahami siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka menuju. 27 Gardner membedakan antara 'cerita biasa' yang mengkonfirmasi pemahaman yang sudah ada dan 'cerita inovatif' yang menantang dan mengembangkan pemahaman tersebut. Pemimpin yang transformatif mampu menyeimbangkan keduanya: mengakarkan pengikut dalam tradisi yang memberikan stabilitas sekaligus membuka cakrawala baru yang memungkinkan pertumbuhan. Stephen Denning mengembangkan tipologi cerita kepemimpinan yang berguna untuk konteks gereja: springboard stories yang memicu perubahan dengan menunjukkan kemungkinan baru, identity stories yang membentuk pemahaman kolektif tentang 'siapa kita,' knowledge-sharing stories yang mentransfer kebijaksanaan praktis, dan future stories yang membayangkan kondisi yang diharapkan. 29 Dalam konteks kepemimpinan naratif-memori, tipologi ini dapat diperluas dengan menambahkan kategori anamnetic storiesAicerita-cerita yang menghadirkan kembali tindakan penyelamatan Allah dan membentuk identitas jemaat sebagai penerima dan penerus tindakan tersebut. Stanley Hauerwas menekankan bahwa gereja adalah komunitas yang dibentuk oleh narasiAikhususnya narasi tentang Israel dan Yesus. Tugas pemimpin gereja adalah memastikan bahwa narasi ini terus diceritakan dan membentuk kehidupan komunitas. 30 Hauerwas mengkritik kecenderungan reduksi iman Kristen yang menjadi prinsip-prinsip moral abstrak terlepas dari narasi pembentukannya. Ketika gereja kehilangan narasinya, ia kehilangan identitasnya. ia menjadi sekadar organisasi sosial yang kebetulan menggunakan bahasa religius. Sintesis dari perspektif-perspektif ini menghasilkan pemahaman tentang pemimpin gereja sebagai kurator naratif. Kurator berbeda dari kreator. kurator tidak menciptakan dari ketiadaan, tetapi mengumpulkan, menyusun, menafsirkan, dan mempresentasikan. Dalam konteks kepemimpinan naratif-memori, pemimpin mengumpulkan cerita-cerita individual anggota jemaat, menyusunnya dalam percakapan dengan narasi besar tradisi iman, menafsirkanSmith. Imagining the Kingdom. Gardner. Leading Minds, 43. 28 Gardner. 29 Stephen Denning. The LeaderAos Guide to Storytelling: Mastering the Art and Discipline of Business Narrative (San Francisco: Jossey-Bass, 2. , 18Ae24. 30 Hauerwas. A Community of Character, 66Ae72 31 Hauerwas. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 768 KURIOS. Vol. No. Agustus 2025 nya dalam terang Injil, dan mempresentasikannya dengan cara yang membangun identitas Pemimpin tidak menggantikan narasi jemaat dengan narasinya sendiri, tetapi membantu jemaat menemukan tempat cerita mereka dalam cerita Allah yang lebih besar. Dari Luka Sejarah Menuju Harapan: Kontekstualisasi dalam Setting Indonesia Indonesia merupakan negara dengan kompleksitas luar biasa: lebih dari 300 kelompok etnis, beragam tradisi gerejawi dari Katolik hingga Pentakostal independen, serta pengalaman sejarah yang diwarnai berbagai trauma kolektif. Emmanuel Gerrit Singgih mengingatkan bahwa teologi kontekstual Indonesia harus bergumul secara jujur dengan kompleksitas ini, termasuk 'sisi gelap' sejarah yang seringkali dihindari dalam diskursus publik maupun gerejawi. 32 Tragedi 1965 dan berbagai bentuk kekerasan komunal yang menyertainya meninggalkan luka yang hingga kini belum sepenuhnya sembuh, sebagian karena tidak adanya ruang publik yang memadai untuk memori. Dalam konteks ini, kepemimpinan naratif-memori memiliki relevansi yang mendesak. Robert Schreiter dalam karyanya tentang rekonsiliasi, menunjukkan bahwa penyembuhan pasca-trauma tidak dapat terjadi melalui pelupaan yang dipaksakan, tetapi membutuhkan proses mengingat yang difasilitasi dalam ruang aman. 34 Gereja, dengan tradisi liturgisnya, menyediakan ruang untuk lament . dan pengharapan, yang memiliki potensi sebagai ruang pemulihan spiritual dan eksistensial. Schreiter menekankan bahwa rekonsiliasi merupakan karya Allah yang melampaui upaya manusia belaka. tugas gereja ialah menciptakan kondisi yang memungkinkan karya tersebut. John Campbell-Nelson, dalam refleksinya tentang teologi dan konteks Indonesia, menekankan pentingnya menghargai keragaman pengalaman dan perspektif dalam Gereja-gereja Indonesia. 36 Tidak ada satu narasi tunggal yang dapat merepresentasikan pengalaman semua Kepemimpinan naratif-memori dalam konteks ini membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan berbagai suara, termasuk suara-suara yang selama ini terpinggirkan, dan menenun narasi-narasi yang beragam menjadi tapestri komunal yang inklusif tanpa menghapus kekhasan masing-masing. Lebih jauh, konteks urban Indonesia kontemporer menghadirkan tantangan baru bagi kepemimpinan naratif-memori. Jemaat-jemaat urban seringkali terdiri dari anggota dengan latar belakang geografis, etnis, dan denominasional yang sangat beragam. Dalam situasi ini, pemimpin tidak dapat sekadar 'melestarikan' tradisi tunggal tetapi harus secara kreatif memfasilitasi pembentukan tradisi baru yang mengintegrasikan berbagai warisan. Emmanuel Katongole dan Chris Rice mengingatkan bahwa rekonsiliasi dan pembangunan komunitas baru ini bukan proyek yang dapat diselesaikan dalam satu generasi. ia membutuhkan kesabaran, kerendahan hati, dan komitmen jangka panjang. 37 L. Gregory Jones menambahkan praktik pe- Emmanuel Gerrit Singgih. Mengantisipasi Masa Depan: Berteologi dalam Konteks Indonesia yang Plural (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 95Ae110. 33 Robert Cribb. Michael Leifer. The Indonesian Killings of 1965Ae1966: Studies from Java and Bali (Clayton: Monash University Centre of Southeast Asian Studies, 1. , 1Ae15. 34 Robert J. Schreiter. The Ministry of Reconciliation: Spirituality and Strategies (Maryknoll: Orbis Books, 1. , 11Ae15, 62Ae68. 35 L. Gregory Jones. Embodying Forgiveness: A Theological Analysis (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 163. 36 John Campbell-Nelson. Theology and the Indonesian Context (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 15Ae32. 37 Emmanuel Katongole dan Chris Rice. Reconciling All Things: A Christian Vision for Justice. Peace and Healing (Downers Grove. IL: IVP Books, 2. , 78Ae85. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 769 F. Pairikas. Kepemimpinan naratif-memoriA ngampunan dan rekonsiliasi harus menjadi praktik yang tertanam dalam kehidupan komunitas, bukan sekadar respons reaktif terhadap konflik. Dalam konteks pluralisme Gereja-gereja di Indonesia, kepemimpinan naratif-memori juga membuka ruang untuk dialog ekumenis yang konstruktif. Berbagai tradisi gerejawi memiliki 'teknologi memori' yang berbeda: tradisi liturgis yang kaya dalam Katolik dan Ortodoks, penekanan pada Firman dalam tradisi Reformed, spontanitas Roh dalam tradisi Pentakostal. Alih-alih mempertahankan batas-batas denominasional dengan rigid, pemimpin dapat memfasilitasi pembelajaran lintas-tradisi tentang praktik-praktik formatif yang telah terbukti memelihara iman sepanjang generasi. Kesimpulan Kepemimpinan naratif-memori menawarkan paradigma yang secara teologis lebih setia dan secara kontekstual lebih relevan untuk pembangunan jemaat di Indonesia. Model ini memahami pemimpin sebagai kurator memori komunal yang memelihara, menafsirkan, dan menyampaikan narasi-narasi yang membentuk identitas jemaat. liturgi sebagai teknologi memori yang menanamkan habitus iman melalui praktik-praktik formatif. dan anamnesis sebagai struktur fundamental kehidupan gerejawi yang mengakarkan harapan eskatologis pada fondasi memori yang kokoh. Dalam konteks Indonesia yang ditandai oleh pluralitas dan berbagai luka sejarah, model ini menyediakan kerangka teologis dan praktis untuk memfasilitasi proses penyembuhan melalui pengingatan yang benar, membangun identitas komunal yang inklusif tanpa menghapus keragaman, dan mengembangkan spiritualitas kepemimpinan yang lebih kontemplatif dan attentif terhadap karya Allah dalam sejarah. Dengan demikian, kepemimpinan naratif-memori bukan sekadar teknik manajerial baru tetapi panggilan untuk kembali pada hakikat gereja sebagai komunitas anamnestik yang hidup dari dan untuk memori tindakan penyelamatan Allah dalam KristusAimemori yang menjadi sumber identitas, kritik profetik, dan harapan eskatologis. Referensi