Jurnal Kajian Ilmiah e-ISSN: 2597-792X. ISSN: 1410-9794 Edisi Khusus: Vol. 23 No. 4 (Desember 2. Halaman: 397 Ae 408 Terakreditasi Peringkat 4 (SINTA . sesuai SK RISTEKDIKTI Nomor. 158/E/KPT/2021 Model Komunikasi Penanganan Stunting Dan Modal Sosial Pada Masa Pandemi COVID-19 Di Indramayu Hadi Purwanto 1,*. Purbudi Wahyuni 1. Susilastuti Dwi Nugrahajati 2. Eko Teguh Paripurno . Johan Danu Prasetya 1 Fakultas Teknologi Mineral. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. e-mail: hadi@stmik-borneo. id, purbudi. wahyuni@upnyk. id, paripurno@upnyk. danu@upnyk. Fakultas Ilmu Sosial Politik. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. e-mail: susilastuti@upnyk. * Korespondensi: e-mail: hadi@stmik-borneo. Submitted: 27/08/2023. Revised: 23/11/2023. Accepted: 05/12/2023. Published: 07/12/2023 Abstract During the Covid-19 Pandemic, there was a notable increase in the proportion of children experiencing stunted in Indramayu District. The lack of existing research on the linear communication model in relation to stunting and the promotion of social capital during the Covid-19 pandemic is a notable requires attention. This study is to conduct a qualitative study to examine the communication models of stunting and social capital within the specific setting of the Covid-19 Pandemic in Indramayu. This is influenced by the linear communication model and the limited choices for engagement in improving and utilizing social capital. The communication strategy shows ineffective communication and coordination, both within the government and between officials and parents or caregivers of undernourished young children, as well as inadequate utilization of GESIT application data. Therefore, it is crucial to develop an intervention strategy that includes legal components, models and communication methods. communication model needs to be developed to provide a two-way communication, encourage input from caregivers, convergence of stakeholders, and provide training in communication techniques for the staff involved. To sustain the foster parent program, it is essential to enable communication and ensure two-way access for all parties involved. Keywords: Communication Model. Covid-19 Pandemic. Social Capital. Stunting Abstrak Kabupaten Indramayu mengalami peningkatan jumlah anak stunting secara signifikan selama pandemi COVID-19. Salah satu aspek yang perlu dipelajari dan belum ada yang meneliti adalah mengenai bagaimana model komunikasi linier berkaitan dengan peningkatan pemanfaatan modal sosial dan kontribusi terhadap penurunan stunting selama pandemi COVID-19. Studi kualitatif ini bertujuan untuk memahami model komunikasi dan peran modal sosial dalam konteks Pandemi COVID-19 di Indramayu. Model komunikasi yang linier, terbatasnya pilihan keterlibatan dalam meningkatkan dan memanfaatkan modal sosial juga sangat berpengaruh. Strategi intervensi yang komprehensif sangat penting dilakukan dan mencakup aspek hukum, model dan teknik komunikasi. Strategi komunikasi yang memperkuat koordinasi dan komunikasi di pemerintahan serta pemanfaatan data aplikasi GESIT perlu lebih Keberlanjutan program orang tua asuh memerlukan model komunikasi dan akses dua arah bagi semua pihak yang terlibat. Model komunikasi harus dikembangkan untuk mendorong masukan dari pengasuh balita yang mengalami stunting, memungkinkan terjadinya kontak konvergensi semua pemangku kepentingan, dan memberikan pelatihan dalam teknik Kata kunci: Model Komunikasi. Pandemi Covid-19. Modal Sosial. Stunting Available Online at http://ejurnal. id/index. php/JKI Hadi Purwanto. Purbudi Wahyuni. Susilastuti Dwi Nugrahajati. Eko Teguh Paripurno. Johan Danu Prasetya Pendahuluan Stunting menjadi salah satu agenda utama global dalam pembangunan berkelanjutan (SDG. dan semua berkomitmen untuk mencapai pada tahun 2030. Pemerintah menetapkan Covid-19 sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat melalui Keppres Nomor 11 dan 12 Tahun 2020. Keppres nomor 24 Tahun 2021 dan dinyatakan berakhir sejak 21 Juni 2023 melalui Keppres Nomor 17 Tahun 2023 (Anonim, 2023. Pandemi Covid-19 sejak awal Tahun 2020 membuat upaya penurunan stunting sulit tercapai karena terhambatnya pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan sehingga meningkatkan kesenjangan gizi pada balita (Heriyaldi et al. , 2. Bayi dan balita terkena dampak tidak langsung dari Pandemi Covid-19, antara lain karena orang tuanya mengalami berbagai masalahan ekonomi, kesehatan, kurang mampu menyediakan makanan yang bergizi dan menyebabkan bayi balitanya mengalami stunting. Analisa data kematian ibu di Indramayu menyebutkan, 20 ibu yang sedang mengasuh bayi atau balita meninggal karena Covid-19 dan meninggalkan bayi atau balita yang dilahirkan. Sebanyak 305 bayi balita stunting lahir pada masa Covid-19. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menyebutkan prevalensi stunting di Indramayu meningkat drastis menjadi 21,1% pada tahun 2022 (Anonim, 2023. dan sebelumnya 14,40% pada Tahun 2021. Penerapan konvergensi stunting mengalami banyak hambatan antara lain karena refocusing dana desa yang dialihkan untuk penanganan Covid-19, kesulitan koordinasi . lintas sektor, dan terbatasnya kegiatan penggunaan dana DAK non fisik (Anonim. Faktor lainnya adalah rendahnya dukungan masyarakat (Azwar et al. , 2. rendahnya kesadaran mengenai gizi balita (Muhafidin, 2. , pernikahan dini, gizi buruk pada balita, dan kemiskinan (Anonim, 2021. , pembatasan kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan stunting (Sulistyawati & Widarini, 2. Rendahnya status ekonomi akibat dampak Covid-19 menurunkan kemampuan penyediaan gizi seimbang (Utami et al. , 2. Banyak kebutuhan dasar anak yang tidak terpenuhi dan memberikan dampak negatif (Thenniarti, 2. , terhadap status gizi, tumbuh kembang anak (Anonim, 2018, 2021. , sehingga mengalami stunting (Nirmalasari, 2. Dalam konteks kebencanaan, khususnya kedaruratan kesehatan masyarakat Pandemi Covid-19, masyarakat dan jejaring sosialnya kerap berinisiatif memanfaatkan modal sosialnya untuk membangun kerja sama (Rijanta et al. , melindungi kelompok rentan seperti perempuan, anak, dan keluarga rentan (Paripurno et , 2. Kekuatan modal sosial dapat dilihat dari adanya bantuan/dukungan dari kerabat keluarga dan komunitas (Rijanta et al. , 2015. Woodson et al. , 2. Modal sosial dilihat dari bentuknya ada bonding . ari kerabat dan dalam komunita. , bridging . ari komunitas lai. , linking . ari pemerinta. (Nenni Asura et al. , 2021. Sunanto & Hamim, 2. Modal sosial linking. Pemerintah Kabupaten Indramayu telah membuat kebijakan dan berbagai program untuk mempercepat penurunan stunting (Yulyanti & Husnaniyah, 2. Keluarga yang mengalami masalah dalam penanganan Stunting di Indramayu dapat mengikuti atau mengakses berbagai bantuan yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu seperti gerakan orang tua asuh (OTAAS), gerakan penurunan stunting Indramayu terpadu Edisi Khusus: Jurnal Karya Ilmiah 23. : 397 Ae 408 (Desember 2. Model Komunikasi Penanganan A (Gesi. , pusat pangan (Pusp. Gemarikan . erakan memasyarakatkan makan ika. , budidaya ikan dalam ember (Budikdambe. Ikan Lele (Anonim, 2023d, 2023. Namun analisa menunjukkan bahwa upaya penurunan stunting dengan memperkuat modal sosial linking, kehadiran bonding dan bridging masih menghasilkan dampak yang terbatas seperti disajikan pada Gambar 1 peta sebaran stunting paska intervensi menurut kecamatan di Indramayu pasca intervensi orang tua asuh anak stunting (OTAAS). Sumber: Hasil Penelitian . Gambar 1. Peta Sebaran Stunting Penanganan Stunting pada masa darurat kesehatan masyarakat Pandemi Covid-19, memerlukan model komunikasi kesehatan yang efektif. Komunikasi berisi bagaimana individu dan kelompok/masyarakat memelihara kesehatan diri dan keluarganya (Widyowati, 2. Komunikasi kesehatan penanganan stunting memerlukan kombinasi komunikasi kesehatan berskala besar oleh pemerintah, keluarga, antara petugas kesehatan dengan pasien, dengan lingkungan masyarakat (Rakhmaniar, 2. , memperhatikan aspek hubungan, transaksi, dan konteks (Northouse & Northouse, 1. Komunikasi kesehatan perlu melibatkan berbagai elemen mulai individu komunikator, isi pesan, hubungan personal, hubungan dengan ahli kesehatan, organisasi, media, budaya dan juga masyarakat (Stephen W. Littlejohn et al. , 2. Pada masa Covid-19 komunikasi cenderung linear, satu arah kepada penerima. Eksplorasi model komunikasi dapat dilakukan dengan melakukan analisa aspek siapa, mengatakan apa, di saluran mana, kepada siapa, dan apa efeknya (Lasswell, 1. Pada saat penelitian ini ditulis, topik tersebut belum tersedia. Penelitian ini bermaksud melakukan studi kualitatif untuk mengeksplorasi model komunikasi penanganan stunting dan modal sosial pada masa kedaruratan kesehatan masyarakat Pandemi Covid-19 di Kabupaten Indramayu. Copyright A 2023 Edisi Khusus: Jurnal Karya Ilmiah 23. : 397 Ae 408 (Desember 2. Hadi Purwanto. Purbudi Wahyuni. Susilastuti Dwi Nugrahajati. Eko Teguh Paripurno. Johan Danu Prasetya Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Langkah-langkah dan prosedur penting dalam melaksanakan penelitian ini mengikuti metode Cresswell (Creswell & Creswell, 2. Penyusunan pedoman wawancara mendalam dengan pertanyaan terbuka semi terstruktur disusun dengan mengeksplorasi pola komunikasi dan modal sosial selama Pandemi Covid-19 dan mengadopsi alat kualitatif 3 jenis modal sosial (Yuko Nakagawa & Shaw, 2. Tahapan persiapan pengumpulan data dilakukan dengan menganalisis data stunting dan berdiskusi dengan Dinas Kesehatan Indramayu serta memilih empat cluster, pemilihan calon responden wawancara, observasi, dan FGD. Wawancara dilakukan semi terstruktur dan wawancara mendalam dengan pertanyaan terbuka. Wawancara semi terstruktur dilakukan terhadap 37 orang yang terdiri dari orang tua asuh balita stunting, petugas puskesmas, dinas kesehatan dan staf Bappeda. Wawancara mendalam dilakukan terhadap empat orang tua yang merawat balita stunting di kediaman responden dan kepada dua orang tenaga gizi di puskesmas. Wawancara mengikuti pedoman wawancara mendalam dengan pertanyaan terbuka. Untuk memudahkan dalam mengatur persiapan, pelaksanaan, dan mengingat topik yang dikaji secara mendalam, dibuat catatan sesuai pedoman (Rahab & Wahyuni, 2. dan secara spasial dianalisa berdasarkan pola sebaran keruangan (Bintarto & Hadisumarno, 1. Analisis data mengadopsi teknik fenomenologi transendental atau klasik. Teknik analisis data menerapkan 7 langkah dalam pendekatan fenomenologi (Clark Mostakas. Hasil dan Pembahasan Hasil pertama adalah modal sosial . onding, bridging, linkin. pengasuhan balita stunting selama pandemi Covid-19. Tema yang berhasil didapatkan dari analisa data terkait modal sosial adalah tema bonding dukungan keluarga dekat, bridging keterikatan dan dukungan antar komunitas, linking keterikatan dengan pemerintah. Modal sosial bonding terlihat pada ikatan antar orang karena kesadaran dalam keluarga atau situasi yang sama. Modal sosial bridging terlihat dengan adanya gotong-royong antar komunitas dalam dukungan mental, material, maupun keuangan. Modal sosial linking terlihat dari jejaring formal kelaurga dengan pemerintahan (Maad & Anugrahini, 2. Hasil kedua adalah model komunikasi penguatan modal sosial untuk penanganan stunting di Indramayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi keluarga dengan balita stunting dalam pelaksanaan komunikasi penanganan stunting serta pemanfaatan modal sosial dalam proses komunikasi nampak masih rendah. Modal Sosial Bonding Hasil analisa data menemukan tema modal sosial bonding berupa dukungan dari keluarga dekat dan komunitas kepada keluarga yang memiliki balita stunting. Bonding dari kerabat dekat atau tetangga nampak dengan kemauan dalam mengantarkan berobat. Edisi Khusus: Jurnal Karya Ilmiah 23. : 397 Ae 408 (Desember 2. Model Komunikasi Penanganan A AuAKe Kempek, paling yang ngantar . yang satu RT, kadang neneknya pengen ikut ya udahA. Ay (Responden 1 Gantar, 13/05/2. Pengasuh balita stunting yang bukan orang tua kandung mengungkapkan adanya dukungan moral dan keuangan dari kerabat keluarga kandung balita. Orang tua asuh yang bukan orang tua kandung, membantu karena salah satu atau kedua orang tua aslinya meninggal ketika Covid-19, berasal dari kondisi sosial yang sama, atau dari komunitas yang sama misalnya kelompok pengajian. Berikut ini adalah berapa kutipan dari responden. AuATerus bilang sama saya, mau nggak ? Terus saya bilang, ya udah kalau anaknya mau sama saya mah, emang dari kecil saya suka pegang sih anaknya. Ay (Responden 2 Bangodua, 25/02/2. AuAbapaknya . sering ngeliat ya, sering sih, kadang-kadang waktu kemarin ulang tahun dateng ulang tahun. Ay (Responden 2 Bangodua, 25/02/2. AuAdulu mah juga waktu masih berapa bulan disini tuh, suka kesini tuh suka bawa susu. Masih ini susunya. Ajadi semuanya ditanggung neneknya . Ay (Responden 2 Bangodua, 25/02/2. Selain ditemukan bonding positif, beberapa responden mengungkapkan kekhawatiran tentang dukungan moral maupun keuangan untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasar bagi Mereka khawatir dengan kondisi keuangan untuk membeli susu, padahal tidak lagi bisa ke sawah maupun jualan karena merawat balita stunting. Hal ini ditemui pada responden yang bukan orang tua kandung balita stunting dan memiliki keterbatasan sosial ekonomi. AuAYa . , cuma susu aja sama pempres. Jadi nggak tahu-tahu ya. Nggak tahutahu. Ya, ibaratnya kasih baju cuma hari raya doangAAy (Responden BA01, 25/02/2. Temuan di atas menunjukan bahwa modal sosial bonding antara pengasuh balita stunting dengan keluarga dan komunitas berpengaruh dalam menangani balita stunting (Kiik & Nuwa, 2. Ikatan Bonding juga ditunjukan melalui ungkapan emosional yang mencerminkan norma dan kepercayaan. Faktor tersebut mempengaruhi keterikatan dan dukungan baik secara moral, material maupun ekonomi (Habo Abbas et al. , 2. , mendukung akses terhadap makanan bergizi bagi balita, memberikan motivasi yang baik kepada pengasuh (Maad & Anugrahini, 2. Modal Sosial Bridging Temuan tema yang masuk kategori modal sosial bridging adalah keterlibatan dan dukungan antar komunitas atau dari komunitas lain. Beberapa responden mengungkapkan pengalaman dukungan dari komunitas lain. Bantuan dari komunitas lain berasal dari uang pribadi dan gerakan kesukarelawanan atau bercampur dengan inovasi pemerintah daerah baik kabupaten maupun kecamatan. Anggota pengajian yang berada di desa lain, mendapat informasi adanya balita yang akan ditinggal oleh neneknya untuk menjadi tenaga kerja ke luar negeri, kemudian menawarkan diri menjadi pengasuh bagi balita tersebut. Copyright A 2023 Edisi Khusus: Jurnal Karya Ilmiah 23. : 397 Ae 408 (Desember 2. Hadi Purwanto. Purbudi Wahyuni. Susilastuti Dwi Nugrahajati. Eko Teguh Paripurno. Johan Danu Prasetya AuAkita dulu kenal dari kelompok pengajian, dari desa sebelah. kita mah ikhlas, . anggap anak kita sendiri. , yang penting adalah anak kita jadi anak-anak, karena anak rezeki. Allah yang bayar, tidak minta apa-apa. Ay (Responden 1 Kandanghaur, 11/05/2. Ada juga yang bersedia menjadi pengasuh karena diberikan biaya untuk merawat balita. Sementara ayah balita bekerja di bengkel sepeda motor. AuAYa, udah saya dikasih gaji nggak seberapa. Ay (Responden 1 Bangodua, 25/02/2. Ada juga responden yang mengalami kerentanan ganda, karena harus merawat ibunya . eneknya balit. , dan istrinya sudah meninggal ketika Covid-19. Dia menyampaikan adanya saudara yang tinggal jauh di tempat lain, adanya orang dari komunitas lain yang membantu. Membantu keuangan maupun membantu untuk merawat ibunya . dan membantu bersih-bersih rumah. AuAjadi kalau dia setengah delapan ke sini untuk membantu bersihkan itu ya, karena itu kan perempuan A. jadi perempuan yang disini ya ibu-ibu ya, bantu untuk bersihkan sehari sekali, pagi aja, setengah jam udah beres kadang-kadang ya kalo dia lagi gak repot, ikut nyapu, nyuci piring. Ay (Responden 1 Haurgeulis, 26/02/2. Modal Sosial Linking Modal sosial linking adalah keterikatan dalam jaringan formal dengan pemerintah . rogram pemerinta. Kabupaten Indramayu sudah memiliki Peraturan Bupati Indramayu Nomor 102 Tahun 2021 tentang gerakan penurunan stunting Indramayu terpadu Kabupaten Indramayu. Linking memungkinkan balita stunting mengakses berbagai pelayanan publik maupun inovasi pemerintah yang tersedia misalnya akses ke bantuan pangan dan akses ke fasilitas pelayanan kesehatan (Maad & Anugrahini, 2. Pemerintah Kab. Indramayu membentuk tim percepatan penanganan stunting (TPPS) yang bertugas mengatasi kasus Anggota TPPS terdiri atas berbagai unsur khususnya yang berkaitan dengan kesehatan, pembangunan manusia dan Tim Penggerak PKK (Rahim et al. , 2. Hampir semua responden memperlihatkan modal sosial linking yang cukup masif meskipun masih ada kesenjangan dan hasilnya belum signifikan. Gambar 2 adalah beberapa foto yang menunjukkan adanya modal sosial linking di Indramayu AuAInovasi Kebuli seceting singkatan dari kelas ibu peduli gizi serentak cegah stunting, dilakukan di desa lokus stunting di Kliwet dan Magentara. Juga dilakukan pretest dan post test pengetahuan ibunya. ASI ekslusif, buku KIA. PHBS, sanitasi. MPASI, dll. Ay (Responden 1 Kertasemaya, 11/05/2. AuAdi Margadadi juga saya punya inovasi. Gemading namanya. Gemading gerakan Puskesmas Margadadi cegah stunting. isinya tuh dari remaja terus ke sekolah kita pantau FE, minum FE bersama, biasanya di sekolah-sekolah tuh setiap hari Jum'at atau Sabtu minum FE, setelah itu, catin-catin tuh kita biasanya penyuluhan di KUA sama minum tablet tambah darah juga pada calon pengantin, terus ada juga sertifikat catin. Ay (Responden 1 Margadadi, 27/05/2. Edisi Khusus: Jurnal Karya Ilmiah 23. : 397 Ae 408 (Desember 2. Model Komunikasi Penanganan A Modal sosial linking lainnya adalah upaya Bupati Indramayu menghimbau setiap pejabat untuk ikut program orang tua asuh, dengan menjadi orang tua bagi minimal satu balita stunting. Pelaksanaannya ada yang rutin dan konsisten, ada yang hanya diawal. AuAJuga ada program orang tua asuh itu Pak, itu untuk anak usia 0-2 tahun. Ay (Responden 1 Kertasemaya, 11/05/2. AuAJumat ada aksi peduli Jumat Berkah, biasanya telur, susu, sama biskuit, itu biskuit yang balita. Telurnya sepuluh biji. Ay (Responden 4 Gantar, 13/05/2. Beberapa responden dari pemerintahan juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa bantuan tidak dikonsumsi oleh balita stunting tetapi oleh orang lain. AuANah, telur itu tuh pak, kadang-kadang kita kan gak bisa manto juga maksudnya tiap hari gitu, diliatin kan gak bisa juga tuh jadi bisa juga ya diterima belum tentu kan dimakan sama Ay (Responden 6 Margadadi, 27/05/2. Bupati membuat kebijakan agar setiap puskesmas membuat inovasi, para pejabat menjadi orang tua asuh bagi anak stunting (OTAAS). Konsep OTAAS memberikan paket gizi berbentuk telur, susu setiap minggu dan dianjurkan diberikan pada hari Jumat dengan tagline AuJumat BerkahAy. Model Komunikasi Stunting Analisa data menunjukkan bahwa model komunikasi penanganan stunting pada masa Pandemi Covid-19 yang muncul adalah komunikasi linear atau searah dan top-down dari bupati atau pimpinan wilayah setempat kepada staf dibawahnya, terus sampai masyarakat dan Hal tersebut karena minimnya pertemuan formal maupun dialog karena adanya pembatasan sosial. Model komunikasi ini sesuai dengan teori dari Lasswell, . , bahwa komunikasi sebagai proses yang melibatkan unsur AusiapaAy Aumenyampaikan apaAy Aupada media apaAy Aukepada siapaAy dan Auapa efeknyaAy atau Auapa hasilnyaAy. Tabel 1 adalah model komunikasi ringkasan hasil pemetaan unsur-unsur komunikasi pada masa Pandemi Covid-19 di Indramayu. Tabel 1. Analisa Model Komunikasi Penanganan Stunting di Indramayu Pertanyaan Siapa? Menyampaikan Pada media Kepada siapa? Elemen Komunikator Apa efeknya? Efek Isi pesan Media Audien Analisis Bupati Indramayu Menghimbau Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Indramayu untuk menjadi orang tua asuh anak stunting Website Dinas Kominfo Indramayu Cirebonraya. com, infopublic. Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Indramayu Adanya 987 orang pejabat eselon II, i, dan IV hingga ke para kuwu . epala des. menjadi orang tua asuh, jumlah anak asuh stunting 215 balita Sumber: Hasil Penelitian . Dalam konteks proses komunikasi modal sosial yang dikembangkan, penelitian menemukan bentuk modal sosial lain yang bukan bagian dan tidak ada relasi kekeluargaan, tidak menunjukkan bagian dari suatu komunitas ataupun antar komunitas, dan bukan bagian dari pemerintahan. Perusahaan swasta yang berorientasi profit terlibat dalam rantai penanganan stunting melalui agenda bersama dan mengadopsi konsep terbaru penciptaan nilai Copyright A 2023 Edisi Khusus: Jurnal Karya Ilmiah 23. : 397 Ae 408 (Desember 2. Hadi Purwanto. Purbudi Wahyuni. Susilastuti Dwi Nugrahajati. Eko Teguh Paripurno. Johan Danu Prasetya bersama atau biasa disebut Creating Shared Value (CSV). CSV merupakan pendekatan berbasis peluang dari entitas bisnis untuk menjalankan agenda bersama (Islam & Hossain. CSV fokus pada menciptakan nilai bersama, bagaimana menemukan kembali modal kapital dan menciptakan inovasi dan pertumbuhan (Porter & Kramer, 2. CSV dapat membantu pemerintah dan masyarakat menangani stunting, memfasilitasi perencana kebijakan perusahaan untuk mengidentifikasi produk, layanan, pasar, dan rantai nilai yang dapat menambah kapasitas untuk menciptakan nilai bersama (Herfiantara & Famiola, 2. Sumber: Hasil Penelitian . Gambar 2. Mekanisme Pelaksanaan Penanganan Stunting di Indramayu Gambar 2 menunjukkan bagaimana mekanisme pelaksanaan penanganan stunting di Indramayu yang melibatkan pemerintah, perusahaan, masyarakat, dan alat komunikasi berupa aplikasi GESIT untuk mendukung OTAAS. Komunikasi antara kader dengan pengasuh balita stunting di setiap desa dan puskesmas dilakukan melalui group WhatsApp untuk pertukaran Pengumuman akan adanya aksi Jumat berkah, pembagian susu telor untuk balita dilakukan melalui group WhatsApp dan komunikasi langsung ke rumah pengasuh stunting. Pada saat wawancara di rumah responden. Ketua RT juga datang dan ikut berdiskusi. AuAGrup ada Grup whatsapp, cuma Ibu-ibu Posyandu doang. Nanti di sini tanggal 27 Posyandu. Ay (Responden GA04, 13/05/2. AuADi sini mah, ada. Oh, suara itu ya halo halo ya di halo halo, ayo datang di situ. penimbangan di halo halo ya, di halo halo sama ibu petugasnya. Ay (Responden BA03, 25/02/2. AuAJumat ada aksi peduli Jumat Berkah, biasanya telur, susu, sama biskuit, itu biskuit yang balita. Telurnya sepuluh biji. Ay (Responden GA04, 13/05/2. Komunikasi edukasi pencegahan dan penanganan stunting juga dilakukan melalui media sosial misalnya Youtube dan Instagram sehingga bisa diakses kapan saja dimana saja. Edisi Khusus: Jurnal Karya Ilmiah 23. : 397 Ae 408 (Desember 2. Model Komunikasi Penanganan A AuAKita juga share media yang di Youtube juga, di inovasi di Youtube. Instagram nya itu, itu Instagram ada youtube juga ada, itu juga ada Instagram puskesmas Kertasemaya. Ay (Responden 1 Kertasemaya, 11/05/2. Beberapa responden penelitian menghadapi tekanan karena adanya cara komunikasi kader posyandu yang kurang dapat diterima oleh orang tua balita stunting. Ada juga responden yang mengalami menjadi bahan gosip negatif di komunitas. AuAada mbak kader yang ngomong gak enak A, gak mau dateng ke posyantu gak mau sama kader bahasanya mungkin gak enak, kan kalau dikatain ibu anaknya kecil. Aeh orang ini dikasih makan apa aja sih anaknya, gak dikasih makan ya berarti segini aja. Ay (Responden 2 Margadadi, 27/05/2. AuA. kadang ada anaknya kan di bawa, coba anaknya diukur bu berapa ya gitu. Ay (Responden 1 Kertasemaya, 11/05/2. AuABanyak tetangga yang ngomongin. udah ibunya nggak ada, ninggalin cucu cucunya ditinggal, nggak diurus. Ay (Responden BA03, 25/02/2. Komunikasi kader yang menyebabkan tekanan mental pada orang tua atau pengasuh balita stunting menjadi salah satu masalah tambahan. Tabel 2 adalah ringkasan pemetaan model komunikasi kader posyandu yang menyebabkan masalah. Tabel 2. Analisa model komunikasi kader posyandu yang menimbulkan masalah Pertanyaan Elemen Analisis Siapa? Komunikator Kader Posyandu Menyampaikan Pada media Isi pesan Menghakimi kesalahan pola asuh atau pola pemberian makan orang tua atau pengasuh balita stunting Media Pertemuan langsung saat kegiatan posyandu Kepada siapa? Audien Satu orang tua atau pengasuh balita stunting Apa efeknya? Efek Orang tua atau pengasuh balita stunting tersinggung dan tidak mau datang lagi ke posyandu Sumber: Hasil Penelitian . Komunikasi data dan penyimpanan data pelaksanaan Gerakan penurunan stunting Indramayu terpadu (GESIT) dan Program orang tua asuh anak stunting (OTAAS) diperkuat dengan membangun dan menggunakan aplikasi GESIT seperti pada Gambar 5. Aplikasi ini untuk entri data dan memantau dampak pemberian paket asuhan anak stunting by name by Aplikasi GESIT ini memperkuat linking Walaupun dari wawancara menunjukkan masih belum optimal pemanfaatan datanya maupun tindak lanjut atas informasi yang tersedia. Misalnya beberapa balita stunting sudah terdata di aplikasi GESIT namun belum dilakukan intervensi apapun dan banyak balita stunting yang belum terdata di aplikasi GESIT. Kesimpulan Copyright A 2023 Edisi Khusus: Jurnal Karya Ilmiah 23. : 397 Ae 408 (Desember 2. Hadi Purwanto. Purbudi Wahyuni. Susilastuti Dwi Nugrahajati. Eko Teguh Paripurno. Johan Danu Prasetya Hasil penelitian menunjukkan modal sosial linking yang dilakukan oleh pemerintah. Belum optimalnya modal sosial yang dimiliki atau bisa diakses oleh keluarga dengan balita stunting di Indramayu dipengaruhi oleh model komunikasi dan kesempatan partisipasi dalam penguatan dan pemanfaatan modal sosial. Kelemahan model komunikasi nampak pada terjadinya miskomunikasi penanganan stunting selama Pandemic Covid-19 baik sesama OPD maupun dari kader ke orang tua atau pengasuh balita stunting, dan keterbatasan pengetahuan dan keterampilan kader dan pendamping keluarga, belum optimalmya pemanfaatan data aplikasi GESIT. Karena itu, perlu dikembangkan perubahan strategi intervensi terintegrasi mulai dari aspek legal, model serta model dan teknik komunikasi. Model komunikasi perlu dikembangkan yang memfasilitasi pola komunikasi dua arah, adanya umpan balik dari keluarga stunting, adanya konvergensi dari para pemangku kepentingan, dan pelatihan teknik komunikasi terhadap berbagai jenis kader yang terlibat. Aplikasi GESIT yang sudah dibangun dapat diptimalkan untuk penguatan modal sosial bridging dengan mengkomunikasikan dan memberi akses dua arah kepada para pihak yang terlibat untuk melajutkan dan memperluas program orang tua asuh, dengan tidak hanya membatasi program kepada komunitas ASN / aparat pemerintah dan membina kepercayaan . dengan transparansi pelaporan melalui media digital. Penelitian selanjutnya perlu dilakukan setelah ada pengembangan dan penerapan model komunikasi dua arah dengan adanya umpan balik dan mempertimbangkan noise dalam penanganan stunting dan dengan melakukan komparasi hasilnya terhadap model komunikasi liner. Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada UPN Veteran Yogyakarta. STMIK Borneo Internasional. Institut Teknologi Indonesia. Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu. Puskesmas. Kecamatan. Kuwu. RT di Indramayu yang telah memberikan dukungan dan kooperatif dalam pelaksanaan penelitian ini. Daftar Pustaka