Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . http://journal. id/index. php/keraton Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh. Klungkung. Bali (Sejarah. Nilai Multikultur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA) Ni Nengah Dwi Sri Mahayani a,1,*. I Wayan Putra Yasa b,2. I Putu Hendra Mas Martayana c,3 Universitas Pendidikan Ganesha. Singaraja. Indonesia Universitas Pendidikan Ganesha. Singaraja. Indonesia Universitas Pendidikan Ganesha. Singaraja. Indonesia sri@undiksha. 2 putrayasa@undiksha. 3 mas. mertayana@undiksha. * Corresponding Author. Ni Nengah Dwi Sri Mahayani Received 10 Mei 2025. accepted 27 Mei 2025. published 15 Juni 2025 KEYWORDS ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejarah pendirian Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Kelurahan Semarapura Kauh. Klungkung. Bali, untuk mengetahui aktualisasi nilai multikultur yang dilakukan oleh komunitas Tionghoa di dua tempat ibadah tersebut, untuk mengetahui kontekstualisasi nilai-nilai multikultur di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang mencakup heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendirian Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao merupakan wujud dari dua kepercayaan yaitu Buddha dan Konghuchu. Kedua tempat ibadah ini mulai dibangun setelah periode ketertutupan, yaitu di tahun 2002 oleh komunitas Tionghoa Klungkung. Keberadaan Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di dalam satu areal mencerminkan nilai-nilai multikultur yang diaktualisasikan melalui aktivitas keagamaan. Nilai multikultur dari Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao dapat dikontekstualisasikan sebagai sumber belajar sejarah di SMA pada Fase E (Kelas . dan Fase F (Kelas . Vihara. Klenteng. Tionghoa. Nilai Multikultur. Sumber belajar. This is an openaccess article under the CCAeBY-SA Pendahuluan Filosofi hidup berdampingan dalam keberagaman mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah halangan, melainkan sebuah kesempatan untuk saling memahami dan menghormati. Namun, dalam konteks Indonesia, penerapan prinsip tersebut sering kali menghadapi tantangan yang disebabkan oleh kompleksitas identitas dan keberagaman masyarakat, terutama dalam perspektif agama. Filosofi tersebut tidak menjadi sumber kekuatan, melainkan menjadi pemicu perpecahan sehingga Indonesia saat ini masih diliputi oleh bayangan akan adanya suatu konflik agama yang menunjukkan bahwa intoleransi dan ketidakpahaman mengaburkan prinsip hidup berdampingan yang seharusnya menjadi landasan dalam membangun keharmonisan (Diyanti, 2. Salah satu dampak nyata dari tantangan ini adalah munculnya konflik agama yang sering kali menyasar tempat ibadah, akibat dari kekhawatiran kelompok tertentu yang merasa terancam oleh keberadaan agama lain. Maka dari itu, penting untuk menggantikan narasi yang memecah belah dengan narasi yang membangun, terutama dalam konteks tempat ibadah yang seharusnya menjadi simbol perdamaian dan kerukunan (Bayani, 2. Penanaman nilai-nilai multikultur dalam pendidikan serta kehidupan sehari-hari menjadi langkah strategis agar generasi selanjutnya dapat melihat keberagaman sebagai kekayaan yang memperkaya, bukan sebagai sumber perpecahan. Mengacu pada fenomena di atas, penelitian ini dilatarbelakangi oleh tiga alasan pokok. Pertama, literatur ilmiah tentang tempat-tempat ibadah di Kabupaten Klungkung belum banyak dilakukan. Hal ini 32585/keraton. pendidikansejarahunivet@gmail. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. disebabkan oleh kurangnya dokumentasi dan pemetaan yang meyeluruh mengenai persebaran tempat ibadah dari berbagai agama. Akibatnya, para peneliti sulit untuk mendapatkan data awal yang diperlukan untuk memulai kajian. Salah satu tempat ibadah yang kurang mendapat sorotan dalam penelitian akademik adalah Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao yang berada di dalam satu areal dengan dua agama berbeda, yaitu Buddha dan Konghuchu. Keberadaan kedua tempat ibadah ini mencerminkan keragaman budaya dan toleransi beragama di wilayah Klungkung. Oleh karena itu, melalui penelitian ini, penulis ingin menyoroti eksistensi kedua tempat ibadah tersebut sekaligus memberikan kontribusi terhadap pengembangan literatur ilmiah berkaitan dengan tempat ibadah di Kabupaten Klungkung. Kedua, fenomena intoleransi, khususnya intoleransi agama di Indonesia sebagai akibat rendahnya empati menunjukkan angka yang mengalami fluktuasi selama empat tahun terakhir. Menurut catatan Imparsial, pada tahun 2021 terdapat 28 kasus intoleransi, yang menurun menjadi 23 kasus di tahun 2022. Angka tersebut kembali menurun menjadi 18 kasus pada tahun 2023, dan kembali naik menjadi 23 kasus sepanjang tahun 2024. Data tersebut diambil dari insiden-insiden penolakan terhadap pembangunan tempat ibadah dan kekerasan yang dialami oleh kelompok-kelompok minoritas, mencerminkan ketidakmampuan masyarakat untuk menghargai perbedaan keyakinan. Namun, berbeda halnya dengan di Kabupaten Klungkung, masyarakatnya justru menunjukkan nilai-nilai multikultur yang dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sosial mereka, khususnya komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao. Dari segi agama, komunitas di dua tempat ibadah tersebut terlihat berbeda tetapi perbedaan tersebut tidak menyebabkan terjadinya perpecahan, melainkan dapat hidup harmonis tanpa konflik. Maka dari itu, melalui penelitian ini penulis terdorong untuk menguraikan seperti apa komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao menerapkan nilai-nilai multikultur dalam kehidupan sosial mereka, sehingga dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun harmoni di tengah keberagaman. Ketiga, sikap toleran yang ditunjukkan oleh siswa di dunia pendidikan Indonesia beberapa tahun terakhir mengalami penurunan. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh INFID pada tahun 2020, sebanyak 93% siswa memiliki sikap toleran mencerminkan, tingkat toleransi yang sangat tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh peran pendidikan yang menekankan nilai-nilai keberagaman dan toleransi serta interaksi sosial yang positif di lingkungan sekolah. Namun, pada tahun 2021, ditemukan kecenderungan ekslusivitas beragama di kalangan siswa dengan 81% responden tidak setuju bahwa pemeluk agama minoritas layak menjadi pemimpin. Di tahun 2023, survei menunjukkan bahwa 20,2% siswa tidak mampu menahan diri untuk melakukan kekerasan sebagai respons terhadap penghinaan agama yang Penurunan sikap toleran ini disebabkan oleh intensitas penggunaan media sosial yang tinggi sering kali membuat siswa terpapar konten yang mengandung ujaran kebencian, berita hoaks, dan narasi intoleran sehingga mempengaruhi pola pikir siswa terhadap keberagaman, yang diikuti dengan kurikulum dan guru di sekolah belum optimal dalam memberikan pemahaman tentang nilai-nilai Maka dari itu, untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendekatan pendidikan yang mampu menanamkan nilai-nilai multikultur secara mendalam. Dalam konteks ini, eksistensi komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao yang mampu bersatu dalam perbedaan, dapat dijadikan sebagai sumber belajar untuk mengembangkan kurikulum yang lebih responsif terhadap peningkatan nilai-nilai multikultur di kalangan siswa sekolah melalui pembelajaran sejarah (Yefterson. Sebagai upaya menanamkan nilai-nilai multikultur kepada siswa, keberadaan Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao menjadi kajian dalam tulisan ini. Pendirian dua tempat ibadah tersebut, tidak terlepas dari peran komunitas Tionghoa di Kota Klungkung. Etnis Tionghoa adalah etnis yang berasal dari Tiongkok. Pada awalnya mereka berprofesi sebagai pedagang yang masuk melalui Pelabuhan Kusamba. Kehadiran mereka ini menciptakan kedekatan dengan Kerajaan Klungkung. Mereka dijadikan sebagai pasukan kerajaan dan pengurus Pelabuhan Kusamba (Noorwatha, 2019. Ni Nengah Dwi Sri Mahayani. I Wayan Putra Yasa. I Putu Hendra Mas Martayana (Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh. Klungkung. Bali (Sejarah. Nilai Multikultur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA)) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Hubungan tersebut menyebabkan etnis Tionghoa menetap di Klungkung. Seiring berjalannya waktu, eksistensi mereka mengalami perubahan dan ketertutupan akibat dari terbitnya Kepres no 127/KEP/U/1966 tentang perubahan identitas dari Tionghoa menjadi identitas Indonesia dan Inpres No. 14 tahun 1967, yang melarang mereka melakukan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina di depan umum. Mentaati kebijakan tersebut, mereka melakukan perubahan terhadap identitas dan melakukan kegiataan keagamaan secara tertutup di rumah masing-masing. Ketertutupan ini berakhir ketika Kepres No. 6 tahun 2000 dikeluarkan oleh Gus Dur yang menetapkan segala bentuk adat istiadat cina dapat dilakukan secara terbuka (Mawardi, 2. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Gus Dur, memberikan peluang bagi komunitas Tionghoa di Klungkung untuk mendirikan dua tempat ibadah Vihara dan Klenteng di dalam satu areal pada tahun Berdasarkan hasil wawancara dengan Sosan Muliono . selaku Ketua Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao, pada tanggal 12 Agustus 2024 menjelaskan bahwa pendirian dua ibadah tersebut digagas oleh paguyuban Tionghoa Klungkung yaitu Yayasan Suka Duka Tulus Hati. Pendirian dua tempat ibadah tersebut di lokasi yang sama didasarkan dari kesamaan mereka sebagai etnis Tionghoa yang memiliki keyakinan terhadap tradisi, meskipun mereka beragama Buddha. Maka dari itu. Klenteng Zhong Yi Miao sudah menjadi satu dengan Vihara Dharma Ratna, sehingga Vihara Dharma Ratna memiliki dua pemujaan utama yaitu Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao. Pendirian dua tempat ibadah di dalam satu areal dengan agama yang berbeda tidak menjadi suatu masalah yang menimbulkan perselisihan. Melainkan tercipta kerukunan antar umat beragama yang mendorong setiap individu maupun kelompok untuk memelihara sikap toleran, saling menghargai, dan memahami satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama yaitu kehidupan yang harmonis dalam masyarakat (Martayana, 2. Terciptanya kerukunan ini menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai multikultur di antara komunitas Tionghoa tersebut. Pemahaman mengenai nilai multikultur penting diajarkan di sekolah untuk menjawab perbedaan budaya, sehingga siswa dapat hidup berdampingan di tengah perbedaan. Untuk itu, nilai-nilai multikultur yang dijalankan oleh komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao dapat digunakan sebagai sumber belajar. Salah satu mata pelajaran yang relevan untuk disisipkan nilai-nilai multikultur dari Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao adalah sumber belajar sejarah. Menurut Nasution . alam Kusuma 2. di dalam pelajaran sejarah, terdapat nilai-nilai luhur bangsa yang harus diturunkan kepada generasi selanjutnya yaitu siswa. Berdasarkan wawancara dengan Bapak G. Surya Utama. Pd . pada tanggal 21 Oktober 2024, selaku guru sejarah di SMA Negeri 2 Semarapura . ekolah terdekat dari lokasi penelitia. menyatakan bahwa keberadaan Vihara Dharma Ratna belum dimaksimalkan potensinya dalam pembelajaran, tetapi memiliki potensi sebagai sumber belajar sejarah berkaitan dengan penanaman nilainilai multikultur di dalam Fase E kelas 10, dalam materi masa Hindu-Budha. Di samping itu. Klenteng Zhong Yi Miao juga berpotensi sebagai sumber belajar sejarah. Menurut Bapak Drs. I Gusti Ketut Wija . pada tanggal 21 Oktober 2024 selaku guru sejarah di SMA Negeri 2 Semarapura. Klenteng Zhong Yi Miao berpotensi dijadikan sebagai sumber belajar sejarah, berkaitan dengan contoh konsep multikultur yang terjadi setelah masa Orde Baru dalam materi masa Reformasi kelas 12 fase F. Penelitian terkait Vihara dan Klenteng pernah dilakukan sebelumnya, beberapa diantaranya adalah kajian pertama, dari Vita Octavia Anggarini . yang mengangkat tentang AuVihara Samyang Dresti di Desa Penglatan. Buleleng. Bali: Latar Belakang. Struktur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMAAy. Kajian ini memaparkan tentang pendirian Vihara, arsitektur dengan gaya Bali, dan potensinya sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian tersebut berbeda dengan penelitian penulis. Peneliti hanya berfokus pada satu tempat ibadah saja dan arsitektur Vihara, sementara penulis mengkaji dua tempat ibadah yaitu Vihara dan Klenteng serta nilai-nilai multiultur. Kajian kedua oleh Ivanka Angelina Dheyanita Prasada . yang mengangkat tentang AuKlenteng Su San Yee Di Kelurahan Banjar Jawa. Buleleng. Bali (Sejarah dan Strukturnya sebagai Media Pendidikan Multikultu. Ay. Kajian ini membahas mengenai sejarah berdirinya Klenteng Su San Yee, akulturasi budaya Ni Nengah Dwi Sri Mahayani. I Wayan Putra Yasa. I Putu Hendra Mas Martayana (Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh. Klungkung. Bali (Sejarah. Nilai Multikultur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA)) ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. di dalam Klenteng, dan potensinya sebagai media pendidikan multikultur. Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian penulis yang membahas tentang Klenteng. Tetapi fokus peneliti hanya pada satu tempat ibadah, sementara penulis dua tempat ibadah dengan nilai-nilai multikultur. Kajian ketiga dari Leni Nurfaizah . yang mengangkat tentang AuVihara Avalokitesvara di Tengah Masyarakat Muslim: Kehidupan Antar Etnis dan Agama di Kota Serang. BantenAy. Penelitian ini menunjukkan Vihara Avalokitesvara menjadi simbol toleransi antar komunitas Buddhis dengan muslim. Penelitian ini memiliki kesesuaian dengan penelitian penulis yang mengkaji tentang Vihara dan toleransi umat Tetapi fokus peneliti hanya pada satu tempat ibadah dengan dua etnis yang berbeda, sementara penulis mengkaji tentang dua tempat ibadah dan nilai multikultur dalam konteks dua tempat ibadah dengan satu etnis. Dari beberapa kajian di atas, belum ada yang meneliti tentang dua tempat ibadah dalam satu areal khususnya Vihara dan Klenteng. Maka dari itu, kajian ini akan menjadi penelitian yang membahas tentang keberadaan Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao yang berada di dalam satu areal, nilai-nilai multikultur yang terdapat di dalamnya, dan potensinya sebagai sumber belajar sejarah. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah. Tahapannya mencakup heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Heuristik adalah langkah awal yang digunakan untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah, baik tertulis maupun tidak tertulis. Sumber-sumber ini diperoleh melalui teknik observasi lapangan, wawancara, dan studi dokumen (Alian, 2. Observasi dilakukan di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao, dengan melakukan dokumentasi foto mengenai struktur bangunan, upacara keagamaan, dan interaksi antar umat beragama di kedua tempat ibadah tersebut. Peneliti juga melakukan observasi ke SMA Negeri 2 Semarapura, sebagai sekolah terdekat dari Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao untuk mengetahui pemanfaatan kedua tempat ibadah tersebut dalam pembelajaran sejarah. Wawancara dilakukan dengan para informan yang dianggap memahami keberadaan Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao. Informan tersebut adalah sebagai berikut. Pertama. Bapak Sosan Muliono . sebagai Ketua Vihara Dharma Ratna yang dianggap memiliki wawasan tentang pendirian Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao. Kedua. Ibu Ni Wayan Indrawati . sebagai pengurus adat Klenteng Zhong Yi Miao yang dianggap memiliki wawasan tentang upacara keagamaan dan tradisi yang dilakukan di dua tempat ibadah tersebut. Ketiga. Ibu Ni Komang Juliastini . sebagai pekerja harian yang dianggap dapat memberikan informasi tentang interaksi umat yang beribadah di dua tempat ibadah tersebut. Keempat. Putu Antoniawan . sebagai umat di dua tempat ibadah tersebut yang dianggap memahami alur pelaksanaan persembahyangan di dua tempat ibadah tersebut. Kelima. I Gusti Made Warsika. SH . sebagai pemerhati sejarah sekaligus Ketua FKUB Klungkung yang dianggap dapat memberikan informasi mengenai masuknya etnis Tionghoa di Klungkung. Keenam. Bapak G. Surya Utama. Pd . sebagai guru sejarah kelas 10 di SMA Negeri 2 Semarapura yang dianggap memahami tentang pemanfaatan Vihara Dharma Ratna sebagai sumber belajar sejarah. Ketujuh. Bapak Drs. I Gusti Ketut Wija . sebagai guru sejarah kelas 12 di SMA Negeri 2 Semarapura yang dianggap memahami tentang pemanfaatan Klenteng Zhong Yi Miao sebagai sumber belajar sejarah. Studi dokumen dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao, yang melibatkan pengkajian terhadap arsip-arsip pendirian Vihara Dharma Ratna, buku-buku yang menjadi acuan terkait dengan komunitas Tionghoa di Klungkung, mengumpulkan berbagai dokumen penting seperti monografi Kelurahan Semarapura Kauh dan profil masyarakat Klungkung. Ni Nengah Dwi Sri Mahayani. I Wayan Putra Yasa. I Putu Hendra Mas Martayana (Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh. Klungkung. Bali (Sejarah. Nilai Multikultur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA)) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Kritik ekstern, peneliti melakukan pemeriksaan terhadap keaslian data yang didapat dengan mengecek tanggal, waktu, dan tahun terbit dokumen serta mengidentifikasi narasumber dengan melihat usia, kedudukan, dan pendidikan (Heryati, 2. Peneliti selanjutnya melakukan kritik intern dengan cara memeriksa kredibilitas data melalui perbandingan antara berbagai sumber seperti membandingkan wawancara narasumber satu dengan lainnya. Di tahap interpretasi peneliti menafsirkan fakta-fakta sejarah yang sudah diperoleh dan menghubungkan fakta satu dengan lainnya. Tahap terakhir adalah historiografi yaitu penulisan sejarah yang disusun berdasarkan dengan kenyataan dan kebenaran peristiwa tersebut (Herdiani, 2. Pada tahapan ini, penulis menguraikan data-data yang sudah dikumpulkan melalui tahapan sebelumnya dengan didasarkan pada 5W 1H dan menerapkan prinsipprinsip sejarah yaitu periodisasi dan serialisasi. Periodisasi dilakukan dengan membagi peristiwa yang terjadi ke dalam beberapa periode berdasarkan perkembangan. Sementara serialisasi dilakukan dengan menyusun peristiwa berdasarkan urutan waktu agar alurnya lebih terstruktur. Meskipun penulis menggunakan prinsip periodisasi dan serialisasi, tulisan sejarah ini akan disusun secara tematik, yaitu berfokus pada pengelompokan peristiwa-peristiwa terkait pendirian dan perkembangan kedua tempat ibadah tersebut. Hasil dan Pembahasan 1 Sejarah Berdirinya Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao Berdirinya Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao, berhubungan erat dengan masuknya pedagang Tiongkok melalui Pelabuhan Kusamba yang merupakan kota perdagangan dan kota pelabuhan utama Kerajaan Klungkung. Aktivitas perdagangan ini membuka jalan bagi mereka untuk berinteraksi dan berbaur dengan masyarakat lokal hingga menetap di wilayah Kerajaan Klungkung. Kehadiran mereka dibuktikan dengan adanya Palinggih Ratu Subandar di Pura Penataran Agung. Klungkung. Bali. Pura ini dibangun pada abad ke-18 (Noorwatha, 2. , sehingga dapat disimpulkan bahwa eksistensi etnis Tionghoa sudah ada di wilayah Kerajaan Klungkung di abad tersebut. Dalam interaksi perdagangan dengan penduduk setempat, aspek kepercayaan dan adat istiadat turut serta diperkenalkan dari tanah kelahiran mereka ke dalam lingkungan masyarakat Klungkung yang didominasi oleh kepercayaan Hindu. Berdasarkan wawancara dengan Ibu Ni Wayan Indrawati . selaku pengurus adat di Klenteng Zhong Yi Miao pada tanggal 6 Februari 2025, menjelaskan bahwa pada mulanya, agama warga Tionghoa Klungkung hanya berlandaskan pada praktik keyakinan tradisi yang diturunkan dari generasi sebelumnya. Akan tetapi, berkat inisiatif pemimpin dan tetua dalam mensosialisasikan prinsip-prinsip agama Buddha, terjadi perubahan dari kepercayaan tradisi menuju agama Buddha. Namun dalam praktiknya, mereka tetap menjalankan ajaran tradisi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur, sehingga mereka mempraktikkan dua kepercayaan tersebut. Dalam perkembangannya, eksistensi mereka mengalami perubahan di masa Orde Baru. Mereka dicurigai sebagai simpatisan komunis yang terlibat dalam pemberontakan Partai Komunis Indonesia pada 30 September 1965 (Tyson, 2. , dan lebih mudah terkena pengaruh Komunis dari negara Oleh karena itu. Pemerintahan Soeharto berupaya mengasimilasikan etnis Tionghoa dengan meninggalkan segala identitas yang berhubungan dengan negara asal mereka melalui Kepres no 127/KEP/U/1966 dan Inpres No. 14 Tahun 1967 yang melarang etnis Tionghoa melakukan perayaanperayaan Tionghoa di depan umum. Berdasarkan wawancara dengan Sosan Muliono . pada tanggal 6 September 2024 menjelaskan bahwa akibat kebijakan tersebut, aktivitas etnis Tionghoa Klungkung menjadi tertutup khususnya dalam melakukan kegiatan keagamaan dan segala identitas yang berunsur Tionghoa harus dirubah menjadi identitas Indonesia atau Bali. Untuk mempertahankan eksistensi mereka, etnis Tionghoa Klungkung membaurkan diri mereka ke dalam Yayasan Suka Duka Tulus Hati yang dibentuk pada tanggal 22 Desember 1975. Ketertutupan ini berakhir di era reformasi, khususnya di bawah kepemimpinan Gus Dur. Hak-hak etnis Tionghoa diakui kembali dengan keluarnya Kepres No. 6 tahun 2000. Melalui Kepres ini, etnis Tionghoa, khususnya di Kota Klungkung dapat Ni Nengah Dwi Sri Mahayani. I Wayan Putra Yasa. I Putu Hendra Mas Martayana (Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh. Klungkung. Bali (Sejarah. Nilai Multikultur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA)) Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. June 2025, pp. kembali menunjukkan jati diri dan tradisi budaya mereka secara bebas melalui pendirian dua tempat ibadah dalam satu areal, sebagai wujud dari dua ajaran yang mereka yakini. Pendirian Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao menurut wawancara dengan Sosan Muliono pada tanggal 1 Desember 2024 diwujudkan oleh Yayasan Suka Duka Tulus Hati, dengan mengakuisisi lahan seluas 3. 520 m2. Realisasi proyek ini semakin diperkuat dengan hibah tanah seluas 550 m2 dari Walubi Klungkung, sebagai bentuk dukungan setelah rancangan pembangunan disetujui. Proses konstruksi kedua tempat ibadah ini secara resmi dimulai pada tanggal 15 Desember 2002 dan selama proses pembangunan telah berjalan lancar dari perencanaan hingga penyelesaian struktur fisik berkat komitmen kuat dari Yayasan Suka Duka Tulus Hati, arsitek, pekerja, manajemen proyek yang efisien dan dukungan aktif dari masyarakat lokal. Kedua tempat ibadah tersebut, diresmikan secara terpisah dengan jarak satu tahun. Klenteng Zhong Yi Miao lebih dulu diresmikan setelah penempatan Arca Kwan Seng Tee Koen . isebut juga dengan Kwan Kon. , yang sebelumnya selama 42 hari disemayamkan di Klenteng Kwan Sing Bio. Tuban. Jawa Timur. Dasar dari prosesi ini adalah pengurus memiliki keyakinan bahwa arca tersebut harus terlebih dahulu berada di Klenteng Kwan Sing Bio sebagai pusat pemujaan utama Arca Kwan Seng Tee Koen. Arca dibawa menggunakan Joli . dari Klenteng Kwan Sing Bio dan ditempatkan di Klenteng Zhong Yi Miao pada 13 Juli 2006, sekaligus menjadi tahun peresmian Klenteng Zhong Yi Miao. Setahun setelah Klenteng Zhong Yi Miao resmi berdiri. Vihara Dharma Ratna menyusul untuk Prosesi penempatan Arca Buddha di Vihara Dharma Ratna memiliki kemiripan dengan penempatan Arca Kwan Seng Tee Koen di Klenteng Zhong Yi Miao, yaitu arca tersebut sebelumnya ditempatkan sementara di Vihara Buddha Sakyamuni (Jl. Gunung Agung. Lingkungan Padang Udayana. Denpasa. Para pengurus meyakini bahwa Vihara Buddha Sakyamuni yang arca utamanya adalah Buddha, berperan sebagai pusat pembinaan umat Buddha di Bali. Setelah berada selama 37 hari di Vihara Buddha Sakyamuni. Arca dibawa ke Vihara Dharma Ratna dan berstana pada tanggal 28 Juli 2007, sekaligus menjadi tahun peresmian berdirinya Vihara Dharma Ratna. Bukti peresmian Vihara Dharma Ratna dapat dilihat pada gambar 3. 1 di bawah ini. Gambar 1. Prasasti Peresmian Vihara Dharma Ratna (Sumber: Dokumentasi Pribadi. Agustus 2. Dari gambar 1 di atas, terlihat bahwa prasasti peresmian dua tempat ibadah tersebut hanya atas nama Vihara Dharma Ratna yang berdiri pada tahun 2007 dengan diresmikan oleh Bupati I Wayan Candra . asa jabatan 2003-2. dan Dirjen Bimas Budha Depag RI Budi Setiawan. Hal ini karena kedua tempat ibadah tersebut, sudah melekat dan menjadi satu di bawah naungan Yayasan Suka Duka Tulus Hati, yang semua anggotanya adalah etnis Tionghoa dan masih meyakini ajaran tradisi. Kedua tempat ibadah tersebut dapat dilihat pada gambar 3. 2 di bawah ini. Ni Nengah Dwi Sri Mahayani. I Wayan Putra Yasa. I Putu Hendra Mas Martayana (Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh. Klungkung. Bali (Sejarah. Nilai Multikultur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA)) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Gambar 2. Vihara Dharma Ratna . dan Klenteng Zhong Yi Miao . (Sumber: Dokumentasi Pribadi. Agustus 2. Berdasarkan gambar 2 di atas, terlihat bahwa Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao berada di dalam satu areal yang sama, dengan Arca Buddha berada di sisi utara dan Arca Kwan Seng Tee Koen berada di sisi selatan. Komunitas Tionghoa menyebut Vihara Dharma Ratna memiliki dua pemujaan utama, yaitu Dhammasala sebagai Vihara Dharma Ratna dan Bhaktisala sebagai Klenteng Zhong Yi Miao. Dalam praktik persembahyangan, umat yang akan beribadah di kedua tempat ibadah tersebut, harus memulai berdoa di Klenteng kepada Thian Kong/Tuhan Yang Maha Esa sebagai penguasa tertinggi dan Arca Kwan Seng Tee Koen, dilanjutkan dengan berdoa kepada Arca Buddha di Vihara. Dalam setiap upacara, baik di Vihara maupun Klenteng, persembahan selalu ada di kedua tempat ibadah Umat yang berdoa selalu menyempatkan diri untuk bersembahyang di Klenteng sebelum melakukan kegiataan keagamaan di Vihara Dharma Ratna dan sebaliknya tetap berdoa di Vihara meskipun perayaan utama diadakan di Klenteng Zhong Yi Miao. 2 Nilai-nilai Multikultur Komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao Kehidupan sosial komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao mencerminkan kemultikulturan, yang dapat dilihat dari praktik keagamaan. Di Klenteng Zhong Yi Miao, mereka menjalankan ajaran tradisi. Sementara di Vihara Dharma Ratna mempraktikkan ajaran Buddha. Perayaan keagamaan dan tradisi yang dijalankan oleh komunitas Tionghoa di kedua tempat ibadah tersebut, memuat nilai-nilai multikultur yang mengakui serta menghormati keberagaman sosial dan budaya dari berbagai kelompok suku, agama, ras, dan antar golongan. Perayaan keagamaan dan tradisi tersebut meliputi: 1 Perayaan di Vihara Dharma Ratna Hari Waisak Waisak adalah hari raya agama Buddha untuk memperingati tiga peristiwa penting di hari Waisak yaitu kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama, pencapaian pencerahan agung, dan wafatnya Sang Buddha (Sudharma, 2. Menurut wawancara dengan Sosan Muliono . selaku Ketua Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao pada tanggal 19 Januari 2025, perayaan Waisak diawali dengan pelepasan burung sebagai simbol kebahagiaan semua makhluk hidup. Selanjutnya, umat melakukan pradaksina dengan mengelilingi Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao sebanyak tiga kali sambil membawa bunga melati dan dupa, sebagai penghormatan kepada Tiratana (Buddha. Dhamma. Sangh. Setelah pradaksina, umat memasuki ruang suci Vihara Dharma Ratna untuk menancapkan dupa dan meletakkan bunga di altar, dilanjutkan dengan puja bakti dan pembacaan paritta. Acara dilanjutkan dengan pemberian bingkisan sebagai apresiasi kepada para pekerja di yayasan, vihara, dan kuburan serta ramah tamah di aula untuk mempererat persaudaraan. Kegiatan ini dapat dilihat pada 3 di bawah ini. Ni Nengah Dwi Sri Mahayani. I Wayan Putra Yasa. I Putu Hendra Mas Martayana (Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh. Klungkung. Bali (Sejarah. Nilai Multikultur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA)) Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. June 2025, pp. Gambar 3. Kegiatan Ramah Tamah (Sumber: Dokumentasi Vihara Dharma Ratna. Juni 2. Dari gambar 3 di atas, terlihat komunitas Tionghoa berkumpul di aula Vihara Dharma Ratna, setelah melakukan kegiatan waisak. Sebagian besar komunitas tersebut, terlihat duduk di kursi berwarna Suasana tampak ramai dengan penuh komunikasi yang menunjukkan adanya kerukunan antar umat beragama. Dalam perayaan Waisak, komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao telah mengamalkan nilai-nilai multikultur melalui praktik nilai persahabatan/komunikasi dan Nilai persahabatan tercermin dalam kegiatan ramah tamah di aula dan peringatan upacara keagamaan, yang menjadi ruang bagi individu dari beragam latar etnis dan kelompok untuk berkumpul. Sedangkan nilai demokrasi terwujud melalui pengakuan terhadap perbedaan, kesetaraan hak bagi setiap anggota komunitas . ermasuk non-Tiongho. , dan apresiasi terhadap seluruh pekerja. Hari Asadha dan Magha Puja Hari Asadha dan Magha Puja adalah perayaan penting bagi umat Buddha. Hari Asadha diperingati sekitar bulan Juli. Perayaan ini menandai pertama kalinya Buddha Gautama mengajarkan Dhamma Cakka Pavattana Sutta atau empat kebenaran mulia kepada lima muridnya di Taman Rusa Isipatana yang setelah itu mencapai pencerahan. Hari ini juga menandai terbentuknya Sangha melengkapi Tiratana (Buddha. Dhamma, dan Sangh. sebagai pelindung umat Buddha (Khairiah, 2. Sementara Magha Puja umumnya dirayakan antara bulan Februari dan Maret untuk memperingati penyampaian Ovada Patimokkha yang merupakan inti dari ajaran Buddha dan pedoman etika bagi para Bhikkhu. Perayaan hari Asadha dan Magha Puja memiliki kemiripan. Menurut wawancara dengan Sosan Muliono . selaku Ketua Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao pada tanggal 16 Januari 2025, perayaan hari Asadha dan Magha Puja sama seperti perayaan waisak yang diawali dengan kegiatan pradaksina. Rangkaian acara dilanjutkan dengan puja bakti yang dipimpin oleh Romo Pandita dan khotbah Dhamma oleh Bhikku Sangha. Prosesi kegiatan ini dapat dilihat pada gambar 3. 4 di bawah Gambar 4. Kegiatan Pradaksina . dan Pembacaan Paritta . (Sumber: Dokumentasi Vihara Dharma Ratna. Maret 2. Ni Nengah Dwi Sri Mahayani. I Wayan Putra Yasa. I Putu Hendra Mas Martayana (Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh. Klungkung. Bali (Sejarah. Nilai Multikultur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA)) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Seperti yang terlihat pada gambar 4 di atas, upacara hari Asadha Puja dan Magha Puja dimulai dengan kegiatan pradaksina, yaitu umat mengelilingi areal Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao sebanyak tiga kali dengan membawa dupa dan bunga melati. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan paritta berupa syair-syair suci yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka agama Buddha untuk hari Magha Puja. Komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna sekaligus di Klenteng Zhong Yi Miao telah mengimplementasikan nilai-nilai multikultur melalui praktik keagamaan yang dilakukan di dua tempat ibadah tersebut. Salah satunya perayaan Asadha dan Magha Puja yang mengintegrasikan nilai religius melalui ketaatan dan keikhlasan mereka dalam menjalankan ajaran agama. Bagi mereka, ajaran agama bukan hanya ritual melainkan pedoman hidup untuk berbuat baik. Hari Kathina Kathina dirayakan oleh umat Buddha sekitar bulan Oktober. Di hari ini umat berdana empat kebutuhan pokok seperti makanan, alat-alat kesehatan, alat-alat kebersihan, dan jubah kepada para Bhikkhu Sangha sebagai ungkapan terima kasih atas pengabdian para Bhikkhu Sangha yang telah menjalankan masa vassa . aktu untuk bermeditasi dan mempelajari Dhamm. selama tiga bulan di Menurut Bapak Sosan Muliono (Ketua Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Mia. , perayaan Kathina Puja di Vihara Dharma Ratna dimulai dengan doa yang dipimpin oleh seorang Bhikkhu, diikuti dengan pemberian dana oleh umat. Kegiatan ini dapat dilihat pada gambar 3. 5 di bawah Gambar 5. Berdana Kepada Bhikkhu Sangha (Sumber: Dokumentasi Vihara Dharma Ratna. Oktober 2. Dari gambar 5 di atas, terlihat umat secara bergantian memberikan dana berupa makanan, obatobatan, alat kebersihan, dan jubah kepada Bhikkhu Sangha dengan meletakkan barang-barang tersebut di atas kain yang kemudian ditarik oleh Bhikkhu sebagai tanda penerimaan. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi umat untuk mendukung kehidupan para Bhikkhu. Perayaan Kathina ini menanamkan nilai multikultur berupa kepedulian sosial. Tindakan berdana makanan, minuman, dan obat-obatan kepada Bhikkhu Sangha mencerminkan cinta kasih, yang merupakan esensi dari ajaran Buddha. Oleh karena itu, umat tidak hanya mengamalkan ajaran agama, tetapi juga mewujudkan kepedulian terhadap sesama. 2 Perayaan di Klenteng Zhong Yi Miao Komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao tidak hanya melaksanakan ajaran serta perayaan agama Buddha, tetapi juga merayakan ajaran tradisi leluhur. Tradisi yang dirayakan oleh komunitas di Klenteng Zhong Yi Miao mencakup: Perayaan Imlek Ni Nengah Dwi Sri Mahayani. I Wayan Putra Yasa. I Putu Hendra Mas Martayana (Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh. Klungkung. Bali (Sejarah. Nilai Multikultur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA)) Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. June 2025, pp. Perayaan Imlek merupakan momen penting bagi komunitas Tionghoa, yang selalu bertepatan dengan fase bulan baru dalam kalender Tionghoa. Dalam kalender masehi, perayaan ini biasanya berlangsung antara bulan Januari dan ditutup dengan perayaan Cap Go Meh. Awalnya. Imlek dirayakan oleh petani di Tiongkok untuk menyambut musim semi. Namun, di Indonesia Imlek menjadi kesempatan untuk mengucapkan syukur atas keberhasilan tahun lalu dan berharap keberuntungan yang lebih baik di tahun mendatang (Sartini, 2. Berdasarkan wawancara dengan Sosan Muliono . selaku Ketua Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao pada tanggal 16 Januari 2025. Perayaan Imlek di Klenteng Zhong Yi Miao berlangsung selama seminggu penuh. Dimulai dengan pembersihan arca, altar, dan seluruh area klenteng oleh panitia upacara keagamaan. Hari kedua, diisi dengan parade barongsai dan liong oleh Komunitas Kesenian Naga Hijau Vihara Dharma Ratna di alun-alun Kota Klungkung. Pada hari ketiga, umat melakukan sembahyang tutup tahun dan menyambut tahun baru, baik di rumah maupun di Klenteng, sebagai wujud syukur dan harapan. Hari keempat dirayakan dengan sembahyang Tahun Baru Imlek bersama keluarga di rumah, dilanjutkan dengan doa di Klenteng dan Vihara. Hari kelima dilakukan Sembahyang King Thian Kong, sebagai penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memohon keselamatan dan berkah. Hari keenam dimeriahkan dengan perayaan Imlek bersama Yayasan Suka Duka Tulus Hati, menampilkan berbagai hiburan seperti barongsai dan rangkaian perayaan ditutup dengan sembahyang Cap Go Meh pada hari kelima belas, yang dirayakan dengan melakukan persembahyangan di Klenteng Zhong Yi Miao. Perayaan Imlek di hari keenam dapat dilihat pada gambar 3. 6 di bawah ini. Gambar 6. Perayaan Imlek (Sumber: Dokumentasi Vihara Dharma Ratna. Februari 2. Dari gambar 6 di atas, terlihat bahwa perayaam imlek juga mengundang tokoh-tokoh dari agama lain, sehingga perayaan ini tidak hanya menjadi hari raya bagi komunitas Tionghoa saja, tetapi juga menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi lintas budaya dan agama. Dalam perayaan Imlek yang dilakukan oleh komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao, menunjukkan implementasi nilai multikultur yaitu pentingnya nilai kebersamaan. Mereka secara aktif berpartisipasi dalam seluruh rangkaian acara selama tujuh hari, yang mampu menciptakan suasana yang harmonis, ceria, memperkuat ikatan keagamaan, serta mempererat solidaritas antar komunitas dan umat Upacara Sejit Sejit adalah tradisi rutin selama 3 hari di Klenteng Zhong Yi Miao untuk memperingati hari lahir Arca Kwan Seng Tee Koen setiap tanggal 24 Lak Gwee atau 24 bulan 6 Imlek, yang dalam kalender masehi, jatuh pada bulan juli dengan di tanggal yang tidak sama setiap tahunnya. Berdasarkan wawancara dengan Sosan Muliono . selaku Ketua Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao pada tanggal 8 Agustus 2024, perayaan Sejit meliputi persembahyangan dan acara hiburan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk dari umat muslim dengan menampilkan tarian qasidah dan acara hiburan lainnya seperti pentas wushu, penampilan musik tradisional angklung, barongsai, dan penampilan anak-anak sekolah minggu. Ni Nengah Dwi Sri Mahayani. I Wayan Putra Yasa. I Putu Hendra Mas Martayana (Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh. Klungkung. Bali (Sejarah. Nilai Multikultur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA)) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Dalam perayaan Sejit, nilai multikultur yaitu nilai toleransi sangat terasa karena komunitas Tionghoa tidak hanya merayakan tradisinya sendiri, tetapi juga merangkul interaksi dan kolaborasi lintas Hal ini mencerminkan penerapan nyata nilai-nilai toleransi, keterbukaan, pengakuan, pemahaman, dan penerimaan terhadap perbedaan pandangan, baik agama, budaya, maupun etnis, telah menjadi bagian dari kehidupan komunitas Tionghoa. Sembahyang King Hoo Ping King Hoo Ping adalah ritual penghormatan arwah leluhur yang dilaksanakan setiap akhir bulan ketujuh penanggalan Imlek (Jit Gw. , yang dalam kalender masehi jatuh pada bulan agustus. Warga Tionghoa meyakini bahwa selama bulan ini, arwah diberi kesempatan mengunjungi dunia untuk melihat keluarga dan kerabat mereka. Oleh karena itu, dilakukan persembahyangan untuk mendoakan kedamaian dan ketenangan bagi para leluhur, sahabat, dan seluruh arwah (Nugroho, 2. Menurut Putu Antoniawan . selaku umat di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao menjelaskan bahwa Komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao menyebut tradisi ini sebagai sembahyang rebutan. Mereka memberikan persembahan dan melaksanakan sembahyang King Hoo Ping untuk mendoakan arwah leluhur di rumah masing-masing. Setelah itu, umat melanjutkan doa untuk arwah umum yang diadakan di halaman depan aula Vihara Dharma Ratna. Tradisi ini ini dapat dilihat pada gambar3. 7 di bawah ini. Gambar 7. Mendoakan Arwah Umum . dan Pembakaran Kertas Berbentuk Kapal . (Sumber: Dokumentasi Vihara Dharma Ratna. Agustus 2. Berdasarkan gambar 7 di atas, terlihat pelaksanaan sembahyang King Hoo Ping dimulai dengan pemimpin komunitas Tionghoa memandu doa untuk arwah umum yang diikuti oleh umat. Setelah itu, dilakukan pembakaran terhadap kertas berbentuk kapal sebagai simbol pengantaran arwah kembali ke Usai ritual utama, acara ditutup dengan makan bersama, yang dalam tradisi Tionghoa memiliki makna mendalam sebagai simbol kebersamaan dan bagian penting dari setiap upacara yang dilakukan. Perayaan ini menjadi wujud nyata praktik multikulturalisme oleh komunitas Tionghoa, sekaligus implementasi ajaran cinta kasih terhadap semua makhluk dengan mendoakan seluruh arwah, tanpa memandang pertalian darah. Di samping itu, kegiatan makan bersama mengandung nilai persatuan, yang menjadi wadah berbagi pengalaman dan pemikiran, sehingga meningkatkan loyalitas dan kekompakan dalam komunitas. 3 Nilai-nilai Multikultur dari Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA Nilai-nilai multikultur yang dipraktikkan oleh komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao memiliki potensi sebagai sumber belajar, terutama mewakili wujud toleransi antar umat beragama dalam keberagaman. Penanaman pemahaman mengenai nilai-nilai multikultur ini penting di ajarkan di sekolah, karena lingkungan pendidikan adalah tempat siswa dengan latar belakang etnis, agama, suku, dan budaya yang berbeda bertemu. Oleh karena itu, sekolah memainkan peran krusial dalam mengembangkan karakter siswa ke arah yang positif (Konten nilai-nilai multikultur dari komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran seperti sejarah, mengacu pada kurikulum dan materi sejarah yang tepat untuk mengintegrasikan nilai-nilai multikultur dari kedua tempat ibadah tersebut. Ni Nengah Dwi Sri Mahayani. I Wayan Putra Yasa. I Putu Hendra Mas Martayana (Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh. Klungkung. Bali (Sejarah. Nilai Multikultur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA)) ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. Sekolah terdekat dari Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao adalah SMA Negeri 2 Semarapura, yang saat ini menerapkan Kurikulum Merdeka dengan memberikan kebebasan dalam proses pembelajaran, menekankan pengembangan karakter siswa sesuai Profil Pelajar Pancasila, dan fokus pada pembelajaran mendalam daripada pencapaian nilai minimal. Dalam konteks ini, nilai-nilai multikultur dari komunitas Tionghoa di kedua tempat ibadah tersebut dapat diintegrasikan sebagai sumber belajar yang efektif dalam mata pelajaran sejarah. Nilai-nilai multikultur tersebut adalah sebagai 1 Nilai Bersahabat/Komunikasi Nilai komunikasi telah tercermin di dalam komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao, dalam kegiatan ramah tamah dan pertemuan keagamaan. Nilai ini sangat penting dalam pendidikan. Komunikasi yang efektif menciptakan lingkungan yang harmonis, menyatukan perbedaan, dan mencegah konflik. Sebaliknya, komunikasi yang buruk dapat menurunkan kualitas pengajaran, sehingga komunikasi yang baik di antara semua elemen sekolah penting dilakukan untuk mencapai pendidikan yang berkualitas. 2 Nilai Demokratis Nilai-nilai demokrasi yang diaktualisasikan oleh komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao, berupa kesetaraan hak dan perlakuan yang sama bagi semua anggota komunitas, dapat menjadi teladan penting untuk ditanamkan pada siswa. Hal ini membantu siswa belajar menghormati perbedaan, menghargai pendapat orang lain, dan bersikap adil, sehingga mereka akan lebih siap untuk berkontribusi menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab, mampu berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan yang adil dan transparan. 3 Nilai Religius Nilai religius adalah nilai yang berasal dari ajaran agama, yang praktiknya menjadi suatu kebiasaan untuk mengekspresikan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta dengan tujuan memohon perlindungan dan kebahagiaan dalam hidup (Yasa, 2. Komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao telah mengintegrasikan nilai-nilai religius ke dalam kehidupan sosial mereka dengan menaati ajaran Buddha dan tradisi leluhur yang selalu diperingati secara bersama-sama. Dalam konteks pendidikan, nilai-nilai ini dapat menjadi landasan bagi siswa untuk membangun karakter yang baik melalui ajaran agama. Implementasi nilai-nilai religius ini berpotensi membentuk moralitas individu yang lebih manusiawi dan berkarakter mulia, serta menjadi alat efektif dalam menciptakan perilaku religius yang positif terhadap sesama. 4 Nilai Peduli Sosial Nilai peduli sosial yang diterapkan oleh komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao tercermin dalam pelaksanaan upacara keagamaan dan tradisi yang dilandasi dengan ajaran cinta kasih. Praktik ajaran agama yang mengedepankan cinta kasih kepada sesama ini dapat menjadi contoh bagi siswa tentang pentingnya kepedulian terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari, mengingat siswa adalah makhluk sosial yang memerlukan interaksi dengan orang lain dalam aktivitas mereka. 5 Nilai Kebersamaan Nilai kebersamaan yang diaktualisasikan oleh komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao terlihat dalam partisipasi aktif anggota dalam perayaan keagamaan, yang menciptakan rasa kepedulian dan saling menghargai. Kebersamaan ini penting untuk ditanamkan pada siswa, karena banyak kegiatan sekolah yang memerlukan kerja sama untuk mencapai kesuksesan kecuali dalam situasi yang harus mengembangkan keterampilan mandiri seperti ujian. Di samping itu, nilai kebersamaan dapat digunakan oleh guru untuk menilai karakter siswa, karena siswa yang memiliki rasa kebersamaan cenderung mengutamakan kepentingan bersama, bertanggung jawab, dan peduli terhadap orang lain. Ni Nengah Dwi Sri Mahayani. I Wayan Putra Yasa. I Putu Hendra Mas Martayana (Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh. Klungkung. Bali (Sejarah. Nilai Multikultur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA)) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . 6 Nilai Toleransi Nilai toleransi tercermin dalam keharmonisan antar umat beragama di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao. Mereka hidup berdampingan secara damai dan terbuka kepada siapa pun yang ingin datang dan berdoa di sana. Dalam pendidikan, contoh nyata toleransi ini dapat membantu siswa untuk mengembangkan rasa hormat terhadap orang lain dan menerima keberagaman, sehingga mereka dapat berperan sebagai pelopor dalam menciptakan suasana yang ramah dan penuh kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk. 7 Nilai Persatuan Nilai persatuan telah menjadi bagian dari komunitas Tionghoa, yang diwujudkan melalui bersatunya mereka dalam setiap upacara keagamaan meskipun memiliki perbedaan keyakinan. Hal ini dapat menjadi teladan penting dalam dunia pendidikan yang memberikan pemahaman kepada siswa mengenai arti penting bersatu dan menghargai satu sama lain, sekaligus menegaskan bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk membangun hubungan yang kokoh. Melalui pembelajaran ini, siswa dapat dilatih untuk bersinergi dalam meraih tujuan bersama dan menumbuhkan rasa persatuan, yang menjadi kunci utama dalam menciptakan keharmonisan di tengah masyarakat yang heterogen. Proses pembelajaran sejarah menggunakan nilai-nilai tersebut dapat dilakukan dengan metode kontribusi, yang merupakan salah satu metode pembelajaran berbasis multikultur. Siswa didorong untuk memahami dan menghargai berbagai budaya tanpa diskriminasi. Metode ini dapat diimplementasikan dengan memberikan tugas riset kepada siswa tentang tradisi dan praktik budaya komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao, termasuk nilai-nilai multikultur yang diterapkan, sejarah, dan struktur bangunan. Dengan cara ini, siswa akan belajar secara langsung bagaimana nilai-nilai multikultur diterapkan dalam kehidupan sosial. Berdasarkan wawancara dengan Bapak G. Surya Utama. Pd . pada tanggal 16 Januari 2025, selaku guru sejarah kelas X di SMA Negeri 2 Semarapura, beliau menjelaskan bahwa Vihara Dharma Ratna sangat representatif diterapkan pada materi masuknya agama dan kebudayaan HinduBudha ke Indonesia. Materi pembelajaran dapat dihubungkan dengan keberadaan Vihara Dharma Ratna sebagai contoh perkembangan agama Buddha di Klungkung dan nilai-nilai multikultur dalam masuknya agama Hindu-Buddha dapat dikaitkan dengan nilai-nilai multikultur yang ada dalam komunitas Tionghoa di Vihara Dharma Ratna. Sementara menurut wawancara dengan Bapak Drs. I Gusti Ketut Wija . selaku guru sejarah kelas XII di SMA Negeri 2 Semarapura menjelaskan bahwa potensi Klenteng Zhong Yi Miao dapat diterapkan pada materi masa reformasi, sebagai cerminan nilai multikultur oleh Gus Dur. Dalam materi ini, siswa dapat mempelajari perkembangan kehidupan masyarakat, terutama etnis Tionghoa pasca-Orde Baru. Selanjutnya, pemahaman ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai multikultur yang tercermin dalam kegiatan komunitas Tionghoa di Klenteng Zhong Yi Miao. Kesimpulan Terdapat tiga kesimpulan yang dapat dirumuskan dari penelitian ini. Pertama, berdirinya Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga melambangkan perjalanan panjang komunitas Tionghoa di Klungkung, dari pedagang, menjadi penduduk, hingga mengalami masa pembatasan selama 32 tahun. Kebangkitan mereka ditandai dengan pendirian kedua tempat ibadah ini, yang diprakarsai oleh Yayasan Suka Duka Tulus Hati dengan dedikasi tinggi untuk memperluas ekspresi budaya dan keyakinan. Kedua, nilai-nilai multikultur yang diterapkan oleh komunitas Tionghoa di Vihara Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao bukan hanya sekadar wacana toleransi, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kegiatan keagamaan dan Penghormatan terhadap leluhur bukan hanya menjadi bagian dari praktik keagamaan tetapi juga fondasi dalam membangun hubungan sosial yang harmonis. Ketiga. Nilai-nilai multikultur tersebut Ni Nengah Dwi Sri Mahayani. I Wayan Putra Yasa. I Putu Hendra Mas Martayana (Vihara Dharma Ratna dan Klenteng Zhong Yi Miao di Semarapura Kauh. Klungkung. Bali (Sejarah. Nilai Multikultur, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA)) ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. dapat dijadikan sumber belajar sejarah untuk siswa SMA kelas 10 dan 12, agar mereka sebagai generasi muda dapat menghargai perbedaan dan berkontribusi dalam menciptakan bangsa yang inklusif dan adil. References