Tahun . Vol. Nomor . Bulan (Me. Halaman . https://doi. org/10. 53544/sapa/V9i1. Dialog Generasi Muda: Belajar Dari YIPC Dalam Model Mutualisme Knitter Andreas Sitepu1* Martinus Joko Lelono2 Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta, 55597. Indonesia Abstrak Penulis koresponden Nama : Andreas Sitepu Surel : andreassitepu627@gmail. ManuscriptAos History Submit : Februari 2025 Revisi : Maret 2025 Diterima : April 2025 Terbit : Mei 2025 Kata-kata kunci: Kata kunci 1 Dialog anak muda Kata kunci 2 Dialog sosial Kata kunci 3 Model mutualisme Kata kunci 4 Scriptural reasoning Copyright A 2025 STP- IPI Malang Peran anak muda dalam komunitas-komunitas religius antar agama masih menghadapi tantangan pembentukan karakter dan wawasan dalam bidang dialog. Situasi ini berasal dari dampak realitas kebosanan, trauma, ketakutan, stigma dan pengelompokan yang mereka rasakan. Sisi lain, lemahnya motivasi anak muda dalam berdialog memengaruhi partisipasi mereka yang berujung pada kesenangan saja, tanpa transformasi yang Penelitian ini akan mengkaji salah satu upaya menumbuhkan minat dialog di antara orang muda melalui Youth Interfaith Peacemaker Community (YIPC). Mereka sudah bergerak dalam isu keberagamaan sejak 2012. Mereka mengupayakan pertumbuhan gerak anak muda dalam bentuk dialog: scriptural reasoning, dialog antar iman dan dialog sosial secara terbuka, jujur dan mendalam. Mereka juga terlibat dalam proses transformasi yang mewujudkan perdamaian bagi agama-agama, masyarakat dan negara. Upaya ini akan dianalisis menggunakan perjumpaan model mutualisme dari Paul F. Knitter. Model mutualisme akan menjadi landasan untuk menganalisis dialog YIPC dan bagaimana menemukan pemahaman, kolaborasi dan transformasi dalam dialog untuk menciptakan kerjasama dalam mengatasi isu agama-agama. Penelitian ini akan menggunakan metode kajian pustaka. Penelitian ini memberikan relevansi untuk memahami proses YIPC dan kemungkinan perannya dalam membangun minat dialog di antara orang muda. Abstract Corresponding Author Name : Andreas Sitepu E-mail : andreassitepu627@gmail. ManuscriptAos History Submit : February 2025 Revision : March 2025 Accepted : April 2025 Published : May 2025 Keywords: Keyword 1 Mutualisme model Keyword 2 Scriptural reasoning Keyword 3 Sosial dialog Keyword 4 Youth dialog Copyright A 2025 STP- IPI Malang The role of young people in interfaith religious communities still faces challenges in character building and understanding in the field of This situation arises from the impact of boredom, trauma, fear, stigma, and group divisions they experience. On the other hand, the lack of motivation among young people to engage in dialogue affects their participation, which often ends up as mere enjoyment without beneficial This study will examine an effort to foster an interest in dialogue among young people through YIPC (Young Interfaith Peacemaker Communit. They have been involved in religious diversity issues since 2012, encouraging youth engagement in forms of dialogue: scriptural reasoning, interfaith dialogue, and social dialogue in an open, honest, and profound manner. They are also involved in a transformative process that promotes peace for religions, society, and the nation. This effort will be analysed using Paul F. Knitter's mutualism model. The mutualism model will serve as a basis for analysing YIPCAos dialogue efforts and exploring how understanding, collaboration, and transformation can be achieved in dialogue to create cooperation in addressing interfaith issues. This research will use a literature review This study provides relevance for understanding the YIPC process and its potential role in fostering an interest in dialogue among young people. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Andreas Sitepu, dkk | Dialog Generasi Muda Pendahuluan YIPC merupakan komunitas inter-religius berbasis anak muda yang didirikan pada Mereka memiliki tujuan untuk menciptakan hubungan kerjasama dalam dialog antar umat beragama di kalangan anak muda (Pramitasari, n. , pp. 87Ae. Sejak berdirinya pada tahun 2012, mereka berusaha membentuk karakter dan motivasi anak muda supaya bisa berpartisipasi dalam gerakan dialog. Namun, dalam upaya tersebut, mereka menemukan bahwa semangat anak muda dalam berdialog masih terbelah dalam dua golongan, yakni golongan kuat dan golongan lemah (Fw, 2020, pp. 130Ae. Keadaan ini mengindikasikan bahwa pembentukan karakter anak muda dalam berdialog dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni komitmen pribadi, pengetahuan agama, dan lingkungan yang mendukung dialog. Anak muda dalam posisi lemah sangat minim dalam dinamika dialog karena kurangnya minat serta terbatasnya ruang terbuka mereka untuk terlibat dalam tindakan dialog. Hal ini diperburuk oleh faktor stereotipe bahwa anak muda belum mumpuni dalam berdialog dan pertimbangan bahwa mereka memiliki emosi yang belum stabil. Akibatnya, situasi ini akan memicu pertikaian dan konflik bagi relasi mereka dalam kerjasama dialog. Melalui tantangan dan kendala di atas, anak muda perlu menemukan wadah yang dapat menumbuhkan minat dan motivasi dalam berdialog. Di Indonesia, salah satu komunitas yang memiliki keprihatinan ini adalah YIPC. Beberapa nilai dari YIPC memiliki fokus untuk membentuk anak muda sebagai pelaku dialog antar agama. Dalam membaca dinamika YIPC, tulisan ini menggunakan model mutualisme Paul Knitter. Model ini memberikan langkah dan kriteria untuk melaksanakan dialog yang benar, setara dan jujur di antara para pelaku dialog. Di dalam hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Knitter mengusulkan bentuk correlational dan tanggung jawab global yang perlu dicapai oleh peserta dialog. Tulisan ini membahas secara khusus bentuk correlational dan tanggung jawab global dan menggunakan kedua bentuk tersebut untuk membaca dialog dalam YIPC. Metode Penelitian Karya ini akan ditulis menggunakan metode kajian pustaka dan wawancara untuk mendapatkan data yang komprehensif. Kajian pustaka merupakan cara pengambilan data melalui survei literatur ilmiah yang relevan dalam jurnal, artikel dan buku untuk mendapatkan informasi tentang topik yang sedang dibahas. Hal tersebut bertujuan untuk memahami konsep teoritis yang akan digunakan dalam tulisan ini serta memahami objek penelitian yang dituju (Ramdhani et al. , 2014, p. Selain itu, penulis juga melakukan wawancara untuk mendapatkan data dan informasi empiris yang lebih akurat mengenai YIPC. Metode wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan secara interaksi langsung antara peneliti dan narasumber. Wawancara ini dilaksanakan dengan prosedur memilih narasumber yang tepat, penyusunan panduan pertanyaan, melakukan analisis terhadap hasil wawancara dan menemukan hasil dan fenomena terhadap objek penelitian (Creswell & Creswell, n. , pp. 61Ae. Kedua metode ini menjadi instrumen yang membantu penulis dalam menemukan data dan informasi yang sesuai dengan tujuan tulisan Dengan metode ini, peneliti mampu mendapat dan menggali informasi yang lebih https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Andreas Sitepu, dkk | Dialog Generasi Muda mendalam dari sumber teori maupun wawancara yang dilakukan. Melalui metode ini, tulisan ini bisa menjadi karya ilmiah yang relevan untuk tema yang sedang dikerjakan. Hasil dan Pembahasan Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) adalah komunitas interfaith berbasis anak muda. Mereka adalah gabungan mahasiswa/i yang memiliki ketekunan dalam studi agama-agama. Komunitas ini dimulai oleh dua mahasiswa Universitas Gajah Mada, yakni. Andreas Jonathan dan Ayi Yunus Rusyana. Mereka adalah mahasiswa dalam program Indonesian Consortium for Religius Studies (ICRS). Andreas Johnatan aktif dalam organisasi dialog dan interfaith relation. Di sisi lain. Ayi Yunus Rusyana aktif dalam organisasi peace education. Di program ICRS, mereka berdua dipertemukan dalam sebuah proyek pengembangan relasi antar agama bagi mahasiswa/i di Yogyakarta. Dengan proyek ini, mereka memulai sebuah gerakan hubungan antar agama dalam fokus dialog dan peace education bagi anak muda. Berhubungan dengan ini, mereka memulai pelatihan pada tanggal 9-12 Juli 2012 di gedung pasca sarjana UGM. Yogyakarta. Sebanyak 25 mahasiswa/i yang beragama Islam dan Kristen memberikan diri untuk terlibat dan bersedia untuk mengikuti Dalam pelatihan tersebut. Mereka berdiskusi tentang tradisi dan sejarah agamaagama melalui pendekatan Kitab Suci. Setelah pelatihan ini, mereka membentuk komunitas secara resmi dan disebut sebagai YPC Yogyakarta (Yahya, n. September 2012. YPCJ mengadakan pertemuan reguler pertama dalam proses hubungan antar agama. Beberapa hal yang dilaksanakan dalam kegiatan ini, yakni: interfaith/dialogue dan kajian Kitab Suci. Selain itu, pertemuan reguler ini juga mempersiapkan dan membentuk student interfaith peace camp. Student interfaith peace camp merupakan kegiatan yang menanamkan semangat nilai perdamaian kepada anak muda. Di masa awal ini, kegiatan Peace camp diikuti oleh 30 mahasiswa/i dari kota Jogja. Palembang. Bandung. Kebumen. Solo. Surabaya, dan Madura (Gultom et al. , 2023, p. Di tahun 2013. YPCJ berubah nama menjadi Young Peacemaker Community Indonesia YPCI dengan alasan bahwa anak muda yang bergabung beragam asal daerah yang melingkupi beberapa bagian dari negara Indonesia. Setelah pergantian nama, mereka melakukan kegiatan student interfaith peace camp di Medan. Trawas. dan Kaliurang. Ketiga kota ini mewakili provinsi Sumatra Utara. Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setelah itu, mereka mengadakan Young Interfaith Peacemaker National Conference di Magelang. Di akhir pertemuan. YPCI dikukuhkan dan disempurnakan menjadi YIPC (Young Interfaith Peacemaker communit. YIPC membentuk tiga cabang, yaitu: YIPC Medan. YIPC Joglosemar (Jogja. Solo. Semaran. dan YIPC Jawa Timur (A. Yahya, personal communication. Oktober 2. Pada tahun 2018. YIPC berkembang di beberapa daerah di Indonesia, diantaranya: Medan. Jakarta. Bandung. Yogyakarta. Salatiga. Malang dan Surabaya. Dalam kondisi ini, mereka memiliki jangkauan yang lebih luas sehingga dibutuhkan sebuah unit pengelola yang https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Andreas Sitepu, dkk | Dialog Generasi Muda mengkoordinir kegiatan di kota-kota tersebut dan dibentuk YIP Center. YIP Center merupakan kepengurusan yang menaungi YIPC dimanapun berkarya. Selain itu. YIP Center memiliki jangkauan yang lebih luas, yakni: mengundang agama Buddha. Hindu. Konghucu. Islam dan Kristen serta beberapa kepercayaan lokal (Yahya, n. Beberapa kegiatan rutin dalam YIPC, yaitu: student interfaith peace camp, national youth interfaith peace camp, school of interfaith dialogue, young interfaith peacemaker national conference, national training for facilitator, peringatan: International Day of Peace, dan world interfaith harmony. Selain itu. YIPC juga berkiprah dalam media sosial. Dalam Instagram @yipc. indonesia, you tube: YIPC Indonesia dan for peace project, dan media lain dalam peace news. Semua hal ini adalah instrumen yang membantu YIPC untuk melaksanakan dialog dan niat perdamaian dalam level komunitas mereka sampai pada masyarakat luas (Huda, 2018, pp. 99Ae. Dalam YIPC ada dua unsur yang menjadi landasan pergerakan mereka, yaitu: peace education dan interfaith relation/dialogue. Tulisan ini hanya membahas bagian interfaith relation/dialogue karena batas jangkauan yang penulis capai hanya sampai pada menjelaskan proses dialog YIPC yang bisa dibaca dengan lebih jelas melalui model mutualisme Knitter dan mencakup ruang dialog yang khas dari YIPC. Interfaith relation/dialogue YIPC terbagi dalam tiga jenis, yaitu: Scriptural Reasoning, dialog teologis dialog sosial. Secara Khusus, penulis akan menjelaskan Scriptural Reasoning dan dialog sosial yang menjadi tujuan utama dalam penelitian ini. Scriptural Reasoning Scriptural Reasoning (SR) adalah praktik interaksi yang berfokus pada pembacaan teks oleh penganut agama Abrahamic. Praktik interaksi melalui kajian teks adalah gerakan lintas agama yang menjadi mediasi untuk agama Yahudi. Islam dan Kristiani karena mereka memiliki kesamaan asali dalam beberapa hal terutama yang tercantum dalam Kitab Suci (Cheetham, 2010, pp. 343Ae. Dalam dialog. SR dimaksudkan untuk sebuah pendekatan yang mencari kesamaan asali melalui intra tekstual dan menghindari ruang liberal dari tradisi . ilosofi, kultur, dl. agama-agama yang berbeda yang menjadi cikal bakal perselisihan di antara agama. Dalam SR, penganut agama Abrahamic bisa saling bertukar pandangan karena dalam masing-masing Kitab Suci mereka ada kemiripan cerita tetapi dengan penjelasan dari tradisi yang berbeda. Selain itu, mereka juga memiliki beberapa tradisi yang sama dengan mengakui tokoh yang sama. Salah satu yang dibahas adalah tokoh Abraham. Abraham menjadi tokoh penting bagi ketiga agama ini pada permulaan perkembangan iman dan identitas agama Islam. Kristen dan Yahudi. Tokoh abraham yang dibahas sama tetapi dijelaskan secara berbeda dengan tradisi yang mengikuti setiap agama. Di sinilah letak keterhubungan antara agama Islam. Kristen dan Yahudi. Poin ini adalah salah satu jembatan yang bisa membuka ruang perjumpaan bagi mereka. Berhubungan dengan ini, bentuk dialog SR diusulkan sebagai salah satu cara pelaksanaan dialog. Secara umum. Gerakan ini sudah dimulai sejak tahun 1990-an (Cheetham, 2010, pp. 351Ae. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Andreas Sitepu, dkk | Dialog Generasi Muda Pada awalnya. YIPC menggunakan SR karena unik dan komunitas ini yang pertama kali melaksanakannya di Indonesia. Dalam YIPC, kegiatan SR dilaksanakan dengan diskusi kronologis tokoh-tokoh yang ada dalam Alkitab dan Al Quran. Selain itu, ada juga pembahasan mengenai wanita, kesetaraan, kebijaksanaan, permulaan alam semesta, dll. Tema-tema yang diangkat dalam SR mengarah pada pendekatan interaksi yang saling Interaksi yang saling terhubung memungkinkan setiap agama bisa saling berkomunikasi dengan baik dan bertukar informasi dengan jujur. Di dalam SR, agama-agama yang terhubung terikat oleh beberapa tradisi yang hampir sama dan cerita sejarah yang Dalam hal ini. SR membentuk sebuah perjumpaan yang saling menguntungkan serta menumbuhkan kesadaran setiap agama-agama bahwa memang ada nilai-nilai bersama yang bisa didiskusikan untuk saling melengkapi (A. Yahya, personal communication. Oktober 2. Dialog sosial Dialog sosial adalah hubungan/interaksi yang dilaksanakan dan berdasar pada ruang lingkup sosial, seperti: berbicara mengenai masyarakat dan lingkungan. Dialog sosial merupakan saranan yang paling aman dan benar untuk memulai keterhubungan bagi agamaagama. Beberapa dari penggiat dialog setuju bahwa hubungan dua arah yang diperuntukkan untuk tujuan sosial dapat memberikan dampak kerjasama yang autentik (Tinambunan, 2022, 280Ae. YIPC mengadopsi dialog sosial sebagai instrumen untuk menanggapi permasalahan sosial dalam masyarakat. Permasalahan ini berupa: korupsi, narkoba, pornografi dan lain Permasalahan-permasalahan ini adalah kendala yang membuat masyarakat buta akan transformasi diri. Dialog sosial ini dimaksudkan sebagai sosialisasi kepada masyarakat dan membatu masyarakat bertumbuh dengan baik, menjadi pribadi positif dan berdaya guna bagi kehidupannya dan dalam lingkungan yang ia tempati. Melalui dialog sosial, semua manusia membentuk relasi yang saling menguntungkan sehingga memberikan dampak baik pada perubahan individu yang diselamatkan dan pelajaran baru bagi para pelaksana dialog. Dalam dialog sosial, masyarakat dan lingkungan satu dan tak terpisah karena mereka terhubung sebagai sama-sama ciptaan meskipun dalam sejuta perbedaan. Semua yang dalam perbedaan akan disatukan dalam tujuan bersama, yakni: kemakmuran manusia dan Dalam hal ini, dialog sosial mengambil peran sebagai jembatan untuk memediasi relasi antara masyarakat dan lingkungan supaya menemukan transformasi bagi kedua belah pihak dan salah satunya difasilitasi oleh YIPC. Kegiatan dialog sosial dalam YIPC dilaksanakan dalam waktu-waktu libur dan luang para mahasiswa/i untuk menjamin keterlibatan mereka secara penuh dan meminta kesedian tanpa terbebani oleh apapun (A. Yahya, personal communication. Oktober 2. Model Mutualisme Paul F. Knitter Mutualisme merupakan bentuk ikatan persahabatan melalui interaksi antara dua atau lebih dalam organisme dan memberi dampak keuntungan bagi semua pihak yang terlibat. Kata mutualisme berasal dari bahasa Yunani, yakni mutus dan ismos. Mutus memiliki arti https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Andreas Sitepu, dkk | Dialog Generasi Muda timbal balik. Dan, ismos adalah ilmu. Secara umum, mutualisme dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik yang dilakukan secara langsung atau bersama (Davison, 2020, pp. 260Ae. Analogi mutualisme dapat dijelaskan melalui hubungan simbiosis pada makhluk hidup, seperti: relasi burung dan buaya dalam dialog Heroditus. Dalam dialog tersebut, burung dan buaya memiliki hubungan dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan. Burung dan buaya berelasi dalam sebuah tindakan yang memberi nilai baik bagi keduanya, misalnya: burung membantu buaya untuk membersihkan mulutnya. Dari tindakan itu, burung mendapat makanan ketika membersihkan mulut buaya dan buaya merasa senang sebab mulutnya dibersihkan dari parasit. Dari analogi ini. Aristoteles mengungkapkan bahwa proses keterhubungan mahkluk hidup bisa terjadi dalam beberapa bentuk dan salah satunya ialah keterhubungan yang saling menguntungkan. Nilai baik dari keterhubungan yang saling menguntungkan mengubah beberapa konsep fundamental yang ada dalam diri mahkluk hidup, seperti: buaya yang tidak memakan burung meskipun burung sedang ada dalam mulut buaya untuk memakan parasit(Meng et al. , 2019, pp. 210Ae. (Henry G. Liddell, pp. Melalui konsep di atas. Paul Knitter menciptakan cara baru untuk membentuk persahabatan dalam agama-agama. Melalui model mutualisme, ia mencoba untuk membuat keterhubungan yang saling menguntungkan dalam agama-agama. Bagi Knitter, agamaagama bisa saling terhubung dan berdialog melalui tindakan yang mengarah pada keuntungan secara bersama. Knitter menjelaskan bahwa hal ini akan terjadi dalam proses gerakan etis dan praktis. Knitter mengarahkan agama-agama untuk melaksanakan dialog melalui tindakan manusia dalam nilai agama untuk tujuan etis dan praktis. Di dalam tindakan etis dan praktis, agama-agama akan sampai pada perwujudan tujuan semua agama, yakni: keselamatan dan kesejahteraan bagi alam semesta. Dengan itu. Knitter memindahkan pusat tindakan dan diskusi dialog dari teosentris . usat segala realitas adalah Alla. dan kristosentis . usat segala realitas adalah Yesu. menjadi soteriosentris . usat dari realitas adalah keselamata. Dalam menjelaskan hal ini, ada dua bentuk cara berpikir yang perlu dianalisis dari Knitter, yaitu: bentuk correlational, dan tanggung jawab global. Corellational Correlational merupakan deskripsi dari kajian yang menampilkan sisi kuat-lemah dan positif-negatif dalam hubungan dan relasi antar dua pihak. Secara umum, fokus correlational adalah untuk melihat presentasi kerjasama dalam sebuah hubungan yang sedang Hasil dari correlational akan memberikan data untuk melihat proses keterhubungan antar dua pihak. Dalam hal inilah, correlational dapat menjadi alat untuk membaca sebuah relasi yang terjadi dalam keterhubungan serta kemungkinannya untuk menjadi sarana dalam menemukan sebuah jawaban dalam mengatasi kelemahan dalam hubungan antar dua pihak atau lebih (Meng et al. , 2019, pp. 210Ae. Melalui penjelasan di atas. Knitter menggunakan correlational untuk menjelaskan keterhubungan yang terjadi dalam agama-agama. Dalam keterhubungan antar agama, correlational berperan sebagai model untuk melihat dan membaca proses dinamika yang membentuk hubungan itu, misalnya: dialog. Dalam dialog, agama-agama saling terhubung https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Andreas Sitepu, dkk | Dialog Generasi Muda dan berinteraksi satu dengan yang lain. Penggunaan model correlational bisa melihat proses dialog yang sedang dikerjakan. Correlational bisa menjadi instrumen yang membaca proses berbicara dan mendengarkan dalam dialog. Melalui correlational, agama-agama bisa terlibat aktif, saling tarik menarik, dan memengaruhi. Knitter menegaskan bahwa melalui correlational semua agama-agama bisa melihat keterikatan untuk saling berinteraksi (P. Knitter, 1999, pp. 330Ae. Melalui hipotesa di atas. Knitter memberi kerangka teoritis untuk dialog melalui keunikan relasi antar agama. Secara umum, agama-agama memiliki pengakuan kepada figur yang menjadi pokok kepercayaan, misalnya: Yesus Kristus dalam agama Kristen. Buddha bagi buddhis, dll (Rambe et al. , 2. Masing-masing pokok kepercayaan ini unik dan berbeda serta memiliki tempat yang khusus dalam kepercayaan. Dalam keadaan unik dan berbeda, agama-agama perlu sadar bahwa dalam keunikan itu ada sebuah dorongan yang mengikat relasi. Masing-masing memiliki ikatan relasi dan tidak berdiri sendiri melainkan berelasi dengan yang lain. Berhubungan dengan ini, agama-agama yang berelasi dalam keunikan akan menghilangkan kecenderungan untuk lebih unggul antara satu dengan yang lain (P. 1939- Knitter, 1. Bagi Knitter. Yesus dalam agama Kristen adalah unik dan demikian pula dengan agama yang lain. Dalam iman agama kristiani. Yesus adalah juru selamat. Selain itu. Buddha juga jalan keselamatan. Yesus dan Buddha saling berelasi dalam keunikannya. Masing-masing keunikan sampai kepada tujuan yang dikehendaki bersama. Bagi Knitter, agama-agama yang memiliki kepercayaan dan keyakinan akan jalan keselamatan masing-masing adalah kebenaran yang mengatakan bahwa ada jalan kepada keselamatan di antara jalan keselamatan yang lain. Melalui hal ini, agama-agama memiliki cara padang setara terhadap yang lain tanpa jatuh kepada perbandingan yang menjadi sumber munculnya konflik. Melalui model correlational, agama-agama dapat terhubung secara setara, bersama, jujur dan diakui dalam melakukan dialog sehingga menciptakan relasi dan kerjasama yang tidak berat sebelah dan adil (P. Knitter, 1995, p. Tanggung Jawab Global: Soteriosentris Soteriosentris perkembangan kata dari soteriologi melalui akar kata soteria yang berarti keselamatan (Stetler, 2020, pp. 2231Ae2. Knitter mempostulatkan soteriosentris sebagai prinsip universal setiap agama. Konsep soteria merupakan pedoman untuk berjalan bersama, bercerita bersama, bertindak bersama. Konsep soteriosentris ini mengundang semua agama untuk fokus pada tindakan praktis dan etis. Melalui soteriosesntis, agama-agama terpanggil untuk berdialog dalam aksi nyata untuk dunia dan isinya. Bahan baku soteriosentris adalah penderitaan yang dirasakan dan dialami bumi dan isinya. Soteriosentris mengubah cara pandang agama dalam melaksanakan dialog yang selama ini dalam proses abstraksi sehingga sulit membentuk metode yang tepat untuk berdialog karena pertentangan yang sering terjadi mengenai penyatuan. Berbeda dengan dialog abstraksi, dialog aksi memberi ruang yang lebih terbuka dan diterima oleh semua agama, misalnya: dialog untuk lingkungan hidup. Semua agama pasti setuju bahwa permasalahan https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Andreas Sitepu, dkk | Dialog Generasi Muda lingkungan adalah salah satu dari tanggung jawab yang diajarkan dalam nilai dan tradisi Hal ini terjadi dalam semua agama melalui kesadaran bahwa agama-agama itu memang menentang permasalahan, berkewajiban menyelesaikan permasalahan, diberdayakan untuk bertindak terhadap permasalahan, dan diberi pencerahan dan kesadaran oleh permasalahan. Agama-agama yang mengatasi permasalahan berarti berada dalam tujuan soteriosentris (Clifford Chalmers Cain, p. Dialog yang dijalankan dengan soteriosentris membuka kesadaran agama-agama untuk melaksanakan kerjasama dan relasi yang tidak hanya sebatas komitmen tetapi sebagai pengalaman bersama. Bukan pula sebatas tugas etis bersama, lebih dari itu, ia juga sebagai sumber agama-agama untuk berjalan bersama. Dalam menanggapi soteriosentris, agamaagama terpanggil untuk berdialog (P. Knitter, 1995, pp. 160Ae. Analisis Dialog YIPC melalui Model Mutualisme Knitter Bagian ini akan membahas dialog YIPC menggunakan model mutualisme Knitter sebagai pisau analisis yang meliputi beberapa aspek kunci, yakni: pola mutualisme, bentuk correlational, ruang kesetaraan, dan tanggung jawab global. Penulis menggambarkannya melalui bagan berikut: Gambar 1. Hubungan dialog YIPC dalam ruang dialog mutualisme Paul Kintar. Pola Mutualisme dalam YIPC Dalam model mutualisme, pola relasi yang terjadi di antara dua organisasi berdampak pada kesepakatan untuk bekerjasama. Dalam konteks ini, pola mutualisme yang terjadi dalam YIPC berlangsung antara Islam dan Kristen yang bekerjasama dalam sebuah komunitas yang tidak hanya berkumpul untuk berjumpa tetapi juga belajar dan memahami. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Andreas Sitepu, dkk | Dialog Generasi Muda Dalam YIPC, agama Islam dan Kristen menjadi satu untuk menjalankan nilai-nilai perdamaian dalam menghadapi sebuah permasalahan. Dalam proses kerja sama ini, agama Islam dan Kristen saling bertukar pemahaman dan pandangan bahkan bersatu dalam praktek Kedua belah pihak tidak hanya bersatu untuk mengatasi masalah melainkan juga memperoleh keuntungan serta transformasi untuk memahami satu sama lain. Pola mutualisme ini sama dengan analogi burung dan buaya yang saling memberi keuntungan. Dengan kerjasama yang dilakukan, kedua pihak sama-sama diuntungkan (Martin & Schwab. Sebagaimana proses kerjasama antar buaya dan burung, kedua agama dalam YIPC saling memberi keuntungan melalui pertukaran nilai dan pemahaman sehingga memperkaya perspektif masing-masing. Buah dari pertukaran nilai membawa kedua agama ke dalam tujuan yang sama, yakni menciptakan perdamaian. Correlational dalam YIPC: Memetakan dan Membangun Relasi Seimbang Dalam konteks YIPC, bentuk correlational terlaksana melalui kegiatan Scriptural Reasoning (SR), di mana setiap peserta berbicara dari sudut pandang teks masing-masing. SR menciptakan ruang perjumpaan antaragama yang mendorong kesadaran peserta akan relasi mereka dengan yang lain. Dalam bentuk ini, para peserta memiliki kesatuan relasi dalam praktek dialog teks untuk mendukung satu sama lain dan membentuk pemahaman baru bagi semua yang terlibat. Sebagai contoh, dalam membahas figur Abraham, meskipun masing-masing agama memiliki pandangan yang berbeda, dialog tetap terlaksana dengan saling menghormati posisi keunikan tersebut. Dalam proses ini, semua peserta dialog mengungkapkan kepercayaannya tanpa didominasi. Bentuk correlational juga berfungsi sebagai alat evaluasi dalam proses dialog YIPC. Melalui bentuk correlational, dialog YIPC mengalami hambatan dalam melaksanakan interaksi dua arah karena fenomena keterlibatan sebelah pihak dalam komunitas. Hal demikian dapat ditemukan melalui kegiatan yang dilaksanakan oleh YIPC. Pada tahun 2024. YIPC mengadakan pelatihan fasilitator YIPC di Yogyakarta. Dalam kegiatan ini, beberapa dari peserta mengeluh karena peserta yang hadir kebanyakan dari pihak Islam bahkan beberapa kegiatan dialog terhambat akibat kurangnya partisipasi pihak agama lain. Pihak Islam yang lebih dominan dan minimnya keikutsertaan Kristen menyebabkan dinamika kegiatan tidak stabil sehingga mengurangi kebaruan dan transformasi bagi peserta dialog. Dalam keadaan ini, beberapa tradisi dan nilai yang dibahas melalui metode Scriptural Reasoning tidak memberikan makna yang mendalam bagi para peserta (Perjalanan Menemukan Diri Yang Tak Terduga Ae Peacenews, 2. Ruang Kesetaraan: Representasi Kebenaran Dalam bentuk correlational, ruang representasi kebenaran sangat ditekankan. Melalui ruang representasi kebenaran, peserta dialog mengakui jalan kebenaran dari masing-masing agama-agama. Dalam YIPC, ruang representasi kebenaran ini dilaksanakan dengan membuka ruang seluas-luasnya bagi setiap individu yang terlibat untuk mengungkapkan Islam dan Kristen bisa mengekspresikan nilai agamanya tanpa takut dicela ataupun ditolak. Melalui ruang kesetaraan ini. Islam dan Kristen dapat mengakui kebenaran https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Andreas Sitepu, dkk | Dialog Generasi Muda unik yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Bagi YIPC, kendala dalam ruang kesetaraan adalah munculnya prasangka terkait status minoritas dan mayoritas dalam peserta dialog. Sikap ini memengaruhi karakter dalam pelaksanaan dialog, di mana mereka terjebak dan cenderung menutup diri karena terbebani oleh kesalahan persepsi dengan kondisi mereka (Lelono, 2024, pp. 102Ae. Melihat dominasi mayoritas yang kuat, peserta dari kalangan minoritas merasa takut, khawatir dan cenderung menutup diri. Akibatnya, partisipasi anak muda dalam berdialog melemah dan membuat niat untuk mewujudkan dialog terputus serta terhenti (Jonathan et al. , 2018, pp. 53Ae. Dalam tanggung jawab global, manusia dan lingkungan perlu diselamatkan dari penderitaan yang mereka alami. Ada berbagai jenis penderitaan yang dialami manusia, baik itu akibat dari ulah manusia maupun dari kejadian alam yang tidak terduga. Penderitaan ini merenggut sukacita serta membuat luka yang mendalam. Manusia tidak menginginkan penderitaan tetapi mereka tetap merasakannya. Banyak pihak yang mencoba untuk mengatasi penderitaan ini, salah satunya adalah YIPC dengan cara tindakan sosial untuk YIPC mengundang agama Islam dan Kristen untuk bisa bersatu dalam tindakan dan doa sebagai bentuk aksi dan harapan untuk masalah yang sedang dihadapi Dalam YIPC, agama Islam dan Kristen dipertemukan dalam proses tindakan etis yang membantu transformasi masyarakat dan lingkungan. Dalam dinamika pelaksanaan inilah proses dialog terlaksana. Berdasarkan model mutualisme Knitter. YIPC mengadopsi tindakan etis dan praktis dalam dialog mereka untuk gerakan sosial. Dialog sosial mendorong YIPC untuk menjadi aktor dalam tindakan kemanusiaan dan mewujudkan perdamaian. Dalam prinsip dialog mutualisme Knitter, dialog sosial merupakan jalan untuk sampai kepada tujuan soteriosentris bagi kehidupan manusia. YIPC mengikuti prinsip ini untuk mewujudkan kesejahteraan an keadailan dalam masyarakat dengan melawan penderitaan melalui cara damai (A. Yahya, personal communication. Oktober 2. Dialog Anak Muda dalam Ruang Mutualisme: Kenyataan Lapangan. Belajar dari Pengalaman YIPC Dalam membentuk nilai-nilai dialog di antara anak muda. YIPC memiliki tujuan untuk menciptakan transformasi pada karakter dan minat mereka dalam dialog. Penelitian ini melalui model mutualisme Knitter mengidentifikasi dialog anak muda ke dalam dua keadaan, yaitu keadaan kuat dan lemah. Anak muda yang memiliki semangat kuat dalam berdialog cenderung terbuka terhadap agama lain sehingga keterlibatan mereka untuk bekerjasama dengan agama lain terasa dan terlihat, baik dalam kegiatan sosial . raktik masyarakat langsun. maupun dalam komunitas inter-religius. Sebaliknya, anak muda dalam keadaan lemah untuk berdialog seringkali terperangkap dalam masalah personal. Mereka yang terjebak dalam kondisi ini cenderung menutup diri dan merasa terbebani oleh kelemahan mereka. Dalam menghindari stereotipe yang salah, tulisan ini memaparkan data mengenai respon anak muda dalam dialog antar agama serta tanggapan mereka terhadap komunitas inter-religius. Data ini diperoleh melalui google form yang disebar di beberapa kampus, https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Andreas Sitepu, dkk | Dialog Generasi Muda diantaranya: Universitas Sanata Dharma. Sekolah Tinggi Perpajakan Indonesia. Universitas Kristen Satya Wacana. Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Universitas Gajah Mada, dan Universitas HKBP Nommensen. Subjek dari penelitian ini adalah mahasiswa/i yang beragama Islam dan Kristen (Katolik dan Protesta. dan dilaksanakan dari tanggal 1 sampai 31 Oktober 2024 serta mendapatkan responden sebanyak 100 orang. Di antara 100 mahasiswa/i, sebanyak 75% tertarik untuk berdialog dengan agama lain dan 25% masih bimbang serta ragu. Selain itu, sebanyak 50% responden tergabung ke dalam sebuah komunitas inter-religius. Mereka yang terlibat dalam komunitas inter-religius memiliki tanggapan yang beragam mengenai dialog yang dilaksanakan oleh anak muda serta mengenai kendala dalam berdialog, seperti: pengelolaan waktu untuk mengikuti kegiatan. Banyak anak muda terhambat untuk terlibat dalam dialog karena kesibukan personal, baik karena tugas yang banyak sebagai mahasiswa ataupun kerja sampingan yang mereka miliki. Selain itu, ada yang mengatakan bahwa kegiatan yang kurang menarik dalam dialog mengurangi semangat mereka. Anak muda cenderung bosan karena kegiatannya kurang menarik dan diulang-ulang. Di lain sisi, beberapa anak muda kurang terlibat dalam komunikasi di antara Hal demikian terjadi karena dalam diri anak muda masih ditemukan egoisme . einginan untuk menang sendir. , kurang terbuka, takut terhadap yang lain, hubungan yang kurang baik, dan salah paham. Dalam keadaan ini, partisipasi anak muda dalam berdialog melemah dan membuat niat untuk mewujudkan dialog terputus serta terhenti. Dalam dinamika perjalanan dialog yang telah dilalui oleh YIPC, mereka tidak berhenti meskipun menemukan tantangan dan kendala di atas. Dengan tindakan kreatif, mereka menciptakan cara baru untuk membuat minat dan partisipasi anak muda dalam kerjasama antar agama tetap ada dan salah satu yang dikembangkan YIPC adalah menciptakan YIP Center. Dalam YIP Center, mereka menambahkan bentuk-bentuk dialog baru serta mengundang partisipasi dari agama Buddha. Hindu. Konghucu, serta berbagai aliran kepercayaan lokal. Bentuk dialog yang dilaksanakan ialah dialog ajaran iman. Dalam dialog ajaran iman, masing-masing agama dan kepercayaan lokal dapat bertukar pandangan mengenai nilai-nilai yang menjadi perjuangan bersama. Dalam YIP Center, para peserta yang terlibat adalah anak muda yang didampingi oleh beberapa orang dewasa sebagai fasilitator ataupun penasehat. Semua program ini dimaksudkan untuk membuat proses dialog antar agama tetap berlangsung dan mengundang semua pihak untuk terlibat, baik dari kalangan anak muda (A. Yahya, personal communication. Oktober 2. Simpulan YIPC adalah komunitas keagamaan yang berjuang untuk mempromosikan dialog bagi kalangan muda dengan nilai-nilai perdamaian. Mereka mengandalkan anak muda sebagai aktor dalam tindakan dialog antar umat beragama. Mereka melaksanakan dialog dalam bentuk scriptural reasoning dan dialog sosial. Scriptural Reasoning adalah dialog yang berfokus pada kajian teks sebagai sumber utama untuk melaksanakan diskusi dan interaksi dalam YIPC. Bentuk dialog ini mengundang semua pihak untuk terhindar dari ruang liberal yang seringkali menciptakan https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Andreas Sitepu, dkk | Dialog Generasi Muda Hal yang diperoleh dari Scriptural Reasoning adalah pertukaran informasi terkait cerita dari teks Kitab Suci yang memiliki kesamaan tokoh, tempat dan lain Di sisi lain. YIPC juga melaksanakan dialog sosial sebagai bentuk tindakan dan aksi konkret mereka untuk mengatasi permasalahan dunia. Dalam dialog sosial, agama-agama yang tergabung ke dalam YIPC saling terkoneksi untuk menyelesaikan permasalahan dengan asa bersama, di mana sebuah permasalahan yang terjadi di dunia adalah tanggung jawab Paul Knitter, dalam gagasannya mengenai pelaksanaan dialog antar agama, menekankan pentingnya sebuah langkah yang memungkinkan proses dialog berjalan dengan Knitter menawarkan pendekatan model mutualisme yang bertujuan untuk mengundang semua agama berdialog dengan cara yang adil, jujur dan setara. Dua bentuk utama dalam pemikiran Knitter adalah correlational dan tanggung jawab global. Bentuk Correlational menghubungkan setiap agama terhadap kesadaran relasinya. Sedangkan, bentuk tanggung jawab global adalah bahan untuk membangun kerjasama antaragama dalam konteks keprihatinan permasalahan sosial. Melalui permasalahan sosial, banyak agama akan bersatu dan membentuk aksi bersama. Dalam gerakan ini, agama-agama ini akan saling Model mutualisme dapat digunakan sebagai pisau analisis untuk membaca dialog YIPC. Dalam dialog YIPC, proses mutualisme ditemukan melalui pola hubungan dua arah yang saling menguntungkan antara Muslim dan Kristen. YIPC juga melaksanakan bentuk correlational dalam dialog Scriptural Reasoning mereka. Dalam dialog SR. YIPC membentuk relasi antara Islam dan Kristen melalui pendasaran teks Kitab Suci. Selain itu. YIPC juga melaksanakan dialog sosial sebagai bentuk tanggung jawab global mereka yang berfokus pada tujuan kesejahteraan manusia . Melalui pembacaan analisis ini, tulisan ini menunjukan bahwa ada dua keadaan anak muda dalam berdialog, yaitu keadaan kuat dan lemah. Anak muda dalam keadaan memiliki kemampuan dan kesempatan lebih dalam berdialog sehingga memungkinkan mereka untuk ikut terlibat secara bebas dan aktif. Sebaliknya, anak muda dalam keadaan lemah memiliki kekurangan baik dalam waktu dan pembentukan karakter mereka yang berujung pada penolakan pada gerakan dialog bahkan menutup diri untuk melaksanakannya. Bertolak dari hal ini, gerakan pembentukan karakter dan minat anak muda dalam gerakan dialog sangat penting untuk menjamin relasi antar agama berjalan terus menerus. Proses pembentukan karakter ini menjadi proses pendidikan, di mana setiap anak muda mampu untuk membentuk diri mereka dan sadar akan fenomena keberagaman agama. Dengan pembentukan karakter dialog, anak muda dapat menanggapi isu-isu keagamaan dengan tepat dan bijaksana. Melalui proses ini, setiap anak muda dapat membentuk relasi antar agama dan kebebasan beragama serta meminimalisir tindakan kekerasan atas nama https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Andreas Sitepu, dkk | Dialog Generasi Muda Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi saya masukan dalam proses penulisan artikel ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada team jurnal SAPA yang telah memberikan kesempatan untuk saya menulis karya saya di sini. Referensi