PERAN AGAMA TERHADAP PROBLEMATIKA REMAJA (Dalam Konteks Pemikiran Ibn Rushd 1126-1198 M) Imroatus Sholikha Azzuhriyyah1, Achmad Khudori Soleh2 Program Magister Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 2 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 210401210014@student.uin-malang.ac.id khudorisoleh@pps.uin-malang.ac.id 1 ABSTRAK Ibnu Rusyd mengatakan bahwa tujuan utama syariat Islam yang sebenarnya adalah pengetahuan yang benar dan amal perbuatan yang benar (al-ilmulhaq wal-amalul-haq). Karena ajaran yang terkandung dalam agama islam mempunyai hukum dan aturan yang bersifat mengikat. Tujuan penulisan artikel ini yaitu untuk menganalisis peran agama terhadap problematika remaja ditinjau dari pemikiran Ibn Rushd. Metode yang gunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan library research. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa (1) Problem remaja meliputi Penyesuaian diri:depresi, bullying, kecanduan gadget. Keberagamaan : musyrik, meninggalkan syariat begitu saja, degradasi moralitas. Kesehatan : narkoba, minuman keras, merokok. Ekonomi : mencuri, menculik, begal dan lain-lain. (2) Agama (dalam konteks pemikiran Ibn Rushd) memiliki 3 sumber utama yaitu wahyu, akal, dan wahyu + akal yang sama-sama memiliki fungsi tersendiri dalam menentukan perilaku remaja. (3) Pengetahuan tentang agama sangat dibutuhkan dalam mengarahkan remaja agar remaja dapat menentukan sikap, tingkah laku, dan bergaul dengan sesamanya, serta Agama juga mempunyai fungsi sebagai pengontrol sosial yang berarti individu meyakini bahwa Imroatus Sholikha Azzuhriyyah, Achmad Khudori Soleh ajaran agama sebagai norma dalam kehidupan bermasyarakat dan dapat mencegah individu melakukan hal yang dilarang oleh agama atau melanggar aturan yang berlaku. Keywords: Agama, Problematika remaja, Remaja ABSTRACT Ibn Rushd said that the real main goal of Islamic law is correct knowledge and right actions (al-ilmulhaq wal-amalul-haq). Because the teachings contained in the Islamic religion have laws and rules that are binding. The purpose of writing this article is to analyze the role of religion in adolescent problems in terms of Ibn Rushd's thoughts. The method used in this study is a qualitative research method with a library research approach. The results of this study state that (1) Adolescent problems include adjustment: depression, bullying, gadget addiction. Diversity: polytheists, leaving the Shari'a just like that, degradation of morality. Health: drugs, alcohol, smoking. Economy: stealing, kidnapping, robbery and others. (2) Religion (in the context of Ibn Rushd's thought) has 3 main sources, namely revelation, reason, and revelation + reason which both have their own function in determining adolescent behavior. (3) Knowledge of religion is needed in directing youth so that youth can determine attitudes, behavior, and get along with others, and religion also has a function as a social controller, meaning that individuals believe that religious teachings are the norm in social life and can prevent individuals from committing things that are prohibited by religion or violate applicable regulations. Keywords: Religion, Adolescent Problems, Adolescents PENDAHULUAN Mempelajari ilmu agama merupakan hal yang sangat penting dalam masalah remaja. Ibnu Rusyd mengatakan bahwa tujuan utama hukum Islam adalah ilmu yang benar dan amal saleh (al-ilmul-haq wal-amalul-haq)1. Al-ilmul-haq adalah ajaran ilmu yang hakiki, artinya ilmu yang mengenalkan manusia dengan sifat Allah SWT dan mengenalkan pahala, dosa, surga dan neraka. Padahal Amalul-haq merupakan pelajaran dalam mengamalkan ilmu yang benar. Seperti fikih praktis, syukur, ikhlas dll. Ibnu Rusyd juga 1 198 Abdul Wahab Abd. Muhaimin, “Pengembangan Nilai-Nilai Syariah Dalam Merespon Dinamika Masyarakat Dan Kemajuan Iptek,” SALAM: Jurnal Sosial Dan Budaya Syar-I 7, no. 1 (2020): 1–20, https://doi.org/10.15408/sjsbs.v7i1.14539. An-Nuha Vol. 10, No. 2 Desember 2023 PERAN AGAMA TERHADAP PROBLEMATIKA REMAJA menjelaskan bahwa agama yang sumbernya adalah Al-Qur'an mendorong manusia untuk mempelajari sesuatu ke arah yang benar, hal ini memberikan penjelasan bahwa ada hukum dan aturan yang mengikat dalam ajaran agama Islam2. Al-Quran adalah kitab suci yang berisi tentang Sang Pencipta dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, dalam penelitiannya, Susanti mengklaim bahwa semua agama berusaha untuk menyelamatkan umatnya dari dunia ini ke akhirat guna mencapai tujuan inti agama sebagai pedoman hidup manusia di dunia. Seseorang diselamatkan dengan mengikuti norma-norma yang ditentukan oleh agama, karena agama adalah aturan yang diwariskan oleh umat manusia3. Disamping itu agama adalah usaha sadar dan terencana untuk mempersiapkan anak didik agar mengenal, memahami, menghayati, beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia, serta etika, akhlak dan perilaku manusia sejak dalam kandungan hingga membahas tentang hari kiamat4. Pembahasan tentang moralitas dan etika tidak pernah lepas dari konsep remaja. Tidak semua permasalahan yang ditimbulkan oleh remaja dapat dipisahkan dari karakteristik remaja5. Mengapa remaja selalu berhubungan dengan moral dan etika? Karena dunia remaja penuh warna dan unik6. Pubertas adalah masa yang sangat rumit bagi remaja, mereka berada dalam situasi yang sangat rumit, karena remaja masih memiliki pikiran yang labil, ketika mereka diganggu oleh hal-hal kecil, emosi mereka tinggi, mereka dapat melakukan hal-hal yang merugikan7. Menurut Santrock et Ahmad Wakka, “Petunjuk Al-Qur’an Tentang Belajar Dan Pembelajaran (Pembahasan Materi, Metode, Media Dan Teknologi Pembelajaran),” Education and Learning Journal 1, no. 1 (2020): 82–92. 3 Fitria Rika Susanti and Surma Hayani, “Pemikiran Filosofis Ibnu Rusyd Tentang Eskatologi (Kajian Tentang Kehidupan Di Akhirat),” Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuludin 20, no. 1 (2021): 15–29, https://doi.org/10.18592/jiiu.v. 4 Wakka, “Petunjuk Al-Qur’an Tentang Belajar Dan Pembelajaran (Pembahasan Materi, Metode, Media Dan Teknologi Pembelajaran).” 5 RATNAWATI RATNAWATI, “Pendidikan Agama Islam Sebagai Penanggulangan Problematika Remaja Selama Pandemi Covid-19,” TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan 1, no. 2 (2021): 19–31, https://doi.org/10.51878/teaching.v1i2.223. 6 Riryn Fatmawaty, “Memahami Psikologi Remaja,” Jurnal Reforma 2, no. 1 (2017): 55–65, https://doi.org/10.30736/rfma.v6i2.33. 7 Silvia Rahmita and Iswantir Iswantir, “Dampak Penggunaan Smartphone Terhadap Akhlak Remaja Pada Masa New Normal Di Jorong Jalikur Patanangan Nagari Koto Tangah Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam,” Innovative: Journal Of Social Science 2 Vol. 10, No. 2 Desember 2023 An-Nuha 199 Imroatus Sholikha Azzuhriyyah, Achmad Khudori Soleh al., pubertas adalah fase transisi/peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, kelompok usia antara 12 dan 22 tahun8, di mana terjadi proses pematangan fisik dan mental. Masa remaja merupakan perpanjangan masa kanak-kanak sebelum masa dewasa, biasanya pada masa ini terjadi percepatan pertumbuhan fisik dan psikis, serta bentuk tubuh, sikap, pola pikir dan perilaku. Mereka tidak lagi dianggap anak-anak, juga tidak bisa disebut orang dewasa dengan pikiran dewasa9. Sebuah kajian agama yang disusun oleh Sahila mengemukakan gagasan bahwa menurut Ibnu Rusyd, agama dan filsafat saling berkaitan menurut pendapatnya. Ibnu Rusyd juga menyatakan bahwa tujuan utama hukum agama Islam adalah ilmu yang benar dan perbuatan yang benar. Konsisten dengan pembahasan Ratnawati tentang hubungan antara agama dan masalah pemuda, disimpulkan bahwa masalah pemuda dapat diatasi dengan agama yang mendalam. Studi lain yang ditulis oleh Ratnawat juga menyoroti masalah yang dihadapi remaja hanya di masa Covid. Penulis menganggap penting perkembangan moral dan spiritual kaum muda. Selain karena agama dapat mengatasi permasalahan remaja, menurut penelitian Aldiawan metode dakwah juga dapat mengatasi permasalahan remaja, dimana metode dakwah diawali dengan penyelesaian permasalahan remaja dari materi. yang harus disertakan. sesuai dengan kebutuhan remaja, yang mudah dipahami dan harus menjadi problem solver bagi remaja10. Tujuan kajian tentang peran agama dalam permasalahan remaja saat ini adalah untuk mengkaji gagasan Ibnu Rashed bahwa agama sangat penting dalam menyembuhkan permasalahan remaja saat ini. Terlepas dari kenyataan bahwa agama juga memainkan peran yang sangat besar dalam masalah kepemudaan dalam penelitian ini. Agama dapat memberikan solusi kepada kaum muda atas masalah moral, spiritual, dan psikologis mereka. Hal ini sesuai dengan penelitian Hamid yang menyatakan bahwa solusi terbaik untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa adalah dengan mengamalkan nilaiResearch 2, no. 1 (2022): 437–46, https://doi.org/10.31004/innovative.v2i1.3723. Roberto Maldonado Abarca, “KENAKALAN REMAJA DAN PENANGANANNYA Fahrul,” Nuevos Sistemas de Comunicación e Información 5, no. 1 (2021): 2013–15. 9 Amita Diananda, “Psikologi Remaja Dan Permasalahannya,” Journal ISTIGHNA 1, no. 1 (2019): 116–33, https://doi.org/10.33853/istighna.v1i1.20. 10 Aldiawan Aldiawan, “Metode Dakwah Dalam Mengatasi Problematika Remaja,” AlMishbah: Jurnal Ilmu Dakwah Dan Komunikasi 16, no. 1 (2020): 41, https://doi. org/10.24239/al-mishbah.vol16.iss1.177. 8 200 An-Nuha Vol. 10, No. 2 Desember 2023 PERAN AGAMA TERHADAP PROBLEMATIKA REMAJA nilai agama dalam kehidupan sehari-hari yang ditandai dengan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, untuk mengembangkan semaksimal mungkin potensi yang terkandung dalam dirinya untuk memperoleh ridho Allah SWT serta dengan mengembangkan seluruh aspek kecerdasan, baik kesehatan spiritual, emosi maupun kecerdasan intelektual11. Seorang remaja yang berakal menghindari masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan karena dia menyerahkan dirinya kepada Sang Pencipta dan memasukkan agama ke dalam segala hal. Pada masa remaja, hal ini mengarah pada sikap optimis dan emosi positif seperti kebahagiaan dan keamanan. METODE Objek penelitian ini adalah peran agama terhadap problematika remaja. Sumber data yang digunakan dalam penulisan artikel ini yaitu dari kepustakaan, buku, serta jurnal-jurnal terpercaya. Informasi pustakanya dapat diperoleh dari berbagai tempat baik di internet, perpustakaan, koran atau majalah yang kemudian diolah menjadi data penelitian12. Penulisan artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan library research (penelitian literatur). Penelitian literatur dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi melalui pustaka, kemudian mencatat dan mengolah data yang sudah didapatkan. Penggunaan library research dalam penelitian ini karena sumber data yang diteliti merupakan konten analisis yang sifatnya pustaka dan bukan lapangan, sehingga informasi yang didapat memang dari buku-buku ataupun jurnal terkait. Makna library research adalah riset yang bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi melalui bantuan bermacam-macam material yang terdapat di ruangan perpustakaan. Seperti buku-buku, majalah, dokumen, catatan dan kisahkisah sejarah dan lain-lainnya. Pada hakekatnya data yang diperoleh melalui penelitian perpustakaan bisa dijadikan landasan dasar dan alat utama bagi pelaksanaan penelitian lapangan. Mardalis13 juga mengemukakan bahwa Abdul Hamid, “Editorial Healthy Tadulako Journal (Abdul Hamid : 1-14) 1,” Jurnal Kesehatan Tadulako 3, no. 1 (2017): 1–14, file:///C:/Users/lenovo/Downloads/34-Article Text-129-1-10-20201115 (1).pdf. 12 Milya Sari, “NATURAL SCIENCE : Jurnal Penelitian Bidang IPA Dan Pendidikan IPA , ISSN : 2715-470X ( Online ), 2477 – 6181 ( Cetak ) Penelitian Kepustakaan ( Library Research ) Dalam Penelitian Pendidikan IPA,” Natural Science [Diakses 11 Juli 2022] 6, no. 1 (2020): 41–53. 13 https://penelitianilmiah.com/penelitian-kepustakaan/ Diakses pada 29/09/2022 pukul 11 Vol. 10, No. 2 Desember 2023 An-Nuha 201 Imroatus Sholikha Azzuhriyyah, Achmad Khudori Soleh penelitian library research sebagai penelitian yang membahas data-data sekunder. Data yang didapatkan kemudian dianalisis dengan cara konten analisis atau mencocokkan satu sama lain antara beberapa data yang telah didapatkan dari studi pustaka14. Proses seleksi dilakukan dengan cara membandingkan pustaka satu dengan pustaka yang lain, kemudian menarik kesimpulan hingga ada keterkaitan antara agama dengan problematika remaja. KAJIAN TEORI/PUSTAKA Kajian teori berisi teori-teori yang dipilih atau diambil untuk mendasari adanya permasalahan atau yang disesuaikan dengan permasalahan yang ada dan selanjutnya menjadi salah satu bahan untuk menganalisa data dalam pembahaasan. Berdasarkan beberapa kajian literatur yang telah diulas, penulis berhipotesis bahwa agama memang memberikan kontribusi dalam solusi/ upaya mengatasi permasalahan remaja. Oleh karena itu, pertobatan adalah pertumbuhan atau perkembangan rohani yang cukup penting untuk memberikan jalan keluar dari masalah tersebut15. Keberadaan agama juga erat kaitannya dengan upaya menciptakan kehidupan yang bahagia, dan kehidupan yang bahagia membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi kaum muda. Bagi individu yang penakut, agama mendinginkan pikiran dan memberikan petunjuk bagaimana mengatasinya. Banyak juga penelitian literatur yang membahas tentang bukti keberhasilan agama dan kontribusinya terhadap permasalahan remaja dengan memberikan ketenangan pikiran16. Selanjutnya berbicara tentang permasalahan remaja, Fozan dalam penelitiannya menjelaskan bahwa remaja perlu membantu generasi muda, membimbing dan membina mereka untuk hidup lebih baik bagi diri 21.45. Subhan and Ulfah Novianti, “Analisis Metode Pembelajaran Yang Dapat Digunakan Pada Pembelajaran PAI,” Journal Evaluation in Education (JEE) 1, no. 3 (2021): 109–14, https:// doi.org/10.37251/jee.v1i3.133. 15 Mulyadi, “Konversi Agama,” Jurnal Tarbiyah Al-Awlad, UIN Imam Bonjol Padang IX, no. 1 (2019): 29–36, https://e-journal.umc.ac.id/index.php/SFK/article/ view/1511/1000#:~:text=Konversi agama mengandung dua arti.&text=mengandung dua arti.-,Pertama%2C pindah%2Fmasuk kedalam agama yang lain%3B misalnya%3B,sikap keagamaan dalam agamanya sendiri. 16 Ratnawati, “Pendidikan Agama Islam Sebagai Penanggulangan Problematika Remaja Selama Pandemi Covid-19.” 14 202 An-Nuha Vol. 10, No. 2 Desember 2023 PERAN AGAMA TERHADAP PROBLEMATIKA REMAJA sendiri dan lingkungannya Suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami penyakit kejiwaan, memungkinkannya untuk mengatasi masalah atau masalahnya dengan membangkitkan kesadaran atau tawakkal (berserah diri kepada allah)17. Salah satu faktor yang membantu remaja mengatasi masalah mereka adalah belajar dan mengamalkan nilai-nilai agama. Jika remaja memiliki jiwa keberagamaan yang baik maka mereka dapat dengan mudah menghadapi dan menghindari permasalahan yang dihadapi remaja. HASIL PENELITIAN 1. Problem remaja dalam islam Dalam Islam, remaja disebut As-Syabab atau Al-Fata. Secara definisi, seorang pemuda adalah seorang mukallaf (orang yang wajib mematuhi syariat agama) yang sudah aqil baligh. Indikasinya ditandai dengan menstruasi pada wanita dan mimpi indah (erotic dream) pada pria. Masa remaja juga disebut sebagai masa Sturm and Drang, suatu kondisi yang berhubungan dengan perilaku seksual dan kriminal dan sering disebut sebagai kenakalan remaja (juvenile delincuency). Remaja adalah orang yang mengalami proses peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada tahap ini, remaja sering mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan dan keputusan. Fauzan menjelaskan, masa remaja merupakan tahapan penting dalam perkembangan karena diawali dengan pematangan organ tubuh hingga pada titik kemampuan reproduksi18. Selain itu, fase remaja merupakan fase di mana para remaja ditantang secara penuh untuk melatih keterampilannya guna memecahkan segala permasalahan nyata yang muncul dalam kehidupannya serta mengembangkan karakternya. Sejalan dengan itu, Sukardi mengatakan pubertas merupakan peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai dengan kematangan seksual, gejolak emosi dan tekanan psikologis. Menurut Stanley Hall di Irfan, usia remaja berkisar antara 12 hingga 23 tahun. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh para ahli dapat diketahui bahwa awal dari tahap remaja hampir sama tetapi muncul banyak variasi yang berbeda pada akhir tahap remaja. Fluktuasi ini disebabkan oleh Gia Fauzan, Lilis Satriah, and Luk-luk Atin Marfuah, “Problematika Remaja Dalam Mengikuti Bimbingan Keagamaan,” Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, Dan Psikoterapi Islam 7, no. 4 (2019): 397–416, https://doi.org/10.15575/irsyad.v7i4.1618. 18 Fauzan, Satriah, and Marfuah. 17 Vol. 10, No. 2 Desember 2023 An-Nuha 203 Imroatus Sholikha Azzuhriyyah, Achmad Khudori Soleh berbagai perubahan internal dan eksternal serta tekanan yang terjadi selama masa pubertas. Selain itu, perkembangan otak dibahas pada tahap ini. Jadi, remaja dalam hal ini mudah menyimpang dari aturan dan norma. Situasi ini dapat digambarkan sebagai masalah pada masa remaja. Masalah kepemudaan adalah masalah kepemudaan yang berkaitan dengan kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal dan berkembangnya. Pada tahap ini, remaja sangat membutuhkan pengenalan dan pemahaman tentang permasalahan remaja. Hal ini diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan yang akan datang. Pada umumnya permasalahan pada remaja berkaitan dengan keterbatasan fisik (kecacatan), keterbatasan emosional (kurangnya dukungan/kasih sayang), keterbatasan sosial (karena keterbatasan fisik dan emosional). Dari ketiga sumber tersebut yang pada akhirnya menimbulkan masalah bagi remaja adalah masalah penyesuaian diri seperti penampilan, depresi, bullying, asmara, kecanduan gawai. Masalah agama seperti kemusyrikan, menjaga syariah apa adanya, menurunkan moralitas. Masalah kesehatan seperti narkoba, alkohol, merokok. Yang terakhir masalah ekonomi seperti pencurian, penculikan, pencurian dan lain-lain. Gambar 1 Penyebab dan bentuk kenakalan remaja 2. Agama (Terkait dengan Pemikiran Ibnu Rusyd) Menurut Ibnu Rusyd, agama adalah masalah yang dapat diselesaikan dengan kekuatan akal. Ketika Anda belajar agama, Anda harus belajar memikirkannya secara logis19. Ibnu Rusyd berfilsafat dengan tujuan mendamaikan agama melalui akal dan wahyu untuk mempelajari agama 19 204 Zulfi Imran, “Akal Dan Wahyu Menurut Ibnu Ruysdi,” Almufida I, no. 1 (2016): 200– 214, https://jurnal.dharmawangsa.ac.id/index.php/almufida/article/view/112/107. An-Nuha Vol. 10, No. 2 Desember 2023 PERAN AGAMA TERHADAP PROBLEMATIKA REMAJA melalui akal dan menganggapnya sebagai bukti bahwa keberadaan Sang Pencipta itu benar. Agama juga meminta kita untuk mempelajari sesuatu dengan menggunakan akal, sesuai dengan ayat Al-Qur'an dalam surat Al-Hasyr ayat 2 yaitu “Berpikirlah maka hai orang-orang yang berakal”. Ibnu Rusyd juga mengatakan bahwa teks Al-Qur'an dan Hadits memang mengajarkan kita untuk berpikir rasional tentang agama, sehingga kita dapat menafsirkan agama dengan dua pendekatan, yaitu akal dan analogi (qiyas). Untuk memahami hukum agama ada tiga sumber yang dapat dijadikan pedoman, yaitu rasional (pemikiran), wahyu dan wahyu rasional dan terpadu (filsafat). Ibnu Rusyd adalah seorang tokoh filosofis yang mendasarkan kebenaran pada rasionalitas dan menempatkan akal di atas pokok bahasan yang dibahas. Menurutnya, saat memikirkan bentuk, Anda tahu ada Pencipta. Ketika pendapat akal bertentangan dengan wahyu, diperlukan penafsiran lain untuk menyesuaikannya dengan pendapat akal. Karena objek nalar al-Qur'an bukan sekedar objek empiris yang manifestasinya ada tanpa memikirkan tujuan realisasinya. Ambil contoh, Hari Kompensasi Beyond, yang secara logis, ditelan mentah-mentah, menjadi sesuatu yang abstrak bahkan ditolak. Namun, jika digabungkan dengan beberapa wahyu dari Tuhan, maka ternyata akhirat adalah hari pembalasan, ketika hal yang sama terjadi di akhirat seperti di dunia, tetapi tubuh tidak akan bangkit dalam kebangkitannya. karena itu akan dihancurkan di kuburan20. Dalam pengertian religio-rasional, hanya sedikit orang beragama yang menentang iman dan rasionalitas, karena iman dan rasionalitas harus saling eksklusif. Nalar membuat kita percaya karena kita cenderung memikirkan terlebih dahulu tentang apa yang harus dan tidak boleh kita percayai. Orang tidak mudah percaya dengan apa yang mereka dengar, kecuali mereka terlebih dahulu menggunakan akalnya untuk memahaminya, agar hati kita aman dan percaya kepada mereka. 20 Susanti and Hayani, “Pemikiran Filosofis Ibnu Rusyd Tentang Eskatologi (Kajian Tentang Kehidupan Di Akhirat).” Vol. 10, No. 2 Desember 2023 An-Nuha 205 Imroatus Sholikha Azzuhriyyah, Achmad Khudori Soleh Gambar 2 Sumber agama menurut Ibn Rusyd 3. Peran Agama dalam Masalah Remaja Remaja belajar agama berdasarkan pemahaman intelektual dan tidak mau menerima begitu saja. Tentu saja, Allah memberi orang rasa petunjuk dalam segala hal21. Islam adalah agama universal yang mencakup semua aspek kehidupan dan memiliki sistem nilai yang mengatur baik dan buruk (moralitas) tindakan sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Allah22. Pengetahuan agama diperlukan dalam memimpin generasi muda agar generasi muda dapat menentukan sikap dan perilaku serta bergaul satu sama lain. Karena remaja curiga terhadap agama, tujuannya bukan karena ingin menjadi agnostik atau ateis, tetapi mereka berusaha menerima agama sebagai sesuatu yang bermakna karena ingin mandiri dan bebas menentukan pilihannya sendiri. Allah menciptakan manusia dan memberinya petunjuk dalam bentuk kitab-kitab surgawi yang diturunkan melalui para nabi dan rasul untuk digunakan sebagai pedoman dalam hidupnya. Selain peran orang tua dan lembaga pendidikan yang mampu membimbing dan membimbing generasi muda yang sedang berjuang, agama juga memiliki pengaruh penting terhadap permasalahan yang dihadapi dan diatasi oleh generasi muda pada tahapan tersebut. Agama juga berperan sebagai bentuk kontrol sosial, artinya individu percaya bahwa ajaran agama adalah norma dalam masyarakat dan dapat 21 22 206 Imran, “Akal Dan Wahyu Menurut Ibnu Ruysdi.” Г.М. Андреева, “Социальная Психология. –М.: Аспект-ПрессNo Title,” 2007, 363. An-Nuha Vol. 10, No. 2 Desember 2023 PERAN AGAMA TERHADAP PROBLEMATIKA REMAJA mencegah orang untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama atau melanggar aturan yang telah ditetapkan23. Agama mampu berperan sebagai pedoman, petunjuk dan guru. karena masa puber adalah masa untuk mencari arah dan tuntunan dalam hidup. Terdapat 5 nilai pedagogik yang dapat menjadi landasan dalam menghadapi permasalahan remaja yaitu pendidikan keimanan, pendidikan agama, pendidikan moral, pendidikan ekonomi dan pendidikan kesehatan24. Ditinjau dari peran orang tua terhadap permasalahan remaja, maka remaja membutuhkan peran orang tua karena peran lembaga pendidikan dan peran agama dapat berjalan ketika peran orang tua terpenuhi. Dalam artian orang tua memberikan bimbingan pendidikan dan agama kepada para pemuda terlebih dahulu. Ingatlah bahwa orang tua adalah sekolah pertama anak. Selain itu, pendidikan formal juga menjadi pilihan yang banyak digunakan untuk memecahkan permasalahan remaja. Karena remaja yang menempuh pendidikan formal cenderung melalui proses pendewasaan yang lebih fundamental dan mendasar, maka dapat dikatakan bahwa masa remaja merupakan masa transisi dimana seseorang berpindah dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Skema 3 Peran penting agama dalam masalah remaja Adhek Kaysa Kurnia Nafisa Nafisa and Siti Ina Savira, “HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS TERHADAP KENAKALAN REMAJA Adhek Kaysa Kurnia Nafisa Siti Ina Savira Abstrak,” Character: Jurnal Penelitian Psikologi Badan 8, no. 7 (2021): 34–44. 24 Subur, “Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Perkembangan Jiwa Remaja,” Jurnal TARBIYATUNA, 7(02), 167-185. 7, no. 2 (2016): 170. 23 Vol. 10, No. 2 Desember 2023 An-Nuha 207 Imroatus Sholikha Azzuhriyyah, Achmad Khudori Soleh PEMBAHASAN/ANALISIS Menurut Ibn Rusyd, setiap agama yang bersumber dari wahyu memiliki fungsi sebagai pelengkap dan penyempurna pengetahuan rasional25. Saat pengetahuan rasional remaja tentang agama mendalam dan sempurna, maka remaja tersebut akan mengaplikasikan setiap aturan atau gagasan yang terkandung dalam agama tersebut. Ibn Rusyd juga mengatakan bahwa agama islam tidak memiliki kandungan yang bersifat rahasia. Dalam artian ajarannya dapat dipahami dengan akal karena akal mempunyai kesanggupan dan kemampuan untuk mengetahui segala yang ada. Akan tetapi ada ajaran agama islam tentang hal ghoib, seperti surga, neraka, malaikat, dan syetan yang tidak bisa dipahami oleh akal, maka hal tersebut merupakan simbol bagi hakikat akali. Ibn Rusyd sepakat dengan pemikiran al-ghozali yang mengatakan bahwa wajib kembali kepada petunjuk agama dalam hal yang tidak mampu dipahami oleh akal. Agama merupakan hal yang berkaitan dengan sang pencipta dan untuk memahaminya membutuhkan akal. Setelah memahaminya dengan akal maka akan diketahui fungsi yang sebenarnya dari agama yaitu mencari kebenaran. Selain itu, agama islam juga memusatkan perhatian pada pembentukan akhlaq dan budi pekerti yang baik. Tujuannya untuk memberikan dampak positif terhadap pribadi remaja26, agar remaja memiliki persiapan dalam menghadapi problematika yang dialaminya. Agama memiliki ajaran dan petunjuk yang disampaikan oleh nabi untuk seluruh umat manusia agar manusia bisa hidup bahagia. Dalam artian tujuan agama yaitu mengajarkan tentang akhlaq luhur, melakukan kebaikan dan menjauhkan kemungkaran. Agama memiliki dua dimensi makna lahir dan batin, yang menurut Ibnu Rusyd dibedakan maknanya untuk menegakkan kesatuan makna karena, menurut lbnu Rusyd setiap agama yang bersumber dari wahyu berfungsi sebagai kelengkapan dan kesempurnaan bagi pengetahuan rasional. Ibn rusyd memaparkan dalam penelitian yang disusun oleh Muhaimin bahwasannya syariat islam memiliki tujuan utama yaitu, pengetahuan yang benar dan 25 26 208 Kasno, Sinkretisme Filsafat Dan Agama Menurut Ibnu Rusyd, 2021. RATNAWATI, “Pendidikan Agama Islam Sebagai Penanggulangan Problematika Remaja Selama Pandemi Covid-19.” An-Nuha Vol. 10, No. 2 Desember 2023 PERAN AGAMA TERHADAP PROBLEMATIKA REMAJA amal perbuatan yang benar27. Pengetahuan disini konteksnya yaitu pengetahuan terhadap rukun iman dan islam dimana kedua term tersebut menjadi dasar bagaimana cara kita menggapai tujuan daripada syariat islam. Logikanya, saat kita benar-benar paham akan rukun iman dan rukun islam maka sedikit banyak kita akan merealisasikannya dalam kehidupan yang nyata (kehidupan sehari-hari). Secara otomatis kita akan menghindari hal yang tidak tercantum dalam kedua term tersebut. Sedangkan amal perbuatan disini merujuk bagaimana kita berperilaku baik dan benar agar sesuai dengan syariat yang udah ditentukan dalam ajaran islam. Agama merupakan hal yang berkaitan dengan sang pencipta yang juga membutuhkan akal dalam memahaminya. Berasal dari 2 kata, yaitu a dan gama yang berarti, tidak pergi. Pendapat lain juga menyatakan bahwa kata agama memiliki arti pedoman yaitu al-qur’an28. Agama berasal dari sebuah keyakinan dan tata cara mengabdi pada tuhan dan biasa disebut dengan religi. Religi sendiri memiliki arti ilmu yang meneliti hubungan antar manusia dengan yang kudus dan hubungan tersebut direalisasikan dalam bentuk ibadah29. Ibn Rusyd menyatakan dalam penelitiannya mengintegrasi filsafat dan agama yaitu filsafat merupakan kegiatan yang mempelajari segala wujud dan merenungkannya sebagai bukti akan adanya pencipta, bahwa segala wujud merupakan ciptaan yang menunjukkan adanya pencipta30. Antara pengetahuan dan amal perbuatan yang benar memiliki kesinambungan yang signifikan untuk membentuk perilaku yang mampu menghindarkan dari segala konflik yang mungkin terjadi, karena permasalahan krisis moral pada remaja telah menjadi masalah yang cukup serius31. Ibn rusyd juga mengatakan Muhaimin, “Pengembangan Nilai-Nilai Syariah Dalam Merespon Dinamika Masyarakat Dan Kemajuan Iptek.” 28 Dhaoul Ngazizah and Kholid Mawardi, “Integrasi Filsafat Dan Agama Dalam Perspektif Ibnu Rusyd,” Jurnal Ilmiah Mandala Education 8, no. 1 (2022): 588–95, https://doi. org/10.36312/jime.v8i1.2746. 29 Didin Komarudin, “Pemikiran Murtadha Muthahhari Tentang Agama Morteza Motahhari’S Thought on Religion,” 2018, 220. 30 Umdatul Hasanah, “Filsafat Dan Agama Menurut Ibn Rusyd,” Al-Fath 02, no. 01 (2008): 01–10. 31 Murjani, Ujang Nurjaman, and Indonesia Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Nusantara, Bandung, “Moral Education Based On Religion, Philosophy, Psychology And Sociology,” Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan Kemasyarakatan 16, no. 1 (2022): 27 Vol. 10, No. 2 Desember 2023 An-Nuha 209 Imroatus Sholikha Azzuhriyyah, Achmad Khudori Soleh bahwa syariat islam tidak mengandung hal-hal yang bersifat rahasia, hampir semua yang dipelajari dan dipahami didalam agama islam dapat dipahami juga oleh akal manusia. Dalam artian ajaran islam mampu diterima oleh akal yang kebanyakan manusia akan menggunakan akalnya dalam bertindak. Syaikh Prof. KH. M. Taib thahir abd mu’in berpendapat bahwa definisi agama yang sering digunakan oleh para ulama’ pada umumnya yaitu, ”Sesuatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal memegang peraturan Tuhan itu atas pilihannya sendiri, untuk mencapai kebaikan dan kebahagiaan kelak di akherat”. Di era modern ini kualitas moral dan spiritual banyak mengalami penurunan. Fajar dalam penelitiannya juga mengungkapkan berbagai faktor yang mempengaruhi kualitas moral dan spiritual diantaranya adalah, perkembangan teknologi dan informasi. Karena remaja yang mendapatkan informasi baru melalui media teknologi tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bagi moral dan spiritualitasnya32. Dalam hal tersebut, agama merupakan faktor paling penting dalam memegang kendali serta menentukan kehidupan remaja. Agama memiliki peran yang strategis dalam rangka membangun karakter remaja yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Sejalan dengan tujuan dari pendidikan formal yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME. Perlu adanya bimbingan dan pendekatan secara psikologis agar problematika remaja mampu teratasi dengan baik. Tidak bisa dipungkiri, bahwa perilaku manusia adalah suatu fenomena yang kompleks. Konteks memang tidak bisa dilepaskan dalam memahami perilaku manusia. Namun demikian disiplin ilmu yang mempelajari perilaku manusia, seperti misalnya psikologi, dihadapkan pada tantangan untuk selalu bisa memprediksi perilaku secara konsisten dan reliabel dalam segala situasi yang ada33. Remaja sangat butuh pemahaman terhadap ketaatan ajaran 142–61. Ahmad Fajar et al., “Pembinaan Moral Dan Spiritual Remaja Di Kampung Margamukti Melalui Kajian Kitab Lubab Al-Hadits,” Sivitas 2, no. 1 (2022): 37–45. 33 Galang Lufityanto, “Social Neuroscience: Pendekatan Multi-Level Integratif Dalam Penelitian Psikologi Sosial,” Jurnal Psikologi Sosial 18, no. 2 (2020): 89–105, https://doi. org/10.7454/jps.2020.11. 32 210 An-Nuha Vol. 10, No. 2 Desember 2023 PERAN AGAMA TERHADAP PROBLEMATIKA REMAJA agama, agar remaja terhindar dari problematika yang akan muncul pada fase remaja. Banyak remaja yang menyelidiki agama sebagai suatu sumber rangsangan untuk membimbing kehidupan di masa remajanya. Pendidikan agama yang teratur harus menjadi program keluarga agar secara moral dan moril remaja mendapatkan dukungan penuh dalam menyelesaikan problematikanya. Agama lebih dikenal dengan nama din yang berarti patuh, serta religi yang berarti mengumpulkan. Sedangkan agama sendiri berasal bahasa sansekerta yang berarti tidak kocar-kacir. Secara istilah para ahli mendefinisikan agama dengan kata hubungan, dan menyepakati bahwa agama dibagi menjadi 2 yaitu, agama budaya (Hindu, budha, dan lain-lain) dan agama langit (islam, kristen, dan lain-lain). Beberapa upaya dari segi agama yang mampu memberikan solusi terhadap pemecahan problematika remaja. Salah satunya yaitu dengan akhlak islami, diantaranya dengan melakukan tindakan-tindakan, sebagai berikut: Tindakan preventif, yakni segala tindakan yang bertujuan mencegah timbulnya kenakalan-kenakalan. Tindakan represif, yakni tindakan untuk menindak dan menahan kenakalan remaja seringan mungkin atau atau menghalangi timbulnya kenakalan yang lebih hebat. Tindakan kuratif dan rehabilitas, yakni memperbaiki akibat perbuatan nakal, terutama individu yang telah melakukan perbuatan nakal. Fungsi agama terhadap pemecahan problematika remaja yaitu sebagai penyelamat, pembimbing dalam hidup, penolong dalam kesukaran, menenteramkan batin, pendidik, dan juga sebagai pengawas dalam setiap tindakan. Macam-macam problematika yang dihadapi oleh remaja yaitu, kenakalan remaja, premanisme, kecenderungan sikap intoleran, eklusivisme keagamaan, lemahnya kerukunan hidup beragama, dan kurang bersosialisasi. Vol. 10, No. 2 Desember 2023 An-Nuha 211 Imroatus Sholikha Azzuhriyyah, Achmad Khudori Soleh Gambar 4 Hasil pembahasan fungsi/peran agama PENUTUP Penutup berisi tentang kesimpulan dan rekomendasi (jika ada). Kesimpulan menggambarkan jawaban dari hipotesa dan/atau tujuan penelitian atau temuan yang diperoleh. Kesimpulan bukan berisi perulangan dari hasil dan pembahasan, tetapi lebih kepada ringkasan hasil temuan seperti yang diharapkan di tujuan atau hipotesis. Rekomendasi menyajikan hal-hal yang akan dilakukan terkait dengan gagasan selanjutnya dari penelitian tersebut. Agama memiliki peran penting terhadap penyelesaian problematika remaja, karena fungsi agama adalah penyelamat, pembimbing dalam hidup, penolong dalam kesukaran, menenteramkan batin, pendidik, dan juga sebagai pengawas dalam setiap tindakan sehingga remaja mampu lebih berhati-hati dalam bertindak. Selain itu, dengan agama remaja mampu mencari soslusi terbaik dalam penyelesaian problemnya tentu tanpa menyimpang dari syariat yang ditentukan oleh allah SWT. Selain aspek agama ada aspek keluarga yang menjadi salah satu alternative dalam menanggulangi problematika remaja. Aspek keluarga sangat penting untuk dikaji secara mendalam karena keluarga adalah inti dari kepribadian seorang individu. Keluarga juga menjadi penentu dalam masa depan serta taqdir yang akan dijalani oelh setiap individu. Sehingga peran keluarga sangat penting untuk dikaji agar mampu menyempurnakan peran-peran lain yang turut serta menjadi faktor pendukung dalam penyelesaian problematika remaja. 212 An-Nuha Vol. 10, No. 2 Desember 2023 PERAN AGAMA TERHADAP PROBLEMATIKA REMAJA DAFTAR PUSTAKA Abarca, Roberto Maldonado. “KENAKALAN REMAJA DAN PENANGANANNYA Fahrul.” Nuevos Sistemas de Comunicación e Información 5, no. 1 (2021): 2013–15. Aldiawan, Aldiawan. “Metode Dakwah Dalam Mengatasi Problematika Remaja.” Al-Mishbah: Jurnal Ilmu Dakwah Dan Komunikasi 16, no. 1 (2020): 41. https://doi.org/10.24239/al-mishbah.vol16.iss1.177. Diananda, Amita. “Psikologi Remaja Dan Permasalahannya.” Journal ISTIGHNA 1, no. 1 (2019): 116–33. https://doi.org/10.33853/ istighna.v1i1.20. Fajar, Ahmad, Taufik Luthfi, Pendidikan Bahasa Arab, and Stai DR KHEZ Muttaqien. “Pembinaan Moral Dan Spiritual Remaja Di Kampung Margamukti Melalui Kajian Kitab Lubab Al-Hadits.” Sivitas 2, no. 1 (2022): 37–45. Fatmawaty, Riryn. “Memahami Psikologi Remaja.” Jurnal Reforma 2, no. 1 (2017): 55–65. https://doi.org/10.30736/rfma.v6i2.33. Fauzan, Gia, Lilis Satriah, and Luk-luk Atin Marfuah. “Problematika Remaja Dalam Mengikuti Bimbingan Keagamaan.” Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, Dan Psikoterapi Islam 7, no. 4 (2019): 397–416. https://doi.org/10.15575/irsyad.v7i4.1618. Hamid, Abdul. “Editorial Healthy Tadulako Journal (Abdul Hamid : 1-14) 1.” Jurnal Kesehatan Tadulako 3, no. 1 (2017): 1–14. file:///C:/ Users/lenovo/Downloads/34-Article Text-129-1-10-20201115 (1). pdf. Hasanah, Umdatul. “Filsafat Dan Agama Menurut Ibn Rusyd.” Al-Fath 02, no. 01 (2008): 01–10. Imran, Zulfi. “Akal Dan Wahyu Menurut Ibnu Ruysdi.” Almufida I, no. 1 (2016): 200–214. https://jurnal.dharmawangsa.ac.id/index.php/ almufida/article/view/112/107. Kasno. Sinkretisme Filsafat Dan Agama Menurut Ibnu Rusyd, 2021. Komarudin, Didin. “Pemikiran Murtadha Muthahhari Tentang Agama Morteza Motahhari’S Thought on Religion,” 2018, 220. Lufityanto, Galang. “Social Neuroscience: Pendekatan Multi-Level Integratif Dalam Penelitian Psikologi Sosial.” Jurnal Psikologi Sosial 18, no. 2 (2020): 89–105. https://doi.org/10.7454/jps.2020.11. Vol. 10, No. 2 Desember 2023 An-Nuha 213 Imroatus Sholikha Azzuhriyyah, Achmad Khudori Soleh Muhaimin, Abdul Wahab Abd. “Pengembangan Nilai-Nilai Syariah Dalam Merespon Dinamika Masyarakat Dan Kemajuan Iptek.” SALAM: Jurnal Sosial Dan Budaya Syar-I 7, no. 1 (2020): 1–20. https://doi. org/10.15408/sjsbs.v7i1.14539. Mulyadi. “Konversi Agama.” Jurnal Tarbiyah Al-Awlad, UIN Imam Bonjol Padang IX, no. 1 (2019): 29–36. https://e-journal.umc. ac.id/index.php/SFK/article/view/1511/1000#:~:text=Konversi agama mengandung dua arti.&text=mengandung dua arti.,Pertama%2C pindah%2Fmasuk kedalam agama yang lain%3B misalnya%3B,sikap keagamaan dalam agamanya sendiri. Murjani, Ujang Nurjaman, and Indonesia Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Nusantara, Bandung. “Moral Education Based On Religion, Philosophy, Psychology And Sociology.” Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan Kemasyarakatan 16, no. 1 (2022): 142–61. Nafisa, Adhek Kaysa Kurnia Nafisa, and Siti Ina Savira. “HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS TERHADAP KENAKALAN REMAJA Adhek Kaysa Kurnia Nafisa Siti Ina Savira Abstrak.” Character: Jurnal Penelitian Psikologi Badan 8, no. 7 (2021): 34–44. Ngazizah, Dhaoul, and Kholid Mawardi. “Integrasi Filsafat Dan Agama Dalam Perspektif Ibnu Rusyd.” Jurnal Ilmiah Mandala Education 8, no. 1 (2022): 588–95. https://doi.org/10.36312/jime.v8i1.2746. Rahmita, Silvia, and Iswantir Iswantir. “Dampak Penggunaan Smartphone Terhadap Akhlak Remaja Pada Masa New Normal Di Jorong Jalikur Patanangan Nagari Koto Tangah Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam.” Innovative: Journal Of Social Science Research 2, no. 1 (2022): 437–46. https://doi.org/10.31004/innovative. v2i1.3723. RATNAWATI, RATNAWATI. “Pendidikan Agama Islam Sebagai Penanggulangan Problematika Remaja Selama Pandemi Covid-19.” TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan 1, no. 2 (2021): 19–31. https://doi.org/10.51878/teaching.v1i2.223. Sari, Milya. “NATURAL SCIENCE : Jurnal Penelitian Bidang IPA Dan Pendidikan IPA , ISSN : 2715-470X ( Online ), 2477 – 6181 ( Cetak ) Penelitian Kepustakaan ( Library Research ) Dalam Penelitian Pendidikan IPA.” Natural Science [Diakses 11 Juli 2022] 6, no. 1 (2020): 41–53. 214 An-Nuha Vol. 10, No. 2 Desember 2023 PERAN AGAMA TERHADAP PROBLEMATIKA REMAJA Subhan, and Ulfah Novianti. “Analisis Metode Pembelajaran Yang Dapat Digunakan Pada Pembelajaran PAI.” Journal Evaluation in Education (JEE) 1, no. 3 (2021): 109–14. https://doi.org/10.37251/jee. v1i3.133. Subur. “Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Perkembangan Jiwa Remaja.” Jurnal TARBIYATUNA, 7(02), 167-185. 7, no. 2 (2016): 170. Susanti, Fitria Rika, and Surma Hayani. “Pemikiran Filosofis Ibnu Rusyd Tentang Eskatologi (Kajian Tentang Kehidupan Di Akhirat).” Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuludin 20, no. 1 (2021): 15–29. https://doi. org/10.18592/jiiu.v. Wakka, Ahmad. “Petunjuk Al-Qur’an Tentang Belajar Dan Pembelajaran (Pembahasan Materi, Metode, Media Dan Teknologi Pembelajaran).” Education and Learning Journal 1, no. 1 (2020): 82–92. Андреева, Г.М. “Социальная Психология. –М.: Аспект-ПрессNo Title,” 2007, 363. Vol. 10, No. 2 Desember 2023 An-Nuha 215