Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. 2,Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) https://ejournal. id/index. php/aijis PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT AL-GHAZALI DAN RELEVANSI TERHADAP KARAKTER GEN-Z Nur Aliya Widya Putri1*. Zayas Farista 2. Raskia Febby Pradwina Khairani3. Muhammad Wawan Permana4. Muhammad Riswanda Kurniawan5 12345 Universtas Nahdlatul Ulama Surakarta Keywords: education, al Ghazali and AyyuhA al-walad, education Gen-Z Kata kunci: education, al Ghazali and AyyuhA al-walad, pendidikan karakter Gen-Z Abstract This research is motivated by the author's curiosity about character education which has not been fully understood by students and has not been fully used as the main guideline and has not been fully implemented in the world of education in Indonesia, especially character education according to Imam Ghazali in the book AyyuhalWalad. The purpose of this study is to explain. character education in general. character education according to Al-Ghazali. GenZ character education and . the relevance of character education according to Al-Ghazali with Gen-Z character education in the era of Globalization. This research is a library research, with the object of research being the book Ayyuhal-Walad and supported by several other The research approach used is a philosophical approach. While data analysis uses content analysis. The focus of the study discussed in this study is the concept of character education according to alGhazali in the book Ayyuhal-Walad. Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi oleh rasa penasaran penulis tentang pendidikan karakter yang selama ini belum difahami sepenuhnya oleh peserta didik dan belum sepenuhnya menjadi pedoman utama serta belum sepenuhnya diterapkan dalam dunia pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan karakter menurut Imam Ghozali dalam kitab ayyuhal-walad. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan. pendidikan karakter secara umum. pendidikan karakter menurut Al-Ghazali. pendidikan karakter Gen-Z dan . relevansi pendidikan karakter menurut Al-Ghazali dengan pendidikan karakter Gen-Z p\di era Globalisasi. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan . ibrary researc. , dengan obyek penelitian kitab Ayyuhal-Walad dan didukung oleh beberapa buku lain. Pendekatan Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) penelitian yang digunakan adalah pendekatan filosofis. Sedangkan analisis data menggunakan analisis isi . ontent analysi. Dengan fokus kajian yang dibahas dalam penelitian ini adalah konsep pendidikan karakter menurut al-Ghazali dalam kitab ayyuhal-walad. *Penulis Koresponden E-mail: nuraliyawp@gmail. This is an open-access article under the CC-BY-SA license. A 2025 Author. PENDAHULUAN Pendidikan di zaman apapun merupakan suatu yang harus kita hadapi. Apalagi di era perkembangan teknologi yang begitu cepat dan komplek. baik yang menyangkut perubahan nilai maupun struktur kehidupan manusia. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan pokok sepanjang hayat manusia, tanpa pendidikan kita sebagai manusia tidak akan bisa menyesuaikan diri dalam hal positif terhadap perkembangan zaman pada era Adapun tujuan pendidikan menurut islam menciptakan manusia yang beriman, berakhlaq mulia dan bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain serta mencapai kebahagian dunia akhirat. Dalam proses pendidikan ada hal yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu adanya pendidikan karakter. Pendidikan karakter ini sangat penting bagi peserta didik maupu guru pendidik. METODE PENELITIAN Metode berisi jenis metode atau jenis pendekatan yang digunakan, prosedur pengumpulan data, dan teknik analisis data. Secara sederhana, sampaikan cara ilmiah dalam mencari dan mendapatkan data dan memiliki kaitan dengan prosedur dalam melakukan penelitian dan teknis penelitian yang ditulis dengan bahasa jelas, padat, dan ringkas, tidak teoritis, tapi dengan penggunaannya secara praktis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan studi pustaka. Data dikumpulkan melalui telaah mendalam terhadap karya-karya tulis yang relevan, terutama kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali, serta didukung oleh literatur lain seperti buku, jurnal, dan artikel ilmiah yang membahas pemikiran Al-Ghazali dalam konteks pendidikan karakter. Analisis data dengan menggunaak analisi isi . ontent Tahapan analsis data dengan melakukan deskrispsi awal dari naskah kemudian Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) melakukan interpretasi menggunakan endekatan konten isi. Interpretasi analsis juga menggunaka pendkatan filosofis agar pemaknaan dalam analsis menjadi objektif dan tidak didasari nilai Ae nilai subjektif. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan karakter adalah proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk membentuk dan mengembangkan nilai-nilai moral, etika, dan perilaku positif pada individu, khususnya peserta didik agar menjadi pribadi yang berakhlak, bertanggung jawab, dan mampu hidup sebagai warga negara yang baik. Pendidikan karakter bertujuan untuk menanamkan sikap-sikap positif seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, dan rasa hormat terhadap sesama. Tujuan utama dari pendidikan karakter adalah membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh tantangan, karakter yang kuat menjadi fondasi penting bagi seseorang untuk mengambil keputusan yang tepat, berperilaku etis, serta hidup berdampingan dengan orang lain dalam harmoni. Dengan demikian, pendidikan karakter merupakan fondasi penting dalam membangun manusia seutuhnya, bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa. Karena melalui pendidikan karakter peserta didik dapat menanamkan nilai-nilai kehidupan yang akan menjadi bekal dalam menghadapi masa depan. Ciri-ciri pendidikan karakter: Berfokus pada nilai-nilai inti seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, toleransi, kerja keras, dan rasa hormat. Melibatkan semua aspek pendidikan, mulai dari kurikulum, lingkungan sekolah, hingga keteladanan guru dan orang tua. Bersifat holistik, menyentuh ranah kognitif . , afektif . , dan psikomotorik . Berorientasi pada pembentukan watak, bukan sekadar penanaman pengetahuan. Imam Al-Ghazali, salah satu tokoh besar dalam khazanah pemikiran Islam, memberikan perhatian yang sangat mendalam terhadap persoalan pendidikan, khususnya pendidikan karakter. Dalam pandangannya, pendidikan bukan hanya sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi lebih utama dari itu adalah bagaimana membentuk akhlak dan jiwa seseorang agar mencapai kesempurnaan sebagai manusia. Pendidikan Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) karakter, menurut Imam Al-Ghazali, adalah upaya sistematis dan berkelanjutan dalam membentuk pribadi manusia yang baik secara moral dan spiritual, serta mampu menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan. Al-Ghazali menjelaskan bahwa pendidikan karakter harus dimulai sejak dini, karena jiwa anak pada dasarnya masih suci dan bersih, seperti lembaran kertas putih yang siap untuk ditulisi. Dalam konteks ini, pendidikan karakter tidak hanya bertujuan untuk membentuk perilaku yang baik secara lahiriah, tetapi juga menyucikan hati dan jiwa dari sifat-sifat tercela . khlak mazmuma. serta menggantinya dengan sifat-sifat terpuji . khlak Menurutnya, keberhasilan pendidikan karakter ditentukan oleh kemurnian niat, keteladanan dari pendidik, serta pendekatan yang mencakup dimensi spiritual, intelektual, dan emosional. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa pendidikan karakter sejatinya adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan merupakan jalan menuju kebahagiaan yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai keagamaan. Ia membagi proses pendidikan ini ke dalam dua tahapan penting: pertama adalah at-taAodib, yaitu proses pembiasaan dan pengenalan nilai-nilai moral serta kedisiplinan sejak usia dini. Tahapan ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan baik dan membangun pondasi karakter yang kokoh. Kedua adalah riyadhah mujAhadah, yaitu latihan spiritual dan pengendalian diri yang lebih intensif dan diterapkan saat individu telah mencapai usia remaja atau dewasa. Pada tahap ini, seseorang dilatih untuk melawan hawa nafsu dan memperkuat ketakwaan kepada Allah. Dalam praktiknya. Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya metode keteladanan sebagai metode utama dalam pendidikan karakter. Seorang pendidik tidak cukup hanya mengajarkan kebaikan, tetapi harus menjadi contoh nyata dalam perilaku sehari-hari. Di samping itu, nasehat yang baik dan pembiasaan terhadap amal saleh juga merupakan bagian penting dari metode pendidikan karakter. Dengan pendekatan ini. AlGhazali percaya bahwa karakter yang baik tidak hanya akan tertanam secara teoritis, tetapi juga akan membentuk kebiasaan dan menjadi bagian dari kepribadian seseorang. Dari uraian tersebut, jelas bahwa pendidikan karakter menurut Imam Al-Ghazali memiliki dimensi yang sangat dalam dan komprehensif. Ia tidak hanya menyentuh aspek perilaku lahiriah, tetapi juga menyasar pada pembentukan batiniah dan spiritual. Tujuan utamanya adalah mencetak manusia paripurna yang tidak hanya cerdas secara intelektual. Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) tetapi juga bersih hatinya, kuat imannya, dan mulia akhlaknya. Dengan demikian, pendidikan karakter dalam perspektif Al-Ghazali menjadi fondasi utama bagi terciptanya masyarakat yang beradab dan religius. Generasi Z tumbuh dengan akses yang luas ke internet, perangkat pintar, dan media sosial. Mereka lebih sering berinteraksi dengan teknologi daripada dengan buku teks atau lingkungan sosial tradisional (Belvar, 2. Dunia digital menawarkan banyak peluang, mulai dari akses informasi yang hampir tak terbatas hingga cara-cara baru untuk berinteraksi dan berkarya. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada tantangan besar yang harus dihadapi(Faqih, 2. Salah satunya adalah risiko terjebak dalam dunia maya yang dapat memengaruhi pola pikir dan Ketergantungan pada media sosial, misalnya, dapat menurunkan keterampilan sosial dan meningkatkan rasa cemas serta depresi. Selain itu, akses mudah ke informasi yang tidak selalu valid dapat membentuk perspektif yang tidak seimbang atau bias (Mahmud, 2. Dalam konteks Gen Z, pendidikan karakter menjadi sangat relevan, mengingat tantangan psikososial yang dihadapi mereka dalam dunia yang serba cepat dan terhubung. Pendidikan karakter mengajarkan pentingnya empati, komunikasi yang efektif, dan keterampilan interpersonal yang tidak dapat diperoleh melalui teknologi semata (Hariyono, 2. Anak muda yang memiliki dasar karakter yang kuat akan lebih mampu mengatasi tekanan sosial, berpikir kritis terhadap informasi yang diterima, dan membuat keputusan yang bijak dalam menghadapi tantangan hidup (Kamila, 2. Selain itu, pembentukan karakter juga penting untuk membantu Gen Z membangun hubungan sosial yang sehat, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Mengajarkan nilai-nilai seperti saling menghormati, kejujuran, dan tanggung jawab dalam berinteraksi di dunia digital dapat membantu mengurangi dampak negatif dari media sosial, seperti cyberbullying atau penyebaran hoaks (Syaidah & Dewi, 2. Di sisi lain, digitalisasi dalam pendidikan menjadi semakin tak terelakkan. Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, banyak aspek kehidupan yang bergantung pada kemajuan digital, mulai dari dunia kerja hingga kegiatan sehari-hari (Danuri, 2. Oleh karena itu, mempersiapkan Gen Z untuk menjadi pribadi yang melek teknologi Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) adalah hal yang tak bisa diabaikan. Digitalisasi memungkinkan akses yang lebih mudah ke berbagai materi pelajaran, memperkenalkan metode pembelajaran yang lebih inovatif, dan memfasilitasi pembelajaran jarak jauh (Lestyaningrum, 2. Anak muda Gen Z, yang sudah terbiasa dengan teknologi, cenderung lebih mudah untuk beradaptasi dengan metode-metode ini. Dalam hal ini, pendidikan digital tidak hanya melibatkan penguasaan alat-alat teknologi, tetapi juga mengajarkan mereka untuk menjadi pengguna teknologi yang bijak dan produktif (Sulianta, 2. Dalam menghadapi kedua tantangan ini, mungkin yang paling bijak adalah menciptakan keseimbangan antara pendidikan karakter dan digitalisasi. Pendidikan karakter tidak harus bersaing dengan digitalisasi, melainkan harus menjadi landasan yang kokoh bagi penggunaan teknologi yang sehat dan produktif (Farid, 2. Misalnya, dalam pembelajaran berbasis teknologi, kita dapat memasukkan nilainilai seperti kolaborasi, rasa hormat, dan tanggung jawab. Penggunaan media sosial dalam konteks pendidikan, jika dikelola dengan bijak, dapat memperkuat komunikasi antar individu, memperluas wawasan, dan membangun rasa kebersamaan. Namun, di saat yang sama, anakanak harus dilatih untuk mengenali bahaya dan dampak negatif dari penggunaan teknologi yang berlebihan atau tidak etis. Pendidikan karakter juga dapat dimasukkan dalam kurikulum berbasis teknologi dengan cara yang inovatif. Misalnya, aplikasi pembelajaran yang mendidik tentang etika digital, atau kelas online yang mengajarkan keterampilan hidup serta pengelolaan emosi. Dengan begitu. Gen Z dapat berkembang tidak hanya dalam hal keterampilan teknis, tetapi juga dalam hal keterampilan sosial dan emosional yang akan membantu mereka menjadi pribadi yang utuh dan siap menghadapi tantangan masa depan. Berdasarkan hal tersebut di atas maka perlu dilakukan sebuah kajian yang berkaitan dengan pentingnya Pendidikankarakter di era digital bagi Gen Z. Pendidikan karakter menurut Al-Ghazali sangat relevan dengan karakter Generasi Z karena fokusnya pada pembentukan akhlak dan karakter yang baik, yang sesuai dengan kebutuhan generasi yang menghadapi tantangan moral dan teknologi. Al-Ghazali menekankan pentingnya pendidikan yang menyentuh hati dan jiwa, sehingga generasi Z dapat mengembangkan karakter yang kuat dan berintegritas. Berikut beberapa aspek relevansi pendidikan karakter Al-Ghazali terhadap karakter Gen Z: Pembentukan Akhlak yang Unggul: Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) Al-Ghazali menekankan pentingnya pendidikan akhlak yang baik, yang mencakup kejujuran, keadilan, kesederhanaan, dan sebagainya. Nilai-nilai ini relevan dengan tantangan moral yang dihadapi Gen Z, seperti penyebaran informasi yang salah, cyberbullying, dan sebagainya. Pendidikan yang Menyentuh Hati dan Jiwa: Al-Ghazali menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga menyentuh hati dan jiwa. Hal ini penting bagi Gen Z yang seringkali merasa tertekan oleh persaingan dan tuntutan modern. Perpaduan Ilmu Pengetahuan dan Agama: Al-Ghazali menekankan pentingnya perpaduan antara ilmu pengetahuan (Ipte. dan ilmu agama (Imta. Hal ini relevan dengan kebutuhan Gen Z yang harus beradaptasi dengan teknologi digital, tetapi juga menjaga nilai-nilai agama. Tantangan dan Pembelajaran dari Kesalahan: Al-Ghazali menekankan pentingnya belajar dari kesalahan dan tidak menyerah pada tantangan. Hal ini relevan dengan semangat belajar dan adaptasi yang harus dimiliki oleh Gen Z di era digital. Pendidikan yang Berkualitas: Al-Ghazali menekankan pentingnya pendidikan yang berkualitas, yang dapat mengembangkan potensi individu secara optimal. Hal ini penting bagi Gen Z yang harus bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif. Dengan demikian, pendidikan karakter menurut Al-Ghazali dapat menjadi landasan bagi pengembangan karakter Gen Z yang unggul dan berintegritas. Pendidikan ini tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga membentuk akhlak dan jiwa yang kuat, sehingga Gen Z dapat menghadapi tantangan zaman dengan baik. KESIMPULAN Pendidikan karakter adalah proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk membentuk dan mengembangkan nilai-nilai moral, etika, dan perilaku positif pada individu, khususnya peserta didik agar menjadi pribadi yang berakhlak, bertanggung jawab, dan mampu hidup sebagai warga negara yang baik. Tujuan utama dari pendidikan karakter adalah membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral. Ciri-ciri pendidikan karakter: pertama berfokus pada nilai-nilai inti. Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) kedua melibatkan semua aspek pendidikan. ketiga bersifat holistik. dan berorientasi pada pembentukan watak Pendidikan karakter menurut Al-Ghazali sangat relevan dengan karakter Generasi Z karena fokusnya pada pembentukan akhlak dan karakter yang baik, yang sesuai dengan kebutuhan generasi yang menghadapi tantangan moral dan teknologi. Berikut beberapa Al-Ghazali Gen Z: pertama pembentukan Akhlak yang Unggul. kedua pendidikan yang Menyentuh Hati dan Jiwa. ketiga perpaduan Ilmu Pengetahuan dan Agama. keempat tantangan dan Pembelajaran dari Kesalahan. dan pendidikan yang Berkualitas REFERENSI