Jurnal Pendidikan Matematika (AL KHAWARIZMI), 4 . Juni 2024 ANALISIS GAYA BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA STKIP MELAWI Flesia Welly Ferianti1. Linda Dwi Saputri2 1,2,3,4 Pendidikan Matematika. STKIP Melawi flesiawellyferianti@gmail. com, 2dwisaputrilinda@gmail. Corresponding author : flesiawellyferianti@gmail. Abstrak: Tujuan penelitian ini ialah untuk mendapat gambaran tentang klasifikasi gaya belajar yang dimiliki mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP Melawi Angkatan 2022. Metode pengumpulan data menggunakan metode angket dan Observasi. Adapun langkah penelitian ialah: . penyusunan instrumen. pengambilan data. analisis data. uji validitas data. Kriteria yang digunakan dalam pengujian keabsahan data menggunakan Kepercayaan . melalui triangulasi sumber dan memperpanjang kehadiran di lapangan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki kecenderungan bergaya belajar Visual, yaitu sebesar 47,83%, diikuti gaya belajar Audio dan Kinestetik dengan prosentase secara berturut- turut yaitu 33,70% dan 18,48%. Dengan sebaran gaya belajar ditinjau dari tingkat kognitif: . 47,83% mahasiswa bergaya belajar visual terdiri dari 9,09% level kognitif tinggi. 52,27% level kognitif sedang dan 38,64% mahasiswa yang memiliki level kognitif rendah. 33,70% mahasiswa bergaya belajar visual terdiri dari 12,90% level kognitif tinggi. 64,52% level kognitif sedang dan 22,58% mahasiswa yang memiliki level kognitif rendah. 18,48% mahasiswa bergaya belajar visual terdiri dari 0% level kognitif tinggi. 64,71% level kognitif sedang dan 35,29% mahasiswa yang memiliki level kognitif rendah. Artinya, tidak ada gaya belajar yang lebih baik dari yang lainnya. Kata Kunci: klasifikasi, gaya belajar. VAK, visual, auditori, kinestetik Abstract : The aim of this research is to get an idea of the classification of learning styles of Mathematics Education students at STKIP Melawi Class of 2022. The data collection method uses questionnaires and observation. The research steps are: . preparation of instruments. data collection. data analysis. test data validity. The criteria used in testing the validity of the data use credibility through source triangulation and extended presence in the field. Based on the results of the research and discussion, it can be concluded that the majority of students have a tendency towards a Visual learning style, namely 47. 83%, followed by Audio and Kinesthetic learning styles with percentages respectively of 33. 70% and 18. With the distribution of learning styles in terms of cognitive level: . 83% of students have a visual learning style consisting of 9. 09% of high cognitive level. 27% of students had moderate cognitive level and 38. 64% of students had low cognitive level. 70% of students have a visual learning style consisting of 12. 90% of high cognitive levels. 52% of students had moderate cognitive level and 22. 58% of students had low cognitive level. 48% of students with a visual learning style consisting of 0% high cognitive level. 71% had medium cognitive level and 35. 29% of students had low cognitive level. This means that no learning style is better than another. Keywords: classification, learning styles. VAK, visual, auditory, kinesthetic PENDAHULUAN Pendidikan adalah proses menjadikan seseorang menjadi dirinya sendiri yang tumbuh sejalan dengan bakat, watak, kemampuan dan hati nuraninya secara Pendidikan tidak dimaksudkan untuk mencetak karakter dan kemampuan peserta didik sama seperti Proses pendidikan diarahkan pada proses berfungsinya semua potensi peserta didik secara manusiawi agar mereka menjadi diriya sendiri yang mempunyai kemampuan dan kepribadian unggul (Mulyasa, 2. Desmita . mengemukakan bahwa dalam proses pendidikan, peserta didik merupakan salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi Peserta didik menjadi pokok persoalan dan tumpuan perhatian dalam semua proses transformasi yang disebut pendidikan. Banyak hal yang mempengaruhi kemajuan akademik seseorang dalam proses pendidikan. Menurut Entwistle . kemajuan Jurnal Pendidikan Matematika (AL KHAWARIZMI), 4 . Juni 2024 akademik yang dicapai bergantung pada pola perilaku dan kemandirian belajar. Pola perilaku dalam belajar disebut sebagai gaya belajar. Gaya belajar merupakan salah satu aspek penting yang harus diperhatikan oleh pendidik maupun peserta didik. Prashign . 7: . mengatakan bahwa kunci menuju keberhasilan dalam belajar maupun bekerja ialah gaya yang digunakan dalam belajar maupun bekerja yang unik dari setiap pribadi, menerima kekuatan sekaligus kelemahan diri sendiri dan daya penyesuaian diri dalam setiap situasi pembelajaran, pengkajian maupun Guru yang sukses pada masa akan datang harus memahami apa yang dipikirkan oleh siswanya sehingga mampu memberikan perlakukan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini dapat berpengaruh pada pemaksimalan efektivitas dalam pencapaian tujuan Hal ini sejalan dengan pendapat Nasution . yang menyatakan bahwa kesesuaian gaya mengajar dengan gaya belajar dapat mempertinggi efektivitas belajar. Berdasarkan hasil observasi pendahuluan terhadap beberapa mata kuliah diketahui bahwa pemilihan strategi perkuliahan yang dilakukan belum melihat gaya belajar Sebagian besar pengembangan strategi perkuliahan dititik beratkan pada perangkat perkuliahan termasuk di dalamnya media perkuliahan. Hal ini berdampak pada efektivitas usaha pencapaian tujuan perkuliahan yang kurang maksimal, misalnya banyaknya mahasiswa yang mengikuti program remidi tiap semester serta nilai KKM yang masih berada di angka 65. Gaya belajar didefinisikan sebagai karakteristik kognitif, afektif, sosial, dan perilaku fisiologis yang berfungsi sebagai indikator yang relatif stabil dari bagaimana peserta didik mempersepsikan, berinteraksi dan menanggapi lingkungan belajar (MacKeracher. Hall . mendefinisikan gaya belajar sebagai cara di mana seseorang mulai berkonsentrasi pada, proses, internalisasi, dan mengingat informasi akademik baru dan sulit. Hal senada dikemukakan Ma . yang mendefinisikan gaya belajar sebagai cara yang mana seseorang mulai berkosentrasi pada proses, internal, dan mengingat dan informasi akademik yang baru dan sulit. Gunawan . dalam bukunya AuGenius Learning StrategiAy, telah membagi 7 pendekatan dalam menentukan gaya belajar: . Pendekatan berdasarkan pada pemprosesan informasi. menentukan cara yang berbeda dalam memandang dan memproses informasi yang baru. Pendekatan berdasarkan kepribadian. menentukan tipe karakter yang berbeda-beda. Pendekatan berdasarkan pada modalitas sensori. menentukan tingkat ketergantungan terhadap indera . Pendekatan berdasarkan pada lingkungan. menentukan respon yang berbeda terhadap kondisi fisik, psikologis, sosial, dan instruksional. Pendekatan berdasarkan pada interaksi sosial. menentukan cara yang berbeda dalam berhubungan dengan orang lain. Pendekatan berdasarkan pada kecerdasan. menentukan bakat yang berbeda. Pendekatan menentukan dominasi relatif dari berbagai bagian otak, misalnya otak kiri dan otak kanan. DePorter & Hernacki . menyatakan bahwa Untuk mengenali gaya belajar siswa, salah satu langkah diantara langkah pertama yang sebaiknya dilakukan oleh guru adalah mengenali modalitas belajar siswa sebagai modalitas visual, auditorial, atau kinestetik (V-A-K). Pendekatan yang digunakan untuk mengenali gaya belajar siswa ini biasa disebut dengan pendekatan preferensi sensori. METODE PENELITIAN Jenis dari penelitian ini adalah penelitian deskriptif Penelitian deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang berusaha untuk menuturkan yang ada sekarang berdasarkan data-data, penelitian ini juga menyajikan data, menganalisis, dan menginterpretasi. Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya (Best, 1982 dalam Sukardi, 2. Sudjana dan Ibrahim . 1: . , mengemukakan tujuan metode deskriptif yaitu untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara pada saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala penelitian dengan pendekatan deskriptif adalah penelitian yang mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian pada saat sekarang. Penelitian ini mengungkap dan mengklasifikasikan kecenderungan gaya belajar yang dimiliki mahasiswa pendidikan matematika STKIP Melawi Angkatan 2022. Dalam penelitian ini kriteria seleksi yang digunakan subjek penelitian menggunakan seleksi tes, seleksi quota, seleksi jaringan dan seleksi perbandingan antar kasus (Sutopo, 2002: . Dalam penelitian ini subjek penelitian ialah mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP Melawi Angkatan 2022. Jurnal Pendidikan Matematika (AL KHAWARIZMI), 4 . Juni 2024 Jumlah subjek ialah 1 kelas yang saat ini berada di Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua macam instrumen, yaitu instrumen utama dan instrumen pendukung. Kedua macam instrumen tersebut akan dijelaskan sebagai berikut: Instrumen Utama Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti Hal ini karena peneliti berperan dalam seluruh proses penelitian mulai dari menetapkan focus penelitian, pemilihan subjek penelitian, melakukan pengumpulan data, analisis data, menafsirkan data dan membuat Peneliti berperan sebagai instrumen kunci dalam . merespons, . mengadaptasi, . memahami konteks penelitian secara keseluruhan, . lebih memungkinkan memperoleh data sesuai dengan masalah, . memungkinkan memproses data secara langsung di lapangan, . memungkinkan melakukan pemeriksaan dan penggambaran data setelah dikumpulkan secara konseptual. Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif sangat bergantung pada kecermatan peneliti sebagai instrumen kunci dalam melakukan fungsinya. Sebagai instrumen utama, peneliti berperan sebagai pewawancara . yang dalam hal ini tidak dapat digantikan oleh instrumen lainnya. Instrumen Pendukung Instrumen-instrumen yang dijadikan sebagai instrumen pendukung dalam penelitian ini adalah angket gaya belajar dan pedoman observasi. Angket Gaya Belajar Angket dalam penelitian ini adalah sejumlah indikator yang disusun untuk mendeteksi indikator gaya belajar dengan keperluan tujuan penelitian. Angket gaya belajar yang digunakan mengacu pada angket gaya belajar yang sudah ada untuk kemudian dikonsultasikan pada pembimbing sebelum diuji cobakan guna mengetahui tingkat reliabilitas soal pada angket. Pedoman Observasi Pedoman Observasi dalam penelitian ini adalah sejumlah indikator yang disusun untuk mengkonfirmasi kemunculan ciri-ciri individu sesuai kajian pustaka serta catatan terbuka untuk menuliskan kejadian dalam proses pembelajaran sesuai dengan keperluan tujuan penelitian. Pedoman observasi ini disusun oleh peneliti, kemudian dikonsultasikan dengan teman sejawat. Observasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data tentang gaya be. ajar mahasiswa untuk keperluan triangulasi data menggunakan metode. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil angket pada 9 mahasiswa pendidikan matematika yang terdiri dari 1 kelas, mendapatkan hasil seperti pada tabel berikut. Tabel 1. Sebaran Gaya Belajar Mahasiswa Lebih jelas, tabel tersebut dijabarkan dalam gambar prosentase gaya belajar mahasiswa. Gambar 2. Prosentase gaya belajar mahasiswa Lebih lanjut, sebaran gaya belajar berdasarkan tingkat kognitif yang dimiliki terlihat pada tabel 2. Tabel 2. Sebaran Gaya Belajar Berdasarkan Tingkatan Kognitif Mahasiswa Lebih jelas, tabel tersebut dijabarkan dalam gambar prosentase gaya belajar visual ditinjau dari tingkatan kognitif mahasiswa. Jurnal Pendidikan Matematika (AL KHAWARIZMI), 4 . Juni 2024 Gambar 3. Prosentase gaya belajar Visual ditinjau dari tingkatan kognitif mahasiswa Sedangkan untuk gaya belajar Audio dan Kinestetik berturut-turut dapat dilihat pada gambar 4 dan 5. Gambar 4. Prosentase gaya belajar Audio ditinjau dari tingkatan kognitif mahasiswa Gambar 5. Prosentase gaya belajar Kinestetik ditinjau dari tingkatan kognitif mahasiswa Hasil penelitian memperlihatkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki kecenderungan bergaya belajar Visual, yaitu sebesar 47,83%, diikuti gaya belajar Audio dan Kinestetik dengan prosentase secara berturut-turut yaitu 33,70% dan 18,48%. Ini menunjukan bahwa sebagian besar mahasiswa terbiasa belajar dengan melihat dan mendengar. Hanya 18,48% mahasiswa yang memiliki kebiasaan belajar dengan meniru ataupun Ini mencerminkan bahwa metode belajar yang selama ini diperoleh mereka di kelas lebih pada metode ceramah, sebagaimana hasil observasi di kelas yang mendapati guru menggunakan metode ceramah dan latihan soal di kelas. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukan oleh Singh & Agwan . karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu, begitu pula sebaliknya termasuk di dalamnya kebiasaan dalam belajar atau gaya belajar siswa. Mahasiswa yang memiliki kecenderungan gaya belajar visual mayoritas lebih suka membaca daripada dibacakan serta lebih suka pada hal-hal yang terlihat rapi yang tercermin dari buku catatan yang tertulis rapi (Deporter, 2. Hal ini senada dengan yang dijelaskan oleh Rose dan Nicholl . bahwa karakteristik gaya belajar visual sangat mengandalkan penglihatannya. Mahasiswa yang memiliki kecenderungan gaya belajar audio mayoritas lebih suka mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dengan temantemannya (Deporter, 2. Hal ini senada dengan yang dikemukakan Hamzah . bahwa karakteristik gaya belajar auditorial semua informasi hanya bisa diserap melalui indera pendengaran. Mahasiswa dengan kecenderungan gaya belajar auditori sangat menyukai situasi berdiskusi di dalam proses pembelajaran. Mahasiswa yang memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik mayoritas lebih suka melakukan kegiatan fisik (Deporter, 2. Dalam pembelajaran mahasiswa ini lebih suka mencoba segala hal yang dijelaskan oleh Ia terlihat sibuk mencoba mengerjakan soal di buku sendiri ketika dosen meminta para mahasiswa terlibat dalam pemecahan masalah secara klasikal. Sehingga perlu pengawasan dari dosen agar pengetahuan yang diperoleh tidak salah. Hal lain yang bisa dilihat dari hasil penelitian ialah sebaran gaya belajar berdasarkan tingkatan kognitif yang dimiliki, antara lain: . 47,83% mahasiswa bergaya belajar visual terdiri dari 9,09% level kognitif tinggi. 52,27% level kognitif sedang dan 38,64% mahasiswa yang memiliki level kognitif rendah. 33,70% mahasiswa bergaya belajar visual terdiri dari 12,90% level kognitif tinggi. 64,52% level kognitif sedang dan 22,58% mahasiswa yang memiliki level kognitif rendah. 18,48% mahasiswa bergaya belajar visual terdiri dari 0% level kognitif tinggi. 64,71% level kognitif sedang dan 35,29% mahasiswa yang memiliki level kognitif Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa gaya belajar tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkatan kognitif seseorang. Artinya, tidak ada gaya belajar yang lebih baik dari yang lainnya. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Ken dan Rita Dunn (Gordon. Jeannette, 1999:. bahwa Tidak ada suatu gaya yang lebih baik atau lebih buruk daripada gaya belajar yang SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki kecenderungan bergaya belajar Visual, yaitu sebesar 47,83%, diikuti gaya belajar Audio dan Kinestetik Jurnal Pendidikan Matematika (AL KHAWARIZMI), 4 . Juni 2024 dengan prosentase secara berturut- turut yaitu 33,70% dan 18,48%. Dengan sebaran gaya belajar ditinjau dari tingkat kognitif: . 47,83% mahasiswa bergaya belajar visual terdiri dari 9,09% level kognitif tinggi. 52,27% level kognitif sedang dan 38,64% mahasiswa yang memiliki level kognitif rendah. 33,70% mahasiswa bergaya belajar visual terdiri dari 12,90% level kognitif 64,52% level kognitif sedang dan 22,58% mahasiswa yang memiliki level kognitif rendah. 18,48% mahasiswa bergaya belajar visual terdiri dari 0% level kognitif tinggi. 64,71% level kognitif sedang dan 35,29% mahasiswa yang memiliki level kognitif rendah. Artinya, tidak ada gaya belajar yang lebih baik dari yang Berdasarkan hal tersebut maka dalam mendesain strategi perkuliahan selanjutnya diperlukan kolaborasi antara pembelajaran dengan melihat, mendengar dan melakukan/ mencoba. DAFTAR RUJUKAN DePorter. Bobbi & Hernacki. Mike. Quantum Learning : Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Penerjemah Alwiyah Abdurrahman. Bandung : Sari Meutia Desmita. Psikologi Peserta Didik Panduan Bagi Orang Tua. Guru Dalam Memahami Psikologi Anak Usia SD. SMP dan SMA. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Dwijayanti. Efektivitas Kelas Humanistik dalam Pembelajaran Matematika terhadap Karakteristik Peserta Didik. Jurnal Aksioma. Vol 5 . : 69-78. Entwistle. Motivational factors in students' approaches to learning. In R. Schmeck. Learning strategies and learning styles . New York: Plenum. Fleming. , dan Mills. Not Another Inventory. Rather a Catalyst for Reflection. Improve the Academy. Vol. 11: 137- 155 Gobai. Yosep. AuPengaruh Penggunaan Bahan Ajar Dan Gaya Belajar Terhadap Hasil BelajarAy. http://re-searchengines. com/art05- 94. Gordon. Jeannette. Revolusi Cara Belajar. Penerjemah : Ahmad Baiquni. Bandung:Kaifa. Gunawan. Adi. Born To Be a Genius. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Gunawan. Adi W. AuGenius Learning StrategiAy. Jakarta: Pustaka Utama Hall M. The effect of cooperative learning groups and competitive strategies on math facts fluency of boys and girls. The effect of Learning Strategies. Kennesaw State University. P 1-28. Hamzah B. Uno. Orientasi Baru dalam Psikologi Siswa yang memiliki gaya belajar. Jakarta: Bumi Aksara. Hartanti dan Arhartanto. Profil Gaya Belajar Mahasiswa Baru: Survei Berdasarkan Metode Barbed an SwassingAo Anima. Indonesian Psycgological Journal. Vol. No. 3, hal. Ma. Vania J & Ma. Xin. A comparative analysis of the relationship between learning styles and mathematics performance. International Journal of STEM Education. 1:3. DOI: 10. 1186/2196-7822-13. licensee Springer. MacKeracher. Making sense of adult learning, . nd ed. Canada: University of Toronto Press Incorporated. Moleong. J Lexy. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Mulyasana. Dedy. Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Nasution. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara Prashign. Barbara. The Power of The Learning Styles: Memicu Anak Melejitkan Prestasi dengan Menggali Gaya Belajarnya. Penerjemah: Nina Fauziah. Bandung: Kaifa. Roger. Freedom To Learn. Columbus: Charles Merrill Publishing Company. Rose. Colin & M. Nicholl. Cara Belajar cepat Abad XXI. Bandung: Nuansa. Singh. & A. Agwan. Encyclopaedia of the Holy QurAoan. New Delhi: Balaji Offset. Edisi I. Sudjana dan Ibrahim. Penilaian dan Penelitian Pendidikan. Bandung. PT Gramedia Suherman dkk. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Jurusan Pendidikan Matematika UPI. Bandung Sukardi. Metodologi Peneitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Willing. Learning Styles in Adult Migration Education. Adeliade. Australia: National Curriculum Resource Center Willing. Learning Styles in Adult Migration Education. Adeliade. Australia: National Curriculum Resource Center