Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Juli, pp 1-8 eISSN: 2541-6251 pISSN: 2088-5776 Tingkat Pengetahuan Masyarakat Di Kota Malang Tentang Obstructive Sleep Apnea Susanthy Djajalaksana1*. Zamroni Afif2. Iqbal Muhammad1. Zata Dini1. Eka Pratiwi1. Cleine Michaela1. Kristia Fahmi1. Lia Susanti1. Ari Irawan1 Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Indonesia Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Indonesia * Corresponding author: susanthy@ub. Receieve 13-05-2025. Received in revised 30-06-2025. Accepted 01-07-2025 Abstract: Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSA) is a public health problem that often occurs, and it can cause long-term various health problems. Therefore, it is necessary to assess on the level of public knowledge at the car free day (CFD) in Malang City about OSA as a preventive measure for early detection and early management of OSA. This study used an analytic observational design with a cross-sectional approach. This study used a quota sampling technique with a total subjek of 100 subjeks. The level of public knowledge is measured using a questionnaire that has been tested for validity and reliability and then divided into good, medium and poor. Statistical analysis used Pearson correlation with a significance level of p<0. There were 100 subjekts consisting of 52% male and 48% female. Most of the subjekts were < 50 years old . %) with undergraduate education level . %). Level of knowledge is not correlated with gender . = 0. 041, p = 0. , age . = 0. 144, p = 0. , level of education . = 0. 109, p = Most of the subjektAos level of knowledge is good and has no correlation with gender, age, and level of education. Keyword: Level of Knowledge. Obstructive Sleep Apnea. Malang City Community. Abstrak: Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSA) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering terjadi dan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan jangka panjang. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang tingkat pengetahuan masyarakat di puskesmas Kota Malang tentang OSA sebagai upaya preventif untuk deteksi dini dan penatalaksanaan dini OSA. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini menggunakan teknik quota sampling dengan jumlah subjek sebanyak 100 subjek. Tingkat pengetahuan masyarakat diukur menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya kemudian dibagi menjadi baik, sedang dan buruk. Analisis statistik menggunakan korelasi Pearson dengan tingkat signifikansi p<0,05. subjek berjumlah 100 orang yang terdiri dari 52% laki-laki dan 48% perempuan. Sebagian besar subjek berusia < 50 tahun . %) dengan tingkat pendidikan sarjana . %). Tingkat pengetahuan tidak berkorelasi dengan jenis kelamin . = -0,041, p = 0,. , usia . = 0,144, p = 0,. , dan tingkat pendidikan . = 0,109, p = 0,. Pada penelitian ini didapatkan sebagian besar tingkat pengetahuan subjek baik dan tidak berkorelasi dengan jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan. Kata Kunci: Tingkat Pengetahuan. Obstructive Sleep Apnea. Masyarakat Kota Malang. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License Copyright A Author . DOI: 10. 52822/jwk. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Juli PENDAHULUAN Bernafas dan tidur merupakan bagian proses fisiologis dasar dalam kehidupan manusia sehari-hari. Bila proses bernapas berhenti dalam beberapa menit, kehidupan manusia juga dapat berhenti. Tidur merupakan bagian lain dari proses fisiologis dasar tersebut, bila terjadi gangguan pada proses tidur dapat berakibat gangguan pada kualitas hidup. Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian. Sekitar 2% hingga 4% dari populasi orang dewasa mengalami OSA ringan dan satu dari 15 pasien mengalami perkembangan dari OSA sedang menjadi parah. Diperkirakan lebih dari 85% pasien OSA tidak terdiagnosis. Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang dengan gejala OSA kurang menyadari masalah mendengkurA,A. OSA merupakan gangguan dalam spektrum sindrom pernapasan gangguan tidur kompleksA. Gejala OSA umum terjadi, tetapi sulit dideteksi. OSA bila tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang seperti gangguan kardiovaskular, gangguan sistem metabolismeA,A, gangguan kognitifAA, kualitas tidur yang burukA, nocturia, sakit kepala di pagi hari, mudah tersinggung, dan gangguan memoriA. Selain itu. OSA juga dikaitkan dengan penurunan produktivitas kerja, kecelakaan kerja atau kecelakaan lalu lintas yang dapat mengakibatkan cedera ringan hingga berat. Biaya yang dikeluarkan akibat OSA dan gangguan tidur tidak dapat diabaikanA,A. Penanganan yang tepat dapat meredakan gejala dan mengurangi beberapa gejala sisa,AA. Di Indonesia, penelitian mengenai pengetahuan masyarakat umum tentang OSA masih sangat terbatas. Sebagian besar penelitian yang ada hanya berfokus pada populasi khusus, seperti pasien dengan diabetes melitus, obesitas, atau penyakit kardiovaskular di lingkungan klinis. Studi klinis menunjukkan bahwa risiko OSA cukup tinggi di kelompok tersebut, namun belum ada kajian yang secara spesifik mengevaluasi tingkat pengetahuan masyarakat umum di luar populasi klinis25,26. Kondisi ini mengakibatkan minimnya data tentang kesadaran masyarakat terhadap OSA, yang berpotensi memperburuk rendahnya angka deteksi dini di Indonesia. Terlebih lagi, hingga saat ini belum ditemukan penelitian serupa di Kota Malang, baik di fasilitas kesehatan maupun di lingkungan komunitas. Car free day Kota Malang merupakan kegiatan yang mulai pertama kali diselenggarakan pada tahun Kegiatan ini rutin diadakan setiap hari Minggu pagi di Kota Malang. Kegiatan dilaksanakan di satu tempat sehingga semua lapisan masyarakat Malang dapat mengikuti kegiatan. Heterogenitas masyarakat pada acara car free day di Kota Malang diharapkan dapat mewakili populasi subjek yang terdiri dari berbagai usia dan latar belakang warga Kota Malang. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki kebaruan dengan menjadi studi pertama yang fokus mengevaluasi tingkat pengetahuan masyarakat umum tentang OSA di lingkungan komunitas terbuka, yaitu pada peserta car free day Kota Malang. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran awal mengenai kesadaran masyarakat terhadap OSA serta faktor yang mempengaruhi . enis kelamin, usia, dan tingkat pendidika. pada peserta CFD Kota Malang, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi Dinas Kesehatan setempat untuk menambahkan edukasi masyarakat terkait skrining dan diagnosis OSA kepada penduduk Kota Malang. METODE Desain Penelitian Desain penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Jalan Ijen Malang pada acara Car free day (CFD) di Kota Malang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai dengan April 2023 dengan waktu penelitian selama 3 bulan. Aspek Pengukuran Variable yang telah diukur adalah tingkat pengetahuan masyarakat tentang obstructive sleep apnea (OSA) pada Masyarakat di Car free day Malang adalah: Pengetahuan Masyarakat tentang OSA Susanthy Djajalaksana et al (Tingkat Pengetahuan Masyarakat Di Kota Malang. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Juli Pengetahuan pada Masyarakat tenta OSA di Car free day Malang akan diukur dengan menggunakan metode scoring terhadap jawaban yang telah diberikan bobot. Ukuran tingkat pengetahuan mahasiswa diukur berdasarkan jumlah nilai yang diperoleh responden menurut Pratomo . Tingkat pengetahuan baik, bila skor responden Ou75% dari seluruh pertanyaan. Tingkat pengetahuan sedang, bila skor responden antara 50% hingga 62,5% dari seluruh pertanyaan. Tingkat pengetahuan kurang bila skor responden O37,5% dari seluruh pertanyaan. Populasi dan Subjek Dalam penelitian populasi merupakan sejumlah besar subjek yang memiliki karakteristik tertentu. Populasi penelitian adalah seluruh peserta Car free day tanggal 19 Maret 2023. Kriteria pemilihan subjek dibagi menjadi kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek diambil secara simple random sampling berdasarkan kriteria inklusi yaitu peserta CFD Malang pada tanggal 19 Maret 2023 dan bersedia menjadi subjek penelitian. Kriteria eksklusi dalam penelitian adalah peserta CFD Malang yang tidak melengkapi formulir kuesioner. Jumlah subjek minimal yang digunakan dihitung berdasarkan rumus yang tertera pada Gambar 1. Gambar 1 Rumus jumlah subjek penelitian minimal. Keterangan: n: besar sampel minimum. Z2 1-a/2 : nilai Z pada derajat kemaknaan . %= 1,645, 95% = 1,. : proporsi suatu kasus tertentu terhadap populasi, bila tidak diketahui proporsinya, ditetapkan 50% . d: kesalahan . yang dapat ditolerir: 10% . , 5% . , atau 1% . N: jumlah di populasi Berdasarkan rumus pada Gambar 1, maka subjek yang akan diambil untuk penelitian ini minimal berjumlah 49 orang. Dalam penelitian ini diambil sebanyak 120 sampel yang memenuhi kriteria inklusi. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menyebarkan kuesioner. Kuesioner terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya menggunakan Uji Pearson Product Moment. Kuesioner merupakan suatu daftar yang berisi sejumlah pertanyaan yang diberikan kepada subjek guna mengungkap kondisi yang berkaitan dengan penelitian yang sedang dilakukan. Kemudian kuesioner tersebut diberikan kepada subjek untuk diisi. Instrumen Penelitian Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan. Setiap pertanyaan memiliki pilihan jawaban benar dan salah. Kuisioner dapat digunakan sebagai alat ukur setelah di uji validitas dan reliabilitas menggunakan Pearson Product Moment. Uji ini memanfaatkan software SPSS. Jika t hitung lebih besar dengan t tabel, maka perbedaan pada skor tiap item siginifikan, sehingga instrument dinyatakan valid. Uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan CronbachAos alpha. CronbachAos Alpha merupakan sebuah ukuran keandalan yang memiliki nilai berkisar dari nol sampai satu. Nilai reliabilitas CronbachAos Alpha minimum adalah 0,60. Uji Validitas dilakukan untuk memastikan kuesioner ini dapat dipercaya dan merupakan suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur. Untuk mengetahui apakah Susanthy Djajalaksana et al (Tingkat Pengetahuan Masyarakat Di Kota Malang. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Juli kuesioner yang disusun telah mampu mengukur apa yang hendak diukur, maka dilakukan pengujian antara nilai tiap-tiap item pertanyaan dengan skor total kuesioner tersebut. Bila semua pertanyaan telah memiliki korelasi bermakna . onstruck validit. berarti semua pertanyaan yang ada di dalam kuesioner tersebut mampu mengukur konsep yang akan di ukur. Tabel 1 Hasil Uji Validitas Kuisioner Mengenai OSA yang Digunakan sebagai Instrumen Penelitian Nomer Pertanyaan Pilihan Jawaban Jawaban Hasil Uji Validitas . 0,235 OSA adalah gangguan pernapasan yang terjadi saat tidur Benar Salah Benar OSA terjadi karena adanya sumbatan yang terjadi paling sering di belakang mulut 0,401 Tersedak saat tidur adalah salah satu gejala OSA Benar 0,034* Mengantuk di siang hari dan daya ingat menurun merupakan akibat dari OSA Benar Salah Benar Salah Benar Salah Benar Benar 0,000* Gangguan tidur seperti OSA dapat diketahui dengan pemeriksaan polisomnografi Benar Salah Benar 0,000* Seseorang dengan kelebihan berat badan . dan usia lanjut dapat berisiko terkena Benar Salah Benar 0,049* Keluhan yang paling sering dari OSA adalah insomnia Benar Salah Salah 0,030* OSA dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja di siang hari . Benar Benar 0,000* . Salah . Benar Menghindari minum alkohol dapat mencegah OSA Benar 0,000* . Salah . Benar Posisi tidur terlentang adalah salah satu cara mencegah OSA Salah 0,000* . Salah Keterangan: Valid: *p <5. Reliabilitas CronbachAos Alpha= 0,213 dengan jumlah N= 10 Berdasarkan hasil uji validitas pada Tabel 1, terdapat 2 pertanyaan yang tidak valid sehingga kami menggunakan 8 pertanyaan, yakni pertanyaan nomer 3 sampai 10 yang tertera pada Tabel 1, yang valid untuk dijadikan pertanyaan pada kuesioner penelitian ini. Pengolahan Data Data yang terkumpul berupa jawaban dari setiap pertanyaan kuesioner akan diolah dengan langkahlangkah sebagai berikut: Editing, yaitu memeriksa nama dan kelengkapan identitas serta data subjek serta memastikan semua jawaban telah diisi sesuai dengan petunjuk. Coding, pemberian kode atau nomor tertentu pada kuesioner untuk memudahkan tabulasi dan analisis Entry, memasukkan data dari kuesioner ke dalam program komputer dengan menggunakan program statistik SPSS. Cleaning yaitu memeriksa kembali data yang telah dimasukkan untuk mengetahui apakah terdapat kesalahan atau tidak. Hasil penelitian akan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Analisis Statistik Data dianalisis berdasarkan karakteristik subjek dan ditampilkan dalam bentuk data deskriptif. Hasil tingkat pengetahuan kemudian diuji korelasinya menggunakan uji korelasi Pearson terhadap jenis kelamin, usia, dan pendidikan terakhir. Hasil dianggap signifikan jika nilai p <0,05. Susanthy Djajalaksana et al (Tingkat Pengetahuan Masyarakat Di Kota Malang. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Juli HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini, subjek yang mengisi kuesioner sebanyak 120 orang. Karakteristik subjek tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Karakteristik Subjek Variabel n (%) Jenis Kelamin Laki-laki 53 . %) Perempuan 48 . %) Usia <50 tahun >50 tahun 20 . %) Pendidikan Terakhir 2 . %) SMP SMA Diploma Sarjana Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang OSA Kurang 2 . %) Sedang 22 . %) Baik 76 . %) Berdasarkan karakteristik subjek di atas menunjukkan bahwa sebagian besar jenis kelamin adalah perempuan dengan presentase sebesar 68,34%. Sebagian besar pasien memiliki usia 30-50 tahun dengan rerata usia 37,30 tahun. Sebagian besar pendidikan subjek adalah SMA dengan presentase sebesar 36,69%. Dalam penelitian ini dilakukan analisis korelasi antara tingkat pengetahuan subjek dengan karakteristik subjek yang tertera pada Tabel 3. Tabel 3 Analisis Korelasi Tingkat Pengetahuan dengan Karakteristik Subjek Variabel Usia 0,682 -0,041 Jenis Kelamin 0,151 0,144 Tingkat Pendidikan 0,282 0,109 Berdasarkan uji korelasi Pearson ditemukan bahwa semua variabel tidak berkorelasi terhadap tingkat pengetahuan subjek . >0,. Pembahasan Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki, berusia kurang dari 50 tahun, dan berpendidikan sarjana. Temuan ini sejalan dengan penelitian di Arab Saudi yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki . %) dan sebagian besar sampel berpendidikan sarjana . ,1%). Namun, pada penelitian tersebut sebagian besar responden berusia > 45 AA Perbedaan distribusi usia tersebut kemungkinan disebabkan oleh sebagian besar pengunjung CFD Malang adalah pelajar, usia produktif yang masih aktif berolahraga, dan para mahasiswa yang menempuh pendidikan di Kota Malang. Kondisi ini mencerminkan karakteristik demografis populasi perkotaan di wilayah pendidikan seperti Malang, di mana mayoritas penduduknya berasal dari kalangan usia muda dan menengah, berbeda dengan populasi di negara Timur Tengah seperti Arab Saudi yang memiliki distribusi usia dewasa yang lebih dominan di ruang publik. Selain itu, perbedaan budaya dan pola aktivitas rekreasi juga dapat memengaruhi komposisi usia di ruang-ruang publik terbuka. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat pengetahuan responden mengenai OSA Susanthy Djajalaksana et al (Tingkat Pengetahuan Masyarakat Di Kota Malang. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Juli adalah baik. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pengetahuan tentang OSA sebagian besar baik. Pengetahuan individu dapat memengaruhi perilaku dalam mencari pengobatana. Tingginya tingkat pengetahuan ini kemungkinan disebabkan oleh meningkatnya akses informasi melalui media digital di kalangan usia muda dan berpendidikan tinggi. Saat ini, media sosial, internet, dan berbagai platform kesehatan daring menjadi sumber utama informasi medis di kalangan mahasiswa dan usia produktif. Meski demikian, pengetahuan yang dimiliki bisa bersifat superficial dan belum tentu diiringi oleh pemahaman yang mendalam atau perilaku pencegahan yang sesuai. Hal ini dapat dijelaskan oleh teori Health Belief Model yang menyatakan bahwa persepsi individu terhadap kerentanan dan keparahan penyakit memengaruhi keputusan untuk mencari informasi atau melakukan tindakan Namun hasil ini berbeda dengan penelitian lain di Singapura yang melibatkan 1306 orang, yang menunjukkan bahwa hanya 13,3% yang memiliki pengetahuan tentang OSA. Sebagian besar informasi tentang OSA berasal dari surat kabar . ,0%), internet . ,2%), dan teman . ,6%) A. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh rendahnya tingkat penyuluhan kesehatan masyarakat yang bersifat langsung dan terbuka di ruang publik di beberapa negara, termasuk Indonesia. Sampai saat ini, program edukasi masyarakat tentang gangguan tidur khususnya OSA masih sangat terbatas dan jarang menjadi prioritas dalam kampanye kesehatan masyarakat. Sebagian besar program kesehatan masyarakat masih berfokus pada penyakit menular, penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, serta kesehatan ibu dan anak. Kondisi ini menyebabkan masyarakat kurang familiar dengan isu OSA, kecuali mereka yang secara khusus mencari informasi atau mengalami gejala terkait. Pengetahuan tentang OSA dalam penelitian ini dipengaruhi oleh usia dan tingkat pendidikanA. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada korelasi antara jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan terhadap pengetahuan tentang OSA. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Su . dan menunjukkan bahwa pengetahuan tentang OSA tidak berkorelasi dengan jenis kelamin dan tingkat pendidikan. Namun, pengetahuan tentang OSA berkorelasi dengan usia,AA. Perbedaan hasil ini diduga disebabkan oleh kurangnya edukasi tentang OSA pada responden pada usia yang lebih tua baik dari media sosial maupun dari program penyuluhan kesehatan. Di Indonesia, edukasi tentang gangguan tidur belum masuk dalam kurikulum pendidikan dasar hingga perguruan tinggi secara sistematis, sehingga individu usia tua yang tidak terbiasa menggunakan media digital akan memiliki akses informasi yang Selain itu, kurangnya program penyuluhan langsung di fasilitas kesehatan primer maupun kegiatan komunitas turut memperparah kondisi iniA8. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik. Akan tetapi penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan di mana penelitian ini tidak menganalisis perilaku dan sikap individu terhadap OSA serta tidak menganalisis kejadian OSA pada subjek. Padahal, pengetahuan saja belum tentu berbanding lurus dengan sikap atau tindakan pencegahan29. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa meskipun individu memiliki pengetahuan yang memadai tentang suatu penyakit, tanpa adanya motivasi intrinsik, pengalaman pribadi, atau penyuluhan yang efektif, mereka tidak serta-merta mengubah perilaku kesehatannya. 28 Oleh karena itu, penelitian selanjutnya perlu menganalisis sikap, perilaku, dan kejadian OSA pada subjek di CFD Kota Malang. Selain itu, perlu diupayakan program khusus seperti penyuluhan karena materi tentang OSA tidak didapatkan dalam proses pembelajaran formal di Indonesia. Penyuluhan berbasis komunitas di ruang publik seperti CFD dapat menjadi media efektif untuk meningkatkan kesadaran dan deteksi dini OSA di masyarakat. KESIMPULAN Berdasarkan hasil temuan dan analisis yang disajikan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar partisipan adalah laki-laki berusia di bawah 50 tahun dan berpendidikan sarjana. Sebagian besar tingkat pengetahuan responden baik dan tidak berkorelasi dengan jenis kelamin, usia, dan pendidikan terakhir. Untuk mendukung simpulan penelitian ini, diperlukan penelitian lebih lanjut dengan menganalisis sikap, perilaku, dan kejadian OSA pada responden di CFD Kota Malang. Susanthy Djajalaksana et al (Tingkat Pengetahuan Masyarakat Di Kota Malang. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Juli DAFTAR PUSTAKA