Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani ISSN. (Prin. , 2615-5168 (Onlin. DOI: https://doi. org/10. 30996/persona. Website: http://jurnal. untag-sby. id/index. php/persona Volume 7. No. Desember 2018 Volume 7. No. Desember 2018 Penerapan Prinsip-Prinsip Cognitive Behavior Therapy (BT) untuk Meningkatkan Self-Esteem Pada Remaja Perempuan Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani E-mail: nafisa. alif71@ui. Fakultas Psikologi. Universitas Indonesia Abstract This study aimed to determine effectiveness the principles of Cognitive Behavior Therapy (CBT) to increase self-esteem. This study uses single-subject research design. The participant of this study is a 13 years 8 months old girl who has low self-esteem. Self-esteem was measured by a Coopersmith Self-Esteem Inventory (CSEI) from Coopersmith . , adolescentAos behavior was measured by Child Behavioral Checklist (CBCL), and supported by interview with adolescent and parent. This intervention consists of three stages, such as the preintervention that consists of one session, the intervention that consists of eight sessions, and the post-intervention that consist of one session. The result of this study indicates that CBT can increase self-esteem, especially in certain domains, such as school and general self. Meanwhile, adolescentAos behavior also changes, especially in thought problem aspect. However, other problem experienced by adolescent can be obstacle to effectiveness the principles of Cognitive Behavior Therapy (CBT) to increase self-esteem. Keywords: Cognitive Behavior Therapy (CBT). Self-Esteem Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan prinsipprinsip Cognitive Behavior Therapy (CBT) untuk meningkatkan self-esteem. Penelitian ini menggunakan single-subject research design. Partisipan dalam penelitian ini adalah remaja perempuan berusia 13 tahun 8 bulan yang memiliki self-esteem rendah. Self-esteem diukur dengan menggunakan skala Coopersmith Self-Esteem Inventory (CSEI) dari Coopersmith . , perilaku remaja diukur dengan menggunakan kuesioner Child Behavioral Checklist (CBCL), dan didukung dari hasil wawancara dengan remaja dan orang tua. Intervensi ini terdiri dari tiga Tahap pertama yaitu pre-intervensi yang dilakukan sebanyak satu sesi, tahap kedua yaitu tahap intervensi yang terdiri dari 8 sesi, dan tahap ketiga yaitu post-intervensi yang dilakukan sebanyak satu sesi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan self-esteem pada domain sekolah dan general Sementara itu, remaja juga mengalami perubahan perilaku, terutama pada aspek thought problem. Akan tetapi, adanya masalah lain yang dialami remaja dapat menjadi hambatan terhadap efektivitas penerapan prinsip-prinsip Cognitive Behavior Therapy (CBT) untuk meningkatkan self-esteem. Kata Kunci: Cognitive Behavior Therapy (CBT). Self-Esteem Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Persona: Jurnal Psikologi Indonesia E-mail: jurnalpersona@untag-sby. ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Page | 118 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Pendahuluan Menurut Erikson, remaja masuk ke dalam tahap perkembangan psikososial identity and repudiation versus identity diffusion (Miller, 2. Pada tahap ini, remaja menyusun kembali identitas dirinya yang disesuaikan dengan kebutuhan, keterampilan, dan tujuannya di masa remaja. Identitas diri pada masa remaja adalah salah satu hal yang penting dan penuh makna (Rezaee, 2. Sejalan dengan hal tersebut. Erikson dan Harter . alam Luyckx et al. , 2. menyatakan bahwa tidak hanya identitas diri yang penting pada masa remaja, namun self-esteem juga memegang peranan penting dalam transisi remaja menuju kedewasaan. Identitas diri dan self-esteem adalah mekanisme yang saling memperkuat dan bergantung satu sama lain untuk membentuk individu secara keseluruhan (Leary & Tangney dalam Luyckx et al. , 2. Secara lebih spefisik, semakin kuat identitas diri remaja, semakin banyak individu yang menyadari kekuatan dan kelemahan diri, maka semakin kuat self-esteem mereka. Sebaliknya, semakin banyak individu yang mengalami kebingungan mengenai identitas diri mereka, maka semakin lemah self-esteem mereka (Luyckx et al. , 2. Oleh karena itu, self-esteem merupakan hal penting untuk membantu remaja mencapai tahap perkembangan dan kesejahteraan Papalia. Olds, dan Feldman . mendefinisikan self-esteem sebagai penilaian menyeluruh individu terhadap diri mereka dan terhadap keberhargaan diri mereka. Sejalan dengan hal tersebut. Shamloo menyatakan bahwa self-esteem adalah tingkat persetujuan, konfirmasi, penerimaan, dan penilaian yang dimiliki individu mengenai dirinya sendiri, kemudian perasaan tersebut dapat dibandingkan dengan orang lain (Rezaee, 2. Dengan demikian, self-esteem melibatkan perasaan penerimaan diri, berbeda dengan penghargaan diri yang berlebihan atau membanggakan diri sendiri yang mencirikan individu narsistik (Orth & Robins, 2. Pada remaja, perkembangan self-esteem biasanya terkait dengan hubungan pertemanan, daya tarik lawan jenis, dan kemampuan pekerjaan atau prestasi mereka (Berk, 2. Selain itu, self-esteem/harga diri pada remaja juga berhubungan erat dengan kepuasan terhadap penampilan (Barker & Bornstein, 2. Bagi sebagian anak, self-esteem mereka mencerminkan persepsi yang tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang ada mengenai diri mereka (Krueger. Vohs, & Baumeister dalam Santrock, 2. Self-esteem yang rendah dapat mencerminkan persepsi yang akurat Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Page I 119 Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Volume 7. No. Desember 2018 mengenai kekurangan individu atau mengalami distorsi/persepsi yang salah dan merasakan adanya kelemahan diri (Santrock, 2. Pada tiap individu, memiliki self-esteem yang tinggi adalah hal yang penting bagi kehidupan mereka. Self-esteem yang tinggi berhubungan dengan kepuasan hidup dan dapat memprediksi kesuksesan dan kesejahteraan dalam beberapa domain kehidupan, seperti hubungan antar-individu, pekerjaan, dan kesehatan (Moksnes & Espnes, 2013. Orth & Robins, 2. Sebaliknya, selfesteem yang rendah pada remaja awal dapat memprediksi gejala depresi pada remaja akhir dan dewasa muda, serta sebagai indikator dari berbagai bentuk internalizing psychopathology (Masselink. Roekel, & Oldehinkel, 2018. Isomaa et al. , 2. Hal tersebut karena individu dengan self-esteem yang rendah diasumsikan memiliki sumber coping yang terbatas, sehingga mereka lebih rentan terhadap masalah emosional (Moksnes & Espnes. Sementara itu, perilaku externalizing, seperti agresif juga berhubungan dengan selfesteem yang rendah (Van Orden, 2. Berdasarkan penjabaran sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa self-esteem yang rendah dapat berpotensi menimbulkan dampak negatif yang dapat mengganggu kesejahteran psikologis dan kepuasan hidup remaja, saat ini maupun di kemudian hari. Menurut Orth dan Robins . , self-esteem meningkat dari remaja ke dewasa pertengahan, memuncak pada usia 50 hingga 60 tahun, dan menurun dengan cepat pada usia lanjut. Oleh karena itu, self-esteem yang rendah pada remaja harus segera ditanggulangi agar tidak semakin berdampak pada kehidupannya, maupun menimbulkan masalah lain bagi dirinya atau orang lain. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk membantu seorang remaja perempuan, berinisial D yang berusia 13 tahun 8 bulan, untuk meningkatkan self-esteem-nya yang rendah. Peneliti akan melihat prinsip-prinsip Cognitive Behavior Therapy (CBT) meningkatkan self-esteem. D merupakan seorang klien di Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Berdasarkan hasil pemeriksaan, ia mendapatkan skor self-esteem yang rendah dengan menggunakan skala Coopersmith Self-Esteem Inventory dari Coopersmith . Skor self-esteem yang ia dapatkan menunjukkan bahwa self-esteem D rendah secara signifikan, terutama pada domain sekolah dan general self. D memiliki pandangan negatif mengenai dirinya sendiri. Pandangan negatif tersebut spesifik pada hal-hal yang terkait Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 120 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. dengan penampilan dan kemampuan akademisnya di sekolah. Terkait pandangan negatif mengenai penampilan. D merasa bahwa dirinya gemuk dan tidak cantik sehingga ia tidak disukai oleh lawan jenis dan teman-temannya. Ia merasa bahwa ia berbeda dari temantemannya yang langsing dan cantik. Ia juga berpikir bahwa ia akan di-bully karena tidak Sementara itu, terkait pandangan negatif mengenai kemampuan akademis di sekolah. D merasa bahwa ia tidak pintar meskipun sudah berusaha belajar sehingga ia tidak akan bisa berhasil. Ia juga merasa bahwa ia sangat kesulitan saat belajar, terutama pada pelajaran matematika. Selain itu, ia berpikir bahwa ia tidak dapat masuk ke sekolah menengah atas yang bagus karena tidak pintar. Terkait dengan penampilan. D masih memiliki tubuh yang ideal. Berdasarkan perhitungan Body Mass Index (BMI) untuk menggolongkan tingkat kegemukan dan obesitas. D memiliki tinggi badan 158 cm dan berat badan 57 kg dengan BMI sebesar 22. yang masuk ke dalam kriteria tubuh ideal. Perhitungan tersebut menggunakan Standar Badan Kesehatan Singapura sebagai acuan body mass index untuk orang Indonesia dan Asia yang memiliki kadar lemak yang lebih tinggi daripada orang Barat. Akan tetapi. D tetap menganggap bahwa tubuhnya gemuk dan ia tidak cantik. Sementara itu, terkait dengan kemampuan inteligensi, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kemampuan inteligensi D berfungsi pada taraf di bawah rata-rata (Full Scale IQ = 84, skala WISC-R). Walaupun demikian, saat ini D bersekolah di SMP Negeri yang cukup berkualitas di Jakarta dengan akreditasi A dan masuk ke dalam kriteria Sekolah Standar Nasional (SSN). Selain itu, prestasi akademik D di sekolah cukup baik dengan beberapa kali masuk ke peringkat 10 besar di kelasnya. Menurut McManus. Waite, dan Shafran . Cognitive Behavior Therapy (CBT) efektif untuk individu dengan self-esteem rendah, gejala depresi dan kecemasan. Henderson dan Thompson . menyatakan bahwa CBT diterapkan dengan mengkombinasikan metode perubahan perilaku dan pikiran untuk menghasilkan perilaku dan perasaan yang lebih baik pada klien. Terapi kognitif ini memiliki pembelajaran khusus untuk membantu klien mengatur pikiran negatif mereka. mengenali hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku. memeriksa bukti yang mendukung dan membantah pikiran negatif mereka. mengganti pikiran negatif menjadi pikiran yang lebih realistis. serta belajar mengidentifikasi dan mengubah keyakinan yang salah (Henderson & Thompson, 2. Oleh karena itu, peneliti memilih untuk menggunakan prinsip-prinsip Cognitive Behavior Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Page I 121 Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Volume 7. No. Desember 2018 Therapy (CBT) untuk meningkatkan self-esteem pada remaja berinisial D, terutama selfesteem yang terkait dengan penampilan dan kemampuan akademiknya di sekolah yang sudah diilustrasikan sebelumnya. Berdasarkan pemaparan yang sudah dijelaskan, maka rumusan masalah yang akan dijawab pada penelitian ini adalah. Apakah penerapan prinsipprinsip Cognitive Behavior Therapy (CBT) efektif untuk meningkatkan self-esteem pada Berikut ini adalah model kognitif terkait self-esteem penampilan dan akademis D: Pengalaman Awal Pengalaman Awal Sejak kecil, kemampuan motorik Saat bersekolah, malu dan iri pada teman yang dapat berlari cepat dan melompat. Saat ini. D sering membandingkan penampilannya dengan teman lain. Pernah ditertawakan oleh teman saat presentasi materi di depan kelas. Saat diminta untuk mengerjakan soal di depan kelas. D salah menjawab dan ditertawakan teman sekelas. Beberapa matematika yang di bawah standar. Pembentukan Keyakinan yang Tidak Benar AuAku jelekAy. AuAku tidak cantikAy AuTubuhku gendutAy Perkembangan Asumsi yang Tidak Benar AuKalau aku gendut dan tidak cantik, teman-teman akan mem-bully aku, aku tidak punya teman, dan tidak ada laki-laki yang menyukaikuAy. Pembentukan Keyakinan yang Tidak Benar AuAku tidak pintarAy AuAku udah belajar, tapi masih ada nilai yang jelekAy Perkembangan Asumsi yang Tidak Benar AuKalau aku menjawab pertanyaan dan salah, aku akan diketawain dan di-bully teman-temanAy AuAku sudah belajar, tapi nilaiku tetap ada yang jelek, nilaiku tidak pernah bagusAy Peristiwa Kritis Di-bully saat kelas 7 dengan dianggap gendut dan tidak ada laki-laki yang Simtom Perilaku: Menarik diri, jarang bergaul meski ada teman dekat Emosi: Sedih, kesepian, malu Kognitif: Menyalahkan diri sendiri, diri selalu dianggap buruk Fisiologis: Sulit tidur, melamun Peristiwa Kritis Peringkat turun drastis dari peringkat 2 ke peringkat 10. Simtom Perilaku: Terkadang menyerah saat belajar, menunda belajar Emosi: Sedih, merasa bersalah, cemas, malu Kognitif: Menyalahkan diri sendiri Fisiologis: Sulit tidur Gambar 1. Model Kognitif dari Kasus D (Penampilan dan Akademi. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 122 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Metode Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel terikat, yaitu self-esteem dan variabel bebas, yaitu Cognitive Behavior Therapy (CBT). Penjelasan dari variabel akan dijelaskan sebagai berikut: Berk . menyatakan bahwa self-esteem adalah penilaian seseorang terhadap dirinya dan perasaan yang terkait dengan penilaian tersebut. Self-esteem yang tinggi berimplikasi pada penilaian realistis dari kompetensi seseorang, ditambah dengan adanya penerimaan dan penghargaan diri (Berk, 2. Self-esteem yang rendah dapat mencerminkan distorsi/persepsi yang salah dan merasakan adanya kelemahan diri (Santrock, 2. Cognitive Behavior Therapy (CBT) adalah sebuah metode yang mengkombinasikan terapi pikiran dan perilaku, serta bertujuan untuk mengurangi distress psikologis dan pikiran yang salah dengan cara mengetahui bagaimana integrasi pikiran, perasaan, dan perilaku terhadap masalah yang terjadi (Cully & Teten, 2008. Teater, 2. Cully dan Teten . menyatakan bahwa asumsi dasar pada CBT adalah perasaan/emosi sulit untuk diubah secara langsung, sehingga CBT menyasar perasaan klien dengan cara mengubah pikiran dan perilaku yang berkontribusi pada perasaan yang mengganggu atau membuat Oleh karena itu. CBT membuat serangkaian kemampuan yang memungkinkan individu untuk menyadari pikiran dan perasaan. mengidentifikasi bagaimana situasi, pikiran, dan perilaku memengaruhi perasaan/emosi. dan meningkatkan perasaan yang lebih baik dengan mengubah pikiran dan perilaku yang salah (Cully & Teten, 2. Dalam pengaplikasiannya. Teater . alam Teater, 2. menyatakan bahwa CBT meliputi tiga tahap, yaitu: . Asesmen, untuk mengetahui hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku klien yang berkontribusi terhadap munculnya masalah perilaku. Intervensi CBT dapat meliputi beberapa bentuk, seperti cognitive restructuring, teknik relaksasi, pelatihan social-skills, assertion training dan kemampuan penyelesaian masalah, systematic desensitization, dan reinforcement, modeling, dan role-plays. Evaluasi, untuk melihat perubahan perilaku klien setelah intervensi CBT diberikan, yaitu pada sebelum/pre dan sesudah/post intervensi CBT. Hubungan variabel dalam penelitian ini dapat dijelaskan pada bagan berikut: Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Page I 123 Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Volume 7. No. Desember 2018 Intervensi CBT: Cognitive Restructuring Intervensi CBT: Psikoedukasi Kesalahan Berpikir Intervensi CBT: Teknik Relaksasi Klien Meningkatkan Self-esteem Intervensi CBT: Problem Solving Skill Orang Tua Intervensi CBT: Role-play Psikoedukasi: Distorsi Kognitif dan Self-esteem Gambar 2. Hubungan antar Variabel dalam Penelitian Desain penelitian ini adalah single-subject research design, yaitu desain eksperimental yang memeriksa hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan terikat (Horner dalam Alnahdi, 2. James . menambahkan bahwa desain penelitian ini adalah sebuah pendekatan metodologis eksperimental dengan subjek tunggal sebagai sampel klinis penelitian yang dilakukan untuk mengetahui dampak dari tindakan intervensi yang diberikan kepada subjek tersebut. Dalam jenis eksperimen ini, data dikumpulkan pada beberapa kesempatan atau kondisi berbeda (A-B) dari tiap subjek dan data akan diperiksa setelah dilakukan intervensi (Alnahdi, 2. Penelitian ini menggunakan single-subject research design karena menggunakan satu subjek penelitian dan sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu mengetahui efektivitas penerapan prinsip-prinsip Cognitive Behavior Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 124 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Therapy (CBT) untuk meningkatkan self-esteem. Sama seperti kriteria pada single-subject research design, peneliti juga menggunakan 1 orang sebagai subjek, yaitu remaja perempuan berinisial D. Oleh karena itu, penelitian ini fokus pada perubahan perilaku dari variabel terikat/dependent pada 1 subjek/klien yang terjadi sepanjang intervensi (A hingga B) berdasarkan pemberian variabel bebas/independent, yaitu Cognitive Behavior Therapy. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat ukur/kuesioner, wawancara, dan observasi. Indikator keberhasilan pada penelitian ini adalah adanya perubahan skor mentah/raw score pada kuesioner self-esteem dan CBCL, serta kualitas pikiran, perasaan, dan perilaku subjek pada wawancara yang semakin baik. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah Coopersmith Self-Esteem Inventory (CSEI) untuk mengukur self-esteem dan Child Behavioral Checklist (CBCL) untuk perubahan perilaku anak yang diberikan sebelum dan sesudah intervensi. CSEI adalah salah satu kuesioner self-report yang yang digunakan untuk mengukur sikap terhadap diri sendiri dalam berbagai bidang, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah, dan aktivitas secara umum pada remaja dan orang dewasa (Coopersmith dalam Potard, 2. CSEI terdiri dari 50 item dan menghasilkan skor yang spesifik mengenai selfesteem pada domain general self, hubungan sosial, orang tua di rumah, dan akademis di sekolah, serta delapan item tambahan mengenai skala kebohongan/lie (Potard, 2. Pada penelitian ini, peneliti akan membandingkan perubahan self-esteem subjek dari sebelum dan sesudah intervensi, spesifik pada beberapa domain self-esteem melalui skor mentah/raw score. Intervensi dikatakan berhasil jika terjadi peningkatan skor mentah/raw score self-esteem pada spesifik domain, yaitu sekolah dan general self. Kuesioner lain yang digunakan adalah CBCL, yaitu kuesioner screening terstandar yang digunakan secara internasional untuk mengidentifikasi masalah emosi/perilaku dan kompetensi sosial pada anak dan remaja . sia 4 hingga 18 tahu. (Bordin et al. , 2. Pada penelitian ini, peneliti akan membandingkan perubahan perilaku bermasalah, yaitu thought problems dari sebelum dan sesudah intervensi. Intervensi ini dikatakan berhasil jika terjadi penurunan skor mentah/raw score perilaku bermasalah . hought problem. Secara lebih spefisik, peneliti menargetkan agar tidak ada perilaku bermasalah dalam kuesioner CBCL yang masuk ke dalam borderline dan clinical range. Selain itu, pengumpulan data juga dilakukan melalui metode wawancara, yaitu untuk mengetahui gambaran Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Page I 125 Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Volume 7. No. Desember 2018 mendalam mengenai pikiran, perasaan, dan perilaku subjek. Observasi juga dilakukan dalam penelitian ini, yaitu untuk mendapatkan hal-hal yang tidak didapatkan melalui kuesioner dan wawancara, seperti sikap dan perilaku non-verbal. Berikut ini adalah penjabaran mengenai kuesioner yang diberikan kepada subjek dan orang tua: Tabel 1. Instrumen Penelitian Waktu Pemberian Sebelum Intervensi Pelaksanaan Intervensi Sesudah Intervensi Instrumen Coopersmith Self-Esteem Inventory Child Behavioral Checklist Informed Consent Modul CBT Coopersmith Self-Esteem Inventory Child Behavioral Checklist Diberikan kepada Subjek Orang tua Subjek dan Orang tua Subjek dan Orang tua Subjek Orang tua Sebelum melakukan intervensi, ada kegiatan yang dilakukan, yaitu informed consent mengenai informasi yang terkait dengan penelitian, seperti tujuan, prosedur, kerahasiaan, hak subjek, dan sebagainya yang terkait dengan persetujuan penelitian. Terkait dengan pelaksanaan intervensi CBT, peneliti menggunakan pendekatan CBT dan acuan lembar kerja atau modul yang diperkenalkan oleh Stallard pada tahun 2002. Sementara itu, terkait dengan jumlah sesi pemberian intervensi, peneliti menggunakan acuan yang diungkapkan oleh Kennerly. Kirk, dan Westbrook . bahwa untuk tipe permasalahan ringan hingga sedang, jumlah sesi yang perlu diberikan dalam CBT adalah sekitar 6 sampai 12 sesi. Pada penelitian ini, peneliti akan memberikan 8 sesi CBT kepada D sebagai subjek penelitian. Peneliti berpikir bahwa D memiliki masalah tipe 2 . ingan hingga sedan. karena pada saat pre-intervensi. D memiliki skor self-esteem yang rendah, dan skor perilaku bermasalah pada child behavior checklist (CBCL) yang masuk ke dalam borderline Akan tetapi, masalah D belum menyebabkan munculnya personality disorder Berikut ini adalah penjabaran secara spefisik mengenai modul intervensi CBT: Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 126 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Tabel 2. Rancangan Intervensi (Modul CBT) Sesi Pendahuluan CBT Durasi: 120 menit Identifikasi: Bagaimana aku Durasi: 90 menit Identifikasi: Mengapa pikiranku Durasi: 90 menit Evaluasi: Balanced Thinking Durasi: 90 menit Psikoedukasi Orang tua Durasi: 120 menit Pengembangan: Bagaimana Mengatur Pikiranku? Durasi: 90 menit Pengembangan: Bagaimana Mengatur Perasaanku? Durasi: 120 menit Pengembangan: Mengubah Perilaku Durasi: 90 menit Tujuan - Diskusi dan formulasi masalah klien. - Paparan mengenai intervensi CBT dan penetapan jadwal intervensi. - Anak dan orang tua mengetahui hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku sebagai dasar dari intervensi CBT. - Membantu anak untuk mengidentifikasi pikiran otomatis mereka dan alasan mengapa pikiran otomatis mudah muncul. - Melihat dampak positif dan negatif terhadap perasaan dan perilaku dari pikiran otomatis yang - Tujuan utama: mengidentifikasi pikiran yang dapat menghasilkan perubahan emosional. - Mengetahui beberapa tipe kesalahan berpikir. - Mampu mengidentifikasi dan memahami tipe kesalahan berpikirnya. - Membuat anak agar memiliki keinginan untuk mengubah cara berpikirnya yang salah. - Menganalisis pikiran mereka apakah termasuk kesalahan berpikir atau tidak. - Memeriksa bukti-bukti yang mendukung atau membantah pikiran negatif mereka. - Mendapatkan alternatif pikiran dan pikiran yang lebih seimbang. - Orang tua memahami kesalahan berpikir/distorsi kognitif yang dilakukan anak - Orang tua memahami kesulitan anak untuk mengubah kondisinya. - Orang tua dapat membantu anak untuk meningkatkan self-esteem-nya. - Membantu anak untuk menyadari pikiran yang salah dan menghilangkan dampak yang terjadi setelahnya. - Mengembangkan dan menerapkan balanced thinking melalui strategi positive self-talk. - Meningkatkan kesadarkan mengenai perasaan dan mendeskripsikan emosi yang membuat tidak nyaman, seperti marah, depresi, dan stres. - Mengidentifikasi perasaan yang mereka rasakan jika berpikir mengenai hal yang negatif. - Mengetahui cara untuk menenangkan diri atau relaksasi ketika merasa tidak nyaman. - Membuat langkah-langkah mengubah perilaku. - Mengembangkan kemampuan penyelesaian masalah yang lebih efektif. Metode - Diskusi - Psikoedukasi - Mengisi lembar kerja AuLingkaran AoHappyAoAy AuKotak AoSulitAoAy - Diskusi - Mengisi lembar kerja AuCatatan Harian: Pikiran dan PerasaankuAy AuPikiran Negatif?Ay - Materi kesalahan berpikir - Lembar kerja AuIdentifikasi PikirankuAy Kasus kesalahan berpikir AuCatatan Harian: PikirankuAy Mengisi lembar kerja AuCatatan Harian: Mencari BuktiAy AuBerpikir SeimbangAy Materi/modul kepada orang tua untuk membantu anak dalam meningkatkan selfesteem - Diskusi dan role-play - Mengisi lembar kerja AuMenantang PikiranmuAy AuLihat PositifmuAy AuPositive Self-TalkAy - Diskusi - Psikoedukasi - Mengisi lembar kerja AuApa yang Terjadi?Ay AuWhereAos My Feeling?Ay. Materi AuBelajar untuk RelaksasiAy dan role-play - Diskusi dan lembar kerja AuMenaiki TanggaAy AuIdentifikasi SolusiAy AuTalk YourselfAy Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Page I 127 Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Volume 7. No. Desember 2018 Hasil Berdasarkan analisis hasil, intervensi Cognitive Behavior Therapy (CBT) yang diberikan kepada D . emaja berusia 13 tahun 8 bula. terbukti efektif untuk meningkatkan self-esteem-nya. Hal ini terbukti dari data yang diperoleh melalui kuesioner, wawancara, dan observasi selama melakukan intervensi. Pada kuesioner Coopersmith Self-Esteem Inventory (CSEI), terjadi peningkatan skor self-esteem pada dua domain yang disasar, yaitu domain sekolah dan general self. Pada kuesioner Child Behavior Checklist (CBCL), terjadi penurunan skor perilaku bermasalah yang ditunjukkan oleh D, yaitu thought problems. Selain itu, hasil wawancara menunjukkan bahwa terdapat kualitas yang lebih baik pada pikiran, perasaan, dan perilaku D sebelum dan sesudah intervensi. D mengaku bahwa ia sudah mengaplikasikan beberapa prinsip atau materi yang diberikan selama sesi intervensi CBT ini. Berikut ini adalah hasil perbandingan dari aspek pikiran, perasaan, dan perilaku D saat sebelum dan sesudah intervensi CBT dilakukan: Tabel 3. Perbandingan Pikiran. Perasaan, dan Perilaku Sebelum dan Sesudah Intervensi Aspek Pikiran Perasaan Perilaku Sebelum Intervensi - D menyalahkan diri sendiri karena kekurangannya dalam penampilan, yaitu tidak cantik dan gendut - D berpikir bahwa ia memiliki kelemahan dalam bidang akademik . idak pintar dan dapat nilai jele. - D lebih memilih untuk pasif di kelas karena takut salah dan ditertawakan - D sering merasa sedih dan kesepian saat berpikir kekurangannya dalam penampilan dan akademik - D sering merasa malu dan iri saat melihat temannya yang lebih langsing, cantik, dan - D sering merasa tidak percaya diri karena tidak memiliki kelebihan - D terkadang menarik diri dari lingkungannya dan menyendiri - D sering sulit tidur karena berpikir mengenai kekurangan dirinya Sesudah Intervensi - D berusaha untuk tidak menyalahkan diri sendiri dan menerapkan positive self-talk - D tidak berpikir bahwa ia lemah pada bidang akademik dan terus berusaha untuk belajar - D mencoba untuk lebih aktif dengan menjawab soal dan presentasi - Saat D merasa sedih, ia mengalihkan dengan hal lain yang lebih bermanfaat, seperti membaca buku - D tidak lagi merasa malu dan iri, serta sudah lebih percaya diri dengan penampilannya - D percaya diri dengan kelebihan dan mengurangi pikiran negatif - D berusaha untuk lebih banyak bergaul dan bercerita dengan ibu - D tidak sulit tidur dan sering menerapkan teknik relaksasi pada CBT dan positive self-talk Terdapat peningkatan skor mentah/raw score dari kuesioner Coopersmith Selfesteem Inventory (CSEI) yang diberikan saat sebelum/pre-test dan sesudah/post-test intervensi CBT diberikan. Skor self-esteem mengalami peningkatan pada domain sekolah dan general self. Peningkatan skor self-esteem pada kedua domain tersebut sangat sesuai Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 128 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. dengan sasaran intervensi CBT ini, yaitu self-esteem pada ranah pikiran negatif mengenai penampilan dan kemampuan akademis di sekolah. Dalam hal ini, penampilan masuk ke dalam domain self-esteem general self. Pada domain sekolah, terjadi peningkatan sebesar 4 skor dari pre dan post-intervensi. Pada domain general self, terjadi peningkatan sebesar 6 skor pada domain. Sejalan dengan hal tersebut, domain kebohongan menurun 1 skor dari pre dan post-intervensi. Akan tetapi, pada domain orang tua di rumah, terjadi penurunan 5 skor dari pre ke post-intervensi. Satu-satunya domain yang menurun ini akan dibahas lebih lanjut pada sub-bab pembahasan. Walaupun terjadi peningkatan skor pada dua domain yang disasar, yaitu sekolah dan general self, namun secara keseluruhan skor self-esteem D masih berada pada kategori rendah. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian Berikut ini adalah penjabaran skor mentah kuesioner self-esteem (CSEI): Pre-test Post-test School . Social . General Self . Home . Lie . Gambar 3. Perbandingan Pre-test dan Post-test Raw Score CSEI Berikut ini adalah penjabaran mengenai perubahan self-esteem pada kuesioner CSEI, spesifik pada domain sekolah dan general self yang sudah dianalisa berdasarkan wawancara tambahan dengan D: Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Page I 129 Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Volume 7. No. Desember 2018 Tabel 4. Perubahan Pre-test dan Post-test CSEI Domain School Pre-Test Saya merasa sulit untuk berbicara di depan umum Saya tidak melakukan sebaik apa yang diharapkan di sekolah Guru membuat saya merasa bahwa saya tidak cukup baik/tidak pintar Merasa tidak percaya diri di sekolah Sering menghabiskan banyak waktu untuk melamun Terkadang minta maaf untuk perbuatan yang saya lakukan Saya kurang memahami diri saya sendiri Selalu berfikir negatif/ minder/ tidak percaya diri terhadap diri saya Saya tidak berpenampilan seperti kebanyakan orang General Self Saya tidak peduli apa yang terjadi terhadap saya Saya adalah kegagalan Saya merasa bahwa saya tidak bisa diandalkan oleh orang lain Banyak hal yang membuat saya tidak menyukai diri saya Post-Test Saya mau mencoba dan berusaha lebih sering berbicara di depan kelas Saya terus berusaha belajar sesuai dengan apa yang saya harapkan di sekolah agar mendapat nilai bagus Guru di sekolah tidak membuat saya berpikir bahwa saya tidak pintar Saya lebih percaya diri di sekolah, seperti maju untuk menjawab soal dan presentasi di depan Tidak banyak melamun, berusaha untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti membaca buku Saya mencoba untuk selalu meminta maaf dengan kesalahan yang saya lakukan Saya memahami diri saya, seperti keinginan dan tujuan yang akan saya lakukan, misalnya cita-cita saya Berusaha untuk menghilangkan pikiranpikiran negatif, seperti minder dan tidak percaya diri terkait kemampuan saya di D berusaha untuk berpikir bahwa cantik itu relatif, setiap orang memiliki kelebihan dan Peduli dengan apa yang terjadi kepada saya, karena masalah kecil dapat menjadi besar dan tidak terselesaikan Saya berpikir bahwa saya tidak selalu gagal, bahwa masih ada hal-hal baik yang saya miliki dan lakukan selama ini Saya berpikir bahwa teman saya masih dapat mengandalkan saya, seperti pada pelajaran Ibu juga bisa mengandalkan saya dengan bercerita Saya mencoba untuk berpikir tentang kelebihan saya dan menyukai banyak hal tentang diri saya sendiri Tidak hanya perubahan yang positif pada kuesioner self-esteem, perubahan juga tampak pada perilaku bermasalah dalam kuesioner child behavior checklist (CBCL) sebelum dan sesudah intervensi. Skor CBCL sebelum intervensi menunjukkan bahwa pada ranah tingkah laku bermasalah, yaitu thought problems, perilaku D tergolong ke dalam kategori borderline range. Akan tetapi, terjadi penurunan perilaku setelah intervensi diberikan, yaitu semua ranah masuk ke dalam kategori normal. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 130 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi Cognitive Behavior Therapy (CBT) efektif untuk meningkatkan self-esteem pada remaja yang memiliki self-esteem Hasil tersebut sesuai dengan penelitian sebelumnya mengenai studi kasus CBT yang dilakukan oleh McManus. Waite, dan Shafran . bahwa Cognitive Behavior Therapy (CBT) untuk self-esteem yang rendah efektif untuk membantu klien mereka. akhir intervensi, klien dalam penelitian tersebut tidak lagi menunjukkan kriteria diagnostik dari gangguan psikiatri, seperti kecemasan, depresi, dan self-esteem rendah. Terdapat beberapa faktor yang mendorong keberhasilan intervensi pada penelitian ini. Pertama. Wanders. Serra, dan de Jongh . menyatakan bahwa terapi atau intervensi yang dilakukan akan lebih efektif jika terapis sudah mengetahui klien secara lebih mendalam, tidak hanya pada saat sesi intervensi saja. Hal tersebut agar beberapa poin penting yang menjadi isu klien dapat kita dalami saat sesi terapi Pada penelitian ini, subjek penelitian merupakan klien peneliti di Klinik Terpadu Universitas Indonesia. Sebelum memberikan intervensi CBT kepada subjek, peneliti sudah memeriksa permasalahan subjek secara menyeluruh. Oleh karena itu, peneliti sudah mengetahui secara mendalam mengenai self-esteem rendah yang D alami dan kejadian atau hal-hal yang melatarbelakangi adanya permasalahan tersebut. Faktor kedua adalah sikap yang ditunjukkan oleh subjek selama menjalani intervensi. Pada penelitian ini. D menunjukkan sikap yang cukup kooperatif selama menjalani intervensi. D selalu mengerjakan tugas yang diberikan, baik tugas yang harus dikerjakan saat sesi intervensi berlangsung, maupun tugas yang harus dikerjakan di rumah. Walaupun demikian. D terkadang tidak datang tepat waktu ke tempat pelaksanaan intervensi, sehingga waktu pelaksanaan intervensi lebih lama. Faktor ketiga adalah klien yang menyadari bahwa ia memiliki masalah dan berkeinginan untuk menyelesaikan Pada penelitian ini. D sadar bahwa ia memiliki masalah, yaitu self-esteem rendah dan masalah tersebut sudah mengganggu kehidupannya. Ia pun berkomitmen untuk mengikuti sesi intervensi ini dengan baik. Faktor keempat adalah penyesuaian materi/modul CBT dan metode dengan karakteristik atau perkembangan remaja. Modul yang diberikan disesuaikan dengan Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Page I 131 Nafisa Alif Amalia. Rini Hildayani Volume 7. No. Desember 2018 acuan CBT dari Stallard . Metode yang ditampilkan diusahakan agar dapat menarik minat remaja untuk terlibat, seperti adanya role-play, contoh kasus, dan materi singkat. Faktor kelima, peran orang tua, yaitu ibu juga sangat penting terhadap intervensi ini. Hal tersebut karena salah satu sesi intervensi CBT ini melibatkan peran orang tua, yaitu psikoedukasi terkait dengan self-esteem anak. Pada penelitian ini, ibu dari D dapat kooperatif dengan hadir saat sesi dengan orang tua berlangsung. Selain adanya faktor yang mendukung pelaksanaan intervensi CBT ini, terdapat pula faktor yang menghambat efektivitas intervensi yang diberikan. Faktor penghambat tersebut adalah hubungan orang tua dengan anak. Pada penelitian ini, total skor global self-esteem dari kuesioner Coopersmith Self-esteem Inventory (CSEI) menunjukkan bahwa self-esteem D masih tetap rendah. Hal tersebut disebabkan karena menurunnya skor self-esteem secara drastis pada domain orang tua di rumah . , dari skor 5 . ke skor 0 . ost-tes. Pada saat pelaksanaan intervensi CBT, hubungan D dengan orang tuanya mengalami masalah karena orang tua akan bercerai. Berdasarkan hasil kuesioner CSEI dan wawancara, kondisi tersebut sangat memengaruhi D. Saat ini. D merasa bahwa ia dan orang tuanya tidak lagi bersenang-senang bersama, ia merasa mudah kesal/kecewa di rumah, dan orang tua tidak mempertimbangkan perasaannya. Selain itu. D juga merasa bahwa tidak ada yang memberi perhatian pada D di rumah dan orang tuanya tidak mengerti kondisi D saat ini. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Raboteg-ariN. Merka, dan MiljeviN . bahwa hubungan remaja dengan orang tua sangat berkontribusi terhadap global self-esteem pada remaja. Peran orang tua dalam kehidupan remaja sangat penting sebagai penentu global self-esteem mereka (Raboteg-ariN. Merka, dan MiljeviN, 2. Pada D, terjawab bahwa salah satu hal penting yang menyebabkan ia tetap memiliki global self-esteem yang rendah adalah karena adanya masalah dengan orang tua saat sesi intervensi CBT berlangsung. Simpulan Intervensi Cognitive Behavior Therapy (CBT) yang dilakukan pada penelitian ini terbukti efektif untuk meningkatkan self-esteem pada remaja yang menjadi subjek penelitian ini . nisial D, usia 13 tahun 8 bula. Hal tersebut spefisik pada sasaran CBT yang diberikan, yaitu self-esteem mengenai penampilan dan kemampuan akademik. Hasil menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pada skor Coopersmith Self-esteem Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 132 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Inventory (CSEI), yaitu pada domain sekolah dan general self-esteem. Terdapat beberapa hal yang mendukung proses intervensi ini, seperti terapis yang sudah memeriksa klien secara lebih mendalam, sikap kooperatif yang ditunjukkan klien, klien yang menyadari masalahnya, dan modul yang sesuai untuk D. Sementara itu, terdapat faktor penting yang menghambat meningkatnya global self-esteem D yaitu hubungan D dengan orang tuanya yang sedang mengalami masalah. Rekomendasi terhadap penelitian selanjutnya adalah sebaiknya intervensi CBT diberikan saat anak sedang tidak mengalami masalah lain di luar dari masalah/target CBT yang dilakukan. Referensi