Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. e-ISSN: x-x Praktik Guru Sekolah Minggu Dalam Mengajarkan Karakter Kristiani Pada Anak Ae Anak di Gereja Kota Blitar Lidya Cherish Septia1 . Drs. Fransiscus Xaverius Sri Sadewo. Si. Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Negeri Surabaya 21039@mhs. Abstract This study aims to identify the capital, habitus, and domain owned by Sunday school teachers in teaching Christian values in Blitar City Church. Using a qualitative approach and Pierre Bourdieu's Habitus theory, data were collected through observation and interviews with Sunday school teachers in two research locations. The results of the study show that capital, domain, and habitus greatly influence the effectiveness of teaching Christian character. Differences in traditional and modern methods and communication patterns show a variety of approaches influenced by the context of each Keywords: children, sunday school, christian character Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi modal, habitus, dan ranah yang dimiliki guru sekolah Minggu dalam mengajarkan nilai-nilai Kristiani di Gereja Kota Blitar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori Habitus Pierre Bourdieu, data dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada guru sekolah Minggu di dua lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan modal, ranah, dan habitus sangat mempengaruhi efektivitas pengajaran karakter Kristiani. Perbedaan metode tradisional dan modern serta pola komunikasi menunjukkan beragam pendekatan yang dipengaruhi oleh konteks masing-masing lokasi. Kata kunci: anak, sekolah minggu, karakter kristiani Pendahuluan Agama menjadi salah satu sumber nilai di dalam masyarakat. Agama sangat penting dalam menjaga tatanan kemasyarakatan. Di dalam sosiologi, sejumlah pakar telah memperhatikan dengan sungguh tentang peran agama di dalam masyarakat. Sosialisasi nilai-nilai agama diawali dari keluarga. Proses pengenalan nilai agama didalam keluarga sangatlah menentukan dalam pembentukan karakter pada anak. (Ndruru, 2. Keluarga dapat dimengerti sebagai kesatuan komunikasi dan interaksi yang dapat dilihat dari permainan peran oleh semua orang, baik itu sebagai pasangan suami dan istri, anak dan orang tua, ataupun dengan sanak saudara kita. Didalam keluarga Kristen, orang tua memiliki tugas untuk mengembangkan karakter serta mendidik anak. Orang tua menjadi pribadi yang memiliki peran lebih besar dalam kehidupan rumah tangga dan mampu menata tujuan karakter anak-anak. Pada dasarnya karakter anak terbangun melalui pola pengasuhan orang tua. Dengan orang tua memberikan perlakuan kepada anak dalam penuh cinta kasih, keserasian, dan pola pengasuhan yang benar, maka anak-anak juga pasti akan bertumbuh dalam nilai moral yang baik. (Prasanti & Fitriani, 2. Sejumlah pendidikan di Indonesia dikembangkan melalui pembelajaran nilai-nilai Pada umat Islam, di Indonesia ada TPQ, pesantren, kelompok pengajian, dan lain-lainnya. Pada umat Buddha, terdapat juga SMB atau Sekolah Minggu Buddha yang mengajarkan pendalaman karakter pada anak-anaknya. Sementara itu, pemeluk agama Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. e-ISSN: x-x Kristen ada sekolah Minggu yang didalamnya ada perencanaan pembelajaran, beragam keterampilan dalam menggunakan bermacam metode mengajar dan membangun hubungan secara intens dengan setiap murid. (Siswoyo, 2. Guru sekolah Minggu memiliki peran penting dalam menyebarkan nilai-nilai Kristiani. Pada tahun 1780. Robert Raikes, seorang wartawan dari Inggris, memulai gerakan yang melahirkan sekolah Minggu. Saat itu. Inggris mengalami krisis ekonomi, dan anak-anak harus bekerja dari Senin sampai Sabtu. Hari Minggu menjadi satu-satunya hari libur mereka, namun karena kurang pendidikan, anak-anak justru menjadi liar. Raikes prihatin melihat kondisi tersebut dan ingin mengubahnya. Ia lalu mengajak teman-temannya menjadi guru dan mulai mengajar anak-anak membaca Alkitab setiap Minggu. (Pattinama. Banyak kontribusi yang guru Sekolah Minggu dapat lakukan untuk membantu anak-anak mengatasi permasalahannya. Guru sekolah Minggu dapat menyediakan lingkungan yang baik dan positif, mendorong aktivitas fisik dan kreatif, mengajarkan anak-anak tentang keterampilan sosial dasar seperti berbagi, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik, serta mempererat kerja sama dengan pihak orang tua untuk mendukung perkembangan anak. Orang tua juga memiliki peranan yang penting dalam membentuk kebiasaan anak karena pola asuh berhubungan erat dengan sebuah keberhasilan. (Latifah, 2. Di era digital yang serba canggih, banyak anak mengalami kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan kerohanian karena terjebak dalam penggunaan gadget dan kurangnya perhatian dari orang tua. Kecanduan terhadap teknologi ini menyebabkan anak-anak menjauh dari nilai-nilai spiritual yang seharusnya dibentuk sejak dini. Sekolah Minggu hadir sebagai solusi untuk menjembatani kebutuhan kerohanian anak melalui pendekatan yang sesuai dan Guru Sekolah Minggu berperan penting sebagai pendidik informal dalam keluarga, yang membentuk karakter, sikap sosial, dan pandangan hidup anak. Dengan memahami peran guru informal dalam keluarga dari pandangan secara sosiologi, kita dapat melihat betapa pentingnya kontribusi mereka dalam pengembangan anak secara Guru sekolah Minggu tidak hanya membimbing dalam sosialisasi awal, tetapi juga memegang peran penting dalam membentuk karakter, keterampilan sosial, dan sikap anak terhadap dunia di sekitar mereka. Setiap anak lahir di dunia ini untuk mengantar impian yang besar bagi orang tuanya. Anak menjadi impian dan keyakinan bagi kedua orang tuanya untuk memiliki karakter serta sifat yang baik sesuai dengan harapan orang Selain mengajarkan nilai-nilai kerohanian, guru Sekolah Minggu juga membawa aktivitas kreatif untuk menunjang perkembangan anak secara holistik. Karena setiap gereja memiliki tantangan dan karakteristik yang berbeda, guru perlu bijak dalam menyesuaikan metode dan kebutuhan anak. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk membandingkan praktik pengajaran guru Sekolah Minggu di dua lokasi gereja berbeda di Kota Blitar. Tujuannya adalah untuk menemukan pendekatan yang paling efektif dalam membentuk karakter Kristiani anak sebagai generasi penerus gereja. Kajian Pustaka Sejarah Kekristenan di Indonesia Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. e-ISSN: x-x Di negara Indonesia, agama Kristen menjadi agama dengan jumlah pemeluk terbesar yang kedua setelah Islam. Di Indonesia pula agama Kristen hadir pertama kali pada abad ke-7 melalui gereja Assiria . agian dari Gereja Ortodoks di Timu. di dua wilayah yaitu Barus dan Pancur yang ada di Pulau Sumatra pada tahun 645 SM. Agama Kristen yang ditemui di wilayah Barus ini awalnya dibawa oleh para pedagang beragama Kristen Nestorian dari Persia atau Mesopotamia. (Sirait & Malau, 2. Dalam sejarahnya, agama Kristen hadir di kepulauan Maluku dibawa oleh seorang misionaris dari Ordo Yesuit bernama Fransiscus Xaverius. Fransiscus Xaverius melakukan pengajarannya dalam bentuk yang sederhana yaitu metode katekismus atau cara tanya jawab mengenai pengajaran Kristen dan doktrin agama Kristen. Di samping belajar bahasa Portugis. Fransiskus Xaverius juga mengajarkan hafalan Ae hafalan dalam agama Katolik dan Kristen. (Lauterboom, 2. Dengan berakhirnya masa kejayaan VOC di Indonesia, maka pada akhir abad ke-18 pemerintahan Belanda mengatur serta mengambil alih semua kegiatan dan urusan. Badan misi dan gereja juga diizinkan untuk membangun instansi pendidikan swasta di mana agama Kristen dapat diajarkan kepada anak-anak di sekolah tersebut. Dalam hal itu, sekolah Minggu juga berdiri dan membawa ciri khas Eropa didalamnya. Sekolah Minggu sebagai Ruang Habituasi Nilai-nilai Kristiani Sekolah Minggu adalah program yang berisikan tentang pendidikan agama yang biasanya diadakan di hari Minggu untuk anak-anak dan remaja di gereja. Tujuan utamanya adalah untuk mengajarkan nilai-nilai, ajaran, dan kisah-kisah dari agama Kristen dalam format yang sesuai dengan usia mereka. Selain pembelajaran tentang Alkitab, kegiatan di Sekolah Minggu sering kali melibatkan permainan, nyanyian, dan kerajinan tangan untuk membuat materi ajar lebih mudah dipahami dan menarik. (Handayani, 2. Pada sejarahnya. Sekolah Minggu pertama kali hadir di Inggris pada awal abad ke-19 yang menjadi respons terhadap kebutuhan membimbing anak-anak dari keluarga tunawisma atau tidak mampu yang tidak memperoleh sarana pendidikan formal. Inisiator awal dari konsep ini adalah Robert Raikes, seorang jurnalis dan pemimpin gereja dari Gloucester. Pada tahun 1780. Raikes mulai mengorganisasi kelas-kelas pendidikan hari Minggu di gereja-gereja untuk mengajarkan anak-anak membaca dan menulis sambil memperkenalkan mereka pada ajaran Kristen. (Pattinama, 2. Teori habitus Pierre Bourdieu menawarkan perspektif yang berguna untuk menganalisis bagaimana pendidikan religius di sekolah minggu membentuk perilaku, identitas, dan interaksi sosial anak-anak. Dengan memahami bagaimana habitus religius terbentuk dan diterapkan, kita dapat mencapai pengetahuan yang mendalam tentang dinamika pendidikan agama dan bagaimana nilai-nilai religius mempengaruhi kehidupan sehari-hari peserta Teori habitus, yang diperkenalkan oleh Pierre Bourdieu, merupakan salah satu konsep utama dalam sosiologi yang menjelaskan bagaimana individu berinteraksi dengan dan dipengaruhi oleh struktur sosial. Habitus merujuk pada sistem disposisi yang tertanam dalam diri individu melalui proses sosialiasi, yang memengaruhi cara mereka merasakan, berpikir, dan mengambil tindakan dalam kehidupan sehari-hari. (Krisdinanto, 2. Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. e-ISSN: x-x Guru Sekolah Minggu: antara Kepedulian dan Tanggung Jawab Menjadi guru sekolah Minggu adalah salah satu profesi atau jalan hidup dari sekian banyak tanggung jawab yang dimiliki oleh seseorang sebagai bentuk dari pengabdian di dalam gereja. Dalam pelaksanaannya, sekolah Minggu dinilai menjadi hal yang penting karena anak- anak akan diajarkan dan dibimbing untuk menumbuhkan karakter dan (Sopiana et al. , 2. Gembala dan orang tua mempunyai tanggung jawab serta peran yang besar atas penjaminan pendidikan anak. Sejatinya para guru sekolah minggu pun sesungguhnya memiliki peran serta tugas yang besar dalam mendidik anak. Tiap guru sekolah minggu seharusnya sadar bahwa Tuhan dengan keajaiban-Nya menciptakan anak-anak begitu unik dan banyak rupa. Tiap guru sekolah minggu seharusnya sadar bahwa Tuhan dengan keajaiban-Nya menciptakan anak-anak begitu unik dan banyak rupa. Mereka memiliki ciri khas masing-masing karena Tuhan telah menetapkan manusia sebagai ciptanNya yang Oleh sebab itu. Guru sekolah minggu harus cerdas, cermat, serta tidak boleh mengajarkan anak Ae anak seperti orang dewasa. (Bawole, 2. Guru sekolah minggu memegang peran dan tugas yang luar biasa dalam mengarahkan dan membangun keimanan anak-anak agar dapat hidup sebagai pribadi yang teguh secara Mereka berinteraksi dengan setiap anak secara rutin dan mendalam, membuat peran dan memberi dampak yang berarti dalam membina nilai-nilai dan sikap anak-anak terhadap kehidupan dan iman Kristiani. Membimbing anak-anak di sekolah minggu memang merupakan tugas yang tidak muda. Guru sekolah minggu perlu memahami gaya belajar anak-anak untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin muncul selama proses pembelajaran. Pekerjaan ini memerlukan kesabaran, ketekunan, dan kerelaan, dan dapat dianggap sebagai bentuk pengorbanan dalam membentuk nilai karakter anak melalui pengajaran di sekolah Minggu. (Babawat, 2. Media Pembelajaran Sekolah Minggu Media dapat dijadikan sebagai alat pembantu yang bermanfaat di dunia pendidikan dalam tiap proses pembelajaran. Wawasan kerohanian tentang Alkitab menjadi hal yang fundamental dan harus dipupuk sejak dini. Didalam Alkitab terkandung nilai moral yang berfungsi bagi kehidupan sehari Ae hari sehingga melalui wawasan kerohanian yang tepat maka dalam kehidupan kerohanian anak tersebut akan berkembang dan memberi arahan anak agar mempunyai watak hidup serta karakter yang baik. (Ilat et al. , 2. Media dapat dijadikan sebagai alat pembantu yang bermanfaat di dunia pendidikan dalam tiap proses pembelajaran. Guru sekolah Minggu harus bijaksana dalam memilih metode yang harus ia lakukan dalam membimbing Firman Tuhan kepada anak - anak Sekolah Minggu. Cerita yang dibawakan oleh guru tidak akan tersalurkan dengan baik kepada Anak Sekolah Minggu, jika cerita tersebut membosankan. Ini akan membantu Guru Sekolah Minggu dalam memberi pengajaran kepada anak Ae anak. (Budianto, 2. Media pembelajaran Sekolah Minggu berperan penting dalam membantu guru menyampaikan materi secara menarik dan efektif. Berbagai media seperti alat peraga fisik, buku cerita, video, permainan edukatif, dan musik membantu anak-anak memahami cerita dan nilai-nilai Alkitab dengan lebih mudah. Media digital seperti aplikasi interaktif juga semakin populer karena menyajikan pembelajaran yang dinamis dan sesuai zaman. Kegiatan kerajinan tangan menambah keterlibatan anak secara kreatif dan memperkuat Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. e-ISSN: x-x pemahaman materi. Dengan memanfaatkan berbagai media ini, proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan bermakna bagi anak-anak. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan berdasarkan perspektif teori habitus Pierre Bourdieu. Peneliti menjadi instrumen utama, terlibat langsung di lapangan, dan menggunakan data deskriptif seperti catatan lapangan, wawancara, serta dokumentasi Dalam pendekatan etnografi, peneliti mengamati dan ikut serta dalam kehidupan kelompok sosial untuk menggali budaya, nilai, dan perilaku mereka secara menyeluruh. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi partisipatif, dan dokumentasi yang divalidasi dengan metode triangulasi untuk meningkatkan keandalan Sumber data terdiri dari data primer yang dikumpulkan langsung dari komunitas yang diteliti dan data sekunder berupa dokumen pendukung dari pihak lain. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan struktural genesis berdasarkan konsep Pierre Bourdieu yang melibatkan lima aspek: habitus, modal, lapangan . , relasionalitas, dan Habitus mencerminkan nilai dan kebiasaan individu yang memengaruhi tindakan mereka, sedangkan modal terdiri dari kekayaan, pendidikan, relasi sosial, dan simbolik yang menentukan posisi seseorang dalam masyarakat. Lapangan menjadi arena sosial tempat individu dan kelompok bersaing menggunakan modal yang dimiliki. Relasionalitas menunjukkan pentingnya hubungan antara individu dan institusi dalam struktur sosial. Sejarah juga berperan penting karena memberikan konteks atas dinamika sosial yang sedang diteliti. Hasil dan Pembahasan Modal Guru Sekolah Minggu Di lokasi pertama, sebagian besar guru Sekolah Minggu adalah lulusan SMA dan memiliki usaha kecil di rumah, menunjukkan modal pendidikan rendah namun dengan modal sosial yang kuat. Mereka menjalin hubungan erat dengan orang tua murid melalui kunjungan rutin dan menerapkan WPDA (Waktu Pribadi Dengan Alla. dalam keseharian. Metode pengajaran yang digunakan bersifat tradisional seperti bercerita, gambar, dan tanya jawab, disesuaikan dengan karakter anak-anak yang visual dan interaktif. Untuk pengembangan diri, mereka aktif mengikuti pelatihan antar gereja dan mencari referensi melalui YouTube. Meskipun terbatas secara akademis, mereka berkomitmen tinggi dalam mendidik anak-anak sesuai konteks gereja masing-masing. Sebaliknya, guru Sekolah Minggu di lokasi kedua rata-rata adalah lulusan sarjana dan berprofesi sebagai guru, sehingga memiliki modal pendidikan yang lebih tinggi. Mereka lebih mengandalkan teknologi, seperti WhatsApp group, untuk berkomunikasi dengan orang tua. Metode yang digunakan lebih modern dengan memanfaatkan media digital seperti animasi dan ilustrasi interaktif. Guru-guru di lokasi ini juga aktif mengikuti pelatihan dari organisasi profesional di luar gereja. Perbedaan dalam latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan pendekatan menghasilkan gaya mengajar yang berbeda, meskipun tujuannya sama yaitu membentuk karakter Kristiani pada anak-anak. Lokasi Pertama Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. Pendidikan Ekonomi Sosial Kreativitas Pengembangan Diri e-ISSN: x-x Rata Ae rata adalah lulusan Sekolah Menengah Atas Rata Ae rata membuka usaha kecil Ae kecilan di rumah Memiliki hubungan yang baik dengan orang tua anak guru Sekolah Minggu, melakukan kunjungan rutin, dan konsep WPDA Metode bercerita, ilustrasi gambar, tanya jawab Mengikuti pelatihan antar gereja, refrensi YouTube Lokasi Kedua Semuanya adalah lulusan sarjana Perguruan Tinggi Rata Ae rata menjadi guru, ada yang menjadi ibu rumah Memiliki hubungan yang baik dengan orang tua anak Sosial guru Sekolah Minggu, membentuk grup WhatssApp dengan orang tua Metode ilustrasi animasi bergerak, drama. SuperBook Kreativitas Pengembangan Mengikuti pelatihan yang diadakan oleh organisasi gereja, refrrensi YouTube Diri Pendidikan Ekonomi Habitus Guru Sekolah Minggu Di lokasi pertama, guru Sekolah Minggu menunjukkan habitus yang tradisional namun kreatif, dengan metode pengajaran yang disesuaikan secara fleksibel terhadap kebutuhan anak-anak. Mereka menggunakan cerita religius, permainan, dan ilustrasi untuk membuat pembelajaran lebih menarik. Hubungan antar guru sangat dekat dan personal karena jumlah guru yang sedikit dan interaksi yang intens. Mereka sering berdiskusi, berbagi pengalaman, dan saling mendukung, menciptakan suasana kolaboratif yang memperkuat kualitas pengajaran. Pendekatan ini memungkinkan pertukaran ide secara bebas dan membangun dukungan kolektif yang kuat. Sebaliknya, di lokasi kedua, guru-guru memiliki habitus yang lebih modern dan terorganisir dalam pendekatan mengajar. Mereka memanfaatkan teknologi seperti video, animasi, dan aplikasi digital untuk menyampaikan materi secara inovatif. Pengajaran dilakukan secara sistematis dengan materi yang sudah dirancang sebelumnya. Meskipun hubungan antar guru tetap baik, interaksi mereka lebih formal dan terbatas karena jumlah anak yang lebih banyak dan tugas yang lebih spesifik. Hubungan di antara guru lebih berfokus pada efisiensi kerja, dengan pembagian peran yang jelas dan terstruktur. Lokasi pertama Gereja kecil Pola struktur 10 guru dengan 30 anak Pola populasi Pola pendekatan Pendekatan kreatif dalam Memiliki hubungan yang Pola interaksi intens antar satu guru dengan guru lainnya Lokasi kedua Gereja besar 30 guru dengan 200 anak Pendekatan digital dan modern dalam mengajar Memiliki hubungan yang dekat tapi sewajarnya saja karena anak Ae anak yang jumlahnya banyak Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. Pola gaya hidup e-ISSN: x-x Latar belakang pekerjaan yang sederhana Latar belakang pekerjaan rata Ae rata menjadi guru Ranah Guru Sekolah Minggu Di lokasi pertama, ranah Sekolah Minggu bersifat fleksibel tanpa batasan waktu yang ketat, sehingga kegiatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak. Guru bebas menentukan durasi dan metode pengajaran, memungkinkan penggunaan pendekatan kreatif seperti cerita, permainan, dan aktivitas spontan. Kebebasan ini memberi ruang untuk menyesuaikan pelajaran dengan kondisi anak secara alami dan tanpa tekanan. Fleksibilitas tersebut juga memungkinkan guru mengatur alur pembelajaran lebih dinamis dan responsif terhadap situasi di lapangan. Sebaliknya, di lokasi kedua, ranah Sekolah Minggu lebih terstruktur dan dibatasi oleh jadwal ibadah gereja. Durasi pengajaran terbatas, karena harus menyesuaikan dengan sesi ibadah raya yang berlangsung setelahnya. Guru diwajibkan mengikuti jadwal dan materi ajar yang telah disusun secara sistematis. Meski struktur ini membantu menjaga keteraturan, keterbatasan waktu membuat guru sulit berimprovisasi dan harus fokus pada penyampaian materi sesuai Aturan waktu Aturan dalam Aturan materi Lokasi pertama Sekolah Minggu tidak terbatas oleh waktu, lebih Tidak ada aturan yang Jadwal materi pengajaran cenderung spontan Lokasi kedua Sekolah Minggu terbatas oleh waktu Terdapat aturan dalam Jadwal materi pengajaran yang tertulis Praktik Sosial Guru Sekolah Minggu Di lokasi pertama, praktik sosial guru Sekolah Minggu bersifat tradisional dengan metode pengajaran konvensional seperti bercerita, ilustrasi gambar, dan tanya jawab. Hubungan guru dengan anak-anak dan orang tua terjalin secara personal melalui kunjungan rutin ke rumah. Kunjungan ini memungkinkan guru memahami kondisi keluarga, mendiskusikan tantangan pembelajaran, dan memperkuat ikatan sosial. Pola interaksi yang dibangun bersifat langsung dan berbasis hubungan pribadi yang erat. Sebaliknya, di lokasi kedua, praktik sosial lebih modern dan terstruktur dengan memanfaatkan teknologi dalam pengajaran dan komunikasi. Guru menggunakan media digital seperti animasi dan ilustrasi interaktif untuk menarik perhatian anak. Komunikasi dengan orang tua dilakukan melalui WhatsApp group sebagai sarana utama berbagi informasi dan jadwal kegiatan. Pola ini mencerminkan pendekatan yang lebih praktis dan sistematis, dengan interaksi yang cepat namun kurang personal dibandingkan lokasi pertama. Pola pengajaran Lokasi pertama Pola pengajaran Lokasi kedua Pola pengajaran lebih modern Paradigma. Volume 14. Number 1, 2025, pp. Pola komunikasi dengan orang tua dan anak Pola analisis Kristiani Praktik e-ISSN: x-x Kunjungan secara rutin Komunikasi via WhatssApp Tanggung kemurahan hati, kesetiaan, dan Melalui tugas WPDA, diskusi kelompok kecil, dan praktik Damai sejahtera, pengampunan, dan karakter lainnya Melalui drama live oleh guru Sekolah Minggu, animasi SuperBook, dan animasi bergerak Kesimpulan Praktik guru Sekolah Minggu di dua gereja Kota Blitar menunjukkan bahwa pengajaran karakter Kristiani dipengaruhi oleh modal, ranah . , dan habitus guru. Modal yang dimiliki mencakup pelatihan rutin, pencarian referensi, serta penggunaan metode kreatif dan sesuai kebutuhan anak. Ranah atau konteks gereja menuntut guru untuk menyesuaikan pendekatan agar tercipta pola pembelajaran yang efektif. Perbedaan habitus terlihat dari metode tradisional di satu lokasi dan pendekatan modern berbasis digital di lokasi lain. Hubungan guru dengan orang tua pun bervariasi, dari kunjungan langsung hingga komunikasi melalui WhatsApp yang tetap dimanfaatkan secara optimal. Daftar Pustaka