Volume 18 No. 1 (November 2. , pp. 74-86 | ISSN 2541-1760 . | ISSN 1907-3984 . Jurnal Akademika http://ojs. id/index. php/arcitech/article/view/x. DOI: https://doi. org/10. 53564/6w0a4245 Analisis Ketahanan Kombinasi Teknik Kriptografi Rail Fence dan Vigenere Cipher Terhadap Serangan Brute-Force Menggunakan Pemrograman Python Aulia Rachmawati 1. Yandi Anzari 2. Muhammad Damas Fatih 3. Pariyadi 4 1,2,3,4 Program Studi Sistem Informasi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Jambi. Jambi. Indonesia Email: 1auliarachmawati@unja. id , 2yandi. anzari@unja. id, 3muhammaddamasfatih@unja. 4pariyadi@unja. Article Information Article history: Received 14 October 2025 Revised 04 November 2025 Accepted 07 November 2025 Available 29 November 2025 Keywords Algorithms Kriptografi Rail Fence cipher Vigenere cipher Brute-Force Abstract Data is an essential asset that must be protected due to its strategic role in maintaining the continuity of information systems. Therefore, data security becomes a crucial aspect in information management. One of the approaches to ensure data security is through the application of cryptographic techniques. Two commonly used classical cryptographic algorithms are the Rail Fence Cipher and the Vigenere Cipher. However, the use of a single algorithm has weaknesses, as it remains vulnerable to brute-force attacks. This study aims to combine two cryptographic methods, namely the transposition technique (Rail Fenc. and the substitution technique (Vigener. , to enhance resistance against brute-force attacks. The research employs an experimental method by implementing the combined algorithms using the Python programming language. Testing was conducted on three scenarios: encryption using Rail Fence. Vigenyre, and their combination. The results show that the combined algorithm increases key space and produces more complex character distribution patterns, thereby improving security against brute-force attacks. Keywords: Algorithms. Brute-Force. Kriptografi. Rail Fence Cipher. Vigenere cipher Abstrak Corresponding Author: Aulia Rachmawati. Program Studi Sistem Informasi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Jambi, auliarachmawati@unja. Data merupakan aset penting yang harus dilindungi karena memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan suatu sistem informasi. Oleh karena itu, keamanan data menjadi aspek yang sangat krusial dalam pengelolaan Salah satu upaya untuk menjaga keamanan data adalah melalui penerapan teknik kriptografi. Dua di antara algoritma kriptografi klasik yang umum digunakan adalah Rail Fence Cipher dan Vigenere Cipher. Namun, penggunaan algoritma tunggal masih memiliki kelemahan karena rentan terhadap serangan brute-force. Penelitian ini bertujuan untuk mengkombinasikan dua metode kriptografi, yaitu teknik transposisi (Rail Fenc. dan teknik substitusi (Vigener. , guna meningkatkan ketahanan terhadap serangan brute-force. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan implementasi algoritma menggunakan bahasa pemrograman Python. Pengujian dilakukan pada tiga skenario, yaitu enkripsi dengan Rail Fence. Vigenere, dan kombinasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kedua algoritma tersebut mampu memperluas ruang kunci dan menghasilkan pola distribusi karakter yang lebih kompleks sehingga meningkatkan keamanan terhadap serangan brute-force. Kata Kunci: Algoritma. Brute-Force. Kriptografi. Rail Fence Cipher. Vigenere cipher Copyright@2025 Aulia Rachmawati. Yandi Anzari. Muhammad Damas Fatih and Pariyadi This is an open access article under the CC-BY-NC-SA license. Journal homepage: http://ojs. id/index. php/akademika Jurnal Akademika ISSN 2541-1760 . | ISSN 1907-3984 . A 75 Pendahuluan Perkembangan sistem informasi yang semakin pesat pada era digital mendorong pemanfaatan teknologi secara luas. Peningkatan intensitas penggunaan data dan informasi menjadikan aspek keamanan sebagai faktor krusial yang tidak dapat diabaikan, hal ini dikarenakan data merupakan aset berharga dalam suatu sistem informasi . Data memiliki peran fundamental dalam mendukung keberlangsungan suatu organisasi maupun bisnis, sehingga memerlukan perlindungan yang optimal. Dalam konteks keamanan data, terdapat tiga elemen utama yang harus diperhatikan, yaitu Confidentiality . Integrity . , dan Availability . Kemudahan akses terhadap data dan informasi yang disediakan oleh perkembangan teknologi tentu menimbulkan potensi risiko, salah satunya adalah permasalahan terkait keamanan data . Oleh karena itu, diperlukan suatu teknik pengamanan data yang mampu memenuhi prinsip-prinsip keamanan tersebut. Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah menjaga aspek kerahasiaan data melalui penerapan kriptografi . Kriptografi merupakan disiplin ilmu yang bertujuan untuk melindungi informasi dengan cara mengacak pesan sehingga tidak dapat dipahami oleh pihak yang tidak berwenang . Secara umum, terdapat dua jenis algoritma klasik yang populer digunakan, yaitu algoritma dengan teknik transposisi dan algoritma dengan teknik substitusi . Teknik transposisi bekerja dengan cara menyandikan pesan melalui pengubahan posisi atau urutan karakter dalam plaintext . eks asl. tanpa mengganti karakter itu sendiri . Pada teknik ini, huruf-huruf plaintext tetap dipertahankan, tetapi disusun kembali mengikuti pola tertentu sehingga menghasilkan ciphertext . eks tersand. yang sulit dipahami tanpa mengetahui aturan transposisi yang digunakan. Salah satu contoh dari teknik ini adalah Rail Fence Cipher. Sebaliknya, teknik substitusi bekerja dengan cara mengganti setiap karakter, huruf, atau kelompok simbol dalam plaintext dengan karakter lain sesuai aturan tertentu . Prinsip utama teknik ini adalah pemetaan satu-ke-satu antara elemen plaintext ke dalam ciphertext, sehingga pesan menjadi sulit dipahami tanpa mengetahui kunci substitusi yang digunakan. Salah satu contoh metode substitusi yang terkenal adalah Vigenere Cipher. Meskipun kedua teknik ini memberikan dasar yang baik dalam penyandian pesan, algoritma kriptografi klasik masih relatif rentan terhadap serangan kriptanalisis, khususnya serangan brute-force. Serangan brute-force merupakan metode yang mencoba memecahkan skema enkripsi dengan cara melakukan pengujian sistematis terhadap seluruh kemungkinan kunci hingga kunci yang benar ditemukan . Penelitian . menyebutkan bahwa Rail Fence Cipher memiliki kelemahan terhadap serangan brute-force karena tidak melakukan perubahan terhadap karakter plaintext, melainkan hanya memodifikasi susunannya. Hal ini mengakibatkan pola frekuensi karakter plaintext tetap terlihat dalam ciphertext, sehingga mempermudah proses analisis Oleh karena itu, diperlukan modifikasi dengan memadukan beberapa metode dari algoritma klasik lain, untuk meningkatkan keamanan dan menguatkan hasil enkripsi agar lebih sulit ditembus menggunakan teknik brute-force . Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengusulkan kombinasi teknik kriptografi Rail Fence Cipher dan Vigenere Cipher serta menganalisis tingkat ketahanan kombinasi tersebut terhadap serangan brute-force. Kebaruan . dari penelitian ini terletak pada pendekatan hibridisasi algoritma kriptografi klasik yang menggabungkan metode Analisis Ketahanan Kombinasi Teknik Kriptografi Rail Fence dan Vigenere Cipher Terhadap Serangan Brute-Force Menggnakan Pemrograman Python (Aulia Rachmawat. A DOI https://doi. org/10. 53564/6w0a424510. 29240/arcite ISSN 2541-1760 . | ISSN 1907-3984 . transposisi (Rail Fenc. dengan metode substitusi (Vigener. Kombinasi ini diharapkan dapat meminimalisasi kelemahan masing-masing teknik ketika digunakan secara terpisah, sehingga mampu menghasilkan ciphertext dengan pola distribusi karakter yang lebih kompleks dan meningkatkan ketahanan terhadap serangan brute-force. Kajian Terdahulu Penerapan Rail Fence bergantung pada sebuah kunci berupa jumlah baris yang digunakan untuk membagi teks asli . Pola kriptografi Rail Fence diilustrasikan pada Gambar 1. Gambar 1. Pola Rail Fence dengan 3 rails . Pada gambar di atas, teknik enkripsi model Rail Fence plaintext disusun kebawah secara diagonal sampai bawah sesuai dengan rails yang telah ditentukan dan kemudian disusun keatas dengan pola yang sama sampai ke rails paling atas. Pola tersebut diulang sampai semua karakter pada plaintext masuk ke dalam rails. Setelah menerapkan pola tersebut, ciphertext dihasilkan dengan cara membaca karakter dari kiri ke kanan dari setiap baris rails dimulai dari rails paling atas . Di lain sisi. Proses enkripsi Vigenere dilakukan dengan menggunakan sebuah kata kunci . untuk menentukan pergeseran huruf pada teks asli . Setiap huruf dalam teks dienkripsi berdasarkan huruf yang sesuai pada kunci, sehingga menghasilkan teks sandi . yang tampak acak . Teknik kriptografi Vigenere diilustrasikan pada gambar 2. Gambar 2. Tabel Pemetaan Enkripsi Vigenere Cipher . Pada gambar di atas. Vigenere mengenkripsi plainteks pada pesan dengan cara menggeser huruf pada pesan tersebut sejauh nilai kunci pada deret alphabet. Vigenere cipher adalah salah satu algoritma kriptografi klasik yang menggunakan metod substitusi abjadmajemuk. Substitusi abjad-majemuk mengenkripsi setiap huruf yang ada menggunakan kunci yang berbeda. Namun, penggunaan satu algoritma memiliki kelemahan dalam hal keamanan karena struktur dan Jurnal Akademika. Volume 18 No. 1 (November 2. , pp. 74 - 86 Jurnal Akademika ISSN 2541-1760 . | ISSN 1907-3984 . A 77 polanya yang sederhana. Pola enkripsi yang mudah diprediksi membuat algoritma ini rentan terhadap serangan brute-force . Beberapa penelitian terkait telah dilakukan untuk meningkatkan keamanan data melalui kombinasi algoritma. Penelitian . mengevaluasi algoritma Rail Fence dan Vigenere dengan menggunakan metode evaluasi uji internal algortima menggunakan avalanche effect. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi keduanya dapat mendeteksi perubahan kecil pada input sehingga meningkatkan keamanan data dari sisi integrity. Penelitian . mengevaluasi Rail Fence dan steganografi LSB untuk melindungi file gambar. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi keduanya mampu mengamankan data yang tersembunyi pada gambar dan proses enkripsi dan deskripsinya relatif stabil. Penelitian . mengevaluasi Rail Fence dan Vernam Cipher pada perangkat IoT, menunjukkan efisiensi memori untuk proses enkripsi dan deskripsi. Penelitian . mengevaluasi One Time Pad Cipher dan transformasi Rail Fence untuk komunikasi teks, sementara penelitian . mengkombinasikan Vigenere dengan Caesar untuk mengamankan pesan teks. Di lain sisi, penelitian . menggabungkan Vigenere dan RSA guna meningkatkan keamanan sekaligus mempercepat enkripsi. Lalu penelitian . mengkombinasikan Vigenere dengan polybus untuk meningkatkan keamanan data. Namun, berdasarkan hasil literatur penelitian terdahulu, penelitian masih berfokus pada pengamanan data, padahal pengujian ketahanan teknik kriptografi baik internal maupun eksternal juga diperlukan. Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan untuk menggunakan kombinasi teknik kriptografi rail fence dan Vigenere untuk mengamankan data dan menganalisis ketahanan kombinasi teknik kriptografi tersebut menggunakan uji eksternal seperti brute-force. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Metode eksperimen adalah metode yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap dampaknya dalam kondisi yang terkendalikan . Penelitian ini menerapkan kerangka kerja untuk menganalisis ketahanan kombinasi teknik kriptografi Rail Fence dan Vigenere cipher terhadap serangan brute-force. Environtment untuk melakukan penelitian yaitu menggunakan python. Python merupakan bahasa pemrograman tingkat tinggi yang mudah dipelajari, bersifat fleksibel, dan digunakan luas dalam berbagai bidang seperti pengembangan web, kecerdasan buatan, dan keamanan siber . Kerangka kerja penelitian dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Kerangka Kerja Penelitian Kerangka kerja penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap, yang pertama melakukan analisis keamanan pada metode Rail Fence, tahap kedua analisis keamanan Vigenere. Terakhir analisis Analisis Ketahanan Kombinasi Teknik Kriptografi Rail Fence dan Vigenere Cipher Terhadap Serangan Brute-Force Menggnakan Pemrograman Python (Aulia Rachmawat. A DOI https://doi. org/10. 53564/6w0a424510. 29240/arcite ISSN 2541-1760 . | ISSN 1907-3984 . keamanan kombinasi Rail Fence Vigenere menggunakan teknik serangan brute-force. Masingmasing tahap dijelaskan pada paragraph berikut: Analisis Keamanan Rail Fence Pada tahap ini pesan teks akan dienkripsi menggunakan Rail Fence, dengan 3 Rails. Contoh pesan yang akan dienkripsi AuHARIMAUAy. Cara kerja enkripsi Rail Fence sebagai Plaintext: AuHARIMAUAy Rails: 3 Rail 1 Rail 2 Rail 3 Rail 1 Rail 2 Rail 3 Ciphertext: Dari proses di atas didapatkan ciphertext untuk pesan AuHarimauAy yaitu AuHMAIARUAy. Hal ini dikarenakan pembacaan teks sesuai arah panah berwarna biru. Hasil ciphertext ini nantinya akan di uji menggunakan brute-force. Uji serangan brute-force pada penelitian ini akan dilakukan menggunakan bahasa pemrograman python. Analisis Keamanan Vigenere Pada tahap ini pesan teks akan dienkripsi menggunakan Vigenere, dengan 3 kunci. Contoh pesan yang akan dienkripsi AuKUCINGAy. Cara kerja enkripsi Vigenere sebagai berikut: Plaintext: AuKUCINGAy Kunci: MBI Ciphertext: Plaintext Tabel 1. Proses Enkripsi menggunakan Vigenere Kunci K Penjumlahan (P K) . P K 10 12 = 22 22 20 1 = 21 2 8 = 10 8 12 = 20 13 1 = 14 6 8 = 14 Cipher Dari tabel di atas didapatkan ciphertext untuk pesan AuKucingAy yaitu AuWVKUOOAy. Hal ini dikarenakan setiap huruf pada plaintext dienkripsi dengan cara menambahkan nilai huruf kunci sesuai tabel Vigenere secara modulo 26, sehingga setiap huruf pada pesan asli mengalami Jurnal Akademika. Volume 18 No. 1 (November 2. , pp. 74 - 86 Jurnal Akademika ISSN 2541-1760 . | ISSN 1907-3984 . A 79 pergeseran berbeda-beda berdasarkan nilai huruf pada kuncinya. Hasil ciphertext ini nantinya akan di uji menggunakan brute-force. 3 Evaluasi Keamanan Rail Fence Vigenere Pada tahap ini pesan akan di enkripsi menggunakan kombinasi algoritma rail fence dan menggunakan algortima Vigenere. Ilustrasi tahap ini ditunjukkan pada gambar 4. Gambar 4. Evaluasi Keamanan Rail Fence Vigenere Pada gambar di atas, enkripsi tidak dilakukan secara terpisah, melainkan dalam satu Hasil ciphertext dari kombinasi teknik kemudian akan di evaluasi dengan uji eksternal menggunakan serangan brute-force. Hasil uji kemudian dianalisis. Uji serangan brute-force menggunakan bahasa pemrograman python. Hasil dan Pembahasan Dalam penelitian ini, peneliti menganalis penggunaan kombinasi teknik kriptografi Rail Fence dengan Vigenere untuk pengamanan data. Selain itu, penelitian ini juga menguji ketahanan kombinasi teknik kriptografi yang digunakan dengan uji serangan brute-force. Pada bagian ini peneliti akan menyajikan perbandingan hasil uji serangan brute-force terhadap teknik kriptogari Rail Fence, hasil uji serangan brute-force terhadap kombinasi Vigenere dan hasil uji serangan bruteforce terhadap kombinasi Rail Fence Vigenere. Pengujian ini dilakukan menggunakan laptop Asus X505Z dengan spesifikasi RAM 12GB HDD 1TB. Selain itu, pengujian dilakukan menggunakan bahasa pemrograman python versi 3. 0 dengan editor Jupyter notebook. library python yang digunakan pada pengujian yaitu library time yang berfungsi untuk mencatat waktu secara real-time pada saat proses berjalan. Uji Serangan brute-force terhadap Rail Fence Pada tahap ini plaintext yang digunakan adalah AuDo not Spill the teaAy. Dalam melakukan enkripsi menggunakan Rail Fence, rails yang digunakan sebanyak 3 rails. Proses enkripsi menggunakan bahasa pemrograman python. Adapun hasil enkripsi untuk plaintext di atas menggunakan Rail Fence ditunjukkan pada gambar 5. Analisis Ketahanan Kombinasi Teknik Kriptografi Rail Fence dan Vigenere Cipher Terhadap Serangan Brute-Force Menggnakan Pemrograman Python (Aulia Rachmawat. A DOI https://doi. org/10. 53564/6w0a424510. 29240/arcite ISSN 2541-1760 . | ISSN 1907-3984 . Gambar 5. Hasil Enkripsi menggunakan Rail Fence Dari hasil di atas, ciphertext untuk pesan AuDo not Spill the teaAy adalah Dop ontSilteta Adapun waktu enkripsi yang digunakan dalam melakukan enkripsi pada metode Rail Fence, yaitu 0. 018 millisecond. Hasil ciphertext ini kemudian di uji menggunakan uji eksternal menggunakan brute-force. Dalam melakukan uji serangan brute-force penelitian ini menggunakan bahasa pemrograman python. Hasil uji serangan brute-force dapat dilihat pada gambar 6. Gambar 6. Hasil Uji serangan brute-force pada ciphertext Rail Fence . 000 percobaan . Berdasarkan hasil pada gambar di atas, proses brute-force dilakukan 10. 000 percobaan 000 percobaan terhadap ciphertext yang dienkripsi menggunakan metode Rail Fence memerlukan waktu sekitar 0,1 milisecond untuk melakukan dekripsi. Hal tersebut disebabkan karena jumlah rails pada algoritma Rail Fence hanya memiliki panjang satu huruf (Ao1Ao. Ao2Ao. Ao3A. , sehingga ruang kunci . ey spac. yang harus diuji relatif kecil. Akibatnya, proses penemuan kunci melalui serangan brute-force dapat dilakukan dengan lebih cepat. Jurnal Akademika. Volume 18 No. 1 (November 2. , pp. 74 - 86 Jurnal Akademika ISSN 2541-1760 . | ISSN 1907-3984 . A 81 Uji Serangan brute-force terhadap Vigenere Pada tahap ini plaintext yang digunakan adalah AuDo not Spill the teaAy. Dalam melakukan enkripsi menggunakan Vigenere, key yang digunakan sebanyak 3 key yaitu AugxtAy. Proses enkripsi menggunakan bahasa pemrograman python. Adapun hasil enkripsi untuk plaintext di atas menggunakan Vigenere ditunjukkan pada gambar 7. Gambar 7. Hasil Enkripsi Menggunakan Vigenere Dari hasil di atas, ciphertext untuk pesan AuDo not Spill the teaAy adalah Jl guq Lvfer qak Adapun waktu enkripsi yang digunakan dalam melakukan enkripsi pada metode Vigenere, 000 millisecond. Hasil ciphertext ini kemudian di uji menggunakan uji eksternal menggunakan brute-force. Dalam melakukan uji serangan brute-force penelitian ini menggunakan bahasa pemrograman python. Hasil uji serangan brute-force dapat dilihat pada gambar 8. Gambar 8. Hasil Uji serangan brute-force pada ciphertext Vigenere . 000 percobaan . Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada gambar di atas, proses brute-force terhadap ciphertext yang dienkripsi dengan algoritma Vigenere memerlukan waktu sekitar 0. Analisis Ketahanan Kombinasi Teknik Kriptografi Rail Fence dan Vigenere Cipher Terhadap Serangan Brute-Force Menggnakan Pemrograman Python (Aulia Rachmawat. A DOI https://doi. org/10. 53564/6w0a424510. 29240/arcite ISSN 2541-1760 . | ISSN 1907-3984 . milisecond untuk 10. 000 percobaan dan 0,062 milisecond untuk 100. 000 percobaan dalam menyelesaikan dekripsi. Waktu tersebut menunjukkan bahwa kompleksitas pencarian kunci pada kasus ini relatif rendah, sehingga proses dekripsi dapat dilakukan dengan sangat cepat. Walaupun demikian, proses penemuan kunci melalui serangan brute-force pada Vigenere sedikit lebih lama dibandingkan dengan metode Rail Fence. Hal ini dikarenakan proses enkripsi dan dekripsi pada algoritma Vigenere melibatkan operasi substitusi berdasarkan nilai kunci huruf demi huruf, sedangkan pada metode Rail Fence hanya melibatkan proses transposisi posisi karakter tanpa perhitungan numerik tambahan. Uji Serangan brute-force terhadap Rail Fence Vigenere Pada tahap ini plaintext yang digunakan adalah AuDo not Spill the teaAy. Dalam melakukan enkripsi menggunakan kombinasi teknik kriptografi Rail Fence Vigenere, rails untuk Rail Fence menggunakan 3 rails sedangkan key yang digunakan untuk enkripsi Vigenere merupakan hasil dari enkripsi Rail Fence. Proses enkripsi menggunakan bahasa pemrograman Adapun hasil enkripsi untuk plaintext di atas menggunakan kombinasi Rail Fence Vigenere ditunjukkan pada gambar 9. Gambar 9. Hasil Uji serangan brute-force pada ciphertext Vigenere Dari hasil di atas, ciphertext untuk pesan AuDo not Spill the teaAy adalah gh ysh ghqws mhr ixe. Adapun waktu enkripsi yang digunakan dalam melakukan enkripsi pada metode kombinasi Rail Fence Vigenere, yaitu 0. 000 millisecond. Dari gambar di atas, kunci yang digunakan untuk enkripsi vigenere diambil dari hasil enkripsi Rail Fence. Hasil akhir ciphertext dari kombinasi ini kemudian di uji menggunakan uji eksternal menggunakan brute-force. Dalam melakukan uji serangan brute-force penelitian ini menggunakan bahasa pemrograman python. Hasil uji serangan brute-force dapat dilihat pada gambar 10. Jurnal Akademika. Volume 18 No. 1 (November 2. , pp. 74 - 86 Jurnal Akademika ISSN 2541-1760 . | ISSN 1907-3984 . A 83 . Gambar 10. Hasil Uji serangan brute-force pada ciphertext kombinasi Rail Fence Vigenere . percobaan, . 000 percobaan Berdasarkan hasil pengujian yang ditunjukkan pada gambar di atas, proses brute-force dilakukan sebanyak 10. 000 percobaan dengan waktu 2,02 milisecond dan 100. 000 percobaan dengan waktu 177 milisecond terhadap ciphertext yang dihasilkan dari algoritma kombinasi Rail Fence Vigenere. Proses pencarian kunci masih tergolong cepat dari sisi komputasi. Namun demikian, hasil pengujian menunjukkan bahwa brute-force tidak berhasil menemukan plaintext asli, meskipun seluruh ruang pencarian kunci hingga batas tertentu telah diuji. Hal ini mengindikasikan bahwa penggabungan dua algoritma klasik, yaitu transposisi (Rail Fenc. dan substitusi (Vigener. , berhasil meningkatkan tingkat kerumitan struktur ciphertext yang Kombinasi tersebut menghasilkan ruang kunci yang lebih luas dan pola enkripsi yang lebih sulit dianalisis secara langsung oleh serangan brute-force konvensional. Dengan demikian, peluang penyerang untuk menebak kunci secara acak tanpa informasi tambahan menjadi sangat Meskipun waktu komputasi brute-force relatif singkat, hal ini tidak berbanding lurus dengan keberhasilan dekripsi. Kecepatan proses tidak menjamin efektivitas serangan, karena algoritma kombinasi ini memiliki mekanisme pengacakan karakter yang berlapis. Kombinasi Rail Fence Vigenere terbukti lebih tahan terhadap serangan brute-force sederhana. Berdasarkan hasil enkripsi Rail Fence. Vigenere, dan Kombinasi Rail Fence Vigenere di atas, adapun analisis perbandingan hasil uji serangan brute-force terhadap ketiganya dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Analisis Perbandingan hasil uji serangan brute-force Rail Fence. Vigenere, dan Rail Fence Vigenere No. Metode Waktu yang Waktu yang Waktu Analisis Kriptografi Keamanan Serangan brute- dibutuhkan Metode Serangan Kriptografi Analisis Ketahanan Kombinasi Teknik Kriptografi Rail Fence dan Vigenere Cipher Terhadap Serangan Brute-Force Menggnakan Pemrograman Python (Aulia Rachmawat. A DOI https://doi. org/10. 53564/6w0a424510. 29240/arcite ISSN 2541-1760 . | ISSN 1907-3984 . force = 10. brute-force = 100. 0,1 milisecond Rail Fence 018 milisecond 0,1 milisecond Vigenere 000 milisecond 0,057 milisecond Rail Fence Vigenere 000 milisecond 2,02 milisecond Jurnal Akademika. Volume 18 No. 1 (November 2. , pp. 74 - 86 Jumlah rails pada Rail Fence memiliki panjang satu huruf (Ao1Ao. Ao2Ao. Ao3A. , sehingga ruang kunci . ey spac. yang harus diuji Akibatnya, proses penemuan kunci melalui serangan brute-force dilakukan dengan lebih cepat. Proses penemuan serangan brute-force Vigenere sedikit lebih lama Rail Fence. Hal ini dikarenakan proses algoritma Vigenere melibatkan operasi berdasarkan nilai kunci huruf demi huruf, sedangkan pada metode Rail Fence melibatkan proses transposisi posisi Proses brute-force Jurnal Akademika ISSN 2541-1760 . | ISSN 1907-3984 . A 85 ruang kunci . ey spac. yang harus diuji semakin besar penggabungan dua tahapan enkripsi, kunci melalui Rail Fence dan proses Vigenere. Kesimpulan Algoritma kombinasi Rail Fence Vigenere memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi dibandingkan penggunaan algoritma tunggal. Hal ini dibuktikan melalui uji brute-force 000 percobaan hingga 100. 000 percobaan yang tidak berhasil menemukan plaintext Kombinasi kedua algoritma tersebut menghasilkan ciphertext dengan pola yang lebih kompleks dan ruang kunci yang lebih luas, sehingga menyulitkan proses penebakan kunci secara Selain itu, kombinasi Rail Fence Vigenere efektif dalam meningkatkan resistansi terhadap serangan brute-force sederhana. Namun, untuk penerapan pada sistem keamanan modern, kombinasi ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut agar mampu menghadapi bentuk serangan kriptanalisis yang lebih kompleks, seperti frequency analysis atau known-plaintext attack. Pernyataan Penulis Penulis menyatakan bahwa tidak ada konflik kepentingan terkait publikasi artikel ini. Penulis menyatakan bahwa data dan makalah bebas dari plagiarisme serta penulis bertanggung jawab secara penuh atas keaslian artikel. Daftar Pustaka